Pustaka Wayang

Author Archive

Buku Manikmaya terdiri dari tiga jilid. Buku ini menceritakan kisah sejak manusia pertama kali diturunkan ke dunia hingga Islam berkembang di Jawa. Didalamnya termasuk diceritakan lakon-lakon yang sering dijumpai didunia pewayangan.

Saya cuplikan awal dari buku, berupa pupuh dhandhanggula

Konon Mas Ngabei Ronggo di Penambangan yang mengepalai para abdi dalem Kadipaten Mangkunegaran Surakarta, telah berhasil menyusun kisah tentang kedatangan agama Islam di Pulau Jawa. Cerita ini dimulai dari Sis Yanas Nurcahyo, adalah keturunan Nabi Adam sampai dengan Sunan Giri.

Kisah yang disusunnya bersumber dari Kitab suci Al Qur’an, tentang tonasube (ilmu tasawuf). Cerita ini diuraikan dalam bentuk ijina’ dan kias, menunjukkan sifar : Maha Tunggal, Maha Pengasih dan Penyayang, Pemurah dan Pengampun Tuhan seru sekalian alam.

Cerita ini ditulis pada hari Sabtu Kliwon tanggal empat belas bulan Jumadilawal tahun Ehe, wuku Warigalit, dalam masa kelima, dalam jangka windu : Windu Adi. Diberi sasmito sandi Sirno Ening Sworo Tunggal (1740).

Kelanjutannya silahkan dibaca disini :

Advertisements

Pratinjau buku ini dapat dilihat di Google Book.

Buku ini adalah menampilkan sosok yang bernama Bhisma atau Dewabrata secara utuh. Diceritakan proses kelahiran hingga wafatnya. (kalau dalam pagelaran wayang mungkin bisa disebut sebagai kisah “banjaran”).

Kisah tentang pengorbanan seorang Dewa brata yang seharusnya menjadi raja Hastina namun rela untuk melepaskan gelar putra mahkota demi memenuhi persyaratan calon ibu tirinya, bahkan rela untuk tidak menikah sepanjang hidupnya.

Kisah tentang perjuangannya dalam menegakkan kebenaran dan “kerja keras”-nya membimbing keluarga serta negaranya agar tetap dalam jalan yang lurus.

Bhisma selalu teguh setia pada janjinya, janji demi negeri dan wangsanya. Keteguhannya nyata dalam sikapnya yang tenang dan ucapannya yang bijaksana dalam memandang dan mengurai masalah.Kisah tokoh Bhisma yang dinukil dari kisah klasik Mahabharata ini diceritakan kembali dengan gaya bertutur yang lancar dan enak dibaca oleh seorang penulis muda berbakat yang mencintai kisah wayang sejak usia muda. Dihiasi dengan gambar-gambar bercorak wayang purwa karya ilustrator muda yang selain pandai melukis, juga menguasai ilmu pedhalangan dan terampil memainkan bermacam-macam instrumen gamelan.

Sinopsis Gramedia

Adapun yang ingin membaca cuplikan buku ini, telah saya downloadkan dari Google Book dan dapat dibaca disini.

Tags:

Berikut saya sertakan ulasan dari Putri Susanti yang membahas buku “Rikmadenda mencari Tuhan” sebuah lakon wayang carangan berdasarkan ciptaan dalang ABYOR oleh Ajib Rosidi.

Tulisan dapat dibaca di Nyanyian Bahasa.

Bukunya bisa dibaca berdasarkan cuplikan yang diperkenankan di Google Book.

Saya coba download-kan di googleBook tersebut dan dapat diunduh di :

____________________________________________________-

I.          Pengantar

Mahabharata merupakan salah satu epos dari India. kitab ini ditulis oleh Vyasa dalam bentuk sloka. Karya ini cukup terkenal sehingga menyebabkan banyak penulis membuat versi lainnya. Tema sentral dalam Mahabharata adalah cerita perang besar antara keturunan Bharata, yaitu Pandawa dan Kurawa. Puncak ketegangan dalam perang besar tesebut terjadi di Kuruksetra. Perang ini memakan banyak korban sehingga seperti banjir darah.

Mahabharata tidak hanya bercerita tentang perang saudara, tetapi juga mengajarkan darma atau ajaran tentang kehidupan, seperti agama, etika, politik dan  pemerintahan, dan filsafat. Dalam bidang agama, para tokoh dalam Mahabharata menjunjung tinggi dewa-dewi. Dalam bidang etika, hal ini dapat dilihat dari sikap Pandawa yang selalu hormat kepada ibunya dan kesetiaan Drupadi kepada Pandawa. Contoh dalam politik dan pemerintahan dapat dilihat dari pengangkatan Pandu sebagai raja walaupun dia anak kedua. Ini disebabkan oleh kecacatan Dastarastra. Dalam filsafat, nasihat-nasihat Kresna sangat membantu para Pandawa yang kadang mempertanyakan banyak hal.[1]

Read the rest of this entry »

Kelanjutan dari Serat Paramayoga Bagian I

Serat Paramayoga ini tidak menyajikan sebuah cerita atau kisah, tetapi menyajikan kumpulan nasihat atau petuah, sesuai dengan judulnya. Kata “parama” itu antara lain berarti terutama, terbaik, tertinggi, teristimewa dan sebagainya, pendek kata semua yang serba paling. Tetapi “parama” juga dapat berarti agung, kepala, pertama, dan sangat. “Yoga” berarti semadi, tepekur, merenung. Jadi “paramayoga” dapat berarti semedi tertinggi, tetapi dalam hubungan ini paramayoga diartikan renungan istimewa ataupun renungan utama, karena nasihat-nasihat di dalam buku ini memerlukan renungan yang dalam untuk dapat dimengerti apa yang tersirat didalamnya dan bukan yang tersurat.

Nasihat dan petuah-petuah di dalam buku ini di tulis kurang lebih seratus tahun yang lalu. Namun demikian sampai sekarang nasihat-nasihat itu masih dapat mengikuti zaman, ia tak lapuk dimakan waktu. (dicuplik dari Kata Pendahuluan)

Buku “Kumpulan Wulang-wulang” dlama Serat Paramayoga dan Serat Pustakaraja ini, yang ditugaskan mengumpulkan adalah Raden Ngabehi Karyarujita, yang kemudian dikenal sebagai Raden Mas Tumenggung Ranggawarsita Anem. Sedangkan alih bahasa oleh Moelyono Sastronaryatmo.

Buku iniadalah bagian kedua atau lanjutan dari bagian pertama sebelumnya :

Sebuah epos cerita mahabarata yang diceritakan secara runtut oleh Karsono H. Saputra dengan judul “Genderang Perang di Padang Kurusetra”.

Cerita dimulai dari awal terbentuk dan berkembangnya sebuah negri yang bernama Hastina atau atau juga disebut Gajahoya, dimana tempat negri itu dulunya adalah sarang gajah.

Kemudian dikisahkan perseteruan antara Pandawa dan Kurawa yang telah dimulai sejak kecil hingga dewasa dan kelak kemudian puncaknya terjadi saat meledang perang saudara di padang Kurusetra.

Serat Paramayoga ini tidak menyajikan sebuah cerita atau kisah, tetapi menyajikan kumpulan nasihat atau petuah, sesuai dengan judulnya. Kata “parama” itu antara lain berarti terutama, terbaik, tertinggi, teristimewa dan sebagainya, pendek kata semua yang serba paling. Tetapi “parama” juga dapat berarti agung, kepala, pertama, dan sangat. “Yoga” berarti semadi, tepekur, merenung. Jadi “paramayoga” dapat berarti semedi tertinggi, tetapi dalam hubungan ini paramayoga diartikan renungan istimewa ataupun renungan utama, karena nasihat-nasihat di dalam buku ini memerlukan renungan yang dalam untuk dapat dimengerti apa yang tersirat didalamnya dan bukan yang tersurat.

Nasihat dan petuah-petuah di dalam buku ini di tulis kurang lebih seratus tahun yang lalu. Namun demikian sampai sekarang nasihat-nasihat itu masih dapat mengikuti zaman, ia tak lapuk dimakan waktu. (dicuplik dari Kata Pendahuluan)

Buku “Kumpulan Wulang-wulang” dlama Serat Paramayoga dan Serat Pustakaraja ini, yang ditugaskan mengumpulkan adalah Raden Ngabehi Karyarujita, yang kemudian dikenal sebagai Raden Mas Tumenggung Ranggawarsita Anem. Sedangkan alih bahasa oleh Moelyono Sastronaryatmo.

Buku ini dibagi dalam dua bagian dan kali ini akan di sharing Bagian yang pertama dulu.

Judul Buku Wayang Kulit Purwa Gaya Yogyakarta
Pengarang Drs. Sunarto
Penerbit Balai Pustaka
Tahun 1989
Bahasa Bahasa Indonesia

Buku “Wayang Kulit Purwa Gaya Yogyakarta, Sebuah Tinjauan tentang bentuk, ukiran, sunggingan” ini adalah terbitan Balai Pustaka tahun 1989. Buku ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada pembacanya hingga dapat mengenal seni wayang dengan lebih akrab lagi.

Pratinjau terbatas dapat dilihat di Google Book, dan sudah saya download dan dapat diunduh disini.


Blog Stats

  • 629,194 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 61 other followers

Halaman dilihat :