Pustaka Wayang

Archive for the ‘Bahasa Jawa’ Category

Buku Wayang : Sadjarah Pandawa dan Korawa oleh R. Tanojo.

Ada sebuah buku yang menarik, berisi ceritera ringkas dalam bahasa Jawa Ngoko tentang sejarah Pandawa dan Kurawa tulisan R. Tanojo berdasarkan kidung / tembang Jawa yang ditulis C. F. Winter Sr dan dilanjutkan (setelah C.F. Winter wafat) oleh R. Ng. Ranggawarsita. Buku ini cocok untuk seseorang yang ingin mengetahui cerita Mahabarata secara ringkas , namun bagi yang mengerti bahasa Jawa Ngoko.

Judul lengkap buku tersebut adalah :

Kang andjarwakake lan ngiket Kidung basa Mardawa : Djurubasa ing Surakarta C. F. Winter Sr. , bareng seda nuli sinambungan R. Ng. Ranggawarsita Pudjangga ing Surakarta , Kang amangun Gantjaran basa Djawa Ngoko R. Tanojo , Kang amarna rerenggan gambar-gambar wajang R. M. Sulardi ; Sadjarah Pandawa lan Korawa ; Surabaja ; Penerbit Trimurti ; tanpa ciri tahun [dari type bukunya, diperkirakan terbitan era 1960 an] ; 60 halaman ditambah tambahan tentang Patjandran Semar Gareng Petruk sampai dengan halaman 87 ; bahasa Jawa Ngoko ; gambar wayang.

File PDF bisa ditemui dan diunduh di internet :

http://www.4shared.com/document/8zXqh0z_/Sadjarah_PndwKrw_Tanaja.html

dan tambahannya tentang Patjandran Semar Gareng Petruk
http://www.4shared.com/file/178660044/c0ace48d/Candra_SemarGarengPetruk.html

Kamus Bahasa Jawa.

Bagi penggemar serius wayang Jawa, mau tak mau harus mempelajari susastra Jawa atau paling tidak bahasa Jawa dengan lebih seksama, karena pakeliran wayang kulit purwa Jawa memakai bahasa Jawa krama atau bahkan kata-kata yang sudah jarang dipakai di pergaulan bahasa Jawa sekarang.

Berikut ini beberapa info tentang Kamus Bahasa Jawa.

 

A.
Pembaca bisa ‘ melongok ‘ di Google Books, disana penerbit Kanisius – Yogyakarta mengijinkan Google memuat sebagian halaman buku Kamus Basa Jawa terbitan Kanisius untuk bisa di baca / di ‘ cicipi ‘ pembaca.

Judul buku : Kamus Basa Jawa (Bausastra Jawa).

Tim Penyusun : Balai Bahasa Yogyakarta

Penerbit : Kanisius – Yogyakarta ; http://www.kanisiusmedia.com/
Jl. Cempaka 9, Deresan, Yogyakarta 55281
Kotakpos 1125/Yk, Yogyakarta 55011
Tel (0274) 588783, 565996 ; Fax (0274) 563349
Website : http://www.kanisiusmedia.com
Email : office@kanisiusmedia.com

Pratinjau terbatas di Google Books :
http://books.google.co.id/books?id=l55NzTsukywC&printsec=frontcover&dq=kamus+basa+jawa&lr=&cd=1#v=onepage&q=&f=false

 

B.
Kamus Bahasa Jawa yang tersimpan di Perpustakaan Rumah Budaya Tembi, Jl. Parangtritis, Yogyakarta yang kami kutip lengkap dari laman http://www.tembi.org .

KAMUS-KAMUS BAHASA JAWA

Bahasa Jawa termasuk salah satu bahasa daerah di Indonesia yang sampai sekarang masih hidup dan terus digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakatnya. Seperti bahasa-bahasa daerah lainnya, bahasa Jawa juga mempunyai sejarah perkembangan bahasa yang sangat panjang. Sebelum kita mengenal bentuk bahasa Jawa yang terkini, masyarakat Jawa telah menggunakan bentuk bahasa Jawa Kuno yang diyakini berkembang pada abad 9 Masehi. Pernyataan tersebut diperkuat dengan ditemukannya prasasti dan naskah-naskah kuno berbahasa Jawa Kuno.

Biarpun sebelum abad tersebut masyarakat Jawa sudah berkomunikasi dengan bahasa, namun yang dipakai diperkirakan bukan bahasa Jawa Kuno melainkan bahasa Sanskerta berasal dari India. Selain bahasa Jawa Kuno, bahasa yang berkembang di masyarakat Jawa tempo dulu adalah bahasa Jawa Pertengahan dan bahasa Jawa Klasik. Bahasa Jawa Pertengahan diperkirakan mulai berkembang pada masa pemerintahan kerajaan Majapahit, antara lain dengan ditemukannya naskah kidung yang berbahasa Jawa Pertengahan. Bahasa Jawa Klasik banyak digunakan semenjak masa kerajaan Surakarta.

Tradisi tulis pada masyarakat Jawa memang telah lama terjadi, paling tidak sudah lebih dari seribu tahun yang lalu. Tradisi tulis terus mengalami regenerasi dari abad ke abad. Kegiatan menyalin naskah berbahasa Jawa terjadi di mana-mana di wilayah masyarakat Jawa dan diturunkan dari setiap generasi ke generasi, terutama di kerajaan-kerajaan Jawa. Banyaknya peninggalan naskah hingga saat ini membuktikan bahwa kegiatan penyalinan naskah di masa lampau sangat marak dilakukan. Naskah-naskah Jawa sekarang masih banyak dijumpai di berbagai tempat, antara lain: Kraton Kasultanan Yogyakarta, Pura Pakualaman Yogyakarta, Kraton Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunegaran Surakarta, Perpustakaan Radya Pustaka Surakarta, Kraton Kasepuhan Cirebon, perpustakaan-perpustakaan di perguruan tinggi di Jawa, museum-museum di Jawa, Belanda, dan Inggris, perseorangan yang sangat banyak sekali. Bahkan penyalinan naskah sampai sekarang masih dapat dijumpai di pulau Bali.

Ketika pulau Jawa mulai dijajah oleh Belanda, bahasa Jawa banyak menjadi penelitian para ahli bahasa atau linguis. Ahli bahasa dan sastra Belanda yang sangat berminat pada bahasa dan sastra Jawa antara lain: C.C. Berg, Zoetmulder, Th. Pigeaud, Krom, A. Teeuw, T. Roorda, Gericke, dan Brandes. Pada perkembangan selanjutnya, bahasa dan sastra Jawa juga banyak menjadi penelitian bangsa-bangsa lain, seperti dari Amerika, Australia, dan Inggris. Tidak ketinggalan pula, penerus-penerus pribumi banyak juga yang mengkaji bahasa dan sastra Jawa, mulai dari R.Ng. Ranggawarsita, Poerbatjaraka hingga Kuntara Wiryamartana. Mereka selain meneliti bahasa dan sastra Jawa juga banyak menciptakan karya-karya ilmiah berbentuk disertasi, buku, dan kamus.

Sumber: http://www.tembi.org

Fungsi Kamus sangat beragam, antara lain untuk penggunaan terjemahan, mengetahui makna sebuah kata, dan pemberian nama. Fungsi yang terakhir, pada dewasa ini banyak membantu masyarakat luas untuk mengetahui secara benar sebuah kata serta artinya. Pemberian nama dapat diterapkan untuk nama orang, nama gedung, nama istilah, atau nama semboyan. Tidak bisa diingkari, bahwa di sekitar lingkungan kita banyak sekali nama-nama orang, gedung, atau istilah yang mengambil dari bahasa Jawa, misalnya. Sebut saja nama orang, seperti Sabar, Eka, Jati, Guntur, atau lainnya; nama tempat, seperti Mandhala Kridha, Graha Sabha Pramana, Kridhasana (Kridosono), atau lainnya; nama istilah/semboyan, seperti Labda Prakarsa Nirwikara dan Vidyasana Viveka Vardhana (istilah AU), dan sebagainya mengambil kata-kata dari bahasa Jawa.

Kamus Jawa memuat perbendaharaan kosa kata Jawa. Lazimnya, kamus memuat kata dasar yang disertai dengan pembentukannya, begitu pula dengan kamus Jawa ini. Kata dasar disertai dengan makna, arti dan penjelasannya. Bahkan dimungkinkan pula disertai dengan pengucapan (pelafalan), contoh-contoh padanan kata, dan contoh dalam kata bentukan, kata majemuk, atau kalimat. Yang jelas, di dalam kamus, penulisan kata adalah standard dan sesuai dengan bahasa asli.

Kamus Jawa jumlahnya sangat banyak dan begitu beragam. Kamus-kamus ini dibuat oleh para ahli bahasa baik dalam dan luar negeri. Kamus yang dibuat meliputi kamus Jawa Kuno hingga Jawa Baru. Ada yang dwibahasa, misalnya Jawa-Indonesia, Jawa-Inggris, atau Jawa-Belanda, dan ada yang satu bahasa, misalnya Jawa-Jawa. Sementara itu juga ada kamus Jawa yang berbicara mengenai unggah-ungguh. Ada beberapa kamus Jawa yang menjadi koleksi perpustakaan TeMBI, seperti yang akan penulis uraikan di bawah ini.

Pertama adalah kamus Baoesastra Jawa karangan W.J.S. Poerwadarminta. Kamus ini diterbitkan pada tahun 1939 oleh penerbit J.B. Wolters’ Uitgevers-Maatschappij NV di kota Batavia (Jakarta, red). Kamus ini termasuk satu bahasa, yakni Jawa-Jawa, tebal 670 halaman, dimulai dari abjad a-z.

Kedua, Kamus Kawi-Jawa karangan C.F Winter Sr. dan R.Ng. Ranggawarsita dialih aksarakan oleh Asia Padmopuspito dan A. Sarman Am. Kamus diterbitkan tahun 1994 (cetakan kelima) oleh penerbit Gadjah Mada University Press di kota Yogyakarta. Kamus ini aslinya bertuliskan huruf Jawa, namun sudah dilatinkan dan termasuk dwibahasa, yakni Jawa Kuno-Jawa, tebal 311 halaman. Dimulai dari huruf atau aksara ha-nga.

Ketiga, kamus Baoesastra Jawa-Indonesia karangan S. Prawiroatmodjo. Kamus diterbitkan tahun 1993 (cetakan keenam) oleh penerbit Haji Masagung di kota Jakarta. Kamus terdiri dari dua buku, buku satu 495 halaman, buku dua 335 halaman. Dimulai dari abjad a-z. Kamus termasuk dwibahasa, yakni Jawa-Indonesia.

Keempat, Kamus Jawa Kuna-Indonesia karangan P.J. Zoetmulder diterjemahkan oleh Darusuprapta dan Sumarti Suprayitna. Kamus diterbitkan tahun 1995 oleh penerbit Gramedia di kota Jakarta. Kamus terdiri dari dua buku, buku satu 722 halaman, mulai a-o, buku dua 1496 halaman, mulai p-y. Kamus ini aslinya berbahasa Jawa Kuna-Inggris, berati termasuk kamus dwibahasa.

Kelima, kamus Old Javanese-English Dictionary karangan P.J. Zoetmulder. Kamus diterbitkan tahun 1982 oleh penerbit ‘s-Gravenhage-Martinus Nijhoff. Juga terdiri dari dua buku, buku satu 1220 halaman, mulai a-o, buku dua 2368 halaman, mulai p-y. Termasuk kamus dwibahasa.

Keenam, kamus Javaansch-Nederlandsch Handwoordenboek karangan J.F.C. Gericke dan T. Roorda. Kamus diterbitkan tahun 1901 oleh penerbit Boekhandel en Drukkerij Leiden dan Johannes Muller Amsterdam. Kamus terdiri dari dua buku, buku satu 905 halaman, mulai ha-sa, buku dua 872 halaman, mulai wa-nga. Kamus berhuruf Jawa-Latin dan termasuk dwibahasa.

Ketujuh, kamus Bausastra Indonesia-Djawa karangan Unggar. Kamus diterbitkan pada tahun yang tidak diketahui oleh penerbit Lauw di kota Solo. Dimulai dari abjad a-z, terdiri dari 383 halaman. Kamus berhuruf Latin ini termasuk kamus dwibahasa, berbentuk kamus saku karena ukurannya kecil.

Kedelapan, Baoesastra Mlajoe-Djawa karangan Sasrasoeganda. Kamus diterbitkan pada tahun 1914 (cetakan kedua) oleh penerbit Bale Poestaka di kota Batavia (Jakarta, red). Kamus terdiri dari 564 halaman, dimulai dari abjad a-z.

Terakhir, kamus kesembilan adalah Kamus Unggah-Ungguh Basa Jawa karangan Haryana Harjawiyana dan Th. Supriya. Kamus diterbitkan pada tahun 2001 oleh penerbit Kanisius di kota Yogyakarta. Penerbitan kamus ini dalam rangka menyongsong Kongres Bahasa Jawa III di Yogyakarta tanggal 15-21 Juli 2001 yang lalu. Kamus setebal 485 halaman ini termasuk kamus istimewa, sebab menjelaskan setiap kata ngoko bahasa Jawa yang disertai dengan kata krama dan krama inggil. Di samping itu juga ada tambahan contoh-contoh kalimat penerapan bahasa Jawa ngoko, krama, krama inggil, dan terjemahan bahasa Indonesia. Kata ngoko yang dijelaskan selain dalam kata dasarnya, juga kata bentukan. Misalnya kata dasar ngoko turu ‘tidur’ dijelaskan bentuk krama (tilem) dan krama inggil (sare). Kata bentukan dari turu misalnya dakturokne ‘saya tidurkan’, diturokake ‘ditidurkan’, dituroni ‘ditiduri’, nurokake ‘menidurkan’, nuroni ‘meniduri’, dan sebagainya.


Sumber : http://www.tembi.org

Demikian beberapa kamus bahasa Jawa di perpustakaan TeMBI. Pada edisi selanjutnya nanti akan diuraikan jenis kamus lain. Semoga bermanfaat bagi pembaca.

Naskah : Suwandi Suryakusuma
Foto : Didit PD.

[ pemutakhiran 18 Peb 2012 ]

 

Materi pengayaan terkait posting ini :

1.

Buku “Kamus Basa Jawa. (Bausastra Jawa)” edisi kedua 2011 susunan Tim Balai Bahasa Yogyakarta :
http://wayangpustaka02.wordpress.com/2012/02/02/kamus-basa-jawa-susunan-tim-balai-bahasa-yogyakarta-edisi-kedua-2011/

2.

Buku “Pepak Basa Jawa” oleh Soewardi Haryono :
http://wayangpustaka.wordpress.com/2010/01/30/509/

3.

Ebook “Kamus Kawi Djarwa” karangan WJS Poerwadarminta terbitan 1940-an.

Sangat bermanfaat bagi pecinta wayang karena banyak kata Kawi yang banyak dipakai di pedalangan diberi arti dalam kamus ini.

http://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/08/14/ebook-kamus-kawi-djarwa-oleh-wjs-poerwadarminta-19411945/

 

Terbitan 1922 ~ 1929.

M. Ng. Mangoenwidjaia ; “ Serat Dewaruci “ Punika Serat Dewaruci ingkang sampun mawi wredi. ; Kediri ; kawedalaken sarta kasade dening Tan Khoen Swie ; 1929 = tjetakan jang ka V ; 56 halaman ; gambar wayang ; bahasa Jawa ; aksara Jawa.

‘Ebook’ buku ini bisa dijumpai dan diunduh di internet dengan alamat URL :

http://www.4shared.com/file/173577634/af4439a5/Dewaruci_Mangoenwidjaia_1.html

http://www.4shared.com/file/173579820/5b7396c4/Dewaruci_Mangoenwidjaia_2.html

Dua contoh gambar dalam buku ini :

Selamat membaca.

(Anggitanipun) Ki Siswoharsojo, “ Pakem Padhalangan Lampahan Wahju Purbasedjati” – dhapukan gagrag Surakarta. Kadjangkepaken : Djanturan, ginem, kotjapan, banjolan, gara-gara dalah tjaranipun andhalangaken satamatipun. Tuladha suluk mawi noot titi laras. Ngajogjakarta – Gondolaju Kulon: (kaanggit saha kawedalaken dening) Ki Siswaharsojo, tahun 1956 (catatan : tahun pada waktu pengarang menuliskan pengantar buku), 109 halaman, bahasa Jawa pedalangan.

URL file PDF Wahju Purbasedjati – Ki Siswoharsojo yang bisa diunduh :

Halaman 1 ~ 21 :

http://www.4shared.com/file/123962173/659f681a/WahjuPurbaSedjati_121.html

Halaman 22 ~ 43 :
http://www.4shared.com/file/123962513/34cc6740/WahjuPurbaSedjati_2243.html

Halaman 44 ~ 65 :
http://www.4shared.com/file/123961052/33d9ffd7/WahjuPurbaSedjati_4465.html

Halaman 66 ~ 89 :
http://www.4shared.com/file/123962964/ecf39d40/WahjuPurbaSedjati_6689.html

Halaman 91 ~ akhir :
http://www.4shared.com/file/123963880/cc637985/WahjuPurbaSedjati_90akhir.html

Serat Padhalangan Ringgit Purwa Jilid 1. Awit saking pangudinipun KGPAA Mangkunegara VII ing Surakarta. Gambar-gambar dening R. Sulardi, Kasidi, Darmatjarita. Cetakan IV tahun 1965, penerbit UP Indonesia, Yogyakarta, bergambar wayang kulit, bahasa Jawa krama.

‘Ebook’ / pindaian buku ini bisa ditemukan di internet ( dan bisa diunduh ) di alamat URL Serat Padhalangan Ringgit Purwa jilid 1 :

Buku ini berisi lakon wayang purwa :

I. LAMPAHAN PARA DEWA.

1. Wisnu krama.

2. Ngruna ngruni.

3. Watugunung.

4. Mikukuhan.

5. Sri Sadana.

6. Murwakala.

II. LAMPAHAN LOKAPALA.

1. Sastra Jendra Yuningrat.

2. Sugriwa – Subali.

3. Bedhahipun Lokapala.

4. Jathasura – Maesasura.

III. LAMPAHAN ARJUNA SASRABAU.

1. Arjunawijaya tapa.

2. Sumantri ngenger.

Cerita wayang Arjuna Wiwaha dikenal sebagai karya Empu Kanwa, yang hidup pada zaman Raja Airlangga ( 1019 ~ 1042 ). Sebuah karya sastra berbentuk kakawin ( tembang / semacam pantun ). Sanusi Pane tertarik untuk menerjemahkannya kedalam bahasa Indonesia dengan tetap mempertahankan bentuknya sebagai tembang / pantun.

Terjemahan tersebut diterbitkan oleh Dinas Penerbitan Balai Pustaka, Jakarta. Cetakan pertama diperkirakan terbit sebelum tahun 1940-an. Di bawah ini gambaran tentang buku itu yang didapat dari cetakan ke 3 tahun 1960 berbahasa Indonesia ejaan lama.  Judul buku nya : “ Mpu Kanwa. Ardjuna Wiwaha. Disalin dari bahasa Jawa Kuno oleh Sanusi Pane “.

 

Sanusi Pane menerjemahkan dari naskah yang diterbitkan oleh Dr. R. Ng. Purbatjaraka dalam “ Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlansch-Indie. Deel 82, 1926.

Di bagian depan, Sanusi Pane, menuliskan ringkasan cerita Arjuna Wiwaha. Disalin di sini tetap dengan ejaan lama :

Lakon Mintaraga.

(catatan : di Jawa lakon Arjuna Wiwaha disebut juga lakon Mintaraga)

Di Suralaja Sang Hijang Hendra berbitjara dengan puteranda Tjitragada, Tjitrasena dan Tjitrarata tentang antjaman Niwatakawatja, radja keradjaan raksasa Manimantaka.

Kepadanja sudah diberi bidadari Prabasini, akan tetapi ia belum senang, ia meminta Supraba.

Masuk Sang Hijang Narada membawa titah Sang Hijang Girinata kepada Sang Hijang Hendra untuk mentjobai Ardjuna jang bertapa di Hendrakila.

Sang Hijang Surapati menjuruh tudjuh orang bidadari : Supraba, Wilutama, Warsiki, Surendra, Gagarmajang, Tundjungbiru dan Lenglengmulat menggoda Ardjuna.

Kepada Tjitrasena diperintahkannja menahan serangan Niwatakawatja.

Ketudjuh bidadari itu sampai di Hendrakila dan bermatjam-matjam tjaranja menggoda Bagawan Tjipta Hening, jaitu Ardjuna sedang bertapa, akan tetapi tidak berhasil : begawan itu tetap imannja.

Mereka itu kembali ke Suralaja dan setelah Sang Hijang Hendra mendengar tjeritanja, batara itu sendiri pergi mentjoba Ardjuna dengan rupa pendeta.

Ia mengedjekkan Bagawan Tjipta Hening, karena bertapa pakai sendjata. Begwan itu menjawab, bahwa sendjata tidak mengalangi dia menunggalkan pikirannja.

Setelah itu pendita itu mengatakan, bahwa ia hendak mentjoba pengetahuan Bagawan Tjipta Hening dan ia bertanja dimana ketika itu Sang Hijang Hendra.

Ardjuna menjawab, bahwa Sang Hijang Hendra itu ialah resi itu sendiri.

Sang Hijang Hendra pun bertukar rupa kembali dan menasihatkan kepada Ardjuna meneruskan tapanja.

Niwatakawatja mendengar berita, bahwa Ardjuna sedang bertapa, hendak memperoleh kesaktian dan karena itu ia chawatir kemudian akan dikalahkan Ardjuna. Maka dititahkannja raksasa Mamangmurka membunuh begawan itu.

Mamangmurka berangkat dan setelah sampai di Hendrakila ia mulai merusakkan pertapaan Ardjuna.

Penakawan-penakawan Pendawa Semar, Petruk dan Gareng melihat itu lalu mengabarkannja kepada tuannja.

Ardjuna keluar dan menjumpah raksasa itu djadi babi hutan dan setelah itu dipanahnja, kena dan mati.

(Menurut anggapan lain, raksasa itu datang dalam bentuk babi).

Waktu hendak mencabut panahnja kembali, datang tiba-tiba seorang pemburu jang mengatakan, bahwa ialah jang menembakkan panah itu. Ardjuna menjangkalnja dan keduanja berkelahi.

Ardjuna melihat kesaktian lawannja dan tahulah ia, bahwa pemburu itu Sang Hijang Girinata. Ia sudjud menjembah dan Sang Hijang Girinata memperlihatkan rupanja jang sebenarnja, menganugerahkan panah Pasupati kepadanja.

Sang Hijang Girinata pulang ke Suralaja.

Dua orang bidadari Badjra dan Herawana datang mengundang Ardjuna menghadap Sang Hijang Hendra di Suralaja.

Setelah sampai dikajangan, Batara Hendra menghadiahkan istana Tedjamaja kepadanja dan memerintahkkannja membunuh Niwatakawatja.

Ardjuna berangkat bersam Supraba. Sesudah tiba di Manimantaka, Ardjuna bersembunji dalam subang bidadari itu. Niwatakawatja bersukatjita menjambut bidadari jang djelita itu. Supraba mengatakan kepadanja, bahwa ia suka djadi isterinja, asal ditjeritakannja rahasia kesaktiannja, tanda tjinta kepadanja.

Niwatakawatja, jang mabuk karena hawa nafsunja, membuka rahasianja : ia kebal seluruh tubuhnja, ketjuali dilangit-langit mulutnja.

Ardjuna lalu mendjelma dan menjerang radja raksasa itu. Perkelahian jang hebat terdjadi dan setelah beberapa lamanja berjuang itu, Ardjuna merobohkan dirinja seakan-akan mati.

Niwatakawatja tertawa sombong dan mengedjek-edjekkan lawannja. Ardjuna menungkup saat itu, lalu menembakkan panah Pasupati sekonjong-konjong, kena langit-langit mulut raksasa itu, sehingga ia mati.

Ardjuna dan Supraba kembali ke Suralaja menghadap Batara Hendra, jang bersukatjita sungguh, karena radja raksasa itu telah binasa.

Dihadiahkannja kepada pahlawan itu Supraba serta bidadari jang enam lagi dan diangkatnja pula djadi radja dengan gelar Kariti.

Demikianlah isi lakon Mintaraga dengan ringkas.

Bagaimana Ardjuna kembali kebumi, ke Ngamarta, ditjeritakan dalam lakon “ Parta Dewa “.

 

 

Kutipan dari Sarga IV :

(para bidadari menggoda Arjuna yang sedang bertapa)

  1.  

Banjak tjaranja hendak merusakkan tapa putera Pandu.

Matahari terbenam, diganti bulan.

Senang memandang rupa apsari.

Bertjaja terang, tetapi tiba-tiba bersembunji kedalam awan.

2.

Sebagai bidadari jang masuk gua, rindu kepada Sang Aria Parta.

Sebalik dari pada dapat menggoda, mereka mendam tjinta kasih.

Ada jang bernjanji menjatakan lara hatinja.

Seorang bersiul, mengetjapkan bibir, mendetak-detakkan djari kakinja.

…..

4.

Seorang mendekati Sang Aria.

Meraba-raba dan mentjubit-tjubit tangannja.

Berbagai-bagai mereka perbuat,

Menarik hati sang pertapa.

5.

Tapi Parta jang gagah perkasa tetap imannja.

Pantjaderianja tidak mengindahkan jang disukainja dulu.

Mendengar melihat djuga, tetapi tidak menjadi bimbang.

Tidak menodai kesutjiannja sebentar pun djua.

…..

Catatan tentang Bahasa Indonesia ejaan lama :

Chawatir = khawatir

Kesutjiannja = kesuciannya

Tji = ci

Nja = nya

Djari kakinja = jari kakinya

Menjanji = menyanyi

“Ebook” utuh Ardjuna Wiwaha terjemahan Sanusi Pane ini bisa di unduh di alamat :

http://www.4shared.com/file/142763701/22f3e765/Arjunawiwh_Sanusi_Pane_01_52.html

http://www.4shared.com/file/142764963/dee347c/Arjunawiwh_Sanusi_Pane_53_104.html

(Kaanggit) Ki Siswoharsojo, “ Pakem Pedhalangan Lampahan Makutharama “ Kadjangkepaken : djanturan, ginem, banjolan, gara-gara dalah patrapipun andhalang satamatipun. Tuladha suluk 37 warni mawi noot titi laras. Ngajogjakarta – Gondolaju Kulon Dj. VI/ 151 : (kaanggit lan kawedalaken dening) Ki Siswoharsojo, tahun 1963 = cetakan III, 122 halaman, gambar wayang, bahasa Jawa pedalangan.

Buku tuntunan pedalangan lengkap, gagrag Surakarta, gaya tahun 1950 an.

‘Ebook’ bisa ditemui dan diunduh di internet pada alamat URL :

http://www.4shared.com/file/136137400/38e3bf9a/Makutarama_01_59.html

dan

http://www.4shared.com/file/136138948/2ef71a9/Makutarama_60_122.html

Selamat membaca. Salam dari laman Wayang Purwa Buku di Facebook 

http://www.facebook.com/pages/Wayang-Purwa-Buku/82972305747

Kelanjutan dari Serat Paramayoga Bagian I

Serat Paramayoga ini tidak menyajikan sebuah cerita atau kisah, tetapi menyajikan kumpulan nasihat atau petuah, sesuai dengan judulnya. Kata “parama” itu antara lain berarti terutama, terbaik, tertinggi, teristimewa dan sebagainya, pendek kata semua yang serba paling. Tetapi “parama” juga dapat berarti agung, kepala, pertama, dan sangat. “Yoga” berarti semadi, tepekur, merenung. Jadi “paramayoga” dapat berarti semedi tertinggi, tetapi dalam hubungan ini paramayoga diartikan renungan istimewa ataupun renungan utama, karena nasihat-nasihat di dalam buku ini memerlukan renungan yang dalam untuk dapat dimengerti apa yang tersirat didalamnya dan bukan yang tersurat.

Nasihat dan petuah-petuah di dalam buku ini di tulis kurang lebih seratus tahun yang lalu. Namun demikian sampai sekarang nasihat-nasihat itu masih dapat mengikuti zaman, ia tak lapuk dimakan waktu. (dicuplik dari Kata Pendahuluan)

Buku “Kumpulan Wulang-wulang” dlama Serat Paramayoga dan Serat Pustakaraja ini, yang ditugaskan mengumpulkan adalah Raden Ngabehi Karyarujita, yang kemudian dikenal sebagai Raden Mas Tumenggung Ranggawarsita Anem. Sedangkan alih bahasa oleh Moelyono Sastronaryatmo.

Buku iniadalah bagian kedua atau lanjutan dari bagian pertama sebelumnya :

Berbagi catatan dengan laman Wayang Purwa Buku  http://www.facebook.com/pages/Wayang-Purwa-Buku/82972305747 .
‘Ebook’ ini merupakan catatan tertulis pagelaran 12 lakon wayang purwa terdiri dari dua lakon sebelum Baratayuda ditambah delapan lakon Baratayuda ditambah dua lakon sesudah Baratayuda, yang di pagelarkan oleh dalang Tjermakarsana di Sasana Hinggil ‘ Dwi Abad ‘ Yogyakarta pada tahun 1958. Pagelaran satu lakon per bulan, sehingga genap 12 lakon dalam satu tahun 1958.

Yang membuat catatan adalah MB Radyomardowo, Soeparman dan Soetomo. Catatan tersebut di bukukan dan diterbitkan oleh NV Badan Penerbit ‘ Kedaulatan Rakjat ‘ Yogyakarta pada 01 Januari 1959.

Serat Baratajuda – Tjermakarsana / Radyomardowo 1 ~ 24 : (676 KB)
http://www.4shared.com/file/116124624/63cc4c4c/SrtBaratajuda_Tjermakarsana_1__24.html
Dua lakon sebelum Baratayuda :
1. “Kalabendana Lena”. Utawi selapanan temanten Angkawijaya kalijan Dewi Utari.
2. “Kresna Gugah”. Utawi Balekambang.
Dalam lakon ini ada ramuan gubahan cerita versi Jawa. ( Yang menarik : Kitab Jitapsara, Lanceng Pethak, Prabu Baladewa dan Raden Antareja dicegah – oleh Kresna – agar tidak terlibat di peperangan Baratayuda ).
Kresna bertapa tidur di Balekambang. Badan halusnya – Sukmawicara – ke Suralaya untuk minta Kitab Jitapsara – skenario peperangan Baratayuda. Dewa sedang menuliskan skenario tersebut, siapa lawan siapa dan seterusnya. Pada waktu Bathara Guru berujar : ‘ Prabu Baladewa melawan Raden Antareja ‘, namun sebelum Bathara Penyarikan sempat menuliskannya ke Kitab Jitapsara, botol tinta ditendang tumpah oleh Lanceng Pethak (kumbang kecil berwarna putih) yang tidak lain adalah Sukmawicara. Skenario tidak bisa terus dituliskan, sehingga Prabu Baladewa dan Raden Antareja tidak tertulis dalam skenario peperangan Baratayuda.
Kresna meminta Prabu Baladewa untuk bertapa di Grojogan Sewu dikawal Raden Sencaka.
Kresna meminta Raden Antareja menjilat jejak kaki nya sendiri. Karena terkena kesaktiannya sendiri Raden Antareja meninggal.

Serat Baratajuda – Tjermakarsana / Radyomardowo 25 ~ 50 : (1.173 KB)
http://www.4shared.com/file/116124725/150916ed/SrtBaratajuda_Tjermakarsana_25__50.html
Dua lakon Baratayuda :
1. “Kresna Duta”. Utawi Jabelan.
Dalam lakon ini ada ramuan gubahan cerita versi Jawa. ( Yang menarik : bagaimana Sang Hyang Wenang mencegah keterlibatan Raden Wisanggeni dalam peperangan Baratyuda ).
2. “Resi Seta Gugur”.

Serat Baratajuda – Tjermakarsana / Radyomardowo 51 ~ 82 : (1.258 KB)
http://www.4shared.com/file/116124809/25d57f79/SrtBaratajuda_Tjermakarsana_51__82.html
Tiga lakon Baratayuda :
1. “Bogadenta Gugur”. Utawi Paluhan, inggih Wrekudara kepaluh.
2. “Renyuhan”. Utawi Ranjapan, inggih guguripun Abimanyu.
3. “Burisrawa Gugur”. Utawi Timpalan.

Serat Baratajuda – Tjermakarsana / Radyomardowo 83 ~ 112 : ( 1.300 KB)
http://www.4shared.com/file/116124903/c4c2fc50/SrtBaratajuda_Tjermakarsana_83112.html
Dua lakon Baratayuda :
1. “Suluhan”. Utawi Gatutkaca Gugur.
2. “Karna Tanding”.

Serat Baratajuda – Tjermakarsana / Radyomardowo 113 ~ 140 : (1.305 KB)
http://www.4shared.com/file/116124977/8ceeae8e/SrtBaratajuda_Tjermakarsana_113140.html
Satu lakon Baratayuda : “Rubuhan”. Utawi Prabu Duryudana Gugur.
Satu lakon sesudah Baratyuda : “Lahiripun Parikesit”.

Serat Baratajuda – Tjermakarsana / Radyomardowo 141 ~ akhir : (436 KB)
http://www.4shared.com/file/116125002/4a8902c/SrtBaratajuda_Tjermakarsana_141akhir.html
Satu lakon sesudah Baratayuda : “Jumenengan”.

”Suluk Pedhalangan Abasa Jawi Kina Ingkang Leres Tuwin Katranganing Tembung-tembunganipun”, karya S. Padmosoekotjo, penerbit Citra Jaya Murti (Jayabaya), Surabaya, perkiraan terbit tahun 1978, 54 halaman, bahasa Jawa krama.

Dengan rasa hormat dan terima kasih kepada penulis dan penerbit, sehingga memungkinkan saya – dahulu sekitar 1978, pada saat buku ini terbit – menambah pengetahuan dan wawasan saya dengan membaca tulisan penulis. Karena saat ini sangat sulit untuk menemui buku ini di perpustakaan umum, apalagi mendapatkan di pasaran, perkenankan saya membuka buku ini saat ini dengan tujuan berbagi, agar generasi muda Indonesia mendapat kesempatan membaca apa-apa yang pernah ditulis penulis pendahulu mereka. Bukankah tujuan penulis adalah berbagi pengetahuan dengan pembacanya, kekal meskipun penulisnya sudah tiada dan bukunya sudah sukar didapat lagi ? Namun sekiranya ada yang keliru dan ada yang berkeberatan dengan kegiatan membuka buku ini, mohon segera beritahu saya.

Judul lengkapnya adalah “ Suluk Padhalangan Abasa Jawi Kina Ingkang Leres Tuwin Katranganing Tembung-tembungipun “. Buku ini membahas suluk pedhalangan dari sudut pandang susastra Jawa Kuno.

Sangat menarik untuk dibuka, dibaca, dinikmati bahasanya, disimpan, ….. dibaca lagi ketika mulai lupa. URL berbagi file ada di :
http://www.4shared.com/file/116124104/54b5384b/Suluk_Pedhalangan_S_Padmosoekotjo.html .

Menurut S. Padmosoekotjo suluk pedhalangan berbahasa Jawa Kuno hampir semua adalah petikan dari Kakawin Bharata Yuddha karya Empu Sedah dan Empu Panuluh pada jaman Prabu Jayabaya di Kediri. Hanya ada satu yang petikan dari Kakawin Ramayana ( Red : tapi S. Padmosoekotjo tidak menyebutkan suluk yang mana ). Di dalam buku ini ada sepuluh suluk ( Red : termasuk ada-ada, sendhon ) yang diuraikan.

Menurut saya buku ini sangat berguna untuk dalang maupun penggemar wayang kulit, karena buku ini dengan sangat jelas menguraikan ucapan suluk dalam bahasa Jawa kuno, kemudian arti kata-kata suluk tersebut dalam bahasa Jawa sekarang. Sangat menarik. Dengan mengerti arti kata-kata suluk, akan membuat kita lebih menikmati pagelaran wayang kulit.

Contoh susunan uraian penulis dalam buku ini :
1.
Pertama dituliskan dahulu petikan kakawin dalam huruf Jawa dengan bahasa Jawa Kuno.
Setelah itu petikan kakawin itu di-alih aksara-kan ke dalam huruf Latin persis sama dalam bahasa Jawa Kuno. Karena penuh tanda baca yang sukar di dapat di teknik typhografi ( Red : pada waktu itu ) maka penulis menuliskan dengan tulisan tangan.

Leng-leng ramya nikang sasangka kumenar mangrenga rum ning puri, mangkin tan pasiring halep ikang umah mas lwir murub ring langit ; ….. dst

Terus uraian tentang petikan kakawin :
Ing nginggil punika dipun wastani sekar (tembang) Sardulawikridita, tegesipun dolanan sima. Isinipun nyariosaken candraning kaendahanipun kadhaton Hastina ing wanci dalu, pinuju padhang rembulan. ….. dst

Katranganing temtung-tembungipun :
1. Leng-leng = anglam-lami ( Indonesia : mengasyikkan, menyebabkan orang terpesona ).
2. Ramya = endah, nengsemaken ( Indonesia : indah, menawan hati ).
3. ….. dst

Suraosipun :
Endah anglami-lami (warninipun) rembulan ingkang sumunar ngrengga memanising puri (kadhaton), (njalari) saya tanpa timbang (boten wonten ingkang nyameni) endahipun suyasa kencana (griya emas) punika, (sorotipun sumunar) pepindhanipun kados murub ing langit ; ….. dst

“ Sekar “ ( tembang ) kakawin di atas dipergunakan untuk suluk laras slendro pathet nem ageng yang dipergunakan di adegan ( jejer ) pertama.

2.
Lengeng gati nikang hawan sabha-sabha niking Hastina, … dst

Suluk sesudah pathet nem ageng, sebelum di mulainya “ ginem “ ( pembicaraan / narasi cerita / dialog dalam lakon ).

3.
Irika ta sang Ghatotkaca kinon mapagarkkasuta, tekap ira Krsna Partha maneher muji sakti nira, ….. dst

Ada-ada greget saut di pathet sanga.

4.
Meh rahinasemu bang hyang aruna kadi netra ning ogha rapuh, sabda ni kokila ring kanigara saketer ni kidung ning akung, ….. dst

“ Sekar “ Wisarjita, untuk sulukan pathet manyura, pertanda perpindahan dari pathet sanga ke pathet manyura.

Suraosipun :
(Wancinipun) meh ndungkap raina, srengenge (langit ing sisih wetan) katingal semu abrit, kados (abritipun) mripat (ingkang ngleresi) sakit, ocehing peksi engkuk ing wit kanigara kados suwanten pangrengiking kidungipun tiyang nandhang brangta. Pindha ungeling sulingipun tiyang Indu, cekikering ayam wana ing pagagan, peksi merak nyengungong undang-undang, kombang (tawon) mangrurah sekar ing kamar pasarean wangi (endah).

5.
Yahni yahning talaga kadi langit, mambang tang pas wulan upama nika, wintang tulyang kusuma yasumawur, lumra pwekang sari kadi jalada.

“ Sekar “ Bhramarawilasita, artinya kombang mboten tentrem (tawon yang tidak tenteram ), untuk sulukan pathet manyura jugag.

6.
Sendhon Sastradatan.

7.
Ada-ada jugag pathet manyura.

8.
” Sekar “ Sardulawikridita , artinya “ dolanan sima “.
Suluk pathet manyura ageng.

9.
Ada-ada adegan Arjuna.

10.
Ada-ada adegan Kresna.

Lirik kakawin Bharata Yuddha yang menggambarkan keberangkatan Kresna sebagai Duta Pandawa ini dipakai dalang wayang kulit purwa sebagai ucapan/ lirik suluk, setelah Suluk Pathet Enem Ageng, sebelum memulai percakapan adegan pakeliran wayang.

Kutipan dari buku ”Suluk Pedhalangan Abasa Jawi Kina Ingkang Leres Tuwin Katranganing Tembung-tembunganipun”, karya S. Padmosoekotjo, penerbit Citra Jaya Murti (Jayabaya), Surabaya, perkiraan terbit tahun 1978, 54 halaman, bahasa Jawa krama :

(awal kutipan)

Lengeng gati nikang hawan sabha-sabha niking Hastina, samantara tekeng tegal Kuru nararyya Krsnan laku, sirang Parasurama Kanwa Janakadulur Narada, kapanggih irikang tegal miluri karyya sang Bhupati.

 Terjemahan bahasa Jawa jaman sekarang :
Asri – nengsemaken kawontenanipun margi ingkang (ngener) dhateng bangsal (papan pirembagan) Hastina. Sareng tindakipun Prabu Kresna dumugi ing ara-ara Kuru, panjenenganipun kepanggih (kepethuk) kaliyan Parasurama, Kanwa lan Janaka (ingkang sampun sami asalira dewa) sesarengan kaliyan (Bathara) Narada; (sakawan punika) sami tumut mbiyantu pakaryanipun (tugasnya) Sang Prabu.

(akhir kutipan)

Terjemahan Bahasa Indonesia nya oleh Admin WPB :
Indah – mempesona suasana jalan yang (menuju) ke bangsal (tempat perundingan) Hastina. Ketika jalannya Prabu Kresna sampai di tanah lapang Kuru, dia bertemu dengan Parasurama, Kanwa dan Janaka (yang sudah ber-wadag/ ber-badan dewa) bersama dengan (Bathara) Narada; (ke-empatnya) bersama ikut membantu tugasnya Sang Prabu

(awal kutipan)

S. Padmosoekotjo : katranganing tembung-tembungipun :
(indonesia nya oleh Admin WPB)

1. Lengeng = endah, asri, nengsemaken. (Ind: indah, mempesona)
2. Gati = kawontenan (Ind: keadaan, suasana). Hawan = margi (Ind: jalan)
3. Lengeng gati nikang hawan = asri – nengsemaken kawontenaning marginipun. (Ind: indah – mempesona suasana jalan)
4. Sabha = bangsal papan sarasehan, papan rembagan, pendhapa kraton. (Ind: aula, auditorium)
5. Samantara = boten antawis dangu. (Ind: sementara itu, segera sesudah itu)
6. Tegal Kuru = ara-ara Kuru (Ind: tanah lapang Kuru)
7. Nararyya = nara (tiyang) + aryya (minulya, sebutanipun darah luhur). Ing sekar punika tembung “nararyya” sami kaliyan : Prabu.

(akhir kutipan)

Selamat menikmati keindahan bahasa nya.
Semoga bisa berbagi pada buku wayang terbitan lama lain nya lagi.
Salam.


Blog Stats

  • 508,275 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 48 other followers

Halaman dilihat :

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 48 other followers