Pustaka Wayang

Rikmadenda Mencari Tuhan

Posted on: December 9, 2009

Berikut saya sertakan ulasan dari Putri Susanti yang membahas buku “Rikmadenda mencari Tuhan” sebuah lakon wayang carangan berdasarkan ciptaan dalang ABYOR oleh Ajib Rosidi.

Tulisan dapat dibaca di Nyanyian Bahasa.

Bukunya bisa dibaca berdasarkan cuplikan yang diperkenankan di Google Book.

Saya coba download-kan di googleBook tersebut dan dapat diunduh di :

____________________________________________________-

I.          Pengantar

Mahabharata merupakan salah satu epos dari India. kitab ini ditulis oleh Vyasa dalam bentuk sloka. Karya ini cukup terkenal sehingga menyebabkan banyak penulis membuat versi lainnya. Tema sentral dalam Mahabharata adalah cerita perang besar antara keturunan Bharata, yaitu Pandawa dan Kurawa. Puncak ketegangan dalam perang besar tesebut terjadi di Kuruksetra. Perang ini memakan banyak korban sehingga seperti banjir darah.

Mahabharata tidak hanya bercerita tentang perang saudara, tetapi juga mengajarkan darma atau ajaran tentang kehidupan, seperti agama, etika, politik dan  pemerintahan, dan filsafat. Dalam bidang agama, para tokoh dalam Mahabharata menjunjung tinggi dewa-dewi. Dalam bidang etika, hal ini dapat dilihat dari sikap Pandawa yang selalu hormat kepada ibunya dan kesetiaan Drupadi kepada Pandawa. Contoh dalam politik dan pemerintahan dapat dilihat dari pengangkatan Pandu sebagai raja walaupun dia anak kedua. Ini disebabkan oleh kecacatan Dastarastra. Dalam filsafat, nasihat-nasihat Kresna sangat membantu para Pandawa yang kadang mempertanyakan banyak hal.[1]

Terdapat tiga acuan untuk melihat konstruksi cerita dalam Mahabharata dan Ramayana di Indonesia. Mahabharata yang semula merupakan puisi dalam bahasa Sanskrit, telah mengalami penggubahan dan saduran ke bentuk Kakawin dan lakon-lakon dalam wayang kulit. Tiga acuan tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Pokok atau Pakem; alur kisah yang mengikuti pola 18 parwa dan tidak mengalami penambahan tokoh dan alur cerita. Secara utuh, kisah Mahabharata masih dalam jangkauan mendekati cerita aslinya. Misalnya, tentang asal usul Pandawa.
  2. Carangan; gubahan baru yang diciptakan pujangga Jawa pada masa Mataram II, Pakubuwono II, dll. Kisah carangan telah menjadi cerita yang utuh dan sering dipentaskan. Cerita carangan tidak akan pernah dapat ditemukan  dalam pokok Mahabharata. Misalnya, munculnya Panakawan, yaitu Lurah Semar dan anak-anaknya.
  3. Sempalan; gubahan yang lebih baru dari carangan. Tingkat penyimpangannya lebih tinggi daripada carangan. Misalnya, cerita yang mengisahkan Abimanyu sebagai keturunan Bima.[2]

Berdasarkan penjelasan tersebut, penulis akan membahas novel yang berjudul Rikmadenda Mencari Tuhan yang ditulis oleh Ajip Rosidi. Novel ini berasal dari pertunjukan wayang yang dibawakan oleh Dalang Abyor. Novel ini merupakan sebuah lakon wayang carangan (Rosidi, 1991: xvii-xix).

II.        Ringkasan Cerita

Novel ini terbagi dalam tujuh babak, yaitu

  1. Kahiangan

Pada babak ini diceritakan bahwa Kahiangan menjadi gempar dengan kehadiran seorang manusia di Kahiangan. Manusia itu adalah putra mahkota kerajaan Girimustaka. Ia disuruh ayahandanya menyampaikan sembah ke hadapan Batara Guru sekaligus mencari Ilmu Ketuhanan untuk bekalnya memimpin negara menggantikan ayahnya yang telah tua.

  1. Karang Tumaritis

Pada babak ini diceritakan pertempuran yang terjadi di Karang Tumaritis antara Panakawan dengan raksasa suruhan Raja Astinapura yang baru. Raksasa itu disuruh rajanya membunuh Semar dan anak-cucunya. Akan tetapi, usaha raksasa mencoba membunuh Panakawan digagalkan oleh Gatotgaca yang sebenarnya berniat menemui Rama Pandawa di Amartapura. Gatotgaca hendak bertemu ramanya untuk memberi tahu perihal berita yang ia dengar mengenai pergantian penguasa Astinapura.

  1. Amartapura

Babak ini memuat cerita perseteruan antara Sang Baginda Sri Maha Prabu Catut Bawana Kemput, Raja Astipura yang baru, atau lebih dikenal sebagai Belawan Dorna dengan Prabu Dwarawati atau Batara Kresna. Perseteruan itu terjadi karena ketidaksukaan Batara Kresna dengan tingkah laku Prabu Catut Bawana Kemput yang serakah dan kejam. Selain itu, Kresna juga tidak menerima sikap pasrah Yudhistira, Bima, Nakula, dan Sadewa yang menyerahkan kerajaan yang mereka pimpin kepada Belawan Dorna tanpa meminta pertimbangan rakyat mereka terlebih dahulu. Kemudian, terjadi pula perang antara wadiabala Astina dan wadiabala Amarta yang tidak terima dengan sikap Raja Astina yang ingin menguasai Amartapura.

  1. Pitungwiung

Babak ini memuat cerita mengenai Batara Kresna yang datang ke Kahiangan Pitungwiung untuk meminta petunjuk kepada Sanghiang Wenang. Setelah mendapat pencerahan, Batara Kresna diminta Sanghiang Wenang menjawab pertanyaan yang diajukan Rikmadenda tentang Tuhan. Ternyata, jawaban yang diberikan Batara Kresna dapat memuaskan Rikmadenda. Kehausan Rikmadenda pada ilmu ketuhanan dapat dipuaskan oleh Batara Kresna.

  1. Girimustaka

Babak ini menceritakan kegelisahan Prabu Mustakaluhur menanti putra mahkota satu-satunya kembali dari kahiangan. Prabu Mustakaluhur menitahkan putranya ke Kahiangan mencari tahu tentang Tuhan. Karena putranya tak kunjung kembali, Prabu Mustakaluhur memutuskan untuk menyusul putranya tersebut  ke Kahiangan. Sesaat sebelum Prabu Mustakaluhur berangkat, Rikmadenda, Putra Mahkota Girimustaka datang.

Setibanya Rikmadenda di negara Girimustaka, Prabu Mustakaluhur langsung menanyakan jawaban Batara Guru tentang ilmu Tuhan kepada Rikmadenda. lalu, diceritakan oleh Rikmadenda perihal proses pencarian jawaban itu. Rikmadenda baru terpuaskan rasa penasarannya setelah mendengar jawaban Batara Kresna. Rikmadenda memberitahukan jawaban yang ia dapatkan dari Batara Kresna itu kepada ayahnya. Akan tetapi, jawaban Batara Kresna yang disampaikan Rikmadenda tidak memuaskan Prabu Mustakaluhur. Kemudian, berangkatlah Prabu Mustakaluhur dan Rikmadenda menemui Batara Kresna di Amartapura.

  1. Pertapaan Rasamulya

Babak ini memuat cerita mengenai Dipati Arjuna yang sedang berguru di Pertapaan Rasamulya. Dikisahkan bahwa Dipati Arjuna telah beristri dengan putri Pendita Begawan Rajsati yang bernama Endang Rasaninggrum. Suatu saat Dipati Arjuna yang dilanda kegelisahan didatangi oleh kedua istrinya yang tinggal di Madukara. Wara Subadra dan Wara Srikandi datang untuk mewartakan kehancuran yang dialami negara Amarta dan Madukara. Kehancuran itu disebabkan oleh penyerangan wadiabala Astina. Berkat muslihat dari Batara Kresna, berangkatlah Dipati Arjuna ke Amartapura dengan niat membalaskan sakit hatinya kepada Begawan Guru.

  1. Amartapura

Babak ini memuat cerita pertemuran yang terjadi di Amarta. Wadiabala Amarta yang mulai kewalahan mendapat bantuan dari Prabu Mustakaluhur, Rikmadenda, dan Dipati Arjuna. Wadiabala Astina dapat dimusnakah oleh Arjuna. Prabu Catut Bawana Kemput berhasil dikalahkan oleh Prabu Mustakaluhur yang tidak kalah sakti dengan Prabu Catut Bawana Kemput. Lalu, keluarlah iblis yang selama ini mendiami tubuh dan membisiki hati Prabu Catut Bawana Kemput. Iblis itu pun pergi karena telah terusir dari tubuh Prabu Catut Bawana Kemput. Setelah pertempuran itu berakhir, Batara Kresna mewaluyokan sehingga negara Amartapura kembali seperti semula.

III.       Pencarian Manusia atas Tuhan

Rikmadenda adalah manusia yang sangat tinggi rasa keingintahuannya. Ia berusaha mencari tahu tentang Tuhan dengan bertanya kepada ulama, pendita, dan ahli agama lainnya di seluruh negeri. Ia juga mendalami semua agama untuk mengetahui hakikat Tuhan sebenarnya. Tak hanya itu, Rikmadenda juga mencari tahu dengan bertanya langsung kepada Dewata.

Usaha pencarian atas Tuhan yang dilakukan Rikmadenda bahkan menuntunnya menemui Batara Guru, raja para dewa. Setelah melewati rintangan yang berat, Rikmadenda berhasil menemui Batara Guru di Kahiangan. Rasa ingin tahu yang sudah tak terbendung lagi segera ditumpahkan Rikmadenda kepada Batara Guru. Jawaban yang diberikan oleh Batara Guru dapat dilihat pada kutipan berikut.

“Tuhan itu tak berwarna tak berbentuk, karena itu tidak dapat dilihat dan tidak pula dapat diperumpamakan.” (Rosidi, 1991: 30)

“Tuhan itu bukan lelaki bukan wanita.” (Rosidi, 1991: 31)

Akan tetapi, jawaban yang telah diberikan Batara Guru tidak memuaskan Rikmadenda. Lalu, Rikmadenda pergi ke Kahiangan Pitungwiung menemui Sanghiang Tunggal, ayah dari Batara Guru. Jawaban yang diberikan oleh Sanghiang Tunggal dapat dilihat pada kutipan berikut ini.

“Kalau engkau menanyakan sesuatu, sebelumnya engkau sudah harus mengetahuinya. Kalau engkau mencari sesuatu, sebelumnya engkau sudah harus tahu apa yang kau cari. Kalau engkau menghendaki sesuatu, sebelumnya engkau harus sudah mempunyainya. Kalau tidak engkau akan kecele.” (Rosidi, 1991: 124)

Maksud dari jawaban Sanghiang Tunggal adalah meminta Rikmadenda memahami dulu tentang Tuhan sebelum bertanya kepada orang lain agar ia tidak dibodoh-bodohi orang lain. Jawaban Sanghiang Tunggal tersebut masih tidak dapat memuaskan batin Rikmadenda. pergilah ia ke kediaman Sanghiang Wenang, ayah dari Sanghiang Tunggal dan kakek dari Batara Guru. Di sana, ia bertemu justru diberi tahu mengenai Tuhan oleh Batara Kresna yang sebelumnya meminta wejangan dari Sanghiang Wenang. Berikut ini jawaban Batara Kresna terhadap pertanyaan Rikmadenda tentang Tuhan.

“Tuhan adalah Yang Maha Pemurah. DiberiNya makhlukNya berbagai kemudahan tanpa meminta bayaran….” (Rosidi, 1991: 145)

“Tuhan Maha Pengasih karena untuk kepentingan makhluk yang diciptakanNya segala yang dibutuhkan….” (Rosidi, 1991: 150)

Jawaban dari Batara Kresna tersebutlah yang mampu memuaskan hari Rikmadenda. Begitu pula halnya dengan ayahanda Rikmadenda, Prabu Mustakaluhur.

IV.       Kesimpulan

Novel yang berjudul Rikmadenda Mencari Tuhan ini ditulis oleh Ajip Rosidi. Novel ini berasal dari pertunjukan wayang yang dibawakan oleh Dalang Abyor. Novel ini merupakan sebuah lakon wayang carangan.

Novel ini mengajarkan nilai ketuhanan sehingga Rikmadenda yang sangat haus dengan ilmu tersebut dapat terpuaskan dengan penjelasan yang bijaksana. Tuhan bukanlah makhluk yang dapat dilihat dengan mata. Tuhan adalah pencipta segala alam raya ini dengan segala kebesaranNya. Hanya Tuhan yang memiliki nilai kebesaran itu.

Daftar Pustaka

Darmoko. 2006. Kresna dan Baratayuda pun Terjadi. Jakarta: Akademia.

Rosidi, Ajip. 1991. Rikmadenda Mencari Tuhan Sebuah Lakon Wayang

Carangan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Tim Senawangi. 1999. Ensiklopedi Wayang jilid 3 dan 4. Jakarta: Senawangi.


[1] Diambil dari bahan ajar matakuliah Sastra Wayang tahun 2008.

[2] Sumber: Kresna dan Baratayudha pun Terjadi karya Darmoko dan Ensiklopedi Wayang jilid 3 dan 4 oleh Tim Senawangi.

2 Responses to "Rikmadenda Mencari Tuhan"

[…] Tentang siapa itu Rikmadenda dapat dibaca di WayangPustaka […]

nuwunsewu mas… ebooknya ini blm selesai ya.. ada part 5-nya gak?? maturnuwun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 589,307 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 60 other followers

Halaman dilihat :

%d bloggers like this: