Pustaka Wayang

Posts Tagged ‘ramayana

buku wayang, tokoh wayang, gambar grafis wayang purwa, dewa, ramayana, mahabarata, Heru S Sudjarwo, Sumari, Undung Wiyono

 

Segera Terbit

 

Pengantar Admin :

Informasi tentang akan segera terbit nya satu buku ‘ semacam’ ensiklopedi tokoh tokoh wayang purwa disertai dengan gambar grafis wayang purwa tokoh yang bersangkutan.

Mari kita tunggu terbitnya.

Apakah buku ini bisa sejajar ( atau bahkan melebihi ) karya legendaris buku ” Sedjarah Wayang Purwa ” – Pak Hardjowirogo ???

Data buku (sementara)

Heru S Sudjarwo,  Sumari,  Undung Wiyono  ;  ” Rupa dan Karakter Wayang Purwa ”  ;  Jakarta  ;  penerbit Kakilangit Kencana – Prenada Media Grup  ;  (rencana) Maret 2010 = cetakan pertama  ;  ISBN ?  ;  (kurang lebih) 1.200 halaman  ;  aksara Latin  ;  bahasa Indonesia  ;  gambar grafis wayang purwa  ;  photo ?  ;  CD interactive .

Informasi terdiri dari tiga bagian ( plus satu bagian tambahan ) :

Bagian pertama adalah photo-photo yang Admin peroleh dari mas Heru S Sudjarwo, kemudian bagian kedua adalah tulisan mas Tri Wibowo Kanyut salah satu editor penerbit Kakilangit Kencana. Dilanjutkan bagian tiga informasi alamat penerbit. Terakhir bagian Pamudji Gangsar Lancar.

 

A. Bagian pertama :

 

 

 

 

B. Bagian dua :Tulisan Tri Wibowo Kanyut :

“Temani aku meraung, kawan …”
• Heru S. Sudjarwo

“Habent sua fata libelli” (setiap buku punya takdirnya sendiri-sendiri). Pada awalnya adalah “raungan” di suatu status facebook – sebagaimana galibnya raungan, ia mengandung semacam campuran rasa sakit, perih, amarah dan kekecewaan. Dan raungan biasanya terdengar begitu keras, memekakkan, meledak tetapi juga terasa mengiris, pilu.

Raungan Mas Heru, yang terkadang lebih akrab kami panggil Chuck Brewok, seolah mewakili raungan 400 lebih tokoh wayang yang terlantar di tengah suara gemuruh “Juggernaut” kebudayaan popular yang seperti hendak membabat habis kearifan kebudayaan, mengabaikan local genius, menjadikan dunia begitu dangkal, banal, dan tak sempat untuk barang sejenak merenungi kehidupan dari perspektif yang lebih dalam dan manusiawi.

Ketika kudengar raungan itu, seolah-olah aku mendengar raungan kebudayaan leluhur yang pelan tapi pasti secara tak sengaja terlupakan, atau sengaja disisihkan oleh laju modernitas yang bergerak tak tentu arah. Dan ketika kudengar raungan itu, mendadak membayang masa kecilku di suatu kota kecil, saat begitu terpesona oleh lakon-lakon wayang, yang saat itu belum kupahami sepenuhnya apa-apa makna tersirat yang ada di dalamnya. Raungan itu menerbitkan kembali kerinduan kepada kisah-kisah wayang, meriapkan kembali keinginan untuk membaca tokoh-tokohnya yang konon jumlahnya lebih dari 1000 karakter. Saat kemudian aku mengontak penulisnya dan mendapatkan sedikit gambaran tentang naskah ini, aku langsung sadar, tanpa bermaksud melebih-lebihkan pujian, betapa berharganya naskah ini bagi generasi muda saat ini. Kini salah satu bagian dari warisan itu akan segera hadir dengan kemasan baru yang lebih indah dan modern tanpa meninggalkan unsur kearifan dan keindahan seninya. Buku ini hadir demi kepentingan generasi muda kita yang barangkali lebih mengenal tokoh-tokoh superhero asing yang dangkal karakterisasinya dan tidak membuat kita merenung lebih mendalam. Buku ini seperti hendak menyadarkan kita bahwa jati diri kita sebagai manusia pada umumnya, dan kultur Nusantara pada khususnya, didasarkan pada perenungan tentang kearifan hidup, sebab hanya dengan perenungan kearifan itulah sesungguhnya barulah hidup layak untuk dijalani: bukankah Socrates pernah mengatakan “Hidup yang tak direnungi tak layak untuk dijalani?”

Barangkali, sepanjang aku menjadi editor buku sejak tahun 2000, inilah buku pertama yang membuatku — sebagai editor yang sesungguhnya punya hak untuk campur tangan — secara sadar beringsut ke belakang, menatap prosesnya dari dekat namun sama sekali tak ingin dan tak berani “bludusan” dalam proses kelahirannya dengan membawa keangkuhan formalitas editorial. Karenanya izinkan aku kisahkan alasan mengapa aku tak kuasa ikut serta dalam penyusunannya.

Sebuah buku yang baik adalah buku yang lahir dari cinta, lahir dari hati – dan buku semacam ini adalah langka:: dan ini adalah salah satu buku langka semacam itu. Ia ditulis dengan sepenuh hati yang dipenuhi cinta kepada tradisi leluhur. Tanpa ada cinta, barangkali kita tak bisa membayangkan bagaimana dahsyatnya perjuangan untuk mewujudkannya.

Chuck Brew tidak hanya datang kepadaku membawa segepok naskah tebal – beliau datang dengan membawa semangat yang menyala-nyala. Ia tak hanya menulis naskah, tetapi ia juga menjalani laku pengorbanan seperti Resi Bisma Dewabrata, demi melahirkan anak kandung kebudayaannya ini. Latar belakang Chuck Brew sebagai sutradara film, seniman kreatif dan seni rupa, juga pemahat – pendeknya, sebagai seniman – membuatnya tahu betul bagaimana membuat sebuah naskah bukan sekadar bacaan, tetapi juga sebagai sebuah karya seni – dan wujud kitab ini adalah karya seni itu sendiri. Aku melihat seolah-olah Chuck Brew tidak sedang menulis buku, tetapi menciptakan sebuah artefak budaya, lengkap dengan segala detailnya yang teliti dan apik. Untuk itu, beliau menyetir sendiri mobilnya dari Jakarta langsung menuju Solo, demi menemui para seniman wayang, khusus untuk meminta mereka menggambar langsung detail rupa sekitar 400 wayang kulit di kertas kalkir. Beliau juga menyambangi keraton Solo untuk meminta izin memotret langsung koleksi wayang kulit kraton dengan bantuan fotografer profesional. Beliau, dibantu dua orang lainnya, satu dhalang dan satu ahli filsafat wayang, melakukan riset mendalam di pusat-pusat kegiatan wayang seperti Museum Wayang, Senawangi, Persatuan Dhalang, dan sebagainya. Jangan tanyakan berapa biaya yang dengan sukarela beliau keluarkan dari kantong sendiri untuk memperlancar proses ini: beliau adalah salah dari segelintir orang yang mau mengorbankan tenaga, waktu dan uang demi menulis buku! Jika tanpa cinta, mungkinkah itu dilakukan? Dengan cinta, beliau menimang-nimang, mengelus-elus dan merawat seluruh proses penciptaan, seperti ibu yang dengan sabar dan tabah menanti kelahiran buah hatinya.

Ini adalah kitab tentang Wayang, yang adalah refleksi dari “bayangan” sifat-sifat manusia. Kisah wayang adalah kisah tentang manusia dengan seluruh karakternya, dengan seluruh filosofi kehidupan yang begitu rumit, arif dan luas. Ia tak memotret manusia hanya dari kacamata hitam-putih – sebab para empu tahu bahwa manusia lebih sering bergerak di wilayah abu-abu. Tetapi wayang tidak sekadar cerita dan tontonan, tetapi juga pelajaran dan tuntunan, sebab yang dikisahkan adalah soal-soal kemanusiaan dan juga tentang hubungannya dengan Sang Hyang Pangeran Kang Murbeng Dumadi. Wayang adalah bayang-bayang, adalah boneka, dan penggeraknya adalah Dhalang: seperti manusia, kita adalah seperti wayang yang digerakkan Tuhan.. Kita juga adalah wayang dalam arti “bayang-bayang Tuhan,” sebab “manusia diciptakan menurut Citra (Bayangan, Gambaran) Tuhan Yang Maha Rahman” – dan sebagai “Bayangan Tuhan” itulah maka kita diberi hak menjadi “Khalifah di atas bumi-Nya.” Hubungan Dhalang-Kelir (Wayang) adalah perlambang hubungan Tuhan dan Manusia: Manusia adalah tajalli (iluminasi, pancaran) dari cahaya-Nya yang memancar pada kelir (alam semesta). Seperti tersirat dalam sebuah tembang macapat, pupuh Kinanti

Kadi ta upaminipun
Dhalang wayang lawan kelir
Dhalang pan wujud mutlak
Wayange wujud ilapi
Kelire akyan sabitah
Karone nyata ing kelir

Karena begitu dekatnya kisah wayang dengan kehidupan dan diri pribadi kita yang paling dalam, tak mengherankan jika ia menjadi tontonan dan tuntunan yang mampu menghanyutkan siapa saja yang mau menghargai hidup, yang mau memandang hidup sebagai sebuah anugerah Ilahi, dan mau menyadari bahwa pada akhirnya kita, semua manusia, akan kembali kepada-Nya. Meski orang tahu yang mereka tonton hanyalah kisah yang dipentaskan dengan karakter dari kulit dan kayu, tetapi mereka bisa tenggelam dalam kisahnya karena kisah-kisah itu berhubungan langsung dengan inti dari kehidupan manusia itu sendiri. Seperti yang digambarkan oleh seorang empu:


“Tiyang aningali ringgit punika lajeng wonten ingkang nangis, sumlengeran sarta prihatos ing manahipun, sanajan sampun sumerep ingkang tinonton wau wantahipun namung wawucal ingukir tinatah kadapur tiyang saged solah bawa sarta wicanten. Tiyang ingkang ningali ringgit wau upaminpun namung kados dene tiyang ingkang angangsa-angsa dateng kadonyan ingkang sarwa kanikmatan, temahan ing sakala kataliweng ing manah, mboten sumerep manawi punika wauang ingkang dewalipun kados siluman, utawi lugunipun namung kados sulapan mawon. Sejatosipun wayang punika mobah mosik wicanten, gumujeng, suka, wonteng ingkang nangis lan prihatos, ebahipun manut pikajengipun Ki Dhalang ingkang nglampahaken wayang punika wau.”

[ huruf miring dan penebalan huruf oleh Admin Wayang Purwa Buku ]

[Orang yang melihat pertunjukan wayang ada yang menangis serta prihatin di hati meski tahu kalau yang dilihat itu hanyalah wujud yang diukir dan ditatah dibentuk seperti manusia, bisa bergerak dan bicara. Mereka yang menyaksikan wayang adalah seperti mansia yang pada awalnya mengagungkan keduniawian, lalu mendadak sadar bahwa semua [kehidupan duniawi] itu hanyalah bayang-bayang saja yang datang dan pergi seperti siluman. Sesungguhnya wayang itu bergerak dan berbicara, tertawa dan menangis, menurut kehendak Ki Dhalang …]

Kisah wayang juga mengajarkan bahwa “lakon” wayang tak ada artinya jika tidak “dilakoni.” Wayang adalah perlambang dari eksistensi manusia yang terus-menerus mencari Kebenaran dan Kesejatian hidup. Kisahnya lahir dari perenungan mendalam para empu yang telah menghayati hidup sepenuhnya, yang telah menerobos batas ruang dan waktu – tak heran jika kisah wayang dan medium penyajiannya terus bertahan hingga berabad-abad dan terpelihara dengan rapi.

Matur Nuwun Mas Heru Sudjarwo … mugi adikarya puniko dados lantaran tekaning barokah kagem panjenengan .. sepindah malih: Barkallahu laka..amin..

Mbah Kanyut al-Kenthiri al-Jawi
salah satu editor Kakilangit Kencana

 

C. Bagian tiga :

Data penerbit :

PENERBIT KAKILANGIT KENCANA
PRENADA MEDIA GROUP
Jl. Tambra Raya No. 23 Rawamangun, Jakarta 13220
Telp. (021) 47864657, 4754134 Fax. (021) 4754134
e-mail : pmg@prenadamedia.com
website : http://www.prenadamedia.com

 

D. Bagian empat : Pamuji Gangsar Lancar

Nusantara Indonesia menantikan terbitnya buku-buku seperti ini.
Semoga tidak ada aral melintang.
Mugi sadaya sami pinanggih rahayu wilujeng santoso.
Mugi Gusti angijabahaken.

Matur suwun mas Heru S Sudjarwo, mas Sumari, mas Undung Wiyono

 

’ebook’ wayang, cerita wayang, Ramayana, Kartapradja, 1937

Data buku :

R. Ng. Kartapradja ; ” Rama “ ; Batavia C ; Bale Poestaka ; 1937 ; 80 halaman; aksara Latin ; Bahasa Jawa ; gambar wayang.

 

‘Ebook’ bisa diunduh di URL :

http://www.4shared.com/file/216460712/b3e24c6c/rama_1_kartapradja.html

http://www.4shared.com/file/216462524/d821a67f/rama_2_kartapradja.html

Pindaian gambar grafis wayang dari buku ini dengan jumlah byte file pdf besar secara bertahap akan di file shared kan. Alamat URL nya bisa ditemui di :

http://www.facebook.com/note.php?note_id=284256094020

Buku Wayang : Nonton Wayang Dari Berbagai Pakeliran karya R. M. Pranoedjoe Poesponingrat

falsafah wayang, budi pekerti, sejarah wayang, uraian tokoh wayang, lakon wayang, para dewa, arjuna sasrabahu, ramayana, mahabarata, baratayuda, pathet, tatahan wayang, sunggingan wayang, wanda wayang, gagrag wayang, simpingan wayang, gambar detail wayang kulit purwa Jawa.

R. M. Pranoedjoe Poesponingrat ; “ Nonton Wayang Dari Berbagai Pakeliran “ ; Yogyakarta ; Badan Penerbit Kedaulatan Rakyat ; 2008 = cetakan ke 2 ; xii + 278 halaman ; bahasa Indonesia + abstract dalam bahasa Inggris, gambar wayang.

[ Disayangkan bahwa Badan Penerbit Kedaulatan Rakyat ( belum mendaftarkan ? ) serta tidak mencantumkan nomor ISBN untuk buku ini. Demikian juga tidak mencamtukan tahun cetakan pertama nya – yang diperkirakan September 2005 sebagai terbitan pertama ]

Buku ini merupakan gabungan dari berbagai hal yang berkaitan dengan wayang. Tampak bahwa tujuan utama penulis adalah membahas masalah falsafah dalam wayang serta masalah budi pekerti Jawa yang bisa diambil dari wayang. Namun, agar semua itu bisa lebih jelas diterangkan, maka diuraikan juga tentang sejarah wayang, tokoh-tokoh wayang, ringkasan lakon-lakon. Setelah itu ada beberapa keterangan tambahan – yang juga tak kalah menariknya – tentang wayang kulit purwa Jawa. Boleh dikatakan bahwa buku ini adalah buku yang sangat bermanfaat dibaca bagi seseorang yang ingin tahu lebih banyak tentang wayang purwa Jawa karena merangkum bermacam hal, ringkas padat bermanfaat.

R. M. Pranoedjoe Poesponingrat  – putra KRT Poespaningrat yang ahli dalam adat istiadat Jawa di Keraton Yogyakarta – menuliskan bahwa susunan penyajian buku ini adalah sbb :

  1. Bebuka sebagai latar belakang.
  2. Wayang dan Tasawuf Jawa mengenai Fungsi Wayang, Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, Lahirnya Catur Hawa, dan Wejangan Asta Brata.
  3. Buti-butir Budi Pekerti Jawa dalam Wayang seperti dicontohkan dalam Bhagawat Gita, Baratayuda, Ramayana, Arjuna Sasrabahu, Arjuna Wiwaha dan Dewaruci.
  4. Ramayana, epos Walmiki dari India dan Kakawin Ramayana dalam Jawa Kuno, 903.
  5. Mahabarata, karya Wyasa dan Kakawin Mahabarata Jawa Kawi, 1016.
  6. Baratayuda, dan Kakawin Baratayuda karya Empu Sedah dan Empu Panuluh, 1157.
  7. Catatan Akhir menyajikan beberapa keterangan tambahan.

             [ terdiri dari :

             Pathet Wayang : Expression of Mode

             Sunggingan dan Tatahan : Expression of Art

             Wanda Wayang : Expression of Mood

             Terminologi Gelung, Gurda dll.

             Gagrak Wayang : Expression of Diversity

             Simpingan Wayang : Expression of Beauty

             Lakon Wayang : Expression of Values ]

8. Abstract dalam bahasa Inggris ditujukan untuk pembaca warga asing yang tidak berbahasa Indonesia.

 

Sindhunata, (ilustrator isi) Hajar Satoto ; ” Anak Bajang Menggiring Angin “ ; Jakarta ; Gramedia Pustaka Utama ; Februari 2007 = cetakan kedelapan ; 363 halaman ; ISBN 979686147X, 9789796861477 ; gambar wayang ; bahasa Indonesia.

Catatan cetakan :
Cetakan pertama = Oktober 1983 , cetakan keenam = Februari 2001 , cetakan ketujuh = Mei 2003 , cetakan kedelapan = Februari 2007.

Kisah dalam buku ini pernah dimuat sebagai serial Ramayana dalam harian Kompas, setiap hari Mingggu, selama tahun 1981. Dengan beberapa perbaikan dan tambahan, serial Ramayana ini diterbitkan dalam bentuk buku ini.

[ sisipan 06 Des 2009 ]

Anak bajang
menggiring angin
naik kuda sapi liar
ke padang bunga
menggembalakan kerbau raksasa
lidi jantan sebatang
disapukan ke jagad raya
dikurasnya samudra
dengan tempurung bocor
di tangan nya

dst …..

gelap pun gulita
dengan empat nafsu cahaya
anak bajang menyalakan dian
teja darpasura
bumi bergoncang
dahana menyala
jaladri pecah
prahara melimbah-limbah

dst …..

Catatan di sampul belakang :

Tak banyak karya sastra di Indonesia yang dicetak ulang beberapa kali seperti buku Anak Bajang Menggiring Angin ini. Banyak pembacanya mengaku telah menemukan pegangan yang menguatkan dan mencerahnkan hidupnya. Beberapa potongan kisahnya telah memberikan inspirasi bagi lahirnya sejumlah karya seni tari dan teater. Di banyak SMU, buku ini dipakai sebagai bahan pelajaran sastra.

Berangkat dari kisah Ramayana, buku ini telah menjadi karya sastra yang aktual untuk kehidupan masa kini. Dalam buku ini terkandung pelbagai khazanah kekayaan tentang cinta sejati, tentang pergulatan manusia menghadapi penderitaan, kesendirian, dan kesunyiannya, tentang kesia-siaan kekuasaan, dan tentang kemenangan autentisitas manusia di tengah segala kepalsuan hidup. Bagi sementara pengamat sastra, kisah buku ini merepresentasikan perlawanan mereka yang lemah dan tak berdaya menghadapi absurditas nasib dan kekuasaan.

Banyak pengamat mengatakan, kekuatan Anak Bajang Menggiring Angin ini terletak dalam bahasanya yang sangat indah, lebih-lebih dalam corak liriknya yang puitis dan ritmis. Perjalanan buku ini sendiri telah menjadikannya sebuah karya sastra yang klasik.

Penerbit
PT Gramedia Pustaka Utama,
Jl. Palmerah Barat 33 – 37, Lt 2 – 3,
Jakarta 10270

http://www.gramedia.com

[ akhir sisipan 06 Des 2009 ]

 

Pratinjau terbatas di Google Books :
http://books.google.co.id/books?id=3ezRW6H4tE0C&printsec=frontcover&dq=anak+bajang+menggiring+angin&lr=#v=onepage&q=&f=false

 

 
R.K. Narayan ; (penerjemah) Nin Bakdi Sumanto ; (penyunting) Rika Iffati Farihah ; Ramayana Mahabarata ; Yogyakarta ; Bentang ; 2009 = cetakan pertama ; viii + 568 halaman ; ISBN 978-979-1227-54-4 . Judul asli : The Ramayana & The Mahabharata ; Penguin ; New York ; 1972 .

Penerbit Bentang (PT. Bentang Pustaka)
Jl. Pandega Padma 19, Yogyakarta 55284
Tel : (0274) 517373 , Faks : (0274) 541441
Email : bentangpustaka@yahoo.com
http://www.mizan.com

(Peneliti) Suhardi, Wisnu Subagya ; “ Arti dan Makna Tokoh Pewayangan Ramayana Dalam Pembentukan dan Pembinaan Watak ( Seri II ) “ ; diterbitkan oleh Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya , Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional , Direktorat Jenderal Kebudayaan , Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ; Jakarta ; 1996 ; 106 halaman ; bahasa Indonesia.

‘Ebook’ bisa ditemui dan diunduh di internet dengan alamat URL sebagai berikut :

http://www.4shared.com/file/161467185/93f12ddf/ArtiMakna_TkhWayang_Rmyn_II_1.html

http://www.4shared.com/file/161468299/d979feba/ArtiMakna_TkhWayang_Rmyn_II_2.html

http://www.4shared.com/file/161467960/730ba566/ArtiMakna_TkhWayang_Rmyn_II_3.html

Perpustakaan Rumah Budaya TEMBI di jl. Parangtritis Yogyakarta membuat resensi buku ini yang ditampilkan di situs mereka http://www.tembi.org . Di bawah ini kami tampilkan secara lengkap resensi tersebut.

Judul : Arti dan Makna Tokoh Pewayangan Ramayana dalam Pembentukan dan Pembinaan Watak

Penulis : Suhardi, Wisnu Subagyo

Penerbit : Depdikbud, 1996, Jakarta

Halaman: ix + 106

 

Ringkasan Isi :

Wayang adalah sebuah karya seni yang penuh simbol dan nilai-nilai filosofi tentang kehidupan manusia. Ia banyak menampilkan aspek-aspek dan problem-problem kehidupan manusia baik sebagai individu maupun warga masyarakat luas. Wayang mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang universal dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat pada jamannya. Karakter setiap tokoh pewayangan merupakan lambang dari berbagai pewatakan yang ada dalam kehidupan manusia. Misal watak baik, buruk, kesetiaan dan lain-lain.

Ada banyak tokoh dalam seri Ramayana. Karena berbagai keterbatasan tokoh yang dijadikan contoh terutama Dewi Shinta, Raden Gunawan Wibisana, Raden Subali, Raden Sugriwa dan Patih Prahasta.

Dewi Shinta adalah putri Prabu Janaka dari kerajaan Mantili. Ia menjadi istri Rama setelah melalui sayembara.

Raden Gunawan Wibisana adalah putra Dewi Sukesi dengan Resi Wisrawa. Ia terpaksa meninggalkan negara Alengka dan berpihak pada Rama karena tidak setuju dengan perbuatan kakaknya (Prabu Dasamuka raja Alengka) yang menculik Sinta.

Raden Subali dan Sugriwa adalah putra Resi Gotama dan Dewi Windradi. Semula mereka berwajah tampan dengan nama Raden Guwarsa dan Raden Guwarsi. Akibat perbuatannya sendiri (berebut sebuah cupu) mereka berubah wujud menjadi kera dan namanya pun ikut diganti.

Patih Prahasta adalah putra Prabu Sumali dengan Dewi Danuwati. Prahasta adalah adik Dewi Sukesi dan pada waktu Dasamuka mendi raja ia diangkat menjadi patihnya.

Kelima tokoh di atas memiliki karakter dan sifat-sifat tersendiri yang bisa diambil hikmahnya dalam kehidupan kita. Banyak nilai-nilai yang dapat diambil dan dipelajari.

 

Nilai kesetiaan.

Nilai kesetiaan pada Dewi Shinta sangat jelas. Dia rela menderita dengan ikut Rama hidup di hutan. Juga ketika dalam cengkeraman Raja Dasamuka yang ingin memperistrinya, ia tak bergeming sedikit pun walaupun diiming-imingi berbagai hal. Selain kesetiaan hal ini juga menunjukkan kesucian hatinya. Nilai kesetiaan juga diperlihatkan oleh Patih Prahasta yang rela mati (dalam perang melawan Rama). Ia rela mati bukan membela Dasamuka yang angkara murka, tetapi karena kesetiaan pada negaranya dan ketidakrelaannya melihat prajurit Alengka banyak yang mati atau menderita karena perang melawan pasukan Rama.

Nilai kepatuhan.

Kepatuhan memiliki nilai tinggi (dihargai dan dihormati) buat orang yang menjalankannya, karena menjadi tolok ukur tentang kehormatan, harga diri dan kepahlawanan seseorang. Dewi Shinta patuh ketika menerima nsehat ayahnya untuk mengadakan sayembara memilih suami. Raden Guwarsa dan Raden Guwarsi (Subali dan Sugriwa) mematuhi perintah ayahnya untuk bertapa memohon ampun pada Tuhan sebagai penebus perbuatannya.

Nilai kepemilikan.

Memiliki sesuatu itu (misal rumah, gelar, istri/suami) ada aturan atau undang-undangnya. Artinya siapapun yang memiliki sesuatu keberadaannya dilindungi undang-undang. Rama yang telah memiliki Shinta tidak dapat diganggu gugat. Shinta yang telah “dimiliki” Rama (sebagai suami) pun berusaha menjaga nilai kepemilikan tersebut. Prahasta yang merasa memiliki negara Alengka merelakan kematiannya karena membela negaranya. Ia mati demi harga dirinya dan harga diri negara, bukan membela Dasamuka yang angkara murka.

Nilai kearifan dan kebijaksanaan.

Arif berarti tahu membedakan dan memilih antara yang baik dan yang buruk. Bijaksana adalah sifat dan sikap yang dapat menempatkan suatu masalah pada proporsi yang benar menurut aturan yang berlaku. Karena itu rasa moral yang tinggi seharusnya melandasi semua pikiran dan tingkah laku pemimpin. Dasamuka adalah raja yang tidak arif dan bijaksana sehingga membawa kehancuran bagi rakyat dan negaranya. Wibisana adalah tokoh yang arif dan bijaksana serta luas pengetahuannya. Wibisana selalu menghargai pendapat orang lain baik penguasa maupun rakyat kecil, selalu dapat menimbang apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan.

Nilai ksatria.

Sifat satria adalah sifat yang selalu membela kebenaran, tidak takut menghadapi kesulitan serta bersedia mengakui kekurangan atau kesalahannya. Atas dasar hal tersebut Wibisana berani mengesampingkan nilai “berbakti” pada kakaknya. Ia dengan berani tidak henti-hentinya menasehati Dasamuka agar mengembalikan Shinta pada Rama, walaupun akibatnya ia diusir oleh kakaknya. Wibisana rela meninggalkan kemewahannya di Alengka sebagai konskuensi dari tindakannya. Hal ini juga mencerminkan sikap keteguhan hatinya.

Nilai pengendalian diri.

Pengendalian diri adalah sikap batin manusia dalam usaha mengontrol nafsu-nafsunya dan melepaaskan pamrihnya untuk mendapatkan keselarasan hidup. Sugriwa dan Subali adalah gambaran manusia yang kurang bisa mengendalikan diri. Sekalipun mengetahui ibunya telah menjadi tugu, mereka belum sadar akan perbuatannya dan tetap berebut sebuah cupu, penyebab malapetaka keluarga Resi Gotama.

Nilai ketekunan dan keuletan.

Ketekunan dan keuletan diartikan sebagai sikap tidak menyerah pada berbagai rintangan atau hambatan yang dihadapi demi mencapai cita-cita atau tujuan (terlepas dari baik atau buruk tujuan tersebut). Subali dan Sugriwa dengan sekuat tenaga berusaha memiliki cupu, juga dengan tekun dan ulet melaksanakan tapa yang berat sebagai penebus perbuatannya.

Nilai etika.

Berdasarkan etika seseorang harus dapat membedakan hal yang buruk dan baik, hal yang benar dan hal yang salah. Prahasta adalah gambaran orang yang bisa membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Ia penasehat Prabu Dasamuka sekalipun nasehatnya tidak pernah diperhatikan. Ia menghadapi “buah simalakama” tetapi tetap harus memilih. Akhirnya ia memilih menjadi senapati Alengka bukan karena membela Dasamuka tetapi membela negaranya.

Dari uraian di atas jelas terkandung nilai-nilai pendidikan, baik pendidikan yang mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia maupun manusia dengan lingkungan alam. Yang baik adalah manusia bisa menjaga keharmonisan hubungan tersebut.

Pentas Ramajana oleh Rachmadi Pradjasudira.

Pagelaran Sendratari Ramayana di pelataran Candi Larajonggrang, Prambanan, Yogyakarta mulai dipagelarkan pada bulan Agustus 1961.

Satu buku berjudul “Pentas Ramajana” karya Rachmadi Pradjasudira dengan hiasan foto oleh Tioso diterbitkan oleh Badan Penerbit “Kesatuan”, Yogyakarta pada tahun 1961 dimaksudkan sebagai booklet panduan bagi para penonton pagelaran tersebut. Berisikan uraian tentang sejarah pagelaran tersebut dan kemudian cerita lengkap Ramayana.

“Ebook” utuh buku tersebut bisa diunduh di internet pada alamat URL :
http://www.4shared.com/file/142767631/877e49c6/Ramajana_Rachmadi.html

Selamat membaca. Salam dari laman Wayang Purwa Buku di Facebook 

http://www.facebook.com/pages/Wayang-Purwa-Buku/82972305747


Blog Stats

  • 767,360 hits

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 64 other followers

Halaman dilihat :