Pustaka Wayang

Posts Tagged ‘Petruk

Pakem Pedalangan Lampahan Wayang Purwa Jilid 1

Dening  :  S. [ Samsudjin ] Probohardjono inggih KRT Mloyodipuro

Penerbit :  CV Ratna, Surakarta

Tanpa ciri tahu [ tetapi kata pengantar penulis berciri tahun 1989 ],  96 halaman,  aksara Latin, bahasa Jawa,  gambar wayang kulit purwa.

S.[ Samsudjin ] Probohardjono adalah mantan Pemimpin Redaksi Kalawarti “Padhalangan” , guru padhalangan HBS ( Himpunan Budaya Surakarta ) , Konservatori Karawitan SMKI Surakarta,  Pawiyatan Kabudayan Karaton Kasunanan Surakarta ,  Dosen Luar biasa “ Universitas Sebelas maret “ Fakultas Sastra Surakarta ,  ASKI ( Akademi Seni Karawitan Indonesia )  STSI Surakarta,  lan sanes-sanesipun.

Informasi tentang isi buku jilid 1 dan penyiapan pindaiannya ( dalam rangka kegiatan konservasi buku wayang yang sudah tidak terbit lagi ) terlaksana berkat peran serta Bpk Jaka Lodhang dari Tanahbaru, Bogor. Beliau mendapatkan buku ini di kios buku di belakang stadion Sriwedari, Surakarta. Admin mengucapkan banyak terima kasih atas peran serta Bpk Jaka Lodhang, dan mengharapkan peran serta kembali untuk buku-buku yang lain.

Pembaca bisa mengunduh gratis ‘ebook’ / pindaian buku ini di URL :

http://www.4shared.com/document/XZB6WqNe/Lmph_Wyng_Prw_Probohardjono_1.html

 

[ Setelah mengunduh yang jilid 1 pembaca bisa melihat dan mengunduh yang jilid 3 , silakan lihat di :   ]

Di dalam kata pengantar buku ini , tertanggal 01 Januari 1989 , penulis menjelaskan bahwa antara tahun 1956 ~ 1960 sudah pernah diterbitkan banyak sekali buku [ karya penulis ] berisi lakon wayang purwa yang diurutkan, jumlah semuanya lima jilid. Cetak ulang tiga kali dan habis semua.

Sekarang diterbitkan kembali dengan tambahan-tambahan berdasar tambahnya pengertian dan pengalaman penulis.

Buku ini memuat  15 lakon wayang yang semuanya merupakan lakon-lakon wayang khas ciptaan orang Jawa , yang orang Jawa biasanya menyebut lakon-lakon wayang sebelum lakon wayang era Lokapala. Menarik, karena lakon-lakon wayang ini tidak ada di dalam cerita wayang versi India – Mahabarata maupun Ramayana.

Daftar lakon wayang yang ada di jilid 1 ini sbb :

1.  Lampahan Manik Maya ( Jagad Gumelar )

( Sumber : Pakem kina kalarasaken kaliyan kawontenan sapunika. )

2.  Lampahan Lahiripun Bathara Kala.

( Sumber : Paramayoga )

3.  Lampahan Murwa Kala

( Pakem Ruwatan )

4.  Lampahan Lahiripun Bathara Gana

( Sumber : Paramayoga, Smaradahana )

5.  Lampahan Bathara Brama Krama

( Sumber : Padhalangan )

6.  Lampahan Bathara Wisnu Krama

( Sumber : Padhalangan )

7.  Lampahan Aruna Aruni

( Sumber : Mahabharata Pustakarajapurwa )

8.  Lampahan Makukuhan

( Sumber : Pustakarajapurwa.  Asring kangge ringgitan bresih dhusun )

9.  Lampahan Sengkan Turunan

( Sumber : Pustakarajapurwa )

10.  Lampahan Watugunung

( Sumber : Pustakarajapurwa )

11.  Lampahan Dewi Mumpuni Bambang Nagatatmala

( Sumber : Pustakarajapurwa )

12.  Lampahan Bremana Bremani

( Sumber : Pustakarajapurwa )

 13.  Lampahan Saptaharga

( Sumber : Pustakarajapurwa )

14.  Lampahan Lahiripun Gareng lan Petruk

( Sumber : Pustakarajapurwa, Padhalangan )

15.  Lampahan Satrukem (Sakutrem) Lahir

( Sumber : Pustakarajapurwa .  Asring kangge ringgitan bersih dhusun )

Semua lakon wayang tersebut menarik untuk dibaca. Bagi Admin yang paling menarik adalah tulisan tentang lakon Murwakala, karena tidak hanya menceritakan lakon Murwakala, tetapi juga menjelaskan tentang :

  1. Orang sukerta. Orang yang digolongkan [ oleh Bathara Guru ] boleh menjadi mangsa Bathara Kala. Ada dua golongan orang, yaitu yang karena keadaan terlahirnya dan orang yang menjadi sukerta karena akibat perbuatannya.
  2. Sajen-sajen yang disiapkan dalam menampilkan wayang kulit lakon Murwakala.
  3. Mantra-mantra yang diucapkan dalang ketika meruwat orang selama penampilan wayang kulit lakon Murwakala.

 

Untuk pengayaan info, pembaca disarankan melihat atau membaca buku-buku Ruwatan yang lain yang [ akan ] termuat dalam blog ini adalah :

Dalam persiapan.

Buku Wayang : Pacandra Warnane Semar Gareng Petruk oleh R. Tanojo.
R. Tanojo, pacandra, menguraikan dengan kata-kata sesuatu wujud, simbol di wewujudan wayang kulit purwa, semar, gareng, petruk.

Kebudayaan Jawa senang dengan “ bahasa simbol “ , untuk menjelaskan sesuatu sering diwujudkan dengan simbol / “ gegambaran “. Kemudian “ gegambaran “ tadi “ dicandra “. “ Dicandra “ (kata kerja) kurang lebih artinya menguraikan dengan kata-kata sesuatu wujud atau keadaan .

Rekan Mawan Sugiyanto dari laman wayang electronic http://e-wayang.org , telah mengembangkan gambar wayang kulit purwa punakawan Semar, Gareng dan Petruk secara digital. Di wewujudan tokoh punakawan ini orang Jawa juga membubuhkan simbol-simbol.

Admin Wayang Purwa Buku mencari kembali di koleksi buku-buku wayang yang menceritakan arti simbol-simbol di wewujudan tokoh punakawan tadi. Di buku Sadjarah Pandawa dan Korawa penulis R. Tanojo menguraikan “ Pacandran Semar Gareng Petruk “. Di bawah ini Admin mengutipnya sebagai peran serta dukungan ke laman e-wayang memperkaya bahan kepustakaan. Tentu saja tulisan R. Tanojo ini merupakan salah satu ‘ tafsir ‘, mungkin masih ada ‘ tafsir ‘ lain dari penulis atau dalang lain. Seni terbuka untuk bebas ‘ ditafsirkan ‘. Bukankah begitu ?

Pacandran warnane Semar :

Semar, dedege cebol, sirah cilik rambut cendhak warna ireng, nganggo kuncung rambut putih, idepe ngramyang, mata rembes, (pacandran loro iki ing gambar wayang ora bisa cetha, bisane ngarani mung miturut panjanturing dalang), irung sunti (irung cilik) [atau sunthi ?], lambe cablik (lambe kang tipis), untu siji, rai kapulas putih, nganggo suweng lombok, bokong bunder gedhe, nganggo jarik poleng wangun ceplok kapulas warna papat : abang putih kuning ireng. Arane Semar, Ki Badranaya, Ki Bojagati, Ki Margaewuh. Padunungane ingaran ing Karang Kabolotan.


Terjemahan bebas nya :
Semar, perawakannya cebol, kepala kecil berambuk pendek / cepak warna hitam, berkuncung rambut putih, bulu mata jarang-jarang, mata berair, (dua uraian wujud tadi kalau di gambar tidak bisa jelas, hanya bisa diuraikan dengan narasi dalang), hidung kecil, bibir tipis, gigi satu, wajah berbedak putih, memakai anting-anting (bentuk) lombok, pantat besar bundar, memakai jarik poleng (motif kotak-kotak) dengan empat warna : merah kuning putih hitam. Nama lain Semar, Ki Badranaya, Ki Bogajati, Ki Margaewuh. Tempat tinggalnya bernama Karang Kabolotan.

Pacandran warnane Nalagareng :

Nalagareng iku anake Semar kang tuwa, dedege endhek cilik, sirah gundhul nganggo kucir, matane kera, lambene cupet, irunge bunder gedhe, tangan tekle, sikil pincang bubulen, pasemone peteng, kalunge gobog (dhuwit ing nagara Cina), jarik slobok (wujud kotakan pasagen kagaris tengah saka ing pojok, saparo garis mau kapulas putih, sasisik kapulas ireng), gegamane arit (saweneh ngarani kudi), arane maneh : Cekrutruna.


Ayo, mas Mawan Sugiyanto yang membantu menerjemahkan ke bahasa Indonesia. Mangga.

Tidak sampai lima menit terjemahan mas Mawan Sugiyanto sudah muncul. Terima kasih. Ini terjemahan mas Mawan Sugiyanto :

Nalagareng itu adalah putra Semar yang pertama, perawakannya pendek dan kecil, kepalanya gundul memakai kucir, matanya juling, mulutnya kecil, hidungnya besar dan bulat seperti bola pingpong, tangannya bengkok (ceko), kakinya pincang karena penyakit “bubulen” [keterangan dik Rudy Wiratama : "bubulen" = semacam " frambusia "], aura wajahnya gelap, berkalung gobog (koin dari negara Cina), sarungnya slobok ( yaitu bercorak kotak-kotak dengan garis-garis diagonal dari sudut-sudutnya, sebagian garis pada sarung berwarna putih, sebagian berwarna hitam), mempunyai senjata sabit (clurit, beberapa orang / pakar menyebutnya kudi). Nalagareng mempunyai alias Cekruktruna.

Pacandran warnane Petruk :

Petruk iku anake Semar kang anom, iya kang aran Kanthongbolong, dedege gedhe duwur, pawakan lurus, sirahe gundhul nganggo kucir, matane keder, irung dawa patrape anjengat, sikil gejig, pasemon dlongeh-dlongeh (lambening wong ngguyu kang tanpa swara), jarik slobog, pada karo jarike Nalagareng, kalunge genta, gegamaning petel.


Mas Mawan Sugiyanto menerjemahkan :

Petruk adalah putra Semar yang lebih muda. Petruk mempunyai alias Kanthongbolong (Kantong Berlubang). Perawakannya tinggi besar dan lurus. Kepalanya gundul memakai kucir, matanya agak juling (keder). Hidungnya panjang mendongak ke atas. Kakinya pincang, tindak tanduk dan auranya suka tertawa tanpa suara, sarungnya slobog, sama seperti Gareng. Berkalung Genta dan menggunakan senjata Kapak.

Selanjutnya penulis R. Tanojo menguraikan arti dari masing-masing simbol yang ada di wewujudan tadi, silakan unduh di :

http://www.4shared.com/file/178660044/c0ace48d/Candra_SemarGarengPetruk.html

Selamat membaca dan mengamati wewujudan tokoh punakawan di e-wayang .

NB :
Mas Mawan, Anda bisa menghubungi mas Harmiel M Soekardjo (ada akun FB nya) yang mempunyai ‘ image ‘ / photo wayang kulit punakawan ketika mereka :
1. Menjadi raja ( di beberapa lakon carangan )
2. Menjadi wanita ( di beberapa lakon carangan juga ).
Kalau wewujudan tersebuti di digital kan, seru juga.
Salam.


Blog Stats

  • 508,742 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 48 other followers

Halaman dilihat :

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 48 other followers