Pustaka Wayang

Archive for June 2010

buku wayang format digital, ebook wayang .

Digitalisasi Buku Wayang Purwa.
(diunggah pertama 18 Jun 2009 : Budi Adi Soewirjo)
http://www.facebook.com/pages/Wayang-Purwa-Buku/82972305747?v=app_2347471856&ref=ts#!/note.php?note_id=90589034020

Digitalisasi Buku Wayang Purwa.
(Tujuannya bukan untuk membajak atau menggandakan komersial. Jangan salah.)

Di seluruh dunia saat ini tendensi nya perpustakaan mulai berpindah ke bentuk perpustakaan digital. Berangsur angsur media penyimpanan data berupa cetakan di atas kertas di rubah bentuk penyimpanannya menjadi bentuk digital disimpan dalam media rekam elektronik. Meskipun memerlukan teknologi yang lebih maju, tetapi banyak keuntungan lain yang didapat : media penyimpanannya yang makin ringkas, penyimpanannya makin tahan lama, pembaca dapat membaca dari mana saja asal ada jaringan komputer tersambung ke perpustakaan digital, pada saat yang bersamaan bisa banyak orang membaca secara bersamaan.

Karena teknologi tersebut, banyak perpustakaan digital yang membentuk jaringan antar mereka. Antar perpustakaan universitas senegara, regional, dan nantinya pasti perpustakaan sedunia saling terhubung. Seorang pengunjung perpustakaan tidak perlu beranjak dari tempat duduknya untuk memasuki perpustakaan digital lainnya asal perpustakaan itu sudah terhubung ke jaringan perpustakaan. Dari satu perpustakaan bisa langsung pindah ke perpustakaan lain, bahkan bisa sistem pencarian suatu topik langsung di jelajahkan ke semua anggauta jaringan perpustakaan.

Jenis layanan pun bertambah, yang pasti nantinya seseorang bisa membaca buku tanpa harus datang ke perpustakaan. Langsung baca di layar monitor komputernya, meskipun arsip digitalnya ada di perpustakaan digital. Jika masalah hak cipta atas penggandaan karya / buku mengijinkan, seseorang yang memerlukan suatu buku bisa dengan mudah mengunduh ( atau membeli on demand (?) ) dari perpustakaan digital yang menyimpan karya / buku.

Di luar negeri kita mengenal Google Book yang bekerja sama dengan beberapa universitas Amerika Serikat. Ada http://openlibrary.org/ . Ada http://www.gutenberg.org/ .

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia ( http://digilib.pnri.go.id/ ) juga sedang “ membangun “ Perpustakaan Digital Nasional Republik Indonesia. Salut dan terima kasih. Perpustakaan lain di Indonesia juga sudah mulai digital dan mulai membentuk jaringan. Ada jaringan perpustakaan delapan universitas negeri terkemuka. ( Masuk ke situ perpustakaan UGM http://www.lib.ugm.ac.id/ , kemudian klik LibNet , Anda akan diantar masuk ke jaringan perpustakaan. ) Ada jaringan enam perpustakaan swasta http://www.pustakabersama.net/ . Salut dan terima kasih. Meskipun belum sepenuhnya digital, tapi paling tidak sudah ada OPAC (Online Public Access Catalog).

Jadi secara perangkat keras dan perangkat lunak, berangsur angsur Indonesia juga akan menuju ke arah perpustakaan digital (digital library) dan perpustakaan terbuka (open library).

Pembicaraan saya persempit menjadi seputar buku wayang purwa saja.

Setelah sistem perpustakaan siap untuk perpustakaan digital dan perpustakaan terbuka, masalahnya sekarang adalah buku wayang purwa digital APA (dan buku wayang purwa digital SIAPA) yang akan menjadi isi nya. Apakah saat ini perpustakaan perpustakaan yang ada sudah mempunyai koleksi buku wayang purwa yang cukup (selain perpustakaan institut seni) ?
Buku wayang purwa terbitan sebelum Indonesia merdeka ? ( Kalau yang ini saya malah lebih tidak kawatir karena sistem pengadaan dan penyimpanan buku wayang saat itu lebih memadai. Asal setelah kemerdekaan koleksi itu tetap terjaga. )
Buku wayang purwa yang terbit setelah kemerdekaan sampai dengan era awal tahun 1970 ?

Cobalah telusuri dengan sistem OPAC koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan jaringan perpustakaan yang sudah saya sebut di atas.
Search dengan kata kunci : “wayang” , “wayang kulit” , “wayang purwa” , “dalang” , “mahabarata” , “ramayana” , “baratayuda” . Berapa banyak judul buku wayang purwa yang Anda temui ? Berapa banyak judul buku wayang purwa yang terbitan sesudah Indonesia merdeka ?

Saya pakai tolok perbandingan : judul-judul buku wayang yang tercatat dalam buku saya “ Kepustakaan Wayang Purwa (Jawa). Penelusuran buku terbitan Indonesia 1948 ~ 1995 “ diterbitkan Yayasan Pustaka Nusatama – Senawangi – KITLV 1997. Kesimpulannya : jumlah judul buku wayang purwa yang tersimpan di perpustakaan-perpustakaan saat ini sangat sedikit.

Mudah-mudahan kekawatiran saya salah, mudah-mudahan sebetulnya belum semua koleksi buku wayang purwa sudah di OPAC kan, mudah-mudahan sebetulnya masih banyak judul yang belum muncul di OPAC. Mudah-mudahan.

Apakah generasi muda nantinya mengetahui wayang purwa hanya dari budaya tutur saja ? Hanya dari mendengarkan cassete wayang purwa dan video wayang purwa saja ? Apakah mereka tidak punya kesempatan untuk MEMBACA tulisan-tulisan generasi pendahulunya tentang wayang purwa ?

Apa yang harus dilakukan agar kita (bangsa Indonesia yang berada di Indonesia) bisa ikut berperan memperkaya khasanah buku digital wayang purwa di perpustakaan digital ?
{ Landasan : pengetahuan yang bisa ditularkan untuk diketahui / dimanfaatkan oleh masyarakat luas akan lebih bermanfaat dari pada pengetahuan ( dalam hal ini : koleksi buku / bahan tertulis ) yang hanya kita ketahui sendiri }.

 

• Pemerintah Republik Indonesia.

( Saya tulis kembali tulisan saya sebelumnya )
Pemerintah Republik Indonesia dimohon – dalam hal ini Departemen yang membawahi “ Pendidikan “ atau “ Kebudayaan “ – untuk mem-public domain-kan / me-milik umum-kan buku-buku wayang yang pernah diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI dan proyek-proyek di departemen tersebut ( lihat http://www.facebook.com/note.php?note_id=79393664020 ). Demikian juga buku-buku wayang lama terbitan Balai Pustaka karena Balai Pustaka adalah BUMN di bawah Departemen Pendidikan. Banyak manfaat untuk masyarakat Indonesia namun Pemerintah RI tidak perlu keluar uang banyak untuk itu ( kasarannya hanya biaya men-digital-kan / menjadikan format PDF buku-buku wayang purwa tersebut ).

File PDF bisa kita tumpangkan ke Google Buku, gratis menurut Google. ( Kalau gengsi numpang ke Google Buku, ya tampung di server Direktorat Jenderal Kebudayaan ( barangkali? ) atau server Perpustakaan Digital Nasional. Atau dua-duanya – Indonesia dan Google Book – satu sebagai back up / mirror. ). Pilihan penyajian kepada umum :
• Tidak seluruh halaman bisa dilihat / “Pratinjau Terbatas”, tidak bisa diunduh.
• “Tampilan penuh”, tidak bisa diunduh.
• “Tampilan penuh”, dan bisa diunduh.

 

• Perpustakaan Universitas Negeri maupun Swasta di Indonesia.

Memohon kepada perpustakaan Universitas Negeri ( terutama perpustakaan Institut Seni ), agar bersedia secepatnya melakukan digitalisasi / scanning / memindai koleksi buku-buku wayang purwa mereka ( dengan prioritas buku terbitan lama ) sebelum terlanjur rusak atau hilang. File PDF disimpan di server perpustakaan masing-masing dengan pilihan penyajian kepada umum :
• Tidak seluruh halaman bisa dilihat / “Pratinjau Terbatas”, tidak bisa diunduh.
• “Tampilan penuh”, tidak bisa diunduh.
• “Tampilan penuh”, dan bisa diunduh.

 

• Perseorangan di Indonesia atau di Luar Negeri.

Ini potensi yang harus digalang untuk bersama-sama diwujudkan. Mengapa kita masing-masing tidak men-digital-kan / men-scan / memindai buku wayang purwa koleksi kita pribadi ? Untuk kemudian kita titipkan atau sumbangkan ke satu jaringan perpustakaan digital nasional agar buku tersebut bisa dibaca oleh siapapun dimanapun ? Apakah ide ini melanggar hukum nasional kita ? Barangkali hanya untuk buku yang sudah berumur sekian tahun ? Teknologi sudah memungkinkan membuat pembaca hanya bisa membaca saja , tetapi tidak diijinkan mengunduh / menggandakan ?

Perumpamaan : Perpustakaan tidak bisa mengadakan backup buku karena buku itu sudah tidak terbit lagi. Perpustakaan kawatir kalau koleksi bukunya hilang (dan sudah tidak mungkin mengadakannya lagi). Sehingga perpustakaan membuat microfilm nya.
Perpustakaan menerima microfilm dari luar perpustakaan untuk memperluas koleksi nya ( bukan dijual / dikomersialkan ).
Apakah ini melanggar hukum nasional kita ?

Pendapat / pertanyaan masih panjang.

Bersamaan dengan itu : Karena ada Facebook, bulan lalu saya berjumpa kembali (copy darat) dengan teman sekolah yang sudah 30 tahun tak bertemu. Sama-sama penggemar wayang dan pengumpul bahan tercetak tentang wayang , teman saya pernah juga mengawal satu home page wayang di host geocities. Apa yang saya pikirkan tersebut di atas saya diskusikan dengan dia. Di akhir diskusi kami berdua sepakat untuk memulai men-digital-kan / memindai koleksi kami masing-masing , file digital disimpan masing-masing, sambil mengajak teman yang lebih luas. Sambil mencari jawaban atas pertanyaan tentang teknologi, hukum dan rincian pelaksanaannya. Suatu saat jika masalah teknologi dan hukum memungkinkan, kami berdua sudah siap ber-partisipasi dengan “setetes air” untuk masyarakat pewayangan purwa Jawa.

Anda pun juga bisa melakukan hal yang sama. Kumpulan “setetes air” bisa membentuk “samudera”. Buku / bahan tertulis apa ? Apa ini penting ? Apa ini perlu ? Menurut saya (maaf), perpustakaan adalah gudangnya apa yang pernah ditulis manusia. Tempat kita bisa membaca apapun yang pernah digagas, di-cita-cita-kan, ditulis, diciptakan, dikerjakan manusia. Apapun.

Anda setuju ber-partisipasi ? Kita perlu ber-komunikasi agar apa yang kita kerjakan bersama lebih terarah, lebih banyak masukan, lebih banyak koreksi, lebih optimum (tidak saling duplikasi). Silakan layangkan email ke saya di basoewirjo@gmail.com .

Kritik, saran, pendapat, dukungan disilakan. Terima kasih sebelumnya.

Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan saya ini.
Semoga Anda semua selalu dalam lindungan dan mendapat berkah Allah. Amin.
Salam hormat saya,
Budi Adi Soewirjo

(akhir tulisan 18 Jun 2009)

Advertisements

‘Ebook’ “Wayang Bratajuda II (Tawur)” karya U J Katidjo Wiropramudjo dan Kamadjaja, 1958.

07 Februari 2010 jam 3:03

’ebook’ wayang, cerita wayang, Baratayuda, Bisma, Katidjo Wiropramudjo, Kamadjaja

.

Data buku :

U. J. Katidjo Wiropramudjo dan Kamadjaja ; ” Bratajuda II – Tawur (Bisma Mukswa) “ ; Yogyakarta ; Pusaka ; 1958 ; 99 halaman ; aksara Latin ; bahasa Jawa ; satu gambar wayang Srikandi.

.

‘Ebook’ nya bisa diunduh di URL :

http://www.4shared.com/file/216436916/539a75d3/bratajuda_II-1_Katidjo_Kamadja.html

http://www.4shared.com/file/216436912/54f7b1ca/bratajuda_II-2_Katidjo_Kama.html

.

 

Buku / ebook BRATAJUDA jilid II. Tawur (Bisma Mukswa) gubahan Katidjo Wiropramudjo dan Kamadjaja (Karkono Partokusumo).

.

.

[ pemutakhiran 29 Mei 2014 }

.

Admin mempunyai seri buku ini yang jilid ke enam  berjudul “ BRATAJUDA jilid VI – Karna Tanding ( Pedjahipun Adipati Karna ) , informasinya dan alamat file unduhan konservasi bisa Anda lihat di :
http://wayangpustaka02.wordpress.com/2014/05/29/ebook-bratajuda-vi-karna-tanding-pedjahipun-adipati-karna-gubahan-katidjo-wiropramudjo-uj-dan-kamadjaja-1959-ebook-cerita-wayang/

 

Sudah banyak hasil konservasi buku lawas tentang cerita Barata Yudha , Anda bisa membacanya di :
http://wayangpustaka02.wordpress.com/2014/04/27/koleksi-ebook-bharata-yuddha-versi-jawa/
dan dari sana Anda bisa memilih klik-klik yang lain untuk diantarkan ke semua koleksi hasil konservasi.

.

[ akhir pemutakhiran 29 Mei 2014 ]

.

Gambar wayang kulit purwa jaman Kasidi dkk – Koleksi BAS – P01 Kontributor Budi Adi Soewirjo .

 04 Februari 2010 jam 0:59

gambar wayang purwa HQ, Kasidi, D Tjarito, R Soelardi, Rama, R Ng Kartapradja, Bale Poestaka, 1937


Pelataran ini akan di update secara bertahap menampilkan URL file gambar wayang dengan jumlah byte yang besar. Sila secara berkala berkunjung kembali ke pelataran ini. Terima kasih.
Jika ada saran mengenai file jpg dan lain lain harap mengirimkan email ke : basoewirjo@gmail.com
 

Gambar wayang kulit purwa jaman Kasidi dkk – Koleksi BAS – P01
dari buku Ardjoenasasra karya Kartapradja terbitan Bale Poestaka, Batavia tahun 1937
dengan format jpg resolusi tinggi.
Kontributor : Budi Adi Soewirjo


1. Wisrawa karya ?
[ Pemutakhiran 07 Peb 2010 ]
http://www.4shared.com/file/216413510/fefd8ad0/wisrawa_karya_1937_jpg_crop.html (595 kB)

2. Danapati karya R. Soelardi  [ pemutakhiran 07 Aug 2010 ]   http://www.mediafire.com/i/?3bp8695chqg4w38 ( 1.04 MB )

3. Kumbakarna karya ?
[ Pemutakhiran 11 Peb 2010 ]
http://www.4shared.com/file/219258638/c2c66c0c/kumbakarna_karya_1937_jpg_crop.html (3.373 kB)

4. Wibisana karya ?  [pemutakhiran 07 Aug 2010]  
http://www.mediafire.com/i/?5bzhcdcwa41aazg  ( 1.1 MB )

5. Gohmuka karya D. Tjarito  [pemutakhiran 07 Aug 2010]   http://www.mediafire.com/i/?bvpa2019ccpyp1z  ( 1.61 MB )

 
6. Banendra karya ?  [pemutakhiran 07 Aug 2010]   http://www.mediafire.com/i/?o5131xat7qu61f3  ( 1.35 MB )

 
7. Widawati (Dewi) karya ?  [ pemutakhiran 07 Aug 2010 http://www.mediafire.com/i/?714en51jjy5gs1k  ( 665 KB )

8. Maruta (Begawan) karya ?  [ pemutakhiran 07 Aug 2010 http://www.mediafire.com/i/?0d7c6a8ajpjjat0  ( 1.07 MB )

9. Prahasta karya ?  [ pemutakhiran 07 Aug 2010 http://www.mediafire.com/i/?lajnce332dmbv85  ( 2.32 MB )

  

10. Banaputra karya R. Soelardi
[ Pemutakhiran 11 Peb 2010 ]
http://www.4shared.com/file/219657713/a512ef71/Banaputra_karya_R_Soelardi_193.html
( 1.048 kb )


11. Arjunasasra karya Kasidi  [ pemutakhiran 07 Aug 2010 http://www.mediafire.com/i/?m74vpbqmvhs268p  ( 1.03 MB )

 
12. Suwanda karya Kasidi  [ pemutakhiran 07 Aug 2010 ]   http://www.mediafire.com/i/?yxbwld77b2uee77  ( 793 KB )

 
13. Suryaketu (Prabu) karya D. Tjarito [ pemutakhiran 07 Aug 2010 http://www.mediafire.com/?0klzbngc9ntbf22  ( 1.51 MB )

 
14. Jambumangli karya ?  [ pemutakhiran 07 Aug 2010 http://www.mediafire.com/?6kmtfrmu8i5ut2u ( 1.85 MB )

15. Kanekaputra karya ?  [ pemutakhiran 07 Aug 2010 http://www.mediafire.com/?6kmtfrmu8i5ut2u  ( 906 KB )

 
16. Dasamuka karya ?  [ pemutakhiran 07 Aug 2010
http://www.mediafire.com/?soxc16c18h297m4  ( 2.08 MB )

17. Arjunasasra triwikrama karya ? [ pemutakhiran 07 Aug 2010 http://www.mediafire.com/i/?f9qm2inem15qi75 ( 2.19 MB )

18. Durga (Batari) karya ?  [ pemutakhiran 07 Aug 2010 http://www.mediafire.com/?kb83exmj8fmzmi1  ( 1.09 MB )

19. Pulasta karya D. Tjarito
[ Pemutakhiran 11 Peb 2010 ]
http://www.4shared.com/file/219660453/194fd645/Pulasta_karya_D_Tjarito_1937_j.html (1.500 kB)

Yang bertanda ? = tidak ada tanda nama penggambar

Gambar wayang purwa Resolusi Tinggi karya Kasidi dkk – Koleksi BAS – P02 Kontributor Budi Adi Soewirjo .

 04 Februari 2010 jam 1:01

gambar wayang purwa HQ, Kasidi, D Tjarito, R Soelardi, Rama, R Ng Kartapradja, Bale Poestaka, 1937

 

 

Pelataran ini akan di update secara bertahap menampilkan URL file gambar wayang purwa resolusi tinggi dengan jumlah byte yang besar. Sila secara berkala berkunjung kembali ke pelataran ini. Terima kasih.
Jika ada saran mengenai file jpg dan lain lain harap mengirimkan email ke : basoewirjo@gmail.com

 

Gambar wayang purwa ( karya Kasidi, D Tjarito, R Soelardi )
di buku Rama – R Ng Kartapradja terbitan 1937
dengan format jpg resolusi tinggi

[ unggah pertama 04 Peb 2010 : Budi Adi Soewirjo ]
[ pemutakhiran 16 Mar 2010 : Budi Adi Soewirjo ]

1. Dasarata karya ? (1.300 KB)
http://www.4shared.com/file/242310250/2cc1ec70/dasarata_th_1937.html

2. Rama karya ? (921 KB)
http://www.4shared.com/file/242311160/bd16668f/rama__th_1937.html
gambar yang sama dengan jumlah byte lain :

Rama
http://www.4shared.com/file/214269127/d0e62a2c/rama_crop.html (1.634 kByte)

3. Janaka (Prabu) karya ? (1.112 KB)
http://www.4shared.com/file/242313209/3adf0f7f/janaka__prabu__th_1937.html

4. Ramabargawa karya ? (1.870 KB)
http://www.4shared.com/file/242315931/361764b3/ramabargawa_th_1937.html

5. Laksamana karya ? (810 KB)
http://www.4shared.com/file/242316120/44ad9b32/laksamana__raden__th_1937.html

6. Sarpakanaka karya ? (891 KB)
http://www.4shared.com/file/242317106/27443be0/sarpakanaka_th_1937.html

7. Kidang Kancana karya ? (563 KB)
http://www.4shared.com/file/242318033/25a2e6cd/kidang_kancana_th_1937.html

[akhir pemutakhiran 16 Mar 2010 ]

[ pemutakhiran 16 Agustus 2010 ]

8. Jatayu karya ?  (3,64 MB)  http://www.mediafire.com/i/?w0lls5sss71iiv5

9. Sugriwa karya ?  (1,51 MB)  http://www.mediafire.com/i/?nttcbscwfy6utm9

10. Subali karya ? (1,56 MB) http://www.mediafire.com/i/?q713f4gwgr8owcb

11. Anoman karya ?  (1,42 MB)  http://www.mediafire.com/i/?nrc3drx44r7x90c

12. Sayempraba karya ?  (619 KB)  http://www.mediafire.com/?k7nd3nt7261sjgg

13. Sinta karya ?  (638 KB)  http://www.mediafire.com/?5zd5o2e1lutoi51

14. Saksa (Raden) karya R. Soelardi  (1,52 MB)  http://www.mediafire.com/?vksnwdku0bzkbpl

15. Sumali (Bagawan) karya D. Tjarito  (1,53 MB) http://www.mediafire.com/?qq9274h2w88dl8g

16. Wibisana karya ?  (1,07 MB)  http://www.mediafire.com/?save89edqmw7w5u

17. Bala ketek karya ?  (1,19 MB)  http://www.mediafire.com/?ev8ixtxpd8u9r2r

18. Trijatha karya ?  (593 KB)  http://www.mediafire.com/?cb1lqqy8rs68gen

19. Anggada karya ?  (1,32 MB)  http://www.mediafire.com/?cb1lqqy8rs68gen

20. Prajangga karya D. Tjarito  (1,57 MB)  http://www.mediafire.com/?9re6p9mq8v3debh

21. Jambumangli karya ?  (1,79 MB)  http://www.mediafire.com/?1422b3uphh8lz28

22. Punggawa ketek karya D. Tjarito

23. Kumbakarna karya ?  (3,33 MB)  http://www.mediafire.com/?cr3l7vala97iscx

24. Prahasta karya ?  (2,31 MB) http://www.mediafire.com/?codaf22rrudewe5

25. Danawa karya ?  (1,35 MB)  http://www.mediafire.com/?zdhww77oual19zv

26. Anila karya ?  (1,36 MB)  http://www.mediafire.com/?tu5vquedlaftkuw

 [ akhir pemutakhiran 16 Agustus 2010 ]

 

27. Kumba-kumba karya Kasidi
http://www.4shared.com/file/214495152/f1128310/koemba2_2.html (3.258 kByte)

[ pemutakhiran 28 Agustus 2010 ]

Folder dengan sharing URL http://www.mediafire.com/?xmugobnp2u1hn

27. Kumba-kumba  karya  ?  ( 2,03 MB )  http://www.mediafire.com/?8g7c717jty26qma

(pindaian baru dengan latar belakang putih )

28. Indrajid karya ?  ( 1,84 MB )  http://www.mediafire.com/?af0g1tst24adwhc


29. Dasamuka karya ?  ( 2,07 MB )  http://www.mediafire.com/?ko1nkilxmlx6las
30. Girinata karya ?  ( 1,19 MB )  http://www.mediafire.com/?6d16ccqnwdaw035
31. Brama karya ?  ( 1,55 MB )  http://www.mediafire.com/?yxv977wdwub9xbd
32. Barata karya ?  ( 949 KB )  http://www.mediafire.com/?cidilend7can6vw
33. Satrugna karya ?  ( 1,09 MB )  http://www.mediafire.com/?vg7lrhe0jcn9w8g

34. Arimenda karya ?  ( 936 KB )  http://www.mediafire.com/?8g7c717jty26qma

 

[ akhir pemutakhiran 28 Agustus 2010 ]

Yang bertanda ? = tidak memiliki tanda nama penggambar.

Gambar Grafis Wayang Purwa: Karya Kasidi-Darmotjarito (1)

Tulisan Rudy Wiratama Partohardono

31 Jan 2010 jam 21:59

Pembaca sekalian,

Dalam sejarah hidup Anda, tentulah salah satu jalur Anda mengenal wayang hingga sampai ke level saat ini adalah dengan membaca buku-buku pewayangan yang (dulu) banyak sekali beredar di masyarakat. Dalam membaca buku wayang ini, ada beberapa hal yang menjadi “magnet” bagi para pembacanya untuk setia mengikuti terbitan demi terbitan.

Ada yang terpesona dengan gaya tuturnya.

Ada yang menanti lakon-lakon carangannya.

Ada pula yang menanti gambar grafisnya.

Ya, Gambar Grafis. Tak sekadar sebuah ilustrasi pada umumnya, gambar grafis wayang pada sebuah buku cerita wayang punya makna lebih: Ia sanggup membantu para membacanya membayangkan, mengkarakterisasi, dan bahkan mengimajinasikan jalan cerita dan tokoh pelakunya.

Gambar grafis pada buku pewayangan sebenarnya bukanlah barang baru. Sejak masa Hindu-Buddha, ilustrasi wayang telah dituangkan pada lontar-lontar. Di masa setelahnya, banyak manuskrip tentang cerita wayang yang dihias dengan gambar wayang seindah mungkin, kalau perlu diperada emas seperti wayangnya. Contoh yang masih dapat ditemui sampai sekarang adalah Serat Brantayuda milik Kasultanan Yogyakarta dan Serat Arjuna Sasrabahu milik Pura Mangkunegaran Surakarta.

Seiring dengan meluasnya literasi, buku dan gambar wayang pun tak lagi menjadi sebuah persembahan seni bagi raja pembacanya. Buku telah bisa dicetak massal. Dan gambar wayang pun bisa dicopy serta disisipkan di antaranya.

Dari situlah kita mengenal beberapa seniman gambar grafis wayang purwa, dengan karakteristik sendiri-sendiri: ada Soelardi, ada Soehatmanto, ada RM. Sajid, Ki Siswoharsojo dan, yang paling terkenal, karya Kasidi dari Jatisrono, Wonogiri, dan Darmotjarito.

Karya keduanya mungkin baru Anda kenal semenjak ” Sedjarah Wajang Purwa” karya Hardjowirogo menjadi sebuah buku “teks wajib” bagi Anda yang baru memulai kenal wayang. Dan sungguh, apa yang Anda dapatkan bukanlah suatu yang main-main: ilustrasi karya keduanya dikenal memiliki keindahan estetik, mencakup anatomi, sunggingan, bedahan, wanda hingga yang remeh-remeh seperti drenjeman, cawi dan bludiran.

Betapa tidak, menurut penelusuran, gambar-gambar yang menghiasi buku-buku era itu dibuat (sejatinya) untuk keperluan proyek Bale Poestaka tahun 1920-an, di mana produk kesusastraan keraton seperti Serat Pedalangan Ringgit Purwa dan Langendriya dari Mangkunegaran dan serial Serat Panji koleksi Kasunanan, yang mana butuh gambar ilustrasi untuk membantu pembacanya mencerna cerita yang (kebanyakan) dalam tembang-tembang Macapat, Tengahan bahkan Sekar Ageng.

Sumber gambarnya pun tak main-main pula: Tegas-tegas Balai Pustaka menyatakan terimakasihnya kepada KGPAA Mangkunegara VII karena mengizinkan kedua pelukis itu menduplikasi wayang-wayang koleksi beliau ke dalam bentuk gambar grafis. (Lihatlah pengantar Serat Langendriya jilid I)

Dan karena itu pula, gambar-gambar karya mereka berdua rata-rata memiliki garap yang rapi, halus, bersih dan indah.

Akan tetapi, riwayat Kasidi tak hanya sampai di situ. Tahun 1950-an ketika Samsudjin Probohardjono (yang wafat kira-kira awal dekade 90-an) menyusun beberapa jilid buku Pakem Pedalangan. Untuk memudahkan dalang yang memakainya mencari wayang untuk peraga tokoh tertentu, buku-buku karya Samsudjin ini menampilkan ratusan macam gambar wayang yang digambar oleh Kasidi, yang tentu sama sekali berbeda dengan koleksi Balai Pustaka. Singkatnya, hampir tak ada gambar tokoh wayang srambahan. Semua karakter digambar dengan ciri ikonografis masing-masing.

Gambar Kasidi dalam era ini tak sehalus buatan era 1920-an. Bisa jadi karena faktor usia, atau bisa jadi pula karena buku Samsudjin berukuran kecil (B5), tak seperti buku Balai Pustaka yang seukuran folio. Dengan ukuran seperti itu tentunya dituntut gambar yang meski kecil namun harus tetap nampak jelas. Akibat dari gambar “halus” yang dikecilkan lalu menjadi “njemblok” adalah gambar-gambar yang kita dapatkan dari buku-buku terbitan setelahnya yang memindah karya Kasidi dan Darmotjarito sebelum kita kenal sistem scanning yang canggih seperti sekarang….sampai pada akhirnya Ensiklopedi Wayang Indonesia menyajikan gambar yang sama sekali baru dari perupa masa kini seperti F. Sugiri (Museum Wayang Jakarta), Hadi Sulaskam dan S.B. Suseno (Sanggar Sedayu) dan Ki Bambang Suwarno, S.Kar,M.Hum.(ISI Surakarta) yang kemudian diduplikasi dengan cara yang lebih canggih dan bahkan menjadi patokan para penatah untuk membuat pola wayang (kalau malas bikin sendiri, hehehe)

Nah, tibalah kita pada klimaksnya.

Suatu sore, saya menemukan sebuah buku berisi kumpulan fotokopian gambar wayang di Alun-alun Utara Surakarta. Buku ini, semuanya berisi ilustrasi karya Kasidi era 1920-an dan 1950-an, dan saya tengarai belum semuanya termuat di situ. Kualitas fotokopian yang buruk membuat wayang-wayang yang sebenarnya indah menjadi “pating plethot” tak karuan.

80% di antaranya yang masih baik akan coba saya unggah dalam lampiran file berikut, dan beberapa lagi (yang masih memungkinkan) akan coba saya rekonstruksi. (Mas Mawan, bagaimana, tertarik merekonstruksi?)

Sementara saya split dalam beberapa file, karena memang gambarnya masih asli hasil scan dan belum saya olah, sehingga ukurannya besar.

Ke depan, doakan semoga saya bisa menyelesaikan seri Kasidi 1950 dan melanjutkan mengunggah karya Beliau edisi 1920-an, baik gambar wayang Purwa, Gedog dan Krucil.

(sesempat mungkin saya akan update juga notes ini 2-3 hari ke depan,tergantung stabilitas koneksi)

Selamat menikmati

 

buku wayang, novel, Arjuna, Karna, Pitoyo Amrih, Diva Press

Data buku :

Judul Novel : Pertempuran 2 Pemanah ARJUNA-KARNA
Penulis : Pitoyo Amrih
Tebal Halaman : 426 halaman
Ukuran Halaman : 14 x 21 cm
Penerbit : DIVAPress

ISBN : 978-602-955-522-6

Synopsis :

Seorang ksatria lahir dengan sebuah anugrah luar biasa. Wajahnya memiliki aura tampan yang mempesona siapa saja yang melihatnya, apalagi seorang perempuan. Lahir dilingkungan istana besar Hastinapura yang membuatnya merasa dia adalah seorang istimewa.

Perjalanan hidup berliku membuatnya harus keluar istana. Tapi justru itulah, dia mengalami pendewasaan hati dan pikiran. Kesaktiannya juga luar biasa. Berguru kepada banyak resi, bahkan pernah tinggal di kahyangan tempat bangsa Dewa. Banyaknya pusaka yang diberikan kepadanya, semakin menambah wibawa dirinya. Panah Pasopati, Sarutama, Harudadali. Keris Pulanggeni, Kalanadah, adalah sebagian dari beberapa pusaka yang terkenal itu.

Keelokan wajahnya membuat banyak perempuan di setiap persinggahan rela untuk menjadi istrinya. Dia bukan lelaki pencari wanita. Dia juga bukan lelaki pengumbar kesenangan. Dia hanya seorang pria yang tak kuasa menolak setiap wanita yang memohon untuk menjadi istrinya. Tercatat limabelas wanita telah menjadi istrinya. Sumbadra, Srikandi, Larasati, Ulupi, Ratri, Jimambang, Supraba, Wilutama, Dresanala, Manuhara, Antakawulan, Juwitaningrat, Meswara, Retno Kasimpar dan Dyah Sarimaya.

Sang ksatria pemanah yang tak pernah berhenti belajar itu bernama Arjuna. Duduk di singgasana negri bagian Amarta bernama Madukara.

Ada seorang ksatria lain yang lahir dan tersia-siakan. Sepanjang hidupnya diliputi rasa ketidakpuasan ketika dia selalu melihat bahwa kemampuan dan kesaktiannya senantiasa bisa lebih tinggi dari anggapan orang. Dia dibuang dan harus menjalani hidup sebagai seorang anak kusir kerajaan.

Kemauan dan tekadnya yang begitu besar membuatnya dia menjadi sosok sakti tanpa guru. Tak ada yang mau membimbing seorang anak kusir kecuali seorang guru kehidupan bernama Rama Bargawa. Yang kemudian memberinya pusaka sakti panah Wijayacapa, keris Kalatida dan Kyai Jalak.

Satu-satunya istri yang dicintai adalah Dewi Surtikanti. Seorang putri negri Mandraka. Namun selalu menjaga jarak dengan mertuanya, Prabu Salya. Sampai ketika rahasia itu terungkap bahwa sebenarnya dia masih keturunan seorang putri raja dan seorang petinggi bangsa Dewa. Lengkaplah rasa marahnya kepada setiap orang yang seharusnya dihormatinya.

Sang ksatria pemanah lain itu bernama Karna. Bergelar Adipati dan duduk di singgasana negri bagian Hastinapura, bernama Awangga.

Dua ksatria pemanah, Arjuna dan Karna, ternyata lahir dari kandungan seorang ibu yang sama! Dan dua sedarah seibu itu harus menjalani pilihan untuk saling berhadapan, saling membunuh. Dua orang pemanah sakti yang harus berseberangan, sama-sama demi sebuah kebenaran!

Info lebih jauh :
http://www.pitoyo.com/duniawayang/mod.php?mod=userpage&menu=504&page_id=11

  

 

 

Divapress online menuliskan synopsis :

(http://divapress-online.com/index.php/buku/detail/718 )

“Dalam perjalanan hidup seseorang,
ada kalanya  harus memilih berdiri pada suatu pendirian
yang mengharuskannya berhadapan
justru dengan orang-orang yang sangat dihormati….”

Kisah dunia wayang dapat membuat kita selalu bercermin dan mawas diri. Kisah-kisah yang dituliskan oleh pujangga India, kemudian dituturkan kembali dalam versi Jawa oleh pujangga-pujangga Jawa, seperti Empu Kanwa, Empu Prapanca, Empu Sedah, dan Empu Panuluh.

Seperti juga kehidupan manusia, dalam kisah kehidupan dunia wayang selalu saja ada pertemuan antara kebaikan dan keburukan, kebijakan dan ketamakan. Dunia wayang bertutur tentang kehidupan lebih dari sepuluh generasi, ribuan tokoh, dan jutaan karakter. Beberapa ras atau bangsa, baik itu bangsa dewa, manusia, ular, kera, samudra, raksasa, gandarwa, jin, banaspati, hidup dalam satu dunia.

Sejak kecil, kisah-kisah dunia wayang selalu memberikan saya inspirasi dan obsesi tersendiri. Memberikan ide untuk mencoba me-lihat dan menyelami masing-masing tokoh dan karakter secara in-dividu. Kisah tentang keteladanan, kemarahan, kesendirian, kecongkakan, kejujuran, integritas, pengorbanan, kebijaksanaan, kebimbangan, dendam,  kekecewaan, dan pencarian, tersaji menjadi sebuah novel.

Inilah novel yang mengangkat kisah pertempuran dua pemanah, Arjuna-Karna, yang kaya dengan drama, air mata, darah, hingga kebajikan dan perjuangan atas pilihan hidup. Silakan baca, Anda akan merasakan atmosfir dunia wayang yang sungguh selalu menakjubkan!

ebook wayang, ebook pedalangan, pakem pedalangan gaya Surakarta, Sembadra Larung, Kodiron BA, 1968

Sebuah buku pelajaran pedalangan gaya Surakarta yang lengkap memuat tata cara mendalang, menggerakkan wayang, narasi / janturan, suluk, percakapan, ada beberapa gambar wayang.

Data buku :
Kodiron BA ; ” Serat Tuntunan Tjaking Pakeliran Ringgit Purwa, Lampahan Sembadra Larung ; Sala ; Toko Buku Peladjar ; 1968 = cetakan kedua ; 92 halaman ; aksara Latin ; bahasa Jawa ; gambar wayang.

‘Ebook’ bisa diunduh di :
http://www.4shared.com/file/242348000/5f666bc4/sembadra_larung_kodiron_.html


Blog Stats

  • 659,086 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 61 other followers

Halaman dilihat :

Advertisements