Pustaka Wayang

Posts Tagged ‘ebook wayang

‘Ebook’ Wanda Wayang Purwa Gaya Surakarta

Disusun bersama oleh para pengajar ASKI ( Akademi Seni Karawitan Indonesia ) Surakarta, nama-nama nya tertulis di dalam Kata Pendahuluan.

 

Diterbitkan oleh Sub / Bagian Proyek Akademi Seni Karawitan Indonesia, Proyek Pengembangan Institut Kesenian Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tahun 1978 / 1979.

 

 

Pindaian ini bisa terlaksana atas bantuan Eko Prasetyo dan Rudy Wiratama Partohardono dari Surakarta yang bisa mengusahakan foto copy dari buku ini. Pindai dilaksanakan di Jakarta tanggal 10 April 2011 oleh B A Soewirjo.

 

 

Kata Pendahuluan di buku tersebut :

 

Seperti telah kita ketahui, bahwa pakeliran ada juga menggunakan medium pokok “rupa”, selain medium pokok lainnya seperti gerak, suara dan bahasa. Kesemuanya itu saling mendukung keberhasilan sajian. Medium rupa dalam wayang mempunyai unsur tatahan, sunggingan dan wanda.

 

Di dalam pakeliran “wanda” sebagai salah satu unsur medium rupa, berperan penting untuk memantapkan “rasa” suatu tokoh. Kemantapan ini bisa dicapai karena ada kesesuaian antara suasana adegan dengan wanda tokoh yang digunakan, di samping juga unsur-unsur penting lainnya, yaitu penyuaraan, sanggit, sabet, sulukan dan lain sebagainya. Dengan demikian jelaslah bahwa ketetapan seorang seniman dalang memilih “wanda” mempunyai andil dalam keberhasilan sajian.

 

Untuk jelasnya di sini kami kemukakan contoh-contoh penggunaan “wanda” dari tokoh Baladewa :

          Pada adegan yang bersuasana netral “merdika” ( tidak ada “rasa” susah, marah dan sebagainya) digunakan Baladewa wanda “Paripeksa”.

          Dalam peperangan digunakan Baladewa wanda “Geger”.

          Untuk menghadiri suatu peralatan, Baladewa wanda “Jagong”.

          Dalam suasana marah, terkejut, wanda “Kaget” yang digunakan.

 

Dengan demikian jelas bahwa penggunaan wanda itu tergantung pada suasana yang ingin didukung. Tentunya penggunaan wanda seperti tersebut di atas adalah didasari oleh kebiasaan konvensionil dalang-dalang pada waktu terdahulu.

 

Dewasa ini jarang sama sekali seniman dalang memperhatikan masalah ini. Ini bisa kami amati pada survey pendahuluan, yaitu pengamatan terhadap sajian pakeliran, wawancara dengan dalang-dalang muda, adalah jarang memperhatikan masalah wanda tersebut. Salah satu sebab ialah kurangnya informasi tentang wanda.

 

Keadaan semacam ini perlu disesalkan, apalagi sampai saat ini belum ada sama sekali yang menulis tentang “Wanda Wayang”. Ditambah lagi adanya situasi yang mengkhawatirkan, yaitu makin menyusutnya seniman dalang yang tahu tentang “wanda”, karena usia mereka yang kebanyakan sudah lanjut, yaitu lebih dari 65 tahun.

 

Dengan pertimbangan tersebut maka kami juga memilih “wanda wayang” sebagai salah satu sasaran pendokumentasian. Karena terbatasnya dana, tenaga dan waktu, kami juga membatasi sasaran pada “wanda wayang purwa gaya Surakarta” yang terdapat di derah eks Karesidenan Surakarta.

 

Hasil pendokumentasian ini diharapkan bisa merupakan bahan penyusunan “Pengetahuan Wanda Wayang”, untuk melengkapi bahan perkuliahan di Akademi Seni Karawitan Indonesia, khususnya pada Jurusan Pedalangan. Lebih luasnya bagi para calon seniman dan seniman dalang, hasil ini diharapkan juga bisa memacu timbulnya kreativitas dalam sajian.

 

Daerah sasaran kami pilih yang tersebar, dan memiliki banyak dalang yang berpotensi. Informan kami pilih dalang-dalang tua yang mempunyai koleksi wayang lengkap, tahu tentang tatahan dan sunggingan wayang terutama tentang wanda. Setelah diadakan survey pendahuluan, kemudian ditentukan 15 informan yang tersebar di daerah Kabupaten Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Wonogiri, Boyolali dan Surakarta.

 

Di bawah ini kami kemukakan nama, umur dan alamat dalang informan

 

  1. 1.       Bapak Tiksnosudarso, 85 tahun, Jombor, Klaten  *) saat laporan ini dibuat beliau sudah meninggal dunia.
  2. 2.       Bapak Natacarita, 70 tahun, Ceper, Klaten.
  3. 3.       Bapak Mintadiyata, 70 tahun, Manisrenggo, Klaten.
  4. 4.       Bapak Nartosuwiryo, 65 tahun, Ngawangga, Klaten.
  5. 5.       Bapak Sarwodisono, 67 tahun, Manggisan, Klaten.
  6. 6.       Bapak Gondoijoyo, 68 tahun, Karangtalun, Klaten.
  7. 7.       Bapak Gondopandoyo, 85 tahun, Senden, Klaten.
  8. 8.       Bapak Sutino, 65 tahun, Eromoko, Wonogiri.
  9. 9.       Bapak J (cetakan tidak terbaca), 69 tahun, Kedungleri, Wonogiri.
  10. 10.   Bapak Sukarno, 64 tahun, Gombang, Boyolali.
  11. 11.   Bapak Gondowarongko, 63 tahun, Pengging, Boyolali.
  12. 12.   Bapak Gondopawiro, 67 tahun, Karangpandan, Karanganyar.
  13. 13.   Bapak Parnowiyoto, 69 tahun, Manyaran, Wonogiri.
  14. 14.   Bapak Naryocarito, 65 tahun, Kartosuro, Sukoharjo.
  15. 15.   Bapak Yosocarito, 69 tahun, Surakarta.

 

Dalam mengumpulkan data kami adakan wawancara berkisar pada :

Nama wanda, ciri-cirinya, perbedaan dengan wanda yang lain pada tokoh yang sama, penggunaannya di dalam pakeliran, siapa penatah dan penyunggingnya, kapan dibuat, tiruan dari mana, siapa pembuat wandanya dan sebagainya.

 

Selain itu juga diadakan pemotretan untuk tokoh wayang yang sudah mempunyai nama wanda, secara ututh dan bagian-bagian yang menunjukkan ciri khususnya, karena ada sebagian yang belum mempunyai wanda.

 

Wanda wayang adalah merupakan kesatuan unsur-unsur yang terdiri antara lain :

  • ·         Tunduk tengadahnya muka (praupan) wayang,
  • ·         Ukuran dan bentuk sanggul,
  • ·         Ukuran dan bentuk mata,
  • ·         Keadaan badan, yaitu ukuran dan posisinya,
  • ·         Ukuran dan tancap dari leher,
  • ·         Datar dan tidaknya dan panjang dan pendeknya bahu,
  • ·         Bentuk dari perut,
  • ·         Busana yang dipakai,
  • ·         Posisi kaki,
  • ·         Sunggingan.

 

Setiap satu tokoh wayang bisa mempunyai lebih dari satu wanda. Misalnya tokoh Baladewa, mempunyai wanda : Geger, Paripekso, Kaget, Jagong dan sebagainya, yang masing-masing wanda bisa menimbulkan kesan dan penggunaan yang berbeda, walau tokohnya sama.

 

Dari keterangan yang dikumpulkan, sulit untuk diketahui kapan masing-masing wanda dibuat dan siapa pembuatnya. Keterangan yang ada masih simpang siur, sukar untuk bisa dipertanggung jawabkan. Sehingga kami hanya mengutarakan nama wanda, ciri-ciri dan penggunaannya.

 

Laporan kami susun berdasarkan abjad dari nama tokoh wayang dan demikian pula nama wandanya. Dengan menyantumkan ciri-ciri wanda dan penggunaannya.

 

Pada akhirnya tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada para seniman dalang yang telah memberik informasi tentang wanda, dan kepada siapa saja yang telah membantu kami dalam pendokumentasian ini.

 

Team dokumentasi :

  1. 1.       Dr. Soetarno, penganalisa merangkap pembuat laporan.
  2. 2.       R. Sutrisno, penganalisa, pengumpul data merangkap juru potret.
  3. 3.       Bambang Murtiyoso DS., penganalisa.
  4. 4.       Bambang Suwarno, penganalisa.
  5. 5.       Sri Joko Raharjo, pengumpul data.
  6. 6.       Sarwanto, pengumpul data merangkap juru potret.
  7. 7.       Sudarko, pengumpul data.
  8. 8.       Catur Tulus, pengumpul data merangkap juru potret.
  9. 9.       Sukardi Sm., pengumpul data.
  10. 10.   Sumanto, penganalisa merangkap pembuat laporan.
  11. 11.   Rahayu Supanggah, penganalisa merangkap penanggung jawab.

 

Akhir dari Kata Pendahuluan.

 

Setelah Kata Pengantar ada daftar arti kata-kata istilah, misalkan untuk kata-kata yang mulai dengan huruf L :

Lancap                  =  muka menengadah.

Longok                 =  muka agak menengadah ( Lebih tunduk dari lancap ).

Luruh magak      =  muka agak menunduk.

Luruh                    =  muka menunduk.

Lanyap                  =  muka yang tengadah seperti melihat kejauhan.

Lencir                    =  badan tinggi kecil.

…. dan seterusnya

 

 

Contoh uraian tokoh dan salah satu wandanya :

 

Samba wanda Bontit.

Ciri-ciri :

Mata                     –  bedahan brebes nyamar

Raut muka          –  kelihatan tersenyum

Leher                    –  longok

Pundak                 –  lurus

Badan                   –  agak besar

Langkah kaki      –  lebar (njonjong)

Busana                                 –  sumping bunga kluwih, jamang dua, sanggul kecil, gruda mendukung sanggul, pantat besar.

 

Gunanya              : kalau Samba sebagai utusan, atau mencuri.

 

 

 

Sayangnya buku ini dicetak secara teknik stencil ( jaman tersebut ini teknik yang paling memungkinkan untuk menekan dana ) sehingga lampiran foto-foto buku ini tidak tercetak jelas, akibatnya makin tidak jelas ketika difoto copy / dipindai.

 

‘Ebook’ buku ini – tanpa lampiran foto-foto nya – dapat diunduh di URL :

http://www.4shared.com/document/9bienUfB/Wanda_Wyng_Surakarta_ASKI.html

 

 

Daftar nama tokoh dan wandanya yang diuraikan dalam buku ini :

 

Abimanyu wanda Bontit, Banjet, Brebes, Jayeng gati, Kanyut, Malatsih, Mangu, Mriwis, Panji, Rangkung, Bulus.

Anoman wanda Bambang, Barat, Manuko, Prambanan (Reco, Bambang).

Aswatama wanda Merong.

 

Bagong wanda Gembor, Ngrengkel, Sembada, Gilut, Jembar

Baladewa wanda Bantheng, Geger, Jagong, Kaget, Jago, Sembada, Sepuh.

Bambangan wanda Maya, Miling, Padasih.

Banuwati wanda Berok, Golek,

Bilung wanda Giti.

Bima wanda Bambang, Bedhil, Bugis, Gendhu, Gurnat, Jagong, Jagor, Kedhu, Ketug, Lindhu, Lindhu Panon, Lindhu Bambang, Lintang (Luntang), Panon, Mimis, Thathit.

Bratasena wanda Angkawijaya, Babad,Lindhu Bambang, ? (biasa), Bocah, Bondhan, Gurnat, Jaka, Lindhu Panon, Pecah Bungkus, Putran, Sembada.

Burisrawa wanda Canthuk.

Boma wanda Encik, Sumilih, Wingit/Sutijo.

 

Cakil wanda Bathang, Kikik, Panji, Gunung Sari.

Cangik wanda Cangik, Mangir.

 

Darmakusuma wanda Dhanyang, Demit, Deres, Dukun, Jimat, Panuksma, Puthut, Rangkung.

Denawa Nom wanda Barong, Blebar, Jaka, Kopek.

Denawa Raton wanda Bagus, Barong, Begog, Endog, Jaka, Macan, Mendhung, Wewe.l

Durga wanda Belis, Gedrug, Gidrah, Murgan, Surak, Wewe.

Dursasana wanda Gambyong, Golek, Canthuk.

Durmagati wanda Poncol.

Duryudana wanda Jaka, Janggleng, Jangkung, Rangkung.

 

Gareng wanda Prekul, Wregul, Gembor, Gembor Alit, Gondok, Kancil, Gulon, Wewe.

Gathutkaca wanda Gandrung/Gembleng, Gelap, Jaka, Guntur, Kilat, Sampluk, Pideksa, Thathit.

Guru wanda Karno, Rama, Reca/Arca.

 

Hudawa wanda Jaka, Jaran, Lapak, Lare, Tandang.

 

Indrajit wanda Setan.

 

Jayajatra wanda Bantheng.

Janaka wanda Bronjong, Gendreh, Janggleng, Jimat, Kadung, Kanyut, Kedhu, Kinanthi, Lintang, Malat, Malatsih, Mangu, Mangungkung, Muntap.

 

Kongso wanda Bogis, Belis.

Karno wanda Bedru, Geblag, Lonthang, Rangkung.

Kakrasana wanda Bantheng, Jagong, Sembada, Jaladara, Kilat, Slebrak.

Kartamarma wanda Bukuh, Merang.

Kayon wanda Jaler, Estri/Wedok.

Kenyawandu wanda Surak.

Kresna wanda Banjet, Botoh, Bontit, Surak, Gendreh, Jagong, Jangkung, Lendeh, Mangu atau Rondhon Sore, Mawur, Rondhon, Wedok.

Kumbakarno wanda Begog, Jaka, Wewe.

Kurupati wanda Sembada, Jangkung, Rangkung.

 

Limbuk wanda Gendroh, Bethem.

 

Nakula wanda Genes.

Narada wanda Reca.

Narayana wanda Bocah, Geblag, Widarakandang, Jaka, Srengat, Sembada.

 

Parekan wanda Rintik, Runtut.

Petruk wanda Genjong, Bagus, Cangak, Bujang, Sambel Goreng, Jamblang, Moblong, Jlegong, Boging.

Prabawa wanda Drigul, Bundhel.

Pragota wanda Poncol, Bundhel.

Permadi wanda Kadung, Jangkung, Rangkung, Jaka, Mriwis, Jayus, Mesem/Kinanthi, Pecel, Pengawe, Pengarih, Pengasih, Temanten.

Puntadewa wanda Jaka, Kinanthi, Lare, Malatsih, Miling, Putut.

 

Rara Ireng wanda Lentreng.

Rahwana wanda Begal, Belis, Bengis, Bogis, Gambyong, Klana.

 

Samba wanda Banjet, Bontit, Geblag, Gunung Sari, Lindur, Rengat, Layar, Sembada.

Semar wanda Brebes, Mega, Dhunuk, Dhukun, Glegek, Paled, Jenggel, Mesem, Mendhung, Jenggleng, Wedhon, Demit.

Sembadra wanda Banjet, Lanceng, Lentreng, Rangkung.

Setyaki wanda Akiki, Mimis, Wisuna

Srikandhi wanda Cemuris, Cemuris Nem, Nglanangi, Patrem

Siti Sundari wanda Gandes.

 

Togog wanda Barong, Gropak.

 

‘Ebook’ lain tentang (boneka pipih) wayang kulit yang sudah pernah disajikan Wayang Pustaka :

 

‘Ebook’ ‘ Pitakonan Lan Wangsulan Bab Wanda Wayang Kulit Purwa ‘ oleh R. Sutrisno (tahun 1964) di URL :

https://wayangpustaka.wordpress.com/2009/12/05/pitakonan-lan-wangsulan-bab-wanda-wajang-purwa-r-sutrisno/

 

‘Ebook’ ‘ Bab Natah Lan Nyungging Ringgit Wacucal ‘ oleh Sukir (tahun 1930an, 1980) di URL :

https://wayangpustaka.wordpress.com/2009/11/10/bab-natah-sarta-nyungging-ringgit-wacucal/

 

‘Ebook’ ‘ Princening Gambar Ringgit Wacucal ‘ oleh RM Soelardi (tahun 1933, 1953) di URL :

https://wayangpustaka.wordpress.com/2010/03/05/ebook-wayang-printjening-gambar-ringgit-wacucal-1933-1953-karya-rm-soelardi/

Advertisements

S.P. Adhikara; ‘ Nawaruci ‘ ; Penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) ; Bandung ; 1984 ( cetakan ke 1 ) ; 97 halaman ; bergambar wayang.

 

Pengantar Admin Wayangpustaka :

 

Ada tiga buku karya S.P. Adhikara mengenai cerita Bima mencari air suci atas perintah Pendita Durna. Yang pertama terbit berjudul ‘ Dewaruci ‘ berisi terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia atas Serat Bimasuci karya pujangga Jawa bernama Jasadipoera I pada tahun 1793. Kemudian yang kedua terbit adalah judul ‘ Unio Mystica Bima ‘ berisi analisis Serat Bimasuci tersebut. Yang ketiga adalah judul ‘ Nawaruci ‘ berisi terjemahan bebas ( dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia ) cerita Nawaruci yang aslinya karya Empu Syiwamurti dari Bali pada tahun antara 1500 ~ 1613. Dr. Prijohoetomo yang menerjemahkan dari bahasa Kawi ke bahasa Belanda dalam disertasinya tahun 1934. Ketiga buku tersebut diterbitkan oleh Penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) antara tahun 1983 ~ 1984 ( dari tanda tahun di Prakata S.P. Adhikara )

 

Namun, selain tiga buku terbitan Penerbit ITB tersebut, ternyata S.P. Adhikara mengarang satu buku lagi berjudul ‘ Analisis Serat Bimasuci ‘ , sekali lagi S.P. Adhikara menganalisa Serat Bimasuci. Buku ini diterbitkan oleh ‘ Institut Indonesia ‘ di Yogyakarta pada tahun 1986. Sinopsis ini pernah dibawakan sebagai makalah pada pertemuan di Lembaga Javanologi, Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Panunggalan, Yogyakarta pada tanggal 24 Oktober 1986.

 

Siapakah S.P. Adhikara ? Tidak ada data atau keterangan mengenai beliau di keempat buku karya beliau tersebut di atas.

 

Secara bertahap Admin Wayangpustaka akan menyajikan keempat buku tersebut.Kali ini Admin menyajikan judul ‘ Nawaruci ‘ dengan alasan bahwa cerita Nawaruci dari Bali ini muncul lebih dahulu dibanding cerita Bimasuci dari Jawa. Nanti pembaca bisa membaca tulisan tentang persamaan dan perbedaan cerita Nawaruci dan Bimasuci di bukunya berjudul ‘ Unio Mystica Bima ‘ .

 

 

 

Prakata buku Nawaruci karangan S P Adhikara :

 

Cerita Nawaruci yang kami tulis dalam buku ini merupakan terjemahan utuh naskah cerita Nawaruci tulisan Empu Syiwamurti yang terdapat dalam disertasi Prijohoetomo. Pada tahun 1934, Prijohoetomo – almarhum Profesor Dr. Prijohoetomo, guru besar Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada – berhasil mendapat gelar doktor dalam bidang sastra dan filsafat di Rijksuniversiteit di Utrecht negeri Belanda. Adapun judul disertasinya : Nawaruci, sedang sub-judulnya, setelah kami terjemahkan, ialah ‘ Pengantar. Terjemahan Teks – Prosa Jawa – Tengahan. Dibandingkan dengan Bimasuci dalam Metrum Jawa Kuna. ‘

 

Naskah asli cerita Nawaruci masih ditulis tangan di atas daun lontar, dalam bahasa dan huruf Kawi dan dalam keadaan menyedihkan sejak lontar-lontar tersebut diperoleh. Banyak halaman yang hilang, tulisan yang tidak terbaca lagi, dan halaman-halaman yang rusak dimakan ngengat. Meskipun demikian dari beberapa naskah yang ada, Prijohoetomo telah berhasil menyusun kembali naskah cerita Nawaruci dan mengalihtuliskan (transkripsi) ke dalam huruf Latin dan menterjemahkan naskah ini ke dalam bahasa Belanda.

 

Terjemahan cerita Nawaruci ke dalam bahasa Indonesia ini kami lakukan seharfiah mungkin. Istilah-istilah Kawi sejauh mungkin kami pertahankan dan kami tuliskan arti istilah-istilah tersebut, sesuai dengan yang terdapat dalam kamus Kawi. Pada umumnya Empu Syiwamurti sudah memberikan arti istilah Kawi yang nampaknya tidak umum dipakai, misalnya pancanhaka, dwi-dasyawarsa, murcha, syona kanaka warsa, dan lain sebagainya, tetapi untuk istilah natadewata, caturlokapala, panca-resi, jnana, jnana nirmala, siddha-purusa, dan sebagainya, tidak diberi penjelasan lebih lanjut, sehingga terpaksa kami carikan artinya dalam kamus Kawi. Dengan demikian kami berusaha agar terjemahan cerita ini seolah-olah tulisan Empu Syiwamurti sendiri, dalam bahasa Indonesia, pada tahun 1500 – 1613.

 

Cerita Nawaruci digubah sebagai scenario atau lakon untuk pagelaran wayang kulit, jadi dapat dibagi menjadi babak-babak dan adegan-adegan. Prijohoetomo membagi certita tersebut menjadi delapan bab atau babak dan menurut pengamatan kami, terdapat tidak kurang dari empat puluh adegan. Kalau tiap-tiap adegan memerlukan waktu sepuluh sampai lima belas menit, maka pagelaran wayang kulit dengan lakon Nawaruci cukup padat untuk dimainkan semalam suntuk. Itulah sebabnya cerita Nawaruci ini ditutup dengan penggambaran suasana pagi hari menjelang matahari terbit. Dua adegan terakhir yang menggambarkan pesta untuk menyambut kedatangan kembali Bima dan penampilan Kunti bersama Dropadi yang telah selesai bersolek dan nampak cantik seperti puteri-puteri wayang itu, dapat diperagakan berturut-turut sebagai tari kemenangan Bima atau ‘ tayungan ‘ dan menarikan wayang golek terbuat dari kayu menggambarkan Dropadi. Dalam bahasa Jawa golek mempunyai dua arti, yaitu anak-anakan yang terbuat dari kayu atau dapat berarti ‘ mencari ‘. Maka dalang yang pada akhir pertunjukan wayang kulit menarikan wayang golek tersebut dapat diartikan ‘ Carilah ( golekana, bahasa Jawa ) inti sari cerita yang dipertunjukkan semalam suntuk tadi ‘.

 

Mencari inti sari suatu cerita itu adalah kata-kata lain untuk menganalisis cerita itu. Analisis cerita Nawaruci kami sertakan sebagai lampiran buku ini, mengingat tulisan ini ditujukan kepada putera-puteri bangsa Indonesia, yang kurang atau tidak mengerti bahasa Jawa, agar mereka dapat menikmati cerita klasik Indonesia berasal dari daerah Jawa – Bali.

 

Tulisan Empu Syiwamurti tersebut diawali dengan sebuah puji doa : ‘ Awighnam astu namas siddham ‘ ; artinya : ‘ Semoga tiada rintangan segala puji telah sempurna dipanjatkan ‘, dan ditutup dengan sebuah kolofon, yaitu catatan dari penulis cerita atau dari yang menulis ulang cerita serta tanggal selesai menulis cerita dan tempat menulis menulis ceritanya dan ditutup dengan doa puji. Akan tetapi sayang tahun selesainya mengutip atau menulis ceritanya tidak jelas, sebab hanya dinyatakan dengan dua angka. Menurut hasil penelitian Prijohoetomo cerita Nawaruci itu ditulis antara 1500 – 1613.

 

Cerita Bimasuci yang ditulis oleh pujangga Jasadipoera I berbentuk puisi dalam bahasa Jawa Baru dan dalam metrum macapat pada tahun 1793, dan dalam metrum Jawa kuna pada tahun 1803 A.D. , merupakan saduran bebas cerita Nawaruci. Maksud pujangga Jasadipoera I menulis cerita Bimasuci berbentuk puisi dalam metrum macapat itu agar supaya cerita itu dapat mudah diingat karena dapat dinyanyikan, khususnya inti sari cerita tersebut. Cerita Bimasuci ini sudah kami terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan kami beri judul Dewaruci agar seragam dengan judul terjemahan cerita Nawaruci ini, dan diterbitkan oleh penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) juga.

 

Dua karya klasik Indonesia berasal dari Jawa – Bali tersebut mempunyai keindahan masing-masing dan dalam menterjemahkan kedua karya sastra tersebut kami berusaha untuk tidak merusak keindahan yang ada dalam tulisan itu.

 

Desember 1984

S.P. Adhikara.

 

 

 

 

Kolofon (asli) di naskah Nawaruci :

 

Demikianlah Ilmu Kebenaran Tanpa Cacat ( Tattwajnyana nirmala ), ditulis oleh Mpu Syiwamurti.

 

Selesai menulis Sang Hyang Tattwajnyana nirmala pada tahu Syaka 55, bulan Syrawana, tanggal 14, Hari Sabtu, wuku Wugu. Ditulis di kota Klungkung ( Swecchapura ), di tepi sungai, sebelah timur jalan. Maafkan kalau tulisan ini jelek serta segala kekurangannya, mengingat pekerjaan ini adalah dari seorang yang bodoh dan hanya sedikit memiliki inlu, yang didorong oleh keinginan turut menulis, yang bernama Jemuharsa.

 

Om Saraswatyai namah

Om gemung Ganapataye namah

Om Syri-Gurubhyo namah

 

Terjemahan :

Om, hormat dan puji kepada Saraswati

Om gemung, hormat dan puji kepada Ganapati

Om, hormat dan puji kepada Guru-guru, yang terhormat.

 

 

 

Pindaian / ‘ebook’ buku ini bisa diunduh dalam dua file di URL :

http://www.4shared.com/document/tIjSLJaX/Adhikara_Nawaruci_0147.html

http://www.4shared.com/document/pT0s9jkx/Adhikara_Nawaruci_4897.html

 

 

Salam dari Admin.

 

‘Ebook’ Buku Tuntunan Pedalangan Wayang Kulit Purwa Jawa .

 

Serat Sastramiruda .

 

 

Bagi peminat pedalangan wayang kulit purwa Jawa membaca buku tuntunan pedalangan merupakan suatu keasyikan tersendiri , sekalian menambah pengetahuan tentang wayang purwa.

 

Ada satu buku lama yang dianggap lengkap menguraikan pengetahuan mendalang sekaligus menguraikan hal lain berkaitan dengan wayang. Buku tersebut berjudul “ Serat Sastramiruda “. Kapan tepatnya buku tersebut pertama kali terbit tidak diketahui , menilik dari nama yang disebut dalam buku tersebut , diperkirakan buku tersebut pertama kali terbit pada kisaran tahun 1863 ~ 1893 Masehi.

 

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam rangka Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah pada tahun 1981 pernah mengalih aksarakan (oleh Sudibjo Z. Hadisutjipto) dan mengalihbahasakan (oleh Kamajaya) buku ini. Terbitan ini oleh Departemen P dan K disebarkan secara gratis, beserta buku-buku lain dalam proyek yang sama , ke perpustakaan-perpustakaan Departemen P & K di daerah maupun di sekolah-sekolah.

 

P Kamajaya ( nama lengkapnya adalah almarhum Karkono Kamajaya , seorang budayawan di Yogyakarta yang aktif menggali kembali falsafah dan budaya Jawa ) sebagai pengalih bahasa menuliskan keterangan singkat mengenai buku tersebut sbb :

 

 

Serat Sastramiruda dan alih bahasa nya .

 

“ Serat Sastramiruda “ adalah sebuah karya sastra Jawa berhuruf Jawa dalam bentuk wawancara antara guru ahli Pedalangan Wayang Purwa dan muridnya. Sang Guru ialah Kanjeng Pangeran Arya Kusumadilaga , dan muridnya , Mas Sastramiruda. Nama murid ini diambil menjadi judul bukunya.

 

Tidak ada angka tahun penulisan kitab tersebut, namun dapat diketahui, bahwa KPA Kusumadilaga hidup di jaman Sri Susuhunan Paku Buwana IX yang bertakhta dari tahun 1863 hingga 1893 M. Di antara tahun-tahun itulah kiranya kitab ini ditulis. Siapakah pengarang atau penyusunanya tidak diperoleh kepastian, apakah KPA Kusumadilaga, apakah Mas Sastramiruda. Hanya pada bagian muka dari Serat Sastramiruda terdapat keterangan bahwa :  “ Semua cara-cara menjalankan tugas mendalang dijelaskan dengan lengkap. Cerita itu kemudian disampaikan kepada Raden Mas Panji Kusumawardaya, kerabat keraton di Negeri Surakarta “ .

 

Apakah lalu dapat diartikan, bahwa yang menyusun Serat Sastramiruda ini RMP Kusumawardaya, walloh’alam.

 

“ Serat Sastramiruda “ carik (tulisan tangan) terdapat antata lain di Perpustakaan Radyapustaka, Surakarta. Pada tahun 1930 telah terbit yang tercetak dengan huruf Jawa, dijadikan 2 jilid, tetapi jilid keduanya belum pernah kami ketahui ( mungkin tidak terbit ). Penerbitnya : Uitgeverij en Boekhandel Stoomdrukkerij De Bliksem, Sala.

 

Isi “ Serat sastrawiruda “ diterangkan dalam anak-judul buku yang tercetak, yakni :

 

“ Ugering Padhalangan ingkang sampun mupakat kangge abdi dalem Dhalang di karaton Surakarta Adiningrat “. Artinya “ Pedoman Pedalangan yang telah dibenarkan untuk hamba Dalang di keraton Surakarta Adiningrat “.

 

 

Sebenarnya isi kitab itu lebih dari “pedoman pedalangan”, bahkan memuat pula Sejarah Wayang Purwa dan lain sebagainya. Maka keterangan yang lebih terperinci terdapat pada sampul belakang kitab yang sudah tercetak, yang artinya sebagai berikut :

 

“ Menceritakan asal mula adanya gambar Wayang Purwa dan permulaannya menjadi gambar Wayang Beber, Gedog, Krucil, Golek, Klithik, Wayang Orang dan Topeng, dengan urutan para penciptanya di jaman kuna sampai keadaan Wayang Kulit di keraton Surakarta. Dan dijelaskan ketika para Jawata (Dewa) mencipta bunyi-bunyian yang dinamakan Lokananta yang selanjutnya digubah menjadi gamelan Salendro. Lalu ada bunyi-bunyian (mengiringi) perang disebut Mardangga. Dan adanya gamelan Monggang, Kodok-ngorek, Galaganjur, Cara Balen, Pelog, Sakaten dan Sarunen. Juga adanya tari Badaya, Sarimpi, Wireng, Lawung, Dadap dan sebagainya. Pula tentang alat-alat dalang mewayang (mendalang), dan jenis-jenis gending, dengan Suluk Greget-saut (gaya siaga) nya. Diuraikan pula tentang cara memilih niyaga (pemukul gamelan) yang memang perlu menjadi teman bertugas ki dalang, hingga caranya mendalang. Semuanya diterangkan di dalam Serat ini “.

 

 

Kecuali memuat hal-hal yang terperinci di atas, kitab ini pun memuat Pedoman mendalang satu lakon penuh, yaitu lakon “ Palasara Kawin” atau disebut pula “Lahirnya Abiyasa”.

 

 

“Serat Sastramiruda” yang demikian luas isinya itulah yang sekarang disajikan alihbahasa Indonesianya. Mengingat banyaknya istila-istilah dalam pewayangan dan pedalangan, serta bahasa yang khas pedalangan, maka pengalihbahasaan ini menjumpai kesulitan-kesulitan. Istilah-istilah dan bahasa-khas itu tidak mudah, bahkan seringkali tidak mungkin diterjemahkan. Jalan keluarnya ialah diberikan penjelasan secara singkat agar para pembaca dapat memahaminya dengan seksama. Penjelasan itu diberikan di belakang kata-kata. Istilah masing-masing maupun berupa catatan kaki.

 

 

Atas bantuan mas Pranowo Budi Sulistyo – pengasuh laman wayang http://wayangprabu.com – yang mempunyai buku tersebut , telah memindai buku tersebut sehingga kita bisa mengunduh gratis ‘ebook’ buku tersebut.

 

File ‘ebook’ nya dibagi menjadi tiga file :

Bagi pembaca yang mengerti bahasa Jawa, mungkin mengunduh file yang bahasa Jawa saja sudah memadai untuk belajar.

 

Bagian pertama dari yang berbahasa Indonesia :

http://www.4shared.com/document/aqzzxOc-/Serat_Sastramiruda__Bhs_Indo_p.html

 

Bagian kedua dari yang berbahasa Indonesia :

http://www.4shared.com/document/w_Z44IAM/Serat_Sastramiruda__Bhs_Indo_p.html

 

Yang berbahasa Jawa ( satu file ) :

http://www.4shared.com/document/c6wLCRvV/Serat_Sastramiruda__Jawa_.html

Wijanarko ; “ Selayang Pandang Wayang Menak  – Salah Satu Bentuk Seni Tradisionil Yang Wajib Kita Lestarikan “ ; penerbit Amigo ; Sala / Surakarta ; tanpa cirri tahun [ kata pengantar penulis tertanggal 18 Oktober 1991 ] ; 84 halaman ; aksara Latin ; bahasa Indonesia, gambar wayang menak.

 

Buku tentang Wayang Menak – wayang yang ceritanya bertema epos kepahlawanan bernapaskan agama Islam – ini ditulis oleh Wijanarko , seorang penulis yang telah banyak menulis buku-buku lain tentang wayang ( tidak hanya tentang cerita wayang ). Sayang sekali bahwa buku-buku nya sudah tidak diterbitkan lagi.

 

 

 

Buku ini menguraikan asal-usulnya cerita-cerita yang dipakai di Wayang Menak.

 

Halaman 10 :

Sumber cerita untuk Wayang Menak, baik itu Wayang Kulit Menak, Wayang Golek Menak, serta tari ( sendratari ) Golek Menak maupun Wayang Orang Menak Gaya Yogyakarta bersumber dari buku “Serat Menak”

 

“Serat Menak” semula berasal / bersumber dari kitab “Qissai Emr Hamza” yaitu sebuah karya sastra Persia, pada jaman pemerintahan Sultan Harun Al Rasyid (766 ~ 809).

 

Di daerah Melayu kitab sastra tersebut lebih terkenal dengan nama “Hikayat Amir Hamzah”. Berdasar hikayat itu yang kemudian dipadukan dengan cerita Panji dan digubah ke dalam bahasa Jawa, akhirnya lahir cerita-cerita Menak yang terkenal dengan sebutan “Serat Menak”.

 

Dalam cerita ini, nama-nama tokohnya disesuaikan dengan nama Jawa antara lain : Omar bin Omayya menjadi Umarmaya, Qobat Shehriar menjadi Kobat Sarehas, Badi’ul Zaman menjadi Iman Suwangsa, Mihrnigar menjadi Dewi Retna Muninggar, Qoraishi menjadi Dewi Kuraisin, Unekir menjadi Dewi Andaninggar, dan lain-lain.

 

 

 

Dari sumber-sumber tersebut pujangga Jawa menceritakan kembali dalam bentuk tembang-tembang Jawa sehingga terbentuk “Serat Menak”. Banyak versi cerita menak sehingga bisa terjadi perbedaan alur cerita satu sama lain.

 

 

Tahun 1925 Bale Poestaka di Batavia ( Jakarta ) pernah menerbitkan “Serat Menak” dengan huruf Jawa sebanyak 24 episode. ( Sedangkan Pandan Guritno di dalam tulisannya di majalah Gatra menyebutkan ada 27 episode cerita menak. )

 

[ Sayang sekali, buku-buku seperti ini tidak pernah ada yang menerbitkan kembali sehingga generasi-generasi muda tidak mendapat kesempatan untuk membaca ( apalagi belajar ) tentang wayang menak. ]

 

 

 

Selanjutnya buku ini menguraikan pengenalan Wayang Kulit Menak, Wayang Golek Menak, Wayang Orang Menak serta fragmen tarian lepas wayang menak.

 

Berikutnya adalah contoh-contoh tembang Jawa dari ‘Serat Menak” yang menceritakan episode-episode dalam cerita wayang menak.

 

Diikuti kumpulan nama-nama peraga wayang menak dan ciri-ciri boneka wayang kulit atau boneka wayang golek menak dari peraga yang bersangkutan.

 

Di bagian awal buku, penulis mengidentifikasikan kendala-kendala mengapa pewarisan wayang menak ke generasi muda tidak cukup lancar sehingga bisa terjadi kepunahan wayang menak. Di bagian akhir buku, penulis memberikan pendapatnya mengenai usaha-usaha pelestarian wayang menak.

 

 

Dengan tujuan non-komersial / nirlaba ikut serta meng-konservasi buku-buku wayang yang sudah tidak terbit lagi serta memungkinkan masyarakat ( terutama generasi muda ) membaca karya-karya tulis tentang wayang oleh para pendahulu , Bapak Jaka Lodhang dari Tanahbaru Bogor berperan serta meluangkan waktu dan tenaga untuk me-mindah media rekam  buku tersebut menjadi format PDF , yang pembaca bisa unduh gratis di alamat URL ini :

http://www.4shared.com/document/5bhevV5T/Wayang_Menak_-_Wijanarko.html

 

 

Laman Wayangpustaka mengucapkan banyak terima kasih atas peran serta Bapak Jaka Lodhang dalam kegiatan konservasi buku-buku wayang yang sudah tidak terbit lagi. Admin yakin peran serta ini sangat bermanfaat bagi komunitas wayang terutama generasi muda nya.

 

Admin menunggu peran serta berikut nya dan juga peran serta dari pembaca lain , untuk kita persembahkan ke komunitas wayang.

Pakem Pedalangan Lampahan Wayang Purwa Jilid 1

Dening  :  S. [ Samsudjin ] Probohardjono inggih KRT Mloyodipuro

Penerbit :  CV Ratna, Surakarta

Tanpa ciri tahu [ tetapi kata pengantar penulis berciri tahun 1989 ],  96 halaman,  aksara Latin, bahasa Jawa,  gambar wayang kulit purwa.

S.[ Samsudjin ] Probohardjono adalah mantan Pemimpin Redaksi Kalawarti “Padhalangan” , guru padhalangan HBS ( Himpunan Budaya Surakarta ) , Konservatori Karawitan SMKI Surakarta,  Pawiyatan Kabudayan Karaton Kasunanan Surakarta ,  Dosen Luar biasa “ Universitas Sebelas maret “ Fakultas Sastra Surakarta ,  ASKI ( Akademi Seni Karawitan Indonesia )  STSI Surakarta,  lan sanes-sanesipun.

Informasi tentang isi buku jilid 1 dan penyiapan pindaiannya ( dalam rangka kegiatan konservasi buku wayang yang sudah tidak terbit lagi ) terlaksana berkat peran serta Bpk Jaka Lodhang dari Tanahbaru, Bogor. Beliau mendapatkan buku ini di kios buku di belakang stadion Sriwedari, Surakarta. Admin mengucapkan banyak terima kasih atas peran serta Bpk Jaka Lodhang, dan mengharapkan peran serta kembali untuk buku-buku yang lain.

Pembaca bisa mengunduh gratis ‘ebook’ / pindaian buku ini di URL :

http://www.4shared.com/document/XZB6WqNe/Lmph_Wyng_Prw_Probohardjono_1.html

 

[ Setelah mengunduh yang jilid 1 pembaca bisa melihat dan mengunduh yang jilid 3 , silakan lihat di :   ]

Di dalam kata pengantar buku ini , tertanggal 01 Januari 1989 , penulis menjelaskan bahwa antara tahun 1956 ~ 1960 sudah pernah diterbitkan banyak sekali buku [ karya penulis ] berisi lakon wayang purwa yang diurutkan, jumlah semuanya lima jilid. Cetak ulang tiga kali dan habis semua.

Sekarang diterbitkan kembali dengan tambahan-tambahan berdasar tambahnya pengertian dan pengalaman penulis.

Buku ini memuat  15 lakon wayang yang semuanya merupakan lakon-lakon wayang khas ciptaan orang Jawa , yang orang Jawa biasanya menyebut lakon-lakon wayang sebelum lakon wayang era Lokapala. Menarik, karena lakon-lakon wayang ini tidak ada di dalam cerita wayang versi India – Mahabarata maupun Ramayana.

Daftar lakon wayang yang ada di jilid 1 ini sbb :

1.  Lampahan Manik Maya ( Jagad Gumelar )

( Sumber : Pakem kina kalarasaken kaliyan kawontenan sapunika. )

2.  Lampahan Lahiripun Bathara Kala.

( Sumber : Paramayoga )

3.  Lampahan Murwa Kala

( Pakem Ruwatan )

4.  Lampahan Lahiripun Bathara Gana

( Sumber : Paramayoga, Smaradahana )

5.  Lampahan Bathara Brama Krama

( Sumber : Padhalangan )

6.  Lampahan Bathara Wisnu Krama

( Sumber : Padhalangan )

7.  Lampahan Aruna Aruni

( Sumber : Mahabharata Pustakarajapurwa )

8.  Lampahan Makukuhan

( Sumber : Pustakarajapurwa.  Asring kangge ringgitan bresih dhusun )

9.  Lampahan Sengkan Turunan

( Sumber : Pustakarajapurwa )

10.  Lampahan Watugunung

( Sumber : Pustakarajapurwa )

11.  Lampahan Dewi Mumpuni Bambang Nagatatmala

( Sumber : Pustakarajapurwa )

12.  Lampahan Bremana Bremani

( Sumber : Pustakarajapurwa )

 13.  Lampahan Saptaharga

( Sumber : Pustakarajapurwa )

14.  Lampahan Lahiripun Gareng lan Petruk

( Sumber : Pustakarajapurwa, Padhalangan )

15.  Lampahan Satrukem (Sakutrem) Lahir

( Sumber : Pustakarajapurwa .  Asring kangge ringgitan bersih dhusun )

Semua lakon wayang tersebut menarik untuk dibaca. Bagi Admin yang paling menarik adalah tulisan tentang lakon Murwakala, karena tidak hanya menceritakan lakon Murwakala, tetapi juga menjelaskan tentang :

  1. Orang sukerta. Orang yang digolongkan [ oleh Bathara Guru ] boleh menjadi mangsa Bathara Kala. Ada dua golongan orang, yaitu yang karena keadaan terlahirnya dan orang yang menjadi sukerta karena akibat perbuatannya.
  2. Sajen-sajen yang disiapkan dalam menampilkan wayang kulit lakon Murwakala.
  3. Mantra-mantra yang diucapkan dalang ketika meruwat orang selama penampilan wayang kulit lakon Murwakala.

 

Untuk pengayaan info, pembaca disarankan melihat atau membaca buku-buku Ruwatan yang lain yang [ akan ] termuat dalam blog ini adalah :

Dalam persiapan.

’ebook’ wayang, cerita wayang, Mintaraga, Prijohoetomo, Balai Pustaka, 1937, 1953

[ diunggah pertama 27 Peb 2010 : Budi Adi Soewirjo di FB Wayang Purwa Buku ]

Data buku :

(ingkang anggantjaraken) Dr. M. Prijohoetomo ; Mintaraga Gantjaran ; Jakarta ; Balai Pustaka ; 1953 = cetakan ke dua ; 84 halaman ; bahasa Jawa ; gambar wayang purwa.

‘Ebook’ buku ini bisa diunduh di alamat URL :

http://www.4shared.com/document/1IoustzX/mintaraga_gantjaran_prijohoeto.html

Pindaian resolusi tinggi dari gambar-gambar wayang purwa yang ada di buku ini bisa diunduh di alamat URL : http://www.facebook.com/note.php?note_id=328633454020

[ akhir unggah 27 Peb 2010 ]

Buku Wayang ” Printjening Gambar Ringgit Wacucal ” (1933, 1953) karya RM Soelardi

diunggah pertama di :

http://www.facebook.com/note.php?note_id=319084064020

Sebuah buku yang menampilkan detail-detail gambar wayang purwa. Buku langka yang dipersiapkan oleh salah seorang “ penggambar “ wayang purwa legendaris ( selain Kasidi, Darmotjarito, Soehatmanto ). Sangat menarik untuk mengetahui gambar wayang purwa jaman 1920 ~ 1950 akhir.

Sayang penerbit Balai Pustaka tidak pernah menerbitkan lagi. Dari penelusuran Wayang Purwa Buku mencatat terbitan terakhir adalah tahun 1953.

Gambar-gambar dalam buku ini banyak “ mengilhami “ penggambar lain di buku-buku nya yang terbit pada tahun-tahun setelah itu.

RM Soelardi ; ” Printjening Gambar Ringgit Wacucal “ ; Jakarta ; Balai Pustaka – Kementerian P dan K ; 1953 ; 38 halaman ; bahasa Jawa ; gambar wayang.

 

‘Ebook’ nya bisa diunduh di alamat URL :

http://www.4shared.com/file/227058444/14cdbf3b/printjening_gambar_wayang_NEW.html


Blog Stats

  • 616,914 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 59 other followers

Halaman dilihat :