Pustaka Wayang

Archive for the ‘Tahun 1980 an’ Category



‘Ebook’ buku ‘Wanda Ringgit Purwa milik Keraton Surakarta’

Alih aksara :

Moelyono Satronaryatmo

Departemen Pendidikan dan Kebuadayaan Republik Indonesia, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Jakarta, 1981

Berbagai Ragam bentuk atau wujud (wanda)

Wayang Purwa milik Keraton Surakarta,

sejumlah 85 macam

 

Nama-nama wayang tersebut di atas dan berbagai ragam bentuk atau wujudnya

(wanda) merupakan pola jadi (corekan dados) bagi penggarap wayang, khususnya dalam

ukuran, macam tatahannya dan bentuk-bentuknya, adapun ukuran yang tercantum di sini

mencakup lebar dan tinggi bentuk wayang.

Beberapa tokoh dalam dunia pewayangan adakalanya mem punyai bentuk lebih

dari satu, demikian dapat dilihat dalam daftar tersebut di atas. Dibedakan suatu tokoh

pewayangan dalam masa remaja dan masa sesudah remaja, demikian pula nama-nama

untuk tokoh pewayangan seringkali dibedakan nama masa muda dan masa tua. Sebagai

contoh: Janaka, pada masa mudanya dinamakan Permadi, Baladewa, pada masa mudanya

bernama Kakrasana, Kresna, bernama Narayana dan lain sebagainya.

Penggunaan wayang dengan bentuknya masing-masing diatur pula sesuai dengan

waktu (pathet/Jw) dan tugasnya sesuai dengan alur cerita. Sebagai contoh: Wrekodara,

bentuk Lindu, waktu muncul sesuai dengan masa patet nem. Bentuk Mimis, keluar

pada masa patet manyura, bentuk Jagur dalam patet sanga dan lain sebagainya. Untuk

memperjelas bentuk-bentuk tokoh pewayangan tersebut diatas, akan dicoba diberikan

keterangan artian wanda bentuk tadi, sesuai dengan arti kata yang dipergunakan untuk

menamakannya. Dalam mencoba mengartikan apa yang dimaksud dengan bentuk dan

namanya, dipakai senagai dasar uraian kamus bahasa Jawa “Dr. Th.Pigeuad. Javaans –

Nederlands Handwoordenboek; J.B. Wolters’ Uitgevers – Maatschappij, N.V.; Groningen,

Batavia, 1938”.

 

 

Nama Wayang dan bentuk wanda, arti kata

1. Puntadewa bentuk jimat; jimat – amulet; sesuatu yang dianggap mempunyai daya

kekuatan, selalu dijunjung tinggi dan dihargai.

2. Puntadewa bentuk deres; deres – berlebih-lebihan, berlimpah-limpah.

3. Puntadewa bentuk malatsih; malatsih – mendekatkan rasa sayang, memikat hati.

4. Wrekodara bentuk mimis; mimis – peluru.

5. Wrekodara bentuk gurnat; gurnat – granat.

6. Wrekodara bentuk lintang; lintang – bintang.

7. Wrekodara bentuk lindupanon; lindu – gempa bumi, panon -raut muka.

8. Wrekodara bentuk lindu; lindu – gempa bumi.

9. Permadi bentuk penganten; penganten – temanten, mempelai.

10. Permadi bentuk pacel atau patah; pacel – penyerang, penggempur, tukang berkelahi;

patah – pengapit mempelai, biasa terdiri dari puteri remaja, ataupun laki-laki sebanyak

dua orang.

11. Permadi bentuk pangawe; pengawe -ngawe : memberi isyarat dengan tangan dengan

maksud supaya lebih mendekat.

12. Permadi bentuk malatsih; malatsih – malat berarti menjadi panjang, mengalir, bangkit,

garang tajam; sih – cinta, sayang.

13. Permadi bentuk malat; malat berarti menjadi panjang, mengalir, bangkit, garang tajam;

malatsih – bangkit, berkobar sayang, kasih.

14. Janaka bentuk kinanti; kinanti – dikanthi – digandeng tangannya, dapat juga berarti

diajak sebagai teman dalam perjalanan.

15. Janaka bentuk jimat; jimat – amulet; sesuatu yang dianggap mempunyai daya kekuatan,

selalu dijunjung tinggi, dihormati.

16. Janaka bentuk kanyut; kanyut – terhanyut, kenyut – terbawa oleh arus, dapat juga berarti

jatuh asmara, jatuh cinta.

17. Janaka bentuk mangu; mangu – mangu-mangu berarti bimbang di hati belum

mendapatkan keputusan dalam hati, ragu-ragu, risau hatinya.

18. Sadewa remaja bentuk banjet; banjet – berkata dengan manis sebab mempunyai tujuan

tertentu yang harus dicapainya.

19. Sadewa bentuk banjet; banjet – berkata dengan kata-kata yang manis untuk memikat

dengan tujuan sesuatu.

20. Nakula remaja bentuk buntit; buntit – keriting, ikal.

21. Nakula bentuk buntit; buntit – keriting, ikal.

22. Irawan bentuk padasih; pada – ada persamaannya, sih – cinta, sayang.

23. Abimanyu bentuk jayenggati; jayenggati – dapat diartikan juga jaya ing ati, Jaya berarti

kemenangan , menang , kebahagiaan , keselamatan ; gati berarti tugas , perjalanan,

pekerjaan, cara melakukan suatu pekerjaan, tekun menjalankan tugasnya, bersungguhsungguh

melakukan pekerjaannya dan lain sebagainya.

24. Abimanyu bentuk buntit; buntit – keriting, ikal.

25. Gatotkaca bentuk tatit-remaja; tathit, thathit (Jw) halilintar.

26. Gatotkaca bentuk tatit-tua; tathit, thathit (Jw) halilintar.

27. Gatotkaca bentuk guntur; guntur – air pasang yang sangat dahsyat sehingga

menimbulkan banjir, malapetaka.

28. Gatotkaca bentuk kilat; kilat – bercahaya, cemerlang.

29. Antareja bentuk putut; putut – puthut (Jw), berarti penganut, murid dari suatu

pertapaan, paguron.

30. Antareja bentuk naga; naga – ular yang besar dan menakutkan.

31. Semar bentuk mega; mega – awan.

32. Semar bentuk watu; watu – batu.

33. Semar bentuk dukun; dukun – dhukun (Jw), berarti orang yang berilmu, khususnya

dalam menawarkan malapetaka, memberikan kesembuhan.

34. Semar bentuk ginuk; ginuk – leadaan badan yang tidak imbang, antara berat dan

kegemukannya, dapat diartikan juga gemuk dan berat sehingga bentuk tidak keruan.

35. Gareng bentuk prekul; prekul – atau prekal, prekol (Jw) berarti tidak lurus, bengkak –

bengkok, agak membungkuk.

36. Gareng bentuk kancil; kancil – nama binatang terkenal dalam dongeng karena

kecerdikannya.

37. Petruk bentuk jomblang; jomblang – penghubung, untuk wanita dan pria, atau sebaliknya.

38. Petruk bentuk mesem; mesem – tersenyum.

39. Bagong bentuk gilut; gilut – mengenyam, mengabdikan diri kepada, dapat juga

berarti selalu dekat tak mau jauh-jauh kepada sesuatu atau seseorang.

40. Bagong bentuk gembor; gembor – alat untuk menyiram tanaman atau bunga,

berteriak-teriak, atau dapat berarti juga menangis

41. Kakrasana bentuk sembada; sembada – sembada berarti baik dan bagus dalam

keadaan keseluruhannya, tepat atau terpilih, terpuji dalam lahir maupun batinnya.

42. Kakrasana bentuk kilat; kilat – cahaya, cemerlang dapat juga diartikan cahaya dari

halilintar.

43. Baladewa bentuk rayung kadipaten; rayung – sejenis tanaman alang-alang, rayungrayung

berarti dalam keadaan panjang dan kecil sebagai contoh “Drijine

ngrerayungan atau rayung-rayung,” berarti jari jemarinya panjang dan kecil-kecil

(langsing).

Adapun kata kadipaten agaknya menunjukkan Baladewa bentuj rayung tersebut

berasal dari kadipaten.

44. Baladewa bentuk sembada; sembada – sembada berarti baik dan bagus dalam

keadaan keseluruhannya, tepat atau terpilih, terpuji dalam lahir maupun batinnya.

45. Baladewa bentuk geger; geger – ribut, kacau, rame.

46. Baladewa bentuk kaget; kaget – terperanjat.

47. Baladewa bentuk pariksa; pariksa – memerikasa, mencari, dapat juga kata priksa

(Jw) berarti mengetahui, mengenal.

48. Narayana bentuk sembada; sembada – sembada berarti baik dan bagus dalam

keadaan keseluruhannya, tepat atau terpilih, terpuji dalam lahir maupun batinnya.

49. Narayana bentuk geblag; geblag – jatuh terlentang, merata.

50. Kresna bentuk rondon; rondon – daun, hiasan atau rangkaian, rangkuman, terdiri

dari bulu-bulu domba hiasan daun katangan daun-daunan.

51. Kresna bentuk gendreh; gendreh – indah, bagus, halus.

52. Kresna bentuk mawur; mawur – bercerai-cerai, dapat juga beraru bagus, indah

seperti butiran padi.

53. Samba bentuk buntit; buntit – keriting, ikal.

54. Samba bentuk sembada; sembada – sembada berarti baik dan bagus dalam

keadaan keseluruhannya, tepat atau terpilih, terpuji dalam lahir maupun batinnya.

55. Samba bentuk banjed; banjet – berkata dengan kata-kata yang manis untuk memikat

dengan tujuan sesuatu.

56. Udawa bentuk tandang; tandang – bekerja, melaksanakan pekerjaan, bertempur,

berkelahi.

57. Udawa bentuk jaran; jaran – kuda.

58. Setyaki bentuk mimis; mimis – peluru.

59. Setyaki bentuk akik; akik – sejenis batu permata (agaat – Bld.).

60. Setyaki bentuk wisnua; wisnua – bahaya, muram, murung, sedih, susah.

61. Suyudana bentuk jaka; jaka – remaja, dalam hal ini, belum beristri, untuk laki-laki.

62. Suyudana bentuk jangkung; jangkung – langsing, semampai, tinggi besar.

63. Kurupati bentuk jaka; jaka – remaja, dalam hal ini, belum beristri, untuk laki-laki.

64. Kurupati bentuk jangkung; jangkung – langsing, semampai, tinggi besar.

65. Banowati bentuk berok; berok – berarti a.l. kambing betina dari jenis tertentu

(wedhus berog – Jw.).

66. Banowati bentuk golek; golek – boneka.

67. Karna bentuk bedru; bedru – selisih, berbeda paham, usik, rintangan.

68. Karna bentuk lontang; lontang – dibawa lari, berubah warna, berganti warna.

69. Dursasana bentuk gambyong; gambyong – tergantung pada (khususnya untuk

buah-buahan), nggambyung (Jw), nggambyong (Jw) – berarti juga “menari

sendiri” khususnya diperuntukkan bagi penari putri untuk mengawali pesta

peralatan; juga berarti wayang kulit putri untuk menampilkan taran khusus

“gambyongan.”

70. Dursasana bentuk golek; golek – boneka.

71. Pragota bentuk penganten; penganten – mempelai, temanten.

72. Pragota bentuk putut; putut – puthut (Jw), berarti penganut, murid dari suatu

pertapaan, paguron.

73. Cakil bentuk naga; naga – ular yang besar dan menakutkan.

74. Cakil bentuk menyore; menyore – nyore (Jw) berarti petang, malam.

75. Cakil bentuk batang; batang – bangkai.

76. Guru bentuk candi (a); candi – arca atau candi.

77. Guru bentuk karno; karna – kata karna diartikan tutup kepalanya yang berbentuk

seperti tutup kepala adipati karna

78. Guru bentuk candi (b); candi – arca atau candi.

79. Durga bentuk gedrug; gedrug – ,menghentak-hentakkan kaki di tanah karena marah,

murka. Dapat juga berarti menyepak-nyepak disebabkan bangkit kemarahannya;

tidak sabar dan lain sebagainya.

80. Durga bentuk gidrah; gidrah – atau gibrah, kiprah berarti meloncat-loncat,

bergerak-gerak dikarenakan kegarangan hatinya, kerisauannya, kemarahaannya

81. Naga; dalam gambarnya tidak ada penjelasan lebih lanjut.

82. Dasamuka bentuk belis; belis – setan, jahanam, durhaka.

83. Dasamuka bentuk bugis; bugis – ragam dari seberang.

84. Kumbakarna bentuk barong; barong – dapat diartikan dalam bentuk raksasa yang

sangat menakutkan, mengerikan.

85. Kumbakarna bentuk macan; macan – harimau.

‘Ebook’ / pindaian buku / foto halaman-halaman adalah hasil peran serta dik Christoper Dewa Wardana, seorang pemuda Indonesia pecinta wayang yang saat ini mukim dan bekerja di San Franscisco sebagai arsitek / perancang ruang dalam. Buku tersebut di foto di perpustakaan Universitas Berkeley Amerika Serikat. Dik Christoper juga aktif ‘ nyorek ‘ / menggambar wayang, dan merencanakan menyusun buku wayang gagrag Yogyakarta.

Untuk mengunduh ‘ebook’ tersebut pembaca bisa kunjungi URL

http://www.4shared.com/document/vViR_Lvy/Full.html

dengan besar file kurang lebih 32 MegaByte.

S.P. Adhikara; ‘ Nawaruci ‘ ; Penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) ; Bandung ; 1984 ( cetakan ke 1 ) ; 97 halaman ; bergambar wayang.

 

Pengantar Admin Wayangpustaka :

 

Ada tiga buku karya S.P. Adhikara mengenai cerita Bima mencari air suci atas perintah Pendita Durna. Yang pertama terbit berjudul ‘ Dewaruci ‘ berisi terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia atas Serat Bimasuci karya pujangga Jawa bernama Jasadipoera I pada tahun 1793. Kemudian yang kedua terbit adalah judul ‘ Unio Mystica Bima ‘ berisi analisis Serat Bimasuci tersebut. Yang ketiga adalah judul ‘ Nawaruci ‘ berisi terjemahan bebas ( dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia ) cerita Nawaruci yang aslinya karya Empu Syiwamurti dari Bali pada tahun antara 1500 ~ 1613. Dr. Prijohoetomo yang menerjemahkan dari bahasa Kawi ke bahasa Belanda dalam disertasinya tahun 1934. Ketiga buku tersebut diterbitkan oleh Penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) antara tahun 1983 ~ 1984 ( dari tanda tahun di Prakata S.P. Adhikara )

 

Namun, selain tiga buku terbitan Penerbit ITB tersebut, ternyata S.P. Adhikara mengarang satu buku lagi berjudul ‘ Analisis Serat Bimasuci ‘ , sekali lagi S.P. Adhikara menganalisa Serat Bimasuci. Buku ini diterbitkan oleh ‘ Institut Indonesia ‘ di Yogyakarta pada tahun 1986. Sinopsis ini pernah dibawakan sebagai makalah pada pertemuan di Lembaga Javanologi, Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Panunggalan, Yogyakarta pada tanggal 24 Oktober 1986.

 

Siapakah S.P. Adhikara ? Tidak ada data atau keterangan mengenai beliau di keempat buku karya beliau tersebut di atas.

 

Secara bertahap Admin Wayangpustaka akan menyajikan keempat buku tersebut.Kali ini Admin menyajikan judul ‘ Nawaruci ‘ dengan alasan bahwa cerita Nawaruci dari Bali ini muncul lebih dahulu dibanding cerita Bimasuci dari Jawa. Nanti pembaca bisa membaca tulisan tentang persamaan dan perbedaan cerita Nawaruci dan Bimasuci di bukunya berjudul ‘ Unio Mystica Bima ‘ .

 

 

 

Prakata buku Nawaruci karangan S P Adhikara :

 

Cerita Nawaruci yang kami tulis dalam buku ini merupakan terjemahan utuh naskah cerita Nawaruci tulisan Empu Syiwamurti yang terdapat dalam disertasi Prijohoetomo. Pada tahun 1934, Prijohoetomo – almarhum Profesor Dr. Prijohoetomo, guru besar Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada – berhasil mendapat gelar doktor dalam bidang sastra dan filsafat di Rijksuniversiteit di Utrecht negeri Belanda. Adapun judul disertasinya : Nawaruci, sedang sub-judulnya, setelah kami terjemahkan, ialah ‘ Pengantar. Terjemahan Teks – Prosa Jawa – Tengahan. Dibandingkan dengan Bimasuci dalam Metrum Jawa Kuna. ‘

 

Naskah asli cerita Nawaruci masih ditulis tangan di atas daun lontar, dalam bahasa dan huruf Kawi dan dalam keadaan menyedihkan sejak lontar-lontar tersebut diperoleh. Banyak halaman yang hilang, tulisan yang tidak terbaca lagi, dan halaman-halaman yang rusak dimakan ngengat. Meskipun demikian dari beberapa naskah yang ada, Prijohoetomo telah berhasil menyusun kembali naskah cerita Nawaruci dan mengalihtuliskan (transkripsi) ke dalam huruf Latin dan menterjemahkan naskah ini ke dalam bahasa Belanda.

 

Terjemahan cerita Nawaruci ke dalam bahasa Indonesia ini kami lakukan seharfiah mungkin. Istilah-istilah Kawi sejauh mungkin kami pertahankan dan kami tuliskan arti istilah-istilah tersebut, sesuai dengan yang terdapat dalam kamus Kawi. Pada umumnya Empu Syiwamurti sudah memberikan arti istilah Kawi yang nampaknya tidak umum dipakai, misalnya pancanhaka, dwi-dasyawarsa, murcha, syona kanaka warsa, dan lain sebagainya, tetapi untuk istilah natadewata, caturlokapala, panca-resi, jnana, jnana nirmala, siddha-purusa, dan sebagainya, tidak diberi penjelasan lebih lanjut, sehingga terpaksa kami carikan artinya dalam kamus Kawi. Dengan demikian kami berusaha agar terjemahan cerita ini seolah-olah tulisan Empu Syiwamurti sendiri, dalam bahasa Indonesia, pada tahun 1500 – 1613.

 

Cerita Nawaruci digubah sebagai scenario atau lakon untuk pagelaran wayang kulit, jadi dapat dibagi menjadi babak-babak dan adegan-adegan. Prijohoetomo membagi certita tersebut menjadi delapan bab atau babak dan menurut pengamatan kami, terdapat tidak kurang dari empat puluh adegan. Kalau tiap-tiap adegan memerlukan waktu sepuluh sampai lima belas menit, maka pagelaran wayang kulit dengan lakon Nawaruci cukup padat untuk dimainkan semalam suntuk. Itulah sebabnya cerita Nawaruci ini ditutup dengan penggambaran suasana pagi hari menjelang matahari terbit. Dua adegan terakhir yang menggambarkan pesta untuk menyambut kedatangan kembali Bima dan penampilan Kunti bersama Dropadi yang telah selesai bersolek dan nampak cantik seperti puteri-puteri wayang itu, dapat diperagakan berturut-turut sebagai tari kemenangan Bima atau ‘ tayungan ‘ dan menarikan wayang golek terbuat dari kayu menggambarkan Dropadi. Dalam bahasa Jawa golek mempunyai dua arti, yaitu anak-anakan yang terbuat dari kayu atau dapat berarti ‘ mencari ‘. Maka dalang yang pada akhir pertunjukan wayang kulit menarikan wayang golek tersebut dapat diartikan ‘ Carilah ( golekana, bahasa Jawa ) inti sari cerita yang dipertunjukkan semalam suntuk tadi ‘.

 

Mencari inti sari suatu cerita itu adalah kata-kata lain untuk menganalisis cerita itu. Analisis cerita Nawaruci kami sertakan sebagai lampiran buku ini, mengingat tulisan ini ditujukan kepada putera-puteri bangsa Indonesia, yang kurang atau tidak mengerti bahasa Jawa, agar mereka dapat menikmati cerita klasik Indonesia berasal dari daerah Jawa – Bali.

 

Tulisan Empu Syiwamurti tersebut diawali dengan sebuah puji doa : ‘ Awighnam astu namas siddham ‘ ; artinya : ‘ Semoga tiada rintangan segala puji telah sempurna dipanjatkan ‘, dan ditutup dengan sebuah kolofon, yaitu catatan dari penulis cerita atau dari yang menulis ulang cerita serta tanggal selesai menulis cerita dan tempat menulis menulis ceritanya dan ditutup dengan doa puji. Akan tetapi sayang tahun selesainya mengutip atau menulis ceritanya tidak jelas, sebab hanya dinyatakan dengan dua angka. Menurut hasil penelitian Prijohoetomo cerita Nawaruci itu ditulis antara 1500 – 1613.

 

Cerita Bimasuci yang ditulis oleh pujangga Jasadipoera I berbentuk puisi dalam bahasa Jawa Baru dan dalam metrum macapat pada tahun 1793, dan dalam metrum Jawa kuna pada tahun 1803 A.D. , merupakan saduran bebas cerita Nawaruci. Maksud pujangga Jasadipoera I menulis cerita Bimasuci berbentuk puisi dalam metrum macapat itu agar supaya cerita itu dapat mudah diingat karena dapat dinyanyikan, khususnya inti sari cerita tersebut. Cerita Bimasuci ini sudah kami terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan kami beri judul Dewaruci agar seragam dengan judul terjemahan cerita Nawaruci ini, dan diterbitkan oleh penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) juga.

 

Dua karya klasik Indonesia berasal dari Jawa – Bali tersebut mempunyai keindahan masing-masing dan dalam menterjemahkan kedua karya sastra tersebut kami berusaha untuk tidak merusak keindahan yang ada dalam tulisan itu.

 

Desember 1984

S.P. Adhikara.

 

 

 

 

Kolofon (asli) di naskah Nawaruci :

 

Demikianlah Ilmu Kebenaran Tanpa Cacat ( Tattwajnyana nirmala ), ditulis oleh Mpu Syiwamurti.

 

Selesai menulis Sang Hyang Tattwajnyana nirmala pada tahu Syaka 55, bulan Syrawana, tanggal 14, Hari Sabtu, wuku Wugu. Ditulis di kota Klungkung ( Swecchapura ), di tepi sungai, sebelah timur jalan. Maafkan kalau tulisan ini jelek serta segala kekurangannya, mengingat pekerjaan ini adalah dari seorang yang bodoh dan hanya sedikit memiliki inlu, yang didorong oleh keinginan turut menulis, yang bernama Jemuharsa.

 

Om Saraswatyai namah

Om gemung Ganapataye namah

Om Syri-Gurubhyo namah

 

Terjemahan :

Om, hormat dan puji kepada Saraswati

Om gemung, hormat dan puji kepada Ganapati

Om, hormat dan puji kepada Guru-guru, yang terhormat.

 

 

 

Pindaian / ‘ebook’ buku ini bisa diunduh dalam dua file di URL :

http://www.4shared.com/document/tIjSLJaX/Adhikara_Nawaruci_0147.html

http://www.4shared.com/document/pT0s9jkx/Adhikara_Nawaruci_4897.html

 

 

Salam dari Admin.

 

‘Ebook’ Buku Tuntunan Pedalangan Wayang Kulit Purwa Jawa .

 

Serat Sastramiruda .

 

 

Bagi peminat pedalangan wayang kulit purwa Jawa membaca buku tuntunan pedalangan merupakan suatu keasyikan tersendiri , sekalian menambah pengetahuan tentang wayang purwa.

 

Ada satu buku lama yang dianggap lengkap menguraikan pengetahuan mendalang sekaligus menguraikan hal lain berkaitan dengan wayang. Buku tersebut berjudul “ Serat Sastramiruda “. Kapan tepatnya buku tersebut pertama kali terbit tidak diketahui , menilik dari nama yang disebut dalam buku tersebut , diperkirakan buku tersebut pertama kali terbit pada kisaran tahun 1863 ~ 1893 Masehi.

 

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam rangka Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah pada tahun 1981 pernah mengalih aksarakan (oleh Sudibjo Z. Hadisutjipto) dan mengalihbahasakan (oleh Kamajaya) buku ini. Terbitan ini oleh Departemen P dan K disebarkan secara gratis, beserta buku-buku lain dalam proyek yang sama , ke perpustakaan-perpustakaan Departemen P & K di daerah maupun di sekolah-sekolah.

 

P Kamajaya ( nama lengkapnya adalah almarhum Karkono Kamajaya , seorang budayawan di Yogyakarta yang aktif menggali kembali falsafah dan budaya Jawa ) sebagai pengalih bahasa menuliskan keterangan singkat mengenai buku tersebut sbb :

 

 

Serat Sastramiruda dan alih bahasa nya .

 

“ Serat Sastramiruda “ adalah sebuah karya sastra Jawa berhuruf Jawa dalam bentuk wawancara antara guru ahli Pedalangan Wayang Purwa dan muridnya. Sang Guru ialah Kanjeng Pangeran Arya Kusumadilaga , dan muridnya , Mas Sastramiruda. Nama murid ini diambil menjadi judul bukunya.

 

Tidak ada angka tahun penulisan kitab tersebut, namun dapat diketahui, bahwa KPA Kusumadilaga hidup di jaman Sri Susuhunan Paku Buwana IX yang bertakhta dari tahun 1863 hingga 1893 M. Di antara tahun-tahun itulah kiranya kitab ini ditulis. Siapakah pengarang atau penyusunanya tidak diperoleh kepastian, apakah KPA Kusumadilaga, apakah Mas Sastramiruda. Hanya pada bagian muka dari Serat Sastramiruda terdapat keterangan bahwa :  “ Semua cara-cara menjalankan tugas mendalang dijelaskan dengan lengkap. Cerita itu kemudian disampaikan kepada Raden Mas Panji Kusumawardaya, kerabat keraton di Negeri Surakarta “ .

 

Apakah lalu dapat diartikan, bahwa yang menyusun Serat Sastramiruda ini RMP Kusumawardaya, walloh’alam.

 

“ Serat Sastramiruda “ carik (tulisan tangan) terdapat antata lain di Perpustakaan Radyapustaka, Surakarta. Pada tahun 1930 telah terbit yang tercetak dengan huruf Jawa, dijadikan 2 jilid, tetapi jilid keduanya belum pernah kami ketahui ( mungkin tidak terbit ). Penerbitnya : Uitgeverij en Boekhandel Stoomdrukkerij De Bliksem, Sala.

 

Isi “ Serat sastrawiruda “ diterangkan dalam anak-judul buku yang tercetak, yakni :

 

“ Ugering Padhalangan ingkang sampun mupakat kangge abdi dalem Dhalang di karaton Surakarta Adiningrat “. Artinya “ Pedoman Pedalangan yang telah dibenarkan untuk hamba Dalang di keraton Surakarta Adiningrat “.

 

 

Sebenarnya isi kitab itu lebih dari “pedoman pedalangan”, bahkan memuat pula Sejarah Wayang Purwa dan lain sebagainya. Maka keterangan yang lebih terperinci terdapat pada sampul belakang kitab yang sudah tercetak, yang artinya sebagai berikut :

 

“ Menceritakan asal mula adanya gambar Wayang Purwa dan permulaannya menjadi gambar Wayang Beber, Gedog, Krucil, Golek, Klithik, Wayang Orang dan Topeng, dengan urutan para penciptanya di jaman kuna sampai keadaan Wayang Kulit di keraton Surakarta. Dan dijelaskan ketika para Jawata (Dewa) mencipta bunyi-bunyian yang dinamakan Lokananta yang selanjutnya digubah menjadi gamelan Salendro. Lalu ada bunyi-bunyian (mengiringi) perang disebut Mardangga. Dan adanya gamelan Monggang, Kodok-ngorek, Galaganjur, Cara Balen, Pelog, Sakaten dan Sarunen. Juga adanya tari Badaya, Sarimpi, Wireng, Lawung, Dadap dan sebagainya. Pula tentang alat-alat dalang mewayang (mendalang), dan jenis-jenis gending, dengan Suluk Greget-saut (gaya siaga) nya. Diuraikan pula tentang cara memilih niyaga (pemukul gamelan) yang memang perlu menjadi teman bertugas ki dalang, hingga caranya mendalang. Semuanya diterangkan di dalam Serat ini “.

 

 

Kecuali memuat hal-hal yang terperinci di atas, kitab ini pun memuat Pedoman mendalang satu lakon penuh, yaitu lakon “ Palasara Kawin” atau disebut pula “Lahirnya Abiyasa”.

 

 

“Serat Sastramiruda” yang demikian luas isinya itulah yang sekarang disajikan alihbahasa Indonesianya. Mengingat banyaknya istila-istilah dalam pewayangan dan pedalangan, serta bahasa yang khas pedalangan, maka pengalihbahasaan ini menjumpai kesulitan-kesulitan. Istilah-istilah dan bahasa-khas itu tidak mudah, bahkan seringkali tidak mungkin diterjemahkan. Jalan keluarnya ialah diberikan penjelasan secara singkat agar para pembaca dapat memahaminya dengan seksama. Penjelasan itu diberikan di belakang kata-kata. Istilah masing-masing maupun berupa catatan kaki.

 

 

Atas bantuan mas Pranowo Budi Sulistyo – pengasuh laman wayang http://wayangprabu.com – yang mempunyai buku tersebut , telah memindai buku tersebut sehingga kita bisa mengunduh gratis ‘ebook’ buku tersebut.

 

File ‘ebook’ nya dibagi menjadi tiga file :

Bagi pembaca yang mengerti bahasa Jawa, mungkin mengunduh file yang bahasa Jawa saja sudah memadai untuk belajar.

 

Bagian pertama dari yang berbahasa Indonesia :

http://www.4shared.com/document/aqzzxOc-/Serat_Sastramiruda__Bhs_Indo_p.html

 

Bagian kedua dari yang berbahasa Indonesia :

http://www.4shared.com/document/w_Z44IAM/Serat_Sastramiruda__Bhs_Indo_p.html

 

Yang berbahasa Jawa ( satu file ) :

http://www.4shared.com/document/c6wLCRvV/Serat_Sastramiruda__Jawa_.html

Pakem Pedalangan Lampahan Wayang Purwa Jilid 1

Dening  :  S. [ Samsudjin ] Probohardjono inggih KRT Mloyodipuro

Penerbit :  CV Ratna, Surakarta

Tanpa ciri tahu [ tetapi kata pengantar penulis berciri tahun 1989 ],  96 halaman,  aksara Latin, bahasa Jawa,  gambar wayang kulit purwa.

S.[ Samsudjin ] Probohardjono adalah mantan Pemimpin Redaksi Kalawarti “Padhalangan” , guru padhalangan HBS ( Himpunan Budaya Surakarta ) , Konservatori Karawitan SMKI Surakarta,  Pawiyatan Kabudayan Karaton Kasunanan Surakarta ,  Dosen Luar biasa “ Universitas Sebelas maret “ Fakultas Sastra Surakarta ,  ASKI ( Akademi Seni Karawitan Indonesia )  STSI Surakarta,  lan sanes-sanesipun.

Informasi tentang isi buku jilid 1 dan penyiapan pindaiannya ( dalam rangka kegiatan konservasi buku wayang yang sudah tidak terbit lagi ) terlaksana berkat peran serta Bpk Jaka Lodhang dari Tanahbaru, Bogor. Beliau mendapatkan buku ini di kios buku di belakang stadion Sriwedari, Surakarta. Admin mengucapkan banyak terima kasih atas peran serta Bpk Jaka Lodhang, dan mengharapkan peran serta kembali untuk buku-buku yang lain.

Pembaca bisa mengunduh gratis ‘ebook’ / pindaian buku ini di URL :

http://www.4shared.com/document/XZB6WqNe/Lmph_Wyng_Prw_Probohardjono_1.html

 

[ Setelah mengunduh yang jilid 1 pembaca bisa melihat dan mengunduh yang jilid 3 , silakan lihat di :   ]

Di dalam kata pengantar buku ini , tertanggal 01 Januari 1989 , penulis menjelaskan bahwa antara tahun 1956 ~ 1960 sudah pernah diterbitkan banyak sekali buku [ karya penulis ] berisi lakon wayang purwa yang diurutkan, jumlah semuanya lima jilid. Cetak ulang tiga kali dan habis semua.

Sekarang diterbitkan kembali dengan tambahan-tambahan berdasar tambahnya pengertian dan pengalaman penulis.

Buku ini memuat  15 lakon wayang yang semuanya merupakan lakon-lakon wayang khas ciptaan orang Jawa , yang orang Jawa biasanya menyebut lakon-lakon wayang sebelum lakon wayang era Lokapala. Menarik, karena lakon-lakon wayang ini tidak ada di dalam cerita wayang versi India – Mahabarata maupun Ramayana.

Daftar lakon wayang yang ada di jilid 1 ini sbb :

1.  Lampahan Manik Maya ( Jagad Gumelar )

( Sumber : Pakem kina kalarasaken kaliyan kawontenan sapunika. )

2.  Lampahan Lahiripun Bathara Kala.

( Sumber : Paramayoga )

3.  Lampahan Murwa Kala

( Pakem Ruwatan )

4.  Lampahan Lahiripun Bathara Gana

( Sumber : Paramayoga, Smaradahana )

5.  Lampahan Bathara Brama Krama

( Sumber : Padhalangan )

6.  Lampahan Bathara Wisnu Krama

( Sumber : Padhalangan )

7.  Lampahan Aruna Aruni

( Sumber : Mahabharata Pustakarajapurwa )

8.  Lampahan Makukuhan

( Sumber : Pustakarajapurwa.  Asring kangge ringgitan bresih dhusun )

9.  Lampahan Sengkan Turunan

( Sumber : Pustakarajapurwa )

10.  Lampahan Watugunung

( Sumber : Pustakarajapurwa )

11.  Lampahan Dewi Mumpuni Bambang Nagatatmala

( Sumber : Pustakarajapurwa )

12.  Lampahan Bremana Bremani

( Sumber : Pustakarajapurwa )

 13.  Lampahan Saptaharga

( Sumber : Pustakarajapurwa )

14.  Lampahan Lahiripun Gareng lan Petruk

( Sumber : Pustakarajapurwa, Padhalangan )

15.  Lampahan Satrukem (Sakutrem) Lahir

( Sumber : Pustakarajapurwa .  Asring kangge ringgitan bersih dhusun )

Semua lakon wayang tersebut menarik untuk dibaca. Bagi Admin yang paling menarik adalah tulisan tentang lakon Murwakala, karena tidak hanya menceritakan lakon Murwakala, tetapi juga menjelaskan tentang :

  1. Orang sukerta. Orang yang digolongkan [ oleh Bathara Guru ] boleh menjadi mangsa Bathara Kala. Ada dua golongan orang, yaitu yang karena keadaan terlahirnya dan orang yang menjadi sukerta karena akibat perbuatannya.
  2. Sajen-sajen yang disiapkan dalam menampilkan wayang kulit lakon Murwakala.
  3. Mantra-mantra yang diucapkan dalang ketika meruwat orang selama penampilan wayang kulit lakon Murwakala.

 

Untuk pengayaan info, pembaca disarankan melihat atau membaca buku-buku Ruwatan yang lain yang [ akan ] termuat dalam blog ini adalah :

Dalam persiapan.

 

Sindhunata, (ilustrator isi) Hajar Satoto ; ” Anak Bajang Menggiring Angin “ ; Jakarta ; Gramedia Pustaka Utama ; Februari 2007 = cetakan kedelapan ; 363 halaman ; ISBN 979686147X, 9789796861477 ; gambar wayang ; bahasa Indonesia.

Catatan cetakan :
Cetakan pertama = Oktober 1983 , cetakan keenam = Februari 2001 , cetakan ketujuh = Mei 2003 , cetakan kedelapan = Februari 2007.

Kisah dalam buku ini pernah dimuat sebagai serial Ramayana dalam harian Kompas, setiap hari Mingggu, selama tahun 1981. Dengan beberapa perbaikan dan tambahan, serial Ramayana ini diterbitkan dalam bentuk buku ini.

[ sisipan 06 Des 2009 ]

Anak bajang
menggiring angin
naik kuda sapi liar
ke padang bunga
menggembalakan kerbau raksasa
lidi jantan sebatang
disapukan ke jagad raya
dikurasnya samudra
dengan tempurung bocor
di tangan nya

dst …..

gelap pun gulita
dengan empat nafsu cahaya
anak bajang menyalakan dian
teja darpasura
bumi bergoncang
dahana menyala
jaladri pecah
prahara melimbah-limbah

dst …..

Catatan di sampul belakang :

Tak banyak karya sastra di Indonesia yang dicetak ulang beberapa kali seperti buku Anak Bajang Menggiring Angin ini. Banyak pembacanya mengaku telah menemukan pegangan yang menguatkan dan mencerahnkan hidupnya. Beberapa potongan kisahnya telah memberikan inspirasi bagi lahirnya sejumlah karya seni tari dan teater. Di banyak SMU, buku ini dipakai sebagai bahan pelajaran sastra.

Berangkat dari kisah Ramayana, buku ini telah menjadi karya sastra yang aktual untuk kehidupan masa kini. Dalam buku ini terkandung pelbagai khazanah kekayaan tentang cinta sejati, tentang pergulatan manusia menghadapi penderitaan, kesendirian, dan kesunyiannya, tentang kesia-siaan kekuasaan, dan tentang kemenangan autentisitas manusia di tengah segala kepalsuan hidup. Bagi sementara pengamat sastra, kisah buku ini merepresentasikan perlawanan mereka yang lemah dan tak berdaya menghadapi absurditas nasib dan kekuasaan.

Banyak pengamat mengatakan, kekuatan Anak Bajang Menggiring Angin ini terletak dalam bahasanya yang sangat indah, lebih-lebih dalam corak liriknya yang puitis dan ritmis. Perjalanan buku ini sendiri telah menjadikannya sebuah karya sastra yang klasik.

Penerbit
PT Gramedia Pustaka Utama,
Jl. Palmerah Barat 33 – 37, Lt 2 – 3,
Jakarta 10270

http://www.gramedia.com

[ akhir sisipan 06 Des 2009 ]

 

Pratinjau terbatas di Google Books :
http://books.google.co.id/books?id=3ezRW6H4tE0C&printsec=frontcover&dq=anak+bajang+menggiring+angin&lr=#v=onepage&q=&f=false

 

Buku Manikmaya terdiri dari tiga jilid. Buku ini menceritakan kisah sejak manusia pertama kali diturunkan ke dunia hingga Islam berkembang di Jawa. Didalamnya termasuk diceritakan lakon-lakon yang sering dijumpai didunia pewayangan.

Saya cuplikan awal dari buku, berupa pupuh dhandhanggula

Konon Mas Ngabei Ronggo di Penambangan yang mengepalai para abdi dalem Kadipaten Mangkunegaran Surakarta, telah berhasil menyusun kisah tentang kedatangan agama Islam di Pulau Jawa. Cerita ini dimulai dari Sis Yanas Nurcahyo, adalah keturunan Nabi Adam sampai dengan Sunan Giri.

Kisah yang disusunnya bersumber dari Kitab suci Al Qur’an, tentang tonasube (ilmu tasawuf). Cerita ini diuraikan dalam bentuk ijina’ dan kias, menunjukkan sifar : Maha Tunggal, Maha Pengasih dan Penyayang, Pemurah dan Pengampun Tuhan seru sekalian alam.

Cerita ini ditulis pada hari Sabtu Kliwon tanggal empat belas bulan Jumadilawal tahun Ehe, wuku Warigalit, dalam masa kelima, dalam jangka windu : Windu Adi. Diberi sasmito sandi Sirno Ening Sworo Tunggal (1740).

Kelanjutannya silahkan dibaca disini :

Serat Tripama
Sri Mangkunegara IV, dandanggula, Bambang Sumantri, Patih Suwanda, Kumbakarna, Suryaputera, Karna, keteladanan, bela tanah air.

[ diunggah pertama 08 Nop 2009 oleh Budi Adi Soewirjo di laman Facebook Wayang Purwa – Bukuhttp://www.facebook.com/pages/Wayang-Purwa-Buku/82972305747]

Di bulan Nopember, bangsa Indonesia mengenang kembali para pahlawan yang telah rela menyumbangkan jiwa raga nya demi membela tanah air. Kisah Kumbakarna di cerita wayang Ramayana ditafsirkan oleh para pujangga Jawa sebagai suatu laku bela tanah air. Sri Mangkunegara IV (1809 – 1881) di Surakarta menulis tembang Dandanggula tujuh bait berjudul ” Serat Tripama “ (Tiga Tamsil / Tiga Teladan) menceritakan kisah keteladanan Kumbakarna dan dua tokoh wayang lainnya ( Bambang Sumantri / Patih Suwanda dan Suryaputera / Karna ).

Dalam kaitan tembang Serat Tripama tersebut, Kamajaya di buku nya berjudul “ Tiga Seri Teladan – Kisah Kepahlawanan Tiga Tokoh Cerita Wayang “ menuliskan kisah, sifat, watak dan tekad tiga tokoh wayang tersebut. Juga menerjemahkan lirik tembang Tripama ke dalam bahasa Indonesia.

’Ebook’ Tiga Suri Teladan – Kamajaya.

Kamajaya ; “ Tiga Suri Teladan, Kisah Kepahlawanan Tiga Tokoh Cerita Wayang “ ; U.P. Indonesia ; Yogyakarta ; 1985 = cetakan ke 3 ; 89 halaman ; gambar wayang kulit, bahasa Indonesia.

‘Ebook’ nya bisa ditemui dan diunduh di internet pada alamat URL : Read the rest of this entry »


Blog Stats

  • 751,295 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 64 other followers

Halaman dilihat :