Pustaka Wayang

Archive for the ‘Pedalangan’ Category

‘Ebook’ buku pedalangan, Ki Ng Wignyosoetarno, Pasinaon Dhalang Mangkunagaran Surakarta, Kawruh Pedhalangan, cepengan, tanceban, sabet, sulukan, pathetan, sendhon, ada-ada, basa, dhodhogan, keprakan, antawacana, sengsem, nges, nawung kridha, sambegana, uda nagara, Ki Eko Prasetyo, dalang Amarta.

 

 

Data buku :

Ki Ng Wignyosoetarno ( Guru Pasinaon Dhalang Mangkunagaran, Surakarta ) ‘ KAWRUH PEDHALANGAN ;  tidak ada ciri nama penerbit maupun tahun terbit ;  29 halaman ; bahasa Jawa krama.

 

 

Isi buku ini  :

 

  1. I.        Bab Kawruh.
    1. 1.       Cepengan, Tanceban tuwin Sabet.
    2. 2.       Sulukan-sulukan, Pathet, Sendhon, Ada-ada.
    3. 3.       Basa / Tembung-tembung.
    4. 4.       Dhodhogan tuwin Keprakan.

 

  1. II.      Bab Isi.
    1. 1.       Antawacana.
    2. 2.       Sem / sengsem.
    3. 3.       Nges.
    4. 4.       Nawung Kridha.
    5. 5.       Sambegana.
    6. 6.       Uda Nagara.

 

 

Cuplikan isi buku :

 

Bab Sulukan.

Sulukan punika kaperang dados 3 (tiga) :

  1. 1.       Pathetan              : kangge nggambaraken raos mardika, tuwin lega.
  2. 2.       Sendhon              : kangge nggambaraken raos tumalawung, sedih, tuwin ugi kenging kangge nggambaraken raos edi ( endah ).
  3. 3.       Ada-ada               : kangge nggambaraken sadaya raos sereng ( duka ) kasesa.

 

 

 

 

Berita gembira mengenai kegiatan konservasi kepustakaan wayang. Pindaian ini terlaksana berkat pemindaian yang dilaksanakan oleh Ki Eko Prasetyo dari Surakarta. Beliau akan secara sukarela terus membantu kegiatan konservasi kepustakaan wayang dengan pemindaian kepustakaan wayang koleksi pribadi beliau maupun koleksi anggauta-anggauta dari Paguyuban Dalang Amarta di Surakarta. Pengasuh blog Wayangpustaka mengucapkan beribu ribu terima kasih atas peran serta Ki Eko Prasetyo dan rekan-rekan dalang Amarta. Dengan semua usaha ini, semoga kepustakaan wayang lama bisa lebih mudah dibaca para peminat / peng-apresiasi terutama generasi muda Indonesia.

 

 

‘Ebook’ Kawruh Pedhalangan ini bisa diunduh gratis di alamat URL sbb ( dua file ) :

http://www.4shared.com/document/77nC7Xnw/01_Kawruh_Pedhalangan_Wignyosu.html

dan

http://www.4shared.com/document/tlfpVJkZ/02_Kawruh_Pedhalangan_Wignyosu.html

 

 

Ditulis oleh Budi Adi Soewirjo, Jakarta, 13 Mei 2011.

‘Ebook’ Buku Tuntunan Pedalangan Wayang Kulit Purwa Jawa .

 

Serat Sastramiruda .

 

 

Bagi peminat pedalangan wayang kulit purwa Jawa membaca buku tuntunan pedalangan merupakan suatu keasyikan tersendiri , sekalian menambah pengetahuan tentang wayang purwa.

 

Ada satu buku lama yang dianggap lengkap menguraikan pengetahuan mendalang sekaligus menguraikan hal lain berkaitan dengan wayang. Buku tersebut berjudul “ Serat Sastramiruda “. Kapan tepatnya buku tersebut pertama kali terbit tidak diketahui , menilik dari nama yang disebut dalam buku tersebut , diperkirakan buku tersebut pertama kali terbit pada kisaran tahun 1863 ~ 1893 Masehi.

 

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam rangka Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah pada tahun 1981 pernah mengalih aksarakan (oleh Sudibjo Z. Hadisutjipto) dan mengalihbahasakan (oleh Kamajaya) buku ini. Terbitan ini oleh Departemen P dan K disebarkan secara gratis, beserta buku-buku lain dalam proyek yang sama , ke perpustakaan-perpustakaan Departemen P & K di daerah maupun di sekolah-sekolah.

 

P Kamajaya ( nama lengkapnya adalah almarhum Karkono Kamajaya , seorang budayawan di Yogyakarta yang aktif menggali kembali falsafah dan budaya Jawa ) sebagai pengalih bahasa menuliskan keterangan singkat mengenai buku tersebut sbb :

 

 

Serat Sastramiruda dan alih bahasa nya .

 

“ Serat Sastramiruda “ adalah sebuah karya sastra Jawa berhuruf Jawa dalam bentuk wawancara antara guru ahli Pedalangan Wayang Purwa dan muridnya. Sang Guru ialah Kanjeng Pangeran Arya Kusumadilaga , dan muridnya , Mas Sastramiruda. Nama murid ini diambil menjadi judul bukunya.

 

Tidak ada angka tahun penulisan kitab tersebut, namun dapat diketahui, bahwa KPA Kusumadilaga hidup di jaman Sri Susuhunan Paku Buwana IX yang bertakhta dari tahun 1863 hingga 1893 M. Di antara tahun-tahun itulah kiranya kitab ini ditulis. Siapakah pengarang atau penyusunanya tidak diperoleh kepastian, apakah KPA Kusumadilaga, apakah Mas Sastramiruda. Hanya pada bagian muka dari Serat Sastramiruda terdapat keterangan bahwa :  “ Semua cara-cara menjalankan tugas mendalang dijelaskan dengan lengkap. Cerita itu kemudian disampaikan kepada Raden Mas Panji Kusumawardaya, kerabat keraton di Negeri Surakarta “ .

 

Apakah lalu dapat diartikan, bahwa yang menyusun Serat Sastramiruda ini RMP Kusumawardaya, walloh’alam.

 

“ Serat Sastramiruda “ carik (tulisan tangan) terdapat antata lain di Perpustakaan Radyapustaka, Surakarta. Pada tahun 1930 telah terbit yang tercetak dengan huruf Jawa, dijadikan 2 jilid, tetapi jilid keduanya belum pernah kami ketahui ( mungkin tidak terbit ). Penerbitnya : Uitgeverij en Boekhandel Stoomdrukkerij De Bliksem, Sala.

 

Isi “ Serat sastrawiruda “ diterangkan dalam anak-judul buku yang tercetak, yakni :

 

“ Ugering Padhalangan ingkang sampun mupakat kangge abdi dalem Dhalang di karaton Surakarta Adiningrat “. Artinya “ Pedoman Pedalangan yang telah dibenarkan untuk hamba Dalang di keraton Surakarta Adiningrat “.

 

 

Sebenarnya isi kitab itu lebih dari “pedoman pedalangan”, bahkan memuat pula Sejarah Wayang Purwa dan lain sebagainya. Maka keterangan yang lebih terperinci terdapat pada sampul belakang kitab yang sudah tercetak, yang artinya sebagai berikut :

 

“ Menceritakan asal mula adanya gambar Wayang Purwa dan permulaannya menjadi gambar Wayang Beber, Gedog, Krucil, Golek, Klithik, Wayang Orang dan Topeng, dengan urutan para penciptanya di jaman kuna sampai keadaan Wayang Kulit di keraton Surakarta. Dan dijelaskan ketika para Jawata (Dewa) mencipta bunyi-bunyian yang dinamakan Lokananta yang selanjutnya digubah menjadi gamelan Salendro. Lalu ada bunyi-bunyian (mengiringi) perang disebut Mardangga. Dan adanya gamelan Monggang, Kodok-ngorek, Galaganjur, Cara Balen, Pelog, Sakaten dan Sarunen. Juga adanya tari Badaya, Sarimpi, Wireng, Lawung, Dadap dan sebagainya. Pula tentang alat-alat dalang mewayang (mendalang), dan jenis-jenis gending, dengan Suluk Greget-saut (gaya siaga) nya. Diuraikan pula tentang cara memilih niyaga (pemukul gamelan) yang memang perlu menjadi teman bertugas ki dalang, hingga caranya mendalang. Semuanya diterangkan di dalam Serat ini “.

 

 

Kecuali memuat hal-hal yang terperinci di atas, kitab ini pun memuat Pedoman mendalang satu lakon penuh, yaitu lakon “ Palasara Kawin” atau disebut pula “Lahirnya Abiyasa”.

 

 

“Serat Sastramiruda” yang demikian luas isinya itulah yang sekarang disajikan alihbahasa Indonesianya. Mengingat banyaknya istila-istilah dalam pewayangan dan pedalangan, serta bahasa yang khas pedalangan, maka pengalihbahasaan ini menjumpai kesulitan-kesulitan. Istilah-istilah dan bahasa-khas itu tidak mudah, bahkan seringkali tidak mungkin diterjemahkan. Jalan keluarnya ialah diberikan penjelasan secara singkat agar para pembaca dapat memahaminya dengan seksama. Penjelasan itu diberikan di belakang kata-kata. Istilah masing-masing maupun berupa catatan kaki.

 

 

Atas bantuan mas Pranowo Budi Sulistyo – pengasuh laman wayang http://wayangprabu.com – yang mempunyai buku tersebut , telah memindai buku tersebut sehingga kita bisa mengunduh gratis ‘ebook’ buku tersebut.

 

File ‘ebook’ nya dibagi menjadi tiga file :

Bagi pembaca yang mengerti bahasa Jawa, mungkin mengunduh file yang bahasa Jawa saja sudah memadai untuk belajar.

 

Bagian pertama dari yang berbahasa Indonesia :

http://www.4shared.com/document/aqzzxOc-/Serat_Sastramiruda__Bhs_Indo_p.html

 

Bagian kedua dari yang berbahasa Indonesia :

http://www.4shared.com/document/w_Z44IAM/Serat_Sastramiruda__Bhs_Indo_p.html

 

Yang berbahasa Jawa ( satu file ) :

http://www.4shared.com/document/c6wLCRvV/Serat_Sastramiruda__Jawa_.html

Buku Wayang : Nonton Wayang Dari Berbagai Pakeliran karya R. M. Pranoedjoe Poesponingrat

falsafah wayang, budi pekerti, sejarah wayang, uraian tokoh wayang, lakon wayang, para dewa, arjuna sasrabahu, ramayana, mahabarata, baratayuda, pathet, tatahan wayang, sunggingan wayang, wanda wayang, gagrag wayang, simpingan wayang, gambar detail wayang kulit purwa Jawa.

R. M. Pranoedjoe Poesponingrat ; “ Nonton Wayang Dari Berbagai Pakeliran “ ; Yogyakarta ; Badan Penerbit Kedaulatan Rakyat ; 2008 = cetakan ke 2 ; xii + 278 halaman ; bahasa Indonesia + abstract dalam bahasa Inggris, gambar wayang.

[ Disayangkan bahwa Badan Penerbit Kedaulatan Rakyat ( belum mendaftarkan ? ) serta tidak mencantumkan nomor ISBN untuk buku ini. Demikian juga tidak mencamtukan tahun cetakan pertama nya – yang diperkirakan September 2005 sebagai terbitan pertama ]

Buku ini merupakan gabungan dari berbagai hal yang berkaitan dengan wayang. Tampak bahwa tujuan utama penulis adalah membahas masalah falsafah dalam wayang serta masalah budi pekerti Jawa yang bisa diambil dari wayang. Namun, agar semua itu bisa lebih jelas diterangkan, maka diuraikan juga tentang sejarah wayang, tokoh-tokoh wayang, ringkasan lakon-lakon. Setelah itu ada beberapa keterangan tambahan – yang juga tak kalah menariknya – tentang wayang kulit purwa Jawa. Boleh dikatakan bahwa buku ini adalah buku yang sangat bermanfaat dibaca bagi seseorang yang ingin tahu lebih banyak tentang wayang purwa Jawa karena merangkum bermacam hal, ringkas padat bermanfaat.

R. M. Pranoedjoe Poesponingrat  – putra KRT Poespaningrat yang ahli dalam adat istiadat Jawa di Keraton Yogyakarta – menuliskan bahwa susunan penyajian buku ini adalah sbb :

  1. Bebuka sebagai latar belakang.
  2. Wayang dan Tasawuf Jawa mengenai Fungsi Wayang, Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, Lahirnya Catur Hawa, dan Wejangan Asta Brata.
  3. Buti-butir Budi Pekerti Jawa dalam Wayang seperti dicontohkan dalam Bhagawat Gita, Baratayuda, Ramayana, Arjuna Sasrabahu, Arjuna Wiwaha dan Dewaruci.
  4. Ramayana, epos Walmiki dari India dan Kakawin Ramayana dalam Jawa Kuno, 903.
  5. Mahabarata, karya Wyasa dan Kakawin Mahabarata Jawa Kawi, 1016.
  6. Baratayuda, dan Kakawin Baratayuda karya Empu Sedah dan Empu Panuluh, 1157.
  7. Catatan Akhir menyajikan beberapa keterangan tambahan.

             [ terdiri dari :

             Pathet Wayang : Expression of Mode

             Sunggingan dan Tatahan : Expression of Art

             Wanda Wayang : Expression of Mood

             Terminologi Gelung, Gurda dll.

             Gagrak Wayang : Expression of Diversity

             Simpingan Wayang : Expression of Beauty

             Lakon Wayang : Expression of Values ]

8. Abstract dalam bahasa Inggris ditujukan untuk pembaca warga asing yang tidak berbahasa Indonesia.

(Anggitanipun) Ki Siswoharsojo, “ Pakem Padhalangan Lampahan Wahju Purbasedjati” – dhapukan gagrag Surakarta. Kadjangkepaken : Djanturan, ginem, kotjapan, banjolan, gara-gara dalah tjaranipun andhalangaken satamatipun. Tuladha suluk mawi noot titi laras. Ngajogjakarta – Gondolaju Kulon: (kaanggit saha kawedalaken dening) Ki Siswaharsojo, tahun 1956 (catatan : tahun pada waktu pengarang menuliskan pengantar buku), 109 halaman, bahasa Jawa pedalangan.

URL file PDF Wahju Purbasedjati – Ki Siswoharsojo yang bisa diunduh :

Halaman 1 ~ 21 :

http://www.4shared.com/file/123962173/659f681a/WahjuPurbaSedjati_121.html

Halaman 22 ~ 43 :
http://www.4shared.com/file/123962513/34cc6740/WahjuPurbaSedjati_2243.html

Halaman 44 ~ 65 :
http://www.4shared.com/file/123961052/33d9ffd7/WahjuPurbaSedjati_4465.html

Halaman 66 ~ 89 :
http://www.4shared.com/file/123962964/ecf39d40/WahjuPurbaSedjati_6689.html

Halaman 91 ~ akhir :
http://www.4shared.com/file/123963880/cc637985/WahjuPurbaSedjati_90akhir.html

Serat Padhalangan Ringgit Purwa Jilid 1. Awit saking pangudinipun KGPAA Mangkunegara VII ing Surakarta. Gambar-gambar dening R. Sulardi, Kasidi, Darmatjarita. Cetakan IV tahun 1965, penerbit UP Indonesia, Yogyakarta, bergambar wayang kulit, bahasa Jawa krama.

‘Ebook’ / pindaian buku ini bisa ditemukan di internet ( dan bisa diunduh ) di alamat URL Serat Padhalangan Ringgit Purwa jilid 1 :

Buku ini berisi lakon wayang purwa :

I. LAMPAHAN PARA DEWA.

1. Wisnu krama.

2. Ngruna ngruni.

3. Watugunung.

4. Mikukuhan.

5. Sri Sadana.

6. Murwakala.

II. LAMPAHAN LOKAPALA.

1. Sastra Jendra Yuningrat.

2. Sugriwa – Subali.

3. Bedhahipun Lokapala.

4. Jathasura – Maesasura.

III. LAMPAHAN ARJUNA SASRABAU.

1. Arjunawijaya tapa.

2. Sumantri ngenger.

(Kaanggit) Ki Siswoharsojo, “ Pakem Pedhalangan Lampahan Makutharama “ Kadjangkepaken : djanturan, ginem, banjolan, gara-gara dalah patrapipun andhalang satamatipun. Tuladha suluk 37 warni mawi noot titi laras. Ngajogjakarta – Gondolaju Kulon Dj. VI/ 151 : (kaanggit lan kawedalaken dening) Ki Siswoharsojo, tahun 1963 = cetakan III, 122 halaman, gambar wayang, bahasa Jawa pedalangan.

Buku tuntunan pedalangan lengkap, gagrag Surakarta, gaya tahun 1950 an.

‘Ebook’ bisa ditemui dan diunduh di internet pada alamat URL :

http://www.4shared.com/file/136137400/38e3bf9a/Makutarama_01_59.html

dan

http://www.4shared.com/file/136138948/2ef71a9/Makutarama_60_122.html

Selamat membaca. Salam dari laman Wayang Purwa Buku di Facebook 

http://www.facebook.com/pages/Wayang-Purwa-Buku/82972305747

Berbagi catatan dengan laman Wayang Purwa Buku  http://www.facebook.com/pages/Wayang-Purwa-Buku/82972305747 .
‘Ebook’ ini merupakan catatan tertulis pagelaran 12 lakon wayang purwa terdiri dari dua lakon sebelum Baratayuda ditambah delapan lakon Baratayuda ditambah dua lakon sesudah Baratayuda, yang di pagelarkan oleh dalang Tjermakarsana di Sasana Hinggil ‘ Dwi Abad ‘ Yogyakarta pada tahun 1958. Pagelaran satu lakon per bulan, sehingga genap 12 lakon dalam satu tahun 1958.

Yang membuat catatan adalah MB Radyomardowo, Soeparman dan Soetomo. Catatan tersebut di bukukan dan diterbitkan oleh NV Badan Penerbit ‘ Kedaulatan Rakjat ‘ Yogyakarta pada 01 Januari 1959.

Serat Baratajuda – Tjermakarsana / Radyomardowo 1 ~ 24 : (676 KB)
http://www.4shared.com/file/116124624/63cc4c4c/SrtBaratajuda_Tjermakarsana_1__24.html
Dua lakon sebelum Baratayuda :
1. “Kalabendana Lena”. Utawi selapanan temanten Angkawijaya kalijan Dewi Utari.
2. “Kresna Gugah”. Utawi Balekambang.
Dalam lakon ini ada ramuan gubahan cerita versi Jawa. ( Yang menarik : Kitab Jitapsara, Lanceng Pethak, Prabu Baladewa dan Raden Antareja dicegah – oleh Kresna – agar tidak terlibat di peperangan Baratayuda ).
Kresna bertapa tidur di Balekambang. Badan halusnya – Sukmawicara – ke Suralaya untuk minta Kitab Jitapsara – skenario peperangan Baratayuda. Dewa sedang menuliskan skenario tersebut, siapa lawan siapa dan seterusnya. Pada waktu Bathara Guru berujar : ‘ Prabu Baladewa melawan Raden Antareja ‘, namun sebelum Bathara Penyarikan sempat menuliskannya ke Kitab Jitapsara, botol tinta ditendang tumpah oleh Lanceng Pethak (kumbang kecil berwarna putih) yang tidak lain adalah Sukmawicara. Skenario tidak bisa terus dituliskan, sehingga Prabu Baladewa dan Raden Antareja tidak tertulis dalam skenario peperangan Baratayuda.
Kresna meminta Prabu Baladewa untuk bertapa di Grojogan Sewu dikawal Raden Sencaka.
Kresna meminta Raden Antareja menjilat jejak kaki nya sendiri. Karena terkena kesaktiannya sendiri Raden Antareja meninggal.

Serat Baratajuda – Tjermakarsana / Radyomardowo 25 ~ 50 : (1.173 KB)
http://www.4shared.com/file/116124725/150916ed/SrtBaratajuda_Tjermakarsana_25__50.html
Dua lakon Baratayuda :
1. “Kresna Duta”. Utawi Jabelan.
Dalam lakon ini ada ramuan gubahan cerita versi Jawa. ( Yang menarik : bagaimana Sang Hyang Wenang mencegah keterlibatan Raden Wisanggeni dalam peperangan Baratyuda ).
2. “Resi Seta Gugur”.

Serat Baratajuda – Tjermakarsana / Radyomardowo 51 ~ 82 : (1.258 KB)
http://www.4shared.com/file/116124809/25d57f79/SrtBaratajuda_Tjermakarsana_51__82.html
Tiga lakon Baratayuda :
1. “Bogadenta Gugur”. Utawi Paluhan, inggih Wrekudara kepaluh.
2. “Renyuhan”. Utawi Ranjapan, inggih guguripun Abimanyu.
3. “Burisrawa Gugur”. Utawi Timpalan.

Serat Baratajuda – Tjermakarsana / Radyomardowo 83 ~ 112 : ( 1.300 KB)
http://www.4shared.com/file/116124903/c4c2fc50/SrtBaratajuda_Tjermakarsana_83112.html
Dua lakon Baratayuda :
1. “Suluhan”. Utawi Gatutkaca Gugur.
2. “Karna Tanding”.

Serat Baratajuda – Tjermakarsana / Radyomardowo 113 ~ 140 : (1.305 KB)
http://www.4shared.com/file/116124977/8ceeae8e/SrtBaratajuda_Tjermakarsana_113140.html
Satu lakon Baratayuda : “Rubuhan”. Utawi Prabu Duryudana Gugur.
Satu lakon sesudah Baratyuda : “Lahiripun Parikesit”.

Serat Baratajuda – Tjermakarsana / Radyomardowo 141 ~ akhir : (436 KB)
http://www.4shared.com/file/116125002/4a8902c/SrtBaratajuda_Tjermakarsana_141akhir.html
Satu lakon sesudah Baratayuda : “Jumenengan”.

”Suluk Pedhalangan Abasa Jawi Kina Ingkang Leres Tuwin Katranganing Tembung-tembunganipun”, karya S. Padmosoekotjo, penerbit Citra Jaya Murti (Jayabaya), Surabaya, perkiraan terbit tahun 1978, 54 halaman, bahasa Jawa krama.

Dengan rasa hormat dan terima kasih kepada penulis dan penerbit, sehingga memungkinkan saya – dahulu sekitar 1978, pada saat buku ini terbit – menambah pengetahuan dan wawasan saya dengan membaca tulisan penulis. Karena saat ini sangat sulit untuk menemui buku ini di perpustakaan umum, apalagi mendapatkan di pasaran, perkenankan saya membuka buku ini saat ini dengan tujuan berbagi, agar generasi muda Indonesia mendapat kesempatan membaca apa-apa yang pernah ditulis penulis pendahulu mereka. Bukankah tujuan penulis adalah berbagi pengetahuan dengan pembacanya, kekal meskipun penulisnya sudah tiada dan bukunya sudah sukar didapat lagi ? Namun sekiranya ada yang keliru dan ada yang berkeberatan dengan kegiatan membuka buku ini, mohon segera beritahu saya.

Judul lengkapnya adalah “ Suluk Padhalangan Abasa Jawi Kina Ingkang Leres Tuwin Katranganing Tembung-tembungipun “. Buku ini membahas suluk pedhalangan dari sudut pandang susastra Jawa Kuno.

Sangat menarik untuk dibuka, dibaca, dinikmati bahasanya, disimpan, ….. dibaca lagi ketika mulai lupa. URL berbagi file ada di :
http://www.4shared.com/file/116124104/54b5384b/Suluk_Pedhalangan_S_Padmosoekotjo.html .

Menurut S. Padmosoekotjo suluk pedhalangan berbahasa Jawa Kuno hampir semua adalah petikan dari Kakawin Bharata Yuddha karya Empu Sedah dan Empu Panuluh pada jaman Prabu Jayabaya di Kediri. Hanya ada satu yang petikan dari Kakawin Ramayana ( Red : tapi S. Padmosoekotjo tidak menyebutkan suluk yang mana ). Di dalam buku ini ada sepuluh suluk ( Red : termasuk ada-ada, sendhon ) yang diuraikan.

Menurut saya buku ini sangat berguna untuk dalang maupun penggemar wayang kulit, karena buku ini dengan sangat jelas menguraikan ucapan suluk dalam bahasa Jawa kuno, kemudian arti kata-kata suluk tersebut dalam bahasa Jawa sekarang. Sangat menarik. Dengan mengerti arti kata-kata suluk, akan membuat kita lebih menikmati pagelaran wayang kulit.

Contoh susunan uraian penulis dalam buku ini :
1.
Pertama dituliskan dahulu petikan kakawin dalam huruf Jawa dengan bahasa Jawa Kuno.
Setelah itu petikan kakawin itu di-alih aksara-kan ke dalam huruf Latin persis sama dalam bahasa Jawa Kuno. Karena penuh tanda baca yang sukar di dapat di teknik typhografi ( Red : pada waktu itu ) maka penulis menuliskan dengan tulisan tangan.

Leng-leng ramya nikang sasangka kumenar mangrenga rum ning puri, mangkin tan pasiring halep ikang umah mas lwir murub ring langit ; ….. dst

Terus uraian tentang petikan kakawin :
Ing nginggil punika dipun wastani sekar (tembang) Sardulawikridita, tegesipun dolanan sima. Isinipun nyariosaken candraning kaendahanipun kadhaton Hastina ing wanci dalu, pinuju padhang rembulan. ….. dst

Katranganing temtung-tembungipun :
1. Leng-leng = anglam-lami ( Indonesia : mengasyikkan, menyebabkan orang terpesona ).
2. Ramya = endah, nengsemaken ( Indonesia : indah, menawan hati ).
3. ….. dst

Suraosipun :
Endah anglami-lami (warninipun) rembulan ingkang sumunar ngrengga memanising puri (kadhaton), (njalari) saya tanpa timbang (boten wonten ingkang nyameni) endahipun suyasa kencana (griya emas) punika, (sorotipun sumunar) pepindhanipun kados murub ing langit ; ….. dst

“ Sekar “ ( tembang ) kakawin di atas dipergunakan untuk suluk laras slendro pathet nem ageng yang dipergunakan di adegan ( jejer ) pertama.

2.
Lengeng gati nikang hawan sabha-sabha niking Hastina, … dst

Suluk sesudah pathet nem ageng, sebelum di mulainya “ ginem “ ( pembicaraan / narasi cerita / dialog dalam lakon ).

3.
Irika ta sang Ghatotkaca kinon mapagarkkasuta, tekap ira Krsna Partha maneher muji sakti nira, ….. dst

Ada-ada greget saut di pathet sanga.

4.
Meh rahinasemu bang hyang aruna kadi netra ning ogha rapuh, sabda ni kokila ring kanigara saketer ni kidung ning akung, ….. dst

“ Sekar “ Wisarjita, untuk sulukan pathet manyura, pertanda perpindahan dari pathet sanga ke pathet manyura.

Suraosipun :
(Wancinipun) meh ndungkap raina, srengenge (langit ing sisih wetan) katingal semu abrit, kados (abritipun) mripat (ingkang ngleresi) sakit, ocehing peksi engkuk ing wit kanigara kados suwanten pangrengiking kidungipun tiyang nandhang brangta. Pindha ungeling sulingipun tiyang Indu, cekikering ayam wana ing pagagan, peksi merak nyengungong undang-undang, kombang (tawon) mangrurah sekar ing kamar pasarean wangi (endah).

5.
Yahni yahning talaga kadi langit, mambang tang pas wulan upama nika, wintang tulyang kusuma yasumawur, lumra pwekang sari kadi jalada.

“ Sekar “ Bhramarawilasita, artinya kombang mboten tentrem (tawon yang tidak tenteram ), untuk sulukan pathet manyura jugag.

6.
Sendhon Sastradatan.

7.
Ada-ada jugag pathet manyura.

8.
” Sekar “ Sardulawikridita , artinya “ dolanan sima “.
Suluk pathet manyura ageng.

9.
Ada-ada adegan Arjuna.

10.
Ada-ada adegan Kresna.

Lirik kakawin Bharata Yuddha yang menggambarkan keberangkatan Kresna sebagai Duta Pandawa ini dipakai dalang wayang kulit purwa sebagai ucapan/ lirik suluk, setelah Suluk Pathet Enem Ageng, sebelum memulai percakapan adegan pakeliran wayang.

Kutipan dari buku ”Suluk Pedhalangan Abasa Jawi Kina Ingkang Leres Tuwin Katranganing Tembung-tembunganipun”, karya S. Padmosoekotjo, penerbit Citra Jaya Murti (Jayabaya), Surabaya, perkiraan terbit tahun 1978, 54 halaman, bahasa Jawa krama :

(awal kutipan)

Lengeng gati nikang hawan sabha-sabha niking Hastina, samantara tekeng tegal Kuru nararyya Krsnan laku, sirang Parasurama Kanwa Janakadulur Narada, kapanggih irikang tegal miluri karyya sang Bhupati.

 Terjemahan bahasa Jawa jaman sekarang :
Asri – nengsemaken kawontenanipun margi ingkang (ngener) dhateng bangsal (papan pirembagan) Hastina. Sareng tindakipun Prabu Kresna dumugi ing ara-ara Kuru, panjenenganipun kepanggih (kepethuk) kaliyan Parasurama, Kanwa lan Janaka (ingkang sampun sami asalira dewa) sesarengan kaliyan (Bathara) Narada; (sakawan punika) sami tumut mbiyantu pakaryanipun (tugasnya) Sang Prabu.

(akhir kutipan)

Terjemahan Bahasa Indonesia nya oleh Admin WPB :
Indah – mempesona suasana jalan yang (menuju) ke bangsal (tempat perundingan) Hastina. Ketika jalannya Prabu Kresna sampai di tanah lapang Kuru, dia bertemu dengan Parasurama, Kanwa dan Janaka (yang sudah ber-wadag/ ber-badan dewa) bersama dengan (Bathara) Narada; (ke-empatnya) bersama ikut membantu tugasnya Sang Prabu

(awal kutipan)

S. Padmosoekotjo : katranganing tembung-tembungipun :
(indonesia nya oleh Admin WPB)

1. Lengeng = endah, asri, nengsemaken. (Ind: indah, mempesona)
2. Gati = kawontenan (Ind: keadaan, suasana). Hawan = margi (Ind: jalan)
3. Lengeng gati nikang hawan = asri – nengsemaken kawontenaning marginipun. (Ind: indah – mempesona suasana jalan)
4. Sabha = bangsal papan sarasehan, papan rembagan, pendhapa kraton. (Ind: aula, auditorium)
5. Samantara = boten antawis dangu. (Ind: sementara itu, segera sesudah itu)
6. Tegal Kuru = ara-ara Kuru (Ind: tanah lapang Kuru)
7. Nararyya = nara (tiyang) + aryya (minulya, sebutanipun darah luhur). Ing sekar punika tembung “nararyya” sami kaliyan : Prabu.

(akhir kutipan)

Selamat menikmati keindahan bahasa nya.
Semoga bisa berbagi pada buku wayang terbitan lama lain nya lagi.
Salam.

Sebuah buku Latihan Ujian Dalang I yang dihimpun oleh R. Sutrisno – Kepala Seksi Pedalangan, Urusan Kesenian, Direktorat Kebudajaan, Departemen P.D dan K, Jogjakarta. Penerbit CV Mahabarata, Surakarta, terbit tahun 1964 ( perkiraan, tidak ada keterangan tahun terbitan ).

Berbagi info alamat URL ‘ebook’ nya yang bisa diunduh di :

Pitakonan & Wangsulan Bab Wanda Wajang Purwa – R. Sutrisno halaman 02 ~ 27 :
Pitakonan & Wangsulan Bab Wanda Wajang Purwa – R. Sutrisno halaman 28 ~ 48 :

Selamat mambaca.

Sebelum tahun 1950 an Ki Reditanaja menulis buku tuntunan pedalangan dengan lakon Kartawijoga dalam huruf dan bahasa Jawa. Tahun 1951 R. Hardjowirogo menerjemahkan buku itu ke dalam bahasa Indonesia diterbitkan oleh Balai Pustaka :

(Karangan) Ki Reditanaja, (disalin oleh) R. Hardjowirogo, “ Kartawijoga “, Jakarta : Balai Pustaka, 1951, 87 halaman, gambar wayang, bahasa Indonesia.

Bisa ditemui dan diunduh di internet dengan alamat URL : http://www.4shared.com/file/123969129/2f3cf240/Kartawijoga_Ki_Reditanaja.html

Ini buku yang cocok untuk peminat pedalangan yang kurang paham bahasa Jawa. Meskipun bahasa Indonesia buku ini agak aneh bagi pembaca di tahun 2000 an.

Tahun 1980 an S.Z.Hadisutjipto mengalih aksara kan buku Ki Reditanaja, tetap dalam bentuk buku tuntunan pedalangan yang susunannya persis sama dengan buku Pak Hardjowirogo.

(Miturut gotek karanganipun) Ki Reditanaya – abdi dalem dhalang ing Karaton Surakarta (alih aksara dan ringkasan) S.Z. Hadisutjipto, “ Kartawiyoga “. Jakarta : PN Balai Pustaka, 1983 = cetakan 1, 121 halaman, bahasa Indonesia untuk ringkasan buku di bagian depan dan tuntunan pedalangan dalam bahasa Jawa pedalangan di bagian seterusnya.

Ebook dapat ditemui dan diunduh di internet dengan alamat URL : http://www.4shared.com/file/135939926/d60a04bd/Kartawiyoga_-Hadisoetjipto_0143.html

http://www.4shared.com/file/135940342/4582716e/Kartawiyoga_-Hadisoetjipto_4486.html

http://www.4shared.com/file/135940665/ef1b44a4/Kartawiyoga_-Hadisoetjipto_87121.html

Jadi dua buku ini, tulisan Pak Hardjowirogo dan Hadisoetjipto, saling melengkapi bagi pembaca yang kurang paham bahasa Jawa.


Blog Stats

  • 802,007 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 64 other followers

Halaman dilihat :