Pustaka Wayang

Posts Tagged ‘Semar

The 7 Habits of Highly Effective People Versi Semar & Pandawa oleh Pitoyo Amrih.

 (diunggah pertama 17 Aug 2009 : Budi Adi Soewirjo)

 

Data buku :

Judul buku : The 7 Habits of Highly Effective People Versi Semar & Pandawa
Penulis : Pitoyo Amrih
Penerbit : Pinus Publisher, Yogyakarta, 2008
Nomor ISBN : 9799901499, 9789799901491
Jumlah halaman : 227 halaman

 

A.

Editor Pinus Publisher menulis :

Tujuh Kebiasaan efektif Stephen Covey telah menginspirasi kita dan jutaan manusia dunia tentang bagaimana menjalani hidup yang efektif dan berkualitas. Dan kita sendiri hamper lupa, bahwa ajaran Covey telah termaknai dalam nilai-nilai budaya ketimuran yang tercermin dalam perilaku tokoh wayang Semar dan Pandawa.

Buku “The 7 Habits of Highly Effective People Versi SEMAR dan PANDAWA” akan memberikan inspirasi persis seperti pemikiran Covey tentang perubahan paradigma yang membawa individu atau kelompok agar lebih efektif dalam menjalani kehidupan. Bedanya buku ini tidak mengambil ide kepemimpinan dari paradigma dunia barat, tetapi lewat ajaran filosofis ketimuran dengan mengambil karakter dalam tokoh kisah pewayangan. Seperti Semar, dewa yang memilih menitis diri sebagai manusia merupakan sifat rendah hati.

Sifat ini identik dengan nilai kebesaran jiwa yang menyempurnakan tujuh kebiasaan efektif Stephen Covey. Kekompakan Pandawa merupakan pencerminan dari nilai “Sinergi”. Pilihan Yudhistira menerima permainan dadu identik dengan nilai “Berpikir Menang-Menang”. Kebiasaan ksatria menegmbangkan diri identik dengan nilai “Mengasah Gergaji” dan masih banyak ulasan menarik tentang tujuh kebiasaan efektif lainnya.

Alhasil, kelebihan buku ini dapat dengan mudah dicerna dan diaktualisasi karena memiliki nilai kedekatan emosi, sifat dan karakter ketimuran. Sehingga pada tingkatan aplikasi sangat mudah untuk dilakukan.

 

B.

Pratinjau Terbatas di Google Books bisa dilihat di :
http://books.google.com/books/p/pub-6218744198074454?id=fB8XaAgDpz4C&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_v2_summary_r&cad=0#v=onepage&q=&f=false

menampilkan sebagian halaman buku ini.

 

C.

Profil ( ‘ bentuk rupa ‘ ) penulis Pitoyo Amrih dan daftar buku hasil karyanya yang lain bisa di baca di : http://www.facebook.com/note.php?note_id=116180084020

 

(akhir unggah 17 Aug 2009)

Advertisements

Buku Wayang : Pacandra Warnane Semar Gareng Petruk oleh R. Tanojo.
R. Tanojo, pacandra, menguraikan dengan kata-kata sesuatu wujud, simbol di wewujudan wayang kulit purwa, semar, gareng, petruk.

Kebudayaan Jawa senang dengan “ bahasa simbol “ , untuk menjelaskan sesuatu sering diwujudkan dengan simbol / “ gegambaran “. Kemudian “ gegambaran “ tadi “ dicandra “. “ Dicandra “ (kata kerja) kurang lebih artinya menguraikan dengan kata-kata sesuatu wujud atau keadaan .

Rekan Mawan Sugiyanto dari laman wayang electronic http://e-wayang.org , telah mengembangkan gambar wayang kulit purwa punakawan Semar, Gareng dan Petruk secara digital. Di wewujudan tokoh punakawan ini orang Jawa juga membubuhkan simbol-simbol.

Admin Wayang Purwa Buku mencari kembali di koleksi buku-buku wayang yang menceritakan arti simbol-simbol di wewujudan tokoh punakawan tadi. Di buku Sadjarah Pandawa dan Korawa penulis R. Tanojo menguraikan “ Pacandran Semar Gareng Petruk “. Di bawah ini Admin mengutipnya sebagai peran serta dukungan ke laman e-wayang memperkaya bahan kepustakaan. Tentu saja tulisan R. Tanojo ini merupakan salah satu ‘ tafsir ‘, mungkin masih ada ‘ tafsir ‘ lain dari penulis atau dalang lain. Seni terbuka untuk bebas ‘ ditafsirkan ‘. Bukankah begitu ?

Pacandran warnane Semar :

Semar, dedege cebol, sirah cilik rambut cendhak warna ireng, nganggo kuncung rambut putih, idepe ngramyang, mata rembes, (pacandran loro iki ing gambar wayang ora bisa cetha, bisane ngarani mung miturut panjanturing dalang), irung sunti (irung cilik) [atau sunthi ?], lambe cablik (lambe kang tipis), untu siji, rai kapulas putih, nganggo suweng lombok, bokong bunder gedhe, nganggo jarik poleng wangun ceplok kapulas warna papat : abang putih kuning ireng. Arane Semar, Ki Badranaya, Ki Bojagati, Ki Margaewuh. Padunungane ingaran ing Karang Kabolotan.


Terjemahan bebas nya :
Semar, perawakannya cebol, kepala kecil berambuk pendek / cepak warna hitam, berkuncung rambut putih, bulu mata jarang-jarang, mata berair, (dua uraian wujud tadi kalau di gambar tidak bisa jelas, hanya bisa diuraikan dengan narasi dalang), hidung kecil, bibir tipis, gigi satu, wajah berbedak putih, memakai anting-anting (bentuk) lombok, pantat besar bundar, memakai jarik poleng (motif kotak-kotak) dengan empat warna : merah kuning putih hitam. Nama lain Semar, Ki Badranaya, Ki Bogajati, Ki Margaewuh. Tempat tinggalnya bernama Karang Kabolotan.

Pacandran warnane Nalagareng :

Nalagareng iku anake Semar kang tuwa, dedege endhek cilik, sirah gundhul nganggo kucir, matane kera, lambene cupet, irunge bunder gedhe, tangan tekle, sikil pincang bubulen, pasemone peteng, kalunge gobog (dhuwit ing nagara Cina), jarik slobok (wujud kotakan pasagen kagaris tengah saka ing pojok, saparo garis mau kapulas putih, sasisik kapulas ireng), gegamane arit (saweneh ngarani kudi), arane maneh : Cekrutruna.


Ayo, mas Mawan Sugiyanto yang membantu menerjemahkan ke bahasa Indonesia. Mangga.

Tidak sampai lima menit terjemahan mas Mawan Sugiyanto sudah muncul. Terima kasih. Ini terjemahan mas Mawan Sugiyanto :

Nalagareng itu adalah putra Semar yang pertama, perawakannya pendek dan kecil, kepalanya gundul memakai kucir, matanya juling, mulutnya kecil, hidungnya besar dan bulat seperti bola pingpong, tangannya bengkok (ceko), kakinya pincang karena penyakit “bubulen” [keterangan dik Rudy Wiratama : “bubulen” = semacam ” frambusia “], aura wajahnya gelap, berkalung gobog (koin dari negara Cina), sarungnya slobok ( yaitu bercorak kotak-kotak dengan garis-garis diagonal dari sudut-sudutnya, sebagian garis pada sarung berwarna putih, sebagian berwarna hitam), mempunyai senjata sabit (clurit, beberapa orang / pakar menyebutnya kudi). Nalagareng mempunyai alias Cekruktruna.

Pacandran warnane Petruk :

Petruk iku anake Semar kang anom, iya kang aran Kanthongbolong, dedege gedhe duwur, pawakan lurus, sirahe gundhul nganggo kucir, matane keder, irung dawa patrape anjengat, sikil gejig, pasemon dlongeh-dlongeh (lambening wong ngguyu kang tanpa swara), jarik slobog, pada karo jarike Nalagareng, kalunge genta, gegamaning petel.


Mas Mawan Sugiyanto menerjemahkan :

Petruk adalah putra Semar yang lebih muda. Petruk mempunyai alias Kanthongbolong (Kantong Berlubang). Perawakannya tinggi besar dan lurus. Kepalanya gundul memakai kucir, matanya agak juling (keder). Hidungnya panjang mendongak ke atas. Kakinya pincang, tindak tanduk dan auranya suka tertawa tanpa suara, sarungnya slobog, sama seperti Gareng. Berkalung Genta dan menggunakan senjata Kapak.

Selanjutnya penulis R. Tanojo menguraikan arti dari masing-masing simbol yang ada di wewujudan tadi, silakan unduh di :

http://www.4shared.com/file/178660044/c0ace48d/Candra_SemarGarengPetruk.html

Selamat membaca dan mengamati wewujudan tokoh punakawan di e-wayang .

NB :
Mas Mawan, Anda bisa menghubungi mas Harmiel M Soekardjo (ada akun FB nya) yang mempunyai ‘ image ‘ / photo wayang kulit punakawan ketika mereka :
1. Menjadi raja ( di beberapa lakon carangan )
2. Menjadi wanita ( di beberapa lakon carangan juga ).
Kalau wewujudan tersebuti di digital kan, seru juga.
Salam.


Blog Stats

  • 671,288 hits

Categories

Top Clicks

    Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 62 other followers

    Halaman dilihat :

    Advertisements