Pustaka Wayang

Archive for the ‘Tahun Terbit’ Category

 

Mahabarata, merupakan kisah wayang yang sudah berakar di Indonesia. Bagi generasi tua kisah ini sudah tertanam sedemikian dalam, tetapi bagi generasi muda kisah ini perlu diperkenalkan dan diangkat agar menjadi cermin dalam kehidupan. Berbagai pengalaman hidup, ketekunan, kesetiaan, keberanian, perjuangan, harapan, cinta, pengorbanan, keputusasaan, kekejaman, intrik, ambisi, tragedi, yang merupakan bagian dari kehidupam manusia, kehidupan kita, termaktub dalam kisah Mahabarata ini. Dari kisah ini kita bisa bercermin dan belajar tentang kehidupan.

Kisah Mahabarata ini disajikan dalam lima buku cerita bersambung, dengan ilustrasi lukisan wayang yang menarik. Buku diterbitkan dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris agar pembaca dapat memilih buku yang dapat memberi manfaat paling banyak.

—–

buku cerita wayang bergambar, Mahabarata, Kesetiaan Dewabrata, Herjaka Hs, Kanisius, Yogyakarta, 2005, kerajaan Kasi, Dewi Ambika, Ganggawati, Prabu Salwa, Dewi Ambalika, Begawan Ramaparasu, raksasa Arimuka, raksasa Wahmuka, Begawan Palasara, kerajaan Astinapura.

Episode Kesetiaan Dewabrata :

Data buku :

Herjaka Hs  ;  “ Kesetiaan Dewabrata “  ;  Yogyakarta  ;  Kanisius  ; 2005 = cetakan pertama  ; ISBN 9796728974, 9789796728978  ;  bahasa Indonesia  ;  cerita wayang bergambar.

.

 

Sinopsis :

Setelah ditinggalkan istri tercintanya, Prabu Sentanu raja Astinapura ingin menikah lagi. Dewi Setyawati bersedia asalkan keturunannya yang mewarisi takhta kerajaan Astinapura. Demi cintanya kepada ayahnya, Dewabrata rela menyerahkan hak atas takhta kepada keturunan Dewi Setyawati.

Sebagai jaminan, Dewabrata berjanji untuk hidup wadat (tidak menikah) agar keturunan Dewi Setyawati yang mewarisi takhta Astinapura.

Kesetiaan Dewabrata pada janjinya ternyata mendapat ujian berat justru dari gurunya sendiri, yang mengharapkan Dewabrata mempersunting Dewi Amba. Konflik guru murid tak terhindarkan dan kekalahan ada di pihak sang guru. Dewi Amba sangat terpukul karena kekalahan guru Dewabrata yang menjadi tumpuan harapan terakhir untuk dapat mengangkat keterpurukan harga dirinya.

Anda bisa melihat beberapa halaman buku ini di pratinjau terbatas di situs Google Books :
http://books.google.co.id/books?id=BdmFymn33AwC&pg=PT31&dq=mahabarata&lr=&as_brr=3&as_pt=BOOKS

Di situs Google Books, buku ini tercatat di URL :
http://books.google.co.id/books?id=BdmFymn33AwC

Alamat Penerbit Kanisius,
Jl. Cempaka 9, Deresan, Yogyakarta 55281
Kotak Pos 1125/Yk, Yogyakarta 55011
Tel (0274) 588783, 565996 ; Fax (0274) 563349
Website : http://www.kanisiusmedia.com
E-mail : office@kanisiusmedia.com

The 7 Habits of Highly Effective People Versi Semar & Pandawa oleh Pitoyo Amrih.

 (diunggah pertama 17 Aug 2009 : Budi Adi Soewirjo)

 

Data buku :

Judul buku : The 7 Habits of Highly Effective People Versi Semar & Pandawa
Penulis : Pitoyo Amrih
Penerbit : Pinus Publisher, Yogyakarta, 2008
Nomor ISBN : 9799901499, 9789799901491
Jumlah halaman : 227 halaman

 

A.

Editor Pinus Publisher menulis :

Tujuh Kebiasaan efektif Stephen Covey telah menginspirasi kita dan jutaan manusia dunia tentang bagaimana menjalani hidup yang efektif dan berkualitas. Dan kita sendiri hamper lupa, bahwa ajaran Covey telah termaknai dalam nilai-nilai budaya ketimuran yang tercermin dalam perilaku tokoh wayang Semar dan Pandawa.

Buku “The 7 Habits of Highly Effective People Versi SEMAR dan PANDAWA” akan memberikan inspirasi persis seperti pemikiran Covey tentang perubahan paradigma yang membawa individu atau kelompok agar lebih efektif dalam menjalani kehidupan. Bedanya buku ini tidak mengambil ide kepemimpinan dari paradigma dunia barat, tetapi lewat ajaran filosofis ketimuran dengan mengambil karakter dalam tokoh kisah pewayangan. Seperti Semar, dewa yang memilih menitis diri sebagai manusia merupakan sifat rendah hati.

Sifat ini identik dengan nilai kebesaran jiwa yang menyempurnakan tujuh kebiasaan efektif Stephen Covey. Kekompakan Pandawa merupakan pencerminan dari nilai “Sinergi”. Pilihan Yudhistira menerima permainan dadu identik dengan nilai “Berpikir Menang-Menang”. Kebiasaan ksatria menegmbangkan diri identik dengan nilai “Mengasah Gergaji” dan masih banyak ulasan menarik tentang tujuh kebiasaan efektif lainnya.

Alhasil, kelebihan buku ini dapat dengan mudah dicerna dan diaktualisasi karena memiliki nilai kedekatan emosi, sifat dan karakter ketimuran. Sehingga pada tingkatan aplikasi sangat mudah untuk dilakukan.

 

B.

Pratinjau Terbatas di Google Books bisa dilihat di :
http://books.google.com/books/p/pub-6218744198074454?id=fB8XaAgDpz4C&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_v2_summary_r&cad=0#v=onepage&q=&f=false

menampilkan sebagian halaman buku ini.

 

C.

Profil ( ‘ bentuk rupa ‘ ) penulis Pitoyo Amrih dan daftar buku hasil karyanya yang lain bisa di baca di : http://www.facebook.com/note.php?note_id=116180084020

 

(akhir unggah 17 Aug 2009)

Kebaikan Kurawa – Mengungkap Kisah-kisah yang Tersembunyi oleh Pitoyo Amrih.

(diunggah pertama 18 Aug 2009 : Budi Adi Soewirjo)

.

 

Data buku :

Judul buku : Kebaikan Kurawa – Mengungkap Kisah-kisah yang Tersembunyi
Pengarang : Pitoyo Amrih
Penerbit : Pinus Publisher, Yogyakarta, 2007
Nomor ISBN : 9799901421, 9789799901422
Jumlah halaman : 191 halaman

 

A.

Editor Pinus Publisher menulis :

Dalam kisah pewayangan tokoh Kurawa mempunyai sifat buruk, jelek, jahat, dan tidak pantas dicontoh. Ternyata di sisi lain Kurawa mempunyai perilaku yang patut dicontoh. Seperti, Duryudana adalah anak sulung dari Kurawa yang bertanggung jawab, Dursasana adalah adik yang sangat patuh, Citraksa Citraksi adalah Kurawa yang sopan, Yuyutsu adalah satu-satunya Kurawa yang selalu mau belajar. Demikian pula Patih Sangkuni bagaimana ia sosok yang sejak kecil telah mengalami ketidakadilan di keluarganya dan sempat dipermalukan oleh Pandu.

Buku ‘Kebaikan Kurawa’ akan mengungkap kisah-kisah yang tersembunyi dari Kurawa. Menjelaskan watak Kurawa yang selama ini dianggap orang jahat, ternyata ada hal-hal yang patut dicontoh. Menggugat image atas Kurawa yang selama ini selalu dalam kondisi yang tidak menyenangkan.

Penguasaan penulis tentang dunia wayang, membuatnya begitu jeli mencermati bahwa sesungguhnya di sisi lain dunia Kurawa masih banyak kisah-kisah kebaikan Kurawa yang belum terungkap. Yang lebih penting, penulis memaparkan secara detail bagaimana latar belakang sejarah sehingga Kurawa dapat berlaku jahat, menyerang, arogan, bahkan akhirnya memusuhi Pandawa.

Buku kontroversial yang dikemas secara menarik, singkat, dan detail. Membaca buku ini, pembaca akan diajak secara terbuka memahami siapa dan bagaimana Kurawa yang sesungguhnya. Selain itu dapat menafsir dalam kehidupan tidak selamanya orang jahat itu dijauhi dan tidak patut dicontoh.

 

B.

Komentar Pembaca :

Saras , dari sumber : goodreads, menulis pendapatnya tentang buku ini :

Buku yang bagus untuk suplemen menikmati Mahabharata.. Perjalanan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda…

Ketidakpedulian adalah lintah yang menyerap cahaya kehidupan, andai Kurawa hidup dalam keluarga penuh kasih,apakah kita mengenal tragedi Kurusetra? Pelajaran yang baik untuk kita semua.

 

C.

Pratinjau Terbatas buku ini di Google Books:
http://books.google.com/books/p/pub-6218744198074454?id=2TQ-4CkAeEcC&printsec=frontcover&dq=inauthor%3A%22Pitoyo+Amrih%22&hl=id#v=onepage&q=&f=false

menampilkan sebagian halaman buku tersebut.

 

D.

Profil ( ‘ bentuk rupa ‘ ) penulis Pitoyo Amrih dan daftar buku hasil karyanya yang lain bisa di baca di :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=116180084020

 

(akhir unggah 17 Aug 2009)

The Darkness of Gatotkaca, oleh Pitoyo Amrih.

(diunggah pertama 18 Aug 2009 : Budi Adi Soewirjo)

 

Data buku :

Judul buku : The Darkness of Gatotkaca – Sebuah Novel Pahlawan Kesunyian.
Pengarang : Pitoyo Amrih
Penerbit : DIVA Press, Yogyakarta,
Nomor ISBN : 979-963-639-0
Jumlah halaman : 416 halaman
Ukuran buku : 14 x 21 cm

 

A.

Penulis memberikan paparan isi buku :

Gatotkaca adalah seorang patriot dengan kelahiran yang luar biasa. Kesaktian bangsa dewa mempercepat proses dewasanya. Dia adalah putra kedua Raden Bima, kerabat kedua Pandawa. Lahir dari ibu keturunan bangsa raksasa bernama Dewi Arimbi: seorang ibu yang hidup selamanya dalam kemelut rasa bersalah karena tidak pernah bisa menimang dan menemani masa kecil sang Gatotkaca.

Gatotkaca adalah seorang kesatria. Ia memiliki kesaktian yang luar biasa. Tak ada senjata yang mampu melukainya, kecuali satu, tombak Konta Wijayadanu. Senjata yang memang disiapkan menembus kulit tubuhnya. Dibuat pula oleh bangsa dewa.

Gatotkaca adalah seorang pahlawan. Dia menjadi benteng bagi semua keluarga dan sesepuhnya. Dia membela setiap jengkal wilayah negaranya. Dia sangat disiplin menjaga amanah. Loyal terhadap segala apa yang dijunjungnya. Membela setiap kebenaran. Menghancurkan setiap angkara murka.

Tapi, Gatotkaca selalu hidup dalam kesendirian! Dia selalu memendam dan menekan setiap kecewa di dasar hatinya. Tak ada orang di sekitarnya yang diajaknya berbagi. Dia terlalu angkuh untuk bisa mengutarakan setiap perasaannya. Dia selalu menelan beban rasa bersalah dalam dirinya. Dia selalu merasa hidup sendiri di tengah kehangatan keluarganya: meaningless, lonely, stillness, and darkness…

Novel sisi gelap Gatotkaca ini disajikan dengan amat menggelora, penuh kejutan, ledakan emosi, dan sekaligus nestapa. Membaca novel epos ini, niscaya akan menghadirkan ide dan inspirasi pada kita semua untuk mencoba melihat dan menyelami masing-masing tokoh dan karakter dalam kehidupan ini: dari keteladanan, kemarahan, kesendirian, kecongkakan, kejujuran, integritas, pengorbanan, kebijaksanaan, kebimbangan, dendam, kekecewaan, dan pencarian makna dan tujuan hidup.

.

 

B.

Profil ( ‘ bentuk rupa ‘ ) penulis Pitoyo Amrih dan daftar buku hasil karyanya yang lain bisa di baca di :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=116180084020

 

(akhir unggah 18 Aug 2009)

Narasoma – Ksatria Pembela Kurawa, oleh Pitoyo Amrih.

 

(pertama diunggah 18 Aug 2009 : Budi Adi Soewirjo)

 

Data buku :

Judul buku : Narasoma – Ksatria Pembela Kurawa
Pengarang : Pitoyo Amrih
Penerbit : Pinus, Yogyakarta, 2007.
Nomor ISBN : 979-99012-5-1 , 9789799901255
Jumlah halaman : 358 halaman.
Ukuran buku : 14 x 21 cm.

.

 

 

A.

Penulis sedikit memberi paparan akan buku ini :

Narasoma adalah putra mahkota Mandraka, anak lelaki Raja Mandarapati. Ia diusir dari tanah airnya karena berlaku pongah dan berhadapan dengan seorang raksasa yang mulia bern

ama Begawan Bagaspati. Kemudian Narasoma digembleng sekaligus dinikahkan dengan putrinya, Pujawati. Sayangnya, sang pangeran belum dapat mengendalikan tutur kata. Ia melukai perasaan istri tercinta dengan menyatakan malu memiliki mertua bangsa raksasa. Terjadilah peristiwa yang memeras airmata, Begawan Bagaspati menemui ajalnya demi kehormatan Pujawati. Ia mewariskan ajian sakti Candrabirawa kepada Narasoma yang diliputi perasaan sesal.

 

 

Paparan untuk episode berikutnya :

“ Mengapa akhirnya saya harus membela Kurawa….?” itulah mungkin suara hati yang selalu terngiang di nurani Prabu Salya, terutama ketika menjalani hari demi hari perang dahsyat Baratayudha.

Sebuah perang yang begitu hebat, puluhan ribu orang tewas, ratusan ksatria senapati menemui ajal, karena Baratayudha, perang antar saudara ras bangsa Manusia yang seharusnya tak perlu terjadi.

Tapi bagi Salya, perang itu masih tidak seberapa. Peperangan yang sebenarnya, baginya sudah dimulai jauh sebelum Baratayudha. Bahkan sejak muda ketika dirinya masih dipanggil sebagai Narasoma.

Sebuah hingar bingar pertempuran yang terjadi dalam kurun waktu begitu lama, di kesunyian lubuk hati nurani dirinya. Salya, seorang raja besar Mandraka yang harus selalu mengalami pertentangan batin selama hidupnya.

 

B.

 

Komentar Pembaca 1 :

….’Narasoma’ tak sekadar mengisahkan perang saudara yang amat memilukan, beserta adu kesaktian yang ditampilkan secara rinci dan cukup seru. Novel ini mengetengahkan pergolakan batin seorang ksatria yang bimbang atas pihak yang dibelanya, persiapan seorang prajurit menyongsong kematiannya, dan kesedihan seorang ayah atas kematian putranya. Tak kalah mempesona, kisah Karna yang marah kepada nasib malangnya sebagai anak terbuang namun ditangisi Batara Surya saat ia gugur di Kurusetra..

—Sinarbulan, Bandung—

 

 

C.

 

Komentar Pembaca 2 :

Another wayang story by Pitoyo Amrih. Those who used to read RA Kosasih’s comic about Mahabharata would definitely fall in love with Pitoyo’s art of work.

Perbedaan yg jelas antara karya RA Kosasih dgn Pitoyo adalah kesan yang timbul di karya Pitoyo menciptakan bayangan bahwa cerita wayang bukanlah sebuah dongeng dgn kisah yg muluk2 didalamnya. Pitoyo berhasil membuat cerita wayang menjadi lebih “down-to-earth” dgn gaya berceritanya. Termasuk jg dalam karyanya yang satu ini yang bercerita tentang kehidupan Raden Narasoma.

Tokoh utama cerita ini adalah Prabu Salya, yang pada masa mudanya lebih dikenal sbg Raden Narasoma. Beliau adalah seorang maharaja yang melalui masa mudanya dengan penuh tantangan hidup. Diusir oleh ayahnya sendiri untuk kemudian mengembara dan akhirnya berguru pada seorang begawan sakti yang adalah keturunan raksasa. Pada akhirnya dia mengawini putri dari begawan tersebut yang cantik rupawan. Bahagia hidupnya namun disatu sisi juga resah karena sadar bahwa tidak mungkin dia kembali ke kerajaannya dgn membuka kenyataan bahwa sang calon permaisuri adalah seorang keturunan raksasa.

Itu barulah awal dari sekian banyak kebimbangan hidup yg akan dia jumpai nanti didalam selang perjalanan hidupnya. Dan puncaknya adalah pada saat dimana ia harus memilih dalam perang besar Bharatayudha apakah ia harus berpihak kepada menantunya, Duryodana, pemimpin Kurawa atau kepada keponakan kandungnya, Nakula dan Sadewa, bungsu kembar Pandawa…

— (Fajar’s blog, sumber:goodreads)

 

D.

Pratinjau Terbatas buku ini di Google Books :
http://books.google.com/books/p/pub-6218744198074454?id=e6zQYSvqngYC&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_v2_summary_r&cad=0#v=onepage&q=&f=false

 

E.

Profil ( ‘ bentuk rupa ‘ ) penulis Pitoyo Amrih dan daftar buku hasil karyanya yang lain bisa di baca di :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=116180084020

Antareja – Antasena, Jalan Kematian Para Ksatria; oleh Pitoyo Amrih.

.

(pertama diunggah 18 Aug 2009 : Budi Adi Soewirjo)

.

Data buku :

Judul buku : Antareja – Antasena, Jalan Kematian Para Ksatria
Pengarang : Pitoyo Amrih.
Penerbit : Pinus Publisher, Yogyakarta, Nopember 2006
Nomor ISBN : 979-99010-0-6 , 9789799901002 .
Jumlah halaman : 252 halaman
Ukuran buku : 14 x 21 cm.

.

 A.

Pengarang memberikan paparan isi buku : 

Kisah Diawal Perang Baratayudha yang patut anda simak. Karena kisah ini dipenuhi kontroversi. Benarkah Kresna benar-benar bertipu muslihat untuk meniadakan Antareja dan Antasena, hanya dalam rangka agar mereka tidak ikut dalam perang Baratayudha..?

Karena memang bisa dibayangkan, bila saja Antareja ikut terlibat dan turun ke medan perang, ribuan prajurit bisa mati hanya dalam sekejap oleh kesaktiannya sebagai keturunan bangsa ular.

Atau Antasena, yang dipercaya membalikkan dunia wayang pun bisa hanya dengan kedua telapak tangannya..

Kisah pengorbanan yang tidak pernah terungkap, terjadi sebelum Baratayudha. Kisah yang seharusnya anda baca sebelum anda tahu lebih jauh tentang Baratayudha.

Antareja dan Antasena mati karena tipu muslihat Kresna. Kresna telah menjadikan tumbal bagi kemenangan Pandawa atas Baratayudha …..

Jalan kematian Antareja adalah sebuah pengorbanan. Pengorbanan yang sama juga dialami Kresna atas fitnah yang diterimanya.

Dan Antasena … mungkin sampai sekarang dia masih menjalani hidupnya. Walau bukan lagi berwujud manusia …

Antareja adalah putra sulung ksatria Pandawa, Raden Bima. Dia adalah anak tunggal Dewi Nagagini, putri dewa bangsa manusia-ular Sang Hyang Antaboga. Tokoh Antareja ini tidak ada pada pertama kali dituliskannya kisah Mahabarata dalam versi India. Dalam versi Jawa, tokoh ini sekilas muncul sebagai tokoh tanpa tanding, pendiam, dan penyendiri. Kematiannya adalah sebuah kontroversi akibat siasat Baginda Sri Kresna dalam rangka menjauhkan keterlibatan Antareja dalam perang Baratayudha.

Antasena hanya muncul dalam wayang carangan versi Jawa Yogyakarta. Dia adalah putra bungsu Raden Bima hasil perkawinannya dengan putri penguasa bangsa Samudra Batara Baruna, Dewi Urang Ayu. Antasena adalah tokoh yang unik, secara fisik mirip Antareja, bedanya kulit Antasena bersisik kemerahan, sementara kulit Antareja bersisik kehijauan. Tidak peduli terhadap sopan santun dan tata krama. Walaupun tidak pernah diceritakan kesaktiannya, tapi dia dipercaya bisa membuat apapun yang dia mau menjadi kenyataan. Baginda Sri Kresna juga mendapat mandat dari pimpinan bangsa Dewa, Sang Hyang Guru agar Antasena tidak ikut dalam perang Baratayudha.

.

B.

Komentar pembaca :

Kisah Diawal Perang Baratayudha yang patut anda simak. Karena kisah ini dipenuhi kontroversi. Benarkah Kresna benar-benar bertipu muslihat untuk meniadakan Antareja dan Antasena, hanya dalam rangka agar mereka tidak ikut dalam perang Baratayudha..?

Karena memang bisa dibayangkan, bila saja Antareja ikut terlibat dan turun ke medan perang, ribuan prajurit bisa mati hanya dalam sekejap oleh kesaktiannya sebagai keturunan bangsa ular.

Atau Antasena, yang dipercaya membalikkan dunia wayang pun bisa hanya dengan kedua telapak tangannya..

Kisah pengorbanan yang tidak pernah terungkap, terjadi sebelum Baratayudha…sebuah kisah seorang ksatria yang memilih jalan mereka sendiri

— (Didiet, sumber: goodreads)

.

C.

Pratinjau Terbatas buku ini di Google Books :

http://books.google.com/books/p/pub-6218744198074454?id=gHmwj_j_IDMC&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_v2_summary_r&cad=0#v=onepage&q=&f=false

.

D.

Profil ( ‘ bentuk rupa ‘ ) penulis Pitoyo Amrih dan daftar buku hasil karyanya yang lain bisa di baca di :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=116180084020

‘Ebook’ buku pedalangan, Ki Ng Wignyosoetarno, Pasinaon Dhalang Mangkunagaran Surakarta, Kawruh Pedhalangan, cepengan, tanceban, sabet, sulukan, pathetan, sendhon, ada-ada, basa, dhodhogan, keprakan, antawacana, sengsem, nges, nawung kridha, sambegana, uda nagara, Ki Eko Prasetyo, dalang Amarta.

 

 

Data buku :

Ki Ng Wignyosoetarno ( Guru Pasinaon Dhalang Mangkunagaran, Surakarta ) ‘ KAWRUH PEDHALANGAN ;  tidak ada ciri nama penerbit maupun tahun terbit ;  29 halaman ; bahasa Jawa krama.

 

 

Isi buku ini  :

 

  1. I.        Bab Kawruh.
    1. 1.       Cepengan, Tanceban tuwin Sabet.
    2. 2.       Sulukan-sulukan, Pathet, Sendhon, Ada-ada.
    3. 3.       Basa / Tembung-tembung.
    4. 4.       Dhodhogan tuwin Keprakan.

 

  1. II.      Bab Isi.
    1. 1.       Antawacana.
    2. 2.       Sem / sengsem.
    3. 3.       Nges.
    4. 4.       Nawung Kridha.
    5. 5.       Sambegana.
    6. 6.       Uda Nagara.

 

 

Cuplikan isi buku :

 

Bab Sulukan.

Sulukan punika kaperang dados 3 (tiga) :

  1. 1.       Pathetan              : kangge nggambaraken raos mardika, tuwin lega.
  2. 2.       Sendhon              : kangge nggambaraken raos tumalawung, sedih, tuwin ugi kenging kangge nggambaraken raos edi ( endah ).
  3. 3.       Ada-ada               : kangge nggambaraken sadaya raos sereng ( duka ) kasesa.

 

 

 

 

Berita gembira mengenai kegiatan konservasi kepustakaan wayang. Pindaian ini terlaksana berkat pemindaian yang dilaksanakan oleh Ki Eko Prasetyo dari Surakarta. Beliau akan secara sukarela terus membantu kegiatan konservasi kepustakaan wayang dengan pemindaian kepustakaan wayang koleksi pribadi beliau maupun koleksi anggauta-anggauta dari Paguyuban Dalang Amarta di Surakarta. Pengasuh blog Wayangpustaka mengucapkan beribu ribu terima kasih atas peran serta Ki Eko Prasetyo dan rekan-rekan dalang Amarta. Dengan semua usaha ini, semoga kepustakaan wayang lama bisa lebih mudah dibaca para peminat / peng-apresiasi terutama generasi muda Indonesia.

 

 

‘Ebook’ Kawruh Pedhalangan ini bisa diunduh gratis di alamat URL sbb ( dua file ) :

http://www.4shared.com/document/77nC7Xnw/01_Kawruh_Pedhalangan_Wignyosu.html

dan

http://www.4shared.com/document/tlfpVJkZ/02_Kawruh_Pedhalangan_Wignyosu.html

 

 

Ditulis oleh Budi Adi Soewirjo, Jakarta, 13 Mei 2011.



‘Ebook’ buku ‘Wanda Ringgit Purwa milik Keraton Surakarta’

Alih aksara :

Moelyono Satronaryatmo

Departemen Pendidikan dan Kebuadayaan Republik Indonesia, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Jakarta, 1981

Berbagai Ragam bentuk atau wujud (wanda)

Wayang Purwa milik Keraton Surakarta,

sejumlah 85 macam

 

Nama-nama wayang tersebut di atas dan berbagai ragam bentuk atau wujudnya

(wanda) merupakan pola jadi (corekan dados) bagi penggarap wayang, khususnya dalam

ukuran, macam tatahannya dan bentuk-bentuknya, adapun ukuran yang tercantum di sini

mencakup lebar dan tinggi bentuk wayang.

Beberapa tokoh dalam dunia pewayangan adakalanya mem punyai bentuk lebih

dari satu, demikian dapat dilihat dalam daftar tersebut di atas. Dibedakan suatu tokoh

pewayangan dalam masa remaja dan masa sesudah remaja, demikian pula nama-nama

untuk tokoh pewayangan seringkali dibedakan nama masa muda dan masa tua. Sebagai

contoh: Janaka, pada masa mudanya dinamakan Permadi, Baladewa, pada masa mudanya

bernama Kakrasana, Kresna, bernama Narayana dan lain sebagainya.

Penggunaan wayang dengan bentuknya masing-masing diatur pula sesuai dengan

waktu (pathet/Jw) dan tugasnya sesuai dengan alur cerita. Sebagai contoh: Wrekodara,

bentuk Lindu, waktu muncul sesuai dengan masa patet nem. Bentuk Mimis, keluar

pada masa patet manyura, bentuk Jagur dalam patet sanga dan lain sebagainya. Untuk

memperjelas bentuk-bentuk tokoh pewayangan tersebut diatas, akan dicoba diberikan

keterangan artian wanda bentuk tadi, sesuai dengan arti kata yang dipergunakan untuk

menamakannya. Dalam mencoba mengartikan apa yang dimaksud dengan bentuk dan

namanya, dipakai senagai dasar uraian kamus bahasa Jawa “Dr. Th.Pigeuad. Javaans –

Nederlands Handwoordenboek; J.B. Wolters’ Uitgevers – Maatschappij, N.V.; Groningen,

Batavia, 1938”.

 

 

Nama Wayang dan bentuk wanda, arti kata

1. Puntadewa bentuk jimat; jimat - amulet; sesuatu yang dianggap mempunyai daya

kekuatan, selalu dijunjung tinggi dan dihargai.

2. Puntadewa bentuk deres; deres - berlebih-lebihan, berlimpah-limpah.

3. Puntadewa bentuk malatsih; malatsih - mendekatkan rasa sayang, memikat hati.

4. Wrekodara bentuk mimis; mimis - peluru.

5. Wrekodara bentuk gurnat; gurnat - granat.

6. Wrekodara bentuk lintang; lintang – bintang.

7. Wrekodara bentuk lindupanon; lindu - gempa bumi, panon -raut muka.

8. Wrekodara bentuk lindu; lindu - gempa bumi.

9. Permadi bentuk penganten; penganten - temanten, mempelai.

10. Permadi bentuk pacel atau patah; pacel - penyerang, penggempur, tukang berkelahi;

patah - pengapit mempelai, biasa terdiri dari puteri remaja, ataupun laki-laki sebanyak

dua orang.

11. Permadi bentuk pangawe; pengawe -ngawe : memberi isyarat dengan tangan dengan

maksud supaya lebih mendekat.

12. Permadi bentuk malatsih; malatsih - malat berarti menjadi panjang, mengalir, bangkit,

garang tajam; sih – cinta, sayang.

13. Permadi bentuk malat; malat berarti menjadi panjang, mengalir, bangkit, garang tajam;

malatsih – bangkit, berkobar sayang, kasih.

14. Janaka bentuk kinanti; kinanti - dikanthi – digandeng tangannya, dapat juga berarti

diajak sebagai teman dalam perjalanan.

15. Janaka bentuk jimat; jimat - amulet; sesuatu yang dianggap mempunyai daya kekuatan,

selalu dijunjung tinggi, dihormati.

16. Janaka bentuk kanyut; kanyut - terhanyut, kenyut – terbawa oleh arus, dapat juga berarti

jatuh asmara, jatuh cinta.

17. Janaka bentuk mangu; mangu - mangu-mangu berarti bimbang di hati belum

mendapatkan keputusan dalam hati, ragu-ragu, risau hatinya.

18. Sadewa remaja bentuk banjet; banjet - berkata dengan manis sebab mempunyai tujuan

tertentu yang harus dicapainya.

19. Sadewa bentuk banjet; banjet - berkata dengan kata-kata yang manis untuk memikat

dengan tujuan sesuatu.

20. Nakula remaja bentuk buntit; buntit - keriting, ikal.

21. Nakula bentuk buntit; buntit - keriting, ikal.

22. Irawan bentuk padasih; pada - ada persamaannya, sih - cinta, sayang.

23. Abimanyu bentuk jayenggati; jayenggati - dapat diartikan juga jaya ing ati, Jaya berarti

kemenangan , menang , kebahagiaan , keselamatan ; gati berarti tugas , perjalanan,

pekerjaan, cara melakukan suatu pekerjaan, tekun menjalankan tugasnya, bersungguhsungguh

melakukan pekerjaannya dan lain sebagainya.

24. Abimanyu bentuk buntit; buntit - keriting, ikal.

25. Gatotkaca bentuk tatit-remaja; tathit, thathit (Jw) halilintar.

26. Gatotkaca bentuk tatit-tua; tathit, thathit (Jw) halilintar.

27. Gatotkaca bentuk guntur; guntur - air pasang yang sangat dahsyat sehingga

menimbulkan banjir, malapetaka.

28. Gatotkaca bentuk kilat; kilat - bercahaya, cemerlang.

29. Antareja bentuk putut; putut - puthut (Jw), berarti penganut, murid dari suatu

pertapaan, paguron.

30. Antareja bentuk naga; naga - ular yang besar dan menakutkan.

31. Semar bentuk mega; mega - awan.

32. Semar bentuk watu; watu - batu.

33. Semar bentuk dukun; dukun - dhukun (Jw), berarti orang yang berilmu, khususnya

dalam menawarkan malapetaka, memberikan kesembuhan.

34. Semar bentuk ginuk; ginuk - leadaan badan yang tidak imbang, antara berat dan

kegemukannya, dapat diartikan juga gemuk dan berat sehingga bentuk tidak keruan.

35. Gareng bentuk prekul; prekul - atau prekal, prekol (Jw) berarti tidak lurus, bengkak -

bengkok, agak membungkuk.

36. Gareng bentuk kancil; kancil – nama binatang terkenal dalam dongeng karena

kecerdikannya.

37. Petruk bentuk jomblang; jomblang - penghubung, untuk wanita dan pria, atau sebaliknya.

38. Petruk bentuk mesem; mesem - tersenyum.

39. Bagong bentuk gilut; gilut - mengenyam, mengabdikan diri kepada, dapat juga

berarti selalu dekat tak mau jauh-jauh kepada sesuatu atau seseorang.

40. Bagong bentuk gembor; gembor - alat untuk menyiram tanaman atau bunga,

berteriak-teriak, atau dapat berarti juga menangis

41. Kakrasana bentuk sembada; sembada - sembada berarti baik dan bagus dalam

keadaan keseluruhannya, tepat atau terpilih, terpuji dalam lahir maupun batinnya.

42. Kakrasana bentuk kilat; kilat - cahaya, cemerlang dapat juga diartikan cahaya dari

halilintar.

43. Baladewa bentuk rayung kadipaten; rayung - sejenis tanaman alang-alang, rayungrayung

berarti dalam keadaan panjang dan kecil sebagai contoh “Drijine

ngrerayungan atau rayung-rayung,” berarti jari jemarinya panjang dan kecil-kecil

(langsing).

Adapun kata kadipaten agaknya menunjukkan Baladewa bentuj rayung tersebut

berasal dari kadipaten.

44. Baladewa bentuk sembada; sembada - sembada berarti baik dan bagus dalam

keadaan keseluruhannya, tepat atau terpilih, terpuji dalam lahir maupun batinnya.

45. Baladewa bentuk geger; geger - ribut, kacau, rame.

46. Baladewa bentuk kaget; kaget - terperanjat.

47. Baladewa bentuk pariksa; pariksa - memerikasa, mencari, dapat juga kata priksa

(Jw) berarti mengetahui, mengenal.

48. Narayana bentuk sembada; sembada - sembada berarti baik dan bagus dalam

keadaan keseluruhannya, tepat atau terpilih, terpuji dalam lahir maupun batinnya.

49. Narayana bentuk geblag; geblag - jatuh terlentang, merata.

50. Kresna bentuk rondon; rondon - daun, hiasan atau rangkaian, rangkuman, terdiri

dari bulu-bulu domba hiasan daun katangan daun-daunan.

51. Kresna bentuk gendreh; gendreh - indah, bagus, halus.

52. Kresna bentuk mawur; mawur - bercerai-cerai, dapat juga beraru bagus, indah

seperti butiran padi.

53. Samba bentuk buntit; buntit - keriting, ikal.

54. Samba bentuk sembada; sembada - sembada berarti baik dan bagus dalam

keadaan keseluruhannya, tepat atau terpilih, terpuji dalam lahir maupun batinnya.

55. Samba bentuk banjed; banjet - berkata dengan kata-kata yang manis untuk memikat

dengan tujuan sesuatu.

56. Udawa bentuk tandang; tandang - bekerja, melaksanakan pekerjaan, bertempur,

berkelahi.

57. Udawa bentuk jaran; jaran - kuda.

58. Setyaki bentuk mimis; mimis - peluru.

59. Setyaki bentuk akik; akik - sejenis batu permata (agaat – Bld.).

60. Setyaki bentuk wisnua; wisnua - bahaya, muram, murung, sedih, susah.

61. Suyudana bentuk jaka; jaka - remaja, dalam hal ini, belum beristri, untuk laki-laki.

62. Suyudana bentuk jangkung; jangkung - langsing, semampai, tinggi besar.

63. Kurupati bentuk jaka; jaka - remaja, dalam hal ini, belum beristri, untuk laki-laki.

64. Kurupati bentuk jangkung; jangkung - langsing, semampai, tinggi besar.

65. Banowati bentuk berok; berok - berarti a.l. kambing betina dari jenis tertentu

(wedhus berog – Jw.).

66. Banowati bentuk golek; golek - boneka.

67. Karna bentuk bedru; bedru - selisih, berbeda paham, usik, rintangan.

68. Karna bentuk lontang; lontang - dibawa lari, berubah warna, berganti warna.

69. Dursasana bentuk gambyong; gambyong - tergantung pada (khususnya untuk

buah-buahan), nggambyung (Jw), nggambyong (Jw) – berarti juga “menari

sendiri” khususnya diperuntukkan bagi penari putri untuk mengawali pesta

peralatan; juga berarti wayang kulit putri untuk menampilkan taran khusus

“gambyongan.”

70. Dursasana bentuk golek; golek - boneka.

71. Pragota bentuk penganten; penganten - mempelai, temanten.

72. Pragota bentuk putut; putut - puthut (Jw), berarti penganut, murid dari suatu

pertapaan, paguron.

73. Cakil bentuk naga; naga - ular yang besar dan menakutkan.

74. Cakil bentuk menyore; menyore - nyore (Jw) berarti petang, malam.

75. Cakil bentuk batang; batang - bangkai.

76. Guru bentuk candi (a); candi – arca atau candi.

77. Guru bentuk karno; karna – kata karna diartikan tutup kepalanya yang berbentuk

seperti tutup kepala adipati karna

78. Guru bentuk candi (b); candi – arca atau candi.

79. Durga bentuk gedrug; gedrug – ,menghentak-hentakkan kaki di tanah karena marah,

murka. Dapat juga berarti menyepak-nyepak disebabkan bangkit kemarahannya;

tidak sabar dan lain sebagainya.

80. Durga bentuk gidrah; gidrah – atau gibrah, kiprah berarti meloncat-loncat,

bergerak-gerak dikarenakan kegarangan hatinya, kerisauannya, kemarahaannya

81. Naga; dalam gambarnya tidak ada penjelasan lebih lanjut.

82. Dasamuka bentuk belis; belis – setan, jahanam, durhaka.

83. Dasamuka bentuk bugis; bugis – ragam dari seberang.

84. Kumbakarna bentuk barong; barong – dapat diartikan dalam bentuk raksasa yang

sangat menakutkan, mengerikan.

85. Kumbakarna bentuk macan; macan – harimau.

‘Ebook’ / pindaian buku / foto halaman-halaman adalah hasil peran serta dik Christoper Dewa Wardana, seorang pemuda Indonesia pecinta wayang yang saat ini mukim dan bekerja di San Franscisco sebagai arsitek / perancang ruang dalam. Buku tersebut di foto di perpustakaan Universitas Berkeley Amerika Serikat. Dik Christoper juga aktif ‘ nyorek ‘ / menggambar wayang, dan merencanakan menyusun buku wayang gagrag Yogyakarta.

Untuk mengunduh ‘ebook’ tersebut pembaca bisa kunjungi URL

http://www.4shared.com/document/vViR_Lvy/Full.html

dengan besar file kurang lebih 32 MegaByte.

‘Ebook’ Wanda Wayang Purwa Gaya Surakarta

Disusun bersama oleh para pengajar ASKI ( Akademi Seni Karawitan Indonesia ) Surakarta, nama-nama nya tertulis di dalam Kata Pendahuluan.

 

Diterbitkan oleh Sub / Bagian Proyek Akademi Seni Karawitan Indonesia, Proyek Pengembangan Institut Kesenian Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tahun 1978 / 1979.

 

 

Pindaian ini bisa terlaksana atas bantuan Eko Prasetyo dan Rudy Wiratama Partohardono dari Surakarta yang bisa mengusahakan foto copy dari buku ini. Pindai dilaksanakan di Jakarta tanggal 10 April 2011 oleh B A Soewirjo.

 

 

Kata Pendahuluan di buku tersebut :

 

Seperti telah kita ketahui, bahwa pakeliran ada juga menggunakan medium pokok “rupa”, selain medium pokok lainnya seperti gerak, suara dan bahasa. Kesemuanya itu saling mendukung keberhasilan sajian. Medium rupa dalam wayang mempunyai unsur tatahan, sunggingan dan wanda.

 

Di dalam pakeliran “wanda” sebagai salah satu unsur medium rupa, berperan penting untuk memantapkan “rasa” suatu tokoh. Kemantapan ini bisa dicapai karena ada kesesuaian antara suasana adegan dengan wanda tokoh yang digunakan, di samping juga unsur-unsur penting lainnya, yaitu penyuaraan, sanggit, sabet, sulukan dan lain sebagainya. Dengan demikian jelaslah bahwa ketetapan seorang seniman dalang memilih “wanda” mempunyai andil dalam keberhasilan sajian.

 

Untuk jelasnya di sini kami kemukakan contoh-contoh penggunaan “wanda” dari tokoh Baladewa :

-          Pada adegan yang bersuasana netral “merdika” ( tidak ada “rasa” susah, marah dan sebagainya) digunakan Baladewa wanda “Paripeksa”.

-          Dalam peperangan digunakan Baladewa wanda “Geger”.

-          Untuk menghadiri suatu peralatan, Baladewa wanda “Jagong”.

-          Dalam suasana marah, terkejut, wanda “Kaget” yang digunakan.

 

Dengan demikian jelas bahwa penggunaan wanda itu tergantung pada suasana yang ingin didukung. Tentunya penggunaan wanda seperti tersebut di atas adalah didasari oleh kebiasaan konvensionil dalang-dalang pada waktu terdahulu.

 

Dewasa ini jarang sama sekali seniman dalang memperhatikan masalah ini. Ini bisa kami amati pada survey pendahuluan, yaitu pengamatan terhadap sajian pakeliran, wawancara dengan dalang-dalang muda, adalah jarang memperhatikan masalah wanda tersebut. Salah satu sebab ialah kurangnya informasi tentang wanda.

 

Keadaan semacam ini perlu disesalkan, apalagi sampai saat ini belum ada sama sekali yang menulis tentang “Wanda Wayang”. Ditambah lagi adanya situasi yang mengkhawatirkan, yaitu makin menyusutnya seniman dalang yang tahu tentang “wanda”, karena usia mereka yang kebanyakan sudah lanjut, yaitu lebih dari 65 tahun.

 

Dengan pertimbangan tersebut maka kami juga memilih “wanda wayang” sebagai salah satu sasaran pendokumentasian. Karena terbatasnya dana, tenaga dan waktu, kami juga membatasi sasaran pada “wanda wayang purwa gaya Surakarta” yang terdapat di derah eks Karesidenan Surakarta.

 

Hasil pendokumentasian ini diharapkan bisa merupakan bahan penyusunan “Pengetahuan Wanda Wayang”, untuk melengkapi bahan perkuliahan di Akademi Seni Karawitan Indonesia, khususnya pada Jurusan Pedalangan. Lebih luasnya bagi para calon seniman dan seniman dalang, hasil ini diharapkan juga bisa memacu timbulnya kreativitas dalam sajian.

 

Daerah sasaran kami pilih yang tersebar, dan memiliki banyak dalang yang berpotensi. Informan kami pilih dalang-dalang tua yang mempunyai koleksi wayang lengkap, tahu tentang tatahan dan sunggingan wayang terutama tentang wanda. Setelah diadakan survey pendahuluan, kemudian ditentukan 15 informan yang tersebar di daerah Kabupaten Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Wonogiri, Boyolali dan Surakarta.

 

Di bawah ini kami kemukakan nama, umur dan alamat dalang informan

 

  1. 1.       Bapak Tiksnosudarso, 85 tahun, Jombor, Klaten  *) saat laporan ini dibuat beliau sudah meninggal dunia.
  2. 2.       Bapak Natacarita, 70 tahun, Ceper, Klaten.
  3. 3.       Bapak Mintadiyata, 70 tahun, Manisrenggo, Klaten.
  4. 4.       Bapak Nartosuwiryo, 65 tahun, Ngawangga, Klaten.
  5. 5.       Bapak Sarwodisono, 67 tahun, Manggisan, Klaten.
  6. 6.       Bapak Gondoijoyo, 68 tahun, Karangtalun, Klaten.
  7. 7.       Bapak Gondopandoyo, 85 tahun, Senden, Klaten.
  8. 8.       Bapak Sutino, 65 tahun, Eromoko, Wonogiri.
  9. 9.       Bapak J (cetakan tidak terbaca), 69 tahun, Kedungleri, Wonogiri.
  10. 10.   Bapak Sukarno, 64 tahun, Gombang, Boyolali.
  11. 11.   Bapak Gondowarongko, 63 tahun, Pengging, Boyolali.
  12. 12.   Bapak Gondopawiro, 67 tahun, Karangpandan, Karanganyar.
  13. 13.   Bapak Parnowiyoto, 69 tahun, Manyaran, Wonogiri.
  14. 14.   Bapak Naryocarito, 65 tahun, Kartosuro, Sukoharjo.
  15. 15.   Bapak Yosocarito, 69 tahun, Surakarta.

 

Dalam mengumpulkan data kami adakan wawancara berkisar pada :

Nama wanda, ciri-cirinya, perbedaan dengan wanda yang lain pada tokoh yang sama, penggunaannya di dalam pakeliran, siapa penatah dan penyunggingnya, kapan dibuat, tiruan dari mana, siapa pembuat wandanya dan sebagainya.

 

Selain itu juga diadakan pemotretan untuk tokoh wayang yang sudah mempunyai nama wanda, secara ututh dan bagian-bagian yang menunjukkan ciri khususnya, karena ada sebagian yang belum mempunyai wanda.

 

Wanda wayang adalah merupakan kesatuan unsur-unsur yang terdiri antara lain :

  • ·         Tunduk tengadahnya muka (praupan) wayang,
  • ·         Ukuran dan bentuk sanggul,
  • ·         Ukuran dan bentuk mata,
  • ·         Keadaan badan, yaitu ukuran dan posisinya,
  • ·         Ukuran dan tancap dari leher,
  • ·         Datar dan tidaknya dan panjang dan pendeknya bahu,
  • ·         Bentuk dari perut,
  • ·         Busana yang dipakai,
  • ·         Posisi kaki,
  • ·         Sunggingan.

 

Setiap satu tokoh wayang bisa mempunyai lebih dari satu wanda. Misalnya tokoh Baladewa, mempunyai wanda : Geger, Paripekso, Kaget, Jagong dan sebagainya, yang masing-masing wanda bisa menimbulkan kesan dan penggunaan yang berbeda, walau tokohnya sama.

 

Dari keterangan yang dikumpulkan, sulit untuk diketahui kapan masing-masing wanda dibuat dan siapa pembuatnya. Keterangan yang ada masih simpang siur, sukar untuk bisa dipertanggung jawabkan. Sehingga kami hanya mengutarakan nama wanda, ciri-ciri dan penggunaannya.

 

Laporan kami susun berdasarkan abjad dari nama tokoh wayang dan demikian pula nama wandanya. Dengan menyantumkan ciri-ciri wanda dan penggunaannya.

 

Pada akhirnya tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada para seniman dalang yang telah memberik informasi tentang wanda, dan kepada siapa saja yang telah membantu kami dalam pendokumentasian ini.

 

Team dokumentasi :

  1. 1.       Dr. Soetarno, penganalisa merangkap pembuat laporan.
  2. 2.       R. Sutrisno, penganalisa, pengumpul data merangkap juru potret.
  3. 3.       Bambang Murtiyoso DS., penganalisa.
  4. 4.       Bambang Suwarno, penganalisa.
  5. 5.       Sri Joko Raharjo, pengumpul data.
  6. 6.       Sarwanto, pengumpul data merangkap juru potret.
  7. 7.       Sudarko, pengumpul data.
  8. 8.       Catur Tulus, pengumpul data merangkap juru potret.
  9. 9.       Sukardi Sm., pengumpul data.
  10. 10.   Sumanto, penganalisa merangkap pembuat laporan.
  11. 11.   Rahayu Supanggah, penganalisa merangkap penanggung jawab.

 

Akhir dari Kata Pendahuluan.

 

Setelah Kata Pengantar ada daftar arti kata-kata istilah, misalkan untuk kata-kata yang mulai dengan huruf L :

Lancap                  =  muka menengadah.

Longok                 =  muka agak menengadah ( Lebih tunduk dari lancap ).

Luruh magak      =  muka agak menunduk.

Luruh                    =  muka menunduk.

Lanyap                  =  muka yang tengadah seperti melihat kejauhan.

Lencir                    =  badan tinggi kecil.

…. dan seterusnya

 

 

Contoh uraian tokoh dan salah satu wandanya :

 

Samba wanda Bontit.

Ciri-ciri :

Mata                     -  bedahan brebes nyamar

Raut muka          -  kelihatan tersenyum

Leher                    -  longok

Pundak                 -  lurus

Badan                   -  agak besar

Langkah kaki      -  lebar (njonjong)

Busana                                 -  sumping bunga kluwih, jamang dua, sanggul kecil, gruda mendukung sanggul, pantat besar.

 

Gunanya              : kalau Samba sebagai utusan, atau mencuri.

 

 

 

Sayangnya buku ini dicetak secara teknik stencil ( jaman tersebut ini teknik yang paling memungkinkan untuk menekan dana ) sehingga lampiran foto-foto buku ini tidak tercetak jelas, akibatnya makin tidak jelas ketika difoto copy / dipindai.

 

‘Ebook’ buku ini – tanpa lampiran foto-foto nya – dapat diunduh di URL :

http://www.4shared.com/document/9bienUfB/Wanda_Wyng_Surakarta_ASKI.html

 

 

Daftar nama tokoh dan wandanya yang diuraikan dalam buku ini :

 

Abimanyu wanda Bontit, Banjet, Brebes, Jayeng gati, Kanyut, Malatsih, Mangu, Mriwis, Panji, Rangkung, Bulus.

Anoman wanda Bambang, Barat, Manuko, Prambanan (Reco, Bambang).

Aswatama wanda Merong.

 

Bagong wanda Gembor, Ngrengkel, Sembada, Gilut, Jembar

Baladewa wanda Bantheng, Geger, Jagong, Kaget, Jago, Sembada, Sepuh.

Bambangan wanda Maya, Miling, Padasih.

Banuwati wanda Berok, Golek,

Bilung wanda Giti.

Bima wanda Bambang, Bedhil, Bugis, Gendhu, Gurnat, Jagong, Jagor, Kedhu, Ketug, Lindhu, Lindhu Panon, Lindhu Bambang, Lintang (Luntang), Panon, Mimis, Thathit.

Bratasena wanda Angkawijaya, Babad,Lindhu Bambang, ? (biasa), Bocah, Bondhan, Gurnat, Jaka, Lindhu Panon, Pecah Bungkus, Putran, Sembada.

Burisrawa wanda Canthuk.

Boma wanda Encik, Sumilih, Wingit/Sutijo.

 

Cakil wanda Bathang, Kikik, Panji, Gunung Sari.

Cangik wanda Cangik, Mangir.

 

Darmakusuma wanda Dhanyang, Demit, Deres, Dukun, Jimat, Panuksma, Puthut, Rangkung.

Denawa Nom wanda Barong, Blebar, Jaka, Kopek.

Denawa Raton wanda Bagus, Barong, Begog, Endog, Jaka, Macan, Mendhung, Wewe.l

Durga wanda Belis, Gedrug, Gidrah, Murgan, Surak, Wewe.

Dursasana wanda Gambyong, Golek, Canthuk.

Durmagati wanda Poncol.

Duryudana wanda Jaka, Janggleng, Jangkung, Rangkung.

 

Gareng wanda Prekul, Wregul, Gembor, Gembor Alit, Gondok, Kancil, Gulon, Wewe.

Gathutkaca wanda Gandrung/Gembleng, Gelap, Jaka, Guntur, Kilat, Sampluk, Pideksa, Thathit.

Guru wanda Karno, Rama, Reca/Arca.

 

Hudawa wanda Jaka, Jaran, Lapak, Lare, Tandang.

 

Indrajit wanda Setan.

 

Jayajatra wanda Bantheng.

Janaka wanda Bronjong, Gendreh, Janggleng, Jimat, Kadung, Kanyut, Kedhu, Kinanthi, Lintang, Malat, Malatsih, Mangu, Mangungkung, Muntap.

 

Kongso wanda Bogis, Belis.

Karno wanda Bedru, Geblag, Lonthang, Rangkung.

Kakrasana wanda Bantheng, Jagong, Sembada, Jaladara, Kilat, Slebrak.

Kartamarma wanda Bukuh, Merang.

Kayon wanda Jaler, Estri/Wedok.

Kenyawandu wanda Surak.

Kresna wanda Banjet, Botoh, Bontit, Surak, Gendreh, Jagong, Jangkung, Lendeh, Mangu atau Rondhon Sore, Mawur, Rondhon, Wedok.

Kumbakarno wanda Begog, Jaka, Wewe.

Kurupati wanda Sembada, Jangkung, Rangkung.

 

Limbuk wanda Gendroh, Bethem.

 

Nakula wanda Genes.

Narada wanda Reca.

Narayana wanda Bocah, Geblag, Widarakandang, Jaka, Srengat, Sembada.

 

Parekan wanda Rintik, Runtut.

Petruk wanda Genjong, Bagus, Cangak, Bujang, Sambel Goreng, Jamblang, Moblong, Jlegong, Boging.

Prabawa wanda Drigul, Bundhel.

Pragota wanda Poncol, Bundhel.

Permadi wanda Kadung, Jangkung, Rangkung, Jaka, Mriwis, Jayus, Mesem/Kinanthi, Pecel, Pengawe, Pengarih, Pengasih, Temanten.

Puntadewa wanda Jaka, Kinanthi, Lare, Malatsih, Miling, Putut.

 

Rara Ireng wanda Lentreng.

Rahwana wanda Begal, Belis, Bengis, Bogis, Gambyong, Klana.

 

Samba wanda Banjet, Bontit, Geblag, Gunung Sari, Lindur, Rengat, Layar, Sembada.

Semar wanda Brebes, Mega, Dhunuk, Dhukun, Glegek, Paled, Jenggel, Mesem, Mendhung, Jenggleng, Wedhon, Demit.

Sembadra wanda Banjet, Lanceng, Lentreng, Rangkung.

Setyaki wanda Akiki, Mimis, Wisuna

Srikandhi wanda Cemuris, Cemuris Nem, Nglanangi, Patrem

Siti Sundari wanda Gandes.

 

Togog wanda Barong, Gropak.

 

‘Ebook’ lain tentang (boneka pipih) wayang kulit yang sudah pernah disajikan Wayang Pustaka :

 

‘Ebook’ ‘ Pitakonan Lan Wangsulan Bab Wanda Wayang Kulit Purwa ‘ oleh R. Sutrisno (tahun 1964) di URL :

http://wayangpustaka.wordpress.com/2009/12/05/pitakonan-lan-wangsulan-bab-wanda-wajang-purwa-r-sutrisno/

 

‘Ebook’ ‘ Bab Natah Lan Nyungging Ringgit Wacucal ‘ oleh Sukir (tahun 1930an, 1980) di URL :

http://wayangpustaka.wordpress.com/2009/11/10/bab-natah-sarta-nyungging-ringgit-wacucal/

 

‘Ebook’ ‘ Princening Gambar Ringgit Wacucal ‘ oleh RM Soelardi (tahun 1933, 1953) di URL :

http://wayangpustaka.wordpress.com/2010/03/05/ebook-wayang-printjening-gambar-ringgit-wacucal-1933-1953-karya-rm-soelardi/

S.P. Adhikara; ‘ Nawaruci ‘ ; Penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) ; Bandung ; 1984 ( cetakan ke 1 ) ; 97 halaman ; bergambar wayang.

 

Pengantar Admin Wayangpustaka :

 

Ada tiga buku karya S.P. Adhikara mengenai cerita Bima mencari air suci atas perintah Pendita Durna. Yang pertama terbit berjudul ‘ Dewaruci ‘ berisi terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia atas Serat Bimasuci karya pujangga Jawa bernama Jasadipoera I pada tahun 1793. Kemudian yang kedua terbit adalah judul ‘ Unio Mystica Bima ‘ berisi analisis Serat Bimasuci tersebut. Yang ketiga adalah judul ‘ Nawaruci ‘ berisi terjemahan bebas ( dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia ) cerita Nawaruci yang aslinya karya Empu Syiwamurti dari Bali pada tahun antara 1500 ~ 1613. Dr. Prijohoetomo yang menerjemahkan dari bahasa Kawi ke bahasa Belanda dalam disertasinya tahun 1934. Ketiga buku tersebut diterbitkan oleh Penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) antara tahun 1983 ~ 1984 ( dari tanda tahun di Prakata S.P. Adhikara )

 

Namun, selain tiga buku terbitan Penerbit ITB tersebut, ternyata S.P. Adhikara mengarang satu buku lagi berjudul ‘ Analisis Serat Bimasuci ‘ , sekali lagi S.P. Adhikara menganalisa Serat Bimasuci. Buku ini diterbitkan oleh ‘ Institut Indonesia ‘ di Yogyakarta pada tahun 1986. Sinopsis ini pernah dibawakan sebagai makalah pada pertemuan di Lembaga Javanologi, Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Panunggalan, Yogyakarta pada tanggal 24 Oktober 1986.

 

Siapakah S.P. Adhikara ? Tidak ada data atau keterangan mengenai beliau di keempat buku karya beliau tersebut di atas.

 

Secara bertahap Admin Wayangpustaka akan menyajikan keempat buku tersebut.Kali ini Admin menyajikan judul ‘ Nawaruci ‘ dengan alasan bahwa cerita Nawaruci dari Bali ini muncul lebih dahulu dibanding cerita Bimasuci dari Jawa. Nanti pembaca bisa membaca tulisan tentang persamaan dan perbedaan cerita Nawaruci dan Bimasuci di bukunya berjudul ‘ Unio Mystica Bima ‘ .

 

 

 

Prakata buku Nawaruci karangan S P Adhikara :

 

Cerita Nawaruci yang kami tulis dalam buku ini merupakan terjemahan utuh naskah cerita Nawaruci tulisan Empu Syiwamurti yang terdapat dalam disertasi Prijohoetomo. Pada tahun 1934, Prijohoetomo – almarhum Profesor Dr. Prijohoetomo, guru besar Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada – berhasil mendapat gelar doktor dalam bidang sastra dan filsafat di Rijksuniversiteit di Utrecht negeri Belanda. Adapun judul disertasinya : Nawaruci, sedang sub-judulnya, setelah kami terjemahkan, ialah ‘ Pengantar. Terjemahan Teks – Prosa Jawa – Tengahan. Dibandingkan dengan Bimasuci dalam Metrum Jawa Kuna. ‘

 

Naskah asli cerita Nawaruci masih ditulis tangan di atas daun lontar, dalam bahasa dan huruf Kawi dan dalam keadaan menyedihkan sejak lontar-lontar tersebut diperoleh. Banyak halaman yang hilang, tulisan yang tidak terbaca lagi, dan halaman-halaman yang rusak dimakan ngengat. Meskipun demikian dari beberapa naskah yang ada, Prijohoetomo telah berhasil menyusun kembali naskah cerita Nawaruci dan mengalihtuliskan (transkripsi) ke dalam huruf Latin dan menterjemahkan naskah ini ke dalam bahasa Belanda.

 

Terjemahan cerita Nawaruci ke dalam bahasa Indonesia ini kami lakukan seharfiah mungkin. Istilah-istilah Kawi sejauh mungkin kami pertahankan dan kami tuliskan arti istilah-istilah tersebut, sesuai dengan yang terdapat dalam kamus Kawi. Pada umumnya Empu Syiwamurti sudah memberikan arti istilah Kawi yang nampaknya tidak umum dipakai, misalnya pancanhaka, dwi-dasyawarsa, murcha, syona kanaka warsa, dan lain sebagainya, tetapi untuk istilah natadewata, caturlokapala, panca-resi, jnana, jnana nirmala, siddha-purusa, dan sebagainya, tidak diberi penjelasan lebih lanjut, sehingga terpaksa kami carikan artinya dalam kamus Kawi. Dengan demikian kami berusaha agar terjemahan cerita ini seolah-olah tulisan Empu Syiwamurti sendiri, dalam bahasa Indonesia, pada tahun 1500 – 1613.

 

Cerita Nawaruci digubah sebagai scenario atau lakon untuk pagelaran wayang kulit, jadi dapat dibagi menjadi babak-babak dan adegan-adegan. Prijohoetomo membagi certita tersebut menjadi delapan bab atau babak dan menurut pengamatan kami, terdapat tidak kurang dari empat puluh adegan. Kalau tiap-tiap adegan memerlukan waktu sepuluh sampai lima belas menit, maka pagelaran wayang kulit dengan lakon Nawaruci cukup padat untuk dimainkan semalam suntuk. Itulah sebabnya cerita Nawaruci ini ditutup dengan penggambaran suasana pagi hari menjelang matahari terbit. Dua adegan terakhir yang menggambarkan pesta untuk menyambut kedatangan kembali Bima dan penampilan Kunti bersama Dropadi yang telah selesai bersolek dan nampak cantik seperti puteri-puteri wayang itu, dapat diperagakan berturut-turut sebagai tari kemenangan Bima atau ‘ tayungan ‘ dan menarikan wayang golek terbuat dari kayu menggambarkan Dropadi. Dalam bahasa Jawa golek mempunyai dua arti, yaitu anak-anakan yang terbuat dari kayu atau dapat berarti ‘ mencari ‘. Maka dalang yang pada akhir pertunjukan wayang kulit menarikan wayang golek tersebut dapat diartikan ‘ Carilah ( golekana, bahasa Jawa ) inti sari cerita yang dipertunjukkan semalam suntuk tadi ‘.

 

Mencari inti sari suatu cerita itu adalah kata-kata lain untuk menganalisis cerita itu. Analisis cerita Nawaruci kami sertakan sebagai lampiran buku ini, mengingat tulisan ini ditujukan kepada putera-puteri bangsa Indonesia, yang kurang atau tidak mengerti bahasa Jawa, agar mereka dapat menikmati cerita klasik Indonesia berasal dari daerah Jawa – Bali.

 

Tulisan Empu Syiwamurti tersebut diawali dengan sebuah puji doa : ‘ Awighnam astu namas siddham ‘ ; artinya : ‘ Semoga tiada rintangan segala puji telah sempurna dipanjatkan ‘, dan ditutup dengan sebuah kolofon, yaitu catatan dari penulis cerita atau dari yang menulis ulang cerita serta tanggal selesai menulis cerita dan tempat menulis menulis ceritanya dan ditutup dengan doa puji. Akan tetapi sayang tahun selesainya mengutip atau menulis ceritanya tidak jelas, sebab hanya dinyatakan dengan dua angka. Menurut hasil penelitian Prijohoetomo cerita Nawaruci itu ditulis antara 1500 – 1613.

 

Cerita Bimasuci yang ditulis oleh pujangga Jasadipoera I berbentuk puisi dalam bahasa Jawa Baru dan dalam metrum macapat pada tahun 1793, dan dalam metrum Jawa kuna pada tahun 1803 A.D. , merupakan saduran bebas cerita Nawaruci. Maksud pujangga Jasadipoera I menulis cerita Bimasuci berbentuk puisi dalam metrum macapat itu agar supaya cerita itu dapat mudah diingat karena dapat dinyanyikan, khususnya inti sari cerita tersebut. Cerita Bimasuci ini sudah kami terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan kami beri judul Dewaruci agar seragam dengan judul terjemahan cerita Nawaruci ini, dan diterbitkan oleh penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) juga.

 

Dua karya klasik Indonesia berasal dari Jawa – Bali tersebut mempunyai keindahan masing-masing dan dalam menterjemahkan kedua karya sastra tersebut kami berusaha untuk tidak merusak keindahan yang ada dalam tulisan itu.

 

Desember 1984

S.P. Adhikara.

 

 

 

 

Kolofon (asli) di naskah Nawaruci :

 

Demikianlah Ilmu Kebenaran Tanpa Cacat ( Tattwajnyana nirmala ), ditulis oleh Mpu Syiwamurti.

 

Selesai menulis Sang Hyang Tattwajnyana nirmala pada tahu Syaka 55, bulan Syrawana, tanggal 14, Hari Sabtu, wuku Wugu. Ditulis di kota Klungkung ( Swecchapura ), di tepi sungai, sebelah timur jalan. Maafkan kalau tulisan ini jelek serta segala kekurangannya, mengingat pekerjaan ini adalah dari seorang yang bodoh dan hanya sedikit memiliki inlu, yang didorong oleh keinginan turut menulis, yang bernama Jemuharsa.

 

Om Saraswatyai namah

Om gemung Ganapataye namah

Om Syri-Gurubhyo namah

 

Terjemahan :

Om, hormat dan puji kepada Saraswati

Om gemung, hormat dan puji kepada Ganapati

Om, hormat dan puji kepada Guru-guru, yang terhormat.

 

 

 

Pindaian / ‘ebook’ buku ini bisa diunduh dalam dua file di URL :

http://www.4shared.com/document/tIjSLJaX/Adhikara_Nawaruci_0147.html

http://www.4shared.com/document/pT0s9jkx/Adhikara_Nawaruci_4897.html

 

 

Salam dari Admin.

 


Blog Stats

  • 509,800 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 48 other followers

Halaman dilihat :

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 48 other followers