Pustaka Wayang

Archive for the ‘Filsafat Wayang’ Category

S.P. Adhikara; ‘ Nawaruci ‘ ; Penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) ; Bandung ; 1984 ( cetakan ke 1 ) ; 97 halaman ; bergambar wayang.

 

Pengantar Admin Wayangpustaka :

 

Ada tiga buku karya S.P. Adhikara mengenai cerita Bima mencari air suci atas perintah Pendita Durna. Yang pertama terbit berjudul ‘ Dewaruci ‘ berisi terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia atas Serat Bimasuci karya pujangga Jawa bernama Jasadipoera I pada tahun 1793. Kemudian yang kedua terbit adalah judul ‘ Unio Mystica Bima ‘ berisi analisis Serat Bimasuci tersebut. Yang ketiga adalah judul ‘ Nawaruci ‘ berisi terjemahan bebas ( dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia ) cerita Nawaruci yang aslinya karya Empu Syiwamurti dari Bali pada tahun antara 1500 ~ 1613. Dr. Prijohoetomo yang menerjemahkan dari bahasa Kawi ke bahasa Belanda dalam disertasinya tahun 1934. Ketiga buku tersebut diterbitkan oleh Penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) antara tahun 1983 ~ 1984 ( dari tanda tahun di Prakata S.P. Adhikara )

 

Namun, selain tiga buku terbitan Penerbit ITB tersebut, ternyata S.P. Adhikara mengarang satu buku lagi berjudul ‘ Analisis Serat Bimasuci ‘ , sekali lagi S.P. Adhikara menganalisa Serat Bimasuci. Buku ini diterbitkan oleh ‘ Institut Indonesia ‘ di Yogyakarta pada tahun 1986. Sinopsis ini pernah dibawakan sebagai makalah pada pertemuan di Lembaga Javanologi, Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Panunggalan, Yogyakarta pada tanggal 24 Oktober 1986.

 

Siapakah S.P. Adhikara ? Tidak ada data atau keterangan mengenai beliau di keempat buku karya beliau tersebut di atas.

 

Secara bertahap Admin Wayangpustaka akan menyajikan keempat buku tersebut.Kali ini Admin menyajikan judul ‘ Nawaruci ‘ dengan alasan bahwa cerita Nawaruci dari Bali ini muncul lebih dahulu dibanding cerita Bimasuci dari Jawa. Nanti pembaca bisa membaca tulisan tentang persamaan dan perbedaan cerita Nawaruci dan Bimasuci di bukunya berjudul ‘ Unio Mystica Bima ‘ .

 

 

 

Prakata buku Nawaruci karangan S P Adhikara :

 

Cerita Nawaruci yang kami tulis dalam buku ini merupakan terjemahan utuh naskah cerita Nawaruci tulisan Empu Syiwamurti yang terdapat dalam disertasi Prijohoetomo. Pada tahun 1934, Prijohoetomo – almarhum Profesor Dr. Prijohoetomo, guru besar Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada – berhasil mendapat gelar doktor dalam bidang sastra dan filsafat di Rijksuniversiteit di Utrecht negeri Belanda. Adapun judul disertasinya : Nawaruci, sedang sub-judulnya, setelah kami terjemahkan, ialah ‘ Pengantar. Terjemahan Teks – Prosa Jawa – Tengahan. Dibandingkan dengan Bimasuci dalam Metrum Jawa Kuna. ‘

 

Naskah asli cerita Nawaruci masih ditulis tangan di atas daun lontar, dalam bahasa dan huruf Kawi dan dalam keadaan menyedihkan sejak lontar-lontar tersebut diperoleh. Banyak halaman yang hilang, tulisan yang tidak terbaca lagi, dan halaman-halaman yang rusak dimakan ngengat. Meskipun demikian dari beberapa naskah yang ada, Prijohoetomo telah berhasil menyusun kembali naskah cerita Nawaruci dan mengalihtuliskan (transkripsi) ke dalam huruf Latin dan menterjemahkan naskah ini ke dalam bahasa Belanda.

 

Terjemahan cerita Nawaruci ke dalam bahasa Indonesia ini kami lakukan seharfiah mungkin. Istilah-istilah Kawi sejauh mungkin kami pertahankan dan kami tuliskan arti istilah-istilah tersebut, sesuai dengan yang terdapat dalam kamus Kawi. Pada umumnya Empu Syiwamurti sudah memberikan arti istilah Kawi yang nampaknya tidak umum dipakai, misalnya pancanhaka, dwi-dasyawarsa, murcha, syona kanaka warsa, dan lain sebagainya, tetapi untuk istilah natadewata, caturlokapala, panca-resi, jnana, jnana nirmala, siddha-purusa, dan sebagainya, tidak diberi penjelasan lebih lanjut, sehingga terpaksa kami carikan artinya dalam kamus Kawi. Dengan demikian kami berusaha agar terjemahan cerita ini seolah-olah tulisan Empu Syiwamurti sendiri, dalam bahasa Indonesia, pada tahun 1500 – 1613.

 

Cerita Nawaruci digubah sebagai scenario atau lakon untuk pagelaran wayang kulit, jadi dapat dibagi menjadi babak-babak dan adegan-adegan. Prijohoetomo membagi certita tersebut menjadi delapan bab atau babak dan menurut pengamatan kami, terdapat tidak kurang dari empat puluh adegan. Kalau tiap-tiap adegan memerlukan waktu sepuluh sampai lima belas menit, maka pagelaran wayang kulit dengan lakon Nawaruci cukup padat untuk dimainkan semalam suntuk. Itulah sebabnya cerita Nawaruci ini ditutup dengan penggambaran suasana pagi hari menjelang matahari terbit. Dua adegan terakhir yang menggambarkan pesta untuk menyambut kedatangan kembali Bima dan penampilan Kunti bersama Dropadi yang telah selesai bersolek dan nampak cantik seperti puteri-puteri wayang itu, dapat diperagakan berturut-turut sebagai tari kemenangan Bima atau ‘ tayungan ‘ dan menarikan wayang golek terbuat dari kayu menggambarkan Dropadi. Dalam bahasa Jawa golek mempunyai dua arti, yaitu anak-anakan yang terbuat dari kayu atau dapat berarti ‘ mencari ‘. Maka dalang yang pada akhir pertunjukan wayang kulit menarikan wayang golek tersebut dapat diartikan ‘ Carilah ( golekana, bahasa Jawa ) inti sari cerita yang dipertunjukkan semalam suntuk tadi ‘.

 

Mencari inti sari suatu cerita itu adalah kata-kata lain untuk menganalisis cerita itu. Analisis cerita Nawaruci kami sertakan sebagai lampiran buku ini, mengingat tulisan ini ditujukan kepada putera-puteri bangsa Indonesia, yang kurang atau tidak mengerti bahasa Jawa, agar mereka dapat menikmati cerita klasik Indonesia berasal dari daerah Jawa – Bali.

 

Tulisan Empu Syiwamurti tersebut diawali dengan sebuah puji doa : ‘ Awighnam astu namas siddham ‘ ; artinya : ‘ Semoga tiada rintangan segala puji telah sempurna dipanjatkan ‘, dan ditutup dengan sebuah kolofon, yaitu catatan dari penulis cerita atau dari yang menulis ulang cerita serta tanggal selesai menulis cerita dan tempat menulis menulis ceritanya dan ditutup dengan doa puji. Akan tetapi sayang tahun selesainya mengutip atau menulis ceritanya tidak jelas, sebab hanya dinyatakan dengan dua angka. Menurut hasil penelitian Prijohoetomo cerita Nawaruci itu ditulis antara 1500 – 1613.

 

Cerita Bimasuci yang ditulis oleh pujangga Jasadipoera I berbentuk puisi dalam bahasa Jawa Baru dan dalam metrum macapat pada tahun 1793, dan dalam metrum Jawa kuna pada tahun 1803 A.D. , merupakan saduran bebas cerita Nawaruci. Maksud pujangga Jasadipoera I menulis cerita Bimasuci berbentuk puisi dalam metrum macapat itu agar supaya cerita itu dapat mudah diingat karena dapat dinyanyikan, khususnya inti sari cerita tersebut. Cerita Bimasuci ini sudah kami terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan kami beri judul Dewaruci agar seragam dengan judul terjemahan cerita Nawaruci ini, dan diterbitkan oleh penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) juga.

 

Dua karya klasik Indonesia berasal dari Jawa – Bali tersebut mempunyai keindahan masing-masing dan dalam menterjemahkan kedua karya sastra tersebut kami berusaha untuk tidak merusak keindahan yang ada dalam tulisan itu.

 

Desember 1984

S.P. Adhikara.

 

 

 

 

Kolofon (asli) di naskah Nawaruci :

 

Demikianlah Ilmu Kebenaran Tanpa Cacat ( Tattwajnyana nirmala ), ditulis oleh Mpu Syiwamurti.

 

Selesai menulis Sang Hyang Tattwajnyana nirmala pada tahu Syaka 55, bulan Syrawana, tanggal 14, Hari Sabtu, wuku Wugu. Ditulis di kota Klungkung ( Swecchapura ), di tepi sungai, sebelah timur jalan. Maafkan kalau tulisan ini jelek serta segala kekurangannya, mengingat pekerjaan ini adalah dari seorang yang bodoh dan hanya sedikit memiliki inlu, yang didorong oleh keinginan turut menulis, yang bernama Jemuharsa.

 

Om Saraswatyai namah

Om gemung Ganapataye namah

Om Syri-Gurubhyo namah

 

Terjemahan :

Om, hormat dan puji kepada Saraswati

Om gemung, hormat dan puji kepada Ganapati

Om, hormat dan puji kepada Guru-guru, yang terhormat.

 

 

 

Pindaian / ‘ebook’ buku ini bisa diunduh dalam dua file di URL :

http://www.4shared.com/document/tIjSLJaX/Adhikara_Nawaruci_0147.html

http://www.4shared.com/document/pT0s9jkx/Adhikara_Nawaruci_4897.html

 

 

Salam dari Admin.

 

Buku Wayang : Nonton Wayang Dari Berbagai Pakeliran karya R. M. Pranoedjoe Poesponingrat

falsafah wayang, budi pekerti, sejarah wayang, uraian tokoh wayang, lakon wayang, para dewa, arjuna sasrabahu, ramayana, mahabarata, baratayuda, pathet, tatahan wayang, sunggingan wayang, wanda wayang, gagrag wayang, simpingan wayang, gambar detail wayang kulit purwa Jawa.

R. M. Pranoedjoe Poesponingrat ; “ Nonton Wayang Dari Berbagai Pakeliran “ ; Yogyakarta ; Badan Penerbit Kedaulatan Rakyat ; 2008 = cetakan ke 2 ; xii + 278 halaman ; bahasa Indonesia + abstract dalam bahasa Inggris, gambar wayang.

[ Disayangkan bahwa Badan Penerbit Kedaulatan Rakyat ( belum mendaftarkan ? ) serta tidak mencantumkan nomor ISBN untuk buku ini. Demikian juga tidak mencamtukan tahun cetakan pertama nya – yang diperkirakan September 2005 sebagai terbitan pertama ]

Buku ini merupakan gabungan dari berbagai hal yang berkaitan dengan wayang. Tampak bahwa tujuan utama penulis adalah membahas masalah falsafah dalam wayang serta masalah budi pekerti Jawa yang bisa diambil dari wayang. Namun, agar semua itu bisa lebih jelas diterangkan, maka diuraikan juga tentang sejarah wayang, tokoh-tokoh wayang, ringkasan lakon-lakon. Setelah itu ada beberapa keterangan tambahan – yang juga tak kalah menariknya – tentang wayang kulit purwa Jawa. Boleh dikatakan bahwa buku ini adalah buku yang sangat bermanfaat dibaca bagi seseorang yang ingin tahu lebih banyak tentang wayang purwa Jawa karena merangkum bermacam hal, ringkas padat bermanfaat.

R. M. Pranoedjoe Poesponingrat  – putra KRT Poespaningrat yang ahli dalam adat istiadat Jawa di Keraton Yogyakarta – menuliskan bahwa susunan penyajian buku ini adalah sbb :

  1. Bebuka sebagai latar belakang.
  2. Wayang dan Tasawuf Jawa mengenai Fungsi Wayang, Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, Lahirnya Catur Hawa, dan Wejangan Asta Brata.
  3. Buti-butir Budi Pekerti Jawa dalam Wayang seperti dicontohkan dalam Bhagawat Gita, Baratayuda, Ramayana, Arjuna Sasrabahu, Arjuna Wiwaha dan Dewaruci.
  4. Ramayana, epos Walmiki dari India dan Kakawin Ramayana dalam Jawa Kuno, 903.
  5. Mahabarata, karya Wyasa dan Kakawin Mahabarata Jawa Kawi, 1016.
  6. Baratayuda, dan Kakawin Baratayuda karya Empu Sedah dan Empu Panuluh, 1157.
  7. Catatan Akhir menyajikan beberapa keterangan tambahan.

             [ terdiri dari :

             Pathet Wayang : Expression of Mode

             Sunggingan dan Tatahan : Expression of Art

             Wanda Wayang : Expression of Mood

             Terminologi Gelung, Gurda dll.

             Gagrak Wayang : Expression of Diversity

             Simpingan Wayang : Expression of Beauty

             Lakon Wayang : Expression of Values ]

8. Abstract dalam bahasa Inggris ditujukan untuk pembaca warga asing yang tidak berbahasa Indonesia.

Terbitan 1966.

Ki Siswoharsojo ; “ Tafsir Kitab Dewarutji “ ; Jogjakarta ; PT Jaker ; Lodjiketjil ; 1966 = cetakan 1 ; 44 halaman ; gambar wayang ; bahasa Indonesia.

Ebook bisa ditemui dan diunduh di internet di alamat URL :

http://www.4shared.com/file/173597101/4e7c360d/Dewaruci_Siswoharsojo.html

Selamat membaca.

Terbitan 1962.

( Ditinjau oleh ) Dr. A Seno Sastroamidjojo ; “ Tjeritera Dewa Rutji ( Dengan Arti Filsafatnja ) “ ; Jakarta ; Penerbit Kinta ; 1962 ; 57 halaman ; bahasa Indonesia ; gambar wayang.

Ebook bisa ditemui dan diunduh di internet dengan alamat URL :\

http://www.4shared.com/file/173608525/afc938c3/Dewaruci_SenoSastroamidjojo_1.html

http://www.4shared.com/file/173610030/38a73eb9/Dewaruci_SenoSastroamidjojo_2.html

Selamat membaca.

.

Penulis dr A Seno Sastroamidjojo juga menulis tentang makna simbolisasi dari pertunjukan wayang kulit di bukunya berjudul ” Renungan Tentang Pertundjukan Wajang Kulit ” , dan buku yang menelaah lakon ” Arjuna Wiwaha “.

Terbitan 1954, 1958, 1960.

( Disadur dan di Indonesia kan oleh ) Tjabang Bagian Bahasa / Urusan Adat Istiadat dan Tjeritera Rakjat, Djawatan Kebudajaan, Departemen Pendidikan Pengajaran dan Kebudajaan, Jogjakarta ; “ Kitab Dewarutji “ – Berisikan tjeritera : Bima Berguru kepada Pendeta Drona. Tjeritera mengandung keagamaan dan kefilsafatan ; Jogjakarta ; 1960 = cetakan 3 ; 60 halaman ; gambar wayang ; bahasa Indonesia. Catatan : 1954 = cetakan 1 ; 1958 = cetakan 2.

Ebook nya bisa dijumpai dan diunduh di internet dengan alamat URL :

http://www.4shared.com/file/173584978/5927cf88/Dewaruci_Tjabang_Bahasa_1.html

http://www.4shared.com/file/173586656/2dfc0fbb/Dewaruci_Tjabang_Bahasa_2.html

Selamat membaca.

Terbitan 1922 ~ 1929.

M. Ng. Mangoenwidjaia ; “ Serat Dewaruci “ Punika Serat Dewaruci ingkang sampun mawi wredi. ; Kediri ; kawedalaken sarta kasade dening Tan Khoen Swie ; 1929 = tjetakan jang ka V ; 56 halaman ; gambar wayang ; bahasa Jawa ; aksara Jawa.

‘Ebook’ buku ini bisa dijumpai dan diunduh di internet dengan alamat URL :

http://www.4shared.com/file/173577634/af4439a5/Dewaruci_Mangoenwidjaia_1.html

http://www.4shared.com/file/173579820/5b7396c4/Dewaruci_Mangoenwidjaia_2.html

Dua contoh gambar dalam buku ini :

Selamat membaca.

(Peneliti) Suhardi, Wisnu Subagya ; “ Arti dan Makna Tokoh Pewayangan Ramayana Dalam Pembentukan dan Pembinaan Watak ( Seri II ) “ ; diterbitkan oleh Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya , Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional , Direktorat Jenderal Kebudayaan , Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ; Jakarta ; 1996 ; 106 halaman ; bahasa Indonesia.

‘Ebook’ bisa ditemui dan diunduh di internet dengan alamat URL sebagai berikut :

http://www.4shared.com/file/161467185/93f12ddf/ArtiMakna_TkhWayang_Rmyn_II_1.html

http://www.4shared.com/file/161468299/d979feba/ArtiMakna_TkhWayang_Rmyn_II_2.html

http://www.4shared.com/file/161467960/730ba566/ArtiMakna_TkhWayang_Rmyn_II_3.html

Perpustakaan Rumah Budaya TEMBI di jl. Parangtritis Yogyakarta membuat resensi buku ini yang ditampilkan di situs mereka http://www.tembi.org . Di bawah ini kami tampilkan secara lengkap resensi tersebut.

Judul : Arti dan Makna Tokoh Pewayangan Ramayana dalam Pembentukan dan Pembinaan Watak

Penulis : Suhardi, Wisnu Subagyo

Penerbit : Depdikbud, 1996, Jakarta

Halaman: ix + 106

 

Ringkasan Isi :

Wayang adalah sebuah karya seni yang penuh simbol dan nilai-nilai filosofi tentang kehidupan manusia. Ia banyak menampilkan aspek-aspek dan problem-problem kehidupan manusia baik sebagai individu maupun warga masyarakat luas. Wayang mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang universal dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat pada jamannya. Karakter setiap tokoh pewayangan merupakan lambang dari berbagai pewatakan yang ada dalam kehidupan manusia. Misal watak baik, buruk, kesetiaan dan lain-lain.

Ada banyak tokoh dalam seri Ramayana. Karena berbagai keterbatasan tokoh yang dijadikan contoh terutama Dewi Shinta, Raden Gunawan Wibisana, Raden Subali, Raden Sugriwa dan Patih Prahasta.

Dewi Shinta adalah putri Prabu Janaka dari kerajaan Mantili. Ia menjadi istri Rama setelah melalui sayembara.

Raden Gunawan Wibisana adalah putra Dewi Sukesi dengan Resi Wisrawa. Ia terpaksa meninggalkan negara Alengka dan berpihak pada Rama karena tidak setuju dengan perbuatan kakaknya (Prabu Dasamuka raja Alengka) yang menculik Sinta.

Raden Subali dan Sugriwa adalah putra Resi Gotama dan Dewi Windradi. Semula mereka berwajah tampan dengan nama Raden Guwarsa dan Raden Guwarsi. Akibat perbuatannya sendiri (berebut sebuah cupu) mereka berubah wujud menjadi kera dan namanya pun ikut diganti.

Patih Prahasta adalah putra Prabu Sumali dengan Dewi Danuwati. Prahasta adalah adik Dewi Sukesi dan pada waktu Dasamuka mendi raja ia diangkat menjadi patihnya.

Kelima tokoh di atas memiliki karakter dan sifat-sifat tersendiri yang bisa diambil hikmahnya dalam kehidupan kita. Banyak nilai-nilai yang dapat diambil dan dipelajari.

 

Nilai kesetiaan.

Nilai kesetiaan pada Dewi Shinta sangat jelas. Dia rela menderita dengan ikut Rama hidup di hutan. Juga ketika dalam cengkeraman Raja Dasamuka yang ingin memperistrinya, ia tak bergeming sedikit pun walaupun diiming-imingi berbagai hal. Selain kesetiaan hal ini juga menunjukkan kesucian hatinya. Nilai kesetiaan juga diperlihatkan oleh Patih Prahasta yang rela mati (dalam perang melawan Rama). Ia rela mati bukan membela Dasamuka yang angkara murka, tetapi karena kesetiaan pada negaranya dan ketidakrelaannya melihat prajurit Alengka banyak yang mati atau menderita karena perang melawan pasukan Rama.

Nilai kepatuhan.

Kepatuhan memiliki nilai tinggi (dihargai dan dihormati) buat orang yang menjalankannya, karena menjadi tolok ukur tentang kehormatan, harga diri dan kepahlawanan seseorang. Dewi Shinta patuh ketika menerima nsehat ayahnya untuk mengadakan sayembara memilih suami. Raden Guwarsa dan Raden Guwarsi (Subali dan Sugriwa) mematuhi perintah ayahnya untuk bertapa memohon ampun pada Tuhan sebagai penebus perbuatannya.

Nilai kepemilikan.

Memiliki sesuatu itu (misal rumah, gelar, istri/suami) ada aturan atau undang-undangnya. Artinya siapapun yang memiliki sesuatu keberadaannya dilindungi undang-undang. Rama yang telah memiliki Shinta tidak dapat diganggu gugat. Shinta yang telah “dimiliki” Rama (sebagai suami) pun berusaha menjaga nilai kepemilikan tersebut. Prahasta yang merasa memiliki negara Alengka merelakan kematiannya karena membela negaranya. Ia mati demi harga dirinya dan harga diri negara, bukan membela Dasamuka yang angkara murka.

Nilai kearifan dan kebijaksanaan.

Arif berarti tahu membedakan dan memilih antara yang baik dan yang buruk. Bijaksana adalah sifat dan sikap yang dapat menempatkan suatu masalah pada proporsi yang benar menurut aturan yang berlaku. Karena itu rasa moral yang tinggi seharusnya melandasi semua pikiran dan tingkah laku pemimpin. Dasamuka adalah raja yang tidak arif dan bijaksana sehingga membawa kehancuran bagi rakyat dan negaranya. Wibisana adalah tokoh yang arif dan bijaksana serta luas pengetahuannya. Wibisana selalu menghargai pendapat orang lain baik penguasa maupun rakyat kecil, selalu dapat menimbang apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan.

Nilai ksatria.

Sifat satria adalah sifat yang selalu membela kebenaran, tidak takut menghadapi kesulitan serta bersedia mengakui kekurangan atau kesalahannya. Atas dasar hal tersebut Wibisana berani mengesampingkan nilai “berbakti” pada kakaknya. Ia dengan berani tidak henti-hentinya menasehati Dasamuka agar mengembalikan Shinta pada Rama, walaupun akibatnya ia diusir oleh kakaknya. Wibisana rela meninggalkan kemewahannya di Alengka sebagai konskuensi dari tindakannya. Hal ini juga mencerminkan sikap keteguhan hatinya.

Nilai pengendalian diri.

Pengendalian diri adalah sikap batin manusia dalam usaha mengontrol nafsu-nafsunya dan melepaaskan pamrihnya untuk mendapatkan keselarasan hidup. Sugriwa dan Subali adalah gambaran manusia yang kurang bisa mengendalikan diri. Sekalipun mengetahui ibunya telah menjadi tugu, mereka belum sadar akan perbuatannya dan tetap berebut sebuah cupu, penyebab malapetaka keluarga Resi Gotama.

Nilai ketekunan dan keuletan.

Ketekunan dan keuletan diartikan sebagai sikap tidak menyerah pada berbagai rintangan atau hambatan yang dihadapi demi mencapai cita-cita atau tujuan (terlepas dari baik atau buruk tujuan tersebut). Subali dan Sugriwa dengan sekuat tenaga berusaha memiliki cupu, juga dengan tekun dan ulet melaksanakan tapa yang berat sebagai penebus perbuatannya.

Nilai etika.

Berdasarkan etika seseorang harus dapat membedakan hal yang buruk dan baik, hal yang benar dan hal yang salah. Prahasta adalah gambaran orang yang bisa membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Ia penasehat Prabu Dasamuka sekalipun nasehatnya tidak pernah diperhatikan. Ia menghadapi “buah simalakama” tetapi tetap harus memilih. Akhirnya ia memilih menjadi senapati Alengka bukan karena membela Dasamuka tetapi membela negaranya.

Dari uraian di atas jelas terkandung nilai-nilai pendidikan, baik pendidikan yang mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia maupun manusia dengan lingkungan alam. Yang baik adalah manusia bisa menjaga keharmonisan hubungan tersebut.


Blog Stats

  • 751,295 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 64 other followers

Halaman dilihat :