Pustaka Wayang

Archive for the ‘Pedalangan’ Category

‘Ebook’ buku pedalangan, Ki Ng Wignyosoetarno, Pasinaon Dhalang Mangkunagaran Surakarta, Kawruh Pedhalangan, cepengan, tanceban, sabet, sulukan, pathetan, sendhon, ada-ada, basa, dhodhogan, keprakan, antawacana, sengsem, nges, nawung kridha, sambegana, uda nagara, Ki Eko Prasetyo, dalang Amarta.

 

 

Data buku :

Ki Ng Wignyosoetarno ( Guru Pasinaon Dhalang Mangkunagaran, Surakarta ) ‘ KAWRUH PEDHALANGAN ;  tidak ada ciri nama penerbit maupun tahun terbit ;  29 halaman ; bahasa Jawa krama.

 

 

Isi buku ini  :

 

  1. I.        Bab Kawruh.
    1. 1.       Cepengan, Tanceban tuwin Sabet.
    2. 2.       Sulukan-sulukan, Pathet, Sendhon, Ada-ada.
    3. 3.       Basa / Tembung-tembung.
    4. 4.       Dhodhogan tuwin Keprakan.

 

  1. II.      Bab Isi.
    1. 1.       Antawacana.
    2. 2.       Sem / sengsem.
    3. 3.       Nges.
    4. 4.       Nawung Kridha.
    5. 5.       Sambegana.
    6. 6.       Uda Nagara.

 

 

Cuplikan isi buku :

 

Bab Sulukan.

Sulukan punika kaperang dados 3 (tiga) :

  1. 1.       Pathetan              : kangge nggambaraken raos mardika, tuwin lega.
  2. 2.       Sendhon              : kangge nggambaraken raos tumalawung, sedih, tuwin ugi kenging kangge nggambaraken raos edi ( endah ).
  3. 3.       Ada-ada               : kangge nggambaraken sadaya raos sereng ( duka ) kasesa.

 

 

 

 

Berita gembira mengenai kegiatan konservasi kepustakaan wayang. Pindaian ini terlaksana berkat pemindaian yang dilaksanakan oleh Ki Eko Prasetyo dari Surakarta. Beliau akan secara sukarela terus membantu kegiatan konservasi kepustakaan wayang dengan pemindaian kepustakaan wayang koleksi pribadi beliau maupun koleksi anggauta-anggauta dari Paguyuban Dalang Amarta di Surakarta. Pengasuh blog Wayangpustaka mengucapkan beribu ribu terima kasih atas peran serta Ki Eko Prasetyo dan rekan-rekan dalang Amarta. Dengan semua usaha ini, semoga kepustakaan wayang lama bisa lebih mudah dibaca para peminat / peng-apresiasi terutama generasi muda Indonesia.

 

 

‘Ebook’ Kawruh Pedhalangan ini bisa diunduh gratis di alamat URL sbb ( dua file ) :

http://www.4shared.com/document/77nC7Xnw/01_Kawruh_Pedhalangan_Wignyosu.html

dan

http://www.4shared.com/document/tlfpVJkZ/02_Kawruh_Pedhalangan_Wignyosu.html

 

 

Ditulis oleh Budi Adi Soewirjo, Jakarta, 13 Mei 2011.

Advertisements

‘Ebook’ Buku Tuntunan Pedalangan Wayang Kulit Purwa Jawa .

 

Serat Sastramiruda .

 

 

Bagi peminat pedalangan wayang kulit purwa Jawa membaca buku tuntunan pedalangan merupakan suatu keasyikan tersendiri , sekalian menambah pengetahuan tentang wayang purwa.

 

Ada satu buku lama yang dianggap lengkap menguraikan pengetahuan mendalang sekaligus menguraikan hal lain berkaitan dengan wayang. Buku tersebut berjudul “ Serat Sastramiruda “. Kapan tepatnya buku tersebut pertama kali terbit tidak diketahui , menilik dari nama yang disebut dalam buku tersebut , diperkirakan buku tersebut pertama kali terbit pada kisaran tahun 1863 ~ 1893 Masehi.

 

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam rangka Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah pada tahun 1981 pernah mengalih aksarakan (oleh Sudibjo Z. Hadisutjipto) dan mengalihbahasakan (oleh Kamajaya) buku ini. Terbitan ini oleh Departemen P dan K disebarkan secara gratis, beserta buku-buku lain dalam proyek yang sama , ke perpustakaan-perpustakaan Departemen P & K di daerah maupun di sekolah-sekolah.

 

P Kamajaya ( nama lengkapnya adalah almarhum Karkono Kamajaya , seorang budayawan di Yogyakarta yang aktif menggali kembali falsafah dan budaya Jawa ) sebagai pengalih bahasa menuliskan keterangan singkat mengenai buku tersebut sbb :

 

 

Serat Sastramiruda dan alih bahasa nya .

 

“ Serat Sastramiruda “ adalah sebuah karya sastra Jawa berhuruf Jawa dalam bentuk wawancara antara guru ahli Pedalangan Wayang Purwa dan muridnya. Sang Guru ialah Kanjeng Pangeran Arya Kusumadilaga , dan muridnya , Mas Sastramiruda. Nama murid ini diambil menjadi judul bukunya.

 

Tidak ada angka tahun penulisan kitab tersebut, namun dapat diketahui, bahwa KPA Kusumadilaga hidup di jaman Sri Susuhunan Paku Buwana IX yang bertakhta dari tahun 1863 hingga 1893 M. Di antara tahun-tahun itulah kiranya kitab ini ditulis. Siapakah pengarang atau penyusunanya tidak diperoleh kepastian, apakah KPA Kusumadilaga, apakah Mas Sastramiruda. Hanya pada bagian muka dari Serat Sastramiruda terdapat keterangan bahwa :  “ Semua cara-cara menjalankan tugas mendalang dijelaskan dengan lengkap. Cerita itu kemudian disampaikan kepada Raden Mas Panji Kusumawardaya, kerabat keraton di Negeri Surakarta “ .

 

Apakah lalu dapat diartikan, bahwa yang menyusun Serat Sastramiruda ini RMP Kusumawardaya, walloh’alam.

 

“ Serat Sastramiruda “ carik (tulisan tangan) terdapat antata lain di Perpustakaan Radyapustaka, Surakarta. Pada tahun 1930 telah terbit yang tercetak dengan huruf Jawa, dijadikan 2 jilid, tetapi jilid keduanya belum pernah kami ketahui ( mungkin tidak terbit ). Penerbitnya : Uitgeverij en Boekhandel Stoomdrukkerij De Bliksem, Sala.

 

Isi “ Serat sastrawiruda “ diterangkan dalam anak-judul buku yang tercetak, yakni :

 

“ Ugering Padhalangan ingkang sampun mupakat kangge abdi dalem Dhalang di karaton Surakarta Adiningrat “. Artinya “ Pedoman Pedalangan yang telah dibenarkan untuk hamba Dalang di keraton Surakarta Adiningrat “.

 

 

Sebenarnya isi kitab itu lebih dari “pedoman pedalangan”, bahkan memuat pula Sejarah Wayang Purwa dan lain sebagainya. Maka keterangan yang lebih terperinci terdapat pada sampul belakang kitab yang sudah tercetak, yang artinya sebagai berikut :

 

“ Menceritakan asal mula adanya gambar Wayang Purwa dan permulaannya menjadi gambar Wayang Beber, Gedog, Krucil, Golek, Klithik, Wayang Orang dan Topeng, dengan urutan para penciptanya di jaman kuna sampai keadaan Wayang Kulit di keraton Surakarta. Dan dijelaskan ketika para Jawata (Dewa) mencipta bunyi-bunyian yang dinamakan Lokananta yang selanjutnya digubah menjadi gamelan Salendro. Lalu ada bunyi-bunyian (mengiringi) perang disebut Mardangga. Dan adanya gamelan Monggang, Kodok-ngorek, Galaganjur, Cara Balen, Pelog, Sakaten dan Sarunen. Juga adanya tari Badaya, Sarimpi, Wireng, Lawung, Dadap dan sebagainya. Pula tentang alat-alat dalang mewayang (mendalang), dan jenis-jenis gending, dengan Suluk Greget-saut (gaya siaga) nya. Diuraikan pula tentang cara memilih niyaga (pemukul gamelan) yang memang perlu menjadi teman bertugas ki dalang, hingga caranya mendalang. Semuanya diterangkan di dalam Serat ini “.

 

 

Kecuali memuat hal-hal yang terperinci di atas, kitab ini pun memuat Pedoman mendalang satu lakon penuh, yaitu lakon “ Palasara Kawin” atau disebut pula “Lahirnya Abiyasa”.

 

 

“Serat Sastramiruda” yang demikian luas isinya itulah yang sekarang disajikan alihbahasa Indonesianya. Mengingat banyaknya istila-istilah dalam pewayangan dan pedalangan, serta bahasa yang khas pedalangan, maka pengalihbahasaan ini menjumpai kesulitan-kesulitan. Istilah-istilah dan bahasa-khas itu tidak mudah, bahkan seringkali tidak mungkin diterjemahkan. Jalan keluarnya ialah diberikan penjelasan secara singkat agar para pembaca dapat memahaminya dengan seksama. Penjelasan itu diberikan di belakang kata-kata. Istilah masing-masing maupun berupa catatan kaki.

 

 

Atas bantuan mas Pranowo Budi Sulistyo – pengasuh laman wayang http://wayangprabu.com – yang mempunyai buku tersebut , telah memindai buku tersebut sehingga kita bisa mengunduh gratis ‘ebook’ buku tersebut.

 

File ‘ebook’ nya dibagi menjadi tiga file :

Bagi pembaca yang mengerti bahasa Jawa, mungkin mengunduh file yang bahasa Jawa saja sudah memadai untuk belajar.

 

Bagian pertama dari yang berbahasa Indonesia :

http://www.4shared.com/document/aqzzxOc-/Serat_Sastramiruda__Bhs_Indo_p.html

 

Bagian kedua dari yang berbahasa Indonesia :

http://www.4shared.com/document/w_Z44IAM/Serat_Sastramiruda__Bhs_Indo_p.html

 

Yang berbahasa Jawa ( satu file ) :

http://www.4shared.com/document/c6wLCRvV/Serat_Sastramiruda__Jawa_.html

Buku Wayang : Nonton Wayang Dari Berbagai Pakeliran karya R. M. Pranoedjoe Poesponingrat

falsafah wayang, budi pekerti, sejarah wayang, uraian tokoh wayang, lakon wayang, para dewa, arjuna sasrabahu, ramayana, mahabarata, baratayuda, pathet, tatahan wayang, sunggingan wayang, wanda wayang, gagrag wayang, simpingan wayang, gambar detail wayang kulit purwa Jawa.

R. M. Pranoedjoe Poesponingrat ; “ Nonton Wayang Dari Berbagai Pakeliran “ ; Yogyakarta ; Badan Penerbit Kedaulatan Rakyat ; 2008 = cetakan ke 2 ; xii + 278 halaman ; bahasa Indonesia + abstract dalam bahasa Inggris, gambar wayang.

[ Disayangkan bahwa Badan Penerbit Kedaulatan Rakyat ( belum mendaftarkan ? ) serta tidak mencantumkan nomor ISBN untuk buku ini. Demikian juga tidak mencamtukan tahun cetakan pertama nya – yang diperkirakan September 2005 sebagai terbitan pertama ]

Buku ini merupakan gabungan dari berbagai hal yang berkaitan dengan wayang. Tampak bahwa tujuan utama penulis adalah membahas masalah falsafah dalam wayang serta masalah budi pekerti Jawa yang bisa diambil dari wayang. Namun, agar semua itu bisa lebih jelas diterangkan, maka diuraikan juga tentang sejarah wayang, tokoh-tokoh wayang, ringkasan lakon-lakon. Setelah itu ada beberapa keterangan tambahan – yang juga tak kalah menariknya – tentang wayang kulit purwa Jawa. Boleh dikatakan bahwa buku ini adalah buku yang sangat bermanfaat dibaca bagi seseorang yang ingin tahu lebih banyak tentang wayang purwa Jawa karena merangkum bermacam hal, ringkas padat bermanfaat.

R. M. Pranoedjoe Poesponingrat  – putra KRT Poespaningrat yang ahli dalam adat istiadat Jawa di Keraton Yogyakarta – menuliskan bahwa susunan penyajian buku ini adalah sbb :

  1. Bebuka sebagai latar belakang.
  2. Wayang dan Tasawuf Jawa mengenai Fungsi Wayang, Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, Lahirnya Catur Hawa, dan Wejangan Asta Brata.
  3. Buti-butir Budi Pekerti Jawa dalam Wayang seperti dicontohkan dalam Bhagawat Gita, Baratayuda, Ramayana, Arjuna Sasrabahu, Arjuna Wiwaha dan Dewaruci.
  4. Ramayana, epos Walmiki dari India dan Kakawin Ramayana dalam Jawa Kuno, 903.
  5. Mahabarata, karya Wyasa dan Kakawin Mahabarata Jawa Kawi, 1016.
  6. Baratayuda, dan Kakawin Baratayuda karya Empu Sedah dan Empu Panuluh, 1157.
  7. Catatan Akhir menyajikan beberapa keterangan tambahan.

             [ terdiri dari :

             Pathet Wayang : Expression of Mode

             Sunggingan dan Tatahan : Expression of Art

             Wanda Wayang : Expression of Mood

             Terminologi Gelung, Gurda dll.

             Gagrak Wayang : Expression of Diversity

             Simpingan Wayang : Expression of Beauty

             Lakon Wayang : Expression of Values ]

8. Abstract dalam bahasa Inggris ditujukan untuk pembaca warga asing yang tidak berbahasa Indonesia.

(Anggitanipun) Ki Siswoharsojo, “ Pakem Padhalangan Lampahan Wahju Purbasedjati” – dhapukan gagrag Surakarta. Kadjangkepaken : Djanturan, ginem, kotjapan, banjolan, gara-gara dalah tjaranipun andhalangaken satamatipun. Tuladha suluk mawi noot titi laras. Ngajogjakarta – Gondolaju Kulon: (kaanggit saha kawedalaken dening) Ki Siswaharsojo, tahun 1956 (catatan : tahun pada waktu pengarang menuliskan pengantar buku), 109 halaman, bahasa Jawa pedalangan.

URL file PDF Wahju Purbasedjati – Ki Siswoharsojo yang bisa diunduh :

Halaman 1 ~ 21 :

http://www.4shared.com/file/123962173/659f681a/WahjuPurbaSedjati_121.html

Halaman 22 ~ 43 :
http://www.4shared.com/file/123962513/34cc6740/WahjuPurbaSedjati_2243.html

Halaman 44 ~ 65 :
http://www.4shared.com/file/123961052/33d9ffd7/WahjuPurbaSedjati_4465.html

Halaman 66 ~ 89 :
http://www.4shared.com/file/123962964/ecf39d40/WahjuPurbaSedjati_6689.html

Halaman 91 ~ akhir :
http://www.4shared.com/file/123963880/cc637985/WahjuPurbaSedjati_90akhir.html

Serat Padhalangan Ringgit Purwa Jilid 1. Awit saking pangudinipun KGPAA Mangkunegara VII ing Surakarta. Gambar-gambar dening R. Sulardi, Kasidi, Darmatjarita. Cetakan IV tahun 1965, penerbit UP Indonesia, Yogyakarta, bergambar wayang kulit, bahasa Jawa krama.

‘Ebook’ / pindaian buku ini bisa ditemukan di internet ( dan bisa diunduh ) di alamat URL Serat Padhalangan Ringgit Purwa jilid 1 :

Buku ini berisi lakon wayang purwa :

I. LAMPAHAN PARA DEWA.

1. Wisnu krama.

2. Ngruna ngruni.

3. Watugunung.

4. Mikukuhan.

5. Sri Sadana.

6. Murwakala.

II. LAMPAHAN LOKAPALA.

1. Sastra Jendra Yuningrat.

2. Sugriwa – Subali.

3. Bedhahipun Lokapala.

4. Jathasura – Maesasura.

III. LAMPAHAN ARJUNA SASRABAU.

1. Arjunawijaya tapa.

2. Sumantri ngenger.

(Kaanggit) Ki Siswoharsojo, “ Pakem Pedhalangan Lampahan Makutharama “ Kadjangkepaken : djanturan, ginem, banjolan, gara-gara dalah patrapipun andhalang satamatipun. Tuladha suluk 37 warni mawi noot titi laras. Ngajogjakarta – Gondolaju Kulon Dj. VI/ 151 : (kaanggit lan kawedalaken dening) Ki Siswoharsojo, tahun 1963 = cetakan III, 122 halaman, gambar wayang, bahasa Jawa pedalangan.

Buku tuntunan pedalangan lengkap, gagrag Surakarta, gaya tahun 1950 an.

‘Ebook’ bisa ditemui dan diunduh di internet pada alamat URL :

http://www.4shared.com/file/136137400/38e3bf9a/Makutarama_01_59.html

dan

http://www.4shared.com/file/136138948/2ef71a9/Makutarama_60_122.html

Selamat membaca. Salam dari laman Wayang Purwa Buku di Facebook 

http://www.facebook.com/pages/Wayang-Purwa-Buku/82972305747

Berbagi catatan dengan laman Wayang Purwa Buku  http://www.facebook.com/pages/Wayang-Purwa-Buku/82972305747 .
‘Ebook’ ini merupakan catatan tertulis pagelaran 12 lakon wayang purwa terdiri dari dua lakon sebelum Baratayuda ditambah delapan lakon Baratayuda ditambah dua lakon sesudah Baratayuda, yang di pagelarkan oleh dalang Tjermakarsana di Sasana Hinggil ‘ Dwi Abad ‘ Yogyakarta pada tahun 1958. Pagelaran satu lakon per bulan, sehingga genap 12 lakon dalam satu tahun 1958.

Yang membuat catatan adalah MB Radyomardowo, Soeparman dan Soetomo. Catatan tersebut di bukukan dan diterbitkan oleh NV Badan Penerbit ‘ Kedaulatan Rakjat ‘ Yogyakarta pada 01 Januari 1959.

Serat Baratajuda – Tjermakarsana / Radyomardowo 1 ~ 24 : (676 KB)
http://www.4shared.com/file/116124624/63cc4c4c/SrtBaratajuda_Tjermakarsana_1__24.html
Dua lakon sebelum Baratayuda :
1. “Kalabendana Lena”. Utawi selapanan temanten Angkawijaya kalijan Dewi Utari.
2. “Kresna Gugah”. Utawi Balekambang.
Dalam lakon ini ada ramuan gubahan cerita versi Jawa. ( Yang menarik : Kitab Jitapsara, Lanceng Pethak, Prabu Baladewa dan Raden Antareja dicegah – oleh Kresna – agar tidak terlibat di peperangan Baratayuda ).
Kresna bertapa tidur di Balekambang. Badan halusnya – Sukmawicara – ke Suralaya untuk minta Kitab Jitapsara – skenario peperangan Baratayuda. Dewa sedang menuliskan skenario tersebut, siapa lawan siapa dan seterusnya. Pada waktu Bathara Guru berujar : ‘ Prabu Baladewa melawan Raden Antareja ‘, namun sebelum Bathara Penyarikan sempat menuliskannya ke Kitab Jitapsara, botol tinta ditendang tumpah oleh Lanceng Pethak (kumbang kecil berwarna putih) yang tidak lain adalah Sukmawicara. Skenario tidak bisa terus dituliskan, sehingga Prabu Baladewa dan Raden Antareja tidak tertulis dalam skenario peperangan Baratayuda.
Kresna meminta Prabu Baladewa untuk bertapa di Grojogan Sewu dikawal Raden Sencaka.
Kresna meminta Raden Antareja menjilat jejak kaki nya sendiri. Karena terkena kesaktiannya sendiri Raden Antareja meninggal.

Serat Baratajuda – Tjermakarsana / Radyomardowo 25 ~ 50 : (1.173 KB)
http://www.4shared.com/file/116124725/150916ed/SrtBaratajuda_Tjermakarsana_25__50.html
Dua lakon Baratayuda :
1. “Kresna Duta”. Utawi Jabelan.
Dalam lakon ini ada ramuan gubahan cerita versi Jawa. ( Yang menarik : bagaimana Sang Hyang Wenang mencegah keterlibatan Raden Wisanggeni dalam peperangan Baratyuda ).
2. “Resi Seta Gugur”.

Serat Baratajuda – Tjermakarsana / Radyomardowo 51 ~ 82 : (1.258 KB)
http://www.4shared.com/file/116124809/25d57f79/SrtBaratajuda_Tjermakarsana_51__82.html
Tiga lakon Baratayuda :
1. “Bogadenta Gugur”. Utawi Paluhan, inggih Wrekudara kepaluh.
2. “Renyuhan”. Utawi Ranjapan, inggih guguripun Abimanyu.
3. “Burisrawa Gugur”. Utawi Timpalan.

Serat Baratajuda – Tjermakarsana / Radyomardowo 83 ~ 112 : ( 1.300 KB)
http://www.4shared.com/file/116124903/c4c2fc50/SrtBaratajuda_Tjermakarsana_83112.html
Dua lakon Baratayuda :
1. “Suluhan”. Utawi Gatutkaca Gugur.
2. “Karna Tanding”.

Serat Baratajuda – Tjermakarsana / Radyomardowo 113 ~ 140 : (1.305 KB)
http://www.4shared.com/file/116124977/8ceeae8e/SrtBaratajuda_Tjermakarsana_113140.html
Satu lakon Baratayuda : “Rubuhan”. Utawi Prabu Duryudana Gugur.
Satu lakon sesudah Baratyuda : “Lahiripun Parikesit”.

Serat Baratajuda – Tjermakarsana / Radyomardowo 141 ~ akhir : (436 KB)
http://www.4shared.com/file/116125002/4a8902c/SrtBaratajuda_Tjermakarsana_141akhir.html
Satu lakon sesudah Baratayuda : “Jumenengan”.


Blog Stats

  • 616,914 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 59 other followers

Halaman dilihat :