Posted by: Budi Adi Soewirjo on: June 7, 2011
Halaman ini sedang dipersiapkan untuk posting tentang :
“Boma” – sebuah novel terinspirasi cerita wayang karya Yanusa Nugroho.
Posted by: Budi Adi Soewirjo on: June 7, 2011
Halaman ini sedang dipersiapkan untuk posting tentang :
“Di Batas Angin” – novel wayang karya Yanusa Nugroho.
Posted by: Budi Adi Soewirjo on: June 7, 2011
Halaman ini sedang dipersiapkan untuk posting tentang :
” Manyura “ – novel wayang karya Yanusa Nugroho.
Posted by: Budi Adi Soewirjo on: June 7, 2011
Halaman ini sedang dipersiapkan untuk posting berjudul :
Biodata Yanusa Nugroho – penulis cerita pendek dan novel wayang.
Posted by: Budi Adi Soewirjo on: May 13, 2011
‘Ebook’ buku pedalangan, Ki Ng Wignyosoetarno, Pasinaon Dhalang Mangkunagaran Surakarta, Kawruh Pedhalangan, cepengan, tanceban, sabet, sulukan, pathetan, sendhon, ada-ada, basa, dhodhogan, keprakan, antawacana, sengsem, nges, nawung kridha, sambegana, uda nagara, Ki Eko Prasetyo, dalang Amarta.
Data buku :
Isi buku ini :
Cuplikan isi buku :
Bab Sulukan.
Sulukan punika kaperang dados 3 (tiga) :
Berita gembira mengenai kegiatan konservasi kepustakaan wayang. Pindaian ini terlaksana berkat pemindaian yang dilaksanakan oleh Ki Eko Prasetyo dari Surakarta. Beliau akan secara sukarela terus membantu kegiatan konservasi kepustakaan wayang dengan pemindaian kepustakaan wayang koleksi pribadi beliau maupun koleksi anggauta-anggauta dari Paguyuban Dalang Amarta di Surakarta. Pengasuh blog Wayangpustaka mengucapkan beribu ribu terima kasih atas peran serta Ki Eko Prasetyo dan rekan-rekan dalang Amarta. Dengan semua usaha ini, semoga kepustakaan wayang lama bisa lebih mudah dibaca para peminat / peng-apresiasi terutama generasi muda Indonesia.
‘Ebook’ Kawruh Pedhalangan ini bisa diunduh gratis di alamat URL sbb ( dua file ) :
http://www.4shared.com/document/77nC7Xnw/01_Kawruh_Pedhalangan_Wignyosu.html
dan
http://www.4shared.com/document/tlfpVJkZ/02_Kawruh_Pedhalangan_Wignyosu.html
Ditulis oleh Budi Adi Soewirjo, Jakarta, 13 Mei 2011.
Posted by: Budi Adi Soewirjo on: May 13, 2011
Penataran, PSTK ITB, Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan, Institut Teknologi Bandung, Tari, Karawitan, Gambang, Gender, Siter, Rebab, Kendangan Tari, Kendangan Gendhing, Bowo, Gerong, Sulukan Pedalangan, Gunawan, Bambang Sadarta, Budi Adi Soewirjo, Tri Wibowo, Gunawan Sudarmadji, Muriawan, Widodo Gunawan, Priadi Dwi Hardjito, Raharjo Hutamadi, Sujana Sujanadi, Prayoga, Konservatori Surakarta, FX Soebanto, Parsono, Sudjono SA, Djumadi, Walidi, Suroso Daladi Hadisiswoy, Subantar, ISI Surakarta, ISI Yogyakarta, Lukman Samboja.
Ditulis oleh Budi Adi Soewirjo, 12 Mei 2011.
Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan Institut Teknologi Bandung ( PSTK ITB ) pernah mengadakan penataran memainkan alat musik gamelan lanjutan, bowo, gerong serta sulukan pedalangan dengan mengirimkan beberapa anggauta PSTK ITB yang berstatus mahasiswa ITB belajar ke Konservatori Surakarta pada masa liburan kuliah antara tanggal 04 Juli sampai dengan 14 Agustus 1975. Karena keterbatasan waktu dan dana, maka masing-masing peserta ditugaskan mempelajari satu alat musik lanjut dengan intensif.
Setelah penataran karawitan, dilanjutkan dengan penataran tari yang dilaksanakan di Bandung antara tanggal 31 Agustus 1975 sampai dengan 26 Oktober 1975 yang diikuti oleh beberapa anggauta PSTK ITB.
Dari penataran tersebut masing-masing peserta menuliskan apa yang dipelajari selama mengikuti penataran, dan PSTK ITB menerbitkannya dalam buku berjudul Penataran PSTK ITB 1975. Kemudian para peserta saling menularkan pengetahuannya kepada anggauta PSTK ITB yang lain.
Tulisan penataran karawitan tersebut bisa dimanfaatkan oleh Pembaca untuk belajar sendiri memainkan alat musik gamelan lanjutan sekiranya Pembaca berada jauh dari kota atau pulau Jawa.
Pembaca bisa unduh gratis tulisan tersebut.
Pindaian tulisan penataran telah dilaksanakan oleh Bpk Lukman Samboja – alumni PSTK ITB alumni Teknik Elektro ITB . Penulis ucapkan terima kasih atas usaha Bpk Lukman Samboja yang telah memindai dan meng kompresi file digital nya.
Inilah alamat URL file sharing nya . Alat musik gamelan lanjutan , bowo, gerong dan sulukan pedalangan :
Gambang :
Siswa : Bambang Sadarto, mahasiswa Teknologi Perminyakan ITB
Guru dari Konservatori Surakarta : Bpk FX Soebanto
http://www.4shared.com/document/14NUMdZW/Penataran_PSTK_ITB_75-04_Gamba.html
Gender :
Siswa : Budi Adi Soewirjo, mahasiswa Teknik Mesin ITB, 7273015
Guru dari Konservatori Surakarta : Bpk Parsono
http://www.4shared.com/document/Yn6za0D3/Penataran_PSTK_ITB_75-05_Gende.html
Siter :
Siswa : Tri Wibowo, mahasiswa Teknik Kimia ITB, 7173013
Guru dari Konservatori Surakarta : Bpk Sudjono SA
http://www.4shared.com/document/pEfG0AFK/Penataran_PSTK_ITB_75-06_Siter.html
Rebab :
Siswa : Gunawan Sudarmadji, mahasiswa Teknik Sipil, 8172076
Guru dari Konservatori Surakarta : Bpk Djumadi
http://www.4shared.com/document/OkkL_Ra3/Penataran_PSTK_ITB_75-07_Rebab.html
Kendang Tari dan Kendang Gendhing :
Siswa : Muriawan, mahasiswa Teknik Fisika ITB, 7473026
dan Widodo Gunawan, mahasiswa TPB 074598 kemudian masuk Teknik Arsitektur ITB
Guru dari Konservatori Surakarta : Bpk Walidi
http://www.4shared.com/document/p1ss297u/Penataran_PSTK_ITB_75-08_Kenda.html
Bowo dan Gerong :
Siswa : Priadi Dwi Hardjito, mahasiswa Teknik Mesin ITB, 7270008
dan Gunawan Sudarmadji, mahasiswa Teknik Sipil ITB, 8172076
Guru dari Konservatori Surakarta : Bpk Suroso Daladi Hadisiswoyo
http://www.4shared.com/document/62ZSgMYy/Penataran_PSTK_ITB_75-09_Bowo_.html
Sulukan Pedalangan :
Siswa : Priadi Dwi Hardjito, mahasiswa Teknik Mesin ITB, 7270008
Guru dari Konservatori Surakarta : Bpk Subantar
http://www.4shared.com/document/139jCGz-/Penataran_PSTK_ITB_75-10_Suluk.html
Di samping tulisan penataran karawitan, ada tulisan tentang Penataran Tari yang ditulis oleh Bpk Gunawan seorang pelatih tari Jawa yang berdomisili di Bandung :
http://www.4shared.com/document/YWx0NFeX/Penataran_PSTK_ITB_75-03_Tari_.html
Tambahan tulisan tentang Penataran PSTK ITB :
Ide, rencana, dukungan civitas academica ITB, pelaksanaan.
http://www.4shared.com/document/WR_-2f3u/Penataran_PSTK_ITB_75-01_Penat.html
Tambahan tulisan tentang PSTK ITB :
Sejarah berdirinya, dasar ( AD dan ART ), kepengurusan, kegiatan.
http://www.4shared.com/document/xudEO6EH/Penataran_PSTK_ITB_75-02_PSTK_.html
Setelah melaksanakan penataran karawitan, tari dan pedalangan, PSTK ITB pada kegiatan acara ulang tahun perkumpulan ke 5 mementaskan Sendratari ‘ Cindelaras ‘ dan pakeliran wayang purwa semalam suntuk dengan tiga dalang : Raharjo Hutamadi (mahasiswa Teknik Pertambangan 1974) gagrag Surakarta patet Nem karena suaranya berat, Sujana Sujanadi (mahasiswa Teknik Planologi 1974) gagrag Yogyakarta patet Sanga karena paling pandai sabetannya cocok untuk perang kembang / Cakil, Prayoga (mahasiswa Teknik Mesin 1974) gagrak Surakarta pathet Manyura. [ Catatan : Bpk Prayoga setelah lulus berprofesi sebagai engineer di bidang oil & gas namun tetap mendalang. Di Bandung Wayang Festival 30 April 2011 Bpk Prayoga juga tampil mendalang. Sebelumnya Ki Jaka Darmo Karsono – alumni Teknik Sipil ITB dan alumni PSTK ITB sekarang engineer di Kementerian Pekerjaan Umum - juga tampil mendalang. ]
Kegiatan pentas karawitan, tari dan pedalangan secara teratur di pentas kan dari tahun ke tahun oleh PSTK ITB , dilaksanakan oleh anggauta nya yang silih berganti ( yang sudah lulus ITB meninggalkan kota Bandung digantikan oleh anggauta baru mahasiswa ITB yang baru masuk ).
Tahun 2010 lalu PSTK ITB menyelenggarakan penataran karawitan di Institut Seni Indonesia Surakarta dan penataran tari di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Muara dari penataran berwujud suatu pementasan sendratari Ramayana bulan April 2011 sebagai salah satu acara kegiatan peringatan ulang tahun PSTK ITB ke 40.
Semoga kegiatan apresiasi seni budaya lokal (dan global) di lingkungan civitas academica ITB bisa terus berjalan dengan lancar dan berkembang. Amin.
Budi Adi Soewirjo, Jakarta, 12 Mei 2011.
Posted by: Budi Adi Soewirjo on: April 11, 2011
‘Ebook’ buku ‘Wanda Ringgit Purwa milik Keraton Surakarta’
Alih aksara :
Moelyono Satronaryatmo
Departemen Pendidikan dan Kebuadayaan Republik Indonesia, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Jakarta, 1981
Berbagai Ragam bentuk atau wujud (wanda)
Wayang Purwa milik Keraton Surakarta,
sejumlah 85 macam
Nama-nama wayang tersebut di atas dan berbagai ragam bentuk atau wujudnya
(wanda) merupakan pola jadi (corekan dados) bagi penggarap wayang, khususnya dalam
ukuran, macam tatahannya dan bentuk-bentuknya, adapun ukuran yang tercantum di sini
mencakup lebar dan tinggi bentuk wayang.
Beberapa tokoh dalam dunia pewayangan adakalanya mem punyai bentuk lebih
dari satu, demikian dapat dilihat dalam daftar tersebut di atas. Dibedakan suatu tokoh
pewayangan dalam masa remaja dan masa sesudah remaja, demikian pula nama-nama
untuk tokoh pewayangan seringkali dibedakan nama masa muda dan masa tua. Sebagai
contoh: Janaka, pada masa mudanya dinamakan Permadi, Baladewa, pada masa mudanya
bernama Kakrasana, Kresna, bernama Narayana dan lain sebagainya.
Penggunaan wayang dengan bentuknya masing-masing diatur pula sesuai dengan
waktu (pathet/Jw) dan tugasnya sesuai dengan alur cerita. Sebagai contoh: Wrekodara,
bentuk Lindu, waktu muncul sesuai dengan masa patet nem. Bentuk Mimis, keluar
pada masa patet manyura, bentuk Jagur dalam patet sanga dan lain sebagainya. Untuk
memperjelas bentuk-bentuk tokoh pewayangan tersebut diatas, akan dicoba diberikan
keterangan artian wanda bentuk tadi, sesuai dengan arti kata yang dipergunakan untuk
menamakannya. Dalam mencoba mengartikan apa yang dimaksud dengan bentuk dan
namanya, dipakai senagai dasar uraian kamus bahasa Jawa “Dr. Th.Pigeuad. Javaans –
Nederlands Handwoordenboek; J.B. Wolters’ Uitgevers – Maatschappij, N.V.; Groningen,
Batavia, 1938”.
Nama Wayang dan bentuk wanda, arti kata
1. Puntadewa bentuk jimat; jimat - amulet; sesuatu yang dianggap mempunyai daya
kekuatan, selalu dijunjung tinggi dan dihargai.
2. Puntadewa bentuk deres; deres - berlebih-lebihan, berlimpah-limpah.
3. Puntadewa bentuk malatsih; malatsih - mendekatkan rasa sayang, memikat hati.
4. Wrekodara bentuk mimis; mimis - peluru.
5. Wrekodara bentuk gurnat; gurnat - granat.
6. Wrekodara bentuk lintang; lintang – bintang.
7. Wrekodara bentuk lindupanon; lindu - gempa bumi, panon -raut muka.
8. Wrekodara bentuk lindu; lindu - gempa bumi.
9. Permadi bentuk penganten; penganten - temanten, mempelai.
10. Permadi bentuk pacel atau patah; pacel - penyerang, penggempur, tukang berkelahi;
patah - pengapit mempelai, biasa terdiri dari puteri remaja, ataupun laki-laki sebanyak
dua orang.
11. Permadi bentuk pangawe; pengawe -ngawe : memberi isyarat dengan tangan dengan
maksud supaya lebih mendekat.
12. Permadi bentuk malatsih; malatsih - malat berarti menjadi panjang, mengalir, bangkit,
garang tajam; sih – cinta, sayang.
13. Permadi bentuk malat; malat berarti menjadi panjang, mengalir, bangkit, garang tajam;
malatsih – bangkit, berkobar sayang, kasih.
14. Janaka bentuk kinanti; kinanti - dikanthi – digandeng tangannya, dapat juga berarti
diajak sebagai teman dalam perjalanan.
15. Janaka bentuk jimat; jimat - amulet; sesuatu yang dianggap mempunyai daya kekuatan,
selalu dijunjung tinggi, dihormati.
16. Janaka bentuk kanyut; kanyut - terhanyut, kenyut – terbawa oleh arus, dapat juga berarti
jatuh asmara, jatuh cinta.
17. Janaka bentuk mangu; mangu - mangu-mangu berarti bimbang di hati belum
mendapatkan keputusan dalam hati, ragu-ragu, risau hatinya.
18. Sadewa remaja bentuk banjet; banjet - berkata dengan manis sebab mempunyai tujuan
tertentu yang harus dicapainya.
19. Sadewa bentuk banjet; banjet - berkata dengan kata-kata yang manis untuk memikat
dengan tujuan sesuatu.
20. Nakula remaja bentuk buntit; buntit - keriting, ikal.
21. Nakula bentuk buntit; buntit - keriting, ikal.
22. Irawan bentuk padasih; pada - ada persamaannya, sih - cinta, sayang.
23. Abimanyu bentuk jayenggati; jayenggati - dapat diartikan juga jaya ing ati, Jaya berarti
kemenangan , menang , kebahagiaan , keselamatan ; gati berarti tugas , perjalanan,
pekerjaan, cara melakukan suatu pekerjaan, tekun menjalankan tugasnya, bersungguhsungguh
melakukan pekerjaannya dan lain sebagainya.
24. Abimanyu bentuk buntit; buntit - keriting, ikal.
25. Gatotkaca bentuk tatit-remaja; tathit, thathit (Jw) halilintar.
26. Gatotkaca bentuk tatit-tua; tathit, thathit (Jw) halilintar.
27. Gatotkaca bentuk guntur; guntur - air pasang yang sangat dahsyat sehingga
menimbulkan banjir, malapetaka.
28. Gatotkaca bentuk kilat; kilat - bercahaya, cemerlang.
29. Antareja bentuk putut; putut - puthut (Jw), berarti penganut, murid dari suatu
pertapaan, paguron.
30. Antareja bentuk naga; naga - ular yang besar dan menakutkan.
31. Semar bentuk mega; mega - awan.
32. Semar bentuk watu; watu - batu.
33. Semar bentuk dukun; dukun - dhukun (Jw), berarti orang yang berilmu, khususnya
dalam menawarkan malapetaka, memberikan kesembuhan.
34. Semar bentuk ginuk; ginuk - leadaan badan yang tidak imbang, antara berat dan
kegemukannya, dapat diartikan juga gemuk dan berat sehingga bentuk tidak keruan.
35. Gareng bentuk prekul; prekul - atau prekal, prekol (Jw) berarti tidak lurus, bengkak -
bengkok, agak membungkuk.
36. Gareng bentuk kancil; kancil – nama binatang terkenal dalam dongeng karena
kecerdikannya.
37. Petruk bentuk jomblang; jomblang - penghubung, untuk wanita dan pria, atau sebaliknya.
38. Petruk bentuk mesem; mesem - tersenyum.
39. Bagong bentuk gilut; gilut - mengenyam, mengabdikan diri kepada, dapat juga
berarti selalu dekat tak mau jauh-jauh kepada sesuatu atau seseorang.
40. Bagong bentuk gembor; gembor - alat untuk menyiram tanaman atau bunga,
berteriak-teriak, atau dapat berarti juga menangis
41. Kakrasana bentuk sembada; sembada - sembada berarti baik dan bagus dalam
keadaan keseluruhannya, tepat atau terpilih, terpuji dalam lahir maupun batinnya.
42. Kakrasana bentuk kilat; kilat - cahaya, cemerlang dapat juga diartikan cahaya dari
halilintar.
43. Baladewa bentuk rayung kadipaten; rayung - sejenis tanaman alang-alang, rayungrayung
berarti dalam keadaan panjang dan kecil sebagai contoh “Drijine
ngrerayungan atau rayung-rayung,” berarti jari jemarinya panjang dan kecil-kecil
(langsing).
Adapun kata kadipaten agaknya menunjukkan Baladewa bentuj rayung tersebut
berasal dari kadipaten.
44. Baladewa bentuk sembada; sembada - sembada berarti baik dan bagus dalam
keadaan keseluruhannya, tepat atau terpilih, terpuji dalam lahir maupun batinnya.
45. Baladewa bentuk geger; geger - ribut, kacau, rame.
46. Baladewa bentuk kaget; kaget - terperanjat.
47. Baladewa bentuk pariksa; pariksa - memerikasa, mencari, dapat juga kata priksa
(Jw) berarti mengetahui, mengenal.
48. Narayana bentuk sembada; sembada - sembada berarti baik dan bagus dalam
keadaan keseluruhannya, tepat atau terpilih, terpuji dalam lahir maupun batinnya.
49. Narayana bentuk geblag; geblag - jatuh terlentang, merata.
50. Kresna bentuk rondon; rondon - daun, hiasan atau rangkaian, rangkuman, terdiri
dari bulu-bulu domba hiasan daun katangan daun-daunan.
51. Kresna bentuk gendreh; gendreh - indah, bagus, halus.
52. Kresna bentuk mawur; mawur - bercerai-cerai, dapat juga beraru bagus, indah
seperti butiran padi.
53. Samba bentuk buntit; buntit - keriting, ikal.
54. Samba bentuk sembada; sembada - sembada berarti baik dan bagus dalam
keadaan keseluruhannya, tepat atau terpilih, terpuji dalam lahir maupun batinnya.
55. Samba bentuk banjed; banjet - berkata dengan kata-kata yang manis untuk memikat
dengan tujuan sesuatu.
56. Udawa bentuk tandang; tandang - bekerja, melaksanakan pekerjaan, bertempur,
berkelahi.
57. Udawa bentuk jaran; jaran - kuda.
58. Setyaki bentuk mimis; mimis - peluru.
59. Setyaki bentuk akik; akik - sejenis batu permata (agaat – Bld.).
60. Setyaki bentuk wisnua; wisnua - bahaya, muram, murung, sedih, susah.
61. Suyudana bentuk jaka; jaka - remaja, dalam hal ini, belum beristri, untuk laki-laki.
62. Suyudana bentuk jangkung; jangkung - langsing, semampai, tinggi besar.
63. Kurupati bentuk jaka; jaka - remaja, dalam hal ini, belum beristri, untuk laki-laki.
64. Kurupati bentuk jangkung; jangkung - langsing, semampai, tinggi besar.
65. Banowati bentuk berok; berok - berarti a.l. kambing betina dari jenis tertentu
(wedhus berog – Jw.).
66. Banowati bentuk golek; golek - boneka.
67. Karna bentuk bedru; bedru - selisih, berbeda paham, usik, rintangan.
68. Karna bentuk lontang; lontang - dibawa lari, berubah warna, berganti warna.
69. Dursasana bentuk gambyong; gambyong - tergantung pada (khususnya untuk
buah-buahan), nggambyung (Jw), nggambyong (Jw) – berarti juga “menari
sendiri” khususnya diperuntukkan bagi penari putri untuk mengawali pesta
peralatan; juga berarti wayang kulit putri untuk menampilkan taran khusus
“gambyongan.”
70. Dursasana bentuk golek; golek - boneka.
71. Pragota bentuk penganten; penganten - mempelai, temanten.
72. Pragota bentuk putut; putut - puthut (Jw), berarti penganut, murid dari suatu
pertapaan, paguron.
73. Cakil bentuk naga; naga - ular yang besar dan menakutkan.
74. Cakil bentuk menyore; menyore - nyore (Jw) berarti petang, malam.
75. Cakil bentuk batang; batang - bangkai.
76. Guru bentuk candi (a); candi – arca atau candi.
77. Guru bentuk karno; karna – kata karna diartikan tutup kepalanya yang berbentuk
seperti tutup kepala adipati karna
78. Guru bentuk candi (b); candi – arca atau candi.
79. Durga bentuk gedrug; gedrug – ,menghentak-hentakkan kaki di tanah karena marah,
murka. Dapat juga berarti menyepak-nyepak disebabkan bangkit kemarahannya;
tidak sabar dan lain sebagainya.
80. Durga bentuk gidrah; gidrah – atau gibrah, kiprah berarti meloncat-loncat,
bergerak-gerak dikarenakan kegarangan hatinya, kerisauannya, kemarahaannya
81. Naga; dalam gambarnya tidak ada penjelasan lebih lanjut.
82. Dasamuka bentuk belis; belis – setan, jahanam, durhaka.
83. Dasamuka bentuk bugis; bugis – ragam dari seberang.
84. Kumbakarna bentuk barong; barong – dapat diartikan dalam bentuk raksasa yang
sangat menakutkan, mengerikan.
85. Kumbakarna bentuk macan; macan – harimau.
‘Ebook’ / pindaian buku / foto halaman-halaman adalah hasil peran serta dik Christoper Dewa Wardana, seorang pemuda Indonesia pecinta wayang yang saat ini mukim dan bekerja di San Franscisco sebagai arsitek / perancang ruang dalam. Buku tersebut di foto di perpustakaan Universitas Berkeley Amerika Serikat. Dik Christoper juga aktif ‘ nyorek ‘ / menggambar wayang, dan merencanakan menyusun buku wayang gagrag Yogyakarta.
Untuk mengunduh ‘ebook’ tersebut pembaca bisa kunjungi URL
http://www.4shared.com/document/vViR_Lvy/Full.html
dengan besar file kurang lebih 32 MegaByte.
Posted by: Budi Adi Soewirjo on: April 10, 2011
‘Ebook’ Wanda Wayang Purwa Gaya Surakarta
Disusun bersama oleh para pengajar ASKI ( Akademi Seni Karawitan Indonesia ) Surakarta, nama-nama nya tertulis di dalam Kata Pendahuluan.
Diterbitkan oleh Sub / Bagian Proyek Akademi Seni Karawitan Indonesia, Proyek Pengembangan Institut Kesenian Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tahun 1978 / 1979.
Pindaian ini bisa terlaksana atas bantuan Eko Prasetyo dan Rudy Wiratama Partohardono dari Surakarta yang bisa mengusahakan foto copy dari buku ini. Pindai dilaksanakan di Jakarta tanggal 10 April 2011 oleh B A Soewirjo.
Kata Pendahuluan di buku tersebut :
Seperti telah kita ketahui, bahwa pakeliran ada juga menggunakan medium pokok “rupa”, selain medium pokok lainnya seperti gerak, suara dan bahasa. Kesemuanya itu saling mendukung keberhasilan sajian. Medium rupa dalam wayang mempunyai unsur tatahan, sunggingan dan wanda.
Di dalam pakeliran “wanda” sebagai salah satu unsur medium rupa, berperan penting untuk memantapkan “rasa” suatu tokoh. Kemantapan ini bisa dicapai karena ada kesesuaian antara suasana adegan dengan wanda tokoh yang digunakan, di samping juga unsur-unsur penting lainnya, yaitu penyuaraan, sanggit, sabet, sulukan dan lain sebagainya. Dengan demikian jelaslah bahwa ketetapan seorang seniman dalang memilih “wanda” mempunyai andil dalam keberhasilan sajian.
Untuk jelasnya di sini kami kemukakan contoh-contoh penggunaan “wanda” dari tokoh Baladewa :
- Pada adegan yang bersuasana netral “merdika” ( tidak ada “rasa” susah, marah dan sebagainya) digunakan Baladewa wanda “Paripeksa”.
- Dalam peperangan digunakan Baladewa wanda “Geger”.
- Untuk menghadiri suatu peralatan, Baladewa wanda “Jagong”.
- Dalam suasana marah, terkejut, wanda “Kaget” yang digunakan.
Dengan demikian jelas bahwa penggunaan wanda itu tergantung pada suasana yang ingin didukung. Tentunya penggunaan wanda seperti tersebut di atas adalah didasari oleh kebiasaan konvensionil dalang-dalang pada waktu terdahulu.
Dewasa ini jarang sama sekali seniman dalang memperhatikan masalah ini. Ini bisa kami amati pada survey pendahuluan, yaitu pengamatan terhadap sajian pakeliran, wawancara dengan dalang-dalang muda, adalah jarang memperhatikan masalah wanda tersebut. Salah satu sebab ialah kurangnya informasi tentang wanda.
Keadaan semacam ini perlu disesalkan, apalagi sampai saat ini belum ada sama sekali yang menulis tentang “Wanda Wayang”. Ditambah lagi adanya situasi yang mengkhawatirkan, yaitu makin menyusutnya seniman dalang yang tahu tentang “wanda”, karena usia mereka yang kebanyakan sudah lanjut, yaitu lebih dari 65 tahun.
Dengan pertimbangan tersebut maka kami juga memilih “wanda wayang” sebagai salah satu sasaran pendokumentasian. Karena terbatasnya dana, tenaga dan waktu, kami juga membatasi sasaran pada “wanda wayang purwa gaya Surakarta” yang terdapat di derah eks Karesidenan Surakarta.
Hasil pendokumentasian ini diharapkan bisa merupakan bahan penyusunan “Pengetahuan Wanda Wayang”, untuk melengkapi bahan perkuliahan di Akademi Seni Karawitan Indonesia, khususnya pada Jurusan Pedalangan. Lebih luasnya bagi para calon seniman dan seniman dalang, hasil ini diharapkan juga bisa memacu timbulnya kreativitas dalam sajian.
Daerah sasaran kami pilih yang tersebar, dan memiliki banyak dalang yang berpotensi. Informan kami pilih dalang-dalang tua yang mempunyai koleksi wayang lengkap, tahu tentang tatahan dan sunggingan wayang terutama tentang wanda. Setelah diadakan survey pendahuluan, kemudian ditentukan 15 informan yang tersebar di daerah Kabupaten Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Wonogiri, Boyolali dan Surakarta.
Di bawah ini kami kemukakan nama, umur dan alamat dalang informan
Dalam mengumpulkan data kami adakan wawancara berkisar pada :
Nama wanda, ciri-cirinya, perbedaan dengan wanda yang lain pada tokoh yang sama, penggunaannya di dalam pakeliran, siapa penatah dan penyunggingnya, kapan dibuat, tiruan dari mana, siapa pembuat wandanya dan sebagainya.
Selain itu juga diadakan pemotretan untuk tokoh wayang yang sudah mempunyai nama wanda, secara ututh dan bagian-bagian yang menunjukkan ciri khususnya, karena ada sebagian yang belum mempunyai wanda.
Wanda wayang adalah merupakan kesatuan unsur-unsur yang terdiri antara lain :
Setiap satu tokoh wayang bisa mempunyai lebih dari satu wanda. Misalnya tokoh Baladewa, mempunyai wanda : Geger, Paripekso, Kaget, Jagong dan sebagainya, yang masing-masing wanda bisa menimbulkan kesan dan penggunaan yang berbeda, walau tokohnya sama.
Dari keterangan yang dikumpulkan, sulit untuk diketahui kapan masing-masing wanda dibuat dan siapa pembuatnya. Keterangan yang ada masih simpang siur, sukar untuk bisa dipertanggung jawabkan. Sehingga kami hanya mengutarakan nama wanda, ciri-ciri dan penggunaannya.
Laporan kami susun berdasarkan abjad dari nama tokoh wayang dan demikian pula nama wandanya. Dengan menyantumkan ciri-ciri wanda dan penggunaannya.
Pada akhirnya tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada para seniman dalang yang telah memberik informasi tentang wanda, dan kepada siapa saja yang telah membantu kami dalam pendokumentasian ini.
Team dokumentasi :
Akhir dari Kata Pendahuluan.
Setelah Kata Pengantar ada daftar arti kata-kata istilah, misalkan untuk kata-kata yang mulai dengan huruf L :
Lancap = muka menengadah.
Longok = muka agak menengadah ( Lebih tunduk dari lancap ).
Luruh magak = muka agak menunduk.
Luruh = muka menunduk.
Lanyap = muka yang tengadah seperti melihat kejauhan.
Lencir = badan tinggi kecil.
…. dan seterusnya
Contoh uraian tokoh dan salah satu wandanya :
Samba wanda Bontit.
Ciri-ciri :
Mata - bedahan brebes nyamar
Raut muka - kelihatan tersenyum
Leher - longok
Pundak - lurus
Badan - agak besar
Langkah kaki - lebar (njonjong)
Busana - sumping bunga kluwih, jamang dua, sanggul kecil, gruda mendukung sanggul, pantat besar.
Gunanya : kalau Samba sebagai utusan, atau mencuri.
Sayangnya buku ini dicetak secara teknik stencil ( jaman tersebut ini teknik yang paling memungkinkan untuk menekan dana ) sehingga lampiran foto-foto buku ini tidak tercetak jelas, akibatnya makin tidak jelas ketika difoto copy / dipindai.
‘Ebook’ buku ini – tanpa lampiran foto-foto nya – dapat diunduh di URL :
http://www.4shared.com/document/9bienUfB/Wanda_Wyng_Surakarta_ASKI.html
Daftar nama tokoh dan wandanya yang diuraikan dalam buku ini :
Abimanyu wanda Bontit, Banjet, Brebes, Jayeng gati, Kanyut, Malatsih, Mangu, Mriwis, Panji, Rangkung, Bulus.
Anoman wanda Bambang, Barat, Manuko, Prambanan (Reco, Bambang).
Aswatama wanda Merong.
Bagong wanda Gembor, Ngrengkel, Sembada, Gilut, Jembar
Baladewa wanda Bantheng, Geger, Jagong, Kaget, Jago, Sembada, Sepuh.
Bambangan wanda Maya, Miling, Padasih.
Banuwati wanda Berok, Golek,
Bilung wanda Giti.
Bima wanda Bambang, Bedhil, Bugis, Gendhu, Gurnat, Jagong, Jagor, Kedhu, Ketug, Lindhu, Lindhu Panon, Lindhu Bambang, Lintang (Luntang), Panon, Mimis, Thathit.
Bratasena wanda Angkawijaya, Babad,Lindhu Bambang, ? (biasa), Bocah, Bondhan, Gurnat, Jaka, Lindhu Panon, Pecah Bungkus, Putran, Sembada.
Burisrawa wanda Canthuk.
Boma wanda Encik, Sumilih, Wingit/Sutijo.
Cakil wanda Bathang, Kikik, Panji, Gunung Sari.
Cangik wanda Cangik, Mangir.
Darmakusuma wanda Dhanyang, Demit, Deres, Dukun, Jimat, Panuksma, Puthut, Rangkung.
Denawa Nom wanda Barong, Blebar, Jaka, Kopek.
Denawa Raton wanda Bagus, Barong, Begog, Endog, Jaka, Macan, Mendhung, Wewe.l
Durga wanda Belis, Gedrug, Gidrah, Murgan, Surak, Wewe.
Dursasana wanda Gambyong, Golek, Canthuk.
Durmagati wanda Poncol.
Duryudana wanda Jaka, Janggleng, Jangkung, Rangkung.
Gareng wanda Prekul, Wregul, Gembor, Gembor Alit, Gondok, Kancil, Gulon, Wewe.
Gathutkaca wanda Gandrung/Gembleng, Gelap, Jaka, Guntur, Kilat, Sampluk, Pideksa, Thathit.
Guru wanda Karno, Rama, Reca/Arca.
Hudawa wanda Jaka, Jaran, Lapak, Lare, Tandang.
Indrajit wanda Setan.
Jayajatra wanda Bantheng.
Janaka wanda Bronjong, Gendreh, Janggleng, Jimat, Kadung, Kanyut, Kedhu, Kinanthi, Lintang, Malat, Malatsih, Mangu, Mangungkung, Muntap.
Kongso wanda Bogis, Belis.
Karno wanda Bedru, Geblag, Lonthang, Rangkung.
Kakrasana wanda Bantheng, Jagong, Sembada, Jaladara, Kilat, Slebrak.
Kartamarma wanda Bukuh, Merang.
Kayon wanda Jaler, Estri/Wedok.
Kenyawandu wanda Surak.
Kresna wanda Banjet, Botoh, Bontit, Surak, Gendreh, Jagong, Jangkung, Lendeh, Mangu atau Rondhon Sore, Mawur, Rondhon, Wedok.
Kumbakarno wanda Begog, Jaka, Wewe.
Kurupati wanda Sembada, Jangkung, Rangkung.
Limbuk wanda Gendroh, Bethem.
Nakula wanda Genes.
Narada wanda Reca.
Narayana wanda Bocah, Geblag, Widarakandang, Jaka, Srengat, Sembada.
Parekan wanda Rintik, Runtut.
Petruk wanda Genjong, Bagus, Cangak, Bujang, Sambel Goreng, Jamblang, Moblong, Jlegong, Boging.
Prabawa wanda Drigul, Bundhel.
Pragota wanda Poncol, Bundhel.
Permadi wanda Kadung, Jangkung, Rangkung, Jaka, Mriwis, Jayus, Mesem/Kinanthi, Pecel, Pengawe, Pengarih, Pengasih, Temanten.
Puntadewa wanda Jaka, Kinanthi, Lare, Malatsih, Miling, Putut.
Rara Ireng wanda Lentreng.
Rahwana wanda Begal, Belis, Bengis, Bogis, Gambyong, Klana.
Samba wanda Banjet, Bontit, Geblag, Gunung Sari, Lindur, Rengat, Layar, Sembada.
Semar wanda Brebes, Mega, Dhunuk, Dhukun, Glegek, Paled, Jenggel, Mesem, Mendhung, Jenggleng, Wedhon, Demit.
Sembadra wanda Banjet, Lanceng, Lentreng, Rangkung.
Setyaki wanda Akiki, Mimis, Wisuna
Srikandhi wanda Cemuris, Cemuris Nem, Nglanangi, Patrem
Siti Sundari wanda Gandes.
Togog wanda Barong, Gropak.
‘Ebook’ lain tentang (boneka pipih) wayang kulit yang sudah pernah disajikan Wayang Pustaka :
‘Ebook’ ‘ Pitakonan Lan Wangsulan Bab Wanda Wayang Kulit Purwa ‘ oleh R. Sutrisno (tahun 1964) di URL :
‘Ebook’ ‘ Bab Natah Lan Nyungging Ringgit Wacucal ‘ oleh Sukir (tahun 1930an, 1980) di URL :
http://wayangpustaka.wordpress.com/2009/11/10/bab-natah-sarta-nyungging-ringgit-wacucal/
‘Ebook’ ‘ Princening Gambar Ringgit Wacucal ‘ oleh RM Soelardi (tahun 1933, 1953) di URL :
Posted by: Budi Adi Soewirjo on: April 10, 2011
S.P. Adhikara; ‘ Nawaruci ‘ ; Penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) ; Bandung ; 1984 ( cetakan ke 1 ) ; 97 halaman ; bergambar wayang.
Pengantar Admin Wayangpustaka :
Ada tiga buku karya S.P. Adhikara mengenai cerita Bima mencari air suci atas perintah Pendita Durna. Yang pertama terbit berjudul ‘ Dewaruci ‘ berisi terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia atas Serat Bimasuci karya pujangga Jawa bernama Jasadipoera I pada tahun 1793. Kemudian yang kedua terbit adalah judul ‘ Unio Mystica Bima ‘ berisi analisis Serat Bimasuci tersebut. Yang ketiga adalah judul ‘ Nawaruci ‘ berisi terjemahan bebas ( dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia ) cerita Nawaruci yang aslinya karya Empu Syiwamurti dari Bali pada tahun antara 1500 ~ 1613. Dr. Prijohoetomo yang menerjemahkan dari bahasa Kawi ke bahasa Belanda dalam disertasinya tahun 1934. Ketiga buku tersebut diterbitkan oleh Penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) antara tahun 1983 ~ 1984 ( dari tanda tahun di Prakata S.P. Adhikara )
Namun, selain tiga buku terbitan Penerbit ITB tersebut, ternyata S.P. Adhikara mengarang satu buku lagi berjudul ‘ Analisis Serat Bimasuci ‘ , sekali lagi S.P. Adhikara menganalisa Serat Bimasuci. Buku ini diterbitkan oleh ‘ Institut Indonesia ‘ di Yogyakarta pada tahun 1986. Sinopsis ini pernah dibawakan sebagai makalah pada pertemuan di Lembaga Javanologi, Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Panunggalan, Yogyakarta pada tanggal 24 Oktober 1986.
Siapakah S.P. Adhikara ? Tidak ada data atau keterangan mengenai beliau di keempat buku karya beliau tersebut di atas.
Secara bertahap Admin Wayangpustaka akan menyajikan keempat buku tersebut.Kali ini Admin menyajikan judul ‘ Nawaruci ‘ dengan alasan bahwa cerita Nawaruci dari Bali ini muncul lebih dahulu dibanding cerita Bimasuci dari Jawa. Nanti pembaca bisa membaca tulisan tentang persamaan dan perbedaan cerita Nawaruci dan Bimasuci di bukunya berjudul ‘ Unio Mystica Bima ‘ .
Prakata buku Nawaruci karangan S P Adhikara :
Cerita Nawaruci yang kami tulis dalam buku ini merupakan terjemahan utuh naskah cerita Nawaruci tulisan Empu Syiwamurti yang terdapat dalam disertasi Prijohoetomo. Pada tahun 1934, Prijohoetomo – almarhum Profesor Dr. Prijohoetomo, guru besar Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada – berhasil mendapat gelar doktor dalam bidang sastra dan filsafat di Rijksuniversiteit di Utrecht negeri Belanda. Adapun judul disertasinya : Nawaruci, sedang sub-judulnya, setelah kami terjemahkan, ialah ‘ Pengantar. Terjemahan Teks – Prosa Jawa – Tengahan. Dibandingkan dengan Bimasuci dalam Metrum Jawa Kuna. ‘
Naskah asli cerita Nawaruci masih ditulis tangan di atas daun lontar, dalam bahasa dan huruf Kawi dan dalam keadaan menyedihkan sejak lontar-lontar tersebut diperoleh. Banyak halaman yang hilang, tulisan yang tidak terbaca lagi, dan halaman-halaman yang rusak dimakan ngengat. Meskipun demikian dari beberapa naskah yang ada, Prijohoetomo telah berhasil menyusun kembali naskah cerita Nawaruci dan mengalihtuliskan (transkripsi) ke dalam huruf Latin dan menterjemahkan naskah ini ke dalam bahasa Belanda.
Terjemahan cerita Nawaruci ke dalam bahasa Indonesia ini kami lakukan seharfiah mungkin. Istilah-istilah Kawi sejauh mungkin kami pertahankan dan kami tuliskan arti istilah-istilah tersebut, sesuai dengan yang terdapat dalam kamus Kawi. Pada umumnya Empu Syiwamurti sudah memberikan arti istilah Kawi yang nampaknya tidak umum dipakai, misalnya pancanhaka, dwi-dasyawarsa, murcha, syona kanaka warsa, dan lain sebagainya, tetapi untuk istilah natadewata, caturlokapala, panca-resi, jnana, jnana nirmala, siddha-purusa, dan sebagainya, tidak diberi penjelasan lebih lanjut, sehingga terpaksa kami carikan artinya dalam kamus Kawi. Dengan demikian kami berusaha agar terjemahan cerita ini seolah-olah tulisan Empu Syiwamurti sendiri, dalam bahasa Indonesia, pada tahun 1500 – 1613.
Cerita Nawaruci digubah sebagai scenario atau lakon untuk pagelaran wayang kulit, jadi dapat dibagi menjadi babak-babak dan adegan-adegan. Prijohoetomo membagi certita tersebut menjadi delapan bab atau babak dan menurut pengamatan kami, terdapat tidak kurang dari empat puluh adegan. Kalau tiap-tiap adegan memerlukan waktu sepuluh sampai lima belas menit, maka pagelaran wayang kulit dengan lakon Nawaruci cukup padat untuk dimainkan semalam suntuk. Itulah sebabnya cerita Nawaruci ini ditutup dengan penggambaran suasana pagi hari menjelang matahari terbit. Dua adegan terakhir yang menggambarkan pesta untuk menyambut kedatangan kembali Bima dan penampilan Kunti bersama Dropadi yang telah selesai bersolek dan nampak cantik seperti puteri-puteri wayang itu, dapat diperagakan berturut-turut sebagai tari kemenangan Bima atau ‘ tayungan ‘ dan menarikan wayang golek terbuat dari kayu menggambarkan Dropadi. Dalam bahasa Jawa golek mempunyai dua arti, yaitu anak-anakan yang terbuat dari kayu atau dapat berarti ‘ mencari ‘. Maka dalang yang pada akhir pertunjukan wayang kulit menarikan wayang golek tersebut dapat diartikan ‘ Carilah ( golekana, bahasa Jawa ) inti sari cerita yang dipertunjukkan semalam suntuk tadi ‘.
Mencari inti sari suatu cerita itu adalah kata-kata lain untuk menganalisis cerita itu. Analisis cerita Nawaruci kami sertakan sebagai lampiran buku ini, mengingat tulisan ini ditujukan kepada putera-puteri bangsa Indonesia, yang kurang atau tidak mengerti bahasa Jawa, agar mereka dapat menikmati cerita klasik Indonesia berasal dari daerah Jawa – Bali.
Tulisan Empu Syiwamurti tersebut diawali dengan sebuah puji doa : ‘ Awighnam astu namas siddham ‘ ; artinya : ‘ Semoga tiada rintangan segala puji telah sempurna dipanjatkan ‘, dan ditutup dengan sebuah kolofon, yaitu catatan dari penulis cerita atau dari yang menulis ulang cerita serta tanggal selesai menulis cerita dan tempat menulis menulis ceritanya dan ditutup dengan doa puji. Akan tetapi sayang tahun selesainya mengutip atau menulis ceritanya tidak jelas, sebab hanya dinyatakan dengan dua angka. Menurut hasil penelitian Prijohoetomo cerita Nawaruci itu ditulis antara 1500 – 1613.
Cerita Bimasuci yang ditulis oleh pujangga Jasadipoera I berbentuk puisi dalam bahasa Jawa Baru dan dalam metrum macapat pada tahun 1793, dan dalam metrum Jawa kuna pada tahun 1803 A.D. , merupakan saduran bebas cerita Nawaruci. Maksud pujangga Jasadipoera I menulis cerita Bimasuci berbentuk puisi dalam metrum macapat itu agar supaya cerita itu dapat mudah diingat karena dapat dinyanyikan, khususnya inti sari cerita tersebut. Cerita Bimasuci ini sudah kami terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan kami beri judul Dewaruci agar seragam dengan judul terjemahan cerita Nawaruci ini, dan diterbitkan oleh penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) juga.
Dua karya klasik Indonesia berasal dari Jawa – Bali tersebut mempunyai keindahan masing-masing dan dalam menterjemahkan kedua karya sastra tersebut kami berusaha untuk tidak merusak keindahan yang ada dalam tulisan itu.
Desember 1984
S.P. Adhikara.
Kolofon (asli) di naskah Nawaruci :
Demikianlah Ilmu Kebenaran Tanpa Cacat ( Tattwajnyana nirmala ), ditulis oleh Mpu Syiwamurti.
Selesai menulis Sang Hyang Tattwajnyana nirmala pada tahu Syaka 55, bulan Syrawana, tanggal 14, Hari Sabtu, wuku Wugu. Ditulis di kota Klungkung ( Swecchapura ), di tepi sungai, sebelah timur jalan. Maafkan kalau tulisan ini jelek serta segala kekurangannya, mengingat pekerjaan ini adalah dari seorang yang bodoh dan hanya sedikit memiliki inlu, yang didorong oleh keinginan turut menulis, yang bernama Jemuharsa.
Om Saraswatyai namah
Om gemung Ganapataye namah
Om Syri-Gurubhyo namah
Terjemahan :
Om, hormat dan puji kepada Saraswati
Om gemung, hormat dan puji kepada Ganapati
Om, hormat dan puji kepada Guru-guru, yang terhormat.
Pindaian / ‘ebook’ buku ini bisa diunduh dalam dua file di URL :
http://www.4shared.com/document/tIjSLJaX/Adhikara_Nawaruci_0147.html
http://www.4shared.com/document/pT0s9jkx/Adhikara_Nawaruci_4897.html
Salam dari Admin.
Posted by: Budi Adi Soewirjo on: February 27, 2011
‘Ebook’ Buku Tuntunan Pedalangan Wayang Kulit Purwa Jawa .
Serat Sastramiruda .
Bagi peminat pedalangan wayang kulit purwa Jawa membaca buku tuntunan pedalangan merupakan suatu keasyikan tersendiri , sekalian menambah pengetahuan tentang wayang purwa.
Ada satu buku lama yang dianggap lengkap menguraikan pengetahuan mendalang sekaligus menguraikan hal lain berkaitan dengan wayang. Buku tersebut berjudul “ Serat Sastramiruda “. Kapan tepatnya buku tersebut pertama kali terbit tidak diketahui , menilik dari nama yang disebut dalam buku tersebut , diperkirakan buku tersebut pertama kali terbit pada kisaran tahun 1863 ~ 1893 Masehi.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam rangka Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah pada tahun 1981 pernah mengalih aksarakan (oleh Sudibjo Z. Hadisutjipto) dan mengalihbahasakan (oleh Kamajaya) buku ini. Terbitan ini oleh Departemen P dan K disebarkan secara gratis, beserta buku-buku lain dalam proyek yang sama , ke perpustakaan-perpustakaan Departemen P & K di daerah maupun di sekolah-sekolah.
P Kamajaya ( nama lengkapnya adalah almarhum Karkono Kamajaya , seorang budayawan di Yogyakarta yang aktif menggali kembali falsafah dan budaya Jawa ) sebagai pengalih bahasa menuliskan keterangan singkat mengenai buku tersebut sbb :
Serat Sastramiruda dan alih bahasa nya .
“ Serat Sastramiruda “ adalah sebuah karya sastra Jawa berhuruf Jawa dalam bentuk wawancara antara guru ahli Pedalangan Wayang Purwa dan muridnya. Sang Guru ialah Kanjeng Pangeran Arya Kusumadilaga , dan muridnya , Mas Sastramiruda. Nama murid ini diambil menjadi judul bukunya.
Tidak ada angka tahun penulisan kitab tersebut, namun dapat diketahui, bahwa KPA Kusumadilaga hidup di jaman Sri Susuhunan Paku Buwana IX yang bertakhta dari tahun 1863 hingga 1893 M. Di antara tahun-tahun itulah kiranya kitab ini ditulis. Siapakah pengarang atau penyusunanya tidak diperoleh kepastian, apakah KPA Kusumadilaga, apakah Mas Sastramiruda. Hanya pada bagian muka dari Serat Sastramiruda terdapat keterangan bahwa : “ Semua cara-cara menjalankan tugas mendalang dijelaskan dengan lengkap. Cerita itu kemudian disampaikan kepada Raden Mas Panji Kusumawardaya, kerabat keraton di Negeri Surakarta “ .
Apakah lalu dapat diartikan, bahwa yang menyusun Serat Sastramiruda ini RMP Kusumawardaya, walloh’alam.
“ Serat Sastramiruda “ carik (tulisan tangan) terdapat antata lain di Perpustakaan Radyapustaka, Surakarta. Pada tahun 1930 telah terbit yang tercetak dengan huruf Jawa, dijadikan 2 jilid, tetapi jilid keduanya belum pernah kami ketahui ( mungkin tidak terbit ). Penerbitnya : Uitgeverij en Boekhandel Stoomdrukkerij De Bliksem, Sala.
Isi “ Serat sastrawiruda “ diterangkan dalam anak-judul buku yang tercetak, yakni :
“ Ugering Padhalangan ingkang sampun mupakat kangge abdi dalem Dhalang di karaton Surakarta Adiningrat “. Artinya “ Pedoman Pedalangan yang telah dibenarkan untuk hamba Dalang di keraton Surakarta Adiningrat “.
Sebenarnya isi kitab itu lebih dari “pedoman pedalangan”, bahkan memuat pula Sejarah Wayang Purwa dan lain sebagainya. Maka keterangan yang lebih terperinci terdapat pada sampul belakang kitab yang sudah tercetak, yang artinya sebagai berikut :
“ Menceritakan asal mula adanya gambar Wayang Purwa dan permulaannya menjadi gambar Wayang Beber, Gedog, Krucil, Golek, Klithik, Wayang Orang dan Topeng, dengan urutan para penciptanya di jaman kuna sampai keadaan Wayang Kulit di keraton Surakarta. Dan dijelaskan ketika para Jawata (Dewa) mencipta bunyi-bunyian yang dinamakan Lokananta yang selanjutnya digubah menjadi gamelan Salendro. Lalu ada bunyi-bunyian (mengiringi) perang disebut Mardangga. Dan adanya gamelan Monggang, Kodok-ngorek, Galaganjur, Cara Balen, Pelog, Sakaten dan Sarunen. Juga adanya tari Badaya, Sarimpi, Wireng, Lawung, Dadap dan sebagainya. Pula tentang alat-alat dalang mewayang (mendalang), dan jenis-jenis gending, dengan Suluk Greget-saut (gaya siaga) nya. Diuraikan pula tentang cara memilih niyaga (pemukul gamelan) yang memang perlu menjadi teman bertugas ki dalang, hingga caranya mendalang. Semuanya diterangkan di dalam Serat ini “.
Kecuali memuat hal-hal yang terperinci di atas, kitab ini pun memuat Pedoman mendalang satu lakon penuh, yaitu lakon “ Palasara Kawin” atau disebut pula “Lahirnya Abiyasa”.
“Serat Sastramiruda” yang demikian luas isinya itulah yang sekarang disajikan alihbahasa Indonesianya. Mengingat banyaknya istila-istilah dalam pewayangan dan pedalangan, serta bahasa yang khas pedalangan, maka pengalihbahasaan ini menjumpai kesulitan-kesulitan. Istilah-istilah dan bahasa-khas itu tidak mudah, bahkan seringkali tidak mungkin diterjemahkan. Jalan keluarnya ialah diberikan penjelasan secara singkat agar para pembaca dapat memahaminya dengan seksama. Penjelasan itu diberikan di belakang kata-kata. Istilah masing-masing maupun berupa catatan kaki.
Atas bantuan mas Pranowo Budi Sulistyo – pengasuh laman wayang http://wayangprabu.com – yang mempunyai buku tersebut , telah memindai buku tersebut sehingga kita bisa mengunduh gratis ‘ebook’ buku tersebut.
File ‘ebook’ nya dibagi menjadi tiga file :
Bagi pembaca yang mengerti bahasa Jawa, mungkin mengunduh file yang bahasa Jawa saja sudah memadai untuk belajar.
Bagian pertama dari yang berbahasa Indonesia :
http://www.4shared.com/document/aqzzxOc-/Serat_Sastramiruda__Bhs_Indo_p.html
Bagian kedua dari yang berbahasa Indonesia :
http://www.4shared.com/document/w_Z44IAM/Serat_Sastramiruda__Bhs_Indo_p.html
Yang berbahasa Jawa ( satu file ) :
http://www.4shared.com/document/c6wLCRvV/Serat_Sastramiruda__Jawa_.html
Recent Comments