Pustaka Wayang

Archive for February 2011

‘Ebook’ Buku Tuntunan Pedalangan Wayang Kulit Purwa Jawa .

 

Serat Sastramiruda .

 

 

Bagi peminat pedalangan wayang kulit purwa Jawa membaca buku tuntunan pedalangan merupakan suatu keasyikan tersendiri , sekalian menambah pengetahuan tentang wayang purwa.

 

Ada satu buku lama yang dianggap lengkap menguraikan pengetahuan mendalang sekaligus menguraikan hal lain berkaitan dengan wayang. Buku tersebut berjudul “ Serat Sastramiruda “. Kapan tepatnya buku tersebut pertama kali terbit tidak diketahui , menilik dari nama yang disebut dalam buku tersebut , diperkirakan buku tersebut pertama kali terbit pada kisaran tahun 1863 ~ 1893 Masehi.

 

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam rangka Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah pada tahun 1981 pernah mengalih aksarakan (oleh Sudibjo Z. Hadisutjipto) dan mengalihbahasakan (oleh Kamajaya) buku ini. Terbitan ini oleh Departemen P dan K disebarkan secara gratis, beserta buku-buku lain dalam proyek yang sama , ke perpustakaan-perpustakaan Departemen P & K di daerah maupun di sekolah-sekolah.

 

P Kamajaya ( nama lengkapnya adalah almarhum Karkono Kamajaya , seorang budayawan di Yogyakarta yang aktif menggali kembali falsafah dan budaya Jawa ) sebagai pengalih bahasa menuliskan keterangan singkat mengenai buku tersebut sbb :

 

 

Serat Sastramiruda dan alih bahasa nya .

 

“ Serat Sastramiruda “ adalah sebuah karya sastra Jawa berhuruf Jawa dalam bentuk wawancara antara guru ahli Pedalangan Wayang Purwa dan muridnya. Sang Guru ialah Kanjeng Pangeran Arya Kusumadilaga , dan muridnya , Mas Sastramiruda. Nama murid ini diambil menjadi judul bukunya.

 

Tidak ada angka tahun penulisan kitab tersebut, namun dapat diketahui, bahwa KPA Kusumadilaga hidup di jaman Sri Susuhunan Paku Buwana IX yang bertakhta dari tahun 1863 hingga 1893 M. Di antara tahun-tahun itulah kiranya kitab ini ditulis. Siapakah pengarang atau penyusunanya tidak diperoleh kepastian, apakah KPA Kusumadilaga, apakah Mas Sastramiruda. Hanya pada bagian muka dari Serat Sastramiruda terdapat keterangan bahwa :  “ Semua cara-cara menjalankan tugas mendalang dijelaskan dengan lengkap. Cerita itu kemudian disampaikan kepada Raden Mas Panji Kusumawardaya, kerabat keraton di Negeri Surakarta “ .

 

Apakah lalu dapat diartikan, bahwa yang menyusun Serat Sastramiruda ini RMP Kusumawardaya, walloh’alam.

 

“ Serat Sastramiruda “ carik (tulisan tangan) terdapat antata lain di Perpustakaan Radyapustaka, Surakarta. Pada tahun 1930 telah terbit yang tercetak dengan huruf Jawa, dijadikan 2 jilid, tetapi jilid keduanya belum pernah kami ketahui ( mungkin tidak terbit ). Penerbitnya : Uitgeverij en Boekhandel Stoomdrukkerij De Bliksem, Sala.

 

Isi “ Serat sastrawiruda “ diterangkan dalam anak-judul buku yang tercetak, yakni :

 

“ Ugering Padhalangan ingkang sampun mupakat kangge abdi dalem Dhalang di karaton Surakarta Adiningrat “. Artinya “ Pedoman Pedalangan yang telah dibenarkan untuk hamba Dalang di keraton Surakarta Adiningrat “.

 

 

Sebenarnya isi kitab itu lebih dari “pedoman pedalangan”, bahkan memuat pula Sejarah Wayang Purwa dan lain sebagainya. Maka keterangan yang lebih terperinci terdapat pada sampul belakang kitab yang sudah tercetak, yang artinya sebagai berikut :

 

“ Menceritakan asal mula adanya gambar Wayang Purwa dan permulaannya menjadi gambar Wayang Beber, Gedog, Krucil, Golek, Klithik, Wayang Orang dan Topeng, dengan urutan para penciptanya di jaman kuna sampai keadaan Wayang Kulit di keraton Surakarta. Dan dijelaskan ketika para Jawata (Dewa) mencipta bunyi-bunyian yang dinamakan Lokananta yang selanjutnya digubah menjadi gamelan Salendro. Lalu ada bunyi-bunyian (mengiringi) perang disebut Mardangga. Dan adanya gamelan Monggang, Kodok-ngorek, Galaganjur, Cara Balen, Pelog, Sakaten dan Sarunen. Juga adanya tari Badaya, Sarimpi, Wireng, Lawung, Dadap dan sebagainya. Pula tentang alat-alat dalang mewayang (mendalang), dan jenis-jenis gending, dengan Suluk Greget-saut (gaya siaga) nya. Diuraikan pula tentang cara memilih niyaga (pemukul gamelan) yang memang perlu menjadi teman bertugas ki dalang, hingga caranya mendalang. Semuanya diterangkan di dalam Serat ini “.

 

 

Kecuali memuat hal-hal yang terperinci di atas, kitab ini pun memuat Pedoman mendalang satu lakon penuh, yaitu lakon “ Palasara Kawin” atau disebut pula “Lahirnya Abiyasa”.

 

 

“Serat Sastramiruda” yang demikian luas isinya itulah yang sekarang disajikan alihbahasa Indonesianya. Mengingat banyaknya istila-istilah dalam pewayangan dan pedalangan, serta bahasa yang khas pedalangan, maka pengalihbahasaan ini menjumpai kesulitan-kesulitan. Istilah-istilah dan bahasa-khas itu tidak mudah, bahkan seringkali tidak mungkin diterjemahkan. Jalan keluarnya ialah diberikan penjelasan secara singkat agar para pembaca dapat memahaminya dengan seksama. Penjelasan itu diberikan di belakang kata-kata. Istilah masing-masing maupun berupa catatan kaki.

 

 

Atas bantuan mas Pranowo Budi Sulistyo – pengasuh laman wayang http://wayangprabu.com – yang mempunyai buku tersebut , telah memindai buku tersebut sehingga kita bisa mengunduh gratis ‘ebook’ buku tersebut.

 

File ‘ebook’ nya dibagi menjadi tiga file :

Bagi pembaca yang mengerti bahasa Jawa, mungkin mengunduh file yang bahasa Jawa saja sudah memadai untuk belajar.

 

Bagian pertama dari yang berbahasa Indonesia :

http://www.4shared.com/document/aqzzxOc-/Serat_Sastramiruda__Bhs_Indo_p.html

 

Bagian kedua dari yang berbahasa Indonesia :

http://www.4shared.com/document/w_Z44IAM/Serat_Sastramiruda__Bhs_Indo_p.html

 

Yang berbahasa Jawa ( satu file ) :

http://www.4shared.com/document/c6wLCRvV/Serat_Sastramiruda__Jawa_.html

Wijanarko ; “ Selayang Pandang Wayang Menak  – Salah Satu Bentuk Seni Tradisionil Yang Wajib Kita Lestarikan “ ; penerbit Amigo ; Sala / Surakarta ; tanpa cirri tahun [ kata pengantar penulis tertanggal 18 Oktober 1991 ] ; 84 halaman ; aksara Latin ; bahasa Indonesia, gambar wayang menak.

 

Buku tentang Wayang Menak – wayang yang ceritanya bertema epos kepahlawanan bernapaskan agama Islam – ini ditulis oleh Wijanarko , seorang penulis yang telah banyak menulis buku-buku lain tentang wayang ( tidak hanya tentang cerita wayang ). Sayang sekali bahwa buku-buku nya sudah tidak diterbitkan lagi.

 

 

 

Buku ini menguraikan asal-usulnya cerita-cerita yang dipakai di Wayang Menak.

 

Halaman 10 :

Sumber cerita untuk Wayang Menak, baik itu Wayang Kulit Menak, Wayang Golek Menak, serta tari ( sendratari ) Golek Menak maupun Wayang Orang Menak Gaya Yogyakarta bersumber dari buku “Serat Menak”

 

“Serat Menak” semula berasal / bersumber dari kitab “Qissai Emr Hamza” yaitu sebuah karya sastra Persia, pada jaman pemerintahan Sultan Harun Al Rasyid (766 ~ 809).

 

Di daerah Melayu kitab sastra tersebut lebih terkenal dengan nama “Hikayat Amir Hamzah”. Berdasar hikayat itu yang kemudian dipadukan dengan cerita Panji dan digubah ke dalam bahasa Jawa, akhirnya lahir cerita-cerita Menak yang terkenal dengan sebutan “Serat Menak”.

 

Dalam cerita ini, nama-nama tokohnya disesuaikan dengan nama Jawa antara lain : Omar bin Omayya menjadi Umarmaya, Qobat Shehriar menjadi Kobat Sarehas, Badi’ul Zaman menjadi Iman Suwangsa, Mihrnigar menjadi Dewi Retna Muninggar, Qoraishi menjadi Dewi Kuraisin, Unekir menjadi Dewi Andaninggar, dan lain-lain.

 

 

 

Dari sumber-sumber tersebut pujangga Jawa menceritakan kembali dalam bentuk tembang-tembang Jawa sehingga terbentuk “Serat Menak”. Banyak versi cerita menak sehingga bisa terjadi perbedaan alur cerita satu sama lain.

 

 

Tahun 1925 Bale Poestaka di Batavia ( Jakarta ) pernah menerbitkan “Serat Menak” dengan huruf Jawa sebanyak 24 episode. ( Sedangkan Pandan Guritno di dalam tulisannya di majalah Gatra menyebutkan ada 27 episode cerita menak. )

 

[ Sayang sekali, buku-buku seperti ini tidak pernah ada yang menerbitkan kembali sehingga generasi-generasi muda tidak mendapat kesempatan untuk membaca ( apalagi belajar ) tentang wayang menak. ]

 

 

 

Selanjutnya buku ini menguraikan pengenalan Wayang Kulit Menak, Wayang Golek Menak, Wayang Orang Menak serta fragmen tarian lepas wayang menak.

 

Berikutnya adalah contoh-contoh tembang Jawa dari ‘Serat Menak” yang menceritakan episode-episode dalam cerita wayang menak.

 

Diikuti kumpulan nama-nama peraga wayang menak dan ciri-ciri boneka wayang kulit atau boneka wayang golek menak dari peraga yang bersangkutan.

 

Di bagian awal buku, penulis mengidentifikasikan kendala-kendala mengapa pewarisan wayang menak ke generasi muda tidak cukup lancar sehingga bisa terjadi kepunahan wayang menak. Di bagian akhir buku, penulis memberikan pendapatnya mengenai usaha-usaha pelestarian wayang menak.

 

 

Dengan tujuan non-komersial / nirlaba ikut serta meng-konservasi buku-buku wayang yang sudah tidak terbit lagi serta memungkinkan masyarakat ( terutama generasi muda ) membaca karya-karya tulis tentang wayang oleh para pendahulu , Bapak Jaka Lodhang dari Tanahbaru Bogor berperan serta meluangkan waktu dan tenaga untuk me-mindah media rekam  buku tersebut menjadi format PDF , yang pembaca bisa unduh gratis di alamat URL ini :

http://www.4shared.com/document/5bhevV5T/Wayang_Menak_-_Wijanarko.html

 

 

Laman Wayangpustaka mengucapkan banyak terima kasih atas peran serta Bapak Jaka Lodhang dalam kegiatan konservasi buku-buku wayang yang sudah tidak terbit lagi. Admin yakin peran serta ini sangat bermanfaat bagi komunitas wayang terutama generasi muda nya.

 

Admin menunggu peran serta berikut nya dan juga peran serta dari pembaca lain , untuk kita persembahkan ke komunitas wayang.

Pakem Pedalangan Lampahan Wayang Purwa Jilid 1

Dening  :  S. [ Samsudjin ] Probohardjono inggih KRT Mloyodipuro

Penerbit :  CV Ratna, Surakarta

Tanpa ciri tahu [ tetapi kata pengantar penulis berciri tahun 1989 ],  96 halaman,  aksara Latin, bahasa Jawa,  gambar wayang kulit purwa.

S.[ Samsudjin ] Probohardjono adalah mantan Pemimpin Redaksi Kalawarti “Padhalangan” , guru padhalangan HBS ( Himpunan Budaya Surakarta ) , Konservatori Karawitan SMKI Surakarta,  Pawiyatan Kabudayan Karaton Kasunanan Surakarta ,  Dosen Luar biasa “ Universitas Sebelas maret “ Fakultas Sastra Surakarta ,  ASKI ( Akademi Seni Karawitan Indonesia )  STSI Surakarta,  lan sanes-sanesipun.

Informasi tentang isi buku jilid 1 dan penyiapan pindaiannya ( dalam rangka kegiatan konservasi buku wayang yang sudah tidak terbit lagi ) terlaksana berkat peran serta Bpk Jaka Lodhang dari Tanahbaru, Bogor. Beliau mendapatkan buku ini di kios buku di belakang stadion Sriwedari, Surakarta. Admin mengucapkan banyak terima kasih atas peran serta Bpk Jaka Lodhang, dan mengharapkan peran serta kembali untuk buku-buku yang lain.

Pembaca bisa mengunduh gratis ‘ebook’ / pindaian buku ini di URL :

http://www.4shared.com/document/XZB6WqNe/Lmph_Wyng_Prw_Probohardjono_1.html

 

[ Setelah mengunduh yang jilid 1 pembaca bisa melihat dan mengunduh yang jilid 3 , silakan lihat di :   ]

Di dalam kata pengantar buku ini , tertanggal 01 Januari 1989 , penulis menjelaskan bahwa antara tahun 1956 ~ 1960 sudah pernah diterbitkan banyak sekali buku [ karya penulis ] berisi lakon wayang purwa yang diurutkan, jumlah semuanya lima jilid. Cetak ulang tiga kali dan habis semua.

Sekarang diterbitkan kembali dengan tambahan-tambahan berdasar tambahnya pengertian dan pengalaman penulis.

Buku ini memuat  15 lakon wayang yang semuanya merupakan lakon-lakon wayang khas ciptaan orang Jawa , yang orang Jawa biasanya menyebut lakon-lakon wayang sebelum lakon wayang era Lokapala. Menarik, karena lakon-lakon wayang ini tidak ada di dalam cerita wayang versi India – Mahabarata maupun Ramayana.

Daftar lakon wayang yang ada di jilid 1 ini sbb :

1.  Lampahan Manik Maya ( Jagad Gumelar )

( Sumber : Pakem kina kalarasaken kaliyan kawontenan sapunika. )

2.  Lampahan Lahiripun Bathara Kala.

( Sumber : Paramayoga )

3.  Lampahan Murwa Kala

( Pakem Ruwatan )

4.  Lampahan Lahiripun Bathara Gana

( Sumber : Paramayoga, Smaradahana )

5.  Lampahan Bathara Brama Krama

( Sumber : Padhalangan )

6.  Lampahan Bathara Wisnu Krama

( Sumber : Padhalangan )

7.  Lampahan Aruna Aruni

( Sumber : Mahabharata Pustakarajapurwa )

8.  Lampahan Makukuhan

( Sumber : Pustakarajapurwa.  Asring kangge ringgitan bresih dhusun )

9.  Lampahan Sengkan Turunan

( Sumber : Pustakarajapurwa )

10.  Lampahan Watugunung

( Sumber : Pustakarajapurwa )

11.  Lampahan Dewi Mumpuni Bambang Nagatatmala

( Sumber : Pustakarajapurwa )

12.  Lampahan Bremana Bremani

( Sumber : Pustakarajapurwa )

 13.  Lampahan Saptaharga

( Sumber : Pustakarajapurwa )

14.  Lampahan Lahiripun Gareng lan Petruk

( Sumber : Pustakarajapurwa, Padhalangan )

15.  Lampahan Satrukem (Sakutrem) Lahir

( Sumber : Pustakarajapurwa .  Asring kangge ringgitan bersih dhusun )

Semua lakon wayang tersebut menarik untuk dibaca. Bagi Admin yang paling menarik adalah tulisan tentang lakon Murwakala, karena tidak hanya menceritakan lakon Murwakala, tetapi juga menjelaskan tentang :

  1. Orang sukerta. Orang yang digolongkan [ oleh Bathara Guru ] boleh menjadi mangsa Bathara Kala. Ada dua golongan orang, yaitu yang karena keadaan terlahirnya dan orang yang menjadi sukerta karena akibat perbuatannya.
  2. Sajen-sajen yang disiapkan dalam menampilkan wayang kulit lakon Murwakala.
  3. Mantra-mantra yang diucapkan dalang ketika meruwat orang selama penampilan wayang kulit lakon Murwakala.

 

Untuk pengayaan info, pembaca disarankan melihat atau membaca buku-buku Ruwatan yang lain yang [ akan ] termuat dalam blog ini adalah :

Dalam persiapan.


Blog Stats

  • 751,295 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 64 other followers

Halaman dilihat :