Pustaka Wayang

Rupa dan bentuk wayang kulit purwa Jawa ditinjau dari “mazhab” / “aliran” nya.

Ditulis oleh Rudi  Wiratama Partohardono.

 

(diunggah pertama ke pelataran Facebook Wayang Purwa Buku 16 Oktober 2009 : Budi Adi Soewirjo)

 

Pengantar dari Admin Wayang Purwa Buku :

 

Saya pertama kali mengenal nama Rudi Wiratama Partohardono dari tulisan komentar di dinding dan unggahan-nya photo wayang kulit purwa di situs FB Wayang Indonesia. Dan saya mengirimkan permohonan untuk jadi teman di FB. Awal bulan ini saya membaca satu tulisan dia di bagian catatan akun nya. Suatu tulisan – untuk tujuan berbagi dengan teman-temannya – tentang apa yang dia ketahui saat ini mengenai ‘ rupa dan bentuk wayang kulit purwa Jawa ditinjau dari mazhab / aliran nya ‘. Menurut saya tulisan ini menarik dan bisa menjadi bahan pengayaan bagi peminat wayang kulit purwa. Saya minta ijin dia agar Wayang Purwa Buku bisa menampilkan tulisannya itu. Di bawah ini tulisannya.

 

Sekilas profil Rudi WP. Lahir di Surakarta tahun 1990. Menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah (SMA) di Surakarta. Minat dan pengetahuan tentang wayang didapat keluarga / “simbah” (kakek / nenek), dan diperkaya dengan adanya kesempatan bertemu / berkumpul dengan para seniman Surakarta. Saat ini Rudi WP menimba ilmu pada semester pertama di Jurusan Komunikasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

 

Admin mengucapkan selamat kuliah kepada Sdr Rudi WP. Kami WPB menantikan tulisan berbagi Anda selanjutnya. Salam.

 

 

Rupa dan bentuk wayang kulit purwa Jawa ditinjau dari “mazhab” / “aliran” nya.

Ditulis oleh Rudi  Wiratama Partohardono, Surakarta, 01 Oktober 2009.

 

Kali ini, saya hanya akan memberikan suatu tulisan untuk “tombo kangen”, yaitu hasil wawancara dan obrolan saya dengan para nimpuna, sekaligus pengetahuan-pengetahuan yang telah mereka berikan kepada saya selama ini. Bagi saya, membagi pengetahuan kepada orang lain adalah wujud rasa terimakasih saya kepada mereka para resi di bidang pedalangan dan pewayangan yang telah memberi izin saya untuk menyerap ilmunya, meskipun sedikit saja.

Di sini, saya akan menyoroti tentang wayang dari segi rupa dan bentuknya,terlebih lagi setelah saya mendengar cerita tentang banyaknya orang yang tertipu membeli wayang kuno, yang sejatinya adalah produk abal-abal palsuan perajin.Di lain sisi, kita sendiri sebagai pelaku maupun penikmat pewayangan, seringkali masih kesulitan untuk memilah dan mengidentifikasi perangkat wayang yang sejatinya penting peranannya dalam ilmu pedalangan. Maka dari itu, besar dorongan untuk menulis artikel ini, semoga bermanfaat dan bilamana ada kurangnya, kami mohon anda untuk sudi memberikan tambahan, yang akan saya terima dengan lega-legawa.

1. Tentang Wayang Kulit Gaya Surakarta.

Wayang kulit Gaya Surakarta, seperti yang kita ketahui, adalah sebentuk wayang yang berangkat dari budaya keraton. Meskipun begitu, di luar tembok keraton seperti yang telah diuraikan dalam beberapa buku, berkembang pula beberapa subgaya regional yang tumbuh dan berakar di hati masyarakat pendukungnya, dan memperkaya khazanah dunia pedalangan di Surakarta. Adapun sepengetahuan saya wayang gaya Surakarta di luar tembok keraton dapat dibagi dalam beberapa mazhab, seperti:

a. Gaya CERMAPANATASAN

Ki Cermapanatas, menurut riwayat adalah seorang abdi dalem penatah pada masa Pakubuwana X (1893-1939) di Surakarta. Ia dianggap sebagai cikal-bakal penatah di wilayah Sonorejo di Sukoharjo dan Butuh Sidowarno di Klaten. Karena kedudukannya sebagai penatah keraton, maka untuk menyaksikan karyanya otomatis kita bisa melihatnya pada koleksi wayang Keraton dengan tanda PB X pada palemahannya. Ciri dari tatahan Cermapanatasan adalah tatahannya yang padhang, wijang, serta pada wayang bokongan tatahan kakinya dimenangkan, sehingga nampak seperti terlihat siluet kakinya dari balik kain yang dikenakan. Pola tatahan seperti ini, dikatakan merupakan warisan dari tatahan Keraton sebelumnya.

b. Gaya KLATHENAN

Klathen, sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa, khususnya kesenian wayang purwa, memiliki sejarah yang panjang dalam dunia seni. Salah satu sumber sejarah, yaitu Serat Kaki Walaka, menyebutkan bahwa Klathen menjadi pusat seni pedalangan di masa lalu karena “sawab” dari Sunan Kalijaga yang mendidik kader-kader dalangnya di daerah ini pada saat berdakwah di Jawa Tengah bagian selatan.Oleh karena itu tak mengherankan bahwa Klaten menjadi gudangnya dalang. Dikisahkan pula dalam Babad Panjangmas, bahwa setelah kerajaan Mataram berpindah ibukota ke Kartasura, dalang keraton Kyai Panjangmas II diberi wilayah perdikan di daerah Pusur, Polanharjo, Klaten, tepatnya di utara Kali Pusur dan sekitarnya, dan kemudian dari situ menyebarlah keturunan beliau ke berbagai penjuru di Jawa Tengah, begitu pula keturunan murid-muridnya.

Wayang Klathenan terkenal karena mutu “wanda” dan “kapangan” atau anatomi dan proporsinya yang baik, juga “bedhahan” atau anatomi muka yang mengesankan. Dalam gaya Klatenan sendiri ada beberapa subgaya, seperti gaya Klathenan Prambanan yang condong ke gaya Yogyakarta, ada pula gaya Klathenan Jombor atau Martonegaran, juga gaya Klathenan minor seperti Manjungan dan lain sebagainya. Wayang gaya Jombor dianggap sebagian orang sebagai “rajanya” wayang Klaten, karena berpostur tinggi besar namun tetap pantas, proporsional. Menurut dugaan saya, dari asal katanya dapat ditebak bahwa wayang ini dibuat sejak masa pemerintahan Tumenggung Martonegoro, Bupati Klaten yang pertama.

 

Beberapa ciri endemik yang ada pada wayang Klathenan ialah:
1. Motif lung-lungan pada praba berbentuk “kawatan”
2. di dekat cambang atau godheg diberi tatahan “kembang tanjung”
3. Jari kaki belakang tidak ditatah
4. Tatahan lugu, wijang dan semu, sunggingan sederhana tapi semu
5. Kapangan ramping, singset tapi tidak kelihatan jangkung
6. Bedhahan biasanya jelas atau padhang
7. Motif bludiran biasanya besar-besar, kaku dan tanpa drenjeman

c. Gaya KLECAN

Gaya Klecan diambil dari kata Kleco, ialah kampung di ujung barat kota Surakarta, tempat mukim Mbah Parto, seorang penatah wayang terkenal pada pertengahan abad ke-20. Ia menurunkan putra-putra yang juga penatah seperti Bp. Satirno (Makamhaji Kartasura) dan Bp. Saimo (Jakarta). Menurut riwayat, mulanya ia berasal dari Manyaran, Wonogiri, namun kemudian menetap di Surakarta. Karenanya, gaya Wonogiren-nya tidak kental, namun memiliki karakteristik sendiri. Wayang buatan beliau banyak dicari orang karena kapangannya bagus dan tatahannya ngrawit(ada yang mengatakan, setelah akhir hayatnya, karena usia tua tatahannya menjadi agal,tetapi tetap mapan). Ciri khususnya adalah:
1. Rambut diserit rangkap (blebekan)
2. Pada bagian dahi wayang sinoman (memakai poni) diberi motif tatahan kringetan sampai berlubang
3. Sembuliyan lamba, tidak terlalu tajam tekukannya
4. Sunggingannya sudah bergaya Surakarta klasik (condong ke sunggingan Sukoharjan atau Klatenan)
5. pada palemahan ditatah huruf “HS”

Dulu saya pernah menemukan satu set wayang karya beliau, milik seorang Tionghoa pensiunan PJKA di Surakarta. Sayangnya wayang tersebut sudah dijual pemiliknya karena tidak ada yang mau mewarisinya.

d. Gaya KARTASURAN

Gaya Kartasuran ialah gaya yang barangkali paling tua di daerah Surakarta. Dipercaya wayang kulit gaya Kartasuran telah timbul semenjak pemerintahan Adipati Puger atau PB I di Kartasura. Gaya Kartasura dibagi menjadi dua subgaya, yaitu Kartasura Mangkuratan yang condong ke gaya Kedhu, dan Kartasura Pugeran yang merupakan peralihan gaya Mataram (dilestarikan oleh Ngayogyakarta) ke gaya Surakarta.Wayang Kulit Gaya Kartasura, sepengetahuan penulis ada tiga set yang masih lestari, ialah:
1. Kyai Pramukanya di Keraton Surakarta
2. Wayang koleksi Prof. Yuwono Sri Suwito, guru besar UGM Yogyakarta
3. Wayang koleksi Raffles yang dihibahkan ke British Museum.

Adapun ciri-ciri wayang gaya Kartasura adalah:
1. Kapangan gemuk, kekar. Bedhahan muka biasanya kepu (bulat)
2. Mata kedelen dan gabahan biasanya berpola “blebesan”
3. Mata thelengan bulat besar dengan ekor mata pendek, hampir seperti gaya Yogyakarta
4. Kumis tokoh gagahan bermuka hitam ditoreh dengan budri seperti gaya Surakarta, namun polanya seperti motif hias wayang Yogyakarta
5. Pada beberapa tokoh, masih memakai simbar (bulu dada) sunggingan, bukan budri
6. Werkudara dan Bratasena memakai cawat dan bersumping Pudhak Setegal seperti wayang Yogya
7. Tokoh kera bermata dua, seperti tokoh raksasanya.
8. Tatahan wijang, sunggingan masih sederhana
9. Garuda Mungkurnya umumnya pendek tapi melebar pada bagian mukanya. Tokoh Suyudana memiliki garudan mungkur yang “mayuk” atau condong ke belakang seperti wayang Yogyakarta

Wayang Gaya Kartasura termasuk langka dan bernilai tinggi, karena mengandung nilai historis sebagai mata rantai yang hilang antara gaya Mataram dan Surakarta.

e. Gaya WONOGIREN

Menurut suatu sumber, gaya Wonogiren dinisbatkan kepada Kyai Brastho, seorang penatah pada masa Pakubuwana X. Ia menetap di Manyaran dan menularkan ilmunya kepada anaknya, yang selanjutnya menjadi cikal bakal penatah Manyaran. Ciri wayang Wonogiren yang masih bisa dilacak ialah:
1. Kapangan seperti gaya Surakarta namun kakinya agak pendek (kak-kong)
2. Tatahan lembut dan garapannya rapi, namun bedhahan tidak se-semu wayang Klathenan
3. Sunggingannya cerah dan banyak garapannya.

f. Gaya Surakarta PESISIRAN

Gaya Surakarta Pesisiran umumnya dipergunakan untuk menyebut wayang Purwa gaya Surakarta yang beredar di wilayah pesisir utara seperti Blora, Pati, Jepara dan Purwodadi. Wayang di daerah ini umumnya tatahan dan sunggingannya sederhana, banyak memakai motif kain “ceplok” seperti sunggingan wayang klithik yang memang banyak beredar di sana. Wayang Surakarta Pesisiran ini memiliki tokoh kera yang ukurannya besar-besar dibanding wayang Surakarta. Sering pula terjadi wayang Pesisiran bercampur dengan gaya Pesisiran Wetanan (Pesisiran Jawa Timur) karena kedekatan geografisnya. Meskipun begitu karena kultur rakyatnya yang Mataraman, bentuk wayangnyapun masih mengacu gaya Surakarta asli, bukan Dakdong atau Jawatimuran.

g. Gaya SRAGENAN

Gaya Sragenan diciptakan oleh para dalang asal Klaten yang berkelana di Sragen, seperti Ki Gandabuwana almarhum dan Ki Gandadarman almarhum. Ciri yang jelas dari wayang Sragen ialah:
1. Werkudara, Bratasena, dan Rajamala umumnya jujudan
2. Sunggingan cenderung gelap
3. Tatahan sak madya namun kokoh, karena untuk keperluan teknis
4. Kapangan sebet

Yang menjadi ciri khas wayang Sragenan di antaranya ialah:
1. Werkudara wanda SANGGEM (Bugis)
2. Baladewa wanda JAGO
3. Arjuna wanda SABET
4. Kumbakarna wanda Barong Sragenan atau Kyai DAL
5. Wayang Purwa berbusana rampekan
6. Punakawan gundul bercelana panjang
7.Wayang Ramayana kreasi baru

Selain itu terdapat pula beberapa sub-gaya yang kurang populer,seperti:

a. Wayang MADIUNAN

Wayang asli Madiun justru menurut suatu sumber ,mirip dengan wayang Yogya. Hal ini mungkin dikarenakan di masa penjajahan dahulu Madiun adalah wilayah Mancanagari bawahan keraton Ngayogyakarta. Adipati Madiun Rangga Prawiradirja bahkan adalah menantu Hamengku Buwana III. Sayangnya di Madiun kini dalang lebih banyak memakai wayang gaya Surakarta.

 

(akhir tulisan Rudi WP)

 

(akhir unggah 16 Okt 2009)

ebook cerita wayang, Kresna Duta, Murhono HS, Tiga Serangkai

Mas Emdod menginformasikan hasil pindaian koleksi buku wayang nya yang di ‘shared’ dan bisa diunduh gratis di alamat URL sbb :

Kresna Duta oleh Murhono HS, penerbit Tiga Serangkai, 1984.
http://www.4shared.com/document/_TAdNfXu/Kresna_Duta.html

Buku bacaan cerita wayang untuk pelajar yang disertai gambar wayang.

Admin mengucapkan terima kasih atas semangat berbagi nya mas Emdod. Mudah-mudahan segera disusul pembaca lain yang ingin berbagi.

ebook cerita wayang, Kalasrenggi, Muh Sunardiyanto

Mas Emdod menginformasikan hasil pindaian koleksi buku wayang nya yang di ‘shared’ dan bisa diunduh gratis di alamat URL sbb :

Huru-hara di Kawasan Madukara (Lahirnya Kalasrenggi) oleh Muh Sunardiyanto, penerbit Tiga Serangkai, 1984.
http://www.4shared.com/document/y6eikqI9/Huru-hara_di_Kawasan_Madukara.html

Buku bacaan cerita wayang untuk pelajar yang disertai gambar wayang.

Admin mengucapkan terima kasih atas semangat berbagi nya mas Emdod. Mudah-mudahan segera disusul pembaca lain yang ingin berbagi.

Pemutakhiran Gallery Gambar Wayang HQ / Resolusi Tinggi – Koleksi BAS 01

gambar wayang HQ, gambar wayang resolusi tinggi, Kasidi, D Tjarito, tahun 1937, Ardjoenasasra, Kartapradja.

Bagi yang sudah pernah unduh gambar wayang HQ / resolusi tinggi, dipersilakan kembali mengunjungi postingan terdahulu di Koleksi BAS 01  http://wayangpustaka.wordpress.com/2010/06/22/gambar-wayang-kulit-purwa-jaman-kasidi-dkk-koleksi-bas-p01-kontributor-budi-adi-soewirjo/, karena sudah kami mutakhirkan dengan alamat URL file gambar wayang lain yang waktu itu belum di unggah ke file shared.

Di bawah ini beberapa contoh gambar wayang yang di mutakhir kan. Untuk mengunduh gambar wayang yang resolusi tinggi, jangan klik Save As dari image ini, melainkan unduh dari URL Mediafire yang di info kan di postingan Gallery. Atau langsung ke shared folder di Mediafire :  http://www.mediafire.com/?sharekey=g24mkg22kpefs

buku wayang format digital, ebook wayang .

Digitalisasi Buku Wayang Purwa.
(diunggah pertama 18 Jun 2009 : Budi Adi Soewirjo)
http://www.facebook.com/pages/Wayang-Purwa-Buku/82972305747?v=app_2347471856&ref=ts#!/note.php?note_id=90589034020

Digitalisasi Buku Wayang Purwa.
(Tujuannya bukan untuk membajak atau menggandakan komersial. Jangan salah.)

Di seluruh dunia saat ini tendensi nya perpustakaan mulai berpindah ke bentuk perpustakaan digital. Berangsur angsur media penyimpanan data berupa cetakan di atas kertas di rubah bentuk penyimpanannya menjadi bentuk digital disimpan dalam media rekam elektronik. Meskipun memerlukan teknologi yang lebih maju, tetapi banyak keuntungan lain yang didapat : media penyimpanannya yang makin ringkas, penyimpanannya makin tahan lama, pembaca dapat membaca dari mana saja asal ada jaringan komputer tersambung ke perpustakaan digital, pada saat yang bersamaan bisa banyak orang membaca secara bersamaan.

Karena teknologi tersebut, banyak perpustakaan digital yang membentuk jaringan antar mereka. Antar perpustakaan universitas senegara, regional, dan nantinya pasti perpustakaan sedunia saling terhubung. Seorang pengunjung perpustakaan tidak perlu beranjak dari tempat duduknya untuk memasuki perpustakaan digital lainnya asal perpustakaan itu sudah terhubung ke jaringan perpustakaan. Dari satu perpustakaan bisa langsung pindah ke perpustakaan lain, bahkan bisa sistem pencarian suatu topik langsung di jelajahkan ke semua anggauta jaringan perpustakaan.

Jenis layanan pun bertambah, yang pasti nantinya seseorang bisa membaca buku tanpa harus datang ke perpustakaan. Langsung baca di layar monitor komputernya, meskipun arsip digitalnya ada di perpustakaan digital. Jika masalah hak cipta atas penggandaan karya / buku mengijinkan, seseorang yang memerlukan suatu buku bisa dengan mudah mengunduh ( atau membeli on demand (?) ) dari perpustakaan digital yang menyimpan karya / buku.

Di luar negeri kita mengenal Google Book yang bekerja sama dengan beberapa universitas Amerika Serikat. Ada http://openlibrary.org/ . Ada http://www.gutenberg.org/ .

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia ( http://digilib.pnri.go.id/ ) juga sedang “ membangun “ Perpustakaan Digital Nasional Republik Indonesia. Salut dan terima kasih. Perpustakaan lain di Indonesia juga sudah mulai digital dan mulai membentuk jaringan. Ada jaringan perpustakaan delapan universitas negeri terkemuka. ( Masuk ke situ perpustakaan UGM http://www.lib.ugm.ac.id/ , kemudian klik LibNet , Anda akan diantar masuk ke jaringan perpustakaan. ) Ada jaringan enam perpustakaan swasta http://www.pustakabersama.net/ . Salut dan terima kasih. Meskipun belum sepenuhnya digital, tapi paling tidak sudah ada OPAC (Online Public Access Catalog).

Jadi secara perangkat keras dan perangkat lunak, berangsur angsur Indonesia juga akan menuju ke arah perpustakaan digital (digital library) dan perpustakaan terbuka (open library).

Pembicaraan saya persempit menjadi seputar buku wayang purwa saja.

Setelah sistem perpustakaan siap untuk perpustakaan digital dan perpustakaan terbuka, masalahnya sekarang adalah buku wayang purwa digital APA (dan buku wayang purwa digital SIAPA) yang akan menjadi isi nya. Apakah saat ini perpustakaan perpustakaan yang ada sudah mempunyai koleksi buku wayang purwa yang cukup (selain perpustakaan institut seni) ?
Buku wayang purwa terbitan sebelum Indonesia merdeka ? ( Kalau yang ini saya malah lebih tidak kawatir karena sistem pengadaan dan penyimpanan buku wayang saat itu lebih memadai. Asal setelah kemerdekaan koleksi itu tetap terjaga. )
Buku wayang purwa yang terbit setelah kemerdekaan sampai dengan era awal tahun 1970 ?

Cobalah telusuri dengan sistem OPAC koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan jaringan perpustakaan yang sudah saya sebut di atas.
Search dengan kata kunci : “wayang” , “wayang kulit” , “wayang purwa” , “dalang” , “mahabarata” , “ramayana” , “baratayuda” . Berapa banyak judul buku wayang purwa yang Anda temui ? Berapa banyak judul buku wayang purwa yang terbitan sesudah Indonesia merdeka ?

Saya pakai tolok perbandingan : judul-judul buku wayang yang tercatat dalam buku saya “ Kepustakaan Wayang Purwa (Jawa). Penelusuran buku terbitan Indonesia 1948 ~ 1995 “ diterbitkan Yayasan Pustaka Nusatama – Senawangi – KITLV 1997. Kesimpulannya : jumlah judul buku wayang purwa yang tersimpan di perpustakaan-perpustakaan saat ini sangat sedikit.

Mudah-mudahan kekawatiran saya salah, mudah-mudahan sebetulnya belum semua koleksi buku wayang purwa sudah di OPAC kan, mudah-mudahan sebetulnya masih banyak judul yang belum muncul di OPAC. Mudah-mudahan.

Apakah generasi muda nantinya mengetahui wayang purwa hanya dari budaya tutur saja ? Hanya dari mendengarkan cassete wayang purwa dan video wayang purwa saja ? Apakah mereka tidak punya kesempatan untuk MEMBACA tulisan-tulisan generasi pendahulunya tentang wayang purwa ?

Apa yang harus dilakukan agar kita (bangsa Indonesia yang berada di Indonesia) bisa ikut berperan memperkaya khasanah buku digital wayang purwa di perpustakaan digital ?
{ Landasan : pengetahuan yang bisa ditularkan untuk diketahui / dimanfaatkan oleh masyarakat luas akan lebih bermanfaat dari pada pengetahuan ( dalam hal ini : koleksi buku / bahan tertulis ) yang hanya kita ketahui sendiri }.

 

• Pemerintah Republik Indonesia.

( Saya tulis kembali tulisan saya sebelumnya )
Pemerintah Republik Indonesia dimohon – dalam hal ini Departemen yang membawahi “ Pendidikan “ atau “ Kebudayaan “ – untuk mem-public domain-kan / me-milik umum-kan buku-buku wayang yang pernah diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI dan proyek-proyek di departemen tersebut ( lihat http://www.facebook.com/note.php?note_id=79393664020 ). Demikian juga buku-buku wayang lama terbitan Balai Pustaka karena Balai Pustaka adalah BUMN di bawah Departemen Pendidikan. Banyak manfaat untuk masyarakat Indonesia namun Pemerintah RI tidak perlu keluar uang banyak untuk itu ( kasarannya hanya biaya men-digital-kan / menjadikan format PDF buku-buku wayang purwa tersebut ).

File PDF bisa kita tumpangkan ke Google Buku, gratis menurut Google. ( Kalau gengsi numpang ke Google Buku, ya tampung di server Direktorat Jenderal Kebudayaan ( barangkali? ) atau server Perpustakaan Digital Nasional. Atau dua-duanya – Indonesia dan Google Book – satu sebagai back up / mirror. ). Pilihan penyajian kepada umum :
• Tidak seluruh halaman bisa dilihat / “Pratinjau Terbatas”, tidak bisa diunduh.
• “Tampilan penuh”, tidak bisa diunduh.
• “Tampilan penuh”, dan bisa diunduh.

 

• Perpustakaan Universitas Negeri maupun Swasta di Indonesia.

Memohon kepada perpustakaan Universitas Negeri ( terutama perpustakaan Institut Seni ), agar bersedia secepatnya melakukan digitalisasi / scanning / memindai koleksi buku-buku wayang purwa mereka ( dengan prioritas buku terbitan lama ) sebelum terlanjur rusak atau hilang. File PDF disimpan di server perpustakaan masing-masing dengan pilihan penyajian kepada umum :
• Tidak seluruh halaman bisa dilihat / “Pratinjau Terbatas”, tidak bisa diunduh.
• “Tampilan penuh”, tidak bisa diunduh.
• “Tampilan penuh”, dan bisa diunduh.

 

• Perseorangan di Indonesia atau di Luar Negeri.

Ini potensi yang harus digalang untuk bersama-sama diwujudkan. Mengapa kita masing-masing tidak men-digital-kan / men-scan / memindai buku wayang purwa koleksi kita pribadi ? Untuk kemudian kita titipkan atau sumbangkan ke satu jaringan perpustakaan digital nasional agar buku tersebut bisa dibaca oleh siapapun dimanapun ? Apakah ide ini melanggar hukum nasional kita ? Barangkali hanya untuk buku yang sudah berumur sekian tahun ? Teknologi sudah memungkinkan membuat pembaca hanya bisa membaca saja , tetapi tidak diijinkan mengunduh / menggandakan ?

Perumpamaan : Perpustakaan tidak bisa mengadakan backup buku karena buku itu sudah tidak terbit lagi. Perpustakaan kawatir kalau koleksi bukunya hilang (dan sudah tidak mungkin mengadakannya lagi). Sehingga perpustakaan membuat microfilm nya.
Perpustakaan menerima microfilm dari luar perpustakaan untuk memperluas koleksi nya ( bukan dijual / dikomersialkan ).
Apakah ini melanggar hukum nasional kita ?

Pendapat / pertanyaan masih panjang.

Bersamaan dengan itu : Karena ada Facebook, bulan lalu saya berjumpa kembali (copy darat) dengan teman sekolah yang sudah 30 tahun tak bertemu. Sama-sama penggemar wayang dan pengumpul bahan tercetak tentang wayang , teman saya pernah juga mengawal satu home page wayang di host geocities. Apa yang saya pikirkan tersebut di atas saya diskusikan dengan dia. Di akhir diskusi kami berdua sepakat untuk memulai men-digital-kan / memindai koleksi kami masing-masing , file digital disimpan masing-masing, sambil mengajak teman yang lebih luas. Sambil mencari jawaban atas pertanyaan tentang teknologi, hukum dan rincian pelaksanaannya. Suatu saat jika masalah teknologi dan hukum memungkinkan, kami berdua sudah siap ber-partisipasi dengan “setetes air” untuk masyarakat pewayangan purwa Jawa.

Anda pun juga bisa melakukan hal yang sama. Kumpulan “setetes air” bisa membentuk “samudera”. Buku / bahan tertulis apa ? Apa ini penting ? Apa ini perlu ? Menurut saya (maaf), perpustakaan adalah gudangnya apa yang pernah ditulis manusia. Tempat kita bisa membaca apapun yang pernah digagas, di-cita-cita-kan, ditulis, diciptakan, dikerjakan manusia. Apapun.

Anda setuju ber-partisipasi ? Kita perlu ber-komunikasi agar apa yang kita kerjakan bersama lebih terarah, lebih banyak masukan, lebih banyak koreksi, lebih optimum (tidak saling duplikasi). Silakan layangkan email ke saya di basoewirjo@gmail.com .

Kritik, saran, pendapat, dukungan disilakan. Terima kasih sebelumnya.

Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan saya ini.
Semoga Anda semua selalu dalam lindungan dan mendapat berkah Allah. Amin.
Salam hormat saya,
Budi Adi Soewirjo

(akhir tulisan 18 Jun 2009)

‘Ebook’ “Wayang Bratajuda II (Tawur)” karya U J Katidjo Wiropramudjo dan Kamadjaja, 1958.

07 Februari 2010 jam 3:03

’ebook’ wayang, cerita wayang, Baratayuda, Bisma, Katidjo Wiropramudjo, Kamadjaja

.

Data buku :

U. J. Katidjo Wiropramudjo dan Kamadjaja ; ” Bratajuda II – Tawur (Bisma Mukswa) “ ; Yogyakarta ; Pusaka ; 1958 ; 99 halaman ; aksara Latin ; bahasa Jawa ; satu gambar wayang Srikandi.

.

‘Ebook’ nya bisa diunduh di URL :

http://www.4shared.com/file/216436916/539a75d3/bratajuda_II-1_Katidjo_Kamadja.html

http://www.4shared.com/file/216436912/54f7b1ca/bratajuda_II-2_Katidjo_Kama.html

.

 

Buku / ebook BRATAJUDA jilid II. Tawur (Bisma Mukswa) gubahan Katidjo Wiropramudjo dan Kamadjaja (Karkono Partokusumo).

.

.

[ pemutakhiran 29 Mei 2014 }

.

Admin mempunyai seri buku ini yang jilid ke enam  berjudul “ BRATAJUDA jilid VI – Karna Tanding ( Pedjahipun Adipati Karna ) , informasinya dan alamat file unduhan konservasi bisa Anda lihat di :
http://wayangpustaka02.wordpress.com/2014/05/29/ebook-bratajuda-vi-karna-tanding-pedjahipun-adipati-karna-gubahan-katidjo-wiropramudjo-uj-dan-kamadjaja-1959-ebook-cerita-wayang/

 

Sudah banyak hasil konservasi buku lawas tentang cerita Barata Yudha , Anda bisa membacanya di :
http://wayangpustaka02.wordpress.com/2014/04/27/koleksi-ebook-bharata-yuddha-versi-jawa/
dan dari sana Anda bisa memilih klik-klik yang lain untuk diantarkan ke semua koleksi hasil konservasi.

.

[ akhir pemutakhiran 29 Mei 2014 ]

.

Gambar wayang kulit purwa jaman Kasidi dkk – Koleksi BAS – P01 Kontributor Budi Adi Soewirjo .

 04 Februari 2010 jam 0:59

gambar wayang purwa HQ, Kasidi, D Tjarito, R Soelardi, Rama, R Ng Kartapradja, Bale Poestaka, 1937


Pelataran ini akan di update secara bertahap menampilkan URL file gambar wayang dengan jumlah byte yang besar. Sila secara berkala berkunjung kembali ke pelataran ini. Terima kasih.
Jika ada saran mengenai file jpg dan lain lain harap mengirimkan email ke : basoewirjo@gmail.com
 

Gambar wayang kulit purwa jaman Kasidi dkk – Koleksi BAS – P01
dari buku Ardjoenasasra karya Kartapradja terbitan Bale Poestaka, Batavia tahun 1937
dengan format jpg resolusi tinggi.
Kontributor : Budi Adi Soewirjo


1. Wisrawa karya ?
[ Pemutakhiran 07 Peb 2010 ]
http://www.4shared.com/file/216413510/fefd8ad0/wisrawa_karya_1937_jpg_crop.html (595 kB)

2. Danapati karya R. Soelardi  [ pemutakhiran 07 Aug 2010 ]   http://www.mediafire.com/i/?3bp8695chqg4w38 ( 1.04 MB )

3. Kumbakarna karya ?
[ Pemutakhiran 11 Peb 2010 ]
http://www.4shared.com/file/219258638/c2c66c0c/kumbakarna_karya_1937_jpg_crop.html (3.373 kB)

4. Wibisana karya ?  [pemutakhiran 07 Aug 2010]  
http://www.mediafire.com/i/?5bzhcdcwa41aazg  ( 1.1 MB )

5. Gohmuka karya D. Tjarito  [pemutakhiran 07 Aug 2010]   http://www.mediafire.com/i/?bvpa2019ccpyp1z  ( 1.61 MB )

 
6. Banendra karya ?  [pemutakhiran 07 Aug 2010]   http://www.mediafire.com/i/?o5131xat7qu61f3  ( 1.35 MB )

 
7. Widawati (Dewi) karya ?  [ pemutakhiran 07 Aug 2010 http://www.mediafire.com/i/?714en51jjy5gs1k  ( 665 KB )

8. Maruta (Begawan) karya ?  [ pemutakhiran 07 Aug 2010 http://www.mediafire.com/i/?0d7c6a8ajpjjat0  ( 1.07 MB )

9. Prahasta karya ?  [ pemutakhiran 07 Aug 2010 http://www.mediafire.com/i/?lajnce332dmbv85  ( 2.32 MB )

  

10. Banaputra karya R. Soelardi
[ Pemutakhiran 11 Peb 2010 ]
http://www.4shared.com/file/219657713/a512ef71/Banaputra_karya_R_Soelardi_193.html
( 1.048 kb )


11. Arjunasasra karya Kasidi  [ pemutakhiran 07 Aug 2010 http://www.mediafire.com/i/?m74vpbqmvhs268p  ( 1.03 MB )

 
12. Suwanda karya Kasidi  [ pemutakhiran 07 Aug 2010 ]   http://www.mediafire.com/i/?yxbwld77b2uee77  ( 793 KB )

 
13. Suryaketu (Prabu) karya D. Tjarito [ pemutakhiran 07 Aug 2010 http://www.mediafire.com/?0klzbngc9ntbf22  ( 1.51 MB )

 
14. Jambumangli karya ?  [ pemutakhiran 07 Aug 2010 http://www.mediafire.com/?6kmtfrmu8i5ut2u ( 1.85 MB )

15. Kanekaputra karya ?  [ pemutakhiran 07 Aug 2010 http://www.mediafire.com/?6kmtfrmu8i5ut2u  ( 906 KB )

 
16. Dasamuka karya ?  [ pemutakhiran 07 Aug 2010
http://www.mediafire.com/?soxc16c18h297m4  ( 2.08 MB )

17. Arjunasasra triwikrama karya ? [ pemutakhiran 07 Aug 2010 http://www.mediafire.com/i/?f9qm2inem15qi75 ( 2.19 MB )

18. Durga (Batari) karya ?  [ pemutakhiran 07 Aug 2010 http://www.mediafire.com/?kb83exmj8fmzmi1  ( 1.09 MB )

19. Pulasta karya D. Tjarito
[ Pemutakhiran 11 Peb 2010 ]
http://www.4shared.com/file/219660453/194fd645/Pulasta_karya_D_Tjarito_1937_j.html (1.500 kB)

Yang bertanda ? = tidak ada tanda nama penggambar

Blog Stats

  • 540,300 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 55 other followers

Halaman dilihat :

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers