Pustaka Wayang

Posts Tagged ‘balai pustaka

’ebook’ wayang, cerita wayang, Mintaraga, Prijohoetomo, Balai Pustaka, 1937, 1953

[ diunggah pertama 27 Peb 2010 : Budi Adi Soewirjo di FB Wayang Purwa Buku ]

Data buku :

(ingkang anggantjaraken) Dr. M. Prijohoetomo ; Mintaraga Gantjaran ; Jakarta ; Balai Pustaka ; 1953 = cetakan ke dua ; 84 halaman ; bahasa Jawa ; gambar wayang purwa.

‘Ebook’ buku ini bisa diunduh di alamat URL :

http://www.4shared.com/document/1IoustzX/mintaraga_gantjaran_prijohoeto.html

Pindaian resolusi tinggi dari gambar-gambar wayang purwa yang ada di buku ini bisa diunduh di alamat URL : http://www.facebook.com/note.php?note_id=328633454020

[ akhir unggah 27 Peb 2010 ]

Buku Wayang ” Printjening Gambar Ringgit Wacucal ” (1933, 1953) karya RM Soelardi

diunggah pertama di :

http://www.facebook.com/note.php?note_id=319084064020

Sebuah buku yang menampilkan detail-detail gambar wayang purwa. Buku langka yang dipersiapkan oleh salah seorang “ penggambar “ wayang purwa legendaris ( selain Kasidi, Darmotjarito, Soehatmanto ). Sangat menarik untuk mengetahui gambar wayang purwa jaman 1920 ~ 1950 akhir.

Sayang penerbit Balai Pustaka tidak pernah menerbitkan lagi. Dari penelusuran Wayang Purwa Buku mencatat terbitan terakhir adalah tahun 1953.

Gambar-gambar dalam buku ini banyak “ mengilhami “ penggambar lain di buku-buku nya yang terbit pada tahun-tahun setelah itu.

RM Soelardi ; ” Printjening Gambar Ringgit Wacucal “ ; Jakarta ; Balai Pustaka – Kementerian P dan K ; 1953 ; 38 halaman ; bahasa Jawa ; gambar wayang.

 

‘Ebook’ nya bisa diunduh di alamat URL :

http://www.4shared.com/file/227058444/14cdbf3b/printjening_gambar_wayang_NEW.html

Cerita wayang Arjuna Wiwaha dikenal sebagai karya Empu Kanwa, yang hidup pada zaman Raja Airlangga ( 1019 ~ 1042 ). Sebuah karya sastra berbentuk kakawin ( tembang / semacam pantun ). Sanusi Pane tertarik untuk menerjemahkannya kedalam bahasa Indonesia dengan tetap mempertahankan bentuknya sebagai tembang / pantun.

Terjemahan tersebut diterbitkan oleh Dinas Penerbitan Balai Pustaka, Jakarta. Cetakan pertama diperkirakan terbit sebelum tahun 1940-an. Di bawah ini gambaran tentang buku itu yang didapat dari cetakan ke 3 tahun 1960 berbahasa Indonesia ejaan lama.  Judul buku nya : “ Mpu Kanwa. Ardjuna Wiwaha. Disalin dari bahasa Jawa Kuno oleh Sanusi Pane “.

 

Sanusi Pane menerjemahkan dari naskah yang diterbitkan oleh Dr. R. Ng. Purbatjaraka dalam “ Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlansch-Indie. Deel 82, 1926.

Di bagian depan, Sanusi Pane, menuliskan ringkasan cerita Arjuna Wiwaha. Disalin di sini tetap dengan ejaan lama :

Lakon Mintaraga.

(catatan : di Jawa lakon Arjuna Wiwaha disebut juga lakon Mintaraga)

Di Suralaja Sang Hijang Hendra berbitjara dengan puteranda Tjitragada, Tjitrasena dan Tjitrarata tentang antjaman Niwatakawatja, radja keradjaan raksasa Manimantaka.

Kepadanja sudah diberi bidadari Prabasini, akan tetapi ia belum senang, ia meminta Supraba.

Masuk Sang Hijang Narada membawa titah Sang Hijang Girinata kepada Sang Hijang Hendra untuk mentjobai Ardjuna jang bertapa di Hendrakila.

Sang Hijang Surapati menjuruh tudjuh orang bidadari : Supraba, Wilutama, Warsiki, Surendra, Gagarmajang, Tundjungbiru dan Lenglengmulat menggoda Ardjuna.

Kepada Tjitrasena diperintahkannja menahan serangan Niwatakawatja.

Ketudjuh bidadari itu sampai di Hendrakila dan bermatjam-matjam tjaranja menggoda Bagawan Tjipta Hening, jaitu Ardjuna sedang bertapa, akan tetapi tidak berhasil : begawan itu tetap imannja.

Mereka itu kembali ke Suralaja dan setelah Sang Hijang Hendra mendengar tjeritanja, batara itu sendiri pergi mentjoba Ardjuna dengan rupa pendeta.

Ia mengedjekkan Bagawan Tjipta Hening, karena bertapa pakai sendjata. Begwan itu menjawab, bahwa sendjata tidak mengalangi dia menunggalkan pikirannja.

Setelah itu pendita itu mengatakan, bahwa ia hendak mentjoba pengetahuan Bagawan Tjipta Hening dan ia bertanja dimana ketika itu Sang Hijang Hendra.

Ardjuna menjawab, bahwa Sang Hijang Hendra itu ialah resi itu sendiri.

Sang Hijang Hendra pun bertukar rupa kembali dan menasihatkan kepada Ardjuna meneruskan tapanja.

Niwatakawatja mendengar berita, bahwa Ardjuna sedang bertapa, hendak memperoleh kesaktian dan karena itu ia chawatir kemudian akan dikalahkan Ardjuna. Maka dititahkannja raksasa Mamangmurka membunuh begawan itu.

Mamangmurka berangkat dan setelah sampai di Hendrakila ia mulai merusakkan pertapaan Ardjuna.

Penakawan-penakawan Pendawa Semar, Petruk dan Gareng melihat itu lalu mengabarkannja kepada tuannja.

Ardjuna keluar dan menjumpah raksasa itu djadi babi hutan dan setelah itu dipanahnja, kena dan mati.

(Menurut anggapan lain, raksasa itu datang dalam bentuk babi).

Waktu hendak mencabut panahnja kembali, datang tiba-tiba seorang pemburu jang mengatakan, bahwa ialah jang menembakkan panah itu. Ardjuna menjangkalnja dan keduanja berkelahi.

Ardjuna melihat kesaktian lawannja dan tahulah ia, bahwa pemburu itu Sang Hijang Girinata. Ia sudjud menjembah dan Sang Hijang Girinata memperlihatkan rupanja jang sebenarnja, menganugerahkan panah Pasupati kepadanja.

Sang Hijang Girinata pulang ke Suralaja.

Dua orang bidadari Badjra dan Herawana datang mengundang Ardjuna menghadap Sang Hijang Hendra di Suralaja.

Setelah sampai dikajangan, Batara Hendra menghadiahkan istana Tedjamaja kepadanja dan memerintahkkannja membunuh Niwatakawatja.

Ardjuna berangkat bersam Supraba. Sesudah tiba di Manimantaka, Ardjuna bersembunji dalam subang bidadari itu. Niwatakawatja bersukatjita menjambut bidadari jang djelita itu. Supraba mengatakan kepadanja, bahwa ia suka djadi isterinja, asal ditjeritakannja rahasia kesaktiannja, tanda tjinta kepadanja.

Niwatakawatja, jang mabuk karena hawa nafsunja, membuka rahasianja : ia kebal seluruh tubuhnja, ketjuali dilangit-langit mulutnja.

Ardjuna lalu mendjelma dan menjerang radja raksasa itu. Perkelahian jang hebat terdjadi dan setelah beberapa lamanja berjuang itu, Ardjuna merobohkan dirinja seakan-akan mati.

Niwatakawatja tertawa sombong dan mengedjek-edjekkan lawannja. Ardjuna menungkup saat itu, lalu menembakkan panah Pasupati sekonjong-konjong, kena langit-langit mulut raksasa itu, sehingga ia mati.

Ardjuna dan Supraba kembali ke Suralaja menghadap Batara Hendra, jang bersukatjita sungguh, karena radja raksasa itu telah binasa.

Dihadiahkannja kepada pahlawan itu Supraba serta bidadari jang enam lagi dan diangkatnja pula djadi radja dengan gelar Kariti.

Demikianlah isi lakon Mintaraga dengan ringkas.

Bagaimana Ardjuna kembali kebumi, ke Ngamarta, ditjeritakan dalam lakon “ Parta Dewa “.

 

 

Kutipan dari Sarga IV :

(para bidadari menggoda Arjuna yang sedang bertapa)

  1.  

Banjak tjaranja hendak merusakkan tapa putera Pandu.

Matahari terbenam, diganti bulan.

Senang memandang rupa apsari.

Bertjaja terang, tetapi tiba-tiba bersembunji kedalam awan.

2.

Sebagai bidadari jang masuk gua, rindu kepada Sang Aria Parta.

Sebalik dari pada dapat menggoda, mereka mendam tjinta kasih.

Ada jang bernjanji menjatakan lara hatinja.

Seorang bersiul, mengetjapkan bibir, mendetak-detakkan djari kakinja.

…..

4.

Seorang mendekati Sang Aria.

Meraba-raba dan mentjubit-tjubit tangannja.

Berbagai-bagai mereka perbuat,

Menarik hati sang pertapa.

5.

Tapi Parta jang gagah perkasa tetap imannja.

Pantjaderianja tidak mengindahkan jang disukainja dulu.

Mendengar melihat djuga, tetapi tidak menjadi bimbang.

Tidak menodai kesutjiannja sebentar pun djua.

…..

Catatan tentang Bahasa Indonesia ejaan lama :

Chawatir = khawatir

Kesutjiannja = kesuciannya

Tji = ci

Nja = nya

Djari kakinja = jari kakinya

Menjanji = menyanyi

“Ebook” utuh Ardjuna Wiwaha terjemahan Sanusi Pane ini bisa di unduh di alamat :

http://www.4shared.com/file/142763701/22f3e765/Arjunawiwh_Sanusi_Pane_01_52.html

http://www.4shared.com/file/142764963/dee347c/Arjunawiwh_Sanusi_Pane_53_104.html

Sebuah epos cerita mahabarata yang diceritakan secara runtut oleh Karsono H. Saputra dengan judul “Genderang Perang di Padang Kurusetra”.

Cerita dimulai dari awal terbentuk dan berkembangnya sebuah negri yang bernama Hastina atau atau juga disebut Gajahoya, dimana tempat negri itu dulunya adalah sarang gajah.

Kemudian dikisahkan perseteruan antara Pandawa dan Kurawa yang telah dimulai sejak kecil hingga dewasa dan kelak kemudian puncaknya terjadi saat meledang perang saudara di padang Kurusetra.

Sebelum tahun 1950 an Ki Reditanaja menulis buku tuntunan pedalangan dengan lakon Kartawijoga dalam huruf dan bahasa Jawa. Tahun 1951 R. Hardjowirogo menerjemahkan buku itu ke dalam bahasa Indonesia diterbitkan oleh Balai Pustaka :

(Karangan) Ki Reditanaja, (disalin oleh) R. Hardjowirogo, “ Kartawijoga “, Jakarta : Balai Pustaka, 1951, 87 halaman, gambar wayang, bahasa Indonesia.

Bisa ditemui dan diunduh di internet dengan alamat URL : http://www.4shared.com/file/123969129/2f3cf240/Kartawijoga_Ki_Reditanaja.html

Ini buku yang cocok untuk peminat pedalangan yang kurang paham bahasa Jawa. Meskipun bahasa Indonesia buku ini agak aneh bagi pembaca di tahun 2000 an.

Tahun 1980 an S.Z.Hadisutjipto mengalih aksara kan buku Ki Reditanaja, tetap dalam bentuk buku tuntunan pedalangan yang susunannya persis sama dengan buku Pak Hardjowirogo.

(Miturut gotek karanganipun) Ki Reditanaya – abdi dalem dhalang ing Karaton Surakarta (alih aksara dan ringkasan) S.Z. Hadisutjipto, “ Kartawiyoga “. Jakarta : PN Balai Pustaka, 1983 = cetakan 1, 121 halaman, bahasa Indonesia untuk ringkasan buku di bagian depan dan tuntunan pedalangan dalam bahasa Jawa pedalangan di bagian seterusnya.

Ebook dapat ditemui dan diunduh di internet dengan alamat URL : http://www.4shared.com/file/135939926/d60a04bd/Kartawiyoga_-Hadisoetjipto_0143.html

http://www.4shared.com/file/135940342/4582716e/Kartawiyoga_-Hadisoetjipto_4486.html

http://www.4shared.com/file/135940665/ef1b44a4/Kartawiyoga_-Hadisoetjipto_87121.html

Jadi dua buku ini, tulisan Pak Hardjowirogo dan Hadisoetjipto, saling melengkapi bagi pembaca yang kurang paham bahasa Jawa.

Judul Buku Ensiklopedi Wayang Purwa
Pengarang R. Rio Sudibyoprono
Penerbit Balai Pustaka
Tahun 1991
Bahasa Bahasa Indonesia

Sekilas pratinjau Buku ini dapat ditemui di Google Book. Cukup banyak halaman yang ditampilkan untuk dapat dibaca pratinjaunya. Bagi yang belum bisa download pratinjau buku itu, saya coba downloadkan dan sudah saya jadikan dalam 2 file, minimal dapat memberikan gambaran keseluruhan tentang isi buku. Bagi yang berminat silahkan beli di toko buku atau secara online.

Sebagai referensi saya kutip penjelasan dari Pak Budi Adi S. di facebook.

Ensiklopedi Wayang Purwa karangan R. Rio Sudibyoprono.

(pertama diunggah 11 Juni 2009 : Budi Adi Soewirjo)

Saat ini di samping enam jilid Ensiklopedi Wayang terbitan Senawangi tahun 1999, ada satu ensiklopedi lain yang komplit yaitu :
(saya kutip dari buku “Kepustakaan Wayang Purwa (Jawa) karangan Budi Adi Soewirjo) :

Ensiklopedi Wayang Purwa. Didasarkan pada naskah “Biografi Wayang Purwa” oleh R. Rio Sudibyoprono, disusun kembali oleh : Drs. Suwandono, Dhanisworo BA, Mujiyono SH ; terbitan Balai Pustaka ( http://www.facebook.com/note.php?note_id=79390714020 )tahun 1991, ISBN 979-407-341-5.

Read the rest of this entry »

Judul Buku Ramayana
Pengarang Sunardi D. M.
Penerbit Balai Pustaka
Tahun 1992 (Cetakan keempat)
Bahasa Indonesia

Sunardi DM-Ramayana

Buku ini merupakan kelanjutan dari cerita Arjuna Sasrabahu.  Berdasarkan tulisan di Pendahuluan buku ini ditulis berdasarkan referensi-referensi :

  • Serat Padhalangan Ringgit Purwa jilid 36 (Jatuhnya Negri Ayodya, Perkawinan Dasarata, Lahirnya Dewi Sinta dan Anoman, Perkawinan Rama dan Sinta, Rama Gandrung, Prabu Rama, Pasanggrahan Maliawan, Anoman Duta, Rama Tambak, Anggada Duta dan Bukbis), dan jilid 37 (Trikaya Tewas, Trisirah Tewas, Kumbakarna Tewas, Megananda Tewas, Rahwana Tewa, Tambak Undur, Sinta Obong, Rama Nitik dan Rama Nitis).
  • Juga diramu dengan cerita-cerita silsilah yang terdapat dalam buku Arjuna Sasrabahu karangan Raden Ngabehi Sindusastra terbitan Balai Pustaka 1930, jilid 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 (lahirnya tokoh-tokoh Alengka, lahirnya kera anak dewa).
  • Sumber yang lain adalah adalah buku Serat Rama terbitan Van Dorp & Co Semarang dan Surabaya tahun 1911, dan buku almanak yang memuat cerita Ramawijaya terbitan Kolf Bunning Yogyakarta tahun 1922 (nama pengarang tidak disebutkan)

Ebooknya dapat diunduh disini


Blog Stats

  • 755,748 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 64 other followers

Halaman dilihat :