Pustaka Wayang

Archive for the ‘Bahasa Indonesia’ Category

Gatotkaca Tanding oleh Ardian Kresna.

http://divapress-online.com/index.php/buku/detail/599

[ pertama diunggah di Facebook Wayang Purwa – Buku pada 02 Januari 2010 ]

Data buku :

Ardian Kresna ; “ Gatotkaca Tanding “. ( Sebuah Novel Epos Wayang Jawa. Menyulam Kebajikan Tradisi Sang Leluhur. ) ; Yogyakarta ; DIVA Press ; Nopember 2009 = cetakan 1 ; 244 halaman ; bahasa Indonesia .

.

 

Sinopsis :

Secepat kilat Gatotkaca melesat terbang ke angkasa. Para Kurawa terbengong melihat kehebatan baru yang kini dimiliki putra Pandawa itu. Mereka berduyun-duyun masuk ke dalam istana dengan langkah kaki tak segagah tadi. Banyak di antara mereka meringis kesakitan, mengaduh sambil memegangi bagian-bagian tubuh yang terkena pukulan dan tendangan Gatotkaca. Dursasana dan Patih Sengkuni memegangi tangannya masing-masing, yang lainnya berjalan terpincang-pincang…

Gatotkaca, setiap orang Jawa khususnya, atau mereka yang pernah bersinggungan dengan kebudayaan Jawa, pastilah mengenal sosok sakti mandraguna yang sungguh menakjubkan itu. Kenal, sayangnya, justru sangat sedikit yang mengerti benar silsilahnya, kehebatannya, apalagi kebajikan-kebajikan hidupnya, yang sesungguhnya sangat brilian untuk kita teladani sebagai prinsip-prinsip hidup di era facebook ini.

Ini adalah novel, tentu sangat menyenangkan untuk dibaca sekali duduk, namun di atas itu semua, buku ini menyebarkan pesona kebajikan hidup para leluhur yang kini kian luruh. Gatotkaca Tanding, sebuah novel epos pewayangan yang sangat langka, kaya ilham dan pesona. Sepaket dengan dua novel epos wayang lainnya, Pahlawan Pilihan Kreshna dan Arjuna Sang Pembunuh.

 

Info alamat dan data Penerbit  :  DIVA Press

Pahlawan Pilihan Kreshna oleh Ardian Kresna.
http://divapress-online.com/index.php/buku/detail/603

;

 

Data buku :

Ardian Kresna ; “ Pahlawan Pilihan Kreshna “. ( Sebuah Novel Epos Wayang Jawa. Menyulam Kebajikan Tradisi Sang Leluhur. )  ;  Yogyakarta  ;  DIVA Press  ;  Nopember 2009 = cetakan 1  ;  208 halaman  ;  ISBN 978-602-955-334-5 ;  bahasa Indonesia .

Sinopsis :

Malam itu juga, dengan perasaan lelah, kecewa, dan sedih, bala tentara Paranggelung membereskan barang-barangnya. Kereta jenazah agung Kerajaan Amarta pemberian Prabu Yudhistira segera disiapkan. Jenazah lalu dibalsam agar tidak rusak karena akan menempuh perjalanan selama berminggu-minggu.

Di pagi harinya, setelah upacara penghormatan terakhir kepada Raja Agung Parang-gelung yang telah mangkat dilakukan oleh keluarga Pandawa dan seluruh tentara Amarta, rombongan Paranggelung bergerak perlahan-lahan meninggalkan istana Amarta, dikawal oleh Raden Drestajumena sebagai wakil dari Kerajaan Amarta.

Haru, lara, dahsyat, arif, dan penuh dedikasi hidup! Itulah serpihan wisdom sang pahlawan agung. Sebagai sebuah novel, bacaan ini sungguh sangat mengalir, menghibur, dan nyaman diikuti dalam sekali duduk saja. Namun lihatlah, kekuatan utama buku ini terletak pada kandungan nilai-nilai kebajikan yang disebarkannya sebagai kesaksian atas keagungan falsafah hidup para leluhur, yang kian sirna dari ingatan kita.

Pahlawan Pilihan Kreshna, sebuah novel epos pewayangan yang sangat bernas, langka, kaya data, wawasan, ilham, dan kearifan. Selevel dengan dua novel epos wayang lainnya, Gatotkaca Tanding dan Arjuna Sang Pembunuh.

‘ 

 

Info alamat dan data Penerbit : DIVA Press

Arjuna Sang Pembunuh oleh Ardian Kresna.
http://divapress-online.com/index.php/buku/detail/597

Data buku : 

Ardian Kresna ; “ Arjuna Sang Pembunuh “ ( Sebuah Novel Epos Wayang Jawa. Menyulam Kebajikan Tradisi Sang Leluhur. ) ; Yogyakarta ; DIVA Press ; Nopember 2009 = cetakan 1 ; ? halaman ; bahasa Indonesia .

 ‘

Sinopsis :

Seperti yang telah dijanjikan para dewa, atas kemenangannya membasmi keangkara-murkaan Niwatakawaca, Arjuna dinikahkan dengan Dewi Supraba dan enam bidadari yang dahulu pernah menggodanya di Gunung Indrakila. Selama tujuh bulan lamanya, Arjuna menikmati anugerah kemenangan dengan berkesempatan menjadi seorang raja di Kaindran, bergelar Prabu Kariti.

 Setelah menikmati kebahagiaan sebagai raja di kahyangan, Arjuna turun kembali ke bumi, bergabung dengan saudara-saudaranya di Rimba Kamiaka, menjalani laku karmanya kembali sebagai seorang ksatria yang sedang menjalankan masa hukuman pengasingan dengan dibuang selama tiga belas tahun di bumi pewayangan, mencari keadilan, dan memperebutkan kembali hak-haknya atas tahta Astina. Para anak mendiang Pandu Dewanata bahu-membahu dalam suka dan duka menjalani kehidupan, berjuang menemukan kebahagiaan yang terampas.

 Penggemar kisah epos, novel ini sangat nyaman dibaca dan dinikmati bahkan hanya dalam sekali duduk. Mengalir, bak air danau yang tenang, namun di balik kesenyapannya, tersimpan mutiara nilai-nilai kemuliaan dan kegigihan memenangkan kehidupan. Falsafah agung para leluhur ditebarkan begitu lugas dan kaya di sini.

Arjuna Sang Pembunuh, sebuah novel epos pewayangan yang sangat inspiratif, berkarakter kuat, dan kaya hikmah kebajikan. Seikat dengan dua novel epos wayang lainnya, Pahlawan Pilihan Kreshna dan Gatotkaca Tanding.

—– 

Alamat dan data Penerbit :

DIVA Press
Sampangan Gg. Perkutut no. 325-B
Jl. Wonosari, Baturetno
Banguntapan, Yogyakarta
Tel : (0274) 4353776 , 7418727
Fax : (0274) 4353776

Email 1 : redaksi_divapress@yahoo.com
Email 2 : ircisod68@yahoo.com
Website : http://www.divapress-online.com/

Dewi Madrim, Prabu Pandu Dewanata, Puntadewa, Dewi Prita, Tri Gantalpati, Arjuna, Gajah Seno, Pringgodani, patih Gandamana, Resi Kimindama, Saptarengga, Aji Pameling, Destrarastra, Prabu Tremboko, Yamawidura, Bathara Dharma.

.

Data buku serial ke 4 :

Herjaka Hs  ;  “ Dosa Pandu Dewanata “  ;  Yogyakarta  ;  Kanisius  ; 2005 = cetakan pertama  ; ISBN 9796729008, 9789796729005  ;  bahasa Indonesia  ;  cerita wayang bergambar.

.

Sinopsis :

Putra sulung Astinapura tidak dapat melihat. Maka, takhta Astinapura diberikan kepada putra kedua. Dalam pemerintahannya Pandu dibantu oleh Patih Tri Gantalpati. Kedudukan itu diperoleh Tri Gantalpati dengan cara memperdaya Patih Gandamana.

Bagi Pandu masa depan Astinapura tidak jelas karena ia belum mempunyai anak. Untuk mengusir kesepiannya Pandu dan kedua istrinya berburu ke hutan. Saat itulah ia terkena kutuk dari seorang resi sakti.

Akhirnya Pandu memperoleh lima anak dengan bantuan aji pameling yang dimiliki Dewi Prita, istrinya.

Kutuk dari dewa terjadi, Pandu Dewanata dan Dewi Madrim meninggal. Selanjutnya masa depan Astinapura akan banyak ditentukan oleh kelima anak yang lahir dari dua istri ini.

———- 

Anda bisa melihat beberapa halaman buku ini di pratinjau terbatas di situs Google Books :
http://books.google.co.id/books?id=klaY5bWx5UoC&printsec=frontcover

Di situs Google Books, buku ini tercatat di URL :
http://books.google.co.id/books?id=klaY5bWx5UoC

———- 

Alamat penerbit Kanisius

Biodata penulis / penggambar Herjaka Hs.

Buku cerita wayang bergambar, Dendam Dewi Gendari, Herjaka Hs, Kanisius, Yogyakarta, Dewi Madrim kerajaan Mandura, Dewabrata, Dewi Ambika, Dewi Setyawati, Destarastra, Begawan Druwasa, Dewi Gendari, Aji Pameling, Dewi Bandondari, Prabu Basukunti, Tri Gantalpati, Bathara Surya, Aji Candra Birawa.

.

Buku serial ke 3 dari penulis Herjaka Hs :

.

Herjaka Hs  ;  “ Dendam Dewi Gendari “  ;  Yogyakarta  ;  Kanisius  ; 2005 = cetakan pertama  ; ISBN 9796728990, 9789796728992  ;  bahasa Indonesia  ;  cerita wayang bergambar.

.

Sinopsis :

Abiyasa mempunyai tiga orang putra. Ketiganya tak ada yang sempurna, namun mereka mempunyai keunggulan. Anak pertama bernama Destarastra, ia buta namun sangat sakti. Anak kedua Pandu Dewanata, ia cacat leher namun pandai memanah. Ia berdarah putih sehingga terhindar dari segala serangan jahat. Anak ketiga Yamawidura, kakinya panjang sebelah namun ia menguasai ilmu ketatanegaraan.

Setelah dewasa, Pandu Dewanata mengikuti sayembara yang sebelumnya telah dimenangkan oleh Raden Narasoma. Ia berhasil memanah burung seperti yang dilakukan oleh Raden Narasoma. Dengan demikian, ia berhak memboyong Dewi Prita. Raden Narasoma menantang Pandu untuk perang tanding. Pertarungan dimenangkan oleh Pandu, maka Dewi Madrim, adik Raden Narasoma diserahkan kepada Pandu.

Di tengah perjalanan pulang Pandu ditantang oleh Trigantalpati dan berhasil dikalahkan. Maka, Trigantalpati menyerahkan kakaknya, Dewi Gendari, kepada Pandu.

Pandu sangat mencintai kakaknya, maka ia mempersilakan Destarastra memilih satu putri. Putri yang dipilih ternyata tidak mencintai Destarastra sehingga bukan kebanggan dan kebahagiaan yang tumbuh dalam hati putri boyongan itu, tetapi dendam. Dendam itulah yang akan terus dibawa dalam sejarah keturunannya.

.

—– 

Anda bisa melihat beberapa halaman buku ini di pratinjau terbatas di situs Google Books :
http://books.google.co.id/books?id=J7bYj1_FH0kC&pg=PT31&dq=mahabarata&lr=&as_brr=3&as_pt=BOOKS#PPT26,M1

Di situs Google Books, buku ini tercatat di :
http://books.google.co.id/books?id=J7bYj1_FH0kC

—– 

Alamat penerbit Kanisius

Biodata penulis / penggambar Herjaka Hs.

Anugerah Dewabrata oleh Herjaka Hs

Buku cerita wayang bergambar, Anugerah Dewabrata, Herjaka Hs, Kanisius, Yogyakarta, 2005, sungai Gangga, Dewi Amba, Dewi Setyawati, Prabu Sentanu, Begawan Palasara, kerajaan Astinapura, Dewi Ganggawati, Sang Hyang Narada, pertapaan Talkanda, Mahabarata.

Data buku :

Herjaka Hs  ;  “ Anugerah Dewabrata “  ;  Yogyakarta  ;  Kanisius  ; 2005 = cetakan pertama  ;
ISBN 9796728982, 9789796728985  ;  bahasa Indonesia  ;  cerita wayang bergambar.

.

Tampuk pemerintahan kerajaan Astinapura dipegang oleh Citragada, keturunan Dewi Setyawati. Sementara itu, Dewabrata hidup sebagai pertapa di Talkanda. Dalam pemerintahan Citragada kemakmuran surut dan rakyat menjadi tidak sejahtera. Bahkan, terjadi pemberontakan. Dalam pertempuran melawan pemberontak itu Raja Citragada meninggal. Takhta Astinapura kemudian dipegang Wicitrawirya, adiknya, tetapi juga tidak berlangsung lama. Wicitrawirya meninggal karena sakit.

Setelah kedua putranya meninggal, Setyawati meminta Dewabrata untuk naik takhta. Dewabrata tetap memegang teguh janjinya. Takhta yang sudah diserahkan tak akan diambilnya lagi. Takhta Astinapura kemudian diserahkan kepada Abiyasa, putra Setyawati dengan suami terdahulu, Begawan Palasara. Abiyasa lah satu-satunya harapan akan terkabulnya cita-cita Setyawati.

Anda bisa melihat beberapa halaman buku ini di pratinjau terbatas di situs Google Books : http://books.google.co.id/books?id=quZUGX_qQXEC&pg=PT35&dq=mahabarata&lr=&as_brr=3&as_pt=BOOKS#PPP1,M1

Di situs Google Books, buku ini tercatat di URL :
http://books.google.co.id/books?id=quZUGX_qQXEC

Alamat Penerbit Kanisius,
Jl. Cempaka 9, Deresan, Yogyakarta 55281
Kotak Pos 1125/Yk, Yogyakarta 55011
Tel (0274) 588783, 565996 ; Fax (0274) 563349
Website : http://www.kanisiusmedia.com
E-mail : office@kanisiusmedia.com

 

Mahabarata, merupakan kisah wayang yang sudah berakar di Indonesia. Bagi generasi tua kisah ini sudah tertanam sedemikian dalam, tetapi bagi generasi muda kisah ini perlu diperkenalkan dan diangkat agar menjadi cermin dalam kehidupan. Berbagai pengalaman hidup, ketekunan, kesetiaan, keberanian, perjuangan, harapan, cinta, pengorbanan, keputusasaan, kekejaman, intrik, ambisi, tragedi, yang merupakan bagian dari kehidupam manusia, kehidupan kita, termaktub dalam kisah Mahabarata ini. Dari kisah ini kita bisa bercermin dan belajar tentang kehidupan.

Kisah Mahabarata ini disajikan dalam lima buku cerita bersambung, dengan ilustrasi lukisan wayang yang menarik. Buku diterbitkan dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris agar pembaca dapat memilih buku yang dapat memberi manfaat paling banyak.

—–

buku cerita wayang bergambar, Mahabarata, Kesetiaan Dewabrata, Herjaka Hs, Kanisius, Yogyakarta, 2005, kerajaan Kasi, Dewi Ambika, Ganggawati, Prabu Salwa, Dewi Ambalika, Begawan Ramaparasu, raksasa Arimuka, raksasa Wahmuka, Begawan Palasara, kerajaan Astinapura.

Episode Kesetiaan Dewabrata :

Data buku :

Herjaka Hs  ;  “ Kesetiaan Dewabrata “  ;  Yogyakarta  ;  Kanisius  ; 2005 = cetakan pertama  ; ISBN 9796728974, 9789796728978  ;  bahasa Indonesia  ;  cerita wayang bergambar.

.

 

Sinopsis :

Setelah ditinggalkan istri tercintanya, Prabu Sentanu raja Astinapura ingin menikah lagi. Dewi Setyawati bersedia asalkan keturunannya yang mewarisi takhta kerajaan Astinapura. Demi cintanya kepada ayahnya, Dewabrata rela menyerahkan hak atas takhta kepada keturunan Dewi Setyawati.

Sebagai jaminan, Dewabrata berjanji untuk hidup wadat (tidak menikah) agar keturunan Dewi Setyawati yang mewarisi takhta Astinapura.

Kesetiaan Dewabrata pada janjinya ternyata mendapat ujian berat justru dari gurunya sendiri, yang mengharapkan Dewabrata mempersunting Dewi Amba. Konflik guru murid tak terhindarkan dan kekalahan ada di pihak sang guru. Dewi Amba sangat terpukul karena kekalahan guru Dewabrata yang menjadi tumpuan harapan terakhir untuk dapat mengangkat keterpurukan harga dirinya.

Anda bisa melihat beberapa halaman buku ini di pratinjau terbatas di situs Google Books :
http://books.google.co.id/books?id=BdmFymn33AwC&pg=PT31&dq=mahabarata&lr=&as_brr=3&as_pt=BOOKS

Di situs Google Books, buku ini tercatat di URL :
http://books.google.co.id/books?id=BdmFymn33AwC

Alamat Penerbit Kanisius,
Jl. Cempaka 9, Deresan, Yogyakarta 55281
Kotak Pos 1125/Yk, Yogyakarta 55011
Tel (0274) 588783, 565996 ; Fax (0274) 563349
Website : http://www.kanisiusmedia.com
E-mail : office@kanisiusmedia.com

The 7 Habits of Highly Effective People Versi Semar & Pandawa oleh Pitoyo Amrih.

 (diunggah pertama 17 Aug 2009 : Budi Adi Soewirjo)

 

Data buku :

Judul buku : The 7 Habits of Highly Effective People Versi Semar & Pandawa
Penulis : Pitoyo Amrih
Penerbit : Pinus Publisher, Yogyakarta, 2008
Nomor ISBN : 9799901499, 9789799901491
Jumlah halaman : 227 halaman

 

A.

Editor Pinus Publisher menulis :

Tujuh Kebiasaan efektif Stephen Covey telah menginspirasi kita dan jutaan manusia dunia tentang bagaimana menjalani hidup yang efektif dan berkualitas. Dan kita sendiri hamper lupa, bahwa ajaran Covey telah termaknai dalam nilai-nilai budaya ketimuran yang tercermin dalam perilaku tokoh wayang Semar dan Pandawa.

Buku “The 7 Habits of Highly Effective People Versi SEMAR dan PANDAWA” akan memberikan inspirasi persis seperti pemikiran Covey tentang perubahan paradigma yang membawa individu atau kelompok agar lebih efektif dalam menjalani kehidupan. Bedanya buku ini tidak mengambil ide kepemimpinan dari paradigma dunia barat, tetapi lewat ajaran filosofis ketimuran dengan mengambil karakter dalam tokoh kisah pewayangan. Seperti Semar, dewa yang memilih menitis diri sebagai manusia merupakan sifat rendah hati.

Sifat ini identik dengan nilai kebesaran jiwa yang menyempurnakan tujuh kebiasaan efektif Stephen Covey. Kekompakan Pandawa merupakan pencerminan dari nilai “Sinergi”. Pilihan Yudhistira menerima permainan dadu identik dengan nilai “Berpikir Menang-Menang”. Kebiasaan ksatria menegmbangkan diri identik dengan nilai “Mengasah Gergaji” dan masih banyak ulasan menarik tentang tujuh kebiasaan efektif lainnya.

Alhasil, kelebihan buku ini dapat dengan mudah dicerna dan diaktualisasi karena memiliki nilai kedekatan emosi, sifat dan karakter ketimuran. Sehingga pada tingkatan aplikasi sangat mudah untuk dilakukan.

 

B.

Pratinjau Terbatas di Google Books bisa dilihat di :
http://books.google.com/books/p/pub-6218744198074454?id=fB8XaAgDpz4C&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_v2_summary_r&cad=0#v=onepage&q=&f=false

menampilkan sebagian halaman buku ini.

 

C.

Profil ( ‘ bentuk rupa ‘ ) penulis Pitoyo Amrih dan daftar buku hasil karyanya yang lain bisa di baca di : http://www.facebook.com/note.php?note_id=116180084020

 

(akhir unggah 17 Aug 2009)

Kebaikan Kurawa – Mengungkap Kisah-kisah yang Tersembunyi oleh Pitoyo Amrih.

(diunggah pertama 18 Aug 2009 : Budi Adi Soewirjo)

.

 

Data buku :

Judul buku : Kebaikan Kurawa – Mengungkap Kisah-kisah yang Tersembunyi
Pengarang : Pitoyo Amrih
Penerbit : Pinus Publisher, Yogyakarta, 2007
Nomor ISBN : 9799901421, 9789799901422
Jumlah halaman : 191 halaman

 

A.

Editor Pinus Publisher menulis :

Dalam kisah pewayangan tokoh Kurawa mempunyai sifat buruk, jelek, jahat, dan tidak pantas dicontoh. Ternyata di sisi lain Kurawa mempunyai perilaku yang patut dicontoh. Seperti, Duryudana adalah anak sulung dari Kurawa yang bertanggung jawab, Dursasana adalah adik yang sangat patuh, Citraksa Citraksi adalah Kurawa yang sopan, Yuyutsu adalah satu-satunya Kurawa yang selalu mau belajar. Demikian pula Patih Sangkuni bagaimana ia sosok yang sejak kecil telah mengalami ketidakadilan di keluarganya dan sempat dipermalukan oleh Pandu.

Buku ‘Kebaikan Kurawa’ akan mengungkap kisah-kisah yang tersembunyi dari Kurawa. Menjelaskan watak Kurawa yang selama ini dianggap orang jahat, ternyata ada hal-hal yang patut dicontoh. Menggugat image atas Kurawa yang selama ini selalu dalam kondisi yang tidak menyenangkan.

Penguasaan penulis tentang dunia wayang, membuatnya begitu jeli mencermati bahwa sesungguhnya di sisi lain dunia Kurawa masih banyak kisah-kisah kebaikan Kurawa yang belum terungkap. Yang lebih penting, penulis memaparkan secara detail bagaimana latar belakang sejarah sehingga Kurawa dapat berlaku jahat, menyerang, arogan, bahkan akhirnya memusuhi Pandawa.

Buku kontroversial yang dikemas secara menarik, singkat, dan detail. Membaca buku ini, pembaca akan diajak secara terbuka memahami siapa dan bagaimana Kurawa yang sesungguhnya. Selain itu dapat menafsir dalam kehidupan tidak selamanya orang jahat itu dijauhi dan tidak patut dicontoh.

 

B.

Komentar Pembaca :

Saras , dari sumber : goodreads, menulis pendapatnya tentang buku ini :

Buku yang bagus untuk suplemen menikmati Mahabharata.. Perjalanan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda…

Ketidakpedulian adalah lintah yang menyerap cahaya kehidupan, andai Kurawa hidup dalam keluarga penuh kasih,apakah kita mengenal tragedi Kurusetra? Pelajaran yang baik untuk kita semua.

 

C.

Pratinjau Terbatas buku ini di Google Books:
http://books.google.com/books/p/pub-6218744198074454?id=2TQ-4CkAeEcC&printsec=frontcover&dq=inauthor%3A%22Pitoyo+Amrih%22&hl=id#v=onepage&q=&f=false

menampilkan sebagian halaman buku tersebut.

 

D.

Profil ( ‘ bentuk rupa ‘ ) penulis Pitoyo Amrih dan daftar buku hasil karyanya yang lain bisa di baca di :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=116180084020

 

(akhir unggah 17 Aug 2009)

The Darkness of Gatotkaca, oleh Pitoyo Amrih.

(diunggah pertama 18 Aug 2009 : Budi Adi Soewirjo)

 

Data buku :

Judul buku : The Darkness of Gatotkaca – Sebuah Novel Pahlawan Kesunyian.
Pengarang : Pitoyo Amrih
Penerbit : DIVA Press, Yogyakarta,
Nomor ISBN : 979-963-639-0
Jumlah halaman : 416 halaman
Ukuran buku : 14 x 21 cm

 

A.

Penulis memberikan paparan isi buku :

Gatotkaca adalah seorang patriot dengan kelahiran yang luar biasa. Kesaktian bangsa dewa mempercepat proses dewasanya. Dia adalah putra kedua Raden Bima, kerabat kedua Pandawa. Lahir dari ibu keturunan bangsa raksasa bernama Dewi Arimbi: seorang ibu yang hidup selamanya dalam kemelut rasa bersalah karena tidak pernah bisa menimang dan menemani masa kecil sang Gatotkaca.

Gatotkaca adalah seorang kesatria. Ia memiliki kesaktian yang luar biasa. Tak ada senjata yang mampu melukainya, kecuali satu, tombak Konta Wijayadanu. Senjata yang memang disiapkan menembus kulit tubuhnya. Dibuat pula oleh bangsa dewa.

Gatotkaca adalah seorang pahlawan. Dia menjadi benteng bagi semua keluarga dan sesepuhnya. Dia membela setiap jengkal wilayah negaranya. Dia sangat disiplin menjaga amanah. Loyal terhadap segala apa yang dijunjungnya. Membela setiap kebenaran. Menghancurkan setiap angkara murka.

Tapi, Gatotkaca selalu hidup dalam kesendirian! Dia selalu memendam dan menekan setiap kecewa di dasar hatinya. Tak ada orang di sekitarnya yang diajaknya berbagi. Dia terlalu angkuh untuk bisa mengutarakan setiap perasaannya. Dia selalu menelan beban rasa bersalah dalam dirinya. Dia selalu merasa hidup sendiri di tengah kehangatan keluarganya: meaningless, lonely, stillness, and darkness…

Novel sisi gelap Gatotkaca ini disajikan dengan amat menggelora, penuh kejutan, ledakan emosi, dan sekaligus nestapa. Membaca novel epos ini, niscaya akan menghadirkan ide dan inspirasi pada kita semua untuk mencoba melihat dan menyelami masing-masing tokoh dan karakter dalam kehidupan ini: dari keteladanan, kemarahan, kesendirian, kecongkakan, kejujuran, integritas, pengorbanan, kebijaksanaan, kebimbangan, dendam, kekecewaan, dan pencarian makna dan tujuan hidup.

.

 

B.

Profil ( ‘ bentuk rupa ‘ ) penulis Pitoyo Amrih dan daftar buku hasil karyanya yang lain bisa di baca di :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=116180084020

 

(akhir unggah 18 Aug 2009)


Blog Stats

  • 802,007 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 64 other followers

Halaman dilihat :