Pustaka Wayang

Profil Penulis Pitoyo Amrih.

(pertama diunggah 17 Aug 2009 : Budi Adi Soewirjo)

.
Pitoyo Amrih mengenal wayang purwa sejak kecil. Pada masa kecilnya hampir setiap minggu dia menonton pagelaran wayang purwa atau mendengarkannya di siaran radio, di samping dia juga banyak membaca ( serta mengkoleksi ) buku-buku wayang purwa.

.



Pitoyo Amrih lahir di Semarang, pada tanggal 13 Mei 1970, dan tinggal disana sampai lulus SMA Negeri 1 Semarang. Melanjutkan pendidikan formalnya di Institut Teknologi Bandung, Jurusan Teknik Mesin dan menyelesaikan studi sarjana strata 1 dengan konsentrasi tugas akhir bidang ilmu logam. Saat ini bekerja di salah satu perusahaan / pabrik farmasi di Surakarta, memimpin bagian engineering / teknik.
.
Bagi dia dunia wayang adalah dunia yang memikat, dan dia menuliskannya sebagai berikut ( kutipan dari pengantar dia di ebook Bisma Dewabrata ) :

“ Kisah kolosal Harjunasasra, Ramayana, Mahabarata dan Baratayudha sampai jaman keemasan Parikesit adalah suatu kisah karya pujangga yang selalu menakjubkan. Kisah dunia wayang yang dapat membuat kita selalu bercermin dan mawas diri. Pertama kali dituliskan oleh pujangga India, kemudian pujangga-pujangga Jawa, Mpu Kanwa, Mpu Prapanca, Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, menuliskannya kembali dalam versi Jawa.

Adalah kisah kehidupan dunia wayang yang seperti juga kita manusia, selalu saja bertemu kebaikan dan keburukan, kebijakan dan ketamakan. Bertutur tentang kehidupan lebih dari sepuluh generasi, ribuan tokoh dan karakter. Tempat berinteraksinya beberapa ras atau bangsa, bangsa samudra, bangsa raksasa, bangsa gandarwa, bangsa jin, bangsa banaspati, yang kesemuanya hidup dalam satu dunia, dunia wayang.

Sejak kecil, kisah-kisah dunia wayang selalu memberikan saya inspirasi dan obsesi tersendiri. Memberikan ide kepada saya untuk mencoba melihat dan menyelami masing-masing tokoh dan karakter secara individu. Kisah tentang keteladanan, kemarahan, kesendirian, kecongkakan, kejujuran, integritas, pengorbanan, kebijaksanaan, kebimbangan, dendam, kekecewaan dan pencarian. Tersaji menjadi semacam sebuah novel. “


Dia terobsesi untuk membuat sequel novel wayang purwa dipersembahkan untuk Indonesia agar generasi muda Indonesia bisa lebih mengenal wayang ( dan kemudian mencintainya ) sebagai kesenian lokal Indonesia / Jawa, terlebih lagi terdorong keprihatinan dia bahwa generasi muda Indonesia saat ini lebih mengenal tokoh idola asing di banding tokoh nasional / tradisional / wayang. Dia mencita-citakan dan sudah mempunyai rencana garis besar untuk menulis cerita wayang purwa lengkap yang terbagi menjadi 15 sequel novel wayang. Masing-masing novel bisa dinikmati sendiri, tapi kesemuanya saling terkait satu sama lain. Empat novel diantaranya sudah terbit


Antareja-Antasena , Jalan Kematian Para Ksatria
,
http://www.facebook.com/note.php?note_id=116382079020 
atau
http://wayangpustaka.wordpress.com/2012/05/31/antareja-antasena-jalan-kematian-para-ksatria/?preview=true&preview_id=1088&preview_nonce=99bb96852c

.
Narasoma – Ksatria Pembela Kurawa
http://www.facebook.com/note.php?note_id=116386974020 
atau
http://wayangpustaka.wordpress.com/2012/06/01/narasoma-ksatria-pembela-kurawa-oleh-pitoyo-amrih-2007/

.
Perjalanan Sunyi Bisma Dewabrata (Ebook Novel)
http://www.facebook.com/note.php?note_id=116763889020 
atau
http://wayangpustaka.wordpress.com/2012/06/01/perjalanan-sunyi-bisma-dewabrata-oleh-pitoyo-amrih-2007/

.
dan The Darkness of Gatotkaca – Sebuah Novel Pahlawan Kesunyian,
http://www.facebook.com/note.php?note_id=116768039020 
atau
http://wayangpustaka.wordpress.com/2012/06/01/the-darkness-of-gatotkaca-oleh-pitoyo-amrih/

Daftar Buku karangan Pitoyo Amrih yang tertampilkan di Google Books :
http://books.google.com/books/p/pub-6218744198074454?q=+inauthor%3A%22Pitoyo+Amrih%22&source=gbs_authrefine_t

.
Novel ke-lima yang mengisahkan pertempuran Arjuna dan Karna sedang dalam penyusunan. Diharapkan bisa selesai akhir tahun 2009 ini.

[ pemutakhiran 06 Juni 2012 }

Data buku ” Pertempuran 2 Pemanah, Arjuna – Karna “ yang terbit pada Pebruari 2010 dapat Anda baca di :
http://wayangpustaka02.wordpress.com/2012/06/05/871/

[ akhir pemutakhiran 06 Juni 2012 ]

.

Dalam menceritakan kembali cerita wayang purwa Pitoyo Amrih mengupayakan tertib pada pakem Yogya-Surakarta. Menurut dia, dalam menulis dia berusaha menulis dengan bahasa lugas, agar bisa diterima oleh terutama generasi muda ( menurut dia : mengambil inspirasi gaya tulisannya J.R.R. Tolkiens di Lord of The Ring atau J.K. Rowling dengan Harry Potter-nya ). Di bagian / setting yang dia detailkan pada beberapa karakter, dia menguraikannya atas persepsi / imajinasi / interpretasi nya sendiri atas karakter tersebut ( misal kebimbangan Narasoma, atau kesendirian Gatotkaca, dan sebagai nya ).


( Ada satu buku wayang tulisan dia yang menarik. Dia menulis juga buku berjudul Kebaikan Kurawa – Mengungkap Kisah-kisah Yang Tersembunyi

http://www.facebook.com/note.php?note_id=116774639020 
atau
http://wayangpustaka.wordpress.com/2012/06/01/kebaikan-kurawa-mengungkap-kisah-kisah-yang-tersembunyi-oleh-pitoyo-amrih-2007/

, yang intinya mengajak kita mencoba mencari hal-hal baik yang mungkin ada (bahkan) di sisi / pihak yang selama ini dianggap selalu buruk ).


Pitoyo Amrih tidak hanya menyukai buku wayang. Dia juga banyak membaca buku-buku lain yang bisa memberi inspirasi antara lain buku dari penulis Stephen Covey, Emha Ainun Majid, Umar Kayam, Jalalludin Rakhmad, Gde Prama, Andrias Harefa, Mohammad Sobari, Nadirsyah Hosen, Rhenald Kasali, Paul Strathern, Jostein Gaardner, Andrie Wongso, J.R.R Tolkiens, J.K. Rowling, serta buku-buku lain tentang kearifan Jawa. Oleh karena itu tidak mengherankan jika dia juga menulis buku-buku tentang kearifan Jawa serta buku mengenai pemberdayaan diri dan keluarga :


Ilmu Kearifan Jawa – Ajaran Adiluhung Leluhur
,
http://www.facebook.com/note.php?note_id=117157704020 
atau
http://wayangpustaka.wordpress.com/2012/06/01/ilmu-kearifan-jawa-ajaran-adiluhung-leluhur-oleh-pitoyo-amrih-2008/


The 7 Habits of Highly Effective People Versi Semar & Pandawa
,
http://www.facebook.com/note.php?note_id=116949549020 
atau
http://wayangpustaka.wordpress.com/2012/06/01/ilmu-kearifan-jawa-ajaran-adiluhung-leluhur-oleh-pitoyo-amrih-2008/


Pitoyo Amrih saat ini tinggal di Surakarta bersama isteri dan seorang anaknya. Dia bisa dihubungi di alamat email : author@pitoyo.com .

(akhir unggah 17 Aug 2009)

The 7 Habits of Highly Effective People Versi Semar & Pandawa oleh Pitoyo Amrih.

 (diunggah pertama 17 Aug 2009 : Budi Adi Soewirjo)

 

Data buku :

Judul buku : The 7 Habits of Highly Effective People Versi Semar & Pandawa
Penulis : Pitoyo Amrih
Penerbit : Pinus Publisher, Yogyakarta, 2008
Nomor ISBN : 9799901499, 9789799901491
Jumlah halaman : 227 halaman

 

A.

Editor Pinus Publisher menulis :

Tujuh Kebiasaan efektif Stephen Covey telah menginspirasi kita dan jutaan manusia dunia tentang bagaimana menjalani hidup yang efektif dan berkualitas. Dan kita sendiri hamper lupa, bahwa ajaran Covey telah termaknai dalam nilai-nilai budaya ketimuran yang tercermin dalam perilaku tokoh wayang Semar dan Pandawa.

Buku “The 7 Habits of Highly Effective People Versi SEMAR dan PANDAWA” akan memberikan inspirasi persis seperti pemikiran Covey tentang perubahan paradigma yang membawa individu atau kelompok agar lebih efektif dalam menjalani kehidupan. Bedanya buku ini tidak mengambil ide kepemimpinan dari paradigma dunia barat, tetapi lewat ajaran filosofis ketimuran dengan mengambil karakter dalam tokoh kisah pewayangan. Seperti Semar, dewa yang memilih menitis diri sebagai manusia merupakan sifat rendah hati.

Sifat ini identik dengan nilai kebesaran jiwa yang menyempurnakan tujuh kebiasaan efektif Stephen Covey. Kekompakan Pandawa merupakan pencerminan dari nilai “Sinergi”. Pilihan Yudhistira menerima permainan dadu identik dengan nilai “Berpikir Menang-Menang”. Kebiasaan ksatria menegmbangkan diri identik dengan nilai “Mengasah Gergaji” dan masih banyak ulasan menarik tentang tujuh kebiasaan efektif lainnya.

Alhasil, kelebihan buku ini dapat dengan mudah dicerna dan diaktualisasi karena memiliki nilai kedekatan emosi, sifat dan karakter ketimuran. Sehingga pada tingkatan aplikasi sangat mudah untuk dilakukan.

 

B.

Pratinjau Terbatas di Google Books bisa dilihat di :
http://books.google.com/books/p/pub-6218744198074454?id=fB8XaAgDpz4C&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_v2_summary_r&cad=0#v=onepage&q=&f=false

menampilkan sebagian halaman buku ini.

 

C.

Profil ( ‘ bentuk rupa ‘ ) penulis Pitoyo Amrih dan daftar buku hasil karyanya yang lain bisa di baca di : http://www.facebook.com/note.php?note_id=116180084020

 

(akhir unggah 17 Aug 2009)

Ilmu Kearifan Jawa – Ajaran Adiluhung Leluhur ; oleh Pitoyo Amrih.

(diunggah pertama 19 Aug 2009 : Budi Adi Soewirjo)

 

Data buku :

Judul buku : Ilmu Kearifan Jawa, Ajaran Adiluhung Leluhur
Penulis : Pitoyo Amrih
Penerbit : Pinus, Yogyakarta, Nopember 2008
Nomor ISBN : 978-979-18676-0-3
Jumlah halaman : 179 halaman

.

 

A.

Editor penerbit Pinus memaparkan isi buku :

Kini jagad alam dan kehidupan telah banyak membawa petaka bagi manusia. Petaka terjadi karena manusia tidak lagi mengindahkan dirinya sebagai makhluk yang hidup bersinergi dengan sesamanya dan alam. Untuk itulah kita perlu kembali memahami ajaran para leluhur untuk saling menghargai dan menghormati di dalam menjaga jagad ini.

Kearifan-kearifan Jawa merupakan hal penting yang telah diwariskan para leluhur yang merupakan kesadaran lama untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian kehidupan manusia. Buku ini mengulas kearifan-kearifan leluhur Jawa dalam melihat tanda alam, kearifan dalam menggapai tujuan, kearifan saat didzalimi, kearifan saat lupa diri, kearifan saat menghadapi cobaan, dan kearifan dalam memimpin. Berbagai kearifan tersebut merupakan satu kesatuan penting yang harus diwarisi dan diamalkan bagi kita semua dalam menjalani kehidupan sekarang yang telah banyak menghadapi petaka.

Lebih menariknya, kearifan-kearifan Jawa yang sarat dengan makna kebijaksanaan tersebut diulas lewat sanepo-sanepo Jawa seperti : Kali Ilang Kedhunge, Murah Kang Sarwo Tinuku, Wani Ngalah Dhuwur Wekasane, Adigang Adigung Adiguna, Urip Sawang Sinawang, dan lain-lain. Diterangkan dengan jelas dan penuh penghayatan oleh penulis.

Buku yang akan menghantarkan kita kembali pada ajaran-ajaran adiluhung para leluhur yang sarat dengan makna dan bermanfaat bagi kita untuk menyelamatkan kehidupan manusia dari berbagai petaka.

 

B.

Profil ( ‘ bentuk rupa ‘ ) penulis Pitoyo Amrih dan daftar buku hasil karyanya yang lain bisa di baca di :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=116180084020

 

(akhir unggah 19 Aug 2009)

Kebaikan Kurawa – Mengungkap Kisah-kisah yang Tersembunyi oleh Pitoyo Amrih.

(diunggah pertama 18 Aug 2009 : Budi Adi Soewirjo)

.

 

Data buku :

Judul buku : Kebaikan Kurawa – Mengungkap Kisah-kisah yang Tersembunyi
Pengarang : Pitoyo Amrih
Penerbit : Pinus Publisher, Yogyakarta, 2007
Nomor ISBN : 9799901421, 9789799901422
Jumlah halaman : 191 halaman

 

A.

Editor Pinus Publisher menulis :

Dalam kisah pewayangan tokoh Kurawa mempunyai sifat buruk, jelek, jahat, dan tidak pantas dicontoh. Ternyata di sisi lain Kurawa mempunyai perilaku yang patut dicontoh. Seperti, Duryudana adalah anak sulung dari Kurawa yang bertanggung jawab, Dursasana adalah adik yang sangat patuh, Citraksa Citraksi adalah Kurawa yang sopan, Yuyutsu adalah satu-satunya Kurawa yang selalu mau belajar. Demikian pula Patih Sangkuni bagaimana ia sosok yang sejak kecil telah mengalami ketidakadilan di keluarganya dan sempat dipermalukan oleh Pandu.

Buku ‘Kebaikan Kurawa’ akan mengungkap kisah-kisah yang tersembunyi dari Kurawa. Menjelaskan watak Kurawa yang selama ini dianggap orang jahat, ternyata ada hal-hal yang patut dicontoh. Menggugat image atas Kurawa yang selama ini selalu dalam kondisi yang tidak menyenangkan.

Penguasaan penulis tentang dunia wayang, membuatnya begitu jeli mencermati bahwa sesungguhnya di sisi lain dunia Kurawa masih banyak kisah-kisah kebaikan Kurawa yang belum terungkap. Yang lebih penting, penulis memaparkan secara detail bagaimana latar belakang sejarah sehingga Kurawa dapat berlaku jahat, menyerang, arogan, bahkan akhirnya memusuhi Pandawa.

Buku kontroversial yang dikemas secara menarik, singkat, dan detail. Membaca buku ini, pembaca akan diajak secara terbuka memahami siapa dan bagaimana Kurawa yang sesungguhnya. Selain itu dapat menafsir dalam kehidupan tidak selamanya orang jahat itu dijauhi dan tidak patut dicontoh.

 

B.

Komentar Pembaca :

Saras , dari sumber : goodreads, menulis pendapatnya tentang buku ini :

Buku yang bagus untuk suplemen menikmati Mahabharata.. Perjalanan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda…

Ketidakpedulian adalah lintah yang menyerap cahaya kehidupan, andai Kurawa hidup dalam keluarga penuh kasih,apakah kita mengenal tragedi Kurusetra? Pelajaran yang baik untuk kita semua.

 

C.

Pratinjau Terbatas buku ini di Google Books:
http://books.google.com/books/p/pub-6218744198074454?id=2TQ-4CkAeEcC&printsec=frontcover&dq=inauthor%3A%22Pitoyo+Amrih%22&hl=id#v=onepage&q=&f=false

menampilkan sebagian halaman buku tersebut.

 

D.

Profil ( ‘ bentuk rupa ‘ ) penulis Pitoyo Amrih dan daftar buku hasil karyanya yang lain bisa di baca di :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=116180084020

 

(akhir unggah 17 Aug 2009)

The Darkness of Gatotkaca, oleh Pitoyo Amrih.

(diunggah pertama 18 Aug 2009 : Budi Adi Soewirjo)

 

Data buku :

Judul buku : The Darkness of Gatotkaca – Sebuah Novel Pahlawan Kesunyian.
Pengarang : Pitoyo Amrih
Penerbit : DIVA Press, Yogyakarta,
Nomor ISBN : 979-963-639-0
Jumlah halaman : 416 halaman
Ukuran buku : 14 x 21 cm

 

A.

Penulis memberikan paparan isi buku :

Gatotkaca adalah seorang patriot dengan kelahiran yang luar biasa. Kesaktian bangsa dewa mempercepat proses dewasanya. Dia adalah putra kedua Raden Bima, kerabat kedua Pandawa. Lahir dari ibu keturunan bangsa raksasa bernama Dewi Arimbi: seorang ibu yang hidup selamanya dalam kemelut rasa bersalah karena tidak pernah bisa menimang dan menemani masa kecil sang Gatotkaca.

Gatotkaca adalah seorang kesatria. Ia memiliki kesaktian yang luar biasa. Tak ada senjata yang mampu melukainya, kecuali satu, tombak Konta Wijayadanu. Senjata yang memang disiapkan menembus kulit tubuhnya. Dibuat pula oleh bangsa dewa.

Gatotkaca adalah seorang pahlawan. Dia menjadi benteng bagi semua keluarga dan sesepuhnya. Dia membela setiap jengkal wilayah negaranya. Dia sangat disiplin menjaga amanah. Loyal terhadap segala apa yang dijunjungnya. Membela setiap kebenaran. Menghancurkan setiap angkara murka.

Tapi, Gatotkaca selalu hidup dalam kesendirian! Dia selalu memendam dan menekan setiap kecewa di dasar hatinya. Tak ada orang di sekitarnya yang diajaknya berbagi. Dia terlalu angkuh untuk bisa mengutarakan setiap perasaannya. Dia selalu menelan beban rasa bersalah dalam dirinya. Dia selalu merasa hidup sendiri di tengah kehangatan keluarganya: meaningless, lonely, stillness, and darkness…

Novel sisi gelap Gatotkaca ini disajikan dengan amat menggelora, penuh kejutan, ledakan emosi, dan sekaligus nestapa. Membaca novel epos ini, niscaya akan menghadirkan ide dan inspirasi pada kita semua untuk mencoba melihat dan menyelami masing-masing tokoh dan karakter dalam kehidupan ini: dari keteladanan, kemarahan, kesendirian, kecongkakan, kejujuran, integritas, pengorbanan, kebijaksanaan, kebimbangan, dendam, kekecewaan, dan pencarian makna dan tujuan hidup.

.

 

B.

Profil ( ‘ bentuk rupa ‘ ) penulis Pitoyo Amrih dan daftar buku hasil karyanya yang lain bisa di baca di :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=116180084020

 

(akhir unggah 18 Aug 2009)

Perjalanan Sunyi Bisma Dewabrata, oleh Pitoyo Amrih.

 

(pertama diunggah 17 Aug 2009 : Budi Adi Soewirjo)

 

Data buku :

Judul Buku : Perjalanan Sunyi Bisma Dewabrata
Format : EbookNovel Acrobat PDF
Pengarang : Pitoyo Amrih
Penerbit : Pitoyo Ebook Publishing, Surakarta, 2007
Nomor ISBN : 978-979-17910-0-7 , 9789791791007 .
Jumlah halaman : 510 halaman

.

 

A.

Penulis sedikit memberikan paparan akan buku nya ini :

Ketika tahta Hastinapura yang menjadi haknya, dilepaskannya.
Ketika dia bersumpah untuk tidak akan pernah menikah, agar tak ada keturunannya yang menuntut tahta Hastinapura.
Apalagi tujuan hidup yang tersisa, yang menjadi semangat hari demi hari menjalani hidupnya yang begitu lama.

Cerita tentang pengabdian Bisma Dewabarata yang menjadi cermin kehidupan kita.

 

Simak penggalan kisah itu…

________________________________________

….Perlahan Jahnawi meletakkan sang bayi di atas batu besar itu. Tak lama kemudian berdiri. Wajah Santanu tampak tegang, seperti semakin khawatir atas apa yang akan dilakukan istrinya.

“..saatnya aku harus pergi kakang…, terima kasih telah menemaniku menjalani semua ini,.. asuh baik-baik anak kita…” sejenak Jahnawi berhenti menarik nafas, “..aku menamainya Dewabrata…”

Belum juga Santanu sempat membuka mulut dan melangkah maju, tiba-tiba dari posisinya berdiri, Dewi Jahnawi melompat dengan posisi terlentang menuju ke arah derasnya sungai Gangga. Hanya dalam sekejap tubuh Jahnawi sudah tak lagi nampak tertelan ganasnya aliran sungai itu.

Santanu yang semula terbengong kali ini terlihat badannya gemetar dan terjatuh pada posisi berlutut. Dia seperti tak kuasa lagi menahan keterkejutannya atas apa yang baru saja dialaminya. Sementara sang bayi yang bernama Dewabrata itu tak henti-hentinya menangis keras. Sekuat tenaga Santanu setengah merangkak mendekati sang bayi. Derasnya air sungai itu terasa semakin mengerikan bagi mata dan telinga Santanu. Dengan cepat ditariknya selimut sang bayi, dan didekapnya erat-erat Dewabrata. Gemetar tubuh Santanu terlihat jelas sambil memeluk Dewabrata yang tak henti-hentinya menangis.

________________________________________

 

Atau ketika kisah melegenda itu kembali terkuak,.. tewasnya Dewi Amba dari tangan Bisma..!

________________________________________

….Dalam kegugupan yang tampak semakin hebat, Dewabrata serta merta begitu cepat tangan kirinya menghunus busur panah, hampir bersamaan tangan kanannya meraih satu anak panah, dan dengan gerakan yang begitu cepat dia menarik busur dengan anak panah mengarah ke Amba. “..pulanglah, nimas..” kali ini Dewabrata berkata setengah berteriak parau.

Tapi itu tak membuat Amba undur, dengan masih memegang terompah Dewabrata di tangan kanannya, Amba kembali merangsek ke depan menyongsong anak panah. Ah! Membuat Dewabrata semakin gugup tak tahu harus berbuat apa. Dan sekejab kemudian, tangan kiri Amba justru meraih ujung anak panah pada busur yang terentang itu. Membuat Dewabrata panik dan tanpa sengaja melepaskan pegangan pangkal anak panah di tangan kanannya. Seketika itu anak panah meluncur deras merobek telapak tangan kiri Amba, dan menghujam keras tepat ke dada Amba. Begitu kerasnya, sampai Amba terlempar ke belakang, anak panah itu sampai menembus punggung, menghujamkan tubuh Amba begitu keras ke tanah. Dan tak lagi bergerak, seketika itu Dewi Amba tewas! Kejadian diluar dugaan yang begitu cepat! Begitu cepat sehingga tak sempat terdengar jerit dari mulut Amba….

________________________________________

 

B.

Selain paparan di atas, di dalam awalan ebook nya, Pitoyo Amrih mencoba memberikan paparan ringkas tentang Bisma :

“ Bisma Dewabrata adalah sebuah pribadi yang istimewa. Lahir tak pernah tahu dan mengenal ibu kandungnya. Cinta dan kasih sayang ibunya tercurah dari suara hati yang merasuk di hati dan pikirannya selama pengembaraannya. Sesuatu yang dia anggap berasal dari ibunya, bernama Dewi Jahnawi. Yang menurut kabarnya, perwujudannya sebagai manusia adalah kisah jalan kematian yang ditempuhnya. Kepergian Dewi Jahnawi sama gelapnya dengan saat pertama kali kemunculannya bertemu Prabu Santanu, ayah Bisma.

Bisma disusui dan dibesarkan oleh Dewi Durgandini, seorang putri dari kerajaan Wirata. Dan Bisma memang seorang ksatria utama! Dia wujudkan pengabdian sepenuhnya kepada Durgandini sebagai rasa terima kasihnya atas kasih sayang masa kecil Bisma. Bagaimana pun sikap Durgandini kepada Bisma, tetap Bisma menghargai dan menghormati Durgandini dengan sepenuh hati.

Puncaknya adalah sebuah sumpah yang keluar dari mulut Bisma demi rasa lega Durgandini agar anak kandung Durgandini yang akan mewarisi tahta Hastinapura. Sumpah Bisma yang tak akan pernah menduduki tahta Hastinapura, walaupun dia yang paling berhak. Dan sumpah bahwa sampai mati tak akan pernah menyentuh perempuan agar tak ada keturunannya yang menggugat atas tahta Hastinapura. Sebuah sumpah yang luar biasa !

Sumpah itu juga yang membuat Bisma melihat bahwa kehidupan tak lain adalah sebuah pengabdian. Pengabdian kepada janjinya, pengabdian kepada keluarga, pengabdian kepada keluarga dan kerabatnya, pengabdian kepada kebenaran yang dipegangnya, pengabdiannya kepada kehidupan, dan pengabdiannya kepada Sang Pencipta.

Sumpah itu pulalah yang membuat dia tanpa sengaja menewaskan seorang putri ksatria yang pernah dicintainya, Dewi Amba.

Jalan hidup Bisma begitu panjang. Perang besar Baratayudha yang dikobarkan Duryudana, adalah sebuah pertempuran antar saudara yang disesalkan Bisma, sekaligus ditunggu selama hidupnya. Karena melalui perang itu, Bisma berkesempatan menempuh jalan kematiannya, rela mati di tangan Srikandi. Seorang putri ksatria dari Cempalareja. Tak seorang pun selain Bisma dan Antasena, yang menyadari bahwa semua yang ada pada Srikandi mirip dengan Amba.

Jalan hidup Bisma begitu panjang. Tak seorang pun di dunia wayang yang bisa mengerti kedalaman hati dan pikirannya. Mengagumi secara diam-diam sosok Kresna, raja Dwarawati. Tapi hanya Antasena muda, yang paling dekat dan tahu siapa Bisma. “

 

C.

Pratinjau Terbatas dari ebook ini di Google Books :
http://books.google.com/books/p/pub-6218744198074454?id=HuBBvU7_-cAC&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_v2_summary_r&cad=0#v=onepage&q=&f=false

 

D.

 

Profil ( ‘ bentuk rupa ‘ ) penulis Pitoyo Amrih dan daftar buku hasil karyanya yang lain bisa di baca di :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=116180084020

 

E.

Dari pengamatan ‘ Wayang Purwa Buku ‘, ebook Bisma Dewabrata ini adalah ebook wayang pertama yang terbit di Indonesia ( tahun 2007 ). Setelah itu di tahun 2008 terbit dua ebook wayang lain nya dari penerbit http://www.budayajawa.com/  di Yogyakarta.

 

(akhir unggah 17 Aug 2009)

Narasoma – Ksatria Pembela Kurawa, oleh Pitoyo Amrih.

 

(pertama diunggah 18 Aug 2009 : Budi Adi Soewirjo)

 

Data buku :

Judul buku : Narasoma – Ksatria Pembela Kurawa
Pengarang : Pitoyo Amrih
Penerbit : Pinus, Yogyakarta, 2007.
Nomor ISBN : 979-99012-5-1 , 9789799901255
Jumlah halaman : 358 halaman.
Ukuran buku : 14 x 21 cm.

.

 

 

A.

Penulis sedikit memberi paparan akan buku ini :

Narasoma adalah putra mahkota Mandraka, anak lelaki Raja Mandarapati. Ia diusir dari tanah airnya karena berlaku pongah dan berhadapan dengan seorang raksasa yang mulia bern

ama Begawan Bagaspati. Kemudian Narasoma digembleng sekaligus dinikahkan dengan putrinya, Pujawati. Sayangnya, sang pangeran belum dapat mengendalikan tutur kata. Ia melukai perasaan istri tercinta dengan menyatakan malu memiliki mertua bangsa raksasa. Terjadilah peristiwa yang memeras airmata, Begawan Bagaspati menemui ajalnya demi kehormatan Pujawati. Ia mewariskan ajian sakti Candrabirawa kepada Narasoma yang diliputi perasaan sesal.

 

 

Paparan untuk episode berikutnya :

“ Mengapa akhirnya saya harus membela Kurawa….?” itulah mungkin suara hati yang selalu terngiang di nurani Prabu Salya, terutama ketika menjalani hari demi hari perang dahsyat Baratayudha.

Sebuah perang yang begitu hebat, puluhan ribu orang tewas, ratusan ksatria senapati menemui ajal, karena Baratayudha, perang antar saudara ras bangsa Manusia yang seharusnya tak perlu terjadi.

Tapi bagi Salya, perang itu masih tidak seberapa. Peperangan yang sebenarnya, baginya sudah dimulai jauh sebelum Baratayudha. Bahkan sejak muda ketika dirinya masih dipanggil sebagai Narasoma.

Sebuah hingar bingar pertempuran yang terjadi dalam kurun waktu begitu lama, di kesunyian lubuk hati nurani dirinya. Salya, seorang raja besar Mandraka yang harus selalu mengalami pertentangan batin selama hidupnya.

 

B.

 

Komentar Pembaca 1 :

….’Narasoma’ tak sekadar mengisahkan perang saudara yang amat memilukan, beserta adu kesaktian yang ditampilkan secara rinci dan cukup seru. Novel ini mengetengahkan pergolakan batin seorang ksatria yang bimbang atas pihak yang dibelanya, persiapan seorang prajurit menyongsong kematiannya, dan kesedihan seorang ayah atas kematian putranya. Tak kalah mempesona, kisah Karna yang marah kepada nasib malangnya sebagai anak terbuang namun ditangisi Batara Surya saat ia gugur di Kurusetra..

—Sinarbulan, Bandung—

 

 

C.

 

Komentar Pembaca 2 :

Another wayang story by Pitoyo Amrih. Those who used to read RA Kosasih’s comic about Mahabharata would definitely fall in love with Pitoyo’s art of work.

Perbedaan yg jelas antara karya RA Kosasih dgn Pitoyo adalah kesan yang timbul di karya Pitoyo menciptakan bayangan bahwa cerita wayang bukanlah sebuah dongeng dgn kisah yg muluk2 didalamnya. Pitoyo berhasil membuat cerita wayang menjadi lebih “down-to-earth” dgn gaya berceritanya. Termasuk jg dalam karyanya yang satu ini yang bercerita tentang kehidupan Raden Narasoma.

Tokoh utama cerita ini adalah Prabu Salya, yang pada masa mudanya lebih dikenal sbg Raden Narasoma. Beliau adalah seorang maharaja yang melalui masa mudanya dengan penuh tantangan hidup. Diusir oleh ayahnya sendiri untuk kemudian mengembara dan akhirnya berguru pada seorang begawan sakti yang adalah keturunan raksasa. Pada akhirnya dia mengawini putri dari begawan tersebut yang cantik rupawan. Bahagia hidupnya namun disatu sisi juga resah karena sadar bahwa tidak mungkin dia kembali ke kerajaannya dgn membuka kenyataan bahwa sang calon permaisuri adalah seorang keturunan raksasa.

Itu barulah awal dari sekian banyak kebimbangan hidup yg akan dia jumpai nanti didalam selang perjalanan hidupnya. Dan puncaknya adalah pada saat dimana ia harus memilih dalam perang besar Bharatayudha apakah ia harus berpihak kepada menantunya, Duryodana, pemimpin Kurawa atau kepada keponakan kandungnya, Nakula dan Sadewa, bungsu kembar Pandawa…

— (Fajar’s blog, sumber:goodreads)

 

D.

Pratinjau Terbatas buku ini di Google Books :
http://books.google.com/books/p/pub-6218744198074454?id=e6zQYSvqngYC&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_v2_summary_r&cad=0#v=onepage&q=&f=false

 

E.

Profil ( ‘ bentuk rupa ‘ ) penulis Pitoyo Amrih dan daftar buku hasil karyanya yang lain bisa di baca di :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=116180084020

Blog Stats

  • 542,141 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 55 other followers

Halaman dilihat :

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers