Pustaka Wayang

Archive for the ‘Tahun 1970 an’ Category

‘Ebook’ Wanda Wayang Purwa Gaya Surakarta

Disusun bersama oleh para pengajar ASKI ( Akademi Seni Karawitan Indonesia ) Surakarta, nama-nama nya tertulis di dalam Kata Pendahuluan.

 

Diterbitkan oleh Sub / Bagian Proyek Akademi Seni Karawitan Indonesia, Proyek Pengembangan Institut Kesenian Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tahun 1978 / 1979.

 

 

Pindaian ini bisa terlaksana atas bantuan Eko Prasetyo dan Rudy Wiratama Partohardono dari Surakarta yang bisa mengusahakan foto copy dari buku ini. Pindai dilaksanakan di Jakarta tanggal 10 April 2011 oleh B A Soewirjo.

 

 

Kata Pendahuluan di buku tersebut :

 

Seperti telah kita ketahui, bahwa pakeliran ada juga menggunakan medium pokok “rupa”, selain medium pokok lainnya seperti gerak, suara dan bahasa. Kesemuanya itu saling mendukung keberhasilan sajian. Medium rupa dalam wayang mempunyai unsur tatahan, sunggingan dan wanda.

 

Di dalam pakeliran “wanda” sebagai salah satu unsur medium rupa, berperan penting untuk memantapkan “rasa” suatu tokoh. Kemantapan ini bisa dicapai karena ada kesesuaian antara suasana adegan dengan wanda tokoh yang digunakan, di samping juga unsur-unsur penting lainnya, yaitu penyuaraan, sanggit, sabet, sulukan dan lain sebagainya. Dengan demikian jelaslah bahwa ketetapan seorang seniman dalang memilih “wanda” mempunyai andil dalam keberhasilan sajian.

 

Untuk jelasnya di sini kami kemukakan contoh-contoh penggunaan “wanda” dari tokoh Baladewa :

          Pada adegan yang bersuasana netral “merdika” ( tidak ada “rasa” susah, marah dan sebagainya) digunakan Baladewa wanda “Paripeksa”.

          Dalam peperangan digunakan Baladewa wanda “Geger”.

          Untuk menghadiri suatu peralatan, Baladewa wanda “Jagong”.

          Dalam suasana marah, terkejut, wanda “Kaget” yang digunakan.

 

Dengan demikian jelas bahwa penggunaan wanda itu tergantung pada suasana yang ingin didukung. Tentunya penggunaan wanda seperti tersebut di atas adalah didasari oleh kebiasaan konvensionil dalang-dalang pada waktu terdahulu.

 

Dewasa ini jarang sama sekali seniman dalang memperhatikan masalah ini. Ini bisa kami amati pada survey pendahuluan, yaitu pengamatan terhadap sajian pakeliran, wawancara dengan dalang-dalang muda, adalah jarang memperhatikan masalah wanda tersebut. Salah satu sebab ialah kurangnya informasi tentang wanda.

 

Keadaan semacam ini perlu disesalkan, apalagi sampai saat ini belum ada sama sekali yang menulis tentang “Wanda Wayang”. Ditambah lagi adanya situasi yang mengkhawatirkan, yaitu makin menyusutnya seniman dalang yang tahu tentang “wanda”, karena usia mereka yang kebanyakan sudah lanjut, yaitu lebih dari 65 tahun.

 

Dengan pertimbangan tersebut maka kami juga memilih “wanda wayang” sebagai salah satu sasaran pendokumentasian. Karena terbatasnya dana, tenaga dan waktu, kami juga membatasi sasaran pada “wanda wayang purwa gaya Surakarta” yang terdapat di derah eks Karesidenan Surakarta.

 

Hasil pendokumentasian ini diharapkan bisa merupakan bahan penyusunan “Pengetahuan Wanda Wayang”, untuk melengkapi bahan perkuliahan di Akademi Seni Karawitan Indonesia, khususnya pada Jurusan Pedalangan. Lebih luasnya bagi para calon seniman dan seniman dalang, hasil ini diharapkan juga bisa memacu timbulnya kreativitas dalam sajian.

 

Daerah sasaran kami pilih yang tersebar, dan memiliki banyak dalang yang berpotensi. Informan kami pilih dalang-dalang tua yang mempunyai koleksi wayang lengkap, tahu tentang tatahan dan sunggingan wayang terutama tentang wanda. Setelah diadakan survey pendahuluan, kemudian ditentukan 15 informan yang tersebar di daerah Kabupaten Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Wonogiri, Boyolali dan Surakarta.

 

Di bawah ini kami kemukakan nama, umur dan alamat dalang informan

 

  1. 1.       Bapak Tiksnosudarso, 85 tahun, Jombor, Klaten  *) saat laporan ini dibuat beliau sudah meninggal dunia.
  2. 2.       Bapak Natacarita, 70 tahun, Ceper, Klaten.
  3. 3.       Bapak Mintadiyata, 70 tahun, Manisrenggo, Klaten.
  4. 4.       Bapak Nartosuwiryo, 65 tahun, Ngawangga, Klaten.
  5. 5.       Bapak Sarwodisono, 67 tahun, Manggisan, Klaten.
  6. 6.       Bapak Gondoijoyo, 68 tahun, Karangtalun, Klaten.
  7. 7.       Bapak Gondopandoyo, 85 tahun, Senden, Klaten.
  8. 8.       Bapak Sutino, 65 tahun, Eromoko, Wonogiri.
  9. 9.       Bapak J (cetakan tidak terbaca), 69 tahun, Kedungleri, Wonogiri.
  10. 10.   Bapak Sukarno, 64 tahun, Gombang, Boyolali.
  11. 11.   Bapak Gondowarongko, 63 tahun, Pengging, Boyolali.
  12. 12.   Bapak Gondopawiro, 67 tahun, Karangpandan, Karanganyar.
  13. 13.   Bapak Parnowiyoto, 69 tahun, Manyaran, Wonogiri.
  14. 14.   Bapak Naryocarito, 65 tahun, Kartosuro, Sukoharjo.
  15. 15.   Bapak Yosocarito, 69 tahun, Surakarta.

 

Dalam mengumpulkan data kami adakan wawancara berkisar pada :

Nama wanda, ciri-cirinya, perbedaan dengan wanda yang lain pada tokoh yang sama, penggunaannya di dalam pakeliran, siapa penatah dan penyunggingnya, kapan dibuat, tiruan dari mana, siapa pembuat wandanya dan sebagainya.

 

Selain itu juga diadakan pemotretan untuk tokoh wayang yang sudah mempunyai nama wanda, secara ututh dan bagian-bagian yang menunjukkan ciri khususnya, karena ada sebagian yang belum mempunyai wanda.

 

Wanda wayang adalah merupakan kesatuan unsur-unsur yang terdiri antara lain :

  • ·         Tunduk tengadahnya muka (praupan) wayang,
  • ·         Ukuran dan bentuk sanggul,
  • ·         Ukuran dan bentuk mata,
  • ·         Keadaan badan, yaitu ukuran dan posisinya,
  • ·         Ukuran dan tancap dari leher,
  • ·         Datar dan tidaknya dan panjang dan pendeknya bahu,
  • ·         Bentuk dari perut,
  • ·         Busana yang dipakai,
  • ·         Posisi kaki,
  • ·         Sunggingan.

 

Setiap satu tokoh wayang bisa mempunyai lebih dari satu wanda. Misalnya tokoh Baladewa, mempunyai wanda : Geger, Paripekso, Kaget, Jagong dan sebagainya, yang masing-masing wanda bisa menimbulkan kesan dan penggunaan yang berbeda, walau tokohnya sama.

 

Dari keterangan yang dikumpulkan, sulit untuk diketahui kapan masing-masing wanda dibuat dan siapa pembuatnya. Keterangan yang ada masih simpang siur, sukar untuk bisa dipertanggung jawabkan. Sehingga kami hanya mengutarakan nama wanda, ciri-ciri dan penggunaannya.

 

Laporan kami susun berdasarkan abjad dari nama tokoh wayang dan demikian pula nama wandanya. Dengan menyantumkan ciri-ciri wanda dan penggunaannya.

 

Pada akhirnya tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada para seniman dalang yang telah memberik informasi tentang wanda, dan kepada siapa saja yang telah membantu kami dalam pendokumentasian ini.

 

Team dokumentasi :

  1. 1.       Dr. Soetarno, penganalisa merangkap pembuat laporan.
  2. 2.       R. Sutrisno, penganalisa, pengumpul data merangkap juru potret.
  3. 3.       Bambang Murtiyoso DS., penganalisa.
  4. 4.       Bambang Suwarno, penganalisa.
  5. 5.       Sri Joko Raharjo, pengumpul data.
  6. 6.       Sarwanto, pengumpul data merangkap juru potret.
  7. 7.       Sudarko, pengumpul data.
  8. 8.       Catur Tulus, pengumpul data merangkap juru potret.
  9. 9.       Sukardi Sm., pengumpul data.
  10. 10.   Sumanto, penganalisa merangkap pembuat laporan.
  11. 11.   Rahayu Supanggah, penganalisa merangkap penanggung jawab.

 

Akhir dari Kata Pendahuluan.

 

Setelah Kata Pengantar ada daftar arti kata-kata istilah, misalkan untuk kata-kata yang mulai dengan huruf L :

Lancap                  =  muka menengadah.

Longok                 =  muka agak menengadah ( Lebih tunduk dari lancap ).

Luruh magak      =  muka agak menunduk.

Luruh                    =  muka menunduk.

Lanyap                  =  muka yang tengadah seperti melihat kejauhan.

Lencir                    =  badan tinggi kecil.

…. dan seterusnya

 

 

Contoh uraian tokoh dan salah satu wandanya :

 

Samba wanda Bontit.

Ciri-ciri :

Mata                     –  bedahan brebes nyamar

Raut muka          –  kelihatan tersenyum

Leher                    –  longok

Pundak                 –  lurus

Badan                   –  agak besar

Langkah kaki      –  lebar (njonjong)

Busana                                 –  sumping bunga kluwih, jamang dua, sanggul kecil, gruda mendukung sanggul, pantat besar.

 

Gunanya              : kalau Samba sebagai utusan, atau mencuri.

 

 

 

Sayangnya buku ini dicetak secara teknik stencil ( jaman tersebut ini teknik yang paling memungkinkan untuk menekan dana ) sehingga lampiran foto-foto buku ini tidak tercetak jelas, akibatnya makin tidak jelas ketika difoto copy / dipindai.

 

‘Ebook’ buku ini – tanpa lampiran foto-foto nya – dapat diunduh di URL :

http://www.4shared.com/document/9bienUfB/Wanda_Wyng_Surakarta_ASKI.html

 

 

Daftar nama tokoh dan wandanya yang diuraikan dalam buku ini :

 

Abimanyu wanda Bontit, Banjet, Brebes, Jayeng gati, Kanyut, Malatsih, Mangu, Mriwis, Panji, Rangkung, Bulus.

Anoman wanda Bambang, Barat, Manuko, Prambanan (Reco, Bambang).

Aswatama wanda Merong.

 

Bagong wanda Gembor, Ngrengkel, Sembada, Gilut, Jembar

Baladewa wanda Bantheng, Geger, Jagong, Kaget, Jago, Sembada, Sepuh.

Bambangan wanda Maya, Miling, Padasih.

Banuwati wanda Berok, Golek,

Bilung wanda Giti.

Bima wanda Bambang, Bedhil, Bugis, Gendhu, Gurnat, Jagong, Jagor, Kedhu, Ketug, Lindhu, Lindhu Panon, Lindhu Bambang, Lintang (Luntang), Panon, Mimis, Thathit.

Bratasena wanda Angkawijaya, Babad,Lindhu Bambang, ? (biasa), Bocah, Bondhan, Gurnat, Jaka, Lindhu Panon, Pecah Bungkus, Putran, Sembada.

Burisrawa wanda Canthuk.

Boma wanda Encik, Sumilih, Wingit/Sutijo.

 

Cakil wanda Bathang, Kikik, Panji, Gunung Sari.

Cangik wanda Cangik, Mangir.

 

Darmakusuma wanda Dhanyang, Demit, Deres, Dukun, Jimat, Panuksma, Puthut, Rangkung.

Denawa Nom wanda Barong, Blebar, Jaka, Kopek.

Denawa Raton wanda Bagus, Barong, Begog, Endog, Jaka, Macan, Mendhung, Wewe.l

Durga wanda Belis, Gedrug, Gidrah, Murgan, Surak, Wewe.

Dursasana wanda Gambyong, Golek, Canthuk.

Durmagati wanda Poncol.

Duryudana wanda Jaka, Janggleng, Jangkung, Rangkung.

 

Gareng wanda Prekul, Wregul, Gembor, Gembor Alit, Gondok, Kancil, Gulon, Wewe.

Gathutkaca wanda Gandrung/Gembleng, Gelap, Jaka, Guntur, Kilat, Sampluk, Pideksa, Thathit.

Guru wanda Karno, Rama, Reca/Arca.

 

Hudawa wanda Jaka, Jaran, Lapak, Lare, Tandang.

 

Indrajit wanda Setan.

 

Jayajatra wanda Bantheng.

Janaka wanda Bronjong, Gendreh, Janggleng, Jimat, Kadung, Kanyut, Kedhu, Kinanthi, Lintang, Malat, Malatsih, Mangu, Mangungkung, Muntap.

 

Kongso wanda Bogis, Belis.

Karno wanda Bedru, Geblag, Lonthang, Rangkung.

Kakrasana wanda Bantheng, Jagong, Sembada, Jaladara, Kilat, Slebrak.

Kartamarma wanda Bukuh, Merang.

Kayon wanda Jaler, Estri/Wedok.

Kenyawandu wanda Surak.

Kresna wanda Banjet, Botoh, Bontit, Surak, Gendreh, Jagong, Jangkung, Lendeh, Mangu atau Rondhon Sore, Mawur, Rondhon, Wedok.

Kumbakarno wanda Begog, Jaka, Wewe.

Kurupati wanda Sembada, Jangkung, Rangkung.

 

Limbuk wanda Gendroh, Bethem.

 

Nakula wanda Genes.

Narada wanda Reca.

Narayana wanda Bocah, Geblag, Widarakandang, Jaka, Srengat, Sembada.

 

Parekan wanda Rintik, Runtut.

Petruk wanda Genjong, Bagus, Cangak, Bujang, Sambel Goreng, Jamblang, Moblong, Jlegong, Boging.

Prabawa wanda Drigul, Bundhel.

Pragota wanda Poncol, Bundhel.

Permadi wanda Kadung, Jangkung, Rangkung, Jaka, Mriwis, Jayus, Mesem/Kinanthi, Pecel, Pengawe, Pengarih, Pengasih, Temanten.

Puntadewa wanda Jaka, Kinanthi, Lare, Malatsih, Miling, Putut.

 

Rara Ireng wanda Lentreng.

Rahwana wanda Begal, Belis, Bengis, Bogis, Gambyong, Klana.

 

Samba wanda Banjet, Bontit, Geblag, Gunung Sari, Lindur, Rengat, Layar, Sembada.

Semar wanda Brebes, Mega, Dhunuk, Dhukun, Glegek, Paled, Jenggel, Mesem, Mendhung, Jenggleng, Wedhon, Demit.

Sembadra wanda Banjet, Lanceng, Lentreng, Rangkung.

Setyaki wanda Akiki, Mimis, Wisuna

Srikandhi wanda Cemuris, Cemuris Nem, Nglanangi, Patrem

Siti Sundari wanda Gandes.

 

Togog wanda Barong, Gropak.

 

‘Ebook’ lain tentang (boneka pipih) wayang kulit yang sudah pernah disajikan Wayang Pustaka :

 

‘Ebook’ ‘ Pitakonan Lan Wangsulan Bab Wanda Wayang Kulit Purwa ‘ oleh R. Sutrisno (tahun 1964) di URL :

https://wayangpustaka.wordpress.com/2009/12/05/pitakonan-lan-wangsulan-bab-wanda-wajang-purwa-r-sutrisno/

 

‘Ebook’ ‘ Bab Natah Lan Nyungging Ringgit Wacucal ‘ oleh Sukir (tahun 1930an, 1980) di URL :

https://wayangpustaka.wordpress.com/2009/11/10/bab-natah-sarta-nyungging-ringgit-wacucal/

 

‘Ebook’ ‘ Princening Gambar Ringgit Wacucal ‘ oleh RM Soelardi (tahun 1933, 1953) di URL :

https://wayangpustaka.wordpress.com/2010/03/05/ebook-wayang-printjening-gambar-ringgit-wacucal-1933-1953-karya-rm-soelardi/

”Suluk Pedhalangan Abasa Jawi Kina Ingkang Leres Tuwin Katranganing Tembung-tembunganipun”, karya S. Padmosoekotjo, penerbit Citra Jaya Murti (Jayabaya), Surabaya, perkiraan terbit tahun 1978, 54 halaman, bahasa Jawa krama.

Dengan rasa hormat dan terima kasih kepada penulis dan penerbit, sehingga memungkinkan saya – dahulu sekitar 1978, pada saat buku ini terbit – menambah pengetahuan dan wawasan saya dengan membaca tulisan penulis. Karena saat ini sangat sulit untuk menemui buku ini di perpustakaan umum, apalagi mendapatkan di pasaran, perkenankan saya membuka buku ini saat ini dengan tujuan berbagi, agar generasi muda Indonesia mendapat kesempatan membaca apa-apa yang pernah ditulis penulis pendahulu mereka. Bukankah tujuan penulis adalah berbagi pengetahuan dengan pembacanya, kekal meskipun penulisnya sudah tiada dan bukunya sudah sukar didapat lagi ? Namun sekiranya ada yang keliru dan ada yang berkeberatan dengan kegiatan membuka buku ini, mohon segera beritahu saya.

Judul lengkapnya adalah “ Suluk Padhalangan Abasa Jawi Kina Ingkang Leres Tuwin Katranganing Tembung-tembungipun “. Buku ini membahas suluk pedhalangan dari sudut pandang susastra Jawa Kuno.

Sangat menarik untuk dibuka, dibaca, dinikmati bahasanya, disimpan, ….. dibaca lagi ketika mulai lupa. URL berbagi file ada di :
http://www.4shared.com/file/116124104/54b5384b/Suluk_Pedhalangan_S_Padmosoekotjo.html .

Menurut S. Padmosoekotjo suluk pedhalangan berbahasa Jawa Kuno hampir semua adalah petikan dari Kakawin Bharata Yuddha karya Empu Sedah dan Empu Panuluh pada jaman Prabu Jayabaya di Kediri. Hanya ada satu yang petikan dari Kakawin Ramayana ( Red : tapi S. Padmosoekotjo tidak menyebutkan suluk yang mana ). Di dalam buku ini ada sepuluh suluk ( Red : termasuk ada-ada, sendhon ) yang diuraikan.

Menurut saya buku ini sangat berguna untuk dalang maupun penggemar wayang kulit, karena buku ini dengan sangat jelas menguraikan ucapan suluk dalam bahasa Jawa kuno, kemudian arti kata-kata suluk tersebut dalam bahasa Jawa sekarang. Sangat menarik. Dengan mengerti arti kata-kata suluk, akan membuat kita lebih menikmati pagelaran wayang kulit.

Contoh susunan uraian penulis dalam buku ini :
1.
Pertama dituliskan dahulu petikan kakawin dalam huruf Jawa dengan bahasa Jawa Kuno.
Setelah itu petikan kakawin itu di-alih aksara-kan ke dalam huruf Latin persis sama dalam bahasa Jawa Kuno. Karena penuh tanda baca yang sukar di dapat di teknik typhografi ( Red : pada waktu itu ) maka penulis menuliskan dengan tulisan tangan.

Leng-leng ramya nikang sasangka kumenar mangrenga rum ning puri, mangkin tan pasiring halep ikang umah mas lwir murub ring langit ; ….. dst

Terus uraian tentang petikan kakawin :
Ing nginggil punika dipun wastani sekar (tembang) Sardulawikridita, tegesipun dolanan sima. Isinipun nyariosaken candraning kaendahanipun kadhaton Hastina ing wanci dalu, pinuju padhang rembulan. ….. dst

Katranganing temtung-tembungipun :
1. Leng-leng = anglam-lami ( Indonesia : mengasyikkan, menyebabkan orang terpesona ).
2. Ramya = endah, nengsemaken ( Indonesia : indah, menawan hati ).
3. ….. dst

Suraosipun :
Endah anglami-lami (warninipun) rembulan ingkang sumunar ngrengga memanising puri (kadhaton), (njalari) saya tanpa timbang (boten wonten ingkang nyameni) endahipun suyasa kencana (griya emas) punika, (sorotipun sumunar) pepindhanipun kados murub ing langit ; ….. dst

“ Sekar “ ( tembang ) kakawin di atas dipergunakan untuk suluk laras slendro pathet nem ageng yang dipergunakan di adegan ( jejer ) pertama.

2.
Lengeng gati nikang hawan sabha-sabha niking Hastina, … dst

Suluk sesudah pathet nem ageng, sebelum di mulainya “ ginem “ ( pembicaraan / narasi cerita / dialog dalam lakon ).

3.
Irika ta sang Ghatotkaca kinon mapagarkkasuta, tekap ira Krsna Partha maneher muji sakti nira, ….. dst

Ada-ada greget saut di pathet sanga.

4.
Meh rahinasemu bang hyang aruna kadi netra ning ogha rapuh, sabda ni kokila ring kanigara saketer ni kidung ning akung, ….. dst

“ Sekar “ Wisarjita, untuk sulukan pathet manyura, pertanda perpindahan dari pathet sanga ke pathet manyura.

Suraosipun :
(Wancinipun) meh ndungkap raina, srengenge (langit ing sisih wetan) katingal semu abrit, kados (abritipun) mripat (ingkang ngleresi) sakit, ocehing peksi engkuk ing wit kanigara kados suwanten pangrengiking kidungipun tiyang nandhang brangta. Pindha ungeling sulingipun tiyang Indu, cekikering ayam wana ing pagagan, peksi merak nyengungong undang-undang, kombang (tawon) mangrurah sekar ing kamar pasarean wangi (endah).

5.
Yahni yahning talaga kadi langit, mambang tang pas wulan upama nika, wintang tulyang kusuma yasumawur, lumra pwekang sari kadi jalada.

“ Sekar “ Bhramarawilasita, artinya kombang mboten tentrem (tawon yang tidak tenteram ), untuk sulukan pathet manyura jugag.

6.
Sendhon Sastradatan.

7.
Ada-ada jugag pathet manyura.

8.
” Sekar “ Sardulawikridita , artinya “ dolanan sima “.
Suluk pathet manyura ageng.

9.
Ada-ada adegan Arjuna.

10.
Ada-ada adegan Kresna.

Lirik kakawin Bharata Yuddha yang menggambarkan keberangkatan Kresna sebagai Duta Pandawa ini dipakai dalang wayang kulit purwa sebagai ucapan/ lirik suluk, setelah Suluk Pathet Enem Ageng, sebelum memulai percakapan adegan pakeliran wayang.

Kutipan dari buku ”Suluk Pedhalangan Abasa Jawi Kina Ingkang Leres Tuwin Katranganing Tembung-tembunganipun”, karya S. Padmosoekotjo, penerbit Citra Jaya Murti (Jayabaya), Surabaya, perkiraan terbit tahun 1978, 54 halaman, bahasa Jawa krama :

(awal kutipan)

Lengeng gati nikang hawan sabha-sabha niking Hastina, samantara tekeng tegal Kuru nararyya Krsnan laku, sirang Parasurama Kanwa Janakadulur Narada, kapanggih irikang tegal miluri karyya sang Bhupati.

 Terjemahan bahasa Jawa jaman sekarang :
Asri – nengsemaken kawontenanipun margi ingkang (ngener) dhateng bangsal (papan pirembagan) Hastina. Sareng tindakipun Prabu Kresna dumugi ing ara-ara Kuru, panjenenganipun kepanggih (kepethuk) kaliyan Parasurama, Kanwa lan Janaka (ingkang sampun sami asalira dewa) sesarengan kaliyan (Bathara) Narada; (sakawan punika) sami tumut mbiyantu pakaryanipun (tugasnya) Sang Prabu.

(akhir kutipan)

Terjemahan Bahasa Indonesia nya oleh Admin WPB :
Indah – mempesona suasana jalan yang (menuju) ke bangsal (tempat perundingan) Hastina. Ketika jalannya Prabu Kresna sampai di tanah lapang Kuru, dia bertemu dengan Parasurama, Kanwa dan Janaka (yang sudah ber-wadag/ ber-badan dewa) bersama dengan (Bathara) Narada; (ke-empatnya) bersama ikut membantu tugasnya Sang Prabu

(awal kutipan)

S. Padmosoekotjo : katranganing tembung-tembungipun :
(indonesia nya oleh Admin WPB)

1. Lengeng = endah, asri, nengsemaken. (Ind: indah, mempesona)
2. Gati = kawontenan (Ind: keadaan, suasana). Hawan = margi (Ind: jalan)
3. Lengeng gati nikang hawan = asri – nengsemaken kawontenaning marginipun. (Ind: indah – mempesona suasana jalan)
4. Sabha = bangsal papan sarasehan, papan rembagan, pendhapa kraton. (Ind: aula, auditorium)
5. Samantara = boten antawis dangu. (Ind: sementara itu, segera sesudah itu)
6. Tegal Kuru = ara-ara Kuru (Ind: tanah lapang Kuru)
7. Nararyya = nara (tiyang) + aryya (minulya, sebutanipun darah luhur). Ing sekar punika tembung “nararyya” sami kaliyan : Prabu.

(akhir kutipan)

Selamat menikmati keindahan bahasa nya.
Semoga bisa berbagi pada buku wayang terbitan lama lain nya lagi.
Salam.

Judul Buku Wahyu Cakraningrat
Pengarang Mas Padmadihardja
Penerbit Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah
Tahun 1979
Bahasa Indonesia, Jawa

Wahyu Cakraningrat adalah wahyu yang sangat diminati oleh para raja dan satria. Barang siapa yang memperolehnya, maka keterunanannya akan memperoleh kemuliaan dan menguasai kerajaan di tanah Jawa.

000.Cover Depan

Dalam cerita ini dikisahkan bagaimana upaya dari tiga orang satria dalam menggapai wahyu itu. Raden Samba, putra Kresna, Raden Abimanyu, putra Arjuna dan Raden Lesmana Mandrakumara, putra Duryudana, berlomba mendapatkan wahyu itu.

Siapa yang memperolehnya ?

Kita ikuti ceritanya disini.

Judul Buku Jaladara Rabi Wrediningsih
Pengarang Ki Reditanaya
Penerbit Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah
Tahun 1978
Bahasa Indonesia, Jawa

Buku ini menceritakan kisah perkawinan antara Kakrasana (Baladewa) rabi (kawin) dengan Dewi Erawati, putri dari Prabu Salya raja Mandraka.

Didalamnya juga diceritakan kisah percintaan antara Narayana (kresna) dengan Jembawati, putri Bagawan Kapi Jembawan dan Trijata serta upaya Arjuna memikat Wara Sembadra, adik Kakrasana dan Narayana.

Siapa Wrediningsih ? Endang Wrediningsih adalah Arjuna yang “disulap” oleh Batari Durga menjadi seorang putri yang cantik jelita dalam usahanya mendekati buah hatinya.

0.Cover Depan

.

.

Untuk mengetahui peranan PPBSID ( Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah ) dalam melestarikan dan menyebarluaskan pustaka wayang ; serta untuk mengetahui judul-judul pustaka wayang lawas yang dialihaksarakan, diterjemahkan, diterbitkan kembali oleh PPBSID , silakan kunjungi :

http://wayangpustaka02.wordpress.com/2012/03/10/proyek-penerbitan-buku-sastra-indonesia-dan-daerah-departemen-pendidikan-dan-kebudayaan-ri-1978-1987/

Judul Buku Sumantri Ngenger
Pengarang R. Ng. Sindusastra
Penerbit Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah
Tahun 1978
Bahasa Indonesia, Jawa

Ini adalah buku serial Arjunasasrabahu berjudul “Sumantri Ngenger” karangan Raden Ngabehi Sindusastra.
Menceritakan tentang upaya Sumantri dalam mengabdi kepada Raja Maespati, Arjunasasrabahu.

Sumantri Ngenger - Cover Depan

.

.

Untuk mengetahui peranan PPBSID ( Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah ) dalam melestarikan dan menyebarluaskan pustaka wayang ; serta untuk mengetahui judul-judul pustaka wayang lawas yang dialihaksarakan, diterjemahkan, diterbitkan kembali oleh PPBSID , silakan kunjungi :

http://wayangpustaka02.wordpress.com/2012/03/10/proyek-penerbitan-buku-sastra-indonesia-dan-daerah-departemen-pendidikan-dan-kebudayaan-ri-1978-1987/

Judul Buku Mintaraga Arjuna Wiwaha
Pengarang Resi Kano
Penerbit Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah
Tahun 1979
Bahasa Indonesia, Jawa

KIsah kepahlawanan Arjuna sebagai utusan Dewa dalam menghadapi ketakaburan dan keganasan Raja Imaimataka, Prabu Niwatakawaca yang sakti mandraguna. Gegernya kadewatan disebabkan atas lamaran Sang Raja Raksasa atas Dewi Supraba, kembang para Dewi.

Arjuna Wiwaha Cover Depan

Ebooknya dapat diunduh disini dan disini

.

.

Untuk mengetahui peranan PPBSID ( Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah ) dalam melestarikan dan menyebarluaskan pustaka wayang ; serta untuk mengetahui judul-judul pustaka wayang lawas yang dialihaksarakan, diterjemahkan, diterbitkan kembali oleh PPBSID , silakan kunjungi :

http://wayangpustaka02.wordpress.com/2012/03/10/proyek-penerbitan-buku-sastra-indonesia-dan-daerah-departemen-pendidikan-dan-kebudayaan-ri-1978-1987/


Blog Stats

  • 751,297 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 64 other followers

Halaman dilihat :