Pustaka Wayang

Archive for the ‘Bahasa Indonesia’ Category

Perjalanan Sunyi Bisma Dewabrata, oleh Pitoyo Amrih.

 

(pertama diunggah 17 Aug 2009 : Budi Adi Soewirjo)

 

Data buku :

Judul Buku : Perjalanan Sunyi Bisma Dewabrata
Format : EbookNovel Acrobat PDF
Pengarang : Pitoyo Amrih
Penerbit : Pitoyo Ebook Publishing, Surakarta, 2007
Nomor ISBN : 978-979-17910-0-7 , 9789791791007 .
Jumlah halaman : 510 halaman

.

 

A.

Penulis sedikit memberikan paparan akan buku nya ini :

Ketika tahta Hastinapura yang menjadi haknya, dilepaskannya.
Ketika dia bersumpah untuk tidak akan pernah menikah, agar tak ada keturunannya yang menuntut tahta Hastinapura.
Apalagi tujuan hidup yang tersisa, yang menjadi semangat hari demi hari menjalani hidupnya yang begitu lama.

Cerita tentang pengabdian Bisma Dewabarata yang menjadi cermin kehidupan kita.

 

Simak penggalan kisah itu…

________________________________________

….Perlahan Jahnawi meletakkan sang bayi di atas batu besar itu. Tak lama kemudian berdiri. Wajah Santanu tampak tegang, seperti semakin khawatir atas apa yang akan dilakukan istrinya.

“..saatnya aku harus pergi kakang…, terima kasih telah menemaniku menjalani semua ini,.. asuh baik-baik anak kita…” sejenak Jahnawi berhenti menarik nafas, “..aku menamainya Dewabrata…”

Belum juga Santanu sempat membuka mulut dan melangkah maju, tiba-tiba dari posisinya berdiri, Dewi Jahnawi melompat dengan posisi terlentang menuju ke arah derasnya sungai Gangga. Hanya dalam sekejap tubuh Jahnawi sudah tak lagi nampak tertelan ganasnya aliran sungai itu.

Santanu yang semula terbengong kali ini terlihat badannya gemetar dan terjatuh pada posisi berlutut. Dia seperti tak kuasa lagi menahan keterkejutannya atas apa yang baru saja dialaminya. Sementara sang bayi yang bernama Dewabrata itu tak henti-hentinya menangis keras. Sekuat tenaga Santanu setengah merangkak mendekati sang bayi. Derasnya air sungai itu terasa semakin mengerikan bagi mata dan telinga Santanu. Dengan cepat ditariknya selimut sang bayi, dan didekapnya erat-erat Dewabrata. Gemetar tubuh Santanu terlihat jelas sambil memeluk Dewabrata yang tak henti-hentinya menangis.

________________________________________

 

Atau ketika kisah melegenda itu kembali terkuak,.. tewasnya Dewi Amba dari tangan Bisma..!

________________________________________

….Dalam kegugupan yang tampak semakin hebat, Dewabrata serta merta begitu cepat tangan kirinya menghunus busur panah, hampir bersamaan tangan kanannya meraih satu anak panah, dan dengan gerakan yang begitu cepat dia menarik busur dengan anak panah mengarah ke Amba. “..pulanglah, nimas..” kali ini Dewabrata berkata setengah berteriak parau.

Tapi itu tak membuat Amba undur, dengan masih memegang terompah Dewabrata di tangan kanannya, Amba kembali merangsek ke depan menyongsong anak panah. Ah! Membuat Dewabrata semakin gugup tak tahu harus berbuat apa. Dan sekejab kemudian, tangan kiri Amba justru meraih ujung anak panah pada busur yang terentang itu. Membuat Dewabrata panik dan tanpa sengaja melepaskan pegangan pangkal anak panah di tangan kanannya. Seketika itu anak panah meluncur deras merobek telapak tangan kiri Amba, dan menghujam keras tepat ke dada Amba. Begitu kerasnya, sampai Amba terlempar ke belakang, anak panah itu sampai menembus punggung, menghujamkan tubuh Amba begitu keras ke tanah. Dan tak lagi bergerak, seketika itu Dewi Amba tewas! Kejadian diluar dugaan yang begitu cepat! Begitu cepat sehingga tak sempat terdengar jerit dari mulut Amba….

________________________________________

 

B.

Selain paparan di atas, di dalam awalan ebook nya, Pitoyo Amrih mencoba memberikan paparan ringkas tentang Bisma :

“ Bisma Dewabrata adalah sebuah pribadi yang istimewa. Lahir tak pernah tahu dan mengenal ibu kandungnya. Cinta dan kasih sayang ibunya tercurah dari suara hati yang merasuk di hati dan pikirannya selama pengembaraannya. Sesuatu yang dia anggap berasal dari ibunya, bernama Dewi Jahnawi. Yang menurut kabarnya, perwujudannya sebagai manusia adalah kisah jalan kematian yang ditempuhnya. Kepergian Dewi Jahnawi sama gelapnya dengan saat pertama kali kemunculannya bertemu Prabu Santanu, ayah Bisma.

Bisma disusui dan dibesarkan oleh Dewi Durgandini, seorang putri dari kerajaan Wirata. Dan Bisma memang seorang ksatria utama! Dia wujudkan pengabdian sepenuhnya kepada Durgandini sebagai rasa terima kasihnya atas kasih sayang masa kecil Bisma. Bagaimana pun sikap Durgandini kepada Bisma, tetap Bisma menghargai dan menghormati Durgandini dengan sepenuh hati.

Puncaknya adalah sebuah sumpah yang keluar dari mulut Bisma demi rasa lega Durgandini agar anak kandung Durgandini yang akan mewarisi tahta Hastinapura. Sumpah Bisma yang tak akan pernah menduduki tahta Hastinapura, walaupun dia yang paling berhak. Dan sumpah bahwa sampai mati tak akan pernah menyentuh perempuan agar tak ada keturunannya yang menggugat atas tahta Hastinapura. Sebuah sumpah yang luar biasa !

Sumpah itu juga yang membuat Bisma melihat bahwa kehidupan tak lain adalah sebuah pengabdian. Pengabdian kepada janjinya, pengabdian kepada keluarga, pengabdian kepada keluarga dan kerabatnya, pengabdian kepada kebenaran yang dipegangnya, pengabdiannya kepada kehidupan, dan pengabdiannya kepada Sang Pencipta.

Sumpah itu pulalah yang membuat dia tanpa sengaja menewaskan seorang putri ksatria yang pernah dicintainya, Dewi Amba.

Jalan hidup Bisma begitu panjang. Perang besar Baratayudha yang dikobarkan Duryudana, adalah sebuah pertempuran antar saudara yang disesalkan Bisma, sekaligus ditunggu selama hidupnya. Karena melalui perang itu, Bisma berkesempatan menempuh jalan kematiannya, rela mati di tangan Srikandi. Seorang putri ksatria dari Cempalareja. Tak seorang pun selain Bisma dan Antasena, yang menyadari bahwa semua yang ada pada Srikandi mirip dengan Amba.

Jalan hidup Bisma begitu panjang. Tak seorang pun di dunia wayang yang bisa mengerti kedalaman hati dan pikirannya. Mengagumi secara diam-diam sosok Kresna, raja Dwarawati. Tapi hanya Antasena muda, yang paling dekat dan tahu siapa Bisma. “

 

C.

Pratinjau Terbatas dari ebook ini di Google Books :
http://books.google.com/books/p/pub-6218744198074454?id=HuBBvU7_-cAC&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_v2_summary_r&cad=0#v=onepage&q=&f=false

 

D.

 

Profil ( ‘ bentuk rupa ‘ ) penulis Pitoyo Amrih dan daftar buku hasil karyanya yang lain bisa di baca di :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=116180084020

 

E.

Dari pengamatan ‘ Wayang Purwa Buku ‘, ebook Bisma Dewabrata ini adalah ebook wayang pertama yang terbit di Indonesia ( tahun 2007 ). Setelah itu di tahun 2008 terbit dua ebook wayang lain nya dari penerbit http://www.budayajawa.com/  di Yogyakarta.

 

(akhir unggah 17 Aug 2009)

Narasoma – Ksatria Pembela Kurawa, oleh Pitoyo Amrih.

 

(pertama diunggah 18 Aug 2009 : Budi Adi Soewirjo)

 

Data buku :

Judul buku : Narasoma – Ksatria Pembela Kurawa
Pengarang : Pitoyo Amrih
Penerbit : Pinus, Yogyakarta, 2007.
Nomor ISBN : 979-99012-5-1 , 9789799901255
Jumlah halaman : 358 halaman.
Ukuran buku : 14 x 21 cm.

.

 

 

A.

Penulis sedikit memberi paparan akan buku ini :

Narasoma adalah putra mahkota Mandraka, anak lelaki Raja Mandarapati. Ia diusir dari tanah airnya karena berlaku pongah dan berhadapan dengan seorang raksasa yang mulia bern

ama Begawan Bagaspati. Kemudian Narasoma digembleng sekaligus dinikahkan dengan putrinya, Pujawati. Sayangnya, sang pangeran belum dapat mengendalikan tutur kata. Ia melukai perasaan istri tercinta dengan menyatakan malu memiliki mertua bangsa raksasa. Terjadilah peristiwa yang memeras airmata, Begawan Bagaspati menemui ajalnya demi kehormatan Pujawati. Ia mewariskan ajian sakti Candrabirawa kepada Narasoma yang diliputi perasaan sesal.

 

 

Paparan untuk episode berikutnya :

“ Mengapa akhirnya saya harus membela Kurawa….?” itulah mungkin suara hati yang selalu terngiang di nurani Prabu Salya, terutama ketika menjalani hari demi hari perang dahsyat Baratayudha.

Sebuah perang yang begitu hebat, puluhan ribu orang tewas, ratusan ksatria senapati menemui ajal, karena Baratayudha, perang antar saudara ras bangsa Manusia yang seharusnya tak perlu terjadi.

Tapi bagi Salya, perang itu masih tidak seberapa. Peperangan yang sebenarnya, baginya sudah dimulai jauh sebelum Baratayudha. Bahkan sejak muda ketika dirinya masih dipanggil sebagai Narasoma.

Sebuah hingar bingar pertempuran yang terjadi dalam kurun waktu begitu lama, di kesunyian lubuk hati nurani dirinya. Salya, seorang raja besar Mandraka yang harus selalu mengalami pertentangan batin selama hidupnya.

 

B.

 

Komentar Pembaca 1 :

….’Narasoma’ tak sekadar mengisahkan perang saudara yang amat memilukan, beserta adu kesaktian yang ditampilkan secara rinci dan cukup seru. Novel ini mengetengahkan pergolakan batin seorang ksatria yang bimbang atas pihak yang dibelanya, persiapan seorang prajurit menyongsong kematiannya, dan kesedihan seorang ayah atas kematian putranya. Tak kalah mempesona, kisah Karna yang marah kepada nasib malangnya sebagai anak terbuang namun ditangisi Batara Surya saat ia gugur di Kurusetra..

—Sinarbulan, Bandung—

 

 

C.

 

Komentar Pembaca 2 :

Another wayang story by Pitoyo Amrih. Those who used to read RA Kosasih’s comic about Mahabharata would definitely fall in love with Pitoyo’s art of work.

Perbedaan yg jelas antara karya RA Kosasih dgn Pitoyo adalah kesan yang timbul di karya Pitoyo menciptakan bayangan bahwa cerita wayang bukanlah sebuah dongeng dgn kisah yg muluk2 didalamnya. Pitoyo berhasil membuat cerita wayang menjadi lebih “down-to-earth” dgn gaya berceritanya. Termasuk jg dalam karyanya yang satu ini yang bercerita tentang kehidupan Raden Narasoma.

Tokoh utama cerita ini adalah Prabu Salya, yang pada masa mudanya lebih dikenal sbg Raden Narasoma. Beliau adalah seorang maharaja yang melalui masa mudanya dengan penuh tantangan hidup. Diusir oleh ayahnya sendiri untuk kemudian mengembara dan akhirnya berguru pada seorang begawan sakti yang adalah keturunan raksasa. Pada akhirnya dia mengawini putri dari begawan tersebut yang cantik rupawan. Bahagia hidupnya namun disatu sisi juga resah karena sadar bahwa tidak mungkin dia kembali ke kerajaannya dgn membuka kenyataan bahwa sang calon permaisuri adalah seorang keturunan raksasa.

Itu barulah awal dari sekian banyak kebimbangan hidup yg akan dia jumpai nanti didalam selang perjalanan hidupnya. Dan puncaknya adalah pada saat dimana ia harus memilih dalam perang besar Bharatayudha apakah ia harus berpihak kepada menantunya, Duryodana, pemimpin Kurawa atau kepada keponakan kandungnya, Nakula dan Sadewa, bungsu kembar Pandawa…

— (Fajar’s blog, sumber:goodreads)

 

D.

Pratinjau Terbatas buku ini di Google Books :
http://books.google.com/books/p/pub-6218744198074454?id=e6zQYSvqngYC&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_v2_summary_r&cad=0#v=onepage&q=&f=false

 

E.

Profil ( ‘ bentuk rupa ‘ ) penulis Pitoyo Amrih dan daftar buku hasil karyanya yang lain bisa di baca di :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=116180084020

Antareja – Antasena, Jalan Kematian Para Ksatria; oleh Pitoyo Amrih.

.

(pertama diunggah 18 Aug 2009 : Budi Adi Soewirjo)

.

Data buku :

Judul buku : Antareja – Antasena, Jalan Kematian Para Ksatria
Pengarang : Pitoyo Amrih.
Penerbit : Pinus Publisher, Yogyakarta, Nopember 2006
Nomor ISBN : 979-99010-0-6 , 9789799901002 .
Jumlah halaman : 252 halaman
Ukuran buku : 14 x 21 cm.

.

 A.

Pengarang memberikan paparan isi buku : 

Kisah Diawal Perang Baratayudha yang patut anda simak. Karena kisah ini dipenuhi kontroversi. Benarkah Kresna benar-benar bertipu muslihat untuk meniadakan Antareja dan Antasena, hanya dalam rangka agar mereka tidak ikut dalam perang Baratayudha..?

Karena memang bisa dibayangkan, bila saja Antareja ikut terlibat dan turun ke medan perang, ribuan prajurit bisa mati hanya dalam sekejap oleh kesaktiannya sebagai keturunan bangsa ular.

Atau Antasena, yang dipercaya membalikkan dunia wayang pun bisa hanya dengan kedua telapak tangannya..

Kisah pengorbanan yang tidak pernah terungkap, terjadi sebelum Baratayudha. Kisah yang seharusnya anda baca sebelum anda tahu lebih jauh tentang Baratayudha.

Antareja dan Antasena mati karena tipu muslihat Kresna. Kresna telah menjadikan tumbal bagi kemenangan Pandawa atas Baratayudha …..

Jalan kematian Antareja adalah sebuah pengorbanan. Pengorbanan yang sama juga dialami Kresna atas fitnah yang diterimanya.

Dan Antasena … mungkin sampai sekarang dia masih menjalani hidupnya. Walau bukan lagi berwujud manusia …

Antareja adalah putra sulung ksatria Pandawa, Raden Bima. Dia adalah anak tunggal Dewi Nagagini, putri dewa bangsa manusia-ular Sang Hyang Antaboga. Tokoh Antareja ini tidak ada pada pertama kali dituliskannya kisah Mahabarata dalam versi India. Dalam versi Jawa, tokoh ini sekilas muncul sebagai tokoh tanpa tanding, pendiam, dan penyendiri. Kematiannya adalah sebuah kontroversi akibat siasat Baginda Sri Kresna dalam rangka menjauhkan keterlibatan Antareja dalam perang Baratayudha.

Antasena hanya muncul dalam wayang carangan versi Jawa Yogyakarta. Dia adalah putra bungsu Raden Bima hasil perkawinannya dengan putri penguasa bangsa Samudra Batara Baruna, Dewi Urang Ayu. Antasena adalah tokoh yang unik, secara fisik mirip Antareja, bedanya kulit Antasena bersisik kemerahan, sementara kulit Antareja bersisik kehijauan. Tidak peduli terhadap sopan santun dan tata krama. Walaupun tidak pernah diceritakan kesaktiannya, tapi dia dipercaya bisa membuat apapun yang dia mau menjadi kenyataan. Baginda Sri Kresna juga mendapat mandat dari pimpinan bangsa Dewa, Sang Hyang Guru agar Antasena tidak ikut dalam perang Baratayudha.

.

B.

Komentar pembaca :

Kisah Diawal Perang Baratayudha yang patut anda simak. Karena kisah ini dipenuhi kontroversi. Benarkah Kresna benar-benar bertipu muslihat untuk meniadakan Antareja dan Antasena, hanya dalam rangka agar mereka tidak ikut dalam perang Baratayudha..?

Karena memang bisa dibayangkan, bila saja Antareja ikut terlibat dan turun ke medan perang, ribuan prajurit bisa mati hanya dalam sekejap oleh kesaktiannya sebagai keturunan bangsa ular.

Atau Antasena, yang dipercaya membalikkan dunia wayang pun bisa hanya dengan kedua telapak tangannya..

Kisah pengorbanan yang tidak pernah terungkap, terjadi sebelum Baratayudha…sebuah kisah seorang ksatria yang memilih jalan mereka sendiri

— (Didiet, sumber: goodreads)

.

C.

Pratinjau Terbatas buku ini di Google Books :

http://books.google.com/books/p/pub-6218744198074454?id=gHmwj_j_IDMC&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_v2_summary_r&cad=0#v=onepage&q=&f=false

.

D.

Profil ( ‘ bentuk rupa ‘ ) penulis Pitoyo Amrih dan daftar buku hasil karyanya yang lain bisa di baca di :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=116180084020



‘Ebook’ buku ‘Wanda Ringgit Purwa milik Keraton Surakarta’

Alih aksara :

Moelyono Satronaryatmo

Departemen Pendidikan dan Kebuadayaan Republik Indonesia, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Jakarta, 1981

Berbagai Ragam bentuk atau wujud (wanda)

Wayang Purwa milik Keraton Surakarta,

sejumlah 85 macam

 

Nama-nama wayang tersebut di atas dan berbagai ragam bentuk atau wujudnya

(wanda) merupakan pola jadi (corekan dados) bagi penggarap wayang, khususnya dalam

ukuran, macam tatahannya dan bentuk-bentuknya, adapun ukuran yang tercantum di sini

mencakup lebar dan tinggi bentuk wayang.

Beberapa tokoh dalam dunia pewayangan adakalanya mem punyai bentuk lebih

dari satu, demikian dapat dilihat dalam daftar tersebut di atas. Dibedakan suatu tokoh

pewayangan dalam masa remaja dan masa sesudah remaja, demikian pula nama-nama

untuk tokoh pewayangan seringkali dibedakan nama masa muda dan masa tua. Sebagai

contoh: Janaka, pada masa mudanya dinamakan Permadi, Baladewa, pada masa mudanya

bernama Kakrasana, Kresna, bernama Narayana dan lain sebagainya.

Penggunaan wayang dengan bentuknya masing-masing diatur pula sesuai dengan

waktu (pathet/Jw) dan tugasnya sesuai dengan alur cerita. Sebagai contoh: Wrekodara,

bentuk Lindu, waktu muncul sesuai dengan masa patet nem. Bentuk Mimis, keluar

pada masa patet manyura, bentuk Jagur dalam patet sanga dan lain sebagainya. Untuk

memperjelas bentuk-bentuk tokoh pewayangan tersebut diatas, akan dicoba diberikan

keterangan artian wanda bentuk tadi, sesuai dengan arti kata yang dipergunakan untuk

menamakannya. Dalam mencoba mengartikan apa yang dimaksud dengan bentuk dan

namanya, dipakai senagai dasar uraian kamus bahasa Jawa “Dr. Th.Pigeuad. Javaans –

Nederlands Handwoordenboek; J.B. Wolters’ Uitgevers – Maatschappij, N.V.; Groningen,

Batavia, 1938”.

 

 

Nama Wayang dan bentuk wanda, arti kata

1. Puntadewa bentuk jimat; jimat - amulet; sesuatu yang dianggap mempunyai daya

kekuatan, selalu dijunjung tinggi dan dihargai.

2. Puntadewa bentuk deres; deres - berlebih-lebihan, berlimpah-limpah.

3. Puntadewa bentuk malatsih; malatsih - mendekatkan rasa sayang, memikat hati.

4. Wrekodara bentuk mimis; mimis - peluru.

5. Wrekodara bentuk gurnat; gurnat - granat.

6. Wrekodara bentuk lintang; lintang – bintang.

7. Wrekodara bentuk lindupanon; lindu - gempa bumi, panon -raut muka.

8. Wrekodara bentuk lindu; lindu - gempa bumi.

9. Permadi bentuk penganten; penganten - temanten, mempelai.

10. Permadi bentuk pacel atau patah; pacel - penyerang, penggempur, tukang berkelahi;

patah - pengapit mempelai, biasa terdiri dari puteri remaja, ataupun laki-laki sebanyak

dua orang.

11. Permadi bentuk pangawe; pengawe -ngawe : memberi isyarat dengan tangan dengan

maksud supaya lebih mendekat.

12. Permadi bentuk malatsih; malatsih - malat berarti menjadi panjang, mengalir, bangkit,

garang tajam; sih – cinta, sayang.

13. Permadi bentuk malat; malat berarti menjadi panjang, mengalir, bangkit, garang tajam;

malatsih – bangkit, berkobar sayang, kasih.

14. Janaka bentuk kinanti; kinanti - dikanthi – digandeng tangannya, dapat juga berarti

diajak sebagai teman dalam perjalanan.

15. Janaka bentuk jimat; jimat - amulet; sesuatu yang dianggap mempunyai daya kekuatan,

selalu dijunjung tinggi, dihormati.

16. Janaka bentuk kanyut; kanyut - terhanyut, kenyut – terbawa oleh arus, dapat juga berarti

jatuh asmara, jatuh cinta.

17. Janaka bentuk mangu; mangu - mangu-mangu berarti bimbang di hati belum

mendapatkan keputusan dalam hati, ragu-ragu, risau hatinya.

18. Sadewa remaja bentuk banjet; banjet - berkata dengan manis sebab mempunyai tujuan

tertentu yang harus dicapainya.

19. Sadewa bentuk banjet; banjet - berkata dengan kata-kata yang manis untuk memikat

dengan tujuan sesuatu.

20. Nakula remaja bentuk buntit; buntit - keriting, ikal.

21. Nakula bentuk buntit; buntit - keriting, ikal.

22. Irawan bentuk padasih; pada - ada persamaannya, sih - cinta, sayang.

23. Abimanyu bentuk jayenggati; jayenggati - dapat diartikan juga jaya ing ati, Jaya berarti

kemenangan , menang , kebahagiaan , keselamatan ; gati berarti tugas , perjalanan,

pekerjaan, cara melakukan suatu pekerjaan, tekun menjalankan tugasnya, bersungguhsungguh

melakukan pekerjaannya dan lain sebagainya.

24. Abimanyu bentuk buntit; buntit - keriting, ikal.

25. Gatotkaca bentuk tatit-remaja; tathit, thathit (Jw) halilintar.

26. Gatotkaca bentuk tatit-tua; tathit, thathit (Jw) halilintar.

27. Gatotkaca bentuk guntur; guntur - air pasang yang sangat dahsyat sehingga

menimbulkan banjir, malapetaka.

28. Gatotkaca bentuk kilat; kilat - bercahaya, cemerlang.

29. Antareja bentuk putut; putut - puthut (Jw), berarti penganut, murid dari suatu

pertapaan, paguron.

30. Antareja bentuk naga; naga - ular yang besar dan menakutkan.

31. Semar bentuk mega; mega - awan.

32. Semar bentuk watu; watu - batu.

33. Semar bentuk dukun; dukun - dhukun (Jw), berarti orang yang berilmu, khususnya

dalam menawarkan malapetaka, memberikan kesembuhan.

34. Semar bentuk ginuk; ginuk - leadaan badan yang tidak imbang, antara berat dan

kegemukannya, dapat diartikan juga gemuk dan berat sehingga bentuk tidak keruan.

35. Gareng bentuk prekul; prekul - atau prekal, prekol (Jw) berarti tidak lurus, bengkak -

bengkok, agak membungkuk.

36. Gareng bentuk kancil; kancil – nama binatang terkenal dalam dongeng karena

kecerdikannya.

37. Petruk bentuk jomblang; jomblang - penghubung, untuk wanita dan pria, atau sebaliknya.

38. Petruk bentuk mesem; mesem - tersenyum.

39. Bagong bentuk gilut; gilut - mengenyam, mengabdikan diri kepada, dapat juga

berarti selalu dekat tak mau jauh-jauh kepada sesuatu atau seseorang.

40. Bagong bentuk gembor; gembor - alat untuk menyiram tanaman atau bunga,

berteriak-teriak, atau dapat berarti juga menangis

41. Kakrasana bentuk sembada; sembada - sembada berarti baik dan bagus dalam

keadaan keseluruhannya, tepat atau terpilih, terpuji dalam lahir maupun batinnya.

42. Kakrasana bentuk kilat; kilat - cahaya, cemerlang dapat juga diartikan cahaya dari

halilintar.

43. Baladewa bentuk rayung kadipaten; rayung - sejenis tanaman alang-alang, rayungrayung

berarti dalam keadaan panjang dan kecil sebagai contoh “Drijine

ngrerayungan atau rayung-rayung,” berarti jari jemarinya panjang dan kecil-kecil

(langsing).

Adapun kata kadipaten agaknya menunjukkan Baladewa bentuj rayung tersebut

berasal dari kadipaten.

44. Baladewa bentuk sembada; sembada - sembada berarti baik dan bagus dalam

keadaan keseluruhannya, tepat atau terpilih, terpuji dalam lahir maupun batinnya.

45. Baladewa bentuk geger; geger - ribut, kacau, rame.

46. Baladewa bentuk kaget; kaget - terperanjat.

47. Baladewa bentuk pariksa; pariksa - memerikasa, mencari, dapat juga kata priksa

(Jw) berarti mengetahui, mengenal.

48. Narayana bentuk sembada; sembada - sembada berarti baik dan bagus dalam

keadaan keseluruhannya, tepat atau terpilih, terpuji dalam lahir maupun batinnya.

49. Narayana bentuk geblag; geblag - jatuh terlentang, merata.

50. Kresna bentuk rondon; rondon - daun, hiasan atau rangkaian, rangkuman, terdiri

dari bulu-bulu domba hiasan daun katangan daun-daunan.

51. Kresna bentuk gendreh; gendreh - indah, bagus, halus.

52. Kresna bentuk mawur; mawur - bercerai-cerai, dapat juga beraru bagus, indah

seperti butiran padi.

53. Samba bentuk buntit; buntit - keriting, ikal.

54. Samba bentuk sembada; sembada - sembada berarti baik dan bagus dalam

keadaan keseluruhannya, tepat atau terpilih, terpuji dalam lahir maupun batinnya.

55. Samba bentuk banjed; banjet - berkata dengan kata-kata yang manis untuk memikat

dengan tujuan sesuatu.

56. Udawa bentuk tandang; tandang - bekerja, melaksanakan pekerjaan, bertempur,

berkelahi.

57. Udawa bentuk jaran; jaran - kuda.

58. Setyaki bentuk mimis; mimis - peluru.

59. Setyaki bentuk akik; akik - sejenis batu permata (agaat – Bld.).

60. Setyaki bentuk wisnua; wisnua - bahaya, muram, murung, sedih, susah.

61. Suyudana bentuk jaka; jaka - remaja, dalam hal ini, belum beristri, untuk laki-laki.

62. Suyudana bentuk jangkung; jangkung - langsing, semampai, tinggi besar.

63. Kurupati bentuk jaka; jaka - remaja, dalam hal ini, belum beristri, untuk laki-laki.

64. Kurupati bentuk jangkung; jangkung - langsing, semampai, tinggi besar.

65. Banowati bentuk berok; berok - berarti a.l. kambing betina dari jenis tertentu

(wedhus berog – Jw.).

66. Banowati bentuk golek; golek - boneka.

67. Karna bentuk bedru; bedru - selisih, berbeda paham, usik, rintangan.

68. Karna bentuk lontang; lontang - dibawa lari, berubah warna, berganti warna.

69. Dursasana bentuk gambyong; gambyong - tergantung pada (khususnya untuk

buah-buahan), nggambyung (Jw), nggambyong (Jw) – berarti juga “menari

sendiri” khususnya diperuntukkan bagi penari putri untuk mengawali pesta

peralatan; juga berarti wayang kulit putri untuk menampilkan taran khusus

“gambyongan.”

70. Dursasana bentuk golek; golek - boneka.

71. Pragota bentuk penganten; penganten - mempelai, temanten.

72. Pragota bentuk putut; putut - puthut (Jw), berarti penganut, murid dari suatu

pertapaan, paguron.

73. Cakil bentuk naga; naga - ular yang besar dan menakutkan.

74. Cakil bentuk menyore; menyore - nyore (Jw) berarti petang, malam.

75. Cakil bentuk batang; batang - bangkai.

76. Guru bentuk candi (a); candi – arca atau candi.

77. Guru bentuk karno; karna – kata karna diartikan tutup kepalanya yang berbentuk

seperti tutup kepala adipati karna

78. Guru bentuk candi (b); candi – arca atau candi.

79. Durga bentuk gedrug; gedrug – ,menghentak-hentakkan kaki di tanah karena marah,

murka. Dapat juga berarti menyepak-nyepak disebabkan bangkit kemarahannya;

tidak sabar dan lain sebagainya.

80. Durga bentuk gidrah; gidrah – atau gibrah, kiprah berarti meloncat-loncat,

bergerak-gerak dikarenakan kegarangan hatinya, kerisauannya, kemarahaannya

81. Naga; dalam gambarnya tidak ada penjelasan lebih lanjut.

82. Dasamuka bentuk belis; belis – setan, jahanam, durhaka.

83. Dasamuka bentuk bugis; bugis – ragam dari seberang.

84. Kumbakarna bentuk barong; barong – dapat diartikan dalam bentuk raksasa yang

sangat menakutkan, mengerikan.

85. Kumbakarna bentuk macan; macan – harimau.

‘Ebook’ / pindaian buku / foto halaman-halaman adalah hasil peran serta dik Christoper Dewa Wardana, seorang pemuda Indonesia pecinta wayang yang saat ini mukim dan bekerja di San Franscisco sebagai arsitek / perancang ruang dalam. Buku tersebut di foto di perpustakaan Universitas Berkeley Amerika Serikat. Dik Christoper juga aktif ‘ nyorek ‘ / menggambar wayang, dan merencanakan menyusun buku wayang gagrag Yogyakarta.

Untuk mengunduh ‘ebook’ tersebut pembaca bisa kunjungi URL

http://www.4shared.com/document/vViR_Lvy/Full.html

dengan besar file kurang lebih 32 MegaByte.

‘Ebook’ Wanda Wayang Purwa Gaya Surakarta

Disusun bersama oleh para pengajar ASKI ( Akademi Seni Karawitan Indonesia ) Surakarta, nama-nama nya tertulis di dalam Kata Pendahuluan.

 

Diterbitkan oleh Sub / Bagian Proyek Akademi Seni Karawitan Indonesia, Proyek Pengembangan Institut Kesenian Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tahun 1978 / 1979.

 

 

Pindaian ini bisa terlaksana atas bantuan Eko Prasetyo dan Rudy Wiratama Partohardono dari Surakarta yang bisa mengusahakan foto copy dari buku ini. Pindai dilaksanakan di Jakarta tanggal 10 April 2011 oleh B A Soewirjo.

 

 

Kata Pendahuluan di buku tersebut :

 

Seperti telah kita ketahui, bahwa pakeliran ada juga menggunakan medium pokok “rupa”, selain medium pokok lainnya seperti gerak, suara dan bahasa. Kesemuanya itu saling mendukung keberhasilan sajian. Medium rupa dalam wayang mempunyai unsur tatahan, sunggingan dan wanda.

 

Di dalam pakeliran “wanda” sebagai salah satu unsur medium rupa, berperan penting untuk memantapkan “rasa” suatu tokoh. Kemantapan ini bisa dicapai karena ada kesesuaian antara suasana adegan dengan wanda tokoh yang digunakan, di samping juga unsur-unsur penting lainnya, yaitu penyuaraan, sanggit, sabet, sulukan dan lain sebagainya. Dengan demikian jelaslah bahwa ketetapan seorang seniman dalang memilih “wanda” mempunyai andil dalam keberhasilan sajian.

 

Untuk jelasnya di sini kami kemukakan contoh-contoh penggunaan “wanda” dari tokoh Baladewa :

-          Pada adegan yang bersuasana netral “merdika” ( tidak ada “rasa” susah, marah dan sebagainya) digunakan Baladewa wanda “Paripeksa”.

-          Dalam peperangan digunakan Baladewa wanda “Geger”.

-          Untuk menghadiri suatu peralatan, Baladewa wanda “Jagong”.

-          Dalam suasana marah, terkejut, wanda “Kaget” yang digunakan.

 

Dengan demikian jelas bahwa penggunaan wanda itu tergantung pada suasana yang ingin didukung. Tentunya penggunaan wanda seperti tersebut di atas adalah didasari oleh kebiasaan konvensionil dalang-dalang pada waktu terdahulu.

 

Dewasa ini jarang sama sekali seniman dalang memperhatikan masalah ini. Ini bisa kami amati pada survey pendahuluan, yaitu pengamatan terhadap sajian pakeliran, wawancara dengan dalang-dalang muda, adalah jarang memperhatikan masalah wanda tersebut. Salah satu sebab ialah kurangnya informasi tentang wanda.

 

Keadaan semacam ini perlu disesalkan, apalagi sampai saat ini belum ada sama sekali yang menulis tentang “Wanda Wayang”. Ditambah lagi adanya situasi yang mengkhawatirkan, yaitu makin menyusutnya seniman dalang yang tahu tentang “wanda”, karena usia mereka yang kebanyakan sudah lanjut, yaitu lebih dari 65 tahun.

 

Dengan pertimbangan tersebut maka kami juga memilih “wanda wayang” sebagai salah satu sasaran pendokumentasian. Karena terbatasnya dana, tenaga dan waktu, kami juga membatasi sasaran pada “wanda wayang purwa gaya Surakarta” yang terdapat di derah eks Karesidenan Surakarta.

 

Hasil pendokumentasian ini diharapkan bisa merupakan bahan penyusunan “Pengetahuan Wanda Wayang”, untuk melengkapi bahan perkuliahan di Akademi Seni Karawitan Indonesia, khususnya pada Jurusan Pedalangan. Lebih luasnya bagi para calon seniman dan seniman dalang, hasil ini diharapkan juga bisa memacu timbulnya kreativitas dalam sajian.

 

Daerah sasaran kami pilih yang tersebar, dan memiliki banyak dalang yang berpotensi. Informan kami pilih dalang-dalang tua yang mempunyai koleksi wayang lengkap, tahu tentang tatahan dan sunggingan wayang terutama tentang wanda. Setelah diadakan survey pendahuluan, kemudian ditentukan 15 informan yang tersebar di daerah Kabupaten Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Wonogiri, Boyolali dan Surakarta.

 

Di bawah ini kami kemukakan nama, umur dan alamat dalang informan

 

  1. 1.       Bapak Tiksnosudarso, 85 tahun, Jombor, Klaten  *) saat laporan ini dibuat beliau sudah meninggal dunia.
  2. 2.       Bapak Natacarita, 70 tahun, Ceper, Klaten.
  3. 3.       Bapak Mintadiyata, 70 tahun, Manisrenggo, Klaten.
  4. 4.       Bapak Nartosuwiryo, 65 tahun, Ngawangga, Klaten.
  5. 5.       Bapak Sarwodisono, 67 tahun, Manggisan, Klaten.
  6. 6.       Bapak Gondoijoyo, 68 tahun, Karangtalun, Klaten.
  7. 7.       Bapak Gondopandoyo, 85 tahun, Senden, Klaten.
  8. 8.       Bapak Sutino, 65 tahun, Eromoko, Wonogiri.
  9. 9.       Bapak J (cetakan tidak terbaca), 69 tahun, Kedungleri, Wonogiri.
  10. 10.   Bapak Sukarno, 64 tahun, Gombang, Boyolali.
  11. 11.   Bapak Gondowarongko, 63 tahun, Pengging, Boyolali.
  12. 12.   Bapak Gondopawiro, 67 tahun, Karangpandan, Karanganyar.
  13. 13.   Bapak Parnowiyoto, 69 tahun, Manyaran, Wonogiri.
  14. 14.   Bapak Naryocarito, 65 tahun, Kartosuro, Sukoharjo.
  15. 15.   Bapak Yosocarito, 69 tahun, Surakarta.

 

Dalam mengumpulkan data kami adakan wawancara berkisar pada :

Nama wanda, ciri-cirinya, perbedaan dengan wanda yang lain pada tokoh yang sama, penggunaannya di dalam pakeliran, siapa penatah dan penyunggingnya, kapan dibuat, tiruan dari mana, siapa pembuat wandanya dan sebagainya.

 

Selain itu juga diadakan pemotretan untuk tokoh wayang yang sudah mempunyai nama wanda, secara ututh dan bagian-bagian yang menunjukkan ciri khususnya, karena ada sebagian yang belum mempunyai wanda.

 

Wanda wayang adalah merupakan kesatuan unsur-unsur yang terdiri antara lain :

  • ·         Tunduk tengadahnya muka (praupan) wayang,
  • ·         Ukuran dan bentuk sanggul,
  • ·         Ukuran dan bentuk mata,
  • ·         Keadaan badan, yaitu ukuran dan posisinya,
  • ·         Ukuran dan tancap dari leher,
  • ·         Datar dan tidaknya dan panjang dan pendeknya bahu,
  • ·         Bentuk dari perut,
  • ·         Busana yang dipakai,
  • ·         Posisi kaki,
  • ·         Sunggingan.

 

Setiap satu tokoh wayang bisa mempunyai lebih dari satu wanda. Misalnya tokoh Baladewa, mempunyai wanda : Geger, Paripekso, Kaget, Jagong dan sebagainya, yang masing-masing wanda bisa menimbulkan kesan dan penggunaan yang berbeda, walau tokohnya sama.

 

Dari keterangan yang dikumpulkan, sulit untuk diketahui kapan masing-masing wanda dibuat dan siapa pembuatnya. Keterangan yang ada masih simpang siur, sukar untuk bisa dipertanggung jawabkan. Sehingga kami hanya mengutarakan nama wanda, ciri-ciri dan penggunaannya.

 

Laporan kami susun berdasarkan abjad dari nama tokoh wayang dan demikian pula nama wandanya. Dengan menyantumkan ciri-ciri wanda dan penggunaannya.

 

Pada akhirnya tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada para seniman dalang yang telah memberik informasi tentang wanda, dan kepada siapa saja yang telah membantu kami dalam pendokumentasian ini.

 

Team dokumentasi :

  1. 1.       Dr. Soetarno, penganalisa merangkap pembuat laporan.
  2. 2.       R. Sutrisno, penganalisa, pengumpul data merangkap juru potret.
  3. 3.       Bambang Murtiyoso DS., penganalisa.
  4. 4.       Bambang Suwarno, penganalisa.
  5. 5.       Sri Joko Raharjo, pengumpul data.
  6. 6.       Sarwanto, pengumpul data merangkap juru potret.
  7. 7.       Sudarko, pengumpul data.
  8. 8.       Catur Tulus, pengumpul data merangkap juru potret.
  9. 9.       Sukardi Sm., pengumpul data.
  10. 10.   Sumanto, penganalisa merangkap pembuat laporan.
  11. 11.   Rahayu Supanggah, penganalisa merangkap penanggung jawab.

 

Akhir dari Kata Pendahuluan.

 

Setelah Kata Pengantar ada daftar arti kata-kata istilah, misalkan untuk kata-kata yang mulai dengan huruf L :

Lancap                  =  muka menengadah.

Longok                 =  muka agak menengadah ( Lebih tunduk dari lancap ).

Luruh magak      =  muka agak menunduk.

Luruh                    =  muka menunduk.

Lanyap                  =  muka yang tengadah seperti melihat kejauhan.

Lencir                    =  badan tinggi kecil.

…. dan seterusnya

 

 

Contoh uraian tokoh dan salah satu wandanya :

 

Samba wanda Bontit.

Ciri-ciri :

Mata                     -  bedahan brebes nyamar

Raut muka          -  kelihatan tersenyum

Leher                    -  longok

Pundak                 -  lurus

Badan                   -  agak besar

Langkah kaki      -  lebar (njonjong)

Busana                                 -  sumping bunga kluwih, jamang dua, sanggul kecil, gruda mendukung sanggul, pantat besar.

 

Gunanya              : kalau Samba sebagai utusan, atau mencuri.

 

 

 

Sayangnya buku ini dicetak secara teknik stencil ( jaman tersebut ini teknik yang paling memungkinkan untuk menekan dana ) sehingga lampiran foto-foto buku ini tidak tercetak jelas, akibatnya makin tidak jelas ketika difoto copy / dipindai.

 

‘Ebook’ buku ini – tanpa lampiran foto-foto nya – dapat diunduh di URL :

http://www.4shared.com/document/9bienUfB/Wanda_Wyng_Surakarta_ASKI.html

 

 

Daftar nama tokoh dan wandanya yang diuraikan dalam buku ini :

 

Abimanyu wanda Bontit, Banjet, Brebes, Jayeng gati, Kanyut, Malatsih, Mangu, Mriwis, Panji, Rangkung, Bulus.

Anoman wanda Bambang, Barat, Manuko, Prambanan (Reco, Bambang).

Aswatama wanda Merong.

 

Bagong wanda Gembor, Ngrengkel, Sembada, Gilut, Jembar

Baladewa wanda Bantheng, Geger, Jagong, Kaget, Jago, Sembada, Sepuh.

Bambangan wanda Maya, Miling, Padasih.

Banuwati wanda Berok, Golek,

Bilung wanda Giti.

Bima wanda Bambang, Bedhil, Bugis, Gendhu, Gurnat, Jagong, Jagor, Kedhu, Ketug, Lindhu, Lindhu Panon, Lindhu Bambang, Lintang (Luntang), Panon, Mimis, Thathit.

Bratasena wanda Angkawijaya, Babad,Lindhu Bambang, ? (biasa), Bocah, Bondhan, Gurnat, Jaka, Lindhu Panon, Pecah Bungkus, Putran, Sembada.

Burisrawa wanda Canthuk.

Boma wanda Encik, Sumilih, Wingit/Sutijo.

 

Cakil wanda Bathang, Kikik, Panji, Gunung Sari.

Cangik wanda Cangik, Mangir.

 

Darmakusuma wanda Dhanyang, Demit, Deres, Dukun, Jimat, Panuksma, Puthut, Rangkung.

Denawa Nom wanda Barong, Blebar, Jaka, Kopek.

Denawa Raton wanda Bagus, Barong, Begog, Endog, Jaka, Macan, Mendhung, Wewe.l

Durga wanda Belis, Gedrug, Gidrah, Murgan, Surak, Wewe.

Dursasana wanda Gambyong, Golek, Canthuk.

Durmagati wanda Poncol.

Duryudana wanda Jaka, Janggleng, Jangkung, Rangkung.

 

Gareng wanda Prekul, Wregul, Gembor, Gembor Alit, Gondok, Kancil, Gulon, Wewe.

Gathutkaca wanda Gandrung/Gembleng, Gelap, Jaka, Guntur, Kilat, Sampluk, Pideksa, Thathit.

Guru wanda Karno, Rama, Reca/Arca.

 

Hudawa wanda Jaka, Jaran, Lapak, Lare, Tandang.

 

Indrajit wanda Setan.

 

Jayajatra wanda Bantheng.

Janaka wanda Bronjong, Gendreh, Janggleng, Jimat, Kadung, Kanyut, Kedhu, Kinanthi, Lintang, Malat, Malatsih, Mangu, Mangungkung, Muntap.

 

Kongso wanda Bogis, Belis.

Karno wanda Bedru, Geblag, Lonthang, Rangkung.

Kakrasana wanda Bantheng, Jagong, Sembada, Jaladara, Kilat, Slebrak.

Kartamarma wanda Bukuh, Merang.

Kayon wanda Jaler, Estri/Wedok.

Kenyawandu wanda Surak.

Kresna wanda Banjet, Botoh, Bontit, Surak, Gendreh, Jagong, Jangkung, Lendeh, Mangu atau Rondhon Sore, Mawur, Rondhon, Wedok.

Kumbakarno wanda Begog, Jaka, Wewe.

Kurupati wanda Sembada, Jangkung, Rangkung.

 

Limbuk wanda Gendroh, Bethem.

 

Nakula wanda Genes.

Narada wanda Reca.

Narayana wanda Bocah, Geblag, Widarakandang, Jaka, Srengat, Sembada.

 

Parekan wanda Rintik, Runtut.

Petruk wanda Genjong, Bagus, Cangak, Bujang, Sambel Goreng, Jamblang, Moblong, Jlegong, Boging.

Prabawa wanda Drigul, Bundhel.

Pragota wanda Poncol, Bundhel.

Permadi wanda Kadung, Jangkung, Rangkung, Jaka, Mriwis, Jayus, Mesem/Kinanthi, Pecel, Pengawe, Pengarih, Pengasih, Temanten.

Puntadewa wanda Jaka, Kinanthi, Lare, Malatsih, Miling, Putut.

 

Rara Ireng wanda Lentreng.

Rahwana wanda Begal, Belis, Bengis, Bogis, Gambyong, Klana.

 

Samba wanda Banjet, Bontit, Geblag, Gunung Sari, Lindur, Rengat, Layar, Sembada.

Semar wanda Brebes, Mega, Dhunuk, Dhukun, Glegek, Paled, Jenggel, Mesem, Mendhung, Jenggleng, Wedhon, Demit.

Sembadra wanda Banjet, Lanceng, Lentreng, Rangkung.

Setyaki wanda Akiki, Mimis, Wisuna

Srikandhi wanda Cemuris, Cemuris Nem, Nglanangi, Patrem

Siti Sundari wanda Gandes.

 

Togog wanda Barong, Gropak.

 

‘Ebook’ lain tentang (boneka pipih) wayang kulit yang sudah pernah disajikan Wayang Pustaka :

 

‘Ebook’ ‘ Pitakonan Lan Wangsulan Bab Wanda Wayang Kulit Purwa ‘ oleh R. Sutrisno (tahun 1964) di URL :

http://wayangpustaka.wordpress.com/2009/12/05/pitakonan-lan-wangsulan-bab-wanda-wajang-purwa-r-sutrisno/

 

‘Ebook’ ‘ Bab Natah Lan Nyungging Ringgit Wacucal ‘ oleh Sukir (tahun 1930an, 1980) di URL :

http://wayangpustaka.wordpress.com/2009/11/10/bab-natah-sarta-nyungging-ringgit-wacucal/

 

‘Ebook’ ‘ Princening Gambar Ringgit Wacucal ‘ oleh RM Soelardi (tahun 1933, 1953) di URL :

http://wayangpustaka.wordpress.com/2010/03/05/ebook-wayang-printjening-gambar-ringgit-wacucal-1933-1953-karya-rm-soelardi/

S.P. Adhikara; ‘ Nawaruci ‘ ; Penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) ; Bandung ; 1984 ( cetakan ke 1 ) ; 97 halaman ; bergambar wayang.

 

Pengantar Admin Wayangpustaka :

 

Ada tiga buku karya S.P. Adhikara mengenai cerita Bima mencari air suci atas perintah Pendita Durna. Yang pertama terbit berjudul ‘ Dewaruci ‘ berisi terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia atas Serat Bimasuci karya pujangga Jawa bernama Jasadipoera I pada tahun 1793. Kemudian yang kedua terbit adalah judul ‘ Unio Mystica Bima ‘ berisi analisis Serat Bimasuci tersebut. Yang ketiga adalah judul ‘ Nawaruci ‘ berisi terjemahan bebas ( dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia ) cerita Nawaruci yang aslinya karya Empu Syiwamurti dari Bali pada tahun antara 1500 ~ 1613. Dr. Prijohoetomo yang menerjemahkan dari bahasa Kawi ke bahasa Belanda dalam disertasinya tahun 1934. Ketiga buku tersebut diterbitkan oleh Penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) antara tahun 1983 ~ 1984 ( dari tanda tahun di Prakata S.P. Adhikara )

 

Namun, selain tiga buku terbitan Penerbit ITB tersebut, ternyata S.P. Adhikara mengarang satu buku lagi berjudul ‘ Analisis Serat Bimasuci ‘ , sekali lagi S.P. Adhikara menganalisa Serat Bimasuci. Buku ini diterbitkan oleh ‘ Institut Indonesia ‘ di Yogyakarta pada tahun 1986. Sinopsis ini pernah dibawakan sebagai makalah pada pertemuan di Lembaga Javanologi, Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Panunggalan, Yogyakarta pada tanggal 24 Oktober 1986.

 

Siapakah S.P. Adhikara ? Tidak ada data atau keterangan mengenai beliau di keempat buku karya beliau tersebut di atas.

 

Secara bertahap Admin Wayangpustaka akan menyajikan keempat buku tersebut.Kali ini Admin menyajikan judul ‘ Nawaruci ‘ dengan alasan bahwa cerita Nawaruci dari Bali ini muncul lebih dahulu dibanding cerita Bimasuci dari Jawa. Nanti pembaca bisa membaca tulisan tentang persamaan dan perbedaan cerita Nawaruci dan Bimasuci di bukunya berjudul ‘ Unio Mystica Bima ‘ .

 

 

 

Prakata buku Nawaruci karangan S P Adhikara :

 

Cerita Nawaruci yang kami tulis dalam buku ini merupakan terjemahan utuh naskah cerita Nawaruci tulisan Empu Syiwamurti yang terdapat dalam disertasi Prijohoetomo. Pada tahun 1934, Prijohoetomo – almarhum Profesor Dr. Prijohoetomo, guru besar Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada – berhasil mendapat gelar doktor dalam bidang sastra dan filsafat di Rijksuniversiteit di Utrecht negeri Belanda. Adapun judul disertasinya : Nawaruci, sedang sub-judulnya, setelah kami terjemahkan, ialah ‘ Pengantar. Terjemahan Teks – Prosa Jawa – Tengahan. Dibandingkan dengan Bimasuci dalam Metrum Jawa Kuna. ‘

 

Naskah asli cerita Nawaruci masih ditulis tangan di atas daun lontar, dalam bahasa dan huruf Kawi dan dalam keadaan menyedihkan sejak lontar-lontar tersebut diperoleh. Banyak halaman yang hilang, tulisan yang tidak terbaca lagi, dan halaman-halaman yang rusak dimakan ngengat. Meskipun demikian dari beberapa naskah yang ada, Prijohoetomo telah berhasil menyusun kembali naskah cerita Nawaruci dan mengalihtuliskan (transkripsi) ke dalam huruf Latin dan menterjemahkan naskah ini ke dalam bahasa Belanda.

 

Terjemahan cerita Nawaruci ke dalam bahasa Indonesia ini kami lakukan seharfiah mungkin. Istilah-istilah Kawi sejauh mungkin kami pertahankan dan kami tuliskan arti istilah-istilah tersebut, sesuai dengan yang terdapat dalam kamus Kawi. Pada umumnya Empu Syiwamurti sudah memberikan arti istilah Kawi yang nampaknya tidak umum dipakai, misalnya pancanhaka, dwi-dasyawarsa, murcha, syona kanaka warsa, dan lain sebagainya, tetapi untuk istilah natadewata, caturlokapala, panca-resi, jnana, jnana nirmala, siddha-purusa, dan sebagainya, tidak diberi penjelasan lebih lanjut, sehingga terpaksa kami carikan artinya dalam kamus Kawi. Dengan demikian kami berusaha agar terjemahan cerita ini seolah-olah tulisan Empu Syiwamurti sendiri, dalam bahasa Indonesia, pada tahun 1500 – 1613.

 

Cerita Nawaruci digubah sebagai scenario atau lakon untuk pagelaran wayang kulit, jadi dapat dibagi menjadi babak-babak dan adegan-adegan. Prijohoetomo membagi certita tersebut menjadi delapan bab atau babak dan menurut pengamatan kami, terdapat tidak kurang dari empat puluh adegan. Kalau tiap-tiap adegan memerlukan waktu sepuluh sampai lima belas menit, maka pagelaran wayang kulit dengan lakon Nawaruci cukup padat untuk dimainkan semalam suntuk. Itulah sebabnya cerita Nawaruci ini ditutup dengan penggambaran suasana pagi hari menjelang matahari terbit. Dua adegan terakhir yang menggambarkan pesta untuk menyambut kedatangan kembali Bima dan penampilan Kunti bersama Dropadi yang telah selesai bersolek dan nampak cantik seperti puteri-puteri wayang itu, dapat diperagakan berturut-turut sebagai tari kemenangan Bima atau ‘ tayungan ‘ dan menarikan wayang golek terbuat dari kayu menggambarkan Dropadi. Dalam bahasa Jawa golek mempunyai dua arti, yaitu anak-anakan yang terbuat dari kayu atau dapat berarti ‘ mencari ‘. Maka dalang yang pada akhir pertunjukan wayang kulit menarikan wayang golek tersebut dapat diartikan ‘ Carilah ( golekana, bahasa Jawa ) inti sari cerita yang dipertunjukkan semalam suntuk tadi ‘.

 

Mencari inti sari suatu cerita itu adalah kata-kata lain untuk menganalisis cerita itu. Analisis cerita Nawaruci kami sertakan sebagai lampiran buku ini, mengingat tulisan ini ditujukan kepada putera-puteri bangsa Indonesia, yang kurang atau tidak mengerti bahasa Jawa, agar mereka dapat menikmati cerita klasik Indonesia berasal dari daerah Jawa – Bali.

 

Tulisan Empu Syiwamurti tersebut diawali dengan sebuah puji doa : ‘ Awighnam astu namas siddham ‘ ; artinya : ‘ Semoga tiada rintangan segala puji telah sempurna dipanjatkan ‘, dan ditutup dengan sebuah kolofon, yaitu catatan dari penulis cerita atau dari yang menulis ulang cerita serta tanggal selesai menulis cerita dan tempat menulis menulis ceritanya dan ditutup dengan doa puji. Akan tetapi sayang tahun selesainya mengutip atau menulis ceritanya tidak jelas, sebab hanya dinyatakan dengan dua angka. Menurut hasil penelitian Prijohoetomo cerita Nawaruci itu ditulis antara 1500 – 1613.

 

Cerita Bimasuci yang ditulis oleh pujangga Jasadipoera I berbentuk puisi dalam bahasa Jawa Baru dan dalam metrum macapat pada tahun 1793, dan dalam metrum Jawa kuna pada tahun 1803 A.D. , merupakan saduran bebas cerita Nawaruci. Maksud pujangga Jasadipoera I menulis cerita Bimasuci berbentuk puisi dalam metrum macapat itu agar supaya cerita itu dapat mudah diingat karena dapat dinyanyikan, khususnya inti sari cerita tersebut. Cerita Bimasuci ini sudah kami terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan kami beri judul Dewaruci agar seragam dengan judul terjemahan cerita Nawaruci ini, dan diterbitkan oleh penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) juga.

 

Dua karya klasik Indonesia berasal dari Jawa – Bali tersebut mempunyai keindahan masing-masing dan dalam menterjemahkan kedua karya sastra tersebut kami berusaha untuk tidak merusak keindahan yang ada dalam tulisan itu.

 

Desember 1984

S.P. Adhikara.

 

 

 

 

Kolofon (asli) di naskah Nawaruci :

 

Demikianlah Ilmu Kebenaran Tanpa Cacat ( Tattwajnyana nirmala ), ditulis oleh Mpu Syiwamurti.

 

Selesai menulis Sang Hyang Tattwajnyana nirmala pada tahu Syaka 55, bulan Syrawana, tanggal 14, Hari Sabtu, wuku Wugu. Ditulis di kota Klungkung ( Swecchapura ), di tepi sungai, sebelah timur jalan. Maafkan kalau tulisan ini jelek serta segala kekurangannya, mengingat pekerjaan ini adalah dari seorang yang bodoh dan hanya sedikit memiliki inlu, yang didorong oleh keinginan turut menulis, yang bernama Jemuharsa.

 

Om Saraswatyai namah

Om gemung Ganapataye namah

Om Syri-Gurubhyo namah

 

Terjemahan :

Om, hormat dan puji kepada Saraswati

Om gemung, hormat dan puji kepada Ganapati

Om, hormat dan puji kepada Guru-guru, yang terhormat.

 

 

 

Pindaian / ‘ebook’ buku ini bisa diunduh dalam dua file di URL :

http://www.4shared.com/document/tIjSLJaX/Adhikara_Nawaruci_0147.html

http://www.4shared.com/document/pT0s9jkx/Adhikara_Nawaruci_4897.html

 

 

Salam dari Admin.

 

‘Ebook’ Buku Tuntunan Pedalangan Wayang Kulit Purwa Jawa .

 

Serat Sastramiruda .

 

 

Bagi peminat pedalangan wayang kulit purwa Jawa membaca buku tuntunan pedalangan merupakan suatu keasyikan tersendiri , sekalian menambah pengetahuan tentang wayang purwa.

 

Ada satu buku lama yang dianggap lengkap menguraikan pengetahuan mendalang sekaligus menguraikan hal lain berkaitan dengan wayang. Buku tersebut berjudul “ Serat Sastramiruda “. Kapan tepatnya buku tersebut pertama kali terbit tidak diketahui , menilik dari nama yang disebut dalam buku tersebut , diperkirakan buku tersebut pertama kali terbit pada kisaran tahun 1863 ~ 1893 Masehi.

 

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam rangka Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah pada tahun 1981 pernah mengalih aksarakan (oleh Sudibjo Z. Hadisutjipto) dan mengalihbahasakan (oleh Kamajaya) buku ini. Terbitan ini oleh Departemen P dan K disebarkan secara gratis, beserta buku-buku lain dalam proyek yang sama , ke perpustakaan-perpustakaan Departemen P & K di daerah maupun di sekolah-sekolah.

 

P Kamajaya ( nama lengkapnya adalah almarhum Karkono Kamajaya , seorang budayawan di Yogyakarta yang aktif menggali kembali falsafah dan budaya Jawa ) sebagai pengalih bahasa menuliskan keterangan singkat mengenai buku tersebut sbb :

 

 

Serat Sastramiruda dan alih bahasa nya .

 

“ Serat Sastramiruda “ adalah sebuah karya sastra Jawa berhuruf Jawa dalam bentuk wawancara antara guru ahli Pedalangan Wayang Purwa dan muridnya. Sang Guru ialah Kanjeng Pangeran Arya Kusumadilaga , dan muridnya , Mas Sastramiruda. Nama murid ini diambil menjadi judul bukunya.

 

Tidak ada angka tahun penulisan kitab tersebut, namun dapat diketahui, bahwa KPA Kusumadilaga hidup di jaman Sri Susuhunan Paku Buwana IX yang bertakhta dari tahun 1863 hingga 1893 M. Di antara tahun-tahun itulah kiranya kitab ini ditulis. Siapakah pengarang atau penyusunanya tidak diperoleh kepastian, apakah KPA Kusumadilaga, apakah Mas Sastramiruda. Hanya pada bagian muka dari Serat Sastramiruda terdapat keterangan bahwa :  “ Semua cara-cara menjalankan tugas mendalang dijelaskan dengan lengkap. Cerita itu kemudian disampaikan kepada Raden Mas Panji Kusumawardaya, kerabat keraton di Negeri Surakarta “ .

 

Apakah lalu dapat diartikan, bahwa yang menyusun Serat Sastramiruda ini RMP Kusumawardaya, walloh’alam.

 

“ Serat Sastramiruda “ carik (tulisan tangan) terdapat antata lain di Perpustakaan Radyapustaka, Surakarta. Pada tahun 1930 telah terbit yang tercetak dengan huruf Jawa, dijadikan 2 jilid, tetapi jilid keduanya belum pernah kami ketahui ( mungkin tidak terbit ). Penerbitnya : Uitgeverij en Boekhandel Stoomdrukkerij De Bliksem, Sala.

 

Isi “ Serat sastrawiruda “ diterangkan dalam anak-judul buku yang tercetak, yakni :

 

“ Ugering Padhalangan ingkang sampun mupakat kangge abdi dalem Dhalang di karaton Surakarta Adiningrat “. Artinya “ Pedoman Pedalangan yang telah dibenarkan untuk hamba Dalang di keraton Surakarta Adiningrat “.

 

 

Sebenarnya isi kitab itu lebih dari “pedoman pedalangan”, bahkan memuat pula Sejarah Wayang Purwa dan lain sebagainya. Maka keterangan yang lebih terperinci terdapat pada sampul belakang kitab yang sudah tercetak, yang artinya sebagai berikut :

 

“ Menceritakan asal mula adanya gambar Wayang Purwa dan permulaannya menjadi gambar Wayang Beber, Gedog, Krucil, Golek, Klithik, Wayang Orang dan Topeng, dengan urutan para penciptanya di jaman kuna sampai keadaan Wayang Kulit di keraton Surakarta. Dan dijelaskan ketika para Jawata (Dewa) mencipta bunyi-bunyian yang dinamakan Lokananta yang selanjutnya digubah menjadi gamelan Salendro. Lalu ada bunyi-bunyian (mengiringi) perang disebut Mardangga. Dan adanya gamelan Monggang, Kodok-ngorek, Galaganjur, Cara Balen, Pelog, Sakaten dan Sarunen. Juga adanya tari Badaya, Sarimpi, Wireng, Lawung, Dadap dan sebagainya. Pula tentang alat-alat dalang mewayang (mendalang), dan jenis-jenis gending, dengan Suluk Greget-saut (gaya siaga) nya. Diuraikan pula tentang cara memilih niyaga (pemukul gamelan) yang memang perlu menjadi teman bertugas ki dalang, hingga caranya mendalang. Semuanya diterangkan di dalam Serat ini “.

 

 

Kecuali memuat hal-hal yang terperinci di atas, kitab ini pun memuat Pedoman mendalang satu lakon penuh, yaitu lakon “ Palasara Kawin” atau disebut pula “Lahirnya Abiyasa”.

 

 

“Serat Sastramiruda” yang demikian luas isinya itulah yang sekarang disajikan alihbahasa Indonesianya. Mengingat banyaknya istila-istilah dalam pewayangan dan pedalangan, serta bahasa yang khas pedalangan, maka pengalihbahasaan ini menjumpai kesulitan-kesulitan. Istilah-istilah dan bahasa-khas itu tidak mudah, bahkan seringkali tidak mungkin diterjemahkan. Jalan keluarnya ialah diberikan penjelasan secara singkat agar para pembaca dapat memahaminya dengan seksama. Penjelasan itu diberikan di belakang kata-kata. Istilah masing-masing maupun berupa catatan kaki.

 

 

Atas bantuan mas Pranowo Budi Sulistyo – pengasuh laman wayang http://wayangprabu.com – yang mempunyai buku tersebut , telah memindai buku tersebut sehingga kita bisa mengunduh gratis ‘ebook’ buku tersebut.

 

File ‘ebook’ nya dibagi menjadi tiga file :

Bagi pembaca yang mengerti bahasa Jawa, mungkin mengunduh file yang bahasa Jawa saja sudah memadai untuk belajar.

 

Bagian pertama dari yang berbahasa Indonesia :

http://www.4shared.com/document/aqzzxOc-/Serat_Sastramiruda__Bhs_Indo_p.html

 

Bagian kedua dari yang berbahasa Indonesia :

http://www.4shared.com/document/w_Z44IAM/Serat_Sastramiruda__Bhs_Indo_p.html

 

Yang berbahasa Jawa ( satu file ) :

http://www.4shared.com/document/c6wLCRvV/Serat_Sastramiruda__Jawa_.html

Wijanarko ; “ Selayang Pandang Wayang Menak  – Salah Satu Bentuk Seni Tradisionil Yang Wajib Kita Lestarikan “ ; penerbit Amigo ; Sala / Surakarta ; tanpa cirri tahun [ kata pengantar penulis tertanggal 18 Oktober 1991 ] ; 84 halaman ; aksara Latin ; bahasa Indonesia, gambar wayang menak.

 

Buku tentang Wayang Menak – wayang yang ceritanya bertema epos kepahlawanan bernapaskan agama Islam – ini ditulis oleh Wijanarko , seorang penulis yang telah banyak menulis buku-buku lain tentang wayang ( tidak hanya tentang cerita wayang ). Sayang sekali bahwa buku-buku nya sudah tidak diterbitkan lagi.

 

 

 

Buku ini menguraikan asal-usulnya cerita-cerita yang dipakai di Wayang Menak.

 

Halaman 10 :

Sumber cerita untuk Wayang Menak, baik itu Wayang Kulit Menak, Wayang Golek Menak, serta tari ( sendratari ) Golek Menak maupun Wayang Orang Menak Gaya Yogyakarta bersumber dari buku “Serat Menak”

 

“Serat Menak” semula berasal / bersumber dari kitab “Qissai Emr Hamza” yaitu sebuah karya sastra Persia, pada jaman pemerintahan Sultan Harun Al Rasyid (766 ~ 809).

 

Di daerah Melayu kitab sastra tersebut lebih terkenal dengan nama “Hikayat Amir Hamzah”. Berdasar hikayat itu yang kemudian dipadukan dengan cerita Panji dan digubah ke dalam bahasa Jawa, akhirnya lahir cerita-cerita Menak yang terkenal dengan sebutan “Serat Menak”.

 

Dalam cerita ini, nama-nama tokohnya disesuaikan dengan nama Jawa antara lain : Omar bin Omayya menjadi Umarmaya, Qobat Shehriar menjadi Kobat Sarehas, Badi’ul Zaman menjadi Iman Suwangsa, Mihrnigar menjadi Dewi Retna Muninggar, Qoraishi menjadi Dewi Kuraisin, Unekir menjadi Dewi Andaninggar, dan lain-lain.

 

 

 

Dari sumber-sumber tersebut pujangga Jawa menceritakan kembali dalam bentuk tembang-tembang Jawa sehingga terbentuk “Serat Menak”. Banyak versi cerita menak sehingga bisa terjadi perbedaan alur cerita satu sama lain.

 

 

Tahun 1925 Bale Poestaka di Batavia ( Jakarta ) pernah menerbitkan “Serat Menak” dengan huruf Jawa sebanyak 24 episode. ( Sedangkan Pandan Guritno di dalam tulisannya di majalah Gatra menyebutkan ada 27 episode cerita menak. )

 

[ Sayang sekali, buku-buku seperti ini tidak pernah ada yang menerbitkan kembali sehingga generasi-generasi muda tidak mendapat kesempatan untuk membaca ( apalagi belajar ) tentang wayang menak. ]

 

 

 

Selanjutnya buku ini menguraikan pengenalan Wayang Kulit Menak, Wayang Golek Menak, Wayang Orang Menak serta fragmen tarian lepas wayang menak.

 

Berikutnya adalah contoh-contoh tembang Jawa dari ‘Serat Menak” yang menceritakan episode-episode dalam cerita wayang menak.

 

Diikuti kumpulan nama-nama peraga wayang menak dan ciri-ciri boneka wayang kulit atau boneka wayang golek menak dari peraga yang bersangkutan.

 

Di bagian awal buku, penulis mengidentifikasikan kendala-kendala mengapa pewarisan wayang menak ke generasi muda tidak cukup lancar sehingga bisa terjadi kepunahan wayang menak. Di bagian akhir buku, penulis memberikan pendapatnya mengenai usaha-usaha pelestarian wayang menak.

 

 

Dengan tujuan non-komersial / nirlaba ikut serta meng-konservasi buku-buku wayang yang sudah tidak terbit lagi serta memungkinkan masyarakat ( terutama generasi muda ) membaca karya-karya tulis tentang wayang oleh para pendahulu , Bapak Jaka Lodhang dari Tanahbaru Bogor berperan serta meluangkan waktu dan tenaga untuk me-mindah media rekam  buku tersebut menjadi format PDF , yang pembaca bisa unduh gratis di alamat URL ini :

http://www.4shared.com/document/5bhevV5T/Wayang_Menak_-_Wijanarko.html

 

 

Laman Wayangpustaka mengucapkan banyak terima kasih atas peran serta Bapak Jaka Lodhang dalam kegiatan konservasi buku-buku wayang yang sudah tidak terbit lagi. Admin yakin peran serta ini sangat bermanfaat bagi komunitas wayang terutama generasi muda nya.

 

Admin menunggu peran serta berikut nya dan juga peran serta dari pembaca lain , untuk kita persembahkan ke komunitas wayang.

novel wayang, Bisma, Bisma Dewabrata, Pitoyo Amrih, Dive Press

Karya ini sebelumnya sudah pernah terbit dengan format ebook. Sekarang diterbitkan kembali dengan format buku cetak ( dengan sedikit ‘perapian’ )

Judul Novel : Perjalanan Sunyi Bisma Dewabrata
Penulis : Pitoyo Amrih
Tebal Halaman : 476 halaman
Ukuran Halaman : 14 x 21 cm
Penerbit : DIVAPress
ISBN : 978-602-955-737-4

http://pitoyo.com/webstore/product_info.php?cPath=26_51&products_id=440

Catatan isi :

Ketika tahta Hastinapura yang menjadi haknya, dilepaskannya. Ketika dia bersumpah untuk tidak akan pernah menikah, agar tak ada keturunannya yang menuntut tahta Hastinapura… Apalagi tujuan hidup yang tersisa, yang menjadi semangat hari demi hari menjalani hidupnya yang begitu lama.

Cerita tentang pengabdian yang bisa menjadi cermin kehidupan kita.

novel grafis wayang, Abimanyu, Dwi Klik Santosa, Isa Anshori, Jagad Pustaka

Sumber berita :

http://oase.kompas.com/read/2010/07/22/22272331/Abimanyu.Anak.Rembulan.Diluncurkan.Sabtu

Novel Grafis Wayang

Abimanyu Anak Rembulan Diluncurkan Sabtu

Kamis, 22 Juli 2010 | 22:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Novel grafis berjudul “Abimanyu Anak Rembulan” akan diluncurkan di Bentara Budaya Jakarta hari Sabtu 24 Juli pukul 19.30.

Sebelumnya digelar bedah buku paa pukul 15.00-17.00, menghadirkan panelis Sujiwo Tedjo, Yenny Wahid, Henry Ismono, dan Ni GA Sukmadewi Dj dengan MC Veven SP Wardhana.

Buku setebal 212 halaman ini diterbitkan Jagad Pustaka, dan berisi cerita wayang Indonesia. “Ini merupakan buku perdana Jagad Pustaka,” kata Simon Puji Widodo, pemilik Jagad Pustaka Publishing kepada Kompas.com, Kamis (22/7/10) malam di sela-sela pembukaan pameran wayang di Bentara Budaya.

Simon menambahkan, selama ini tokoh pewayangan Indonesia belum dikenal khalayak. “Dan anak-anak Indonesia sekarang lebih suka kartun Jepang. Oleh karena itulah novel grafis yang ditulis Dwi Klik Sentosa dan digrafis oleh seniman Yogyakarta, ingin mengisi kekosongan akan karakter tokoh semacam superman Indonesia,” katanya.

Bre Redana, wartawan senior Kompas dalam komentarnya soal novel “Abimanyu Anak Rembulan” ini menyebutkan, “Ini merupakan transformasi wayang ke pakeliran novel grafis. Akrab, eksploratif, pakem tetap terjaga. Klasisme wayang tidak pernah pudar, dan Abimanyu Anak Rembulan membuktikannya.”

Sedangkan aktor Butet Kartaredjasa mengungkapkan, “Apa yang tersaji dalam buku ini membuktikan tradisi dan kekuatan lokal mempunyai daya saing yang sama-sama menakjubkan dengan kerap yang disebut internasional. Lebih celaka lagi yang internasional itu identik dengan Barat. Sementara kebudayaan Timur selalu diposisikan bukan internasional.”

Menurut Butet, sekarang saatnya menghentikan penyakit kroco jiwa. Wayang -juga batik, jathilan, reog, dan lainnya, juga punya martabat untuk bersanding setara di kancah dunia.

Nurul Arifin, yang sekarang jadi wakil rakyat di Senayan, menuturkan, “Belajar dari Abimanyu, kita jadi tahu, keberanian dan keutamaan itu bukanlah sesuatu yang tersembunyi lalu muncul tiba-tiba. Ia adalah hasil upaya, ikhtiar, dan tempaan hidup. Dan sebagai nilai kehidupan, keberanian dan keutamaan tetap relevan sepanjang zaman.”

[ akhir berita Kompas ]

—————————-

Foto-foto di bawah ini bersumber dari Facebook

Akun milik Dwi Klik Santosa dan akun milik Isa Anshori


Blog Stats

  • 508,381 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 48 other followers

Halaman dilihat :

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 48 other followers