Pustaka Wayang

Posts Tagged ‘R. Tanojo

Buku Wayang : Pacandra Warnane Semar Gareng Petruk oleh R. Tanojo.
R. Tanojo, pacandra, menguraikan dengan kata-kata sesuatu wujud, simbol di wewujudan wayang kulit purwa, semar, gareng, petruk.

Kebudayaan Jawa senang dengan “ bahasa simbol “ , untuk menjelaskan sesuatu sering diwujudkan dengan simbol / “ gegambaran “. Kemudian “ gegambaran “ tadi “ dicandra “. “ Dicandra “ (kata kerja) kurang lebih artinya menguraikan dengan kata-kata sesuatu wujud atau keadaan .

Rekan Mawan Sugiyanto dari laman wayang electronic http://e-wayang.org , telah mengembangkan gambar wayang kulit purwa punakawan Semar, Gareng dan Petruk secara digital. Di wewujudan tokoh punakawan ini orang Jawa juga membubuhkan simbol-simbol.

Admin Wayang Purwa Buku mencari kembali di koleksi buku-buku wayang yang menceritakan arti simbol-simbol di wewujudan tokoh punakawan tadi. Di buku Sadjarah Pandawa dan Korawa penulis R. Tanojo menguraikan “ Pacandran Semar Gareng Petruk “. Di bawah ini Admin mengutipnya sebagai peran serta dukungan ke laman e-wayang memperkaya bahan kepustakaan. Tentu saja tulisan R. Tanojo ini merupakan salah satu ‘ tafsir ‘, mungkin masih ada ‘ tafsir ‘ lain dari penulis atau dalang lain. Seni terbuka untuk bebas ‘ ditafsirkan ‘. Bukankah begitu ?

Pacandran warnane Semar :

Semar, dedege cebol, sirah cilik rambut cendhak warna ireng, nganggo kuncung rambut putih, idepe ngramyang, mata rembes, (pacandran loro iki ing gambar wayang ora bisa cetha, bisane ngarani mung miturut panjanturing dalang), irung sunti (irung cilik) [atau sunthi ?], lambe cablik (lambe kang tipis), untu siji, rai kapulas putih, nganggo suweng lombok, bokong bunder gedhe, nganggo jarik poleng wangun ceplok kapulas warna papat : abang putih kuning ireng. Arane Semar, Ki Badranaya, Ki Bojagati, Ki Margaewuh. Padunungane ingaran ing Karang Kabolotan.


Terjemahan bebas nya :
Semar, perawakannya cebol, kepala kecil berambuk pendek / cepak warna hitam, berkuncung rambut putih, bulu mata jarang-jarang, mata berair, (dua uraian wujud tadi kalau di gambar tidak bisa jelas, hanya bisa diuraikan dengan narasi dalang), hidung kecil, bibir tipis, gigi satu, wajah berbedak putih, memakai anting-anting (bentuk) lombok, pantat besar bundar, memakai jarik poleng (motif kotak-kotak) dengan empat warna : merah kuning putih hitam. Nama lain Semar, Ki Badranaya, Ki Bogajati, Ki Margaewuh. Tempat tinggalnya bernama Karang Kabolotan.

Pacandran warnane Nalagareng :

Nalagareng iku anake Semar kang tuwa, dedege endhek cilik, sirah gundhul nganggo kucir, matane kera, lambene cupet, irunge bunder gedhe, tangan tekle, sikil pincang bubulen, pasemone peteng, kalunge gobog (dhuwit ing nagara Cina), jarik slobok (wujud kotakan pasagen kagaris tengah saka ing pojok, saparo garis mau kapulas putih, sasisik kapulas ireng), gegamane arit (saweneh ngarani kudi), arane maneh : Cekrutruna.


Ayo, mas Mawan Sugiyanto yang membantu menerjemahkan ke bahasa Indonesia. Mangga.

Tidak sampai lima menit terjemahan mas Mawan Sugiyanto sudah muncul. Terima kasih. Ini terjemahan mas Mawan Sugiyanto :

Nalagareng itu adalah putra Semar yang pertama, perawakannya pendek dan kecil, kepalanya gundul memakai kucir, matanya juling, mulutnya kecil, hidungnya besar dan bulat seperti bola pingpong, tangannya bengkok (ceko), kakinya pincang karena penyakit “bubulen” [keterangan dik Rudy Wiratama : “bubulen” = semacam ” frambusia “], aura wajahnya gelap, berkalung gobog (koin dari negara Cina), sarungnya slobok ( yaitu bercorak kotak-kotak dengan garis-garis diagonal dari sudut-sudutnya, sebagian garis pada sarung berwarna putih, sebagian berwarna hitam), mempunyai senjata sabit (clurit, beberapa orang / pakar menyebutnya kudi). Nalagareng mempunyai alias Cekruktruna.

Pacandran warnane Petruk :

Petruk iku anake Semar kang anom, iya kang aran Kanthongbolong, dedege gedhe duwur, pawakan lurus, sirahe gundhul nganggo kucir, matane keder, irung dawa patrape anjengat, sikil gejig, pasemon dlongeh-dlongeh (lambening wong ngguyu kang tanpa swara), jarik slobog, pada karo jarike Nalagareng, kalunge genta, gegamaning petel.


Mas Mawan Sugiyanto menerjemahkan :

Petruk adalah putra Semar yang lebih muda. Petruk mempunyai alias Kanthongbolong (Kantong Berlubang). Perawakannya tinggi besar dan lurus. Kepalanya gundul memakai kucir, matanya agak juling (keder). Hidungnya panjang mendongak ke atas. Kakinya pincang, tindak tanduk dan auranya suka tertawa tanpa suara, sarungnya slobog, sama seperti Gareng. Berkalung Genta dan menggunakan senjata Kapak.

Selanjutnya penulis R. Tanojo menguraikan arti dari masing-masing simbol yang ada di wewujudan tadi, silakan unduh di :

http://www.4shared.com/file/178660044/c0ace48d/Candra_SemarGarengPetruk.html

Selamat membaca dan mengamati wewujudan tokoh punakawan di e-wayang .

NB :
Mas Mawan, Anda bisa menghubungi mas Harmiel M Soekardjo (ada akun FB nya) yang mempunyai ‘ image ‘ / photo wayang kulit punakawan ketika mereka :
1. Menjadi raja ( di beberapa lakon carangan )
2. Menjadi wanita ( di beberapa lakon carangan juga ).
Kalau wewujudan tersebuti di digital kan, seru juga.
Salam.

Buku Wayang : Sadjarah Pandawa dan Korawa oleh R. Tanojo.

Ada sebuah buku yang menarik, berisi ceritera ringkas dalam bahasa Jawa Ngoko tentang sejarah Pandawa dan Kurawa tulisan R. Tanojo berdasarkan kidung / tembang Jawa yang ditulis C. F. Winter Sr dan dilanjutkan (setelah C.F. Winter wafat) oleh R. Ng. Ranggawarsita. Buku ini cocok untuk seseorang yang ingin mengetahui cerita Mahabarata secara ringkas , namun bagi yang mengerti bahasa Jawa Ngoko.

Judul lengkap buku tersebut adalah :

Kang andjarwakake lan ngiket Kidung basa Mardawa : Djurubasa ing Surakarta C. F. Winter Sr. , bareng seda nuli sinambungan R. Ng. Ranggawarsita Pudjangga ing Surakarta , Kang amangun Gantjaran basa Djawa Ngoko R. Tanojo , Kang amarna rerenggan gambar-gambar wajang R. M. Sulardi ; Sadjarah Pandawa lan Korawa ; Surabaja ; Penerbit Trimurti ; tanpa ciri tahun [dari type bukunya, diperkirakan terbitan era 1960 an] ; 60 halaman ditambah tambahan tentang Patjandran Semar Gareng Petruk sampai dengan halaman 87 ; bahasa Jawa Ngoko ; gambar wayang.

File PDF bisa ditemui dan diunduh di internet :

http://www.4shared.com/document/8zXqh0z_/Sadjarah_PndwKrw_Tanaja.html

dan tambahannya tentang Patjandran Semar Gareng Petruk
http://www.4shared.com/file/178660044/c0ace48d/Candra_SemarGarengPetruk.html

Buku-buku Dewaruci.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=205169309020

Beberapa hari yang lalu rekan-rekan Wayang Nusantara menampilkan dan membicarakan beberapa artikel mengenai Dewaruci. Bagi pembaca yang berkeinginan membaca buku-buku Dewaruci terbitan lama, Wayang Pustaka ingin berbagi. Silakan. Admin Wayang Pustaka mengundang pembaca yang mempunyai koleksi lain untuk bisa ikut berpartisipasi berbagi (?). Silakan.

 

A.

Buku-buku Dewaruci koleksi Wayang Purwa Buku :

1.  Terbitan 1922 ~ 1929.

M. Ng. Mangoenwidjaia ; “ Serat Dewaruci “ Punika Serat Dewaruci ingkang sampun mawi wredi. ; Kediri ; kawedalaken sarta kasade dening Tan Khoen Swie ; 1929 = tjetakan jang ka V ; 56 halaman ; gambar wayang ; bahasa Jawa ; aksara Jawa.

Tampilan di WordPress :  https://wayangpustaka.wordpress.com/2009/12/18/terbitan-1922-1929-serat-dewaruci-m-ng-mangoenwidjaia/

Tampilan di Facebook :  http://www.facebook.com/note.php?note_id=205182129020

2.  Terbitan 1954, 1958, 1960.

( Disadur dan di Indonesia kan oleh ) Tjabang Bagian Bahasa / Urusan Adat Istiadat dan Tjeritera Rakjat, Djawatan Kebudajaan, Departemen Pendidikan Pengajaran dan Kebudajaan, Jogjakarta ; “ Kitab Dewarutji “ – Berisikan tjeritera : Bima Berguru kepada Pendeta Drona. Tjeritera mengandung keagamaan dan kefilsafatan ; Jogjakarta ; 1960 = cetakan 3 ; 60 halaman ; gambar wayang ; bahasa Indonesia. Catatan : 1954 = cetakan 1 ; 1958 = cetakan 2.

Tampilan di WordPress :  https://wayangpustaka.wordpress.com/2009/12/19/terbitan-1954-1958-1960-kitab-dewarutji-tjabang-bagian-bahasa/

Tampilan di Facebook :  http://www.facebook.com/note.php?note_id=205192444020

Bapak Sam Askari Soemadipradja dari Purwakarta ( Jawa Barat ) mengirimkan foto copy buku ini yang cetakan 2.

3.  Terbitan 1962.

( Ditinjau oleh ) Dr. A Seno Sastroamidjojo ; “ Tjeritera Dewa Rutji ( Dengan Arti Filsafatnja ) “ ; Jakarta ; Penerbit Kinta ; 1962 ; 57 halaman ; bahasa Indonesia ; gambar wayang ; bahasa Indonesia.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=205200359020

4.  Terbitan 1966.

Ki Siswoharsojo ; “ Tafsir Kitab Dewarutji “ ; Jogjakarta ; PT Jaker ; Lodjiketjil ; 1966 = cetakan 1 ; 44 halaman ; gambar wayang ; bahasa Jawa.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=205208679020

5.  Terbitan 1992.

Prof. Drs. Suwadji Bastomi ; “ Dewaruci “ – Apresiasi Pada Kesenian Wayang ; Semarang ; Media Wiyata ; 1992 ; 37 halaman ; gambar wayang ; bahasa Indonesia.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=205213929020

 

 

B. Buku-buku Dewaruci lainnya yang pernah terbit di era 1950 ~ 1980 an :

Wayang Purwa Buku mengundang pembaca yang memiliki buku-buku ini yang ingin berbagi dengan pembaca lain. Mohon kirimkan photo copy atau PDF buku ke Wayang Purwa Buku.

1.

1953 :  R. Tanojo ; “ Bimasutji ( Dewarutji ) ; Solo ; Penerbit Sadu Budi.

2.

1954 :  Ki Siswoharsojo ; “ Wedaran Serat Dewa Rutji “ ; Jogja ; Penerbit Persatuan ; bahasa Jawa ; aksara Jawa.

3.

1957 :  Somadidjojo Mahadewa ; “ Serat Dewa Rutji “ ; diterbitkan oleh Somadidjojo.

4.

1960 :  Ki Siswoharsojo ; “ Serat Dewarutji – Bimapaksa. Warangka Manjing Tjuriga – Tjuriga Manjing Warangka “ ; Jogja ; diterbitkan Ki Siswoharsojo ; 1960 = cetakan 4 ; 99 halaman ; gambar ; bahasa Jawa tembang.

5.

Perkiraan 1960 an :  Imam Supardi : “ Dewa Rutji Winardi “ ; Surabaja ; Panjebar Semangat.

6.

1984 :  S.P. Adhikara ; “ Dewaruci “ ; Bandung ; Penerbit Institut Teknologi Bandung ; 29 halaman ; gambar.

7.

1984 :  S.P. Adhikara ; “ Nawaruci “ ; Bandung ; Penerbit Institut Teknologi Bandung ; 97 halaman ; gambar.

8.

1984 :  S.P. Adhikara ; “ Unio Mystica Bima “ ; Bandung ; Penerbit Institut Teknologi Bandung ; 44 halaman ; gambar.

9.

1986 :  SP Adikara : “ Analisis Serat Bimasuci “ – penerbit Institut Indonesia, Yogyakarta

 

 

 

C. Buku Dewaruci terbitan era 2000 an.

Buku masih bisa dibeli ke penerbit bersangkutan.

1.

2007 :  Dr. Purwadi, M. Hum ; “ Ilmu Kasampurnan – Mengkaji Serat Dewaruci “ ; Yogyakarta ; Panji Pustaka ; Juni 2007 = cetakan 1 ; xi + 300 halaman ; ISBN 979-25-2727-3 ; bahasa Indonesia.


Blog Stats

  • 756,494 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 64 other followers

Halaman dilihat :