Pustaka Wayang

Posts Tagged ‘Kanisius

buku cerita wayang bergambar warna berbahasa Inggris, Pandu Dewabata’s Sin, Herjaka Hs, Lani Setyandari, Kanisius, Yogyakarta, King Pandu Dewanata, Vice Regent Tri Gantalpati, Yamawidura, Arjuna, Gajah Seno, Abiyasa, Vice Regent Gandamana, Resi Kimindama, Puntadewa, Prita, Madrim, Saptarengga, King Tremboko, Hyang Widi Wasa, Destarastra.

 

  

Data buku serial ke 4 :

Herjaka Hs, [penerjemah] Lani Setyandari ;  “ Pandu Dewanata’s Sin “  ;  Yogyakarta  ;  Kanisius  ;  2005 = cetakan pertama  ;  ISBN  9792111336, 9789792111330  ;  bahasa Inggris  ;  cerita wayang bergambar warna.

 

 

Synopsis :

The eldest son of Abiyasa was blind so the throne of Astinapura was handed over to the second son. During his goverment, Pandu was assisted by Vice Regent Trio Gantalpati. The Vice Regent position was obtained by Tri Gantalpati by deceived Vice Regent Gandamana.

The future of Astinapura was unclear for Pandu because he had not got any children yet. To chase away his loneliness Pandu and his two wives went hunting to the jungle. At that time he got a curse from a powerful resi. At last Pandu got five sons by “ Pameling Charm “ owned by Dewi Prita, his wife. The god’s curse came true, Pandu Dewanata and Madrim passed away. Furthermore the future of Astinapura would be determined by these five sons from the two wives.

 

.

Anda bisa melihat beberapa halaman buku ini di pratinjau terbatas di situs Google Books :
http://books.google.co.id/books?id=9ABsdeDPneYC&printsec=frontcover

Di situs Google Books, buku ini tercatat di URL :
http://books.google.co.id/books?id=9ABsdeDPneYC

—– 

Alamat penerbit Kanisius. 

Biodata penulis / penggambar Herjaka Hs.

Buku cerita wayang bergambar berbahasa Inggris, Gendari’s Grudge, Herjaka Hs, Kanisius, Yogyakarta, 2005, Pandu, Mandura, Setyawati, Destarastra, Ambika, Ambalika, Gendari, Begawan Druwasa, Prita, Madrim, Pameling Charm, Bandondari, Candra Birawa Charm, Bathara Surya, King Basukunti, Tri Gantalpati.

.

 

Data buku :

Herjaka Hs  ;  “ Gendari’s Grudge “  ;  Yogyakarta  ; Kanisius  ;  2005 = cetakan pertama  ;  ISBN 9792111328, 9789792111323 ;  bahasa Inggris  ;  cerita wayang bergambar.

 

Abiyasa had three sons. All of them were handicapped but hat got superiority. The eldest son named Destarastra was blind but very powerful. The second son was Pandu Dewanata who hat got deformed neck but was good at archery. His blood was white therefore he would be free from any evil things. The third son named Yamawidura was lame but good at state structure.

After being mature, Pandu Dewanata joined a competition which was already won by Prince Narasoma. He could shoot a bird as what had done by Prince Narasoma. Therefore he was entitled to marry Prita. Prince Narasoma challenged Pandu to fight a duel. The fight was won by Pandu. So Madrim, Prince Narasoma’s younger sister, was entrusted to Pandu.

Halfway home Pandu was challenged by Tri Gantalpati who was defeated successfully. So Tri Gantalpati entrusted his elder sister, Gendari, to Pandu.

Pandu loved his elder brother so much then he invited Destarastra to choose one princess. The selected princess didn’t love Destarastra so it was neither proud nor happiness which grew in the heart of that Putri Boyongan, but grudge. The grudge would be brought along the history of her descendants.

———- 

Anda bisa melihat beberapa halaman buku ini di pratinjau terbatas di situs Google Books :
http://books.google.co.id/books?id=Aj03_VW-nDkC&printsec=frontcover#PPT5,M1 

Di situs Google Books, buku ini tercatat di URL :
http://books.google.co.id/books?id=Aj03_VW-nDkC

—– 

Alamat penerbit Kanisius

Biodata penulis Herjaka Hs.

Buku cerita wayang bergambar, Dendam Dewi Gendari, Herjaka Hs, Kanisius, Yogyakarta, Dewi Madrim kerajaan Mandura, Dewabrata, Dewi Ambika, Dewi Setyawati, Destarastra, Begawan Druwasa, Dewi Gendari, Aji Pameling, Dewi Bandondari, Prabu Basukunti, Tri Gantalpati, Bathara Surya, Aji Candra Birawa.

.

Buku serial ke 3 dari penulis Herjaka Hs :

.

Herjaka Hs  ;  “ Dendam Dewi Gendari “  ;  Yogyakarta  ;  Kanisius  ; 2005 = cetakan pertama  ; ISBN 9796728990, 9789796728992  ;  bahasa Indonesia  ;  cerita wayang bergambar.

.

Sinopsis :

Abiyasa mempunyai tiga orang putra. Ketiganya tak ada yang sempurna, namun mereka mempunyai keunggulan. Anak pertama bernama Destarastra, ia buta namun sangat sakti. Anak kedua Pandu Dewanata, ia cacat leher namun pandai memanah. Ia berdarah putih sehingga terhindar dari segala serangan jahat. Anak ketiga Yamawidura, kakinya panjang sebelah namun ia menguasai ilmu ketatanegaraan.

Setelah dewasa, Pandu Dewanata mengikuti sayembara yang sebelumnya telah dimenangkan oleh Raden Narasoma. Ia berhasil memanah burung seperti yang dilakukan oleh Raden Narasoma. Dengan demikian, ia berhak memboyong Dewi Prita. Raden Narasoma menantang Pandu untuk perang tanding. Pertarungan dimenangkan oleh Pandu, maka Dewi Madrim, adik Raden Narasoma diserahkan kepada Pandu.

Di tengah perjalanan pulang Pandu ditantang oleh Trigantalpati dan berhasil dikalahkan. Maka, Trigantalpati menyerahkan kakaknya, Dewi Gendari, kepada Pandu.

Pandu sangat mencintai kakaknya, maka ia mempersilakan Destarastra memilih satu putri. Putri yang dipilih ternyata tidak mencintai Destarastra sehingga bukan kebanggan dan kebahagiaan yang tumbuh dalam hati putri boyongan itu, tetapi dendam. Dendam itulah yang akan terus dibawa dalam sejarah keturunannya.

.

—– 

Anda bisa melihat beberapa halaman buku ini di pratinjau terbatas di situs Google Books :
http://books.google.co.id/books?id=J7bYj1_FH0kC&pg=PT31&dq=mahabarata&lr=&as_brr=3&as_pt=BOOKS#PPT26,M1

Di situs Google Books, buku ini tercatat di :
http://books.google.co.id/books?id=J7bYj1_FH0kC

—– 

Alamat penerbit Kanisius

Biodata penulis / penggambar Herjaka Hs.

buku cerita wayang bergambar berbahasa Inggris, Grace for Dewabrata, Herjaka Hs, Kanisius, Yogyakarta, 2005, Ganggawati, Kasi, Amba, Begawan Palasara, Sang Hyang Narada, eight wasu, Astinapura kingdom, Talkanda land, Gangga river, King Sentanu, Setyawati, Sang Hyang Yama.

Data buku :

Herjaka Hs  ;  “ Grace for Dewabrata “  ;  Yogyakarta  ; Kanisius  ;  2005 = cetakan pertama  ;  ISBN 979211131X, 9789792111316  ;  bahasa Inggris  ;  cerita wayang bergambar.

Dewabrata lived as a hermit in Talkanda. During the leadership of Citragada the luxury decreased and people became not prosperous. Even rebellion take place. During the battle against the rebells, King Citragada passed away. Then the throne of Astinapura was held by Wicitrawirya, Citragada’s brother, but it also didn’t persist for a long time. Wicitrawirya passed away because of his illness.

After both of her sons passed away, Setyawati asked Dewabrata to ascend the throne. Dewabrata held on firmly his oath. The throne that had been handed over wouldn’t taken anymore. Then the throne of Astinapura was handed over to Abiyasa, the son of Setyawati with her former husband, Hermit Palasara. Abiyasa was the only hope of Setyawati’s expectation would be granted.

.

 

Anda bisa melihat beberapa halaman buku ini di pratinjau terbatas di situs Google Books :
http://books.google.co.id/books?id=j_o-Ddj2wFsC&printsec=frontcover

Di situs Google Books, buku ini tercatat di URL :
http://books.google.co.id/books?id=j_o-Ddj2wFsC

Anugerah Dewabrata oleh Herjaka Hs

Buku cerita wayang bergambar, Anugerah Dewabrata, Herjaka Hs, Kanisius, Yogyakarta, 2005, sungai Gangga, Dewi Amba, Dewi Setyawati, Prabu Sentanu, Begawan Palasara, kerajaan Astinapura, Dewi Ganggawati, Sang Hyang Narada, pertapaan Talkanda, Mahabarata.

Data buku :

Herjaka Hs  ;  “ Anugerah Dewabrata “  ;  Yogyakarta  ;  Kanisius  ; 2005 = cetakan pertama  ;
ISBN 9796728982, 9789796728985  ;  bahasa Indonesia  ;  cerita wayang bergambar.

.

Tampuk pemerintahan kerajaan Astinapura dipegang oleh Citragada, keturunan Dewi Setyawati. Sementara itu, Dewabrata hidup sebagai pertapa di Talkanda. Dalam pemerintahan Citragada kemakmuran surut dan rakyat menjadi tidak sejahtera. Bahkan, terjadi pemberontakan. Dalam pertempuran melawan pemberontak itu Raja Citragada meninggal. Takhta Astinapura kemudian dipegang Wicitrawirya, adiknya, tetapi juga tidak berlangsung lama. Wicitrawirya meninggal karena sakit.

Setelah kedua putranya meninggal, Setyawati meminta Dewabrata untuk naik takhta. Dewabrata tetap memegang teguh janjinya. Takhta yang sudah diserahkan tak akan diambilnya lagi. Takhta Astinapura kemudian diserahkan kepada Abiyasa, putra Setyawati dengan suami terdahulu, Begawan Palasara. Abiyasa lah satu-satunya harapan akan terkabulnya cita-cita Setyawati.

Anda bisa melihat beberapa halaman buku ini di pratinjau terbatas di situs Google Books : http://books.google.co.id/books?id=quZUGX_qQXEC&pg=PT35&dq=mahabarata&lr=&as_brr=3&as_pt=BOOKS#PPP1,M1

Di situs Google Books, buku ini tercatat di URL :
http://books.google.co.id/books?id=quZUGX_qQXEC

Alamat Penerbit Kanisius,
Jl. Cempaka 9, Deresan, Yogyakarta 55281
Kotak Pos 1125/Yk, Yogyakarta 55011
Tel (0274) 588783, 565996 ; Fax (0274) 563349
Website : http://www.kanisiusmedia.com
E-mail : office@kanisiusmedia.com

 

Mahabarata, merupakan kisah wayang yang sudah berakar di Indonesia. Bagi generasi tua kisah ini sudah tertanam sedemikian dalam, tetapi bagi generasi muda kisah ini perlu diperkenalkan dan diangkat agar menjadi cermin dalam kehidupan. Berbagai pengalaman hidup, ketekunan, kesetiaan, keberanian, perjuangan, harapan, cinta, pengorbanan, keputusasaan, kekejaman, intrik, ambisi, tragedi, yang merupakan bagian dari kehidupam manusia, kehidupan kita, termaktub dalam kisah Mahabarata ini. Dari kisah ini kita bisa bercermin dan belajar tentang kehidupan.

Kisah Mahabarata ini disajikan dalam lima buku cerita bersambung, dengan ilustrasi lukisan wayang yang menarik. Buku diterbitkan dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris agar pembaca dapat memilih buku yang dapat memberi manfaat paling banyak.

—–

buku cerita wayang bergambar, Mahabarata, Kesetiaan Dewabrata, Herjaka Hs, Kanisius, Yogyakarta, 2005, kerajaan Kasi, Dewi Ambika, Ganggawati, Prabu Salwa, Dewi Ambalika, Begawan Ramaparasu, raksasa Arimuka, raksasa Wahmuka, Begawan Palasara, kerajaan Astinapura.

Episode Kesetiaan Dewabrata :

Data buku :

Herjaka Hs  ;  “ Kesetiaan Dewabrata “  ;  Yogyakarta  ;  Kanisius  ; 2005 = cetakan pertama  ; ISBN 9796728974, 9789796728978  ;  bahasa Indonesia  ;  cerita wayang bergambar.

.

 

Sinopsis :

Setelah ditinggalkan istri tercintanya, Prabu Sentanu raja Astinapura ingin menikah lagi. Dewi Setyawati bersedia asalkan keturunannya yang mewarisi takhta kerajaan Astinapura. Demi cintanya kepada ayahnya, Dewabrata rela menyerahkan hak atas takhta kepada keturunan Dewi Setyawati.

Sebagai jaminan, Dewabrata berjanji untuk hidup wadat (tidak menikah) agar keturunan Dewi Setyawati yang mewarisi takhta Astinapura.

Kesetiaan Dewabrata pada janjinya ternyata mendapat ujian berat justru dari gurunya sendiri, yang mengharapkan Dewabrata mempersunting Dewi Amba. Konflik guru murid tak terhindarkan dan kekalahan ada di pihak sang guru. Dewi Amba sangat terpukul karena kekalahan guru Dewabrata yang menjadi tumpuan harapan terakhir untuk dapat mengangkat keterpurukan harga dirinya.

Anda bisa melihat beberapa halaman buku ini di pratinjau terbatas di situs Google Books :
http://books.google.co.id/books?id=BdmFymn33AwC&pg=PT31&dq=mahabarata&lr=&as_brr=3&as_pt=BOOKS

Di situs Google Books, buku ini tercatat di URL :
http://books.google.co.id/books?id=BdmFymn33AwC

Alamat Penerbit Kanisius,
Jl. Cempaka 9, Deresan, Yogyakarta 55281
Kotak Pos 1125/Yk, Yogyakarta 55011
Tel (0274) 588783, 565996 ; Fax (0274) 563349
Website : http://www.kanisiusmedia.com
E-mail : office@kanisiusmedia.com

Kamus Bahasa Jawa.

Bagi penggemar serius wayang Jawa, mau tak mau harus mempelajari susastra Jawa atau paling tidak bahasa Jawa dengan lebih seksama, karena pakeliran wayang kulit purwa Jawa memakai bahasa Jawa krama atau bahkan kata-kata yang sudah jarang dipakai di pergaulan bahasa Jawa sekarang.

Berikut ini beberapa info tentang Kamus Bahasa Jawa.

 

A.
Pembaca bisa ‘ melongok ‘ di Google Books, disana penerbit Kanisius – Yogyakarta mengijinkan Google memuat sebagian halaman buku Kamus Basa Jawa terbitan Kanisius untuk bisa di baca / di ‘ cicipi ‘ pembaca.

Judul buku : Kamus Basa Jawa (Bausastra Jawa).

Tim Penyusun : Balai Bahasa Yogyakarta

Penerbit : Kanisius – Yogyakarta ; http://www.kanisiusmedia.com/
Jl. Cempaka 9, Deresan, Yogyakarta 55281
Kotakpos 1125/Yk, Yogyakarta 55011
Tel (0274) 588783, 565996 ; Fax (0274) 563349
Website : http://www.kanisiusmedia.com
Email : office@kanisiusmedia.com

Pratinjau terbatas di Google Books :
http://books.google.co.id/books?id=l55NzTsukywC&printsec=frontcover&dq=kamus+basa+jawa&lr=&cd=1#v=onepage&q=&f=false

 

B.
Kamus Bahasa Jawa yang tersimpan di Perpustakaan Rumah Budaya Tembi, Jl. Parangtritis, Yogyakarta yang kami kutip lengkap dari laman http://www.tembi.org .

KAMUS-KAMUS BAHASA JAWA

Bahasa Jawa termasuk salah satu bahasa daerah di Indonesia yang sampai sekarang masih hidup dan terus digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakatnya. Seperti bahasa-bahasa daerah lainnya, bahasa Jawa juga mempunyai sejarah perkembangan bahasa yang sangat panjang. Sebelum kita mengenal bentuk bahasa Jawa yang terkini, masyarakat Jawa telah menggunakan bentuk bahasa Jawa Kuno yang diyakini berkembang pada abad 9 Masehi. Pernyataan tersebut diperkuat dengan ditemukannya prasasti dan naskah-naskah kuno berbahasa Jawa Kuno.

Biarpun sebelum abad tersebut masyarakat Jawa sudah berkomunikasi dengan bahasa, namun yang dipakai diperkirakan bukan bahasa Jawa Kuno melainkan bahasa Sanskerta berasal dari India. Selain bahasa Jawa Kuno, bahasa yang berkembang di masyarakat Jawa tempo dulu adalah bahasa Jawa Pertengahan dan bahasa Jawa Klasik. Bahasa Jawa Pertengahan diperkirakan mulai berkembang pada masa pemerintahan kerajaan Majapahit, antara lain dengan ditemukannya naskah kidung yang berbahasa Jawa Pertengahan. Bahasa Jawa Klasik banyak digunakan semenjak masa kerajaan Surakarta.

Tradisi tulis pada masyarakat Jawa memang telah lama terjadi, paling tidak sudah lebih dari seribu tahun yang lalu. Tradisi tulis terus mengalami regenerasi dari abad ke abad. Kegiatan menyalin naskah berbahasa Jawa terjadi di mana-mana di wilayah masyarakat Jawa dan diturunkan dari setiap generasi ke generasi, terutama di kerajaan-kerajaan Jawa. Banyaknya peninggalan naskah hingga saat ini membuktikan bahwa kegiatan penyalinan naskah di masa lampau sangat marak dilakukan. Naskah-naskah Jawa sekarang masih banyak dijumpai di berbagai tempat, antara lain: Kraton Kasultanan Yogyakarta, Pura Pakualaman Yogyakarta, Kraton Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunegaran Surakarta, Perpustakaan Radya Pustaka Surakarta, Kraton Kasepuhan Cirebon, perpustakaan-perpustakaan di perguruan tinggi di Jawa, museum-museum di Jawa, Belanda, dan Inggris, perseorangan yang sangat banyak sekali. Bahkan penyalinan naskah sampai sekarang masih dapat dijumpai di pulau Bali.

Ketika pulau Jawa mulai dijajah oleh Belanda, bahasa Jawa banyak menjadi penelitian para ahli bahasa atau linguis. Ahli bahasa dan sastra Belanda yang sangat berminat pada bahasa dan sastra Jawa antara lain: C.C. Berg, Zoetmulder, Th. Pigeaud, Krom, A. Teeuw, T. Roorda, Gericke, dan Brandes. Pada perkembangan selanjutnya, bahasa dan sastra Jawa juga banyak menjadi penelitian bangsa-bangsa lain, seperti dari Amerika, Australia, dan Inggris. Tidak ketinggalan pula, penerus-penerus pribumi banyak juga yang mengkaji bahasa dan sastra Jawa, mulai dari R.Ng. Ranggawarsita, Poerbatjaraka hingga Kuntara Wiryamartana. Mereka selain meneliti bahasa dan sastra Jawa juga banyak menciptakan karya-karya ilmiah berbentuk disertasi, buku, dan kamus.

Sumber: http://www.tembi.org

Fungsi Kamus sangat beragam, antara lain untuk penggunaan terjemahan, mengetahui makna sebuah kata, dan pemberian nama. Fungsi yang terakhir, pada dewasa ini banyak membantu masyarakat luas untuk mengetahui secara benar sebuah kata serta artinya. Pemberian nama dapat diterapkan untuk nama orang, nama gedung, nama istilah, atau nama semboyan. Tidak bisa diingkari, bahwa di sekitar lingkungan kita banyak sekali nama-nama orang, gedung, atau istilah yang mengambil dari bahasa Jawa, misalnya. Sebut saja nama orang, seperti Sabar, Eka, Jati, Guntur, atau lainnya; nama tempat, seperti Mandhala Kridha, Graha Sabha Pramana, Kridhasana (Kridosono), atau lainnya; nama istilah/semboyan, seperti Labda Prakarsa Nirwikara dan Vidyasana Viveka Vardhana (istilah AU), dan sebagainya mengambil kata-kata dari bahasa Jawa.

Kamus Jawa memuat perbendaharaan kosa kata Jawa. Lazimnya, kamus memuat kata dasar yang disertai dengan pembentukannya, begitu pula dengan kamus Jawa ini. Kata dasar disertai dengan makna, arti dan penjelasannya. Bahkan dimungkinkan pula disertai dengan pengucapan (pelafalan), contoh-contoh padanan kata, dan contoh dalam kata bentukan, kata majemuk, atau kalimat. Yang jelas, di dalam kamus, penulisan kata adalah standard dan sesuai dengan bahasa asli.

Kamus Jawa jumlahnya sangat banyak dan begitu beragam. Kamus-kamus ini dibuat oleh para ahli bahasa baik dalam dan luar negeri. Kamus yang dibuat meliputi kamus Jawa Kuno hingga Jawa Baru. Ada yang dwibahasa, misalnya Jawa-Indonesia, Jawa-Inggris, atau Jawa-Belanda, dan ada yang satu bahasa, misalnya Jawa-Jawa. Sementara itu juga ada kamus Jawa yang berbicara mengenai unggah-ungguh. Ada beberapa kamus Jawa yang menjadi koleksi perpustakaan TeMBI, seperti yang akan penulis uraikan di bawah ini.

Pertama adalah kamus Baoesastra Jawa karangan W.J.S. Poerwadarminta. Kamus ini diterbitkan pada tahun 1939 oleh penerbit J.B. Wolters’ Uitgevers-Maatschappij NV di kota Batavia (Jakarta, red). Kamus ini termasuk satu bahasa, yakni Jawa-Jawa, tebal 670 halaman, dimulai dari abjad a-z.

Kedua, Kamus Kawi-Jawa karangan C.F Winter Sr. dan R.Ng. Ranggawarsita dialih aksarakan oleh Asia Padmopuspito dan A. Sarman Am. Kamus diterbitkan tahun 1994 (cetakan kelima) oleh penerbit Gadjah Mada University Press di kota Yogyakarta. Kamus ini aslinya bertuliskan huruf Jawa, namun sudah dilatinkan dan termasuk dwibahasa, yakni Jawa Kuno-Jawa, tebal 311 halaman. Dimulai dari huruf atau aksara ha-nga.

Ketiga, kamus Baoesastra Jawa-Indonesia karangan S. Prawiroatmodjo. Kamus diterbitkan tahun 1993 (cetakan keenam) oleh penerbit Haji Masagung di kota Jakarta. Kamus terdiri dari dua buku, buku satu 495 halaman, buku dua 335 halaman. Dimulai dari abjad a-z. Kamus termasuk dwibahasa, yakni Jawa-Indonesia.

Keempat, Kamus Jawa Kuna-Indonesia karangan P.J. Zoetmulder diterjemahkan oleh Darusuprapta dan Sumarti Suprayitna. Kamus diterbitkan tahun 1995 oleh penerbit Gramedia di kota Jakarta. Kamus terdiri dari dua buku, buku satu 722 halaman, mulai a-o, buku dua 1496 halaman, mulai p-y. Kamus ini aslinya berbahasa Jawa Kuna-Inggris, berati termasuk kamus dwibahasa.

Kelima, kamus Old Javanese-English Dictionary karangan P.J. Zoetmulder. Kamus diterbitkan tahun 1982 oleh penerbit ‘s-Gravenhage-Martinus Nijhoff. Juga terdiri dari dua buku, buku satu 1220 halaman, mulai a-o, buku dua 2368 halaman, mulai p-y. Termasuk kamus dwibahasa.

Keenam, kamus Javaansch-Nederlandsch Handwoordenboek karangan J.F.C. Gericke dan T. Roorda. Kamus diterbitkan tahun 1901 oleh penerbit Boekhandel en Drukkerij Leiden dan Johannes Muller Amsterdam. Kamus terdiri dari dua buku, buku satu 905 halaman, mulai ha-sa, buku dua 872 halaman, mulai wa-nga. Kamus berhuruf Jawa-Latin dan termasuk dwibahasa.

Ketujuh, kamus Bausastra Indonesia-Djawa karangan Unggar. Kamus diterbitkan pada tahun yang tidak diketahui oleh penerbit Lauw di kota Solo. Dimulai dari abjad a-z, terdiri dari 383 halaman. Kamus berhuruf Latin ini termasuk kamus dwibahasa, berbentuk kamus saku karena ukurannya kecil.

Kedelapan, Baoesastra Mlajoe-Djawa karangan Sasrasoeganda. Kamus diterbitkan pada tahun 1914 (cetakan kedua) oleh penerbit Bale Poestaka di kota Batavia (Jakarta, red). Kamus terdiri dari 564 halaman, dimulai dari abjad a-z.

Terakhir, kamus kesembilan adalah Kamus Unggah-Ungguh Basa Jawa karangan Haryana Harjawiyana dan Th. Supriya. Kamus diterbitkan pada tahun 2001 oleh penerbit Kanisius di kota Yogyakarta. Penerbitan kamus ini dalam rangka menyongsong Kongres Bahasa Jawa III di Yogyakarta tanggal 15-21 Juli 2001 yang lalu. Kamus setebal 485 halaman ini termasuk kamus istimewa, sebab menjelaskan setiap kata ngoko bahasa Jawa yang disertai dengan kata krama dan krama inggil. Di samping itu juga ada tambahan contoh-contoh kalimat penerapan bahasa Jawa ngoko, krama, krama inggil, dan terjemahan bahasa Indonesia. Kata ngoko yang dijelaskan selain dalam kata dasarnya, juga kata bentukan. Misalnya kata dasar ngoko turu ‘tidur’ dijelaskan bentuk krama (tilem) dan krama inggil (sare). Kata bentukan dari turu misalnya dakturokne ‘saya tidurkan’, diturokake ‘ditidurkan’, dituroni ‘ditiduri’, nurokake ‘menidurkan’, nuroni ‘meniduri’, dan sebagainya.


Sumber : http://www.tembi.org

Demikian beberapa kamus bahasa Jawa di perpustakaan TeMBI. Pada edisi selanjutnya nanti akan diuraikan jenis kamus lain. Semoga bermanfaat bagi pembaca.

Naskah : Suwandi Suryakusuma
Foto : Didit PD.

[ pemutakhiran 18 Peb 2012 ]

 

Materi pengayaan terkait posting ini :

1.

Buku “Kamus Basa Jawa. (Bausastra Jawa)” edisi kedua 2011 susunan Tim Balai Bahasa Yogyakarta :
http://wayangpustaka02.wordpress.com/2012/02/02/kamus-basa-jawa-susunan-tim-balai-bahasa-yogyakarta-edisi-kedua-2011/

2.

Buku “Pepak Basa Jawa” oleh Soewardi Haryono :
https://wayangpustaka.wordpress.com/2010/01/30/509/

3.

Ebook “Kamus Kawi Djarwa” karangan WJS Poerwadarminta terbitan 1940-an.

Sangat bermanfaat bagi pecinta wayang karena banyak kata Kawi yang banyak dipakai di pedalangan diberi arti dalam kamus ini.

http://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/08/14/ebook-kamus-kawi-djarwa-oleh-wjs-poerwadarminta-19411945/

 


Blog Stats

  • 761,108 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 64 other followers

Halaman dilihat :