Pustaka Wayang

Langkah-langkah menatah wayang jilid II: Bagaimana mengolah kulit? – tulisan Rudy Wiratama Partohardono.

Posted on: August 13, 2010

Langkah-langkah menatah wayang jilid II: Bagaimana mengolah kulit?

Tulisan Rudy Wiratama Partohardono

 29 Juni 2010 jam 14:50

http://www.facebook.com/raden.umarmaya#!/notes/rudy-wiratama-partohardono/langkah-langkah-menatah-wayang-jilid-ii-bagaimana-mengolah-kulit/401494853217

Setelah mendapatkan kulit yang diinginkan, tentu saja sebelum siap ditatah, apa pun jenis kulitnya, bahan baku pembuatan wayang harus diolah terlebih dahulu. Di sini hanya akan diterangkan cara pengolahan kulit secara tradisional saja, berhubung kini banyak juga kulit “siap pakai” yang diolah dengan cara modern, baik diformalin atau dengan cara lain.

Tahap pertama dalam pengolahan kulit adalah ngerok atau mengeruk.

Apa yang harus dikeruk? Dalam selembar kulit hewan ada dua sisi: sisi luar adalah sisi yang berbulu, sementara sisi dalam yang berhubungan dengan daging bersentuhan pula dengan lemak, pembuluh darah dan lain sebagainya.

Setelah kulit terpisah dari badan hewannya, dalam jangka waktu kurang dari satu malam harus segera dikerok, terutama sisi dalamnya. Tujuannya, agar lemak tidak meresap ke dalam lapisan kulit, yang menyebabkan kulit menjadi bergabus dan lapuk. Sementara sisi luar dikeruk pula, untuk menghilangkan seluruh bulu dari kulit hewan yang dimaksud, agar dapat ditatah dengan baik. Kerukan pada sisi dalam, biasanya lebih banyak dibanding sisi luar, karena kulit hewan yang lazim dipakai (kerbau dan sapi) memiliki rambut yang relatif pendek dan mudah dicukur dengan pethel atau kapak kecil.

Tahap kedua setelah dikeruk adalah diangin-anginkan hingga kandungan airnya betul-betul habis.

Mengapa kulit dilarang dijemur, dan hanya boleh diangin-anginkan? Hawa panas ternyata dapat berpengaruh juga terhadap kulit, yang saat ini masih relatif tinggi tingkat kemelarannya. Untuk menjaga kulit tetap rata saat diangin-anginkan, kulit direntangkan dengan tali yang kuat (kini memakai tali tambang plastik) pada bingkai besar yang dibuat dari kayu yang solid pula, biasanya memakai pokok bambu jenis ori.

Habisnya kandungan air dalam kulit ini menyebabkannya menjadi keras, padat dan liat, sehingga stabil bila dijadikan wayang kulit. Proses mengangin-anginkan ini bisa memakan waktu berhari-hari, tergantung cuaca.

Tahap selanjutnya, di sini kulit sudah menjadi produk setengah jadi, berupa kulit gelondongan yang dijual per lembar dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku rambak kulit atau wayang.

Setelah (kalau beruntung) kulit “jatuh” ke tangan seorang penatah, biasanya kulit akan dibagi-bagi berdasar penggunaannya. Biasanya selembar kulit berukuran besar (sekitar 2×2 meter) dapat digunakan untuk membuat 15-20 template wayang seukuran Arjuna, atau 10 template seukuran Bima, atau bila dibuat gunungan hanya menjadi 8 potong saja. Pembagian ini, menurut istilah tatah sungging disebut njidhar, dan objeknya disebut kulit jidharan.

Setelah di-jidhar, kulit biasanya direndam kembali dalam air tawar selama satu malam, kemudian diangin-anginkan, dikeringkan ulang. Kali ini perentangannya cukup dengan memaku tepian-tepian kulit di selembar papan. Hal ini bertujuan untuk memperendah tingkat kemelaran kulit sekali lagi, karena banyak terjadi pula wayang yang setelah selesai dibuat mengalami penyusutan karena kemelaran kulit masih tinggi. Pada zaman dahulu, kulit tidak dimatangkan dengan cara mengangin-anginkannya seperti ini, namun cukup di”asap” (secara harfiah, mirip membuat smoked beef) di langit-langit dapur yang berhawa kering dan hampir selalu panas. Proses ini disebut tarangan atau narang. Lamanya kulit ditarang ini bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, untuk menanti kulit yang akan dipakai memadat dengan sendirinya.

Sebelum kulit ditarang atau direntang, terkadang ada bagian-bagian yang terlalu tebal dan harus ditipiskan agar lebih enak dimainkan kelak saat menjadi wayang. Pada saat inilah kulit kembali ditipiskan dengan pethel atau kampak kecil. Bila kulit ditipiskan sesudah ditarang atau direntang, biasanya kulit akan menggelombang, karena keseimbangan kepadatan antara lapisan-lapisan kulit “terganggu” (begitu kata penatah, sahibul notes sendiri kurang tahu pasti, hehehe)

Dan setelah proses yang melelahkan ini, wayang siap ditatah.

Catatan di atas hanya mengemukakan cara pengolahan kulit secara tradisional. Dengan begitu, mungkin di benak pembaca terbetik sebuah dugaan : Jika yang tradisional ada,tentu secara logika cara yang lebih « modern » pun ada juga. Bukan begitu ?

Ya. Dugaan Anda benar.

Ada tiga cara lain, sepengetahuan penulis, untuk mengolah kulit agar siap ditatah. (Sekali lagi benar tidaknya wallahu ‘alam saudara-saudara……)

Cara yang pertama adalah menyiram kulit dengan air panas, untuk mempercepat pemadatan dan pematangan kulit.

Cara ini banyak dilakukan sebagai “jalan pintas” untuk mematangkan kulit agar siap ditatah. Efek sampingnya: kulit yang diolah dengan cara ini akan lekas jebol setelah menjadi wayang, karena ikatan antar lapisan kulit “dikejutkan” dengan panas secara tiba-tiba, sehingga pemadatan yang terjadi pun instan dan mungkin sekali ada bagian-bagian kulit yang kurang merata pemadatannya akibat hal itu, sehingga menjadi renggang karena tak menyesuaikan diri dengan kesusutan kulit di bagian lainnya setelah beranjak mendingin.

Cara yang kedua, merendam kulit dalam air gamping.

Air gamping bersifat panas juga, sehingga dipercaya mampu memadatkan kulit secara perlahan-lahan, selain mempermudah sisa-sisa lemak untuk lepas dari kulit yang direndam. Kulit yang direndam air gamping ini, efek sampingnya adalah menjadi keras (kemethak) dan agak menyulitkan untuk ditatah, meskipun kulitnya kuat dan kokoh.

Cara yang ketiga: dengan obat kimia (perajin sering menyebutnya dengan formalin, padahal entah yang dipakai itu benar formalin atau bukan). Cara pengolahan ini menghasilkan kulit yang bersih dari bulu (tanpa harus banyak tenaga untuk mengeruk) karena rontok dengan sendirinya, serta berpenampilan bening (ngaca dalam bahasa Jawa). Lantas, apa efek sampingnya? Kulit berobat kimia ini umumnya keras, sulit ditatah, sehingga perlu direndam lebih lama dan dikeruk kembali untuk menghilangkan obatnya dan melemaskan kulitnya, agar lebih mudah ditatah.

Demikian bagian II.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 589,465 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 60 other followers

Halaman dilihat :

%d bloggers like this: