Pustaka Wayang

Archive for the ‘Kajian’ Category

Kamus Bahasa Jawa.

Bagi penggemar serius wayang Jawa, mau tak mau harus mempelajari susastra Jawa atau paling tidak bahasa Jawa dengan lebih seksama, karena pakeliran wayang kulit purwa Jawa memakai bahasa Jawa krama atau bahkan kata-kata yang sudah jarang dipakai di pergaulan bahasa Jawa sekarang.

Berikut ini beberapa info tentang Kamus Bahasa Jawa.

 

A.
Pembaca bisa ‘ melongok ‘ di Google Books, disana penerbit Kanisius – Yogyakarta mengijinkan Google memuat sebagian halaman buku Kamus Basa Jawa terbitan Kanisius untuk bisa di baca / di ‘ cicipi ‘ pembaca.

Judul buku : Kamus Basa Jawa (Bausastra Jawa).

Tim Penyusun : Balai Bahasa Yogyakarta

Penerbit : Kanisius – Yogyakarta ; http://www.kanisiusmedia.com/
Jl. Cempaka 9, Deresan, Yogyakarta 55281
Kotakpos 1125/Yk, Yogyakarta 55011
Tel (0274) 588783, 565996 ; Fax (0274) 563349
Website : http://www.kanisiusmedia.com
Email : office@kanisiusmedia.com

Pratinjau terbatas di Google Books :
http://books.google.co.id/books?id=l55NzTsukywC&printsec=frontcover&dq=kamus+basa+jawa&lr=&cd=1#v=onepage&q=&f=false

 

B.
Kamus Bahasa Jawa yang tersimpan di Perpustakaan Rumah Budaya Tembi, Jl. Parangtritis, Yogyakarta yang kami kutip lengkap dari laman http://www.tembi.org .

KAMUS-KAMUS BAHASA JAWA

Bahasa Jawa termasuk salah satu bahasa daerah di Indonesia yang sampai sekarang masih hidup dan terus digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakatnya. Seperti bahasa-bahasa daerah lainnya, bahasa Jawa juga mempunyai sejarah perkembangan bahasa yang sangat panjang. Sebelum kita mengenal bentuk bahasa Jawa yang terkini, masyarakat Jawa telah menggunakan bentuk bahasa Jawa Kuno yang diyakini berkembang pada abad 9 Masehi. Pernyataan tersebut diperkuat dengan ditemukannya prasasti dan naskah-naskah kuno berbahasa Jawa Kuno.

Biarpun sebelum abad tersebut masyarakat Jawa sudah berkomunikasi dengan bahasa, namun yang dipakai diperkirakan bukan bahasa Jawa Kuno melainkan bahasa Sanskerta berasal dari India. Selain bahasa Jawa Kuno, bahasa yang berkembang di masyarakat Jawa tempo dulu adalah bahasa Jawa Pertengahan dan bahasa Jawa Klasik. Bahasa Jawa Pertengahan diperkirakan mulai berkembang pada masa pemerintahan kerajaan Majapahit, antara lain dengan ditemukannya naskah kidung yang berbahasa Jawa Pertengahan. Bahasa Jawa Klasik banyak digunakan semenjak masa kerajaan Surakarta.

Tradisi tulis pada masyarakat Jawa memang telah lama terjadi, paling tidak sudah lebih dari seribu tahun yang lalu. Tradisi tulis terus mengalami regenerasi dari abad ke abad. Kegiatan menyalin naskah berbahasa Jawa terjadi di mana-mana di wilayah masyarakat Jawa dan diturunkan dari setiap generasi ke generasi, terutama di kerajaan-kerajaan Jawa. Banyaknya peninggalan naskah hingga saat ini membuktikan bahwa kegiatan penyalinan naskah di masa lampau sangat marak dilakukan. Naskah-naskah Jawa sekarang masih banyak dijumpai di berbagai tempat, antara lain: Kraton Kasultanan Yogyakarta, Pura Pakualaman Yogyakarta, Kraton Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunegaran Surakarta, Perpustakaan Radya Pustaka Surakarta, Kraton Kasepuhan Cirebon, perpustakaan-perpustakaan di perguruan tinggi di Jawa, museum-museum di Jawa, Belanda, dan Inggris, perseorangan yang sangat banyak sekali. Bahkan penyalinan naskah sampai sekarang masih dapat dijumpai di pulau Bali.

Ketika pulau Jawa mulai dijajah oleh Belanda, bahasa Jawa banyak menjadi penelitian para ahli bahasa atau linguis. Ahli bahasa dan sastra Belanda yang sangat berminat pada bahasa dan sastra Jawa antara lain: C.C. Berg, Zoetmulder, Th. Pigeaud, Krom, A. Teeuw, T. Roorda, Gericke, dan Brandes. Pada perkembangan selanjutnya, bahasa dan sastra Jawa juga banyak menjadi penelitian bangsa-bangsa lain, seperti dari Amerika, Australia, dan Inggris. Tidak ketinggalan pula, penerus-penerus pribumi banyak juga yang mengkaji bahasa dan sastra Jawa, mulai dari R.Ng. Ranggawarsita, Poerbatjaraka hingga Kuntara Wiryamartana. Mereka selain meneliti bahasa dan sastra Jawa juga banyak menciptakan karya-karya ilmiah berbentuk disertasi, buku, dan kamus.

Sumber: http://www.tembi.org

Fungsi Kamus sangat beragam, antara lain untuk penggunaan terjemahan, mengetahui makna sebuah kata, dan pemberian nama. Fungsi yang terakhir, pada dewasa ini banyak membantu masyarakat luas untuk mengetahui secara benar sebuah kata serta artinya. Pemberian nama dapat diterapkan untuk nama orang, nama gedung, nama istilah, atau nama semboyan. Tidak bisa diingkari, bahwa di sekitar lingkungan kita banyak sekali nama-nama orang, gedung, atau istilah yang mengambil dari bahasa Jawa, misalnya. Sebut saja nama orang, seperti Sabar, Eka, Jati, Guntur, atau lainnya; nama tempat, seperti Mandhala Kridha, Graha Sabha Pramana, Kridhasana (Kridosono), atau lainnya; nama istilah/semboyan, seperti Labda Prakarsa Nirwikara dan Vidyasana Viveka Vardhana (istilah AU), dan sebagainya mengambil kata-kata dari bahasa Jawa.

Kamus Jawa memuat perbendaharaan kosa kata Jawa. Lazimnya, kamus memuat kata dasar yang disertai dengan pembentukannya, begitu pula dengan kamus Jawa ini. Kata dasar disertai dengan makna, arti dan penjelasannya. Bahkan dimungkinkan pula disertai dengan pengucapan (pelafalan), contoh-contoh padanan kata, dan contoh dalam kata bentukan, kata majemuk, atau kalimat. Yang jelas, di dalam kamus, penulisan kata adalah standard dan sesuai dengan bahasa asli.

Kamus Jawa jumlahnya sangat banyak dan begitu beragam. Kamus-kamus ini dibuat oleh para ahli bahasa baik dalam dan luar negeri. Kamus yang dibuat meliputi kamus Jawa Kuno hingga Jawa Baru. Ada yang dwibahasa, misalnya Jawa-Indonesia, Jawa-Inggris, atau Jawa-Belanda, dan ada yang satu bahasa, misalnya Jawa-Jawa. Sementara itu juga ada kamus Jawa yang berbicara mengenai unggah-ungguh. Ada beberapa kamus Jawa yang menjadi koleksi perpustakaan TeMBI, seperti yang akan penulis uraikan di bawah ini.

Pertama adalah kamus Baoesastra Jawa karangan W.J.S. Poerwadarminta. Kamus ini diterbitkan pada tahun 1939 oleh penerbit J.B. Wolters’ Uitgevers-Maatschappij NV di kota Batavia (Jakarta, red). Kamus ini termasuk satu bahasa, yakni Jawa-Jawa, tebal 670 halaman, dimulai dari abjad a-z.

Kedua, Kamus Kawi-Jawa karangan C.F Winter Sr. dan R.Ng. Ranggawarsita dialih aksarakan oleh Asia Padmopuspito dan A. Sarman Am. Kamus diterbitkan tahun 1994 (cetakan kelima) oleh penerbit Gadjah Mada University Press di kota Yogyakarta. Kamus ini aslinya bertuliskan huruf Jawa, namun sudah dilatinkan dan termasuk dwibahasa, yakni Jawa Kuno-Jawa, tebal 311 halaman. Dimulai dari huruf atau aksara ha-nga.

Ketiga, kamus Baoesastra Jawa-Indonesia karangan S. Prawiroatmodjo. Kamus diterbitkan tahun 1993 (cetakan keenam) oleh penerbit Haji Masagung di kota Jakarta. Kamus terdiri dari dua buku, buku satu 495 halaman, buku dua 335 halaman. Dimulai dari abjad a-z. Kamus termasuk dwibahasa, yakni Jawa-Indonesia.

Keempat, Kamus Jawa Kuna-Indonesia karangan P.J. Zoetmulder diterjemahkan oleh Darusuprapta dan Sumarti Suprayitna. Kamus diterbitkan tahun 1995 oleh penerbit Gramedia di kota Jakarta. Kamus terdiri dari dua buku, buku satu 722 halaman, mulai a-o, buku dua 1496 halaman, mulai p-y. Kamus ini aslinya berbahasa Jawa Kuna-Inggris, berati termasuk kamus dwibahasa.

Kelima, kamus Old Javanese-English Dictionary karangan P.J. Zoetmulder. Kamus diterbitkan tahun 1982 oleh penerbit ‘s-Gravenhage-Martinus Nijhoff. Juga terdiri dari dua buku, buku satu 1220 halaman, mulai a-o, buku dua 2368 halaman, mulai p-y. Termasuk kamus dwibahasa.

Keenam, kamus Javaansch-Nederlandsch Handwoordenboek karangan J.F.C. Gericke dan T. Roorda. Kamus diterbitkan tahun 1901 oleh penerbit Boekhandel en Drukkerij Leiden dan Johannes Muller Amsterdam. Kamus terdiri dari dua buku, buku satu 905 halaman, mulai ha-sa, buku dua 872 halaman, mulai wa-nga. Kamus berhuruf Jawa-Latin dan termasuk dwibahasa.

Ketujuh, kamus Bausastra Indonesia-Djawa karangan Unggar. Kamus diterbitkan pada tahun yang tidak diketahui oleh penerbit Lauw di kota Solo. Dimulai dari abjad a-z, terdiri dari 383 halaman. Kamus berhuruf Latin ini termasuk kamus dwibahasa, berbentuk kamus saku karena ukurannya kecil.

Kedelapan, Baoesastra Mlajoe-Djawa karangan Sasrasoeganda. Kamus diterbitkan pada tahun 1914 (cetakan kedua) oleh penerbit Bale Poestaka di kota Batavia (Jakarta, red). Kamus terdiri dari 564 halaman, dimulai dari abjad a-z.

Terakhir, kamus kesembilan adalah Kamus Unggah-Ungguh Basa Jawa karangan Haryana Harjawiyana dan Th. Supriya. Kamus diterbitkan pada tahun 2001 oleh penerbit Kanisius di kota Yogyakarta. Penerbitan kamus ini dalam rangka menyongsong Kongres Bahasa Jawa III di Yogyakarta tanggal 15-21 Juli 2001 yang lalu. Kamus setebal 485 halaman ini termasuk kamus istimewa, sebab menjelaskan setiap kata ngoko bahasa Jawa yang disertai dengan kata krama dan krama inggil. Di samping itu juga ada tambahan contoh-contoh kalimat penerapan bahasa Jawa ngoko, krama, krama inggil, dan terjemahan bahasa Indonesia. Kata ngoko yang dijelaskan selain dalam kata dasarnya, juga kata bentukan. Misalnya kata dasar ngoko turu ‘tidur’ dijelaskan bentuk krama (tilem) dan krama inggil (sare). Kata bentukan dari turu misalnya dakturokne ‘saya tidurkan’, diturokake ‘ditidurkan’, dituroni ‘ditiduri’, nurokake ‘menidurkan’, nuroni ‘meniduri’, dan sebagainya.


Sumber : http://www.tembi.org

Demikian beberapa kamus bahasa Jawa di perpustakaan TeMBI. Pada edisi selanjutnya nanti akan diuraikan jenis kamus lain. Semoga bermanfaat bagi pembaca.

Naskah : Suwandi Suryakusuma
Foto : Didit PD.

[ pemutakhiran 18 Peb 2012 ]

 

Materi pengayaan terkait posting ini :

1.

Buku “Kamus Basa Jawa. (Bausastra Jawa)” edisi kedua 2011 susunan Tim Balai Bahasa Yogyakarta :
http://wayangpustaka02.wordpress.com/2012/02/02/kamus-basa-jawa-susunan-tim-balai-bahasa-yogyakarta-edisi-kedua-2011/

2.

Buku “Pepak Basa Jawa” oleh Soewardi Haryono :
http://wayangpustaka.wordpress.com/2010/01/30/509/

3.

Ebook “Kamus Kawi Djarwa” karangan WJS Poerwadarminta terbitan 1940-an.

Sangat bermanfaat bagi pecinta wayang karena banyak kata Kawi yang banyak dipakai di pedalangan diberi arti dalam kamus ini.

http://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/08/14/ebook-kamus-kawi-djarwa-oleh-wjs-poerwadarminta-19411945/

 

Buku Wayang : Astabrata (2) diuraikan oleh Museum Purna Bhakti Pertiwi, TMII.

Saya kutipkan dari buku kedua, buku panduan Museum Purna Bhakti Pertiwi di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta , sebagai panduan pengunjung ketika melihat ruang Astabrata di Museum tersebut. Judul bukunya “Wahyu Sri Makutharama. Asthabrata” , penanggung jawab Sampurno, ketua tim penyusun Wibisono Singgih, edisi kedua September 1996. Buku dicetak mewah berwarna dengan halaman kertas tebal. Wejangan Astabrata dari Begawan Kesawasidhi kepada Arjuna. Uraiannya singkat tetapi jelas.

WATAK BUMI.
(Gambar : Wisnu).

“ Bumi mempunyai sifat murah hati, selalu memberi hasil kepada siapapun yang mengolah dan memeliharanya dengan tekun. Seorang pemimpin hendaknya berwatak murah hati, suka beramal dan senantiasa berusaha untuk tidak mengecewakan kepercayaan rakyatnya. “

WATAK MARUTA (ANGIN)
(Gambar : Bayu).

“ Angin selalu berada di segala tempat, tanpa membedakan dataran tinggi atau rendah, daerah kota ataupun pedesaan. Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan rakyat, tanpa membedakan derajat dan martabatnya, hingga secara langsung mengetahui keadaan dan keinginan rakyatnya. “


WATAK SAMODRA (LAUT / AIR)
(Gambar : Baruna).

“ Laut, betapapun luasnya, senantiasa mempunyai permukaan yang rata dan bersifat sejuk menyegarkan. Seorang pemimpin hendaknya menempatkan semua rakyatnya pada derajat dan martabat yang sama di hatinya. Dengan demikian ia dapat berlaku adil, bijaksana dan penuh kasih sayang terhadap rakyatnya. “

WATAK CANDRA (BULAN)
(Gambar : Ratih).
“ Keberadaan bulan senantiasa menerangi kegelapan malam dan menumbuhkan harapan-harapan yang indah. Seorang pemimpin hendaknya sanggup memberikan dorongan dan mampu membangkitkan semangat rakyatnya, ketika rakyat sedang menderita kesulitan. “


WATAK SURYA (MATAHARI)
(Gambar : Surya).
“ Matahari adalah sumber dari segala asal kehidupan, yang membuat semua makhluk tumbuh dan berkembang. Seorang pemimpin hendaknya mampu mendorong dan menumbuhkan daya hidup rakyatnya untuk membangun negara, dengan memberikan bekal lahir dan batin untuk dapat berkarya. “


WATAK  AKASA (LANGIT)
(Gambar : Indra).
“ Langit mempunyai keluasan yang tak terbatas, hingga mampu menampung apa saja yang datang padanya. Seorang pemimpin hendaknya mempunyai keluasan batin dan kemampuan mengendalikan diri yang kuat, hingga dengan sabar mampu menampung pendapat rakyatnya yang bermacam-macam. “

 

WATAK  DAHANA (API)
(Gambar : Brahma).
“ Api mempunyai kemampuan untuk membakar habis dan menghancurleburkan segala sesuatu yang bersentuhan dengannya. Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan berani menegakkan hukum dan kebenaran secara tegas dan tuntas tanpa pandang bulu. “


WATAK KARTIKA (BINTANG)
(Gambar : Ismaya).
“ Bintang senantiasa mempunyai tempat yang tetap di langit hingga dapat menjadi pedoman arah (kompas). Seorang pemimpin hendaknya menjadi teladan rakyat kebanyakan, tidak ragu menjalankan keputusan yang disepakati, serta tidak mudah terpengaruh oleh pihak yang akan menyesatkan. “

[ akhir unggah di WPB 12 Juni 2009 ].

Astabrata.

[ diunggah pertama 12 Juni 2009 : Budi Adi Soewirjo di laman Facebook – Wayang Purwa Buku ]

Di masa globalisasi seperti saat sekarang Anda pasti sudah mengenal / mendengar teori-teori tentang kepemimpinan dari mana-mana bagian dunia. Marilah kita tengok kembali ke dunia pewayangan kita, apa yang dituturkan pewayangan mengenai kepemimpinan. Dalam lakon wayang kita mendengar ajaran Astabrata. Asta adalah delapan, brata adalah laku / perilaku. Delapan perilaku yang diharapkan bisa dilaksanakan seorang pemimpin agar berhasil dalam memimpin orang lain / masyarakat. Astabrata diilhami oleh sifat unsur alam raya : bumi (tanah), maruta (angin), samodra (laut/air), candra (bulan), surya (matahari), akasa (langit), dahana (api) dan kartika (bintang).

Ada dua versi mengenai dari siapa, kepada siapa ajaran Astabrata ini disampaikan. Pertama : di cerita Ramayana, Sri Rama memberi wejangan Astabrata kepada Barata ketika akan menjadi raja Ayodya. Kedua : di lakon carangan “Wahyu Makutharama”, Begawan Kesawasidhi memberi wejangan Astabrata kepada Arjuna. Di bawah ini saya laporkan apa yang ada di buku tentang Astabrata versi kedua, tanpa maksud analisa.

Astabrata yang di pakeliran lakon carangan dapat dibaca di buku “Makutharama” dikarang dan diterbitkan oleh Ki Siswaharsoyo (http:// … ), Yogyakarta, 1963 = cetakan ke 5.

Nasehat Begawan Kesawasidhi kepada Arjuna adalah sebagai berikut :

(didalam tanda “ … “ adalah kutipan wutuh dari buku tersebut dan tetap dipertahankan dalam bahasa Jawa sekalian untuk latihan bahasa Jawa bagi yang belum begitu paham bahasa Jawa) :

Siji = Setunggal (halus) = Eko (Sansekerta).

“  Laku hambeging kisma. Lire : tansah murah asih marang sapa bae kang nyuwun den murahi. Amarga kisma iku tansah ngatonake dedanane. Tanem tuwuh cecukulan minangka bogane sagung dumadi, ora liya saka wulu wetuning bantala. Sanadyan anggane pinulasara in janma, pinaculan dinudhukan, parandene kisma malah ngatonake kamurahane, mas sesotya pepelikan warna-warna dadya kaskayane kang mulasara. Mangkono hambeging kisma.  “

Kisma (pdl/pedalangan) = bantala (pdl) = donya = bumi  = bumi

Lindhu = gempa

Donya horeg = bumi bergetar

Loro = Kalih (halus) = Dwi (Sans).

“  Laku hambeging tirta. Lire : tindak anorraga, lumuh ngungkul-ungkuli, tan ngendhak gunaning liyan. Jer tirta iku tansah watak warata tur dayane anggung ngasrepi dadya usadaning kotoran.  “

Tirta (pdl) = warih (pdl) = tonya (halus) = banyu = air

Tonya umub (halus) = air mendidih

Wedang = minuman

Telu = Tiga (halus) = Tri (Sans).

“  Laku hambeging samirana. Lire : tansah naliti sanggya sasana. Tumrap lelabuhaning Nata, tansah niti priksa marang kawula dasih, suker sakit kinawruhan sarana talaten atul. Jer lakuning samirana iku anggung nusupi sanggya sasana.  “

Lihat samirana di butir delapan.

Papat = Sekawan (halus) = Catur (Sans).

“  Laku hambeging samodra. Lire : jembar miwah sabar ing panggalih. Kamot momoting panggalih, kapanduking suka kingkin sasadone den adu manis, datan jujul datan surut lamun kataman ing sak serik sameng dumadi. Jer samodra iku sanyata angalangut tanpa tepi. Kajogan sarah prabatang miwah tirtaning narmada pira-pira, parandene orak sesak ora luber.  “

Jaladri (pdl) = janawi (pdl) = samodra (halus) = laut = laut

Lima = Gangsal (halus) = Panca (Sans).

“  Laku hambeging candra. Lire : tansah madangi saindenging bawana. Tumrap lelabuhaning ratu, tansah mamardi pangawikan lan kagunan marang kawula dasih sarana wulanging dwija sogata samurwating dununge. Kutha desa sanadyan lengkehing wukir, sadrajat sapangkat padha sinungan pamardi putra.  “

Candra (pdl) = (m)bulan = bulan.

(m)bulanipun ndadari = bulan purnama

Enem = Enem (halus) = Sad (Sans)

“  Laku hambeging baskara. Lire : tansah aweh daya kekiyatan marang sanggya gumelaring jagad. Segara nguwab dadi mendhung temah dadi udan, ora liya saka dayane raditya. Bumi mekar nuwuhke cecukulan, iya marga saka kedayan sunaring bagaskara. Tumrap lelabuhaning ratu, anggung paring kekiyatan marang kawula dasih. Nangkoda nara kisma nara karya kang kasekengan, padha antuk sihing ratu minangka pawitan. Sanadyan ing tembe kudu nyaur, nanging sarana sarenti sawuse ngundhuh wohing karya.  “

Bagaskara (pdl) = baskara (pdl) = raditya (pdl) =

surya (halus) = srengenge = matahari

Srengenge mlethek = matahari terbit

Srengenge angslup = matahari terbenam

Pitu = Pitu (halus) = Sapta (Sans)

Laku hambeging dahana. Lire : angrampungi. Ora ana sawiji-wiji kang ora lebur dening dahana. Tumrap lelabuhaning Nata, pangawak pradata luhur. Sakabehing prakara kang konjuk ngarsa Nata, kudu rampung paripurna kang pinancas kanthi adil para marta. “

Dahana (pdl) = agni (pdl) = latu (halus) = geni = api

Geni mangalat-ngalat = api berkobar-kobar

Wolu = Wolu (halus) = Asta (Sans).

Laku hambeging kartika. Hambeg kartika, uga sinebut hambeg wukir. Lire : teguh santosa. Sanadyan sinerang maruta sindhung riwut, parandene bayu bajra malah piyak nganan ngering labet kasor prabawa lan adeging wukir. Tumrap lelabuhaning Nata, sabarang kang wus dhumawuh kudu tetep tumindak tan kena owah. “

Kartika (pdl) = lintang =bintang

Lintangipun abyor (halus) = bintangnya banyak berkelipan

Wukir (pdl) = arga (pdl) = gunung = gunung

Gunung njeblug = gunung meletus

Maruta (pdl) = bayu (pdl) = samirana (pdl) = angin = angin

Sindhung riwut (pdl) = angin ribut

Lesus = puting beliung

Angin semilir = angin sepoi-sepoi

(Catatan tambahan untuk hitungan basa Jawa :

Sanga = Sanga (halus) = Nawa (Sans).

Sepuluh = Sedasa (halus) = Dasa (Sans). )

Demikian menurut Ki Siswaharsoyo. Lakon carangan Wahyu Makutharama ini sangat digemari masyarakat dan sering di pagelar kan.

Buku-buku Dewaruci.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=205169309020

Beberapa hari yang lalu rekan-rekan Wayang Nusantara menampilkan dan membicarakan beberapa artikel mengenai Dewaruci. Bagi pembaca yang berkeinginan membaca buku-buku Dewaruci terbitan lama, Wayang Pustaka ingin berbagi. Silakan. Admin Wayang Pustaka mengundang pembaca yang mempunyai koleksi lain untuk bisa ikut berpartisipasi berbagi (?). Silakan.

 

A.

Buku-buku Dewaruci koleksi Wayang Purwa Buku :

1.  Terbitan 1922 ~ 1929.

M. Ng. Mangoenwidjaia ; “ Serat Dewaruci “ Punika Serat Dewaruci ingkang sampun mawi wredi. ; Kediri ; kawedalaken sarta kasade dening Tan Khoen Swie ; 1929 = tjetakan jang ka V ; 56 halaman ; gambar wayang ; bahasa Jawa ; aksara Jawa.

Tampilan di WordPress :  http://wayangpustaka.wordpress.com/2009/12/18/terbitan-1922-1929-serat-dewaruci-m-ng-mangoenwidjaia/

Tampilan di Facebook :  http://www.facebook.com/note.php?note_id=205182129020

2.  Terbitan 1954, 1958, 1960.

( Disadur dan di Indonesia kan oleh ) Tjabang Bagian Bahasa / Urusan Adat Istiadat dan Tjeritera Rakjat, Djawatan Kebudajaan, Departemen Pendidikan Pengajaran dan Kebudajaan, Jogjakarta ; “ Kitab Dewarutji “ – Berisikan tjeritera : Bima Berguru kepada Pendeta Drona. Tjeritera mengandung keagamaan dan kefilsafatan ; Jogjakarta ; 1960 = cetakan 3 ; 60 halaman ; gambar wayang ; bahasa Indonesia. Catatan : 1954 = cetakan 1 ; 1958 = cetakan 2.

Tampilan di WordPress :  http://wayangpustaka.wordpress.com/2009/12/19/terbitan-1954-1958-1960-kitab-dewarutji-tjabang-bagian-bahasa/

Tampilan di Facebook :  http://www.facebook.com/note.php?note_id=205192444020

Bapak Sam Askari Soemadipradja dari Purwakarta ( Jawa Barat ) mengirimkan foto copy buku ini yang cetakan 2.

3.  Terbitan 1962.

( Ditinjau oleh ) Dr. A Seno Sastroamidjojo ; “ Tjeritera Dewa Rutji ( Dengan Arti Filsafatnja ) “ ; Jakarta ; Penerbit Kinta ; 1962 ; 57 halaman ; bahasa Indonesia ; gambar wayang ; bahasa Indonesia.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=205200359020

4.  Terbitan 1966.

Ki Siswoharsojo ; “ Tafsir Kitab Dewarutji “ ; Jogjakarta ; PT Jaker ; Lodjiketjil ; 1966 = cetakan 1 ; 44 halaman ; gambar wayang ; bahasa Jawa.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=205208679020

5.  Terbitan 1992.

Prof. Drs. Suwadji Bastomi ; “ Dewaruci “ – Apresiasi Pada Kesenian Wayang ; Semarang ; Media Wiyata ; 1992 ; 37 halaman ; gambar wayang ; bahasa Indonesia.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=205213929020

 

 

B. Buku-buku Dewaruci lainnya yang pernah terbit di era 1950 ~ 1980 an :

Wayang Purwa Buku mengundang pembaca yang memiliki buku-buku ini yang ingin berbagi dengan pembaca lain. Mohon kirimkan photo copy atau PDF buku ke Wayang Purwa Buku.

1.

1953 :  R. Tanojo ; “ Bimasutji ( Dewarutji ) ; Solo ; Penerbit Sadu Budi.

2.

1954 :  Ki Siswoharsojo ; “ Wedaran Serat Dewa Rutji “ ; Jogja ; Penerbit Persatuan ; bahasa Jawa ; aksara Jawa.

3.

1957 :  Somadidjojo Mahadewa ; “ Serat Dewa Rutji “ ; diterbitkan oleh Somadidjojo.

4.

1960 :  Ki Siswoharsojo ; “ Serat Dewarutji – Bimapaksa. Warangka Manjing Tjuriga – Tjuriga Manjing Warangka “ ; Jogja ; diterbitkan Ki Siswoharsojo ; 1960 = cetakan 4 ; 99 halaman ; gambar ; bahasa Jawa tembang.

5.

Perkiraan 1960 an :  Imam Supardi : “ Dewa Rutji Winardi “ ; Surabaja ; Panjebar Semangat.

6.

1984 :  S.P. Adhikara ; “ Dewaruci “ ; Bandung ; Penerbit Institut Teknologi Bandung ; 29 halaman ; gambar.

7.

1984 :  S.P. Adhikara ; “ Nawaruci “ ; Bandung ; Penerbit Institut Teknologi Bandung ; 97 halaman ; gambar.

8.

1984 :  S.P. Adhikara ; “ Unio Mystica Bima “ ; Bandung ; Penerbit Institut Teknologi Bandung ; 44 halaman ; gambar.

9.

1986 :  SP Adikara : “ Analisis Serat Bimasuci “ – penerbit Institut Indonesia, Yogyakarta

 

 

 

C. Buku Dewaruci terbitan era 2000 an.

Buku masih bisa dibeli ke penerbit bersangkutan.

1.

2007 :  Dr. Purwadi, M. Hum ; “ Ilmu Kasampurnan – Mengkaji Serat Dewaruci “ ; Yogyakarta ; Panji Pustaka ; Juni 2007 = cetakan 1 ; xi + 300 halaman ; ISBN 979-25-2727-3 ; bahasa Indonesia.

(Penulis) Soemardjono, Marsidah, Handung Kus Sudyarsana, Widjaja, (penyunting) Team Penyunting Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ; “ Tuntunan Seni Kethoprak “ ; diterbitkan oleh Proyek Pengembangan Kesenian DIY Depdikbud ; 1984 / 1985 (tertulis di daftar ralat) ; v + 126 halaman, gambar, photo ; bahasa Indonesia, naskah cerita dalam bahasa Jawa krama.

Kumpulan tulisan :

1. Soemardjono – Pengelolaan Lakon dan Penyutradaraan.
2. Marsidah B.Sc – Tata Rias, Tata Pakaian dan Tata Teknik Ketoprak.
3. Handung Kus Sudyarsana – Pengelolaan Organisasi Ketoprak.
4. Widjaja – Sekedar ungkapan tentang : Pencak Silat, Aneka Macam Senjata dan Gelar Perang dalam ketoprak. Daftar Aneka Macam Senjata, Daftar Nama-nama Senjata Pusaka, Daftar Macam Aji-aji atau Kesaktian, Aneka Macam Gelar Perang.

Di bagian akhir buku di tulis kan Naskah cerita ketoprak :
Ketoprak Mataram, lakon : Pangeran Haryo Timur.
Ketoprak Gedog, lakon : Bancak Nagih Janji.
Ketoprak Menak, lakon Widaninggar Gugur Seri Menak Jayengrana.

‘Ebook’ nya bisa ditemui dan diunduh di internet dengan alamat URL :
http://www.4shared.com/file/161475199/1435b18e/Tuntun_SnKethoprak_1.html
http://www.4shared.com/file/161475911/dc24e20c/Tuntun_SnKethoprak_2.html
http://www.4shared.com/file/161477101/61254a7e/Tuntun_SnKethoprak_3.html

Perpustakaan Rumah Budaya TEMBI jl. Parangtritis Yogyakarta menuliskan resensi tentang buku ini di laman mereka http://www.tembi.org . Di bawah ini kami kutipkan lengkap ( karena halaman tersebut tidak mempunyai alamat URL spesifik, jadi agak sulit untuk langsung menuju ke halaman tersebut ).

Ringkasan Isi :

Kethoprak adalah salah satu kesenian tradisional Jawa yang masih ada hingga sekarang dengan berbagai perkembangannya. Buku yang membahas tentang kethoprak ini sebenarnya merupakan kumpulan makalah terdiri dari : Pengelolaan Lakon dan Penyutradaraan oleh Soemardjono, Tata Rias, Tata Pakaian dan Tata Teknik Kethoprak oleh Marsidah, BSc., Pengelolaan Organisasi Kethoprak oleh Handung Kus Sudyarsana dan Sekedar Ungkapan tentang: Pencak Silat, Aneka Macam Senjata dan Gelar Perang dalam Kethoprak oleh Widjaja. Read the rest of this entry »


Blog Stats

  • 542,161 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 55 other followers

Halaman dilihat :

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers