Pustaka Wayang

Archive for the ‘Departemen Pendidikan dan Kebudayaan’ Category



‘Ebook’ buku ‘Wanda Ringgit Purwa milik Keraton Surakarta’

Alih aksara :

Moelyono Satronaryatmo

Departemen Pendidikan dan Kebuadayaan Republik Indonesia, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Jakarta, 1981

Berbagai Ragam bentuk atau wujud (wanda)

Wayang Purwa milik Keraton Surakarta,

sejumlah 85 macam

 

Nama-nama wayang tersebut di atas dan berbagai ragam bentuk atau wujudnya

(wanda) merupakan pola jadi (corekan dados) bagi penggarap wayang, khususnya dalam

ukuran, macam tatahannya dan bentuk-bentuknya, adapun ukuran yang tercantum di sini

mencakup lebar dan tinggi bentuk wayang.

Beberapa tokoh dalam dunia pewayangan adakalanya mem punyai bentuk lebih

dari satu, demikian dapat dilihat dalam daftar tersebut di atas. Dibedakan suatu tokoh

pewayangan dalam masa remaja dan masa sesudah remaja, demikian pula nama-nama

untuk tokoh pewayangan seringkali dibedakan nama masa muda dan masa tua. Sebagai

contoh: Janaka, pada masa mudanya dinamakan Permadi, Baladewa, pada masa mudanya

bernama Kakrasana, Kresna, bernama Narayana dan lain sebagainya.

Penggunaan wayang dengan bentuknya masing-masing diatur pula sesuai dengan

waktu (pathet/Jw) dan tugasnya sesuai dengan alur cerita. Sebagai contoh: Wrekodara,

bentuk Lindu, waktu muncul sesuai dengan masa patet nem. Bentuk Mimis, keluar

pada masa patet manyura, bentuk Jagur dalam patet sanga dan lain sebagainya. Untuk

memperjelas bentuk-bentuk tokoh pewayangan tersebut diatas, akan dicoba diberikan

keterangan artian wanda bentuk tadi, sesuai dengan arti kata yang dipergunakan untuk

menamakannya. Dalam mencoba mengartikan apa yang dimaksud dengan bentuk dan

namanya, dipakai senagai dasar uraian kamus bahasa Jawa “Dr. Th.Pigeuad. Javaans –

Nederlands Handwoordenboek; J.B. Wolters’ Uitgevers – Maatschappij, N.V.; Groningen,

Batavia, 1938”.

 

 

Nama Wayang dan bentuk wanda, arti kata

1. Puntadewa bentuk jimat; jimat – amulet; sesuatu yang dianggap mempunyai daya

kekuatan, selalu dijunjung tinggi dan dihargai.

2. Puntadewa bentuk deres; deres – berlebih-lebihan, berlimpah-limpah.

3. Puntadewa bentuk malatsih; malatsih – mendekatkan rasa sayang, memikat hati.

4. Wrekodara bentuk mimis; mimis – peluru.

5. Wrekodara bentuk gurnat; gurnat – granat.

6. Wrekodara bentuk lintang; lintang – bintang.

7. Wrekodara bentuk lindupanon; lindu – gempa bumi, panon -raut muka.

8. Wrekodara bentuk lindu; lindu – gempa bumi.

9. Permadi bentuk penganten; penganten – temanten, mempelai.

10. Permadi bentuk pacel atau patah; pacel – penyerang, penggempur, tukang berkelahi;

patah – pengapit mempelai, biasa terdiri dari puteri remaja, ataupun laki-laki sebanyak

dua orang.

11. Permadi bentuk pangawe; pengawe -ngawe : memberi isyarat dengan tangan dengan

maksud supaya lebih mendekat.

12. Permadi bentuk malatsih; malatsih – malat berarti menjadi panjang, mengalir, bangkit,

garang tajam; sih – cinta, sayang.

13. Permadi bentuk malat; malat berarti menjadi panjang, mengalir, bangkit, garang tajam;

malatsih – bangkit, berkobar sayang, kasih.

14. Janaka bentuk kinanti; kinanti – dikanthi – digandeng tangannya, dapat juga berarti

diajak sebagai teman dalam perjalanan.

15. Janaka bentuk jimat; jimat – amulet; sesuatu yang dianggap mempunyai daya kekuatan,

selalu dijunjung tinggi, dihormati.

16. Janaka bentuk kanyut; kanyut – terhanyut, kenyut – terbawa oleh arus, dapat juga berarti

jatuh asmara, jatuh cinta.

17. Janaka bentuk mangu; mangu – mangu-mangu berarti bimbang di hati belum

mendapatkan keputusan dalam hati, ragu-ragu, risau hatinya.

18. Sadewa remaja bentuk banjet; banjet – berkata dengan manis sebab mempunyai tujuan

tertentu yang harus dicapainya.

19. Sadewa bentuk banjet; banjet – berkata dengan kata-kata yang manis untuk memikat

dengan tujuan sesuatu.

20. Nakula remaja bentuk buntit; buntit – keriting, ikal.

21. Nakula bentuk buntit; buntit – keriting, ikal.

22. Irawan bentuk padasih; pada – ada persamaannya, sih – cinta, sayang.

23. Abimanyu bentuk jayenggati; jayenggati – dapat diartikan juga jaya ing ati, Jaya berarti

kemenangan , menang , kebahagiaan , keselamatan ; gati berarti tugas , perjalanan,

pekerjaan, cara melakukan suatu pekerjaan, tekun menjalankan tugasnya, bersungguhsungguh

melakukan pekerjaannya dan lain sebagainya.

24. Abimanyu bentuk buntit; buntit – keriting, ikal.

25. Gatotkaca bentuk tatit-remaja; tathit, thathit (Jw) halilintar.

26. Gatotkaca bentuk tatit-tua; tathit, thathit (Jw) halilintar.

27. Gatotkaca bentuk guntur; guntur – air pasang yang sangat dahsyat sehingga

menimbulkan banjir, malapetaka.

28. Gatotkaca bentuk kilat; kilat – bercahaya, cemerlang.

29. Antareja bentuk putut; putut – puthut (Jw), berarti penganut, murid dari suatu

pertapaan, paguron.

30. Antareja bentuk naga; naga – ular yang besar dan menakutkan.

31. Semar bentuk mega; mega – awan.

32. Semar bentuk watu; watu – batu.

33. Semar bentuk dukun; dukun – dhukun (Jw), berarti orang yang berilmu, khususnya

dalam menawarkan malapetaka, memberikan kesembuhan.

34. Semar bentuk ginuk; ginuk – leadaan badan yang tidak imbang, antara berat dan

kegemukannya, dapat diartikan juga gemuk dan berat sehingga bentuk tidak keruan.

35. Gareng bentuk prekul; prekul – atau prekal, prekol (Jw) berarti tidak lurus, bengkak –

bengkok, agak membungkuk.

36. Gareng bentuk kancil; kancil – nama binatang terkenal dalam dongeng karena

kecerdikannya.

37. Petruk bentuk jomblang; jomblang – penghubung, untuk wanita dan pria, atau sebaliknya.

38. Petruk bentuk mesem; mesem – tersenyum.

39. Bagong bentuk gilut; gilut – mengenyam, mengabdikan diri kepada, dapat juga

berarti selalu dekat tak mau jauh-jauh kepada sesuatu atau seseorang.

40. Bagong bentuk gembor; gembor – alat untuk menyiram tanaman atau bunga,

berteriak-teriak, atau dapat berarti juga menangis

41. Kakrasana bentuk sembada; sembada – sembada berarti baik dan bagus dalam

keadaan keseluruhannya, tepat atau terpilih, terpuji dalam lahir maupun batinnya.

42. Kakrasana bentuk kilat; kilat – cahaya, cemerlang dapat juga diartikan cahaya dari

halilintar.

43. Baladewa bentuk rayung kadipaten; rayung – sejenis tanaman alang-alang, rayungrayung

berarti dalam keadaan panjang dan kecil sebagai contoh “Drijine

ngrerayungan atau rayung-rayung,” berarti jari jemarinya panjang dan kecil-kecil

(langsing).

Adapun kata kadipaten agaknya menunjukkan Baladewa bentuj rayung tersebut

berasal dari kadipaten.

44. Baladewa bentuk sembada; sembada – sembada berarti baik dan bagus dalam

keadaan keseluruhannya, tepat atau terpilih, terpuji dalam lahir maupun batinnya.

45. Baladewa bentuk geger; geger – ribut, kacau, rame.

46. Baladewa bentuk kaget; kaget – terperanjat.

47. Baladewa bentuk pariksa; pariksa – memerikasa, mencari, dapat juga kata priksa

(Jw) berarti mengetahui, mengenal.

48. Narayana bentuk sembada; sembada – sembada berarti baik dan bagus dalam

keadaan keseluruhannya, tepat atau terpilih, terpuji dalam lahir maupun batinnya.

49. Narayana bentuk geblag; geblag – jatuh terlentang, merata.

50. Kresna bentuk rondon; rondon – daun, hiasan atau rangkaian, rangkuman, terdiri

dari bulu-bulu domba hiasan daun katangan daun-daunan.

51. Kresna bentuk gendreh; gendreh – indah, bagus, halus.

52. Kresna bentuk mawur; mawur – bercerai-cerai, dapat juga beraru bagus, indah

seperti butiran padi.

53. Samba bentuk buntit; buntit – keriting, ikal.

54. Samba bentuk sembada; sembada – sembada berarti baik dan bagus dalam

keadaan keseluruhannya, tepat atau terpilih, terpuji dalam lahir maupun batinnya.

55. Samba bentuk banjed; banjet – berkata dengan kata-kata yang manis untuk memikat

dengan tujuan sesuatu.

56. Udawa bentuk tandang; tandang – bekerja, melaksanakan pekerjaan, bertempur,

berkelahi.

57. Udawa bentuk jaran; jaran – kuda.

58. Setyaki bentuk mimis; mimis – peluru.

59. Setyaki bentuk akik; akik – sejenis batu permata (agaat – Bld.).

60. Setyaki bentuk wisnua; wisnua – bahaya, muram, murung, sedih, susah.

61. Suyudana bentuk jaka; jaka – remaja, dalam hal ini, belum beristri, untuk laki-laki.

62. Suyudana bentuk jangkung; jangkung – langsing, semampai, tinggi besar.

63. Kurupati bentuk jaka; jaka – remaja, dalam hal ini, belum beristri, untuk laki-laki.

64. Kurupati bentuk jangkung; jangkung – langsing, semampai, tinggi besar.

65. Banowati bentuk berok; berok – berarti a.l. kambing betina dari jenis tertentu

(wedhus berog – Jw.).

66. Banowati bentuk golek; golek – boneka.

67. Karna bentuk bedru; bedru – selisih, berbeda paham, usik, rintangan.

68. Karna bentuk lontang; lontang – dibawa lari, berubah warna, berganti warna.

69. Dursasana bentuk gambyong; gambyong – tergantung pada (khususnya untuk

buah-buahan), nggambyung (Jw), nggambyong (Jw) – berarti juga “menari

sendiri” khususnya diperuntukkan bagi penari putri untuk mengawali pesta

peralatan; juga berarti wayang kulit putri untuk menampilkan taran khusus

“gambyongan.”

70. Dursasana bentuk golek; golek – boneka.

71. Pragota bentuk penganten; penganten – mempelai, temanten.

72. Pragota bentuk putut; putut – puthut (Jw), berarti penganut, murid dari suatu

pertapaan, paguron.

73. Cakil bentuk naga; naga – ular yang besar dan menakutkan.

74. Cakil bentuk menyore; menyore – nyore (Jw) berarti petang, malam.

75. Cakil bentuk batang; batang – bangkai.

76. Guru bentuk candi (a); candi – arca atau candi.

77. Guru bentuk karno; karna – kata karna diartikan tutup kepalanya yang berbentuk

seperti tutup kepala adipati karna

78. Guru bentuk candi (b); candi – arca atau candi.

79. Durga bentuk gedrug; gedrug – ,menghentak-hentakkan kaki di tanah karena marah,

murka. Dapat juga berarti menyepak-nyepak disebabkan bangkit kemarahannya;

tidak sabar dan lain sebagainya.

80. Durga bentuk gidrah; gidrah – atau gibrah, kiprah berarti meloncat-loncat,

bergerak-gerak dikarenakan kegarangan hatinya, kerisauannya, kemarahaannya

81. Naga; dalam gambarnya tidak ada penjelasan lebih lanjut.

82. Dasamuka bentuk belis; belis – setan, jahanam, durhaka.

83. Dasamuka bentuk bugis; bugis – ragam dari seberang.

84. Kumbakarna bentuk barong; barong – dapat diartikan dalam bentuk raksasa yang

sangat menakutkan, mengerikan.

85. Kumbakarna bentuk macan; macan – harimau.

‘Ebook’ / pindaian buku / foto halaman-halaman adalah hasil peran serta dik Christoper Dewa Wardana, seorang pemuda Indonesia pecinta wayang yang saat ini mukim dan bekerja di San Franscisco sebagai arsitek / perancang ruang dalam. Buku tersebut di foto di perpustakaan Universitas Berkeley Amerika Serikat. Dik Christoper juga aktif ‘ nyorek ‘ / menggambar wayang, dan merencanakan menyusun buku wayang gagrag Yogyakarta.

Untuk mengunduh ‘ebook’ tersebut pembaca bisa kunjungi URL

http://www.4shared.com/document/vViR_Lvy/Full.html

dengan besar file kurang lebih 32 MegaByte.

Advertisements

‘Ebook’ Buku Tuntunan Pedalangan Wayang Kulit Purwa Jawa .

 

Serat Sastramiruda .

 

 

Bagi peminat pedalangan wayang kulit purwa Jawa membaca buku tuntunan pedalangan merupakan suatu keasyikan tersendiri , sekalian menambah pengetahuan tentang wayang purwa.

 

Ada satu buku lama yang dianggap lengkap menguraikan pengetahuan mendalang sekaligus menguraikan hal lain berkaitan dengan wayang. Buku tersebut berjudul “ Serat Sastramiruda “. Kapan tepatnya buku tersebut pertama kali terbit tidak diketahui , menilik dari nama yang disebut dalam buku tersebut , diperkirakan buku tersebut pertama kali terbit pada kisaran tahun 1863 ~ 1893 Masehi.

 

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam rangka Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah pada tahun 1981 pernah mengalih aksarakan (oleh Sudibjo Z. Hadisutjipto) dan mengalihbahasakan (oleh Kamajaya) buku ini. Terbitan ini oleh Departemen P dan K disebarkan secara gratis, beserta buku-buku lain dalam proyek yang sama , ke perpustakaan-perpustakaan Departemen P & K di daerah maupun di sekolah-sekolah.

 

P Kamajaya ( nama lengkapnya adalah almarhum Karkono Kamajaya , seorang budayawan di Yogyakarta yang aktif menggali kembali falsafah dan budaya Jawa ) sebagai pengalih bahasa menuliskan keterangan singkat mengenai buku tersebut sbb :

 

 

Serat Sastramiruda dan alih bahasa nya .

 

“ Serat Sastramiruda “ adalah sebuah karya sastra Jawa berhuruf Jawa dalam bentuk wawancara antara guru ahli Pedalangan Wayang Purwa dan muridnya. Sang Guru ialah Kanjeng Pangeran Arya Kusumadilaga , dan muridnya , Mas Sastramiruda. Nama murid ini diambil menjadi judul bukunya.

 

Tidak ada angka tahun penulisan kitab tersebut, namun dapat diketahui, bahwa KPA Kusumadilaga hidup di jaman Sri Susuhunan Paku Buwana IX yang bertakhta dari tahun 1863 hingga 1893 M. Di antara tahun-tahun itulah kiranya kitab ini ditulis. Siapakah pengarang atau penyusunanya tidak diperoleh kepastian, apakah KPA Kusumadilaga, apakah Mas Sastramiruda. Hanya pada bagian muka dari Serat Sastramiruda terdapat keterangan bahwa :  “ Semua cara-cara menjalankan tugas mendalang dijelaskan dengan lengkap. Cerita itu kemudian disampaikan kepada Raden Mas Panji Kusumawardaya, kerabat keraton di Negeri Surakarta “ .

 

Apakah lalu dapat diartikan, bahwa yang menyusun Serat Sastramiruda ini RMP Kusumawardaya, walloh’alam.

 

“ Serat Sastramiruda “ carik (tulisan tangan) terdapat antata lain di Perpustakaan Radyapustaka, Surakarta. Pada tahun 1930 telah terbit yang tercetak dengan huruf Jawa, dijadikan 2 jilid, tetapi jilid keduanya belum pernah kami ketahui ( mungkin tidak terbit ). Penerbitnya : Uitgeverij en Boekhandel Stoomdrukkerij De Bliksem, Sala.

 

Isi “ Serat sastrawiruda “ diterangkan dalam anak-judul buku yang tercetak, yakni :

 

“ Ugering Padhalangan ingkang sampun mupakat kangge abdi dalem Dhalang di karaton Surakarta Adiningrat “. Artinya “ Pedoman Pedalangan yang telah dibenarkan untuk hamba Dalang di keraton Surakarta Adiningrat “.

 

 

Sebenarnya isi kitab itu lebih dari “pedoman pedalangan”, bahkan memuat pula Sejarah Wayang Purwa dan lain sebagainya. Maka keterangan yang lebih terperinci terdapat pada sampul belakang kitab yang sudah tercetak, yang artinya sebagai berikut :

 

“ Menceritakan asal mula adanya gambar Wayang Purwa dan permulaannya menjadi gambar Wayang Beber, Gedog, Krucil, Golek, Klithik, Wayang Orang dan Topeng, dengan urutan para penciptanya di jaman kuna sampai keadaan Wayang Kulit di keraton Surakarta. Dan dijelaskan ketika para Jawata (Dewa) mencipta bunyi-bunyian yang dinamakan Lokananta yang selanjutnya digubah menjadi gamelan Salendro. Lalu ada bunyi-bunyian (mengiringi) perang disebut Mardangga. Dan adanya gamelan Monggang, Kodok-ngorek, Galaganjur, Cara Balen, Pelog, Sakaten dan Sarunen. Juga adanya tari Badaya, Sarimpi, Wireng, Lawung, Dadap dan sebagainya. Pula tentang alat-alat dalang mewayang (mendalang), dan jenis-jenis gending, dengan Suluk Greget-saut (gaya siaga) nya. Diuraikan pula tentang cara memilih niyaga (pemukul gamelan) yang memang perlu menjadi teman bertugas ki dalang, hingga caranya mendalang. Semuanya diterangkan di dalam Serat ini “.

 

 

Kecuali memuat hal-hal yang terperinci di atas, kitab ini pun memuat Pedoman mendalang satu lakon penuh, yaitu lakon “ Palasara Kawin” atau disebut pula “Lahirnya Abiyasa”.

 

 

“Serat Sastramiruda” yang demikian luas isinya itulah yang sekarang disajikan alihbahasa Indonesianya. Mengingat banyaknya istila-istilah dalam pewayangan dan pedalangan, serta bahasa yang khas pedalangan, maka pengalihbahasaan ini menjumpai kesulitan-kesulitan. Istilah-istilah dan bahasa-khas itu tidak mudah, bahkan seringkali tidak mungkin diterjemahkan. Jalan keluarnya ialah diberikan penjelasan secara singkat agar para pembaca dapat memahaminya dengan seksama. Penjelasan itu diberikan di belakang kata-kata. Istilah masing-masing maupun berupa catatan kaki.

 

 

Atas bantuan mas Pranowo Budi Sulistyo – pengasuh laman wayang http://wayangprabu.com – yang mempunyai buku tersebut , telah memindai buku tersebut sehingga kita bisa mengunduh gratis ‘ebook’ buku tersebut.

 

File ‘ebook’ nya dibagi menjadi tiga file :

Bagi pembaca yang mengerti bahasa Jawa, mungkin mengunduh file yang bahasa Jawa saja sudah memadai untuk belajar.

 

Bagian pertama dari yang berbahasa Indonesia :

http://www.4shared.com/document/aqzzxOc-/Serat_Sastramiruda__Bhs_Indo_p.html

 

Bagian kedua dari yang berbahasa Indonesia :

http://www.4shared.com/document/w_Z44IAM/Serat_Sastramiruda__Bhs_Indo_p.html

 

Yang berbahasa Jawa ( satu file ) :

http://www.4shared.com/document/c6wLCRvV/Serat_Sastramiruda__Jawa_.html

Buku Manikmaya terdiri dari tiga jilid. Buku ini menceritakan kisah sejak manusia pertama kali diturunkan ke dunia hingga Islam berkembang di Jawa. Didalamnya termasuk diceritakan lakon-lakon yang sering dijumpai didunia pewayangan.

Saya cuplikan awal dari buku, berupa pupuh dhandhanggula

Konon Mas Ngabei Ronggo di Penambangan yang mengepalai para abdi dalem Kadipaten Mangkunegaran Surakarta, telah berhasil menyusun kisah tentang kedatangan agama Islam di Pulau Jawa. Cerita ini dimulai dari Sis Yanas Nurcahyo, adalah keturunan Nabi Adam sampai dengan Sunan Giri.

Kisah yang disusunnya bersumber dari Kitab suci Al Qur’an, tentang tonasube (ilmu tasawuf). Cerita ini diuraikan dalam bentuk ijina’ dan kias, menunjukkan sifar : Maha Tunggal, Maha Pengasih dan Penyayang, Pemurah dan Pengampun Tuhan seru sekalian alam.

Cerita ini ditulis pada hari Sabtu Kliwon tanggal empat belas bulan Jumadilawal tahun Ehe, wuku Warigalit, dalam masa kelima, dalam jangka windu : Windu Adi. Diberi sasmito sandi Sirno Ening Sworo Tunggal (1740).

Kelanjutannya silahkan dibaca disini :

Soediro Satoto ; “ Wayang Kulit Purwa – Makna dan Struktur Dramatiknya “ ; diterbitkan oleh Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi) , Direktorat Jenderal Kebudayaan , Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ; Jakarta ; 1985 ; xv + 150 halaman ; bahasa Indonesia.

 

‘Ebook’ bisa ditemui dan diunduh di internet dengan alamat URL :
http://www.4shared.com/file/161459022/51c73722/WKP_Makna_Struktur_Soediro_1.html
http://www.4shared.com/file/161461178/4fb31271/WKP_Makna_Struktur_Soediro_2.html
http://www.4shared.com/file/161462824/26163e7e/WKP_Makna_Struktur_Soediro_3.html

Buku ini berdasarkan sebuah penelitian dengan judul asli penelitian : “ Struktur Lakon Bentuk Wayang Purwa : Fungsi dan Maknanya bagi Penghayatan dan Pemahaman Budaya Jawa, sebuah Pendekatan Semiotika “.

Abstrak (dikutip sebagian) :

Yang menjadi ruang lingkup penelitian ini ialah, “ Struktur Lakon Bentuk Wayang Purwa (Kulit) “, dengan lakon “ Banjaran Karna “ dan “ Karna Tanding “ oleh dalang Ki Nartosabdo.

Penelitian ini mempunyai tujuan utama, yang perumusannya adalah sebagai berikut :

1.
Untuk memperoleh gambaran struktur lakon bentuk wayang purwa (kulit), serta fungsi dan maknanya bagi pengungkap tema dan amanat, sarana penghayatan dan pemahaman budaya Jawa.

2.
Untuk memperoleh gambaran persamaan dan perbedaan struktur lakon bentuk wayang purwa (Kulit) ‘model’ (subjenis, ragam atau bentuk) “ Banjaran Karna “ dengan “ Karna Tanding “.

3.
Untuk memperoleh kemungkinan-kemungkinan struktur, garapan, gaya dan teknik penyajian lakon bentuk wayang purwa (kulit), dengan berbagai penyimpangannya, tanpa mengganggu atau merusak esensi atau eksistensi wayang purwa (kulit), dalam rangka upaya pelestarian budaya Jawa.

Dua sumber data utama, yang dijadikan obyek kajian dalam penelitian ini :

1.
Kaset rekaman wayang kulit lakon “ Banjaran Karna “, dalang Ki Nartosabdo, 8 buah kaset @ 60 menit, diterbitkan oleh Kusuma Recording.

2.
Kaset rekaman wayang kulit lakon “ Karna Tanding “, dalang Ki Nartosabdo, 8 buah kaset @ 60 menit, diterbitkan oleh Kusuma Recording

(Peneliti) Suhardi, Wisnu Subagya ; “ Arti dan Makna Tokoh Pewayangan Ramayana Dalam Pembentukan dan Pembinaan Watak ( Seri II ) “ ; diterbitkan oleh Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya , Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional , Direktorat Jenderal Kebudayaan , Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ; Jakarta ; 1996 ; 106 halaman ; bahasa Indonesia.

‘Ebook’ bisa ditemui dan diunduh di internet dengan alamat URL sebagai berikut :

http://www.4shared.com/file/161467185/93f12ddf/ArtiMakna_TkhWayang_Rmyn_II_1.html

http://www.4shared.com/file/161468299/d979feba/ArtiMakna_TkhWayang_Rmyn_II_2.html

http://www.4shared.com/file/161467960/730ba566/ArtiMakna_TkhWayang_Rmyn_II_3.html

Perpustakaan Rumah Budaya TEMBI di jl. Parangtritis Yogyakarta membuat resensi buku ini yang ditampilkan di situs mereka http://www.tembi.org . Di bawah ini kami tampilkan secara lengkap resensi tersebut.

Judul : Arti dan Makna Tokoh Pewayangan Ramayana dalam Pembentukan dan Pembinaan Watak

Penulis : Suhardi, Wisnu Subagyo

Penerbit : Depdikbud, 1996, Jakarta

Halaman: ix + 106

 

Ringkasan Isi :

Wayang adalah sebuah karya seni yang penuh simbol dan nilai-nilai filosofi tentang kehidupan manusia. Ia banyak menampilkan aspek-aspek dan problem-problem kehidupan manusia baik sebagai individu maupun warga masyarakat luas. Wayang mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang universal dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat pada jamannya. Karakter setiap tokoh pewayangan merupakan lambang dari berbagai pewatakan yang ada dalam kehidupan manusia. Misal watak baik, buruk, kesetiaan dan lain-lain.

Ada banyak tokoh dalam seri Ramayana. Karena berbagai keterbatasan tokoh yang dijadikan contoh terutama Dewi Shinta, Raden Gunawan Wibisana, Raden Subali, Raden Sugriwa dan Patih Prahasta.

Dewi Shinta adalah putri Prabu Janaka dari kerajaan Mantili. Ia menjadi istri Rama setelah melalui sayembara.

Raden Gunawan Wibisana adalah putra Dewi Sukesi dengan Resi Wisrawa. Ia terpaksa meninggalkan negara Alengka dan berpihak pada Rama karena tidak setuju dengan perbuatan kakaknya (Prabu Dasamuka raja Alengka) yang menculik Sinta.

Raden Subali dan Sugriwa adalah putra Resi Gotama dan Dewi Windradi. Semula mereka berwajah tampan dengan nama Raden Guwarsa dan Raden Guwarsi. Akibat perbuatannya sendiri (berebut sebuah cupu) mereka berubah wujud menjadi kera dan namanya pun ikut diganti.

Patih Prahasta adalah putra Prabu Sumali dengan Dewi Danuwati. Prahasta adalah adik Dewi Sukesi dan pada waktu Dasamuka mendi raja ia diangkat menjadi patihnya.

Kelima tokoh di atas memiliki karakter dan sifat-sifat tersendiri yang bisa diambil hikmahnya dalam kehidupan kita. Banyak nilai-nilai yang dapat diambil dan dipelajari.

 

Nilai kesetiaan.

Nilai kesetiaan pada Dewi Shinta sangat jelas. Dia rela menderita dengan ikut Rama hidup di hutan. Juga ketika dalam cengkeraman Raja Dasamuka yang ingin memperistrinya, ia tak bergeming sedikit pun walaupun diiming-imingi berbagai hal. Selain kesetiaan hal ini juga menunjukkan kesucian hatinya. Nilai kesetiaan juga diperlihatkan oleh Patih Prahasta yang rela mati (dalam perang melawan Rama). Ia rela mati bukan membela Dasamuka yang angkara murka, tetapi karena kesetiaan pada negaranya dan ketidakrelaannya melihat prajurit Alengka banyak yang mati atau menderita karena perang melawan pasukan Rama.

Nilai kepatuhan.

Kepatuhan memiliki nilai tinggi (dihargai dan dihormati) buat orang yang menjalankannya, karena menjadi tolok ukur tentang kehormatan, harga diri dan kepahlawanan seseorang. Dewi Shinta patuh ketika menerima nsehat ayahnya untuk mengadakan sayembara memilih suami. Raden Guwarsa dan Raden Guwarsi (Subali dan Sugriwa) mematuhi perintah ayahnya untuk bertapa memohon ampun pada Tuhan sebagai penebus perbuatannya.

Nilai kepemilikan.

Memiliki sesuatu itu (misal rumah, gelar, istri/suami) ada aturan atau undang-undangnya. Artinya siapapun yang memiliki sesuatu keberadaannya dilindungi undang-undang. Rama yang telah memiliki Shinta tidak dapat diganggu gugat. Shinta yang telah “dimiliki” Rama (sebagai suami) pun berusaha menjaga nilai kepemilikan tersebut. Prahasta yang merasa memiliki negara Alengka merelakan kematiannya karena membela negaranya. Ia mati demi harga dirinya dan harga diri negara, bukan membela Dasamuka yang angkara murka.

Nilai kearifan dan kebijaksanaan.

Arif berarti tahu membedakan dan memilih antara yang baik dan yang buruk. Bijaksana adalah sifat dan sikap yang dapat menempatkan suatu masalah pada proporsi yang benar menurut aturan yang berlaku. Karena itu rasa moral yang tinggi seharusnya melandasi semua pikiran dan tingkah laku pemimpin. Dasamuka adalah raja yang tidak arif dan bijaksana sehingga membawa kehancuran bagi rakyat dan negaranya. Wibisana adalah tokoh yang arif dan bijaksana serta luas pengetahuannya. Wibisana selalu menghargai pendapat orang lain baik penguasa maupun rakyat kecil, selalu dapat menimbang apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan.

Nilai ksatria.

Sifat satria adalah sifat yang selalu membela kebenaran, tidak takut menghadapi kesulitan serta bersedia mengakui kekurangan atau kesalahannya. Atas dasar hal tersebut Wibisana berani mengesampingkan nilai “berbakti” pada kakaknya. Ia dengan berani tidak henti-hentinya menasehati Dasamuka agar mengembalikan Shinta pada Rama, walaupun akibatnya ia diusir oleh kakaknya. Wibisana rela meninggalkan kemewahannya di Alengka sebagai konskuensi dari tindakannya. Hal ini juga mencerminkan sikap keteguhan hatinya.

Nilai pengendalian diri.

Pengendalian diri adalah sikap batin manusia dalam usaha mengontrol nafsu-nafsunya dan melepaaskan pamrihnya untuk mendapatkan keselarasan hidup. Sugriwa dan Subali adalah gambaran manusia yang kurang bisa mengendalikan diri. Sekalipun mengetahui ibunya telah menjadi tugu, mereka belum sadar akan perbuatannya dan tetap berebut sebuah cupu, penyebab malapetaka keluarga Resi Gotama.

Nilai ketekunan dan keuletan.

Ketekunan dan keuletan diartikan sebagai sikap tidak menyerah pada berbagai rintangan atau hambatan yang dihadapi demi mencapai cita-cita atau tujuan (terlepas dari baik atau buruk tujuan tersebut). Subali dan Sugriwa dengan sekuat tenaga berusaha memiliki cupu, juga dengan tekun dan ulet melaksanakan tapa yang berat sebagai penebus perbuatannya.

Nilai etika.

Berdasarkan etika seseorang harus dapat membedakan hal yang buruk dan baik, hal yang benar dan hal yang salah. Prahasta adalah gambaran orang yang bisa membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Ia penasehat Prabu Dasamuka sekalipun nasehatnya tidak pernah diperhatikan. Ia menghadapi “buah simalakama” tetapi tetap harus memilih. Akhirnya ia memilih menjadi senapati Alengka bukan karena membela Dasamuka tetapi membela negaranya.

Dari uraian di atas jelas terkandung nilai-nilai pendidikan, baik pendidikan yang mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia maupun manusia dengan lingkungan alam. Yang baik adalah manusia bisa menjaga keharmonisan hubungan tersebut.

I Made Purna, Sri Mintosih ; “ Arti dan Makna Tokoh Pewayangan Mahabarata dalam Pembentukan dan Pembinaan Watak (Seri I) “ ; penerbit Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ; Jakarta ; 1994 ; 94 halaman ; bahasa Indonesia.

Kami undang pembaca yang mempunyai buku ini untuk berbagi informasi tentang buku ini.

Kelanjutan dari Serat Paramayoga Bagian I

Serat Paramayoga ini tidak menyajikan sebuah cerita atau kisah, tetapi menyajikan kumpulan nasihat atau petuah, sesuai dengan judulnya. Kata “parama” itu antara lain berarti terutama, terbaik, tertinggi, teristimewa dan sebagainya, pendek kata semua yang serba paling. Tetapi “parama” juga dapat berarti agung, kepala, pertama, dan sangat. “Yoga” berarti semadi, tepekur, merenung. Jadi “paramayoga” dapat berarti semedi tertinggi, tetapi dalam hubungan ini paramayoga diartikan renungan istimewa ataupun renungan utama, karena nasihat-nasihat di dalam buku ini memerlukan renungan yang dalam untuk dapat dimengerti apa yang tersirat didalamnya dan bukan yang tersurat.

Nasihat dan petuah-petuah di dalam buku ini di tulis kurang lebih seratus tahun yang lalu. Namun demikian sampai sekarang nasihat-nasihat itu masih dapat mengikuti zaman, ia tak lapuk dimakan waktu. (dicuplik dari Kata Pendahuluan)

Buku “Kumpulan Wulang-wulang” dlama Serat Paramayoga dan Serat Pustakaraja ini, yang ditugaskan mengumpulkan adalah Raden Ngabehi Karyarujita, yang kemudian dikenal sebagai Raden Mas Tumenggung Ranggawarsita Anem. Sedangkan alih bahasa oleh Moelyono Sastronaryatmo.

Buku iniadalah bagian kedua atau lanjutan dari bagian pertama sebelumnya :


Blog Stats

  • 616,914 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 59 other followers

Halaman dilihat :