Pustaka Wayang

Perjalanan Sunyi Bisma Dewabrata oleh Pitoyo Amrih, 2007

Posted on: June 1, 2012

Perjalanan Sunyi Bisma Dewabrata, oleh Pitoyo Amrih.

 

(pertama diunggah 17 Aug 2009 : Budi Adi Soewirjo)

 

Data buku :

Judul Buku : Perjalanan Sunyi Bisma Dewabrata
Format : EbookNovel Acrobat PDF
Pengarang : Pitoyo Amrih
Penerbit : Pitoyo Ebook Publishing, Surakarta, 2007
Nomor ISBN : 978-979-17910-0-7 , 9789791791007 .
Jumlah halaman : 510 halaman

.

 

A.

Penulis sedikit memberikan paparan akan buku nya ini :

Ketika tahta Hastinapura yang menjadi haknya, dilepaskannya.
Ketika dia bersumpah untuk tidak akan pernah menikah, agar tak ada keturunannya yang menuntut tahta Hastinapura.
Apalagi tujuan hidup yang tersisa, yang menjadi semangat hari demi hari menjalani hidupnya yang begitu lama.

Cerita tentang pengabdian Bisma Dewabarata yang menjadi cermin kehidupan kita.

 

Simak penggalan kisah itu…

________________________________________

….Perlahan Jahnawi meletakkan sang bayi di atas batu besar itu. Tak lama kemudian berdiri. Wajah Santanu tampak tegang, seperti semakin khawatir atas apa yang akan dilakukan istrinya.

“..saatnya aku harus pergi kakang…, terima kasih telah menemaniku menjalani semua ini,.. asuh baik-baik anak kita…” sejenak Jahnawi berhenti menarik nafas, “..aku menamainya Dewabrata…”

Belum juga Santanu sempat membuka mulut dan melangkah maju, tiba-tiba dari posisinya berdiri, Dewi Jahnawi melompat dengan posisi terlentang menuju ke arah derasnya sungai Gangga. Hanya dalam sekejap tubuh Jahnawi sudah tak lagi nampak tertelan ganasnya aliran sungai itu.

Santanu yang semula terbengong kali ini terlihat badannya gemetar dan terjatuh pada posisi berlutut. Dia seperti tak kuasa lagi menahan keterkejutannya atas apa yang baru saja dialaminya. Sementara sang bayi yang bernama Dewabrata itu tak henti-hentinya menangis keras. Sekuat tenaga Santanu setengah merangkak mendekati sang bayi. Derasnya air sungai itu terasa semakin mengerikan bagi mata dan telinga Santanu. Dengan cepat ditariknya selimut sang bayi, dan didekapnya erat-erat Dewabrata. Gemetar tubuh Santanu terlihat jelas sambil memeluk Dewabrata yang tak henti-hentinya menangis.

________________________________________

 

Atau ketika kisah melegenda itu kembali terkuak,.. tewasnya Dewi Amba dari tangan Bisma..!

________________________________________

….Dalam kegugupan yang tampak semakin hebat, Dewabrata serta merta begitu cepat tangan kirinya menghunus busur panah, hampir bersamaan tangan kanannya meraih satu anak panah, dan dengan gerakan yang begitu cepat dia menarik busur dengan anak panah mengarah ke Amba. “..pulanglah, nimas..” kali ini Dewabrata berkata setengah berteriak parau.

Tapi itu tak membuat Amba undur, dengan masih memegang terompah Dewabrata di tangan kanannya, Amba kembali merangsek ke depan menyongsong anak panah. Ah! Membuat Dewabrata semakin gugup tak tahu harus berbuat apa. Dan sekejab kemudian, tangan kiri Amba justru meraih ujung anak panah pada busur yang terentang itu. Membuat Dewabrata panik dan tanpa sengaja melepaskan pegangan pangkal anak panah di tangan kanannya. Seketika itu anak panah meluncur deras merobek telapak tangan kiri Amba, dan menghujam keras tepat ke dada Amba. Begitu kerasnya, sampai Amba terlempar ke belakang, anak panah itu sampai menembus punggung, menghujamkan tubuh Amba begitu keras ke tanah. Dan tak lagi bergerak, seketika itu Dewi Amba tewas! Kejadian diluar dugaan yang begitu cepat! Begitu cepat sehingga tak sempat terdengar jerit dari mulut Amba….

________________________________________

 

B.

Selain paparan di atas, di dalam awalan ebook nya, Pitoyo Amrih mencoba memberikan paparan ringkas tentang Bisma :

“ Bisma Dewabrata adalah sebuah pribadi yang istimewa. Lahir tak pernah tahu dan mengenal ibu kandungnya. Cinta dan kasih sayang ibunya tercurah dari suara hati yang merasuk di hati dan pikirannya selama pengembaraannya. Sesuatu yang dia anggap berasal dari ibunya, bernama Dewi Jahnawi. Yang menurut kabarnya, perwujudannya sebagai manusia adalah kisah jalan kematian yang ditempuhnya. Kepergian Dewi Jahnawi sama gelapnya dengan saat pertama kali kemunculannya bertemu Prabu Santanu, ayah Bisma.

Bisma disusui dan dibesarkan oleh Dewi Durgandini, seorang putri dari kerajaan Wirata. Dan Bisma memang seorang ksatria utama! Dia wujudkan pengabdian sepenuhnya kepada Durgandini sebagai rasa terima kasihnya atas kasih sayang masa kecil Bisma. Bagaimana pun sikap Durgandini kepada Bisma, tetap Bisma menghargai dan menghormati Durgandini dengan sepenuh hati.

Puncaknya adalah sebuah sumpah yang keluar dari mulut Bisma demi rasa lega Durgandini agar anak kandung Durgandini yang akan mewarisi tahta Hastinapura. Sumpah Bisma yang tak akan pernah menduduki tahta Hastinapura, walaupun dia yang paling berhak. Dan sumpah bahwa sampai mati tak akan pernah menyentuh perempuan agar tak ada keturunannya yang menggugat atas tahta Hastinapura. Sebuah sumpah yang luar biasa !

Sumpah itu juga yang membuat Bisma melihat bahwa kehidupan tak lain adalah sebuah pengabdian. Pengabdian kepada janjinya, pengabdian kepada keluarga, pengabdian kepada keluarga dan kerabatnya, pengabdian kepada kebenaran yang dipegangnya, pengabdiannya kepada kehidupan, dan pengabdiannya kepada Sang Pencipta.

Sumpah itu pulalah yang membuat dia tanpa sengaja menewaskan seorang putri ksatria yang pernah dicintainya, Dewi Amba.

Jalan hidup Bisma begitu panjang. Perang besar Baratayudha yang dikobarkan Duryudana, adalah sebuah pertempuran antar saudara yang disesalkan Bisma, sekaligus ditunggu selama hidupnya. Karena melalui perang itu, Bisma berkesempatan menempuh jalan kematiannya, rela mati di tangan Srikandi. Seorang putri ksatria dari Cempalareja. Tak seorang pun selain Bisma dan Antasena, yang menyadari bahwa semua yang ada pada Srikandi mirip dengan Amba.

Jalan hidup Bisma begitu panjang. Tak seorang pun di dunia wayang yang bisa mengerti kedalaman hati dan pikirannya. Mengagumi secara diam-diam sosok Kresna, raja Dwarawati. Tapi hanya Antasena muda, yang paling dekat dan tahu siapa Bisma. “

 

C.

Pratinjau Terbatas dari ebook ini di Google Books :
http://books.google.com/books/p/pub-6218744198074454?id=HuBBvU7_-cAC&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_v2_summary_r&cad=0#v=onepage&q=&f=false

 

D.

 

Profil ( ‘ bentuk rupa ‘ ) penulis Pitoyo Amrih dan daftar buku hasil karyanya yang lain bisa di baca di :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=116180084020

 

E.

Dari pengamatan ‘ Wayang Purwa Buku ‘, ebook Bisma Dewabrata ini adalah ebook wayang pertama yang terbit di Indonesia ( tahun 2007 ). Setelah itu di tahun 2008 terbit dua ebook wayang lain nya dari penerbit http://www.budayajawa.com/  di Yogyakarta.

 

(akhir unggah 17 Aug 2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 589,465 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 60 other followers

Halaman dilihat :

%d bloggers like this: