Pustaka Wayang

Posts Tagged ‘arjuna wiwaha

Cerita wayang Arjuna Wiwaha dikenal sebagai karya Empu Kanwa, yang hidup pada zaman Raja Airlangga ( 1019 ~ 1042 ). Sebuah karya sastra berbentuk kakawin ( tembang / semacam pantun ). Sanusi Pane tertarik untuk menerjemahkannya kedalam bahasa Indonesia dengan tetap mempertahankan bentuknya sebagai tembang / pantun.

Terjemahan tersebut diterbitkan oleh Dinas Penerbitan Balai Pustaka, Jakarta. Cetakan pertama diperkirakan terbit sebelum tahun 1940-an. Di bawah ini gambaran tentang buku itu yang didapat dari cetakan ke 3 tahun 1960 berbahasa Indonesia ejaan lama.  Judul buku nya : “ Mpu Kanwa. Ardjuna Wiwaha. Disalin dari bahasa Jawa Kuno oleh Sanusi Pane “.

 

Sanusi Pane menerjemahkan dari naskah yang diterbitkan oleh Dr. R. Ng. Purbatjaraka dalam “ Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlansch-Indie. Deel 82, 1926.

Di bagian depan, Sanusi Pane, menuliskan ringkasan cerita Arjuna Wiwaha. Disalin di sini tetap dengan ejaan lama :

Lakon Mintaraga.

(catatan : di Jawa lakon Arjuna Wiwaha disebut juga lakon Mintaraga)

Di Suralaja Sang Hijang Hendra berbitjara dengan puteranda Tjitragada, Tjitrasena dan Tjitrarata tentang antjaman Niwatakawatja, radja keradjaan raksasa Manimantaka.

Kepadanja sudah diberi bidadari Prabasini, akan tetapi ia belum senang, ia meminta Supraba.

Masuk Sang Hijang Narada membawa titah Sang Hijang Girinata kepada Sang Hijang Hendra untuk mentjobai Ardjuna jang bertapa di Hendrakila.

Sang Hijang Surapati menjuruh tudjuh orang bidadari : Supraba, Wilutama, Warsiki, Surendra, Gagarmajang, Tundjungbiru dan Lenglengmulat menggoda Ardjuna.

Kepada Tjitrasena diperintahkannja menahan serangan Niwatakawatja.

Ketudjuh bidadari itu sampai di Hendrakila dan bermatjam-matjam tjaranja menggoda Bagawan Tjipta Hening, jaitu Ardjuna sedang bertapa, akan tetapi tidak berhasil : begawan itu tetap imannja.

Mereka itu kembali ke Suralaja dan setelah Sang Hijang Hendra mendengar tjeritanja, batara itu sendiri pergi mentjoba Ardjuna dengan rupa pendeta.

Ia mengedjekkan Bagawan Tjipta Hening, karena bertapa pakai sendjata. Begwan itu menjawab, bahwa sendjata tidak mengalangi dia menunggalkan pikirannja.

Setelah itu pendita itu mengatakan, bahwa ia hendak mentjoba pengetahuan Bagawan Tjipta Hening dan ia bertanja dimana ketika itu Sang Hijang Hendra.

Ardjuna menjawab, bahwa Sang Hijang Hendra itu ialah resi itu sendiri.

Sang Hijang Hendra pun bertukar rupa kembali dan menasihatkan kepada Ardjuna meneruskan tapanja.

Niwatakawatja mendengar berita, bahwa Ardjuna sedang bertapa, hendak memperoleh kesaktian dan karena itu ia chawatir kemudian akan dikalahkan Ardjuna. Maka dititahkannja raksasa Mamangmurka membunuh begawan itu.

Mamangmurka berangkat dan setelah sampai di Hendrakila ia mulai merusakkan pertapaan Ardjuna.

Penakawan-penakawan Pendawa Semar, Petruk dan Gareng melihat itu lalu mengabarkannja kepada tuannja.

Ardjuna keluar dan menjumpah raksasa itu djadi babi hutan dan setelah itu dipanahnja, kena dan mati.

(Menurut anggapan lain, raksasa itu datang dalam bentuk babi).

Waktu hendak mencabut panahnja kembali, datang tiba-tiba seorang pemburu jang mengatakan, bahwa ialah jang menembakkan panah itu. Ardjuna menjangkalnja dan keduanja berkelahi.

Ardjuna melihat kesaktian lawannja dan tahulah ia, bahwa pemburu itu Sang Hijang Girinata. Ia sudjud menjembah dan Sang Hijang Girinata memperlihatkan rupanja jang sebenarnja, menganugerahkan panah Pasupati kepadanja.

Sang Hijang Girinata pulang ke Suralaja.

Dua orang bidadari Badjra dan Herawana datang mengundang Ardjuna menghadap Sang Hijang Hendra di Suralaja.

Setelah sampai dikajangan, Batara Hendra menghadiahkan istana Tedjamaja kepadanja dan memerintahkkannja membunuh Niwatakawatja.

Ardjuna berangkat bersam Supraba. Sesudah tiba di Manimantaka, Ardjuna bersembunji dalam subang bidadari itu. Niwatakawatja bersukatjita menjambut bidadari jang djelita itu. Supraba mengatakan kepadanja, bahwa ia suka djadi isterinja, asal ditjeritakannja rahasia kesaktiannja, tanda tjinta kepadanja.

Niwatakawatja, jang mabuk karena hawa nafsunja, membuka rahasianja : ia kebal seluruh tubuhnja, ketjuali dilangit-langit mulutnja.

Ardjuna lalu mendjelma dan menjerang radja raksasa itu. Perkelahian jang hebat terdjadi dan setelah beberapa lamanja berjuang itu, Ardjuna merobohkan dirinja seakan-akan mati.

Niwatakawatja tertawa sombong dan mengedjek-edjekkan lawannja. Ardjuna menungkup saat itu, lalu menembakkan panah Pasupati sekonjong-konjong, kena langit-langit mulut raksasa itu, sehingga ia mati.

Ardjuna dan Supraba kembali ke Suralaja menghadap Batara Hendra, jang bersukatjita sungguh, karena radja raksasa itu telah binasa.

Dihadiahkannja kepada pahlawan itu Supraba serta bidadari jang enam lagi dan diangkatnja pula djadi radja dengan gelar Kariti.

Demikianlah isi lakon Mintaraga dengan ringkas.

Bagaimana Ardjuna kembali kebumi, ke Ngamarta, ditjeritakan dalam lakon “ Parta Dewa “.

 

 

Kutipan dari Sarga IV :

(para bidadari menggoda Arjuna yang sedang bertapa)

  1.  

Banjak tjaranja hendak merusakkan tapa putera Pandu.

Matahari terbenam, diganti bulan.

Senang memandang rupa apsari.

Bertjaja terang, tetapi tiba-tiba bersembunji kedalam awan.

2.

Sebagai bidadari jang masuk gua, rindu kepada Sang Aria Parta.

Sebalik dari pada dapat menggoda, mereka mendam tjinta kasih.

Ada jang bernjanji menjatakan lara hatinja.

Seorang bersiul, mengetjapkan bibir, mendetak-detakkan djari kakinja.

…..

4.

Seorang mendekati Sang Aria.

Meraba-raba dan mentjubit-tjubit tangannja.

Berbagai-bagai mereka perbuat,

Menarik hati sang pertapa.

5.

Tapi Parta jang gagah perkasa tetap imannja.

Pantjaderianja tidak mengindahkan jang disukainja dulu.

Mendengar melihat djuga, tetapi tidak menjadi bimbang.

Tidak menodai kesutjiannja sebentar pun djua.

…..

Catatan tentang Bahasa Indonesia ejaan lama :

Chawatir = khawatir

Kesutjiannja = kesuciannya

Tji = ci

Nja = nya

Djari kakinja = jari kakinya

Menjanji = menyanyi

“Ebook” utuh Ardjuna Wiwaha terjemahan Sanusi Pane ini bisa di unduh di alamat :

http://www.4shared.com/file/142763701/22f3e765/Arjunawiwh_Sanusi_Pane_01_52.html

http://www.4shared.com/file/142764963/dee347c/Arjunawiwh_Sanusi_Pane_53_104.html

Judul Buku Mintaraga Arjuna Wiwaha
Pengarang Resi Kano
Penerbit Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah
Tahun 1979
Bahasa Indonesia, Jawa

KIsah kepahlawanan Arjuna sebagai utusan Dewa dalam menghadapi ketakaburan dan keganasan Raja Imaimataka, Prabu Niwatakawaca yang sakti mandraguna. Gegernya kadewatan disebabkan atas lamaran Sang Raja Raksasa atas Dewi Supraba, kembang para Dewi.

Arjuna Wiwaha Cover Depan

Ebooknya dapat diunduh disini dan disini

.

.

Untuk mengetahui peranan PPBSID ( Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah ) dalam melestarikan dan menyebarluaskan pustaka wayang ; serta untuk mengetahui judul-judul pustaka wayang lawas yang dialihaksarakan, diterjemahkan, diterbitkan kembali oleh PPBSID , silakan kunjungi :

http://wayangpustaka02.wordpress.com/2012/03/10/proyek-penerbitan-buku-sastra-indonesia-dan-daerah-departemen-pendidikan-dan-kebudayaan-ri-1978-1987/


Blog Stats

  • 536,739 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 55 other followers

Halaman dilihat :

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers