Pustaka Wayang

Archive for August 2010

Pemutakhiran ke 3 gambar wayang purwa Resolusi Tinggi karya Kasidi dkk – Koleksi BAS – P02 Kontributor Budi Adi Soewirjo .

 gambar wayang purwa HQ, gambar wayang purwa resolusi tinggi, Kasidi, D Tjarito, R Soelardi, Rama, R Ng Kartapradja, Bale Poestaka, 1937

[ pemutakhiran 28 Agustus 2010 ]

 

Folder dengan sharing URL http://www.mediafire.com/?xmugobnp2u1hn

27. Kumba-kumba  karya  ?  ( 2,03 MB )  http://www.mediafire.com/?8g7c717jty26qma

(pindaian baru dengan latar belakang putih )

28. Indrajid karya ?  ( 1,84 MB )  http://www.mediafire.com/?af0g1tst24adwhc

29. Dasamuka karya ?  ( 2,07 MB )  http://www.mediafire.com/?ko1nkilxmlx6las

30. Girinata karya ?  ( 1,19 MB )  http://www.mediafire.com/?6d16ccqnwdaw035

31. Brama karya ?  ( 1,55 MB )  http://www.mediafire.com/?yxv977wdwub9xbd

32. Barata karya ?  ( 949 KB )  http://www.mediafire.com/?cidilend7can6vw

33. Satrugna karya ?  ( 1,09 MB )  http://www.mediafire.com/?vg7lrhe0jcn9w8g

34. Arimenda karya ?  ( 936 KB )  http://www.mediafire.com/?8g7c717jty26qma

[ akhir pemutakhiran 28 Agustus 2010 ]

 

Untuk melihat kembali daftar gambar (serta daftar URL file gambar resolusi tinggi) sebelum pemutakhiran ini, silakan berkunjung kembali ke  http://wayangpustaka.wordpress.com/2010/06/22/gambar-wayang-purwa-resolusi-tinggi-karya-kasidi-dkk-koleksi-bas-p02-kontributor-budi-adi-soewirjo/

novel wayang, Bisma, Bisma Dewabrata, Pitoyo Amrih, Dive Press

Karya ini sebelumnya sudah pernah terbit dengan format ebook. Sekarang diterbitkan kembali dengan format buku cetak ( dengan sedikit ‘perapian’ )

Judul Novel : Perjalanan Sunyi Bisma Dewabrata
Penulis : Pitoyo Amrih
Tebal Halaman : 476 halaman
Ukuran Halaman : 14 x 21 cm
Penerbit : DIVAPress
ISBN : 978-602-955-737-4

http://pitoyo.com/webstore/product_info.php?cPath=26_51&products_id=440

Catatan isi :

Ketika tahta Hastinapura yang menjadi haknya, dilepaskannya. Ketika dia bersumpah untuk tidak akan pernah menikah, agar tak ada keturunannya yang menuntut tahta Hastinapura… Apalagi tujuan hidup yang tersisa, yang menjadi semangat hari demi hari menjalani hidupnya yang begitu lama.

Cerita tentang pengabdian yang bisa menjadi cermin kehidupan kita.

novel grafis wayang, Abimanyu, Dwi Klik Santosa, Isa Anshori, Jagad Pustaka

Sumber berita :

http://oase.kompas.com/read/2010/07/22/22272331/Abimanyu.Anak.Rembulan.Diluncurkan.Sabtu

Novel Grafis Wayang

Abimanyu Anak Rembulan Diluncurkan Sabtu

Kamis, 22 Juli 2010 | 22:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Novel grafis berjudul “Abimanyu Anak Rembulan” akan diluncurkan di Bentara Budaya Jakarta hari Sabtu 24 Juli pukul 19.30.

Sebelumnya digelar bedah buku paa pukul 15.00-17.00, menghadirkan panelis Sujiwo Tedjo, Yenny Wahid, Henry Ismono, dan Ni GA Sukmadewi Dj dengan MC Veven SP Wardhana.

Buku setebal 212 halaman ini diterbitkan Jagad Pustaka, dan berisi cerita wayang Indonesia. “Ini merupakan buku perdana Jagad Pustaka,” kata Simon Puji Widodo, pemilik Jagad Pustaka Publishing kepada Kompas.com, Kamis (22/7/10) malam di sela-sela pembukaan pameran wayang di Bentara Budaya.

Simon menambahkan, selama ini tokoh pewayangan Indonesia belum dikenal khalayak. “Dan anak-anak Indonesia sekarang lebih suka kartun Jepang. Oleh karena itulah novel grafis yang ditulis Dwi Klik Sentosa dan digrafis oleh seniman Yogyakarta, ingin mengisi kekosongan akan karakter tokoh semacam superman Indonesia,” katanya.

Bre Redana, wartawan senior Kompas dalam komentarnya soal novel “Abimanyu Anak Rembulan” ini menyebutkan, “Ini merupakan transformasi wayang ke pakeliran novel grafis. Akrab, eksploratif, pakem tetap terjaga. Klasisme wayang tidak pernah pudar, dan Abimanyu Anak Rembulan membuktikannya.”

Sedangkan aktor Butet Kartaredjasa mengungkapkan, “Apa yang tersaji dalam buku ini membuktikan tradisi dan kekuatan lokal mempunyai daya saing yang sama-sama menakjubkan dengan kerap yang disebut internasional. Lebih celaka lagi yang internasional itu identik dengan Barat. Sementara kebudayaan Timur selalu diposisikan bukan internasional.”

Menurut Butet, sekarang saatnya menghentikan penyakit kroco jiwa. Wayang -juga batik, jathilan, reog, dan lainnya, juga punya martabat untuk bersanding setara di kancah dunia.

Nurul Arifin, yang sekarang jadi wakil rakyat di Senayan, menuturkan, “Belajar dari Abimanyu, kita jadi tahu, keberanian dan keutamaan itu bukanlah sesuatu yang tersembunyi lalu muncul tiba-tiba. Ia adalah hasil upaya, ikhtiar, dan tempaan hidup. Dan sebagai nilai kehidupan, keberanian dan keutamaan tetap relevan sepanjang zaman.”

[ akhir berita Kompas ]

—————————-

Foto-foto di bawah ini bersumber dari Facebook

Akun milik Dwi Klik Santosa dan akun milik Isa Anshori

Pemutakhiran ke 2 gambar wayang purwa Resolusi Tinggi karya Kasidi dkk – Koleksi BAS – P02 Kontributor Budi Adi Soewirjo .

gambar wayang HQ, gambar wayang resolusi tinggi, Kasidi, D Tjarito, R Soelardi, buku Rama, R Ng Kartapradja, Bale Poestaka, 1937

Telah dilakukan pemutakhiran gambar-gambar wayang purwa dengan resolusi tinggi.

Silakan melihat kembali halaman :

http://wayangpustaka.wordpress.com/2010/06/22/gambar-wayang-purwa-resolusi-tinggi-karya-kasidi-dkk-koleksi-bas-p02-kontributor-budi-adi-soewirjo/

untuk melihat alamat URL dari masing-masing gambar yang dimutakhirkan, atau bisa langsung ke folder di mediafire.com :  http://www.mediafire.com/?m12yvkd22uonb

Langkah-langkah menatah wayang jilid II: Bagaimana mengolah kulit?

Tulisan Rudy Wiratama Partohardono

 29 Juni 2010 jam 14:50

http://www.facebook.com/raden.umarmaya#!/notes/rudy-wiratama-partohardono/langkah-langkah-menatah-wayang-jilid-ii-bagaimana-mengolah-kulit/401494853217

Setelah mendapatkan kulit yang diinginkan, tentu saja sebelum siap ditatah, apa pun jenis kulitnya, bahan baku pembuatan wayang harus diolah terlebih dahulu. Di sini hanya akan diterangkan cara pengolahan kulit secara tradisional saja, berhubung kini banyak juga kulit “siap pakai” yang diolah dengan cara modern, baik diformalin atau dengan cara lain.

Tahap pertama dalam pengolahan kulit adalah ngerok atau mengeruk.

Apa yang harus dikeruk? Dalam selembar kulit hewan ada dua sisi: sisi luar adalah sisi yang berbulu, sementara sisi dalam yang berhubungan dengan daging bersentuhan pula dengan lemak, pembuluh darah dan lain sebagainya.

Setelah kulit terpisah dari badan hewannya, dalam jangka waktu kurang dari satu malam harus segera dikerok, terutama sisi dalamnya. Tujuannya, agar lemak tidak meresap ke dalam lapisan kulit, yang menyebabkan kulit menjadi bergabus dan lapuk. Sementara sisi luar dikeruk pula, untuk menghilangkan seluruh bulu dari kulit hewan yang dimaksud, agar dapat ditatah dengan baik. Kerukan pada sisi dalam, biasanya lebih banyak dibanding sisi luar, karena kulit hewan yang lazim dipakai (kerbau dan sapi) memiliki rambut yang relatif pendek dan mudah dicukur dengan pethel atau kapak kecil.

Tahap kedua setelah dikeruk adalah diangin-anginkan hingga kandungan airnya betul-betul habis.

Mengapa kulit dilarang dijemur, dan hanya boleh diangin-anginkan? Hawa panas ternyata dapat berpengaruh juga terhadap kulit, yang saat ini masih relatif tinggi tingkat kemelarannya. Untuk menjaga kulit tetap rata saat diangin-anginkan, kulit direntangkan dengan tali yang kuat (kini memakai tali tambang plastik) pada bingkai besar yang dibuat dari kayu yang solid pula, biasanya memakai pokok bambu jenis ori.

Habisnya kandungan air dalam kulit ini menyebabkannya menjadi keras, padat dan liat, sehingga stabil bila dijadikan wayang kulit. Proses mengangin-anginkan ini bisa memakan waktu berhari-hari, tergantung cuaca.

Tahap selanjutnya, di sini kulit sudah menjadi produk setengah jadi, berupa kulit gelondongan yang dijual per lembar dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku rambak kulit atau wayang.

Setelah (kalau beruntung) kulit “jatuh” ke tangan seorang penatah, biasanya kulit akan dibagi-bagi berdasar penggunaannya. Biasanya selembar kulit berukuran besar (sekitar 2×2 meter) dapat digunakan untuk membuat 15-20 template wayang seukuran Arjuna, atau 10 template seukuran Bima, atau bila dibuat gunungan hanya menjadi 8 potong saja. Pembagian ini, menurut istilah tatah sungging disebut njidhar, dan objeknya disebut kulit jidharan.

Setelah di-jidhar, kulit biasanya direndam kembali dalam air tawar selama satu malam, kemudian diangin-anginkan, dikeringkan ulang. Kali ini perentangannya cukup dengan memaku tepian-tepian kulit di selembar papan. Hal ini bertujuan untuk memperendah tingkat kemelaran kulit sekali lagi, karena banyak terjadi pula wayang yang setelah selesai dibuat mengalami penyusutan karena kemelaran kulit masih tinggi. Pada zaman dahulu, kulit tidak dimatangkan dengan cara mengangin-anginkannya seperti ini, namun cukup di”asap” (secara harfiah, mirip membuat smoked beef) di langit-langit dapur yang berhawa kering dan hampir selalu panas. Proses ini disebut tarangan atau narang. Lamanya kulit ditarang ini bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, untuk menanti kulit yang akan dipakai memadat dengan sendirinya.

Sebelum kulit ditarang atau direntang, terkadang ada bagian-bagian yang terlalu tebal dan harus ditipiskan agar lebih enak dimainkan kelak saat menjadi wayang. Pada saat inilah kulit kembali ditipiskan dengan pethel atau kampak kecil. Bila kulit ditipiskan sesudah ditarang atau direntang, biasanya kulit akan menggelombang, karena keseimbangan kepadatan antara lapisan-lapisan kulit “terganggu” (begitu kata penatah, sahibul notes sendiri kurang tahu pasti, hehehe)

Dan setelah proses yang melelahkan ini, wayang siap ditatah.

Catatan di atas hanya mengemukakan cara pengolahan kulit secara tradisional. Dengan begitu, mungkin di benak pembaca terbetik sebuah dugaan : Jika yang tradisional ada,tentu secara logika cara yang lebih « modern » pun ada juga. Bukan begitu ?

Ya. Dugaan Anda benar.

Ada tiga cara lain, sepengetahuan penulis, untuk mengolah kulit agar siap ditatah. (Sekali lagi benar tidaknya wallahu ‘alam saudara-saudara……)

Cara yang pertama adalah menyiram kulit dengan air panas, untuk mempercepat pemadatan dan pematangan kulit.

Cara ini banyak dilakukan sebagai “jalan pintas” untuk mematangkan kulit agar siap ditatah. Efek sampingnya: kulit yang diolah dengan cara ini akan lekas jebol setelah menjadi wayang, karena ikatan antar lapisan kulit “dikejutkan” dengan panas secara tiba-tiba, sehingga pemadatan yang terjadi pun instan dan mungkin sekali ada bagian-bagian kulit yang kurang merata pemadatannya akibat hal itu, sehingga menjadi renggang karena tak menyesuaikan diri dengan kesusutan kulit di bagian lainnya setelah beranjak mendingin.

Cara yang kedua, merendam kulit dalam air gamping.

Air gamping bersifat panas juga, sehingga dipercaya mampu memadatkan kulit secara perlahan-lahan, selain mempermudah sisa-sisa lemak untuk lepas dari kulit yang direndam. Kulit yang direndam air gamping ini, efek sampingnya adalah menjadi keras (kemethak) dan agak menyulitkan untuk ditatah, meskipun kulitnya kuat dan kokoh.

Cara yang ketiga: dengan obat kimia (perajin sering menyebutnya dengan formalin, padahal entah yang dipakai itu benar formalin atau bukan). Cara pengolahan ini menghasilkan kulit yang bersih dari bulu (tanpa harus banyak tenaga untuk mengeruk) karena rontok dengan sendirinya, serta berpenampilan bening (ngaca dalam bahasa Jawa). Lantas, apa efek sampingnya? Kulit berobat kimia ini umumnya keras, sulit ditatah, sehingga perlu direndam lebih lama dan dikeruk kembali untuk menghilangkan obatnya dan melemaskan kulitnya, agar lebih mudah ditatah.

Demikian bagian II.

Langkah-langkah Menatah Wayang jilid I : Bagaimana memilih kulit? 

Tulisan Rudy Wiratama Partohardono.

 27 Juni 2010 jam 19:29

http://www.facebook.com/raden.umarmaya#!/notes/rudy-wiratama-partohardono/langkah-langkah-menatah-wayang-jilid-i-bagaimana-memilih-kulit/400897948217

Pembaca sutresna budaya,
Setelah beberapa lama kita tidak membahas proses pembuatan wayang kulit, untuk menyambung tulisan saya beberapa waktu yang lalu tentang berbagai cara dalam membuat wayang, pada tulisan kali ini, saya (bukannya menggurui lho) hanya akan berbagi apa yang saya telah dapatkan dari beberapa penatah yang tersebar di Sukoharjo, Klaten dan Wonogiri.

Kita tidak akan membahas teknik dan pola tatahan pada tulisan ini, karena tentang masalah teknis penatahan wayang telah banyak dibahas di laman e-wayang, yang juga sering saya jadikan referensi rujukan untuk menulis.

Dalam pembuatan wayang tahap tatahan, ada beberapa langkah yang harus diperhatikan benar-benar, untuk menghasilkan wayang yang berkualitas baik dan indah. Langkah-langkah itu adalah:

1. Pemilihan Bahan Baku
2. Pengolahan Bahan Baku
3. Penanganan Bahan Baku

Ketiga langkah ini, kesemuanya amatlah vital dan tidak ada satu elemen pun yang boleh diabaikan agar wayang yang diciptakan dapat tampil indah dan tahan lama. Langkah-langkah ini pun masih diperinci dalam beberapa poin seperti berikut:
 

Pemilihan Bahan Baku

Telah kita ketahui sebelumnya bahwa kulit hewan rajakaya atau ternak besar adalah bahan baku utama dalam pembuatan wayang kulit. Perkamen kulit dari hewan jenis ini dipilih, karena memiliki karakteristik yang lebih ulet dan keras dibanding hewan lain (seperti unggas atau reptilia misalnya), sehingga bila digunakan untuk membuat wayang akan lebih stabil dan tahan lama.

Ada beberapa jenis kulit yang digunakan untuk membuat wayang, di antaranya:

a. Kulit Kerbau

Kulit kerbau adalah kulit yang paling lazim digunakan untuk pembuatan wayang di Jawa. Kulit kerbau dipilih, karena memiliki karakteristik keuletan dan tingkat kepadatan paling tinggi, sehingga bila diolah menjadi wayang akan lebih lempang, tahan lama dan cenderung kuat, terlebih bila ditatah dengan pola-pola yang rumit dan padat seperti limaran atau seritan yang hanya meninggalkan sedikit sisa pahatan yang tipis dan rawan.

Menurut buku-buku yang saya baca, jenis kulit kerbau yang terbaik adalah kerbau jaka, atau jemaka, yang artinya baru saja beranjak dewasa, karena hasilnya bening dan mudah ditatah, tidak keras. Sementara ada juga yang mengatakan kalau kulit kerbau yang terbaik adalah yang menderita penyakit kulit (gudig). Menurut pandangan ini, kerbau yang menderita penyakit kulit ini, kandungan lemaknya akan lebih rendah dibanding yang tidak. Sementara pada realitanya para penatah ada juga yang menyukai kulit kerbau dewasa, bahkan ada yang menghindari kulit kerbau berpenyakit, karena bekas penyakit itu dapat menyebabkan kulit kerbau berlubang atau menggelombang.

Plus-Minusnya:

Plus: Hasil baik, mudah perawatannya, tahan cuaca, gampang ditambal bila terjadi kerusakan
Minus: Harga mahal karena sekarang agak sulit ditemui di beberapa daerah

b. Kulit Sapi

Dalam peringkat kualitas, kulit sapi menduduki peringkat kedua untuk digunakan sebagai bahan wayang kulit. Dari segi harga dan persediaan, kulit sapi sekarang relatif lebih mudah ditemui dan karenanya harganya pun lebih murah. Akan tetapi, untuk mengolah kulit sapi ini perlu perhatian khusus: Kandungan lemak dari kulit sapi lebih banyak daripada kulit kerbau, sehingga proses pengeringannya harus dilakukan lebih lama dibanding kulit kerbau.

Bila kulit sapi kurang sempurna dalam pengolahannya, maka hasil yang didapatkan akan kurang tahan cuaca: bila cuaca sedang panas dan kering, wayang akan terasa ringan, sementara dalam cuaca lembab, wayang akan terasa berat dan tebal (nggedabel-Jw).{ Lebih lanjut tentang cara pengolahan kulit ini akan dijelaskan dalam bab selanjutnya.}

Menurut beberapa penatah, bila ditangani dengan benar kulit sapi justru akan menghasilkan wayang yang bersifat lebih lentur, tidak seperti kulit kerbau yang cenderung keras. Kelenturan ini justru membuat kulit sapi menjadi lebih tahan terhadap tekukan, lipatan atau kecelakaan-kecelakaan lain yang tidak disengaja dalam memainkan wayang. Adapun kulit kerbau banyak diminati, hanya sekedar karena penanganannya lebih mudah, lebih cepat dan lebih ‘enak’ ditatah.

Plus-Minus:

Plus: Murah harganya, lebih banyak ditemui, bahkan bila benar cara pengolahannya akan lebih baik dari kulit kerbau.
Minus: Perlu perhatian ekstra dalam pengolahannya

C. Kulit Split

Kulit Split pada dasarnya sama saja dengan kulit lain, karena berbahan baku dari kulit kerbau atau sapi. Namun mengapa ia menduduki peringkat ketiga dalam pembuatan wayang kulit? Kulit split memiliki harga yang lebih murah dari selembar kulit sapi atau kerbau, karena ia dibuat dengan cara membelah dua (split) selembar kulit, sehingga yang mestinya hanya selembar bisa menjadi dua atau tiga lembar perkamen tersendiri.

Kulit split ini satu sisinya halus dan sisi lainnya lagi kasar, karena serat-serat kulit yang dalam proses tradisional dikikis sedikit demi sedikit justru “dipaksa” terpotong dengan bantuan mesin. Akan tetapi ada juga kulit split yang halus pada kedua sisinya, meski tidak sehalus kulit olahan tradisional.

Ada dua macam split yang beredar di pasaran: yang bening dan agak halus, harganya lebih mahal, dianggap baik juga untuk membuat wayang. Hal ini dikarenakan karakternya yang bening (ngaca-Jw), meski lebih keras dan kaku dibanding kulit kerok tradisional. Split yang kedua berpermukaan lebih kasar, agak tipis dan kurang bening. Split yang satu ini sering digunakan untuk membuat wayang untuk keperluan hiasan dinding, sketsel atau keperluan lainnya, atau untuk membuat wayang sabet dengan budget minimal.

Plus-Minus:

Plus: Bening tanpa harus diolah, lebih murah, banyak tersedia
Minus: Perlu penanganan ekstra, mudah melengkung bila kurang tebal atau keliru penanganannya. Setelah menjadi wayang pun perlu penanganan lebih bila dibanding wayang berbahan kulit biasa

-Kulit yang harus dihindari-

Agar tak ‘tertipu’ di kemudian hari, perlu diketengahkan juga beberapa jenis kulit yang harus dihindari (kecuali bila Anda tidak menggunakan wayang untuk keperluan sabet atau lainnya)

a. Kulit Nggabus
Disebut dengan istilah seperti ini, karena kulit menjadi rapuh dan lunak seperti gabus. Hal ini terjadi karena lemak sudah terlanjur meresap dalam lapisan kulit sebelum kulit itu ditangani, sehingga kulit menjadi berwarna keputih-putihan. Kulit ini bila dibuat wayang akan rapuh dan mudah rusak.

Cara mengetahui kulit tersebut nggabus atau tidak dapat dilakukan dengan beberapa cara:
1. Amati bekas tatahannya. Bekas tatahan pada kulit ini meninggalkan serabut, kurang terang.
2. Tekuklah perlahan sebagian dari kulitnya. Bila tekukan ini bisa dikembalikan ke posisi semula, berarti kulit tersebut baik, karena bersifat lentur dan kuat. Kulit nggabus tidak akan kembali ke posisi semula, bahkan mudah patah.
3. Sebelum disungging, wayang tentu diamplas. Bila bekas amplasannya berserabut dan kasar, berarti kulit bahannya nggabus juga.

b. Kulit Uyahan

Istilah ini digunakan untuk menyebut kulit yang diawetkan dengan garam. Bila telah menjadi wayang, kulit uyahan akan terasa lembek, tebal dan “basah”.

Wayang dari kulit uyahan pada umumnya mudah luntur warnanya, bila dicat dengan brom sering berubah kehijau-hijauan, dan kurang tahan lama.

Rupa dan bentuk wayang kulit purwa Jawa ditinjau dari “mazhab” / “aliran” nya -
Jilid 2 ( Wayang kulit gaya Kulonan ) dan singkat

Ditulis oleh : Rudy Wiratama Partohardono
di akun Facebook nya :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=254433868217


Catatan Admin :
Yang jilid 1 bisa dibaca di : http://www.facebook.com/note.php?note_id=154019934020.

Wayang Kulit Gaya Kulonan
Ditulis oleh : Rudy Wiratama Partohardono

Menyambung notes saya dengan judul yang sama, yang menerangkan tentang ciri-ciri ikonografis wayang gaya Surakarta, kini saya akan sedikit mengulas pengetahuan saya tentang wayang gaya Kulonan yang dimulai dari Yogyakarta ke barat sampai ke wilayah Kedu.

(Mungkin di antara saudara-saudara ada yang sudah mengetahui informasi ini dari http://penitiwayanggamelan.blogspot.com/ …..Ini sekadar tambahan saja dan mohon maaf bilamana ada kekurangan)

Menurut beberapa ahli, wayang Kedhu termasuk jenis wayang kulit purwa (modern) yang tertua di Jawa Tengah, urutan kedua setelah Wayang Demak yang diduplikat oleh Keraton Kasepuhan Cirebon. Menurut beberapa hikayat pula, wayang Kedhu bermula dari gambar-gambar wayang yang dilukis pada “slumpring” atau kulit bambu, yang kemudian seiring perkembangan zaman dipindah ke papan (wayang klitik) karena mahalnya harga kulit. Baru beberapa puluh tahun kemudian wayang Kedhu dipindah medianya ke atas kulit binatang.

Secara ikonografis bentuk wayang Kedhu pun lebih sederhana dibandingkan wayang era sesudahnya. Di antara ciri-ciri yang bisa dilihat pada wayang Kedhu adalah:

1. Tatahan besar-besar (karena konon mengukirnya dengan pisau “pangot” bukan dengan tatah), sunggingan pun masih sederhana
2. Bentuk wayangnya kecil-kecil dibanding wayang Surakarta, hampir sebesar wayang Cirebon
3. Bentuk wayangnya gemuk seperti gaya Yogyakarta
4. Perhatikan bagian tangannya. Seperti wayang Yogyakarta (yang kuno), kebanyakan warna telapak tangan wayang Kedhu sama dengan warna muka tokohnya.

Yang lebih unik lagi adalah bentuk “cempurit”nya. (Sayang tak ada fotonya). Cempurit Wayang Kedhu mirip sekali dengan wayang gaya Cirebon, memiliki lima keratan pada bagian “picisan”.

Salah seorang pakar senirupa wayang membagi bentuk wayang Kedhu ke dalam beberapa subgaya:

1. Gaya Kaligesing/Pacor

Foto Perbandingan: Dasamuka gaya Cirebon(sumber: http://www.puppet.org)

Foto Perbandingan: Dasamuka gaya Kedhu Pacor…warna badannya kuning gading, bukan keemasan. Perhatikan pula telapak tangannya.Bentuk tatahan sebagian besar tidak diberi pinggiran inten-intenan, masih seperti gaya Surakarta.

Gaya Kaligesing atau Pacor ini bentuknya kecil-kecil, sering disebut pula sebagai wayang “Prayungan”, karena bentuknya setengah Yogya dan setengah Surakarta.Setengah-setengah ini bisa dilihat pada perbandingan antara proporsi dan tatahan, wanda dan sunggingan, atau parameter-parameter lainnya. Banyak yang menyebut-nyebut bahwa gaya Kaligesing muncul semasa dengan waktu hidup Ki Bagus Riwong dan Ki Jayaprana (kedua abdi dalem penatah Pangeran Mangkubumi di Yogyakarta) yang memilih pergi ke barat setelah Perjanjian Giyanti. Maka masuk akal pula bila bentuk wayang Pacor ini memiliki karakter fisik yang mirip dengan gaya Surakarta maupun Yogyakarta, mengingat pada saat itu memang kehidupan kesenian belum mapan dan tertata akibat negara masih baru dan belum stabil.(Tambahan lagi, seperti wayang Tejokusuman, sebagian wayang Pacor ada juga yang dicat kuning seperti Dasamuka di atas. Saya pernah melihat wayang Arjuna asal Purworejo yang badannya kuning gading seperti itu)

2. Gaya Kedhu Bagelen

3. Gaya Kedhu Temanggungan (berbatasan dengan subkultur Banyumasan)

Foto Perbandingan: Dasamuka gaya Kedhu (sumber: http://www.tropenmuseum.nl). Mewarisi karakter ikonografik wayang Cirebon

Konon merupakan gaya Kedhu yang tertua. Jalur penyebaran wayang di Jawa Tengah diperkirakan sebagai berikut:

jalur utara: Demak, pecah ke utara–> rumpun wayang Cirebon, Tegal hingga wayang Banyumas “Lor Gunung”. Tokoh: Sunan Kalijaga, Sunan Panggung

jalur selatan: Demak–>masuk ke pedalaman Jawa Tengah secara hampir merata, di antaranya Kedu–> Mataram (ingat bahwa abdi dalem dalang Mataram Pertama, Pangeran Panjangmas, berasal dari Kedu)–> terpecah menjadi dua gaya: Mataraman (Luar Keraton) dan Kartasura (Dalam Keraton).

Perlu dicatat pula bahwa Wayang Kartasura belum terlalu mapan karena periode pembuatannya berkisar pada masa PB I (Pangeran Puger) sekitar tahun 1700-an awal sampai PB II (pindah ke Solo) tahun 1745. Gaya Mataraman kemudian dicanangkan sebagai “gaya nasional” teritori Ngayogyakarta sejak masa HB I pasca Perjanjian Giyanti.

4. Kedhu Magelang (belum jelas perbedaannya)

5. Kedhu Mataram

Ketiga subgaya Kedhu ini saya belum menemukan di mana perbedaan secara jelasnya. Namun untuk yang Kedu Mataram saya kira hampir sama dengan apa yang kita sebut sebagai wayang gaya Yogyakarta sendiri.

Gaya Yogyakarta pun, sebagaimana gaya Surakarta, masih terpecah menjadi beberapa subgaya, seperti:

Foto Perbandingan V: Gathutkaca gaya Yogyakarta (lawas)
Foto Perbandingan V: Gathutkaca gaya Yogyakarta (lawas)

1. Gaya Kraton

Menurut beberapa penatah Yogyakarta, gaya Kraton ukurannya lebih besar dan ramping daripada wayang Yogya yang beredar di dunia luar, utamanya untuk tokoh-tokoh bokongan.Wayang gaya Kraton ini amat lengkap, tak ada tokoh yang dijadikan “srambahan” alias tiap karakter dibuatkan wayangnya.

2. Gaya Tejokusuman:

Menurut Mas Sergio Khatulistiwa Mandagi dari bharatayudha.multiply.com, (dan mungkin saya pernah lihat secara langsung) wayang ini memiliki karakteristik semua tokohnya memiliki warna badan kuning atau krem, bukan keemasan seperti umumnya.

3. Gaya Pakualaman

Foto Perbandingan: Gathutkaca gaya Pakualaman. Perhatikan bentuk badannya yang cenderung ramping dan tinggi.Sumber: Lordly Shades, Wayang Purwa Indonesia.

Seperti yang kita ketahui bersama, gaya Pakualaman memiliki kekhasan, yaitu semua wayang lelaki (kecuali panakawan) memakai keris. Keunikan lainnya adalah meski wayang Pakualaman lahir di Yogya, namun ada “pengaruh-pengaruh” Surakarta dalam tatahan dan sunggingannya. (Mungkin hal ini bisa dihubungkan dengan pendapat ini: bahwa sejatinya negara-negara pecahan Mataram bukanlah non-blok. Kasunanan berkonco dengan Pakualaman, sementara Kasultanan satu blok dengan Mangkunegaran. Di dunia karawitan, hal ini konon terlihat dari penyajian “laya” atau tempo gending Mangkunegaran yang hampir mirip dengan gendhing gaya Mataraman, serta adanya dua set gamelan Yogyakarta di Pura ini: Kyahi Kanyut Mesem peninggalan MN I dan gamelan Prangwedanan)

Kiranya sekian dulu. Bilamana ada tambahan, forum diskusi pun saya buka dengan kerendahan hati.

Foto Perbandingan V: Gathutkaca gaya Mataram Kartasura. Lebih gemuk dibanding wayang Surakarta, namun sudah menunjukkan perbedaan signifikan dibanding pendahulunya. (britishmuseum.org)


Blog Stats

  • 530,885 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 55 other followers

Halaman dilihat :

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers