Pustaka Wayang

Archive for the ‘Boneka Wayang’ Category

.

.

Ada lagi gambar wayang kulit purwa ber-resolusi tinggi ?

.

Ada. Ya. Akan ada lagi.

Silakan klik subscription / follow , agar Anda mendapat pemberitahuan lewat email untuk posting baru dari blog ini.

Atau check secara berkala :
http://wayangpustaka.wordpress.com/daftar-gambar-wayang-purwa-dengan-resolusi-tinggi/

.



‘Ebook’ buku ‘Wanda Ringgit Purwa milik Keraton Surakarta’

Alih aksara :

Moelyono Satronaryatmo

Departemen Pendidikan dan Kebuadayaan Republik Indonesia, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Jakarta, 1981

Berbagai Ragam bentuk atau wujud (wanda)

Wayang Purwa milik Keraton Surakarta,

sejumlah 85 macam

 

Nama-nama wayang tersebut di atas dan berbagai ragam bentuk atau wujudnya

(wanda) merupakan pola jadi (corekan dados) bagi penggarap wayang, khususnya dalam

ukuran, macam tatahannya dan bentuk-bentuknya, adapun ukuran yang tercantum di sini

mencakup lebar dan tinggi bentuk wayang.

Beberapa tokoh dalam dunia pewayangan adakalanya mem punyai bentuk lebih

dari satu, demikian dapat dilihat dalam daftar tersebut di atas. Dibedakan suatu tokoh

pewayangan dalam masa remaja dan masa sesudah remaja, demikian pula nama-nama

untuk tokoh pewayangan seringkali dibedakan nama masa muda dan masa tua. Sebagai

contoh: Janaka, pada masa mudanya dinamakan Permadi, Baladewa, pada masa mudanya

bernama Kakrasana, Kresna, bernama Narayana dan lain sebagainya.

Penggunaan wayang dengan bentuknya masing-masing diatur pula sesuai dengan

waktu (pathet/Jw) dan tugasnya sesuai dengan alur cerita. Sebagai contoh: Wrekodara,

bentuk Lindu, waktu muncul sesuai dengan masa patet nem. Bentuk Mimis, keluar

pada masa patet manyura, bentuk Jagur dalam patet sanga dan lain sebagainya. Untuk

memperjelas bentuk-bentuk tokoh pewayangan tersebut diatas, akan dicoba diberikan

keterangan artian wanda bentuk tadi, sesuai dengan arti kata yang dipergunakan untuk

menamakannya. Dalam mencoba mengartikan apa yang dimaksud dengan bentuk dan

namanya, dipakai senagai dasar uraian kamus bahasa Jawa “Dr. Th.Pigeuad. Javaans –

Nederlands Handwoordenboek; J.B. Wolters’ Uitgevers – Maatschappij, N.V.; Groningen,

Batavia, 1938”.

 

 

Nama Wayang dan bentuk wanda, arti kata

1. Puntadewa bentuk jimat; jimat - amulet; sesuatu yang dianggap mempunyai daya

kekuatan, selalu dijunjung tinggi dan dihargai.

2. Puntadewa bentuk deres; deres - berlebih-lebihan, berlimpah-limpah.

3. Puntadewa bentuk malatsih; malatsih - mendekatkan rasa sayang, memikat hati.

4. Wrekodara bentuk mimis; mimis - peluru.

5. Wrekodara bentuk gurnat; gurnat - granat.

6. Wrekodara bentuk lintang; lintang – bintang.

7. Wrekodara bentuk lindupanon; lindu - gempa bumi, panon -raut muka.

8. Wrekodara bentuk lindu; lindu - gempa bumi.

9. Permadi bentuk penganten; penganten - temanten, mempelai.

10. Permadi bentuk pacel atau patah; pacel - penyerang, penggempur, tukang berkelahi;

patah - pengapit mempelai, biasa terdiri dari puteri remaja, ataupun laki-laki sebanyak

dua orang.

11. Permadi bentuk pangawe; pengawe -ngawe : memberi isyarat dengan tangan dengan

maksud supaya lebih mendekat.

12. Permadi bentuk malatsih; malatsih - malat berarti menjadi panjang, mengalir, bangkit,

garang tajam; sih – cinta, sayang.

13. Permadi bentuk malat; malat berarti menjadi panjang, mengalir, bangkit, garang tajam;

malatsih – bangkit, berkobar sayang, kasih.

14. Janaka bentuk kinanti; kinanti - dikanthi – digandeng tangannya, dapat juga berarti

diajak sebagai teman dalam perjalanan.

15. Janaka bentuk jimat; jimat - amulet; sesuatu yang dianggap mempunyai daya kekuatan,

selalu dijunjung tinggi, dihormati.

16. Janaka bentuk kanyut; kanyut - terhanyut, kenyut – terbawa oleh arus, dapat juga berarti

jatuh asmara, jatuh cinta.

17. Janaka bentuk mangu; mangu - mangu-mangu berarti bimbang di hati belum

mendapatkan keputusan dalam hati, ragu-ragu, risau hatinya.

18. Sadewa remaja bentuk banjet; banjet - berkata dengan manis sebab mempunyai tujuan

tertentu yang harus dicapainya.

19. Sadewa bentuk banjet; banjet - berkata dengan kata-kata yang manis untuk memikat

dengan tujuan sesuatu.

20. Nakula remaja bentuk buntit; buntit - keriting, ikal.

21. Nakula bentuk buntit; buntit - keriting, ikal.

22. Irawan bentuk padasih; pada - ada persamaannya, sih - cinta, sayang.

23. Abimanyu bentuk jayenggati; jayenggati - dapat diartikan juga jaya ing ati, Jaya berarti

kemenangan , menang , kebahagiaan , keselamatan ; gati berarti tugas , perjalanan,

pekerjaan, cara melakukan suatu pekerjaan, tekun menjalankan tugasnya, bersungguhsungguh

melakukan pekerjaannya dan lain sebagainya.

24. Abimanyu bentuk buntit; buntit - keriting, ikal.

25. Gatotkaca bentuk tatit-remaja; tathit, thathit (Jw) halilintar.

26. Gatotkaca bentuk tatit-tua; tathit, thathit (Jw) halilintar.

27. Gatotkaca bentuk guntur; guntur - air pasang yang sangat dahsyat sehingga

menimbulkan banjir, malapetaka.

28. Gatotkaca bentuk kilat; kilat - bercahaya, cemerlang.

29. Antareja bentuk putut; putut - puthut (Jw), berarti penganut, murid dari suatu

pertapaan, paguron.

30. Antareja bentuk naga; naga - ular yang besar dan menakutkan.

31. Semar bentuk mega; mega - awan.

32. Semar bentuk watu; watu - batu.

33. Semar bentuk dukun; dukun - dhukun (Jw), berarti orang yang berilmu, khususnya

dalam menawarkan malapetaka, memberikan kesembuhan.

34. Semar bentuk ginuk; ginuk - leadaan badan yang tidak imbang, antara berat dan

kegemukannya, dapat diartikan juga gemuk dan berat sehingga bentuk tidak keruan.

35. Gareng bentuk prekul; prekul - atau prekal, prekol (Jw) berarti tidak lurus, bengkak -

bengkok, agak membungkuk.

36. Gareng bentuk kancil; kancil – nama binatang terkenal dalam dongeng karena

kecerdikannya.

37. Petruk bentuk jomblang; jomblang - penghubung, untuk wanita dan pria, atau sebaliknya.

38. Petruk bentuk mesem; mesem - tersenyum.

39. Bagong bentuk gilut; gilut - mengenyam, mengabdikan diri kepada, dapat juga

berarti selalu dekat tak mau jauh-jauh kepada sesuatu atau seseorang.

40. Bagong bentuk gembor; gembor - alat untuk menyiram tanaman atau bunga,

berteriak-teriak, atau dapat berarti juga menangis

41. Kakrasana bentuk sembada; sembada - sembada berarti baik dan bagus dalam

keadaan keseluruhannya, tepat atau terpilih, terpuji dalam lahir maupun batinnya.

42. Kakrasana bentuk kilat; kilat - cahaya, cemerlang dapat juga diartikan cahaya dari

halilintar.

43. Baladewa bentuk rayung kadipaten; rayung - sejenis tanaman alang-alang, rayungrayung

berarti dalam keadaan panjang dan kecil sebagai contoh “Drijine

ngrerayungan atau rayung-rayung,” berarti jari jemarinya panjang dan kecil-kecil

(langsing).

Adapun kata kadipaten agaknya menunjukkan Baladewa bentuj rayung tersebut

berasal dari kadipaten.

44. Baladewa bentuk sembada; sembada - sembada berarti baik dan bagus dalam

keadaan keseluruhannya, tepat atau terpilih, terpuji dalam lahir maupun batinnya.

45. Baladewa bentuk geger; geger - ribut, kacau, rame.

46. Baladewa bentuk kaget; kaget - terperanjat.

47. Baladewa bentuk pariksa; pariksa - memerikasa, mencari, dapat juga kata priksa

(Jw) berarti mengetahui, mengenal.

48. Narayana bentuk sembada; sembada - sembada berarti baik dan bagus dalam

keadaan keseluruhannya, tepat atau terpilih, terpuji dalam lahir maupun batinnya.

49. Narayana bentuk geblag; geblag - jatuh terlentang, merata.

50. Kresna bentuk rondon; rondon - daun, hiasan atau rangkaian, rangkuman, terdiri

dari bulu-bulu domba hiasan daun katangan daun-daunan.

51. Kresna bentuk gendreh; gendreh - indah, bagus, halus.

52. Kresna bentuk mawur; mawur - bercerai-cerai, dapat juga beraru bagus, indah

seperti butiran padi.

53. Samba bentuk buntit; buntit - keriting, ikal.

54. Samba bentuk sembada; sembada - sembada berarti baik dan bagus dalam

keadaan keseluruhannya, tepat atau terpilih, terpuji dalam lahir maupun batinnya.

55. Samba bentuk banjed; banjet - berkata dengan kata-kata yang manis untuk memikat

dengan tujuan sesuatu.

56. Udawa bentuk tandang; tandang - bekerja, melaksanakan pekerjaan, bertempur,

berkelahi.

57. Udawa bentuk jaran; jaran - kuda.

58. Setyaki bentuk mimis; mimis - peluru.

59. Setyaki bentuk akik; akik - sejenis batu permata (agaat – Bld.).

60. Setyaki bentuk wisnua; wisnua - bahaya, muram, murung, sedih, susah.

61. Suyudana bentuk jaka; jaka - remaja, dalam hal ini, belum beristri, untuk laki-laki.

62. Suyudana bentuk jangkung; jangkung - langsing, semampai, tinggi besar.

63. Kurupati bentuk jaka; jaka - remaja, dalam hal ini, belum beristri, untuk laki-laki.

64. Kurupati bentuk jangkung; jangkung - langsing, semampai, tinggi besar.

65. Banowati bentuk berok; berok - berarti a.l. kambing betina dari jenis tertentu

(wedhus berog – Jw.).

66. Banowati bentuk golek; golek - boneka.

67. Karna bentuk bedru; bedru - selisih, berbeda paham, usik, rintangan.

68. Karna bentuk lontang; lontang - dibawa lari, berubah warna, berganti warna.

69. Dursasana bentuk gambyong; gambyong - tergantung pada (khususnya untuk

buah-buahan), nggambyung (Jw), nggambyong (Jw) – berarti juga “menari

sendiri” khususnya diperuntukkan bagi penari putri untuk mengawali pesta

peralatan; juga berarti wayang kulit putri untuk menampilkan taran khusus

“gambyongan.”

70. Dursasana bentuk golek; golek - boneka.

71. Pragota bentuk penganten; penganten - mempelai, temanten.

72. Pragota bentuk putut; putut - puthut (Jw), berarti penganut, murid dari suatu

pertapaan, paguron.

73. Cakil bentuk naga; naga - ular yang besar dan menakutkan.

74. Cakil bentuk menyore; menyore - nyore (Jw) berarti petang, malam.

75. Cakil bentuk batang; batang - bangkai.

76. Guru bentuk candi (a); candi – arca atau candi.

77. Guru bentuk karno; karna – kata karna diartikan tutup kepalanya yang berbentuk

seperti tutup kepala adipati karna

78. Guru bentuk candi (b); candi – arca atau candi.

79. Durga bentuk gedrug; gedrug – ,menghentak-hentakkan kaki di tanah karena marah,

murka. Dapat juga berarti menyepak-nyepak disebabkan bangkit kemarahannya;

tidak sabar dan lain sebagainya.

80. Durga bentuk gidrah; gidrah – atau gibrah, kiprah berarti meloncat-loncat,

bergerak-gerak dikarenakan kegarangan hatinya, kerisauannya, kemarahaannya

81. Naga; dalam gambarnya tidak ada penjelasan lebih lanjut.

82. Dasamuka bentuk belis; belis – setan, jahanam, durhaka.

83. Dasamuka bentuk bugis; bugis – ragam dari seberang.

84. Kumbakarna bentuk barong; barong – dapat diartikan dalam bentuk raksasa yang

sangat menakutkan, mengerikan.

85. Kumbakarna bentuk macan; macan – harimau.

‘Ebook’ / pindaian buku / foto halaman-halaman adalah hasil peran serta dik Christoper Dewa Wardana, seorang pemuda Indonesia pecinta wayang yang saat ini mukim dan bekerja di San Franscisco sebagai arsitek / perancang ruang dalam. Buku tersebut di foto di perpustakaan Universitas Berkeley Amerika Serikat. Dik Christoper juga aktif ‘ nyorek ‘ / menggambar wayang, dan merencanakan menyusun buku wayang gagrag Yogyakarta.

Untuk mengunduh ‘ebook’ tersebut pembaca bisa kunjungi URL

http://www.4shared.com/document/vViR_Lvy/Full.html

dengan besar file kurang lebih 32 MegaByte.

‘Ebook’ Wanda Wayang Purwa Gaya Surakarta

Disusun bersama oleh para pengajar ASKI ( Akademi Seni Karawitan Indonesia ) Surakarta, nama-nama nya tertulis di dalam Kata Pendahuluan.

 

Diterbitkan oleh Sub / Bagian Proyek Akademi Seni Karawitan Indonesia, Proyek Pengembangan Institut Kesenian Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tahun 1978 / 1979.

 

 

Pindaian ini bisa terlaksana atas bantuan Eko Prasetyo dan Rudy Wiratama Partohardono dari Surakarta yang bisa mengusahakan foto copy dari buku ini. Pindai dilaksanakan di Jakarta tanggal 10 April 2011 oleh B A Soewirjo.

 

 

Kata Pendahuluan di buku tersebut :

 

Seperti telah kita ketahui, bahwa pakeliran ada juga menggunakan medium pokok “rupa”, selain medium pokok lainnya seperti gerak, suara dan bahasa. Kesemuanya itu saling mendukung keberhasilan sajian. Medium rupa dalam wayang mempunyai unsur tatahan, sunggingan dan wanda.

 

Di dalam pakeliran “wanda” sebagai salah satu unsur medium rupa, berperan penting untuk memantapkan “rasa” suatu tokoh. Kemantapan ini bisa dicapai karena ada kesesuaian antara suasana adegan dengan wanda tokoh yang digunakan, di samping juga unsur-unsur penting lainnya, yaitu penyuaraan, sanggit, sabet, sulukan dan lain sebagainya. Dengan demikian jelaslah bahwa ketetapan seorang seniman dalang memilih “wanda” mempunyai andil dalam keberhasilan sajian.

 

Untuk jelasnya di sini kami kemukakan contoh-contoh penggunaan “wanda” dari tokoh Baladewa :

-          Pada adegan yang bersuasana netral “merdika” ( tidak ada “rasa” susah, marah dan sebagainya) digunakan Baladewa wanda “Paripeksa”.

-          Dalam peperangan digunakan Baladewa wanda “Geger”.

-          Untuk menghadiri suatu peralatan, Baladewa wanda “Jagong”.

-          Dalam suasana marah, terkejut, wanda “Kaget” yang digunakan.

 

Dengan demikian jelas bahwa penggunaan wanda itu tergantung pada suasana yang ingin didukung. Tentunya penggunaan wanda seperti tersebut di atas adalah didasari oleh kebiasaan konvensionil dalang-dalang pada waktu terdahulu.

 

Dewasa ini jarang sama sekali seniman dalang memperhatikan masalah ini. Ini bisa kami amati pada survey pendahuluan, yaitu pengamatan terhadap sajian pakeliran, wawancara dengan dalang-dalang muda, adalah jarang memperhatikan masalah wanda tersebut. Salah satu sebab ialah kurangnya informasi tentang wanda.

 

Keadaan semacam ini perlu disesalkan, apalagi sampai saat ini belum ada sama sekali yang menulis tentang “Wanda Wayang”. Ditambah lagi adanya situasi yang mengkhawatirkan, yaitu makin menyusutnya seniman dalang yang tahu tentang “wanda”, karena usia mereka yang kebanyakan sudah lanjut, yaitu lebih dari 65 tahun.

 

Dengan pertimbangan tersebut maka kami juga memilih “wanda wayang” sebagai salah satu sasaran pendokumentasian. Karena terbatasnya dana, tenaga dan waktu, kami juga membatasi sasaran pada “wanda wayang purwa gaya Surakarta” yang terdapat di derah eks Karesidenan Surakarta.

 

Hasil pendokumentasian ini diharapkan bisa merupakan bahan penyusunan “Pengetahuan Wanda Wayang”, untuk melengkapi bahan perkuliahan di Akademi Seni Karawitan Indonesia, khususnya pada Jurusan Pedalangan. Lebih luasnya bagi para calon seniman dan seniman dalang, hasil ini diharapkan juga bisa memacu timbulnya kreativitas dalam sajian.

 

Daerah sasaran kami pilih yang tersebar, dan memiliki banyak dalang yang berpotensi. Informan kami pilih dalang-dalang tua yang mempunyai koleksi wayang lengkap, tahu tentang tatahan dan sunggingan wayang terutama tentang wanda. Setelah diadakan survey pendahuluan, kemudian ditentukan 15 informan yang tersebar di daerah Kabupaten Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Wonogiri, Boyolali dan Surakarta.

 

Di bawah ini kami kemukakan nama, umur dan alamat dalang informan

 

  1. 1.       Bapak Tiksnosudarso, 85 tahun, Jombor, Klaten  *) saat laporan ini dibuat beliau sudah meninggal dunia.
  2. 2.       Bapak Natacarita, 70 tahun, Ceper, Klaten.
  3. 3.       Bapak Mintadiyata, 70 tahun, Manisrenggo, Klaten.
  4. 4.       Bapak Nartosuwiryo, 65 tahun, Ngawangga, Klaten.
  5. 5.       Bapak Sarwodisono, 67 tahun, Manggisan, Klaten.
  6. 6.       Bapak Gondoijoyo, 68 tahun, Karangtalun, Klaten.
  7. 7.       Bapak Gondopandoyo, 85 tahun, Senden, Klaten.
  8. 8.       Bapak Sutino, 65 tahun, Eromoko, Wonogiri.
  9. 9.       Bapak J (cetakan tidak terbaca), 69 tahun, Kedungleri, Wonogiri.
  10. 10.   Bapak Sukarno, 64 tahun, Gombang, Boyolali.
  11. 11.   Bapak Gondowarongko, 63 tahun, Pengging, Boyolali.
  12. 12.   Bapak Gondopawiro, 67 tahun, Karangpandan, Karanganyar.
  13. 13.   Bapak Parnowiyoto, 69 tahun, Manyaran, Wonogiri.
  14. 14.   Bapak Naryocarito, 65 tahun, Kartosuro, Sukoharjo.
  15. 15.   Bapak Yosocarito, 69 tahun, Surakarta.

 

Dalam mengumpulkan data kami adakan wawancara berkisar pada :

Nama wanda, ciri-cirinya, perbedaan dengan wanda yang lain pada tokoh yang sama, penggunaannya di dalam pakeliran, siapa penatah dan penyunggingnya, kapan dibuat, tiruan dari mana, siapa pembuat wandanya dan sebagainya.

 

Selain itu juga diadakan pemotretan untuk tokoh wayang yang sudah mempunyai nama wanda, secara ututh dan bagian-bagian yang menunjukkan ciri khususnya, karena ada sebagian yang belum mempunyai wanda.

 

Wanda wayang adalah merupakan kesatuan unsur-unsur yang terdiri antara lain :

  • ·         Tunduk tengadahnya muka (praupan) wayang,
  • ·         Ukuran dan bentuk sanggul,
  • ·         Ukuran dan bentuk mata,
  • ·         Keadaan badan, yaitu ukuran dan posisinya,
  • ·         Ukuran dan tancap dari leher,
  • ·         Datar dan tidaknya dan panjang dan pendeknya bahu,
  • ·         Bentuk dari perut,
  • ·         Busana yang dipakai,
  • ·         Posisi kaki,
  • ·         Sunggingan.

 

Setiap satu tokoh wayang bisa mempunyai lebih dari satu wanda. Misalnya tokoh Baladewa, mempunyai wanda : Geger, Paripekso, Kaget, Jagong dan sebagainya, yang masing-masing wanda bisa menimbulkan kesan dan penggunaan yang berbeda, walau tokohnya sama.

 

Dari keterangan yang dikumpulkan, sulit untuk diketahui kapan masing-masing wanda dibuat dan siapa pembuatnya. Keterangan yang ada masih simpang siur, sukar untuk bisa dipertanggung jawabkan. Sehingga kami hanya mengutarakan nama wanda, ciri-ciri dan penggunaannya.

 

Laporan kami susun berdasarkan abjad dari nama tokoh wayang dan demikian pula nama wandanya. Dengan menyantumkan ciri-ciri wanda dan penggunaannya.

 

Pada akhirnya tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada para seniman dalang yang telah memberik informasi tentang wanda, dan kepada siapa saja yang telah membantu kami dalam pendokumentasian ini.

 

Team dokumentasi :

  1. 1.       Dr. Soetarno, penganalisa merangkap pembuat laporan.
  2. 2.       R. Sutrisno, penganalisa, pengumpul data merangkap juru potret.
  3. 3.       Bambang Murtiyoso DS., penganalisa.
  4. 4.       Bambang Suwarno, penganalisa.
  5. 5.       Sri Joko Raharjo, pengumpul data.
  6. 6.       Sarwanto, pengumpul data merangkap juru potret.
  7. 7.       Sudarko, pengumpul data.
  8. 8.       Catur Tulus, pengumpul data merangkap juru potret.
  9. 9.       Sukardi Sm., pengumpul data.
  10. 10.   Sumanto, penganalisa merangkap pembuat laporan.
  11. 11.   Rahayu Supanggah, penganalisa merangkap penanggung jawab.

 

Akhir dari Kata Pendahuluan.

 

Setelah Kata Pengantar ada daftar arti kata-kata istilah, misalkan untuk kata-kata yang mulai dengan huruf L :

Lancap                  =  muka menengadah.

Longok                 =  muka agak menengadah ( Lebih tunduk dari lancap ).

Luruh magak      =  muka agak menunduk.

Luruh                    =  muka menunduk.

Lanyap                  =  muka yang tengadah seperti melihat kejauhan.

Lencir                    =  badan tinggi kecil.

…. dan seterusnya

 

 

Contoh uraian tokoh dan salah satu wandanya :

 

Samba wanda Bontit.

Ciri-ciri :

Mata                     –  bedahan brebes nyamar

Raut muka          –  kelihatan tersenyum

Leher                    –  longok

Pundak                 –  lurus

Badan                   –  agak besar

Langkah kaki      –  lebar (njonjong)

Busana                                 –  sumping bunga kluwih, jamang dua, sanggul kecil, gruda mendukung sanggul, pantat besar.

 

Gunanya              : kalau Samba sebagai utusan, atau mencuri.

 

 

 

Sayangnya buku ini dicetak secara teknik stencil ( jaman tersebut ini teknik yang paling memungkinkan untuk menekan dana ) sehingga lampiran foto-foto buku ini tidak tercetak jelas, akibatnya makin tidak jelas ketika difoto copy / dipindai.

 

‘Ebook’ buku ini – tanpa lampiran foto-foto nya – dapat diunduh di URL :

http://www.4shared.com/document/9bienUfB/Wanda_Wyng_Surakarta_ASKI.html

 

 

Daftar nama tokoh dan wandanya yang diuraikan dalam buku ini :

 

Abimanyu wanda Bontit, Banjet, Brebes, Jayeng gati, Kanyut, Malatsih, Mangu, Mriwis, Panji, Rangkung, Bulus.

Anoman wanda Bambang, Barat, Manuko, Prambanan (Reco, Bambang).

Aswatama wanda Merong.

 

Bagong wanda Gembor, Ngrengkel, Sembada, Gilut, Jembar

Baladewa wanda Bantheng, Geger, Jagong, Kaget, Jago, Sembada, Sepuh.

Bambangan wanda Maya, Miling, Padasih.

Banuwati wanda Berok, Golek,

Bilung wanda Giti.

Bima wanda Bambang, Bedhil, Bugis, Gendhu, Gurnat, Jagong, Jagor, Kedhu, Ketug, Lindhu, Lindhu Panon, Lindhu Bambang, Lintang (Luntang), Panon, Mimis, Thathit.

Bratasena wanda Angkawijaya, Babad,Lindhu Bambang, ? (biasa), Bocah, Bondhan, Gurnat, Jaka, Lindhu Panon, Pecah Bungkus, Putran, Sembada.

Burisrawa wanda Canthuk.

Boma wanda Encik, Sumilih, Wingit/Sutijo.

 

Cakil wanda Bathang, Kikik, Panji, Gunung Sari.

Cangik wanda Cangik, Mangir.

 

Darmakusuma wanda Dhanyang, Demit, Deres, Dukun, Jimat, Panuksma, Puthut, Rangkung.

Denawa Nom wanda Barong, Blebar, Jaka, Kopek.

Denawa Raton wanda Bagus, Barong, Begog, Endog, Jaka, Macan, Mendhung, Wewe.l

Durga wanda Belis, Gedrug, Gidrah, Murgan, Surak, Wewe.

Dursasana wanda Gambyong, Golek, Canthuk.

Durmagati wanda Poncol.

Duryudana wanda Jaka, Janggleng, Jangkung, Rangkung.

 

Gareng wanda Prekul, Wregul, Gembor, Gembor Alit, Gondok, Kancil, Gulon, Wewe.

Gathutkaca wanda Gandrung/Gembleng, Gelap, Jaka, Guntur, Kilat, Sampluk, Pideksa, Thathit.

Guru wanda Karno, Rama, Reca/Arca.

 

Hudawa wanda Jaka, Jaran, Lapak, Lare, Tandang.

 

Indrajit wanda Setan.

 

Jayajatra wanda Bantheng.

Janaka wanda Bronjong, Gendreh, Janggleng, Jimat, Kadung, Kanyut, Kedhu, Kinanthi, Lintang, Malat, Malatsih, Mangu, Mangungkung, Muntap.

 

Kongso wanda Bogis, Belis.

Karno wanda Bedru, Geblag, Lonthang, Rangkung.

Kakrasana wanda Bantheng, Jagong, Sembada, Jaladara, Kilat, Slebrak.

Kartamarma wanda Bukuh, Merang.

Kayon wanda Jaler, Estri/Wedok.

Kenyawandu wanda Surak.

Kresna wanda Banjet, Botoh, Bontit, Surak, Gendreh, Jagong, Jangkung, Lendeh, Mangu atau Rondhon Sore, Mawur, Rondhon, Wedok.

Kumbakarno wanda Begog, Jaka, Wewe.

Kurupati wanda Sembada, Jangkung, Rangkung.

 

Limbuk wanda Gendroh, Bethem.

 

Nakula wanda Genes.

Narada wanda Reca.

Narayana wanda Bocah, Geblag, Widarakandang, Jaka, Srengat, Sembada.

 

Parekan wanda Rintik, Runtut.

Petruk wanda Genjong, Bagus, Cangak, Bujang, Sambel Goreng, Jamblang, Moblong, Jlegong, Boging.

Prabawa wanda Drigul, Bundhel.

Pragota wanda Poncol, Bundhel.

Permadi wanda Kadung, Jangkung, Rangkung, Jaka, Mriwis, Jayus, Mesem/Kinanthi, Pecel, Pengawe, Pengarih, Pengasih, Temanten.

Puntadewa wanda Jaka, Kinanthi, Lare, Malatsih, Miling, Putut.

 

Rara Ireng wanda Lentreng.

Rahwana wanda Begal, Belis, Bengis, Bogis, Gambyong, Klana.

 

Samba wanda Banjet, Bontit, Geblag, Gunung Sari, Lindur, Rengat, Layar, Sembada.

Semar wanda Brebes, Mega, Dhunuk, Dhukun, Glegek, Paled, Jenggel, Mesem, Mendhung, Jenggleng, Wedhon, Demit.

Sembadra wanda Banjet, Lanceng, Lentreng, Rangkung.

Setyaki wanda Akiki, Mimis, Wisuna

Srikandhi wanda Cemuris, Cemuris Nem, Nglanangi, Patrem

Siti Sundari wanda Gandes.

 

Togog wanda Barong, Gropak.

 

‘Ebook’ lain tentang (boneka pipih) wayang kulit yang sudah pernah disajikan Wayang Pustaka :

 

‘Ebook’ ‘ Pitakonan Lan Wangsulan Bab Wanda Wayang Kulit Purwa ‘ oleh R. Sutrisno (tahun 1964) di URL :

http://wayangpustaka.wordpress.com/2009/12/05/pitakonan-lan-wangsulan-bab-wanda-wajang-purwa-r-sutrisno/

 

‘Ebook’ ‘ Bab Natah Lan Nyungging Ringgit Wacucal ‘ oleh Sukir (tahun 1930an, 1980) di URL :

http://wayangpustaka.wordpress.com/2009/11/10/bab-natah-sarta-nyungging-ringgit-wacucal/

 

‘Ebook’ ‘ Princening Gambar Ringgit Wacucal ‘ oleh RM Soelardi (tahun 1933, 1953) di URL :

http://wayangpustaka.wordpress.com/2010/03/05/ebook-wayang-printjening-gambar-ringgit-wacucal-1933-1953-karya-rm-soelardi/

gambar wayang purwa HQ, Kasidi, D Tjarito, R Soelardi, Bratajoeda, R Ng Kartapradja, Bale Poestaka, 1937.

Gambar wayang purwa ( karya Kasidi, D Tjarito, R Soelardi )

di buku Bratajoeda – R Ng Kartapradja terbitan 1937

dengan format jpg ber resolusi tinggi.

[ unggah pertama : Budi Adi Soewirjo ]

[ pemutakhiran 03 Mar 2010 : Budi Adi Soewirjo ]

1. Kresna karya D. Tjarito (857 KB)

http://www.4shared.com/file/233181577/d10aab66/kresna_crop.html

2. Kresna naik kereta (Kresna Duta) karya R Soelardi (3.280 KB)

http://www.4shared.com/file/233184060/67603d5d/kresna_duta_crop.html

3. Banowati karya Kasidi (657 KB)

http://www.4shared.com/file/233185375/b4eb21af/banowati_crop.html

4. Sangkuni karya R. Soelardi (1.090 KB)

http://www.4shared.com/file/233187733/94e421c9/sangkuni_crop.html

 

[ akhir pemutakhiran 03 Mar 2010 ]

[ pemutakhiran 04 Mar 2010 ]

5. Kresna Tiwikrama (Brahala) karya D Tjarito (2.260 KB)

http://www.4shared.com/file/233435767/63ea79bc/brahala_crop.html

6. Drupada karya Kasidi (871 KB)

http://www.4shared.com/file/233436690/69613509/drupada_crop.html

7. Bisma karya D. Tjarito (1.310 KB)

http://www.4shared.com/file/233438357/bda45a7e/bisma_crop.html

8. Seta karya ? (980 KB)

http://www.4shared.com/file/233440256/bcf5f420/seta_crop.html

9. Setyaki karya D. Tjarito (980 KB)

http://www.4shared.com/file/233441601/e0535a7f/setyaki_crop.html

10. Irawan karya ? (814 KB)

http://www.4shared.com/file/233442801/f878d89b/irawan_crop.html

[ akhir pemutakhiran 04 Mar 2010 ]

[ pemutakhiran 05 Mar 2010 ]

11. Srikandi karya D. Tjarito (655 KB)

http://www.4shared.com/file/234512186/670f9ee4/srikandi_crop.html

12. Gardapati katya D. Tjarito (1.250 KB)

http://www.4shared.com/file/234514429/2efff6c8/gardapati_crop.html

13. Lesmanakumara karya Kasidi (1.010 KB)

http://www.4shared.com/file/234514951/67bd7b6e/lesmanakumara_crop.html

14. Citraksi karya D. Tjarito (980 KB)

http://www.4shared.com/file/234515629/95c745c3/citraksi_crop.html

15. Abimanyu karya D. Tjarito (875 KB)

http://www.4shared.com/file/234515944/b670d9c5/abimanyu_crop.html

16. Sumbadra karya D. Tjarito (522 KB)

http://www.4shared.com/file/234517650/953a32b/sumbadra_crop.html

17. Dananjaya karya Kasidi (713 KB)

http://www.4shared.com/file/234518539/7cf01206/dananjaya_crop.html

18. Burisrawa karya D. Tjarito (1.490 KB)

http://www.4shared.com/file/234520135/f05ba4ce/burisrawa_crop.html

19. Sindurja karya Kasidi (1.290 KB)

http://www.4shared.com/file/234522101/7612fb9f/sindurja_crop.html

20. Gatutkaca karya D. Tjarito

http://www.4shared.com/file/234523455/b27f6e4d/gatutkaca_crop.html

[akhir pemutakhiran 05 Mar 2010 ]

[ awal pemutakhiran 06 Mar 2010 ]

21. Druna karya R. Soelardi (1.170 KB)

http://www.4shared.com/file/235286442/f31c1930/durna_crop.html

22. Dursasana karya D. Tjarito (1.480 KB)

http://www.4shared.com/file/235295004/56cf5783/dursasana_crop.html

23. Drupadi karya D. Tjarito (573 KB)

http://www.4shared.com/file/235296161/6388c153/drupadi_crop.html

24. Nakula karya D. Tjarito (879 KB)

http://www.4shared.com/file/235297104/fd04f53f/nakula_crop.html

 

25. Yudistira karya D. Tjarito (640 KB)

http://www.4shared.com/file/235298816/5da38e8b/yudistira_crop.html

26. Baladewa karya Kasidi (1.340 KB)

http://www.4shared.com/file/235303356/24d792bb/baladewa_crop.html

 

27. Suyudana karya R. Soelardi (1.350 KB)

http://www.4shared.com/file/235305580/59fc6aad/suyudana_crop.html

28. Wrekodara karya ? (1.240 KB)

http://www.4shared.com/file/235310220/ace24d20/wrekodara_crop.html

29. Aswatama karya Kasidi (831 KB)

http://www.4shared.com/file/235310975/adaaa20b/aswatama_crop.html

30. Abiyasa karya Kasidi (1.420 KB)

http://www.4shared.com/file/235312037/8210f527/abiyasa__bagawan__crop.html

31. Kartamarma karya D. Tjarito (1.130 KB)

http://www.4shared.com/file/235313995/219c206b/kartamarma_crop.html

[ akhir pemutakhiran 06 Mar 2010 ]

Yang bertanda ? = tidak memiliki tulisan nama penggambar .

Buku Wayang ” Printjening Gambar Ringgit Wacucal ” (1933, 1953) karya RM Soelardi

diunggah pertama di :

http://www.facebook.com/note.php?note_id=319084064020

Sebuah buku yang menampilkan detail-detail gambar wayang purwa. Buku langka yang dipersiapkan oleh salah seorang “ penggambar “ wayang purwa legendaris ( selain Kasidi, Darmotjarito, Soehatmanto ). Sangat menarik untuk mengetahui gambar wayang purwa jaman 1920 ~ 1950 akhir.

Sayang penerbit Balai Pustaka tidak pernah menerbitkan lagi. Dari penelusuran Wayang Purwa Buku mencatat terbitan terakhir adalah tahun 1953.

Gambar-gambar dalam buku ini banyak “ mengilhami “ penggambar lain di buku-buku nya yang terbit pada tahun-tahun setelah itu.

RM Soelardi ; ” Printjening Gambar Ringgit Wacucal “ ; Jakarta ; Balai Pustaka – Kementerian P dan K ; 1953 ; 38 halaman ; bahasa Jawa ; gambar wayang.

 

‘Ebook’ nya bisa diunduh di alamat URL :

http://www.4shared.com/file/227058444/14cdbf3b/printjening_gambar_wayang_NEW.html

Buku Wayang : Nonton Wayang Dari Berbagai Pakeliran karya R. M. Pranoedjoe Poesponingrat

falsafah wayang, budi pekerti, sejarah wayang, uraian tokoh wayang, lakon wayang, para dewa, arjuna sasrabahu, ramayana, mahabarata, baratayuda, pathet, tatahan wayang, sunggingan wayang, wanda wayang, gagrag wayang, simpingan wayang, gambar detail wayang kulit purwa Jawa.

R. M. Pranoedjoe Poesponingrat ; “ Nonton Wayang Dari Berbagai Pakeliran “ ; Yogyakarta ; Badan Penerbit Kedaulatan Rakyat ; 2008 = cetakan ke 2 ; xii + 278 halaman ; bahasa Indonesia + abstract dalam bahasa Inggris, gambar wayang.

[ Disayangkan bahwa Badan Penerbit Kedaulatan Rakyat ( belum mendaftarkan ? ) serta tidak mencantumkan nomor ISBN untuk buku ini. Demikian juga tidak mencamtukan tahun cetakan pertama nya – yang diperkirakan September 2005 sebagai terbitan pertama ]

Buku ini merupakan gabungan dari berbagai hal yang berkaitan dengan wayang. Tampak bahwa tujuan utama penulis adalah membahas masalah falsafah dalam wayang serta masalah budi pekerti Jawa yang bisa diambil dari wayang. Namun, agar semua itu bisa lebih jelas diterangkan, maka diuraikan juga tentang sejarah wayang, tokoh-tokoh wayang, ringkasan lakon-lakon. Setelah itu ada beberapa keterangan tambahan – yang juga tak kalah menariknya – tentang wayang kulit purwa Jawa. Boleh dikatakan bahwa buku ini adalah buku yang sangat bermanfaat dibaca bagi seseorang yang ingin tahu lebih banyak tentang wayang purwa Jawa karena merangkum bermacam hal, ringkas padat bermanfaat.

R. M. Pranoedjoe Poesponingrat  – putra KRT Poespaningrat yang ahli dalam adat istiadat Jawa di Keraton Yogyakarta – menuliskan bahwa susunan penyajian buku ini adalah sbb :

  1. Bebuka sebagai latar belakang.
  2. Wayang dan Tasawuf Jawa mengenai Fungsi Wayang, Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, Lahirnya Catur Hawa, dan Wejangan Asta Brata.
  3. Buti-butir Budi Pekerti Jawa dalam Wayang seperti dicontohkan dalam Bhagawat Gita, Baratayuda, Ramayana, Arjuna Sasrabahu, Arjuna Wiwaha dan Dewaruci.
  4. Ramayana, epos Walmiki dari India dan Kakawin Ramayana dalam Jawa Kuno, 903.
  5. Mahabarata, karya Wyasa dan Kakawin Mahabarata Jawa Kawi, 1016.
  6. Baratayuda, dan Kakawin Baratayuda karya Empu Sedah dan Empu Panuluh, 1157.
  7. Catatan Akhir menyajikan beberapa keterangan tambahan.

             [ terdiri dari :

             Pathet Wayang : Expression of Mode

             Sunggingan dan Tatahan : Expression of Art

             Wanda Wayang : Expression of Mood

             Terminologi Gelung, Gurda dll.

             Gagrak Wayang : Expression of Diversity

             Simpingan Wayang : Expression of Beauty

             Lakon Wayang : Expression of Values ]

8. Abstract dalam bahasa Inggris ditujukan untuk pembaca warga asing yang tidak berbahasa Indonesia.

Sebuah buku Latihan Ujian Dalang I yang dihimpun oleh R. Sutrisno – Kepala Seksi Pedalangan, Urusan Kesenian, Direktorat Kebudajaan, Departemen P.D dan K, Jogjakarta. Penerbit CV Mahabarata, Surakarta, terbit tahun 1964 ( perkiraan, tidak ada keterangan tahun terbitan ).

Berbagi info alamat URL ‘ebook’ nya yang bisa diunduh di :

Pitakonan & Wangsulan Bab Wanda Wajang Purwa – R. Sutrisno halaman 02 ~ 27 :
Pitakonan & Wangsulan Bab Wanda Wajang Purwa – R. Sutrisno halaman 28 ~ 48 :

Selamat mambaca.


Blog Stats

  • 542,288 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 55 other followers

Halaman dilihat :

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers