Pustaka Wayang

Posts Tagged ‘Depdikbud.

(Penulis) Soemardjono, Marsidah, Handung Kus Sudyarsana, Widjaja, (penyunting) Team Penyunting Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ; “ Tuntunan Seni Kethoprak “ ; diterbitkan oleh Proyek Pengembangan Kesenian DIY Depdikbud ; 1984 / 1985 (tertulis di daftar ralat) ; v + 126 halaman, gambar, photo ; bahasa Indonesia, naskah cerita dalam bahasa Jawa krama.

Kumpulan tulisan :

1. Soemardjono – Pengelolaan Lakon dan Penyutradaraan.
2. Marsidah B.Sc – Tata Rias, Tata Pakaian dan Tata Teknik Ketoprak.
3. Handung Kus Sudyarsana – Pengelolaan Organisasi Ketoprak.
4. Widjaja – Sekedar ungkapan tentang : Pencak Silat, Aneka Macam Senjata dan Gelar Perang dalam ketoprak. Daftar Aneka Macam Senjata, Daftar Nama-nama Senjata Pusaka, Daftar Macam Aji-aji atau Kesaktian, Aneka Macam Gelar Perang.

Di bagian akhir buku di tulis kan Naskah cerita ketoprak :
Ketoprak Mataram, lakon : Pangeran Haryo Timur.
Ketoprak Gedog, lakon : Bancak Nagih Janji.
Ketoprak Menak, lakon Widaninggar Gugur Seri Menak Jayengrana.

‘Ebook’ nya bisa ditemui dan diunduh di internet dengan alamat URL :
http://www.4shared.com/file/161475199/1435b18e/Tuntun_SnKethoprak_1.html
http://www.4shared.com/file/161475911/dc24e20c/Tuntun_SnKethoprak_2.html
http://www.4shared.com/file/161477101/61254a7e/Tuntun_SnKethoprak_3.html

Perpustakaan Rumah Budaya TEMBI jl. Parangtritis Yogyakarta menuliskan resensi tentang buku ini di laman mereka http://www.tembi.org . Di bawah ini kami kutipkan lengkap ( karena halaman tersebut tidak mempunyai alamat URL spesifik, jadi agak sulit untuk langsung menuju ke halaman tersebut ).

Ringkasan Isi :

Kethoprak adalah salah satu kesenian tradisional Jawa yang masih ada hingga sekarang dengan berbagai perkembangannya. Buku yang membahas tentang kethoprak ini sebenarnya merupakan kumpulan makalah terdiri dari : Pengelolaan Lakon dan Penyutradaraan oleh Soemardjono, Tata Rias, Tata Pakaian dan Tata Teknik Kethoprak oleh Marsidah, BSc., Pengelolaan Organisasi Kethoprak oleh Handung Kus Sudyarsana dan Sekedar Ungkapan tentang: Pencak Silat, Aneka Macam Senjata dan Gelar Perang dalam Kethoprak oleh Widjaja. Read the rest of this entry »

Soediro Satoto ; “ Wayang Kulit Purwa – Makna dan Struktur Dramatiknya “ ; diterbitkan oleh Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi) , Direktorat Jenderal Kebudayaan , Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ; Jakarta ; 1985 ; xv + 150 halaman ; bahasa Indonesia.

 

‘Ebook’ bisa ditemui dan diunduh di internet dengan alamat URL :
http://www.4shared.com/file/161459022/51c73722/WKP_Makna_Struktur_Soediro_1.html
http://www.4shared.com/file/161461178/4fb31271/WKP_Makna_Struktur_Soediro_2.html
http://www.4shared.com/file/161462824/26163e7e/WKP_Makna_Struktur_Soediro_3.html

Buku ini berdasarkan sebuah penelitian dengan judul asli penelitian : “ Struktur Lakon Bentuk Wayang Purwa : Fungsi dan Maknanya bagi Penghayatan dan Pemahaman Budaya Jawa, sebuah Pendekatan Semiotika “.

Abstrak (dikutip sebagian) :

Yang menjadi ruang lingkup penelitian ini ialah, “ Struktur Lakon Bentuk Wayang Purwa (Kulit) “, dengan lakon “ Banjaran Karna “ dan “ Karna Tanding “ oleh dalang Ki Nartosabdo.

Penelitian ini mempunyai tujuan utama, yang perumusannya adalah sebagai berikut :

1.
Untuk memperoleh gambaran struktur lakon bentuk wayang purwa (kulit), serta fungsi dan maknanya bagi pengungkap tema dan amanat, sarana penghayatan dan pemahaman budaya Jawa.

2.
Untuk memperoleh gambaran persamaan dan perbedaan struktur lakon bentuk wayang purwa (Kulit) ‘model’ (subjenis, ragam atau bentuk) “ Banjaran Karna “ dengan “ Karna Tanding “.

3.
Untuk memperoleh kemungkinan-kemungkinan struktur, garapan, gaya dan teknik penyajian lakon bentuk wayang purwa (kulit), dengan berbagai penyimpangannya, tanpa mengganggu atau merusak esensi atau eksistensi wayang purwa (kulit), dalam rangka upaya pelestarian budaya Jawa.

Dua sumber data utama, yang dijadikan obyek kajian dalam penelitian ini :

1.
Kaset rekaman wayang kulit lakon “ Banjaran Karna “, dalang Ki Nartosabdo, 8 buah kaset @ 60 menit, diterbitkan oleh Kusuma Recording.

2.
Kaset rekaman wayang kulit lakon “ Karna Tanding “, dalang Ki Nartosabdo, 8 buah kaset @ 60 menit, diterbitkan oleh Kusuma Recording

(Peneliti) Suhardi, Wisnu Subagya ; “ Arti dan Makna Tokoh Pewayangan Ramayana Dalam Pembentukan dan Pembinaan Watak ( Seri II ) “ ; diterbitkan oleh Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya , Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional , Direktorat Jenderal Kebudayaan , Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ; Jakarta ; 1996 ; 106 halaman ; bahasa Indonesia.

‘Ebook’ bisa ditemui dan diunduh di internet dengan alamat URL sebagai berikut :

http://www.4shared.com/file/161467185/93f12ddf/ArtiMakna_TkhWayang_Rmyn_II_1.html

http://www.4shared.com/file/161468299/d979feba/ArtiMakna_TkhWayang_Rmyn_II_2.html

http://www.4shared.com/file/161467960/730ba566/ArtiMakna_TkhWayang_Rmyn_II_3.html

Perpustakaan Rumah Budaya TEMBI di jl. Parangtritis Yogyakarta membuat resensi buku ini yang ditampilkan di situs mereka http://www.tembi.org . Di bawah ini kami tampilkan secara lengkap resensi tersebut.

Judul : Arti dan Makna Tokoh Pewayangan Ramayana dalam Pembentukan dan Pembinaan Watak

Penulis : Suhardi, Wisnu Subagyo

Penerbit : Depdikbud, 1996, Jakarta

Halaman: ix + 106

 

Ringkasan Isi :

Wayang adalah sebuah karya seni yang penuh simbol dan nilai-nilai filosofi tentang kehidupan manusia. Ia banyak menampilkan aspek-aspek dan problem-problem kehidupan manusia baik sebagai individu maupun warga masyarakat luas. Wayang mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang universal dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat pada jamannya. Karakter setiap tokoh pewayangan merupakan lambang dari berbagai pewatakan yang ada dalam kehidupan manusia. Misal watak baik, buruk, kesetiaan dan lain-lain.

Ada banyak tokoh dalam seri Ramayana. Karena berbagai keterbatasan tokoh yang dijadikan contoh terutama Dewi Shinta, Raden Gunawan Wibisana, Raden Subali, Raden Sugriwa dan Patih Prahasta.

Dewi Shinta adalah putri Prabu Janaka dari kerajaan Mantili. Ia menjadi istri Rama setelah melalui sayembara.

Raden Gunawan Wibisana adalah putra Dewi Sukesi dengan Resi Wisrawa. Ia terpaksa meninggalkan negara Alengka dan berpihak pada Rama karena tidak setuju dengan perbuatan kakaknya (Prabu Dasamuka raja Alengka) yang menculik Sinta.

Raden Subali dan Sugriwa adalah putra Resi Gotama dan Dewi Windradi. Semula mereka berwajah tampan dengan nama Raden Guwarsa dan Raden Guwarsi. Akibat perbuatannya sendiri (berebut sebuah cupu) mereka berubah wujud menjadi kera dan namanya pun ikut diganti.

Patih Prahasta adalah putra Prabu Sumali dengan Dewi Danuwati. Prahasta adalah adik Dewi Sukesi dan pada waktu Dasamuka mendi raja ia diangkat menjadi patihnya.

Kelima tokoh di atas memiliki karakter dan sifat-sifat tersendiri yang bisa diambil hikmahnya dalam kehidupan kita. Banyak nilai-nilai yang dapat diambil dan dipelajari.

 

Nilai kesetiaan.

Nilai kesetiaan pada Dewi Shinta sangat jelas. Dia rela menderita dengan ikut Rama hidup di hutan. Juga ketika dalam cengkeraman Raja Dasamuka yang ingin memperistrinya, ia tak bergeming sedikit pun walaupun diiming-imingi berbagai hal. Selain kesetiaan hal ini juga menunjukkan kesucian hatinya. Nilai kesetiaan juga diperlihatkan oleh Patih Prahasta yang rela mati (dalam perang melawan Rama). Ia rela mati bukan membela Dasamuka yang angkara murka, tetapi karena kesetiaan pada negaranya dan ketidakrelaannya melihat prajurit Alengka banyak yang mati atau menderita karena perang melawan pasukan Rama.

Nilai kepatuhan.

Kepatuhan memiliki nilai tinggi (dihargai dan dihormati) buat orang yang menjalankannya, karena menjadi tolok ukur tentang kehormatan, harga diri dan kepahlawanan seseorang. Dewi Shinta patuh ketika menerima nsehat ayahnya untuk mengadakan sayembara memilih suami. Raden Guwarsa dan Raden Guwarsi (Subali dan Sugriwa) mematuhi perintah ayahnya untuk bertapa memohon ampun pada Tuhan sebagai penebus perbuatannya.

Nilai kepemilikan.

Memiliki sesuatu itu (misal rumah, gelar, istri/suami) ada aturan atau undang-undangnya. Artinya siapapun yang memiliki sesuatu keberadaannya dilindungi undang-undang. Rama yang telah memiliki Shinta tidak dapat diganggu gugat. Shinta yang telah “dimiliki” Rama (sebagai suami) pun berusaha menjaga nilai kepemilikan tersebut. Prahasta yang merasa memiliki negara Alengka merelakan kematiannya karena membela negaranya. Ia mati demi harga dirinya dan harga diri negara, bukan membela Dasamuka yang angkara murka.

Nilai kearifan dan kebijaksanaan.

Arif berarti tahu membedakan dan memilih antara yang baik dan yang buruk. Bijaksana adalah sifat dan sikap yang dapat menempatkan suatu masalah pada proporsi yang benar menurut aturan yang berlaku. Karena itu rasa moral yang tinggi seharusnya melandasi semua pikiran dan tingkah laku pemimpin. Dasamuka adalah raja yang tidak arif dan bijaksana sehingga membawa kehancuran bagi rakyat dan negaranya. Wibisana adalah tokoh yang arif dan bijaksana serta luas pengetahuannya. Wibisana selalu menghargai pendapat orang lain baik penguasa maupun rakyat kecil, selalu dapat menimbang apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan.

Nilai ksatria.

Sifat satria adalah sifat yang selalu membela kebenaran, tidak takut menghadapi kesulitan serta bersedia mengakui kekurangan atau kesalahannya. Atas dasar hal tersebut Wibisana berani mengesampingkan nilai “berbakti” pada kakaknya. Ia dengan berani tidak henti-hentinya menasehati Dasamuka agar mengembalikan Shinta pada Rama, walaupun akibatnya ia diusir oleh kakaknya. Wibisana rela meninggalkan kemewahannya di Alengka sebagai konskuensi dari tindakannya. Hal ini juga mencerminkan sikap keteguhan hatinya.

Nilai pengendalian diri.

Pengendalian diri adalah sikap batin manusia dalam usaha mengontrol nafsu-nafsunya dan melepaaskan pamrihnya untuk mendapatkan keselarasan hidup. Sugriwa dan Subali adalah gambaran manusia yang kurang bisa mengendalikan diri. Sekalipun mengetahui ibunya telah menjadi tugu, mereka belum sadar akan perbuatannya dan tetap berebut sebuah cupu, penyebab malapetaka keluarga Resi Gotama.

Nilai ketekunan dan keuletan.

Ketekunan dan keuletan diartikan sebagai sikap tidak menyerah pada berbagai rintangan atau hambatan yang dihadapi demi mencapai cita-cita atau tujuan (terlepas dari baik atau buruk tujuan tersebut). Subali dan Sugriwa dengan sekuat tenaga berusaha memiliki cupu, juga dengan tekun dan ulet melaksanakan tapa yang berat sebagai penebus perbuatannya.

Nilai etika.

Berdasarkan etika seseorang harus dapat membedakan hal yang buruk dan baik, hal yang benar dan hal yang salah. Prahasta adalah gambaran orang yang bisa membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Ia penasehat Prabu Dasamuka sekalipun nasehatnya tidak pernah diperhatikan. Ia menghadapi “buah simalakama” tetapi tetap harus memilih. Akhirnya ia memilih menjadi senapati Alengka bukan karena membela Dasamuka tetapi membela negaranya.

Dari uraian di atas jelas terkandung nilai-nilai pendidikan, baik pendidikan yang mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia maupun manusia dengan lingkungan alam. Yang baik adalah manusia bisa menjaga keharmonisan hubungan tersebut.

I Made Purna, Sri Mintosih ; “ Arti dan Makna Tokoh Pewayangan Mahabarata dalam Pembentukan dan Pembinaan Watak (Seri I) “ ; penerbit Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ; Jakarta ; 1994 ; 94 halaman ; bahasa Indonesia.

Kami undang pembaca yang mempunyai buku ini untuk berbagi informasi tentang buku ini.


Blog Stats

  • 686,221 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 63 other followers

Halaman dilihat :